Oleh:
Najah Abdul Qadir Surur
في يوم الجمعة سُنن عشر، سُنَّتان جماعيتان، وثمان سنن فردية خاصة.
أما السُّنَّتان اللتان تؤدَّيان في جماعة، فهُما:
1- قراءة السجدة والإنسان في صلاة الفجر: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الجُمُعَةِ فِي صَلاَةِ الفَجْرِ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةُ وَهَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ»[البخاري 2/ 40 ومسلم 2/ 599].
2- قراءة الخطيب سورة ق على المنبر: عَنْ بِنْتٍ لِحَارِثَةَ بْنِ النُّعْمَانِ، قَالَتْ: «مَا حَفِظْتُ ق، إِلَّا مِنْ فِي رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، يَخْطُبُ بِهَا كُلَّ جُمُعَةٍ»، قَالَتْ: وَكَانَ تَنُّورُنَا وَتَنُّورُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَاحِدًا[مسلم 2/ 595]، وفي لفظ: «لَقَدْ كَانَ تَنُّورُنَا وَتَنُّورُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَاحِدًا، سَنَتَيْنِ أَوْ سَنَةً وَبَعْضَ سَنَةٍ، وَمَا أَخَذْتُ ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ إِلَّا عَنْ لِسَانِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، يَقْرَؤُهَا كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ عَلَى الْمِنْبَرِ، إِذَا خَطَبَ النَّاسَ»[السابق].
Ada sepuluh sunnah pada hari Jum’at, dua di antaranya dilakukan dalam jamaah, dan delapan sisanya untuk dilakukan sendiri-sendiri:
1. Membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan pada shalat Subuh.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa dulu Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam senantiasa membaca pada shalat Subuh hari Jum’at surat Alif Lam Mim Tanzil, yakni As-Sajdah, dan Hal Ata ‘Alal Insan (yakni surat Al-Insan). (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
2. Khatib Jum’at membaca surat Qaf dalam khutbahnya.
Diriwayatkan dari putri Haritsah bin An-Nu’man, ia berkata:
مَا حَفِظْتُ ق، إِلَّا مِنْ فِي رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، يَخْطُبُ بِهَا كُلَّ جُمُعَةٍ
“Tidaklah aku bisa hafal surat Qaf kecuali dari lisan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang beliau baca dalam khutbah setiap Jum’at.”
Ia juga berkata:
لَقَدْ كَانَ تَنُّورُنَا وَتَنُّورُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَاحِدًا، سَنَتَيْنِ أَوْ سَنَةً وَبَعْضَ سَنَةٍ، وَمَا أَخَذْتُ ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ إِلَّا عَنْ لِسَانِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، يَقْرَؤُهَا كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ عَلَى الْمِنْبَرِ، إِذَا خَطَبَ النَّاسَ
“Dulu tungku perapian kami dan tungku perapian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam satu.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain menggunakan redaksi: “Dulu tungku perapian kami dan tungku perapian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam satu selama dua atau satu tahun lebih. Tidaklah aku menghafal surat Qaf kecuali dari lisan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang membacanya setiap hari Jum’at di atas mimbar ketika menyampaikan khutbah kepada orang-orang.” (HR. Muslim).
Adapun sunnah-sunnah yang dilaksanakan secara personal ada delapan, yaitu:
1. Berhias diri dengan mandi, memakai parfum, bersiwak, dan memakai pakaian yang bagus dan bersih.
Diriwayatkan dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى
“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, bersuci semampunya, memakai minyak (wangi) atau menggunakan wewangian yang ada di rumahnya, kemudian keluar (ke masjid) tanpa memisahkan dua orang (yang sedang duduk), lalu salat sesuai yang ditetapkan baginya, kemudian diam mendengarkan ketika imam berbicara, melainkan diampuni dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at berikutnya.” (HR. Al-Bukhari).
Diriwayatkan juga dari Abu Said, ia berkata: “Aku bersaksi bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda:
الغُسْلُ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ، وَأَنْ يَسْتَنَّ، وَأَنْ يَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَ
“Mandi pada hari Jum’at adalah kewajiban bagi setiap orang yang telah baligh, juga (dianjurkan) bersiwak dan memakai wewangian jika memilikinya.” (HR. Al-Bukhari).
Diriwayatkan juga dari Ibnu Salam bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda di atas mimbar:
مَا عَلَى أَحَدِكُمْ إِنْ وَجَدَ – أَوْ مَا عَلَى أَحَدِكُمْ إِنْ وَجَدْتُمْ – أَنْ يَتَّخِذَ ثَوْبَيْنِ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ، سِوَى ثَوْبَيْ مِهْنَتِهِ
“Tidak ada salahnya bagi salah seor– untuk memiliki dua pakaian khusus untuk hari Jumat, selain pakaian yang biasa ia pakai untuk bekerja.” (HR. Abu Dawud).
2. Bergegas menghadiri salat Jum’at.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ غُسْلَ الجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الخَامِسَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ المَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
“Barang siapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi junub, lalu berangkat (ke masjid), maka seakan-akan ia berkurban seekor unta. Siapa yang berangkat pada waktu kedua, seakan-akan berkurban seekor sapi. Siapa yang berangkat pada waktu ketiga, seakan-akan berkurban seekor kambing bertanduk. Siapa yang berangkat pada waktu keempat, seakan-akan berkurban seekor ayam. Dan siapa yang berangkat pada waktu kelima, seakan-akan berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (hadir untuk naik mimbar), para malaikat pun hadir untuk mendengarkan zikir (khutbah).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Aus bin Aus Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ، وَغَدَا، وابْتَكَرَ، فَدَنَا، وَأَنْصَتَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ، كَأَجْرِ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا
“Barang siapa yang mencuci kepalanya dan sekujur tubuhnya, lalu berangkat pagi-pagi dan datang lebih awal, mendekat (ke imam), mendengarkan dengan saksama dan tidak berbuat sia-sia, maka untuk setiap langkahnya ia mendapatkan pahala seperti pahala satu tahun—puasa dan salat malamnya.” (HR. Ahmad).
3. Mendirikan salat sunnah sebelum salat Jum’at.
Diriwayatkan dari Salman Al-Farisi bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى
“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, bersuci semampunya, memakai minyak (rambut) atau wewangian yang ada di rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid) tanpa menyingkap jalan di antara dua orang (di shaf), lalu salat semampunya, kemudian diam mendengarkan ketika imam berbicara, melainkan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at berikutnya.” (HR.Al-Bukhari).
4. Mengamalkan adab-adab ketika menghadiri salat Jum’at: seperti tidak melangkahi orang yang ada di shaf, tidak menyingkap jalan di antara dua orang yang duduk di shaf, dan menyimak khutbah dengan seksama.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ، ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ، وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا
“Barang siapa yang mencuci kepalanya dan sekujur tubuhnya, lalu berangkat pagi-pagi dan datang lebih awal, berjalan kaki tidak berkendaraan, mendekat kepada imam, mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan tidak berbuat sia-sia, maka untuk setiap langkahnya ia mendapatkan pahala seperti amalan satu tahun, pahala puasa dan salat malamnya.” (HR. Abu Dawud).
Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari sebelumnya: “kemudian keluar (ke masjid) tanpa memisahkan dua orang (yang sedang duduk), lalu salat sesuai yang ditetapkan baginya, kemudian diam mendengarkan ketika imam berbicara, melainkan diampuni dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at berikutnya.” (HR. Al-Bukhari).
5. Salat sunnah setelah salat Jum’at dua rakaat jika dilakukan di rumah, atau empat rakaat jika dilakukan di masjid.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam senantiasa mendirikan salat dua rakaat di rumahnya setelah salat Jum’at. (HR. Ahmad).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar juga bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam senantiasa mendirikan salat dua rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah Isya. Dan beliau tidak mendirikan salat setelah Jum’at hingga beliau pulang, lalu baru mendirikan salat dua rakaat. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا
“Apabila salah seorang di antara kalian telah menunaikan salat Jum’at, maka hendaklah ia salat (sunnah) setelahnya empat rakaat.” (HR. Muslim).
Ibnu Al-Qayyim mengatakan: “Abu Al-Abbas Ibnu Taimiyah berkata bahwa apabila seseorang mendirikan salat sunnah ini di masjid, hendaklah mendirikannya empat rakaat, dan apabila di rumah, maka dua rakaat. Inilah yang terkandung dalam hadis-hadis yang ada. Abu Dawud juga menyebutkan riwayat dari Ibnu Umar bahwa apabila ia mendirikan salat sunnah ini di masjid, ia mendirikannya empat rakaat, dan apabila di rumah, maka dua rakaat.” (Kitab Zad al-Ma’ad jilid 1 hlm. 425).
6. Membaca surat Al-Kahfi.
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
“Sesungguhnya barang siapa membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jumat, akan dipancarkan baginya cahaya (petunjuk) di antara dua Jum’at.” (Diriwayatkan dalam Al-Mustadrak jilid 2 hlm. 399).
7. Berusaha mendapatkan waktu dikabulkannya doa.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Abu Al-Qasim (Rasulullah) Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً، لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ، قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ»، وَقَالَ بِيَدِهِ: يُقَلِّلُهَا يُزَهِّدُهَا
“Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat satu waktu (yang mustajab). Tidaklah seorang muslim bertepatan dengannya dalam keadaan berdiri salat, ia memohon kebaikan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikannya.” (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah juga bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menyebutkan tentang hari Jum’at. Lalu beliau bersabda:
فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Di dalamnya (hari Jum’at) terdapat satu waktu, tidaklah seorang hamba muslim bertepatan dengannya dalam keadaan berdiri salat, ia memohon sesuatu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberikannya.” Dan beliau membuat isyarat dengan tangannya bahwa waktu itu sangat singkat. (HR. Al-Bukhari).
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً، لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ، فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
“Hari Jum’at itu ada dua belas waktu. Tidaklah didapati di dalamnya seorang hamba muslim yang memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah akan memberikannya. Maka carilah waktu itu pada akhir waktu setelah Ashar.” (HR. An-Nasa’i).
8. Memperbanyak salat dan salam bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam.
Diriwayatkan dari Aus bin Aus bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ قُبِضَ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ – يَقُولُونَ: بَلِيتَ -؟ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ»
“Sesungguhnya di antara hari-hari terbaik kalian adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia diwafatkan, pada hari itu terjadi tiupan (sangkakala), dan pada hari itu terjadi kejutan besar. Maka perbanyaklah bersalawat kepadaku pada hari itu, karena salawat kalian akan diperlihatkan kepadaku.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana salawat kami diperlihatkan kepada engkau padahal jasad engkau telah hancur? Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (HR. Abu Dawud).
Demikian yang dapat saya sampaikan. Wallahu a’lam.
Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/1001/180415/السنن-العشر-ليوم-الجمعة/

