Oleh:
Saad Muhsin asy-Syamri
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هاديَ له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾ [آل عمران: 102].
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴾ [النساء: 1].
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴾ [الأحزاب: 70، 71]؛ أما بعد:
Segala puji hanya bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan, dan ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan hawa nafsu kita dan kejahatan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menyesatkan-Nya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102).
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa: 1).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71).
Amma ba’du:
Sebaik-baik kalam adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang dibuat-buat dalam agama tanpa landasan dalil. Setiap perkara yang dibuat-buat itu adalah bid’ah, setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.
Wahai para hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala!
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisahkan dalam Kitab-Nya yang mulia banyak kisah dari umat-umat sebelumnya, juga kisah-kisah para nabi, orang-orang pilihan, dan para kekasih-Nya. Hal ini karena itu dapat menjadi penghibur bagi orang-orang beriman, peneguh hati orang-orang saleh, serta mengandung banyak ibrah, nasihat, pelajaran, dan faedah.
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat. (Al-Qur’an) bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan merupakan pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya, memerinci segala sesuatu, sebagai petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111).
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
“Semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu (Nabi Muhammad), yaitu kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. Di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang-orang mukmin.” (QS. Hud: 120).
كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا
“Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagian kisah umat yang terdahulu dan sungguh, telah Kami anugerahkan kepadamu suatu peringatan (Al-Qur’an) dari sisi Kami.” (QS. Thaha: 99).
Salah satu cerita agung dan kisah indah yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kisahkan adalah kisah kaum Saba. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi mereka berbagai kenikmatan yang melimpah ruah, karunia yang begitu banyak, tanah yang subur, air yang segar, buah-buahan yang ranum, dan udara bersih nan sejuk yang mengalir sepoi-sepoi.
Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka) “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.” Akan tetapi, mereka berpaling sehingga Kami datangkan kepada mereka banjir besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) berbuah pahit, pohon asal (sejenis cemara) dan sedikit pohon sidr (bidara).
Demikianlah, Kami balas mereka karena kekafirannya. Kami tidak menjatuhkan azab, kecuali hanya kepada orang-orang yang sangat kufur. Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi (Syam) beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di negeri-negeri itu pada malam dan siang hari dengan aman. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,” dan (mereka) menzalimi diri sendiri. Kami jadikan mereka buah bibir dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala) bagi setiap orang yang sangat sabar lagi sangat bersyukur. Sungguh, Iblis benar-benar telah meyakinkan mereka terhadap kebenaran sangkaannya. Lalu, mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin. (QS. Saba: 15-20).
Saba merupakan nama kabilah besar di Yaman, punya banyak subsuku. Mereka tinggal di Yaman, tepatnya di daerah Marib. Rumah-rumah mereka sangat indah dan kokoh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala melimpahkan banyak kenikmatan kepada mereka, menghindarkan dari mereka berbagai musibah, seperti yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kisahkan tentang mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi mereka dua kebun di sebelah kanan dan kiri.
Dulu mereka mempunyai lembah besar yang sering didatangi banjir. Lalu mereka membangun bendungan kokoh untuk menyimpan air, lalu mendistribusikannya ke kebun-kebun mereka yang ada di kiri dan kanan lembah tersebut, sehingga terbentuklah dua kebun besar dengan berbagai jenis buah-buahan yang memberi mereka swasembada pangan, dan menghadirkan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba: 15).
Negeri yang baik yakni udaranya segar, jarang terjangkit penyakit, dan banyak rezeki yang dapat diperoleh di dalamnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan mereka untuk bersyukur atas nikmat-Nya ini dengan hanya beribadah kepada-Nya dan beriman kepada-Nya sebagai Tuhan satu-satunya serta mengiringinya dengan amal saleh. Namun, mereka justru berpaling dan menjauh, dan tetap dalam kekafiran dan keangkuhan mereka. Ini setelah sampai kepada mereka dakwah para nabi dan rasul, sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghukum kaum Saba dengan mengirim banjir bandang besar yang menghujam deras.
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ
Akan tetapi, mereka berpaling sehingga Kami datangkan kepada mereka banjir besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) berbuah pahit, pohon asal (sejenis cemara) dan sedikit pohon sidr (bidara).” (QS. Saba: 16).
Pohon khamth yakni pohon yang sangat pahit, dan atsl yakni pohon yang tidak berguna, serta sidr yakni bidara yang tidak bermanfaat, bahkan daunnya juga tidak dapat dipakai untuk apa pun.
Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan sebab azab dan balasan itu:
ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ
“Demikianlah, Kami balas mereka karena kekafirannya. Kami tidak menjatuhkan azab, kecuali hanya kepada orang-orang yang sangat kufur.” (QS. Saba: 17).
Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan kenikmatan yang dulu Dia karuniakan kepada mereka, berupa jalan yang aman di antara desa-desanya karena cukup dekat dan tidak adanya rasa takut ketika bepergian. Hanya saja, mereka lupa bersyukur dan bosan dengan kenikmatan itu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ
“Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi (Syam) beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di negeri-negeri itu pada malam dan siang hari dengan aman.” (QS. Saba: 18).
فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
“Lalu Kami jadikan mereka buah bibir dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar lagi sangat bersyukur.” (QS. Saba: 19).
Makna “buah bibir” yakni sebagai pelajaran bagi orang-orang setelah mereka yang membicarakan keadaan mereka dan bagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perbuat terhadap mereka. Makna “dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya” yakni kami cerai-beraikan mereka menjadi banyak kabilah. Makna “yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda” yakni sebagai pelajaran dan petunjuk. Makna “bagi setiap orang yang sangat sabar” yakni terhadap kemaksiatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan makna “lagi sangat bersyukur” yakni terhadap segala nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Sungguh, Iblis benar-benar telah meyakinkan mereka terhadap kebenaran sangkaannya. Lalu, mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin.” (QS. Saba: 20).
Mereka berjalan beriringan dengan apa yang diinginkan Iblis, berupa kesesatan, berbuat kerusakan di muka bumi, dan berpaling dari dakwah para nabi dan rasul, kecuali orang-orang beriman dan ikhlas dari mereka yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala lindungi dari itu semua.
وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ
“Tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka, kecuali agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman pada akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Saba: 21).
Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengambil pelajaran dan manfaat dari kisah-kisah dalam Al-Qur’an, mensyukuri nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan bersabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung bagi saya pribadi dan Anda sekalian, mohonlah ampunan kepada-Nya dari segala dosa, niscaya Dia akan mengampuni, karena sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah Kedua
الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده؛ نبينا محمد، وعلى آله وصحبه؛ أما بعد عباد الله:
فإن نعم الله عز وجل علينا لا تُقابَل بالمعاصي، ولا تُؤخَذ المعصية بما وهبنا الله تعالى به من نِعَمٍ وأموال، فهذا من كفر النعمة الذي حذرنا الرب منه، وأبدأ وأعاد فيه النبي صلى الله عليه وسلم، فلنكن شاكرين لنِعَمِ الله تعالى علينا، نقر بها بقلوبنا: ﴿ وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ﴾ [النحل: 53].
Segala puji hanya bagi Allah semata. Salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi terakhir, Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta para sahabat beliau. Amma ba’du:
Wahai para hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Tidak seharusnya nikmat-nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala karuniakan kepada kita dibalas dengan kemaksiatan. Jangan sampai kita justru melakukan kemaksiatan dengan nikmat dan harta yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan kepada kita. Tentu ini merupakan kufur nikmat yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala peringatkan kepada kita, dan selalu digaungkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Oleh sebab itu, hendaklah kita menjadi orang-orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala limpahkan kepada kita, dan mengikrarkannya dalam hati kita. “Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53).
Lalu hendaklah lisan kita selalu mengucapkan pujian dan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menggunakan nikmat-nikmat itu untuk ketaatan kepada-Nya. “Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur. Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur.” (QS. Saba: 13).
Setiap orang yang beriman, beramal saleh, senantiasa berada di jalan ini, dan konsisten menjalankan kewajiban-kewajiban dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya, maka dialah yang disebut orang yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Adapun orang yang membalas nikmat-nikmat Allah dengan kemaksiatan dan secara terang-terangan melakukan kemaksiatan itu, maka dialah orang yang ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perbuatan ini dapat mengundang balasan, kemurkaan, dan azab Allah.
Wahai para hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala!
Apabila kerusakan telah menyebar, maka itu merupakan tanda keburukan dan azab segera menimpa. Oleh sebab itu, hendaklah kita konsisten di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menghindari kemaksiatan kepada-Nya, mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjauhkan kita dari segala fitnah, serta mengambil pelajaran dari kisah-kisah agung yang telah disampaikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dikabarkan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam kepada kita, dan segala peristiwa musibah dan cobaan yang menimpa di zaman kita. Hal ini sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).
Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menemui Ummul Mukminin Zainab Radhiyallahu ‘anha dalam keadaan ketakutan. Lalu beliau bersabda: “Laa ilaha illallah! Celakalah orang-orang Arab, karena keburukan yang telah dekat. Para hari ini telah terbuka tembok Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini” Beliau sambil mengisyaratkan lingkaran dengan jari jempol dan telunjuk. Kemudian Zainab berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di antara kita masih ada orang-orang saleh?” Beliau menjawab, “Ya, apabila sudah banyak keburukan.” (HR. Al-Bukhari no. 3346).
Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjauhkan kita dari fitnah-fitnah yang menyesatkan dan menjadikan kita orang-orang yang dapat mengambil pelajaran dan merenungi segala kejadian.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/0/161036/قصة-سبأ-وما-فيها-من-العبر-خطبة/

