Khutbah Jumat Singkat Terbaru

Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Artikel Khutbah Jumat

Menjaga Rahasia, Akhlak Orang-Orang Baik

Oleh:

Dr. Mahmud bin Ahmad ad-Dosari

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِهِ الْكَرِيمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ: فَالْإِفْشَاءُ لُغَةً: الذُّيُوعُ وَالِانْتِشَارُ[انظر: الصحاح، للجوهري (6/2455)؛ مقاييس اللغة، لابن فارس (3/69)]. وَاصْطِلَاحًا: هُوَ تَعَمُّدُ الْإِخْبَارِ بِسِرٍّ مِنْ شَخْصٍ اؤْتُمِنَ عَلَيْهِ، فِي حَالٍ لَا تُجِيزُهُ الشَّرِيعَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ[انظر: كتمان السر وإفشاؤه في الفقه الإسلامي، (ص20)].

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasul-Nya yang mulia, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du:

Menyebar rahasia yakni membeberkan dan menebarkannya. Adapun secara istilah menyebar rahasia yakni secara sengaja menyampaikan rahasia dari orang yang telah mempercayakannya dalam kondisi yang tidak diperbolehkan oleh Syariat Islam. (Kitab Kitman as-Sirr wa Ifsyauhu fi al-Fiqh al-Islami hlm. 20).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencela perbuatan ini dengan berfirman: 

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ

“Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan (kemenangan) atau ketakutan (kekalahan), mereka menyebarluaskannya.” (QS. An-Nisa: 83).

Yakni membeberkan dan menyebarkannya kepada orang-orang. (Kitab Tafsir Ath-Thabari hlm. 252 jilid 7).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ 

(Ingatlah) ketika Nabi membicarakan secara rahasia suatu peristiwa kepada salah seorang istrinya (Hafsah). Kemudian, ketika dia menceritakan (peristiwa) itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukannya (kejadian ini) kepadanya (Nabi), dia (Nabi) memberitahukan (kepada Hafsah) sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain. Ketika dia (Nabi) memberitahukan (pembicaraan) itu kepadanya (Hafsah), dia bertanya, “Siapa yang telah memberitahumu hal ini?” Nabi menjawab, “Yang memberitahuku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. At-Tahrim: 3). 

Al-Qasimi Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan dalam ayat ini kemarahannya kepada Nabi-Nya Shallallahu Alaihi Wa Sallam atas perbuatan yang dilakukan Hafsah, yaitu menyebarkan rahasia Nabi kepada Aisyah serta sikap mereka berdua yang mengganggu ketenangan beliau. Ayat ini juga menunjukkan bahwa perbuatan itu merupakan dosa yang wajib ditaubati.” (Kitab Mahasin At-Ta’wil hlm. 274 jilid 9).

Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah memperingatkan perbuatan menyebar rahasia, beliau bersabda:

إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ

“Apabila seseorang menyampaikan suatu pembicaraan kemudian ia menoleh (untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengarnya), maka pembicaraan itu adalah amanah.” (HR. Abu Dawud).

Yakni hendaklah orang yang ada di majelis itu menjadi orang yang amanah atas apa yang telah ia dengar dan lihat. (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri, hlm. 79 jilid 6).

Hal ini dikuatkan lagi oleh Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah dengan ucapannya: “Sesungguhnya kalian berinteraksi dengan orang lain dengan amanah, seakan-akan kalian mengira bahwa khianat hanya ada pada dinar dan dirham, padahal khianat terbesar adalah ketika seseorang bermajelis dengan kita, lalu kita sudah percaya dengan dirinya, tapi ia kemudian pergi menyebarkan rahasia kita.” (Kitab Ihya Ulum ad-Din hlm. 329 jilid 3).

Di antara ucapan para Salaf dan ulama tentang celaan terhadap menyebarkan rahasia:

  1. Muawiyah Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidaklah saya menyebar rahasiaku kepada seorang pun, melainkan akhirnya aku mengalami penyesalan panjang dan besar, dan tidaklah aku menyimpan rahasiaku dalam dadaku rapat-rapat, melainkan itu mendatangkan kemuliaan, kehormatan diri, dan peningkatan derajat kepadaku.” (Kitab Al-Mahasin wa Al-Adhdad karya Al-Jahizh, hlm. 46, dan Al-Mahasin wa Al-Masawi karya Al-Baihaqi, hlm. 166).
  2. Amru bin Al-Ash Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidaklah saya pernah menitipkan rahasia kepada seseorang dan ia menyebarkan rahasia itu, lalu aku mencelanya, sebab ketika itu aku lebih sempit dada daripada dia karena aku telah menitipkan rahasia itu kepadanya.” (Kitab Uyun Al-Akhbar karya Ibnu Qutaibah, hlm. 269 jilid 2).
  3. Aktsam bin Shaifi Rahimahullah berkata: “Rahasiamu adalah bagian dari darahmu, maka lihatlah ke mana kamu akan menumpahkannya.” (Kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih, hlm. 268 jilid 2).

Penyebaran rahasia terbagi menjadi dua macam:

  1. Penyebaran rahasia yang terpuji: Seperti menyebarkan rahasia yang mendatangkan kemaslahatan bagi beberapa orang atau masyarakat, seperti memberi kesaksian di hadapan hakim, penyebaran rahasia yang dapat mengubah kemungkaran, dan kasus-kasus lainnya yang dapat mendatangkan manfaat dan kemaslahatan untuk sebagian orang atau masyarakat.
  2. Penyebaran rahasia yang tercela, dan ini mencakup dua keadaan:
  • Seseorang menyebarkan rahasia diri sendiri, dan ini menunjukkan kebodohan dan ketidaksabarannya.
  • Seseorang menyebarkan rahasia orang lain, dan ini termasuk sifat khianat, dan lebih berbahaya dan lebih berat daripada menyebarkan rahasia diri sendiri. (Kitab Mausu’ah Al-Akhlaq Al-Islamiyyah hlm. 143 jilid 2).

Beberapa contoh menyebarkan rahasia yang tercela:

  1. Menyebarkan rahasia rumah tangga

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya termasuk manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan (secara intim) dengan istrinya, dan istrinya pun berhubungan dengannya, lalu ia menyebarkan rahasianya itu.” (HR. Muslim).

Diriwayatkan juga dari Asma binti Yazid Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Kami – para laki-laki dan perempuan – pernah berada di majelis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, lalu beliau bersabda: “Mungkin saja ada seorang suami yang menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan istrinya, atau mungkin ada seorang istri yang menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan suaminya.” Orang-orang pun terdiam, sehingga aku menjawab: “Benar, demi Allah wahai Rasulullah, sungguh mereka memang melakukannya, dan para perempuan juga melakukannya.”

Beliau lalu bersabda: “Janganlah kalian melakukannya. Sesungguhnya perumpamaan orang yang melakukan hal itu seperti setan laki-laki yang bertemu setan perempuan di tengah jalan, lalu ia menyetubuhinya, sementara orang-orang melihat.” (Hadits hasan, diriwayatkan Ath-Thabrani).

As-Safarini Rahimahullah berkata: “Tidak boleh bagi setiap suami dan istri menceritakan apa yang terjadi antara mereka berdua, meskipun hanya menceritakannya kepada istri madu dari suaminya, karena itu merupakan bagian dari rahasia, dan menyebar rahasia hukumnya haram.”

  1. Menyebar rahasia-rahasia negara

Hal ini diharamkan dan mendapat peringatan keras oleh syariat yang penuh kebijaksanaan, bahkan menetapkan hukuman atasnya, karena ini termasuk pengkhianatan besar. (Kitab Ghidza al-Albab fi Syarh Manzhumah al-Adab karya As-Safarini, jilid 1 hlm. 117 secara ringkas).

  1. Menceritakan dosa-dosa yang telah dilakukan

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ ‌الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ؛ فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Seluruh umatku diberi keselamatan (ampunan), kecuali orang-orang yang berterus terang (menampakkan dosa). Dan termasuk perbuatan menampakkan dosa adalah seseorang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, lalu pagi harinya, padahal Allah telah menutupinya, ia berkata: ‘Wahai fulan, semalam aku melakukan ini dan itu.’ Padahal pada malam hari Rabb-nya telah menutupinya, namun pada pagi hari ia justru membuka sendiri penutup Allah atas dirinya.” (HR. Al-Bukhari).

  1. Menyebarkan rahasia-rahasia kaum Muslimin

Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang kita menyebarkan rahasia orang-orang beriman, dan sebaliknya memerintahkan untuk menjaga dan menutupinya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27).

Di antara mudharat menyebarkan rahasia:

  1. Itu merupakan pengkhianatan amanah dan pengingkaran janji.
  2. Itu merupakan perbuatan curang dan menimbulkan bahaya.
  3. Menyebarkan rahasia menjadi bukti keburukan tabiat dan rusaknya kehormatan diri.
  4. Menyebarkan rahasia menjadi bukti kurangnya kesabaran dan sempitnya dada.
  5. Menyebarkan rahasia hanya akan berakhir dengan penyesalan dalam diri pelakunya.
  6. Menyebarkan rahasia dapat merusak pertemanan dan menimbulkan perselisihan.
  7. Menyebarkan rahasia pernikahan menjadikan masing-masing pasangan seperti setan dan mencederai rasa malu.
  8. Menyebarkan rahasia termasuk bentuk ucapan yang berlebihan yang tercela bagi pelakunya.
  9. Menyebarkan rahasia dapat menghilangkan kepercayaan antar manusia dan menebar buruk sangka di antara mereka.
  10. Menyebarkan rahasia merupakan konsekuensi dari kebodohan, sebagaimana menjaga rahasia merupakan sifat orang-orang berakal.
  11. Menyebarkan rahasia dapat mengundang aib dan keburukan bagi pelakunya ketika hakikat dirinya terungkap.
  12. Menyebarkan rahasia – terkhusus yang berkaitan dengan orang yang telah meninggal dunia – dapat mendatangkan azab Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi pelakunya.
  13. Orang yang suka menyebar rahasia termasuk orang yang terburuk. (Lihat: Kitab Nadhrah An-Naim karya beberapa penulis, hlm. 228-229 jilid 1).

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ… أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Wahai kaum Muslimin! Di antara faktor yang dapat membantu untuk menghindari penyebaran rahasia adalah:

  1. Memahami bahaya lisan dan pengkhianatan.
  2. Mengingat akibat buruk dari membeberkan rahasia.
  3. Membiasakan diri untuk bersabar.
  4. Tidak menanggung rahasia yang tidak mampu kita jaga.
  5. Bermuhasabah diri dan mengharapkan bagi orang lain seperti yang kita harapkan bagi diri sendiri.
  6. Senantiasa menjalankan aturan yang berlaku dalam menyebarkan rahasia.

Beberapa nasihat penting berkaitan dengan rahasia:

  1. Jangan membicarakan segala hal yang kamu dengar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia membicarakan segala yang ia dengar.” (Hadis shahih, diriwayatkan Abu Dawud).

  1. Tidak mencari-cari rahasia orang lain. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya.” (Hadis shahih, diriwayatkan At-Tirmidzi).

  1. Wajib bagi kita merahasiakan aib seorang Muslim. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا؛ سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

  1. Rahasia merupakan amanah, maka janganlah mengkhianati amanah yang diberikan kepadamu. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ

“Apabila seseorang menyampaikan suatu pembicaraan, lalu ia menoleh (untuk memastikan tidak ada orang lainnya yang mendengarnya) maka pembicaraan itu merupakan amanah.” (Hadis hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud).

  1. Jangan menjadi tawanan bagi rahasiamu. Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rahasiamu adalah tawananmu, tapi jika kamu menceritakannya kepada orang lain maka kamulah yang menjadi tawanannya.” (Kitab Adab ad-Dunya wa ad-Din hlm. 306).
  2. Janganlah terlalu banyak menitipkan rahasiamu kepada orang lain, karena semakin banyak mereka, semakin besar pula peluang untuk tersebar. (Kitab Adab ad-Dunya wa ad-Din hlm. 308). Ada orang bijak yang berkata: “Hati merupakan wadah bagi rahasia, sedangkan bibir adalah gemboknya dan lisan adalah kuncinya, maka hendaklah setiap kalian menjaga kunci-kunci rahasianya.” (Kitab Ghidza al-Albab fi Syarh Manzhumah al-Adab jilid 1 hlm. 117).

Sumber:

https://www.alukah.net/web/m.aldosary/0/179667/حفظ-الأسرار-خلق-الأبرار-خطبة/

Sumber artikel PDF

Print Friendly, PDF & Email

Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28