Khutbah Pertama:

الحمدُ للهِ الذي لا يخفى عليه شيءٌ في الأرضِ ولا في السماء، وأشهدُ أن لا إله إلا اللهُ وحدَه لا شريك له في الآخرةِ والأولى، وأشهدُ أن نبيَّنا محمدًا عبدُه ورسولُه النبيُّ المصطفى، صلى الله عليه وعلى آلِه وأصحابهِ أهلِ الوفا والتقوى.

عبادَ الله:

Khotib mewasiatkan kepada diri khotib pribadi dan jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Karena di dalam ketakwaan terdapat keselamatan dari keburukan dan musibah di dunia maupun di akhirat.

Ibadallah,

Di antara nama Allah Jalla wa ‘Ala adalah Ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi). Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” [Quran An-Nisa: 1].

Dan firman-Nya Jalla wa ‘Ala,

وكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيبًا

“Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” [Quran al-Ahzab: 52].

Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengawasi dan mengetahui segala sesuatu yang ada di hati manusia. Dia memberi balasan dari setiap apa yang diusahakan manusia. Di Yang Maha Menjaga yang tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya. Dia tahu semua keadaan makhluk-makhluk-Nya. Melihat keadaan mereka dan menghitung amal perbuatan mereka.

Kalau makna ini benar-benar menancap di hati seseorang, kokoh pula keyakinan di hatinya akan dawamnya ilmu Allah terhadap dirinya. Bahwa Allah mengetahui keadaannya seacara zahir maupun batin. Kemudian melahirkan keyakinan yang mantap bahwa Allah itu Maha Mengawasi. Melihat keadaannya. Mendengar ucapannya.mengawasi setiap gerak-geriknya setiap waktu dan setiap saat. Bahkan setiap kedipan matanya.

Ibadallah,

Muroqobah, sifat merasa diawasi Allah yang ada pada seseorang merupakan bentuk ibadah kepada Allah. Karena hal itu beramal sesuai dengan konsekuensi nama dan sifat Allah ar-Raqib (Maha Mengawasi), al-Hafizh (Maha Menjaga), al-Alim (Maha Mengetahui), al-Muhith (ilmu-Nya meliputi segala sesuatu), al-Khobir (Maha Mengabarkan perbuatan hamba), dan al-Lathif (Maha Lembut mengetahui sedetil-detilnya). Dialah Allah yang menyaksikan segala sesuatu. Mendengar segala suara. Baik yang lirih ataupun yang lantang. Melihat segala apa yang ada. Baik secara detil maupun global. Yang besar maupun yang kecil. Dialah Yang Maha Dekat kepada setiap orang dengan ilmu-Nya. Siapa saja yang merenungkan nama-nama Allah yang Maha Indah ini. Kemudian beramal dengan konsekuensinya. Ia akan benar-benar merasa diawasi yang membuat dirinya dan hatinya senantiasa terjaga dalam kebenaran dan jauh dari hal-hal yang membahayakan.

Ibadallah,

Wajib bagi seorang hamba dalam kehidupan dunia ini menata hatinya agar senantiasa merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla. Jangan berpaling kepada selain Allah. Jangan merasa takut kecuali hanya padanya. Senantiasa jagalah perintah Allah Jalla wa ‘Ala dan jauhilah larangan-Nya. Ketika seseorang merasa diawasi dan dilihat Allah, pasti ia akan malu kepada penciptan-Nya, mengagungkan-Nya, takut, cinta, tunduk, dan merendahkan diri kepada-Nya.

Ibadallah,

Kebaikan di dunia dan di akhirat tidak akan digapai kecuali dengan perasaan merasa diawasi Allah ini. Menjaga ibadah di atas sunnah Nabi-Nya. Disertai dengan mengikhlaskan ibadah tersebut hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” [Quran Ali Imran: 5].

Dan firman-Nya,

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya.” [Quran Al-Baqarah: 235].

Ma’asyiral muslimin,

Merasa diawasi Allah (muroqobatullah) Jalla wa A’la akan membuat seseorang hamba bermuhasabah. Ia akan menghitung-hitung dirinya. Hal ini sebagai bentuk realisasi dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Quran Al-Hasyr: 18].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hendaknya seseorang memperhatikan apa yang telah ia perbuat untuk kehidupan akhiratnya. Apakah yang ia perbuat itu adalah amal shaleh yang menyelematkannya. Atau amal keburukan yang membinasakan dan mencelakakannya.” Kemudian beliau juga mengatakan, “Perbaikan hati itu terwujud dengan memuhasabah diri. Dan rusaknya hati adalah dengan meremehkan dan menyia-nyiakannya.”

Ma’asyiral muslimin,

Sesungguhnya merasa diawasi Allah yang hakiki akan membawa seseorang pada kesungguhan dalam ketaatan. Memisahkan diri dari segala sesuatu yang menentang perintah Allah pemilik langit dan bumi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Quran Al-Anbiya: 90].

Seorang mukmin wajib senantiasa merasa diawasi Allah. Saat ia beribadah, ia lakukan dengan penuh ketaatan pada-Nya, ikhlas, dan sempurna dalam pelaksanaannya serta berharap pahala darinya. Demikian juga dalam menyikapi larangannya, harus tunduk dan merasa takut padanya. Tentang orang yang takut dan berharap kepada Allah ini, Allah Ta’ala berfirman,

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” [Quran Ar-Rahman: 46].

Dan firman-Nya,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” [Quran An-Naziat: 40-41].

Ibnul Jauzi berkata, “(Pengetahuan) Allah itu lebih dekat dari urat leher seseorang.” Beliau melanjutkan, “Hati orang-orang yang tidak mengenal Allah akan merasa jauh dari sesuatu yang dekat. Oleh karena itu, mereka melakukan maksiat. Kalau mereka merasakan Allah itu mengawasi, dekat, dan melihat pastilah mereka berhenti dari melakukan kesalahan dan dosa.”

Ada seorang yang bertanya kepada salah seorang salaf, “Dengan siapa aku meminta tolong untuk menundukkan pandanganku?” Ia berkata, “Dengan ilmumu bahwa penglihatan Yang Maha Melihat kepadamu lebih cepat dibanding penglihatanmu pada sesuatu yang kau lihat.”

Kita juga mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دعته امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata. Mereka adalah pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya, seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah; keduanya berkumpul berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik lalu mengatakan, ‘Sungguh aku takut kepada Allah’, seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Merasa diawasi Allah Jalla wa ‘Ala membantu seseorang dalam menjauhi perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan. Membersihkan hati dari semua hal yang merusaknya. Dengan individu-individu yang baik ini terbentuklah masyarakat yang baik. Masyarakat yang diperintahkan Allah Jalla wa ‘Ala dengan firman-Nya,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Quran At-Taubah: 71]

Merasa diawasi oleh Allah Jalla wa ‘Ala akan menumbuhkan masyarakat yang bersih dari hal-hal yang rendah, bersih dari kriminalitas, generasi mudanya berhias dengan akhlak mulia, mereka hidup dengan kehidupan yang damai, saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, mereka berpegang teguh dengan tali Allah, bersatu di atas kalimat Allah, jauh dari berkelompok-kelompok, jauh dari pemahaman yang ekstrim. Mereka hidup dengan cahaya petunjuk agama mereka. Yang membawa mereka pada masyarakat yang adil dan toleran. Masyarakat yang moderat. Lemah lembut dan penuh kecintaan. Allah Ta’ala berfirman,

أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir.” [Quran Al-Maidah: 54].

نسأل الله – جلَّ وعلا – السلامةَ من ذلك.
نسأل الله – جلَّ وعلا – أن يوفِّقنا جميعًا لما يحبُّه ويرضاه، إنه على كل شيء قدير.

Khutbah Kedua:

الحمدُ لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، وأشهدُ أن لا إله إلا اللهُ وحدهُ لا شَريكَ له، وأشهدُ أن نبيَّنا محمدًا عبدُه ورسولُه، اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك عليه وعلى آلِهِ وأصحابِهِ.
أما بعدُ .. فيا أيها المُسلمون:

Bertakwalah kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Wasiat takwa ini merupakan wasiat Allah kepada manusia pertam hingga yang paling akhir nanti.

Ibadallah,

Allah juga memerintahkan kita dengan suatu perkara besar yaitu bershalat dan memberikan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك على نبيِّنا محمدٍ، وارضَ اللهم عن الخُلفاء الراشدين، وعن سائرِ الصحابة والآل أجمعين، وعن التابعين ومَن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين.

اللهم أعِزَّ الإسلامَ والمُسلمين، وأذِلَّ الشرك والمشركين.

اللهم احفظ المسلمين في كل مكان، اللهم فرِّج همومَهم، واكشِف غمومَهم يا ذا الجلال والإكرام، اللهم اشفِ مرضانا ومرضى المسلمين. اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات.

اللهم وفِّق الحجَّاجَ والمعتمرين، اللهم أوصِلهم إلى ديارِهم سالمِين غانمِين.

اللهم احفظ ووفِّق وليَّ أمرنا خادم الحرمين الشريفين، ووليَّ عهده، اللهم أعِنهما على أمور الدين والدنيا أجمعين يا ذا الجلال والإكرام.

عباد الله:

اذكُروا الله ذِكرًا كثيرًا، وسبِّحُوه بُكرةً وأصيلًا. وآخرُ دعوانا أن الحمدُ لله ربِّ العالمين.

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.