Khutbah Pertama:

الحمدُ لله، الحمدُ لله الذي أرسلَ رسولَه بالهُدى للناس كافَّة، أحمدُه – سبحانَه – وأشكرُه على نعمةِ المُبشِّرات السارَّة، وأشهدُ أن لا إله إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له يحفَظُ عبادَه المُؤمنين ويُنجِّيهم إذا جاءَت الصاخَّة، وأشهدُ أن سيِّدَنا ونبيَّنا محمدًا عبدُه ورسولُه سلكَ بالأمةِ طريقَ الجادَّة، صلَّى الله عليه وعلى آله وصحبِه الذين رزقَهم الله نفوسًا عن كل شرٍّ صادَّة.

أما بعد:

Khotib berwasiat untuk diri khotib pribadi dan jamaah sekalian agar bertakwa kepada Allah. karena takwa adalah keselamatan dan keamanan dari segala keburukan. Allah Ta’ala berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS:Ali Imran | Ayat: 102).

Bergembira dan optimis adalah asas Islam dan ini adalah nilai tinggi seorang muslim dalam setiap keadaan. Allah Ta’ala berfirman mengabadikan ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

﴿وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ﴾

“Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” (QS:Al-Hijr | Ayat: 56).

Sikap optimis ini menciptakan energi yang dapat membangkitkan keinginan, memotivasi untuk melakukan tindakan, dan berbuat sesuatu untuk masa depan.

Ketika derita umat Islam di sebagian belahan bumi semakin perih, maka kebutuhan akan sikap optimis pun semakin ditekankan. Inilah petunjuk Rasulullah ﷺ. Betapa banyak duka lara berganti menjadi suka cita karena optimis. Dan harapan tumbuh di tengah rasa sakit.

Di antara sebab kebahagiaan dan optimis dalam kehidupan seorang mukmin adalah tersebarnya agama Rabbul ‘alamin ini. ketika orang-orang non-Islam menjadi pemeluk Islam.

Menyebar dengan cepat adalah ciri agama Islam yang kokoh ini. Ciri khas yang tampak pada kurun sejarah. Walaupun jumlah pengikutnya sedikit. Atau sedikit pembelanya. Dan keras musuh-musuhnya.

Islam dimulai di era Mekah dengan segelintir orang yang lemah. Mereka mengalami penderitaan dan gangguan. Dalam beberapa tahun saja, kemudian Islam tersebar ke seluruh Jazirah Arab. Munculllah generasi yang membawa risalah Islam. Kemudian menyebarkannya ke dataran tinggi dan rendah. Ke pegunungan dan lembah-lembah. Tersebarlah agama ini. Dan meluaslah wilayahnya. Orang-orang memeluk Islam dengan berbondong-bondong, dalam waktu yang singkat. Tidak ada penyebaran agama yang semasif ini dalam sejarah. Ini benar-benar mukjizat yang besar. Dan benarnya janji Allah, di masa yang akan datang Islam akan tersebar. Karena agama ini adalah agama yang diridhai Allah Ta’ala untuk semua manusia. Dan Allah menjamin penjagaannya.

Rasulullah ﷺ bersabda,

لَيَبْلُغَنَّ هذَا اْلاَمْرُ مَا بَلَغَ الَّيْلَ وَالنَّهَارُ وَلاَيَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وًلاَوَبَرٍ اِلاَّاَدْخَلَهُ اللهُ هذَا الدِِّيْنَ , بِعِزِّعَزِيْزٍ , اَوْبِذُلِّ ذَلِيْلٍ , عِزًّايُعِزُّاللهُ بِهِ أَلاِسْلاَمَ , وَذُلاَّيُذِلُّ بِهِ الْكُفْرَ ,,

“Sungguh agama ini akan sampai ke penjuru bumi yang dilalui oleh malam dan siang. Allah tidak akan melewatkan satu pun kota dan pelosok desa, kecuali memasukkan agama ini ke daerah itu, dengan memuliakan yang mulia dan merendahkan yang hina. Yakni memuliakan dengan Islam dan merendahkannya dengan kekufuran.”

Manusia itu hakikatnya mencintai Islam. Karena Islam itu jelas dan edukatif. Kebenarannya sesuai dengan fitrah manusia yang suci. Dan sejalan dengan akal yang lurus. Cahaya Islam itu menerangi kegelapan. Membuat hati bahagia. Dan melapangkan dada.

﴿فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ الله﴾

“(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah.” (QS:Ar-Ruum | Ayat: 30).

Islam tersebar karena akidah dan keimanannya memenuhi kekosongan hati. Menata kehampaan jiwa. Menjawab pertanyaan di pikiran. Menjawab kebutuhan jiwa. Memberikan kenyamanan. Dan menghilangkan dahaga.

Karena itu, orang-orang memeluk agama Allah ini dengan berbondong-bondong. Karena agama ini benar-benar memuliakan manusia. menghormati ruh dan jasad, akal dan hati. Dengan Islam, kaum muslimin menjangkau penjuru dunia. Menundukkan penjuru negeri. Dan Islam tidak melarang sesuatu yang baik.

Masa depan agama ini, jika dilihat dari pengaruhnya yang begitu mendalam dan nilainya yang agung, maka orang-orang telah berpindah dari rendahnya kemaksiatan menuju mulianya ketaatan. Dari sempitnya dunia menuju luasnya negeri yang kekal. Dari gelapnya hati menuju cinta dan kasih sayang.

Islam tersebar karena agama ini memuliakan ilmu dan ulama. Memuji kecerdasan akal dan pikiran. Setiap Islam memasuki suatu negeri, maka Islam memuliakan negeri tersebut dengan ilmu. Kemudian ilmu itu menerangi negeri itu dengan pengetahuan. Dengan itu umat membangun peradaban manusia. terbitlah peradaban yang menginspirasi peradaban lain.

Manusia merasa nyaman dengan Islam. Karena Islam mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan kolektif dalam semua sisi kehidupan. Islam menyerukan persaudaraan. Menghidupkan sendi-sendi tolong-menolong. Dan membangun asas kerja sama masyarakat.

Rasulullah ﷺ bersabda,

ولأَن يمشِي أحدُكم مع أخيه في قضاءِ حاجَتِه أفضلُ من أن يعتكِفَ في مسجدِي هذا شهرَين

“Sungguh, apabila salah seorang di antara kalian membantu saudaranya untuk menunaikan kebutuhannya, itu lebih baik daripada dia beri’tikaf  di masjidku ini (Masjid Nabawi) selama dua bulan.”

Keadilan dalam Islam adalah petunjuk yang lurus, pemahaman yang dalam. Timbangan keadilannya bukan karena nasab. Bukan juga karena harta. Keadilan Islam bisa dirasakan oleh semua penduduk bumi, baik dari kalangan kaum muslimin maupun non Islam. Allah Ta’ala berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS:Al-Maidah | Ayat: 8).

Merupakan tanggung jawab umat Islam untuk menyebarkan agama ini. menyampakannya ke penjuru dunia. Tanggung jawab ini pertama kali dimulai oleh Nabi Muhammad ﷺ. Allah Ta’ala berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ﴾

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (QS:Al-Maidah | Ayat: 67).

Nabi ﷺ bersabda,

بلِّغُوا عنِّي ولو آية

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”

Nabi ﷺ telah melakukan segala daya upaya untuk menyebarkan agama ini. Ketika Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu memeluk Islam, Nabi ﷺ memintanya untuk tinggal di kampungnya. Di tengah-tengah bani Ghifar. Agar ia mendakwakan Islam kepada mereka. Demikian juga ketika Thufail bin Amr ad-Dausi memeluk Islam, Rasulullah ﷺ memintanya untuk tinggal bersama Kabilah Daus. Menyebarkan Islam di tengah-tengah mereka.

Seorang muslim diperintahkan melakukan aksi nyata untuk menyebarkan Islam. Bukan membuat agama ini menjadi eksklusif. Dan juga tidak boleh memaksa orang lain. Allah Ta’ala berfirman,

﴿إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ﴾

“Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan.” (QS:Asy-Syuura | Ayat: 48).

Dan firman-Nya,

﴿لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ﴾

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 272).

Tanggung jawab menyampaikan Islam ini juga sampai ke negeri-negeri non Islam. Baik saat seseorang bersafar ke sana. atau menjadi duta. Atau ada kegiatan bisnis. Atau bekerja. Semangat menyebarkan Islam menjadi sesuatu yang agung dan berpahala besar.

Allah Ta’ala berfirman,

﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”” (QS:Fushshilat | Ayat: 33).

Nabi ﷺ bersabda,

لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

“Sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.”

Dan teladan terbaik dalam menyebarkan Islam adalah pendahulu umat ini (para salaf). Bagaimana perjalanan mereka yang bersih dalam penaklukkan-penaklukkan mereka. Bagaimana keadilan mereka dalam hokum. Bagaimana akhlak mereka mempraktikkan agama. sikapa wara’ dan istiqamah mereka. Sebelum menaklukkan negeri musuh, mereka telah menaklukkan hati-hati mereka. mereka yang menyebarkan Islam disifati memiliki hati yang tulus, jiwa yang bersih, perangai yang baik. Setiap individu dari mereka menebarkan kebaikan dan rahmat. Mengalirlah manfaat dan keberkahan dari mereka.

Ibadallah,

Sesuatu yang paling besar pengaruhnya dalam penyebaran Islam adalah memperdengarkan Alquran kepada orang lain. Betapa besarnya pengaruh memperdengarkan Alquran kepada orang-orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman,

﴿وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ﴾

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS:At-Taubah | Ayat: 6).

Saat ini, sarana-sarana modern juga membantu tersebarnya Islam. Sarana-sarana modern sangat membantu dalam tersebarnya dakwah, di tengah kondisi kita yang begitu kurang dalam menyebarkan Islam. Allah sediakan untuk kita media informasi. Jika kita menggunakannya dengan baik, maka alat-alat itu pun akan membuat kita semakin mudah menyebarkan agama.

Bukan rahasia bahwa Islam ditampilkan dengan image yang buruk. Kesan yang zhalim. Tuduhan sebagai agama yang kasar dan teroris. Demikian juga dengan pemeluk Islam, juga mendapat tuduhan demikian. Ditampilkan lewat karikatur, berita, untuk menakut-nakuti manusia dari agama Islam ini. Disebut-sebut bahwa Islam ini biang perselisihan dan sengketa. Semua tuduhan itu tidaklah mengubah hakikat Islam. Atau membuat pemeluknya lemah. Atau memadamkan cahaya dan sinarnya, keindahan, dan ketinggiannya. Allah Ta’ala berfirman,

﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.” (QS:Ash-Shaff | Ayat: 8).

Dan firman-Nya,

﴿وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾

“Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS:At-Taubah | Ayat: 32).

Mereka berdusta dan membuat fitnah dengan menyatakan bahwa Islam tersebar dengan pedang. Padahal Islam tidak memaksa seorang pun untuk mengubah keyakinannya. Sejarah mencatat dan menyaksikan sikap bijak dan adil, bahwa Islam tersebar dengan argumentasi yang kuat dan dalil yang kokoh. Tersebar dengan toleran dan keadilan. Allah Ta’ala berfirman,

﴿لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ﴾

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 256).

Dan firman Allah Ta’ala,

﴿أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ﴾

“Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS:Yunus | Ayat: 99).

بارَك الله لي ولكم في القرآنِ العظيم، ونفعَني وإياكم بما فيه من الآياتِ والذكرِ الحكيم، أقولُ قولي هذا، وأستغفرُ الله لي ولكم ولسائرِ المُسلمين من كل ذنبٍ، فاستغفِروه؛ إنه هو الغفورُ الرحيم.

Khutbah Kedua:

الحمدُ لله الذي هدانَا لهذا وما كنَّا لنَهتَديَ لولا أن هدانا الله، وأشهدُ أن لا إله إلا اللهُ وحده لا شريك له ﴿وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ﴾ [الزخرف: 84]، وأشهدُ أن سيِّدنا ونبيَّنا محمدًا عبدُه ورسولُه وصفِيُّ ربِّه ومُجتبَاه، صلَّى الله عليه وعلى آله وصحبِه ومن اتَّبعَ هُداه.

أما بعد:

فأُوصِيكُم ونفسِي بتقوَى الله.

Terjadi, ada sebagian umat Islam yang tidak mengetahui jatuh pada jalan yang menyimpang. Madzhab-madzhab yang sesat. Dan jalan yang keliru. Hal ini memecah belah umat. Merusak persatuannya. Dan melemahkan keadaan mereka. Akhirnya hal ini mempengaruhi proses tersebarnya Islam.

Tidak tersembunyi dari pikiran kita bahwa kaum muslimin di negeri haramain, memiliki tanggung jawab besar untuk tersebarnya Islam. Karena tanah haram, Mekah ini, adalah kiblatnya kaum muslimin. Dan Madinah adalah tempat hijrahnya penghulu para rasul, Muhammad ﷺ. Allah Ta’ala berfirman,

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS:Ali Imran | Ayat: 110).

وصلُّوا – عبادَ الله – على رسولِ الهُدى، فقد أمرَكم الله بذلك في كتابِه، فقال: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].

اللهم صلِّ على محمدٍ وأزواجِه وذريَّتهِ، كما صلَّيتَ على آل إبراهيم، وبارِك على محمدٍ وأزواجِه وذريَّته، كما باركتَ على آل إبراهيم، إنك حميدٌ مجيد.

وارضَ اللهم عن الخلفاء الأربعة الراشِدين: أبي بكرٍ، وعُمرَ، وعُثمان، وعليّ، وعن الآلِ والصَّحبِ الكِرام، وعنَّا معهُم بعفوِك وكرمِك وإحسانِك يا أرحمَ الراحمين.

اللهم أعِزَّ الإسلامَ والمسلمين، اللهم أعِزَّ الإسلامَ والمسلمين، وأذِلَّ الكفرَ والكافرين، ودمِّر اللهم أعداءَك أعداءَ الدين، واجعَل اللهم هذا البلدَ آمِنًا مُستقِرًّا وسائرَ بلاد المُسلمين.

اللهم من أرادَنا وأرادَ الإسلامَ والمُسلمين بسُوءٍ فأشغِله بنفسِه، واجعَل تدبيرَه تدميرَه يا سميعَ الدعاء، اللهم من أرادَنا وأرادَ الإسلامَ والمُسلمين بسُوءٍ فأشغِله بنفسِه، واجعَل تدبيرَه تدميرَه يا سميعَ الدعاء.

اللهم انصُر دينَك، وكتابَك، وسُنَّةَ نبيِّك، وعبادَك المُؤمنين.

اللهم كُن للمسلمين المُستضعفين في كلِّ مكان، اللهم كُن لهم مُؤيدًا ونصيرًا وظهيرًا، اللهم إنهم جِياعٌ فأطعِمهم، وحُفاةٌ فاحمِلهم، وعُراةٌ فاكسُهم، ومظلُومون فانتصِر لهم، ومظلُومون فانتصِر لهم، ومظلُومون فانتصِر لهم يا رب العالمين، يا قويُّ يا متين.

اللهم مُنزِلَ الكتاب، مُجرِيَ السحاب، هازِمَ الأحزاب، اهزِم أعداءَ المسلمين يا رب العالمين.

اللهم إنا نسألك الجنةَ وما قرَّبَ إليها من قولٍ وعملٍ، ونعُوذُ بك من النار وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ.

اللهم إنا نسألُك فواتِحَ الخيرِ وخواتِمَه وجوامِعَه، وأوَّلَه وآخرَه، وظاهرَه وباطنَه، ونسألُك الدرجاتِ العُلَى من الجنةِ يا ربَّ العالمين.

اللهم إنا نسألُك من الخير كلِّه عاجِلِه وآجِلِه، ما علِمنا منه وما لم نعلَم، ونعوذُ بك من الشرِّ كلِّه عاجِلِه وآجِلِه، ما علِمنا منه وما لم نعلَم.

اللهم إنا نسألُك الهُدى والتُّقَى والعفافَ والغنى.

اللهم إنا نعوذُ بك من زَوالِ نعمتِك، وتحوُّلِ عافيتِك، وفُجاءةِ نقمتِك، وجميعِ سخَطِك.

اللهم إنا نسألُك الثَّباتَ في الأمر، والعزيمةَ على الرُّشد، والغنيمةَ من كل بِرٍّ، والسلامةَ من كل إثمٍ، والفوزَ بالجنَّة، والنجاةَ من النار.

اللهم إنا نسألُك رِضوانَك والجنة، ونعوذُ بك من سخَطِك ومن النار.

اللهم ابسُط علينا من بركاتِك ورحمتِك وفضلِك ورِزقِك.

اللهم اجعَل القرآنَ العظيمَ ربيعَ قلوبِنا، ونورَ صُدورِنا، وجلاءَ أحزاننا، وذَهابَ هُمومِنا وغُمومِنا.

اللهم اختِم لنا بخيرٍ، واجعَل عواقِبَ أمورِنا إلى خيرٍ، اللهم أصلِح لنا شأنَنا كلَّه، ولا تكِلنا إلى أنفُسِنا ولا إلى أحدٍ من خلقِك طرفَةَ عينٍ.

اللهم إنا نسألُك حُسنَ الخِتام، والعفوَ عما سلَف وكان من الذنوبِ والعِصيان.

اللهم وفِّق إمامَنا لما تُحبُّ وترضَى، اللهم وفِّقه لهُداك، واجعَل عملَه في رِضاك يا رب العالمين، ووفِّق جميعَ وُلاة أمور المُسلمين للعمل بكتابِك، وتحكيم شرعِك يا أرحم الراحمين.

اللهم ارحَم موتَانا، واشفِ مرضَانا، وتولَّ أمرَنا يا أرحم الراحمين.

اللهم اغفِر لنا ولوالدِينا وللمُسلمين والمُسلِمات يا أرحم الراحمين.

اللهم إنا نسألُك يا الله بأنك أنت الله لا إله إلا أنت، أنت الغنيُّ ونحن الفُقراء، أنزِل علينا الغيثَ ولا تجعَلنا من القانِطين، اللهم أغِثنا، اللهم أغِثنا، اللهم أغِثنا، اللهم سُقيَا رحمةٍ، لا سُقيَا عذابٍ ولا بلاءٍ ولا هدمٍ ولا غرقٍ.

اللهم تُحيِي به البلاد، وتُغيثُ به العباد، وتجعلُه بلاغًا للحاضِر والباد برحمتِك يا أرحم الراحمين.

﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾ [الأعراف: 23]، ﴿ربنا اغفر لنا .. رحيم﴾، ﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾ [البقرة: 201].

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾ [النحل: 90].

فاذكُرُوا اللهَ يذكُركُم، واشكُروه على نِعَمِه يزِدكم، ولذِكرُ الله أكبر، والله يعلمُ ما تصنَعون.

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Bari bin ‘Iwadh ats-Tsubaity (Imam dan Khotib Masjid an-Nabawi).
Judul Asli: Asbab Intisyarul Islam
Tanggal Khotbah: 22 Rabiuts Tsani 1438 H
Diterjemahkan oleh tim KhotbahJumat.com

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.