Khutbah Pertama:

إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ؛ إِلَهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ وَقُيُوْمُ السَمَاوَاتِ وَالأَرْضِيْنَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَادِقُ الوَعْدِ الأَمِيْنَ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ  وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ ؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ.

Ibadallah,

Di antara dosa membinasakan, kejahatan yang besar, dan puncak dari perbuatan munkar adalah sihir (atau dalam bahasa Indonesia biasa dikenal dengan perdukunan). Banyak nash-nash syariat yang memperingatkan atau bahkan mengancam perbuatan ini atau hanya sekedar berdekat-dekatan dengannya.

Sihir adalah ikatan perjanjian bersama setan yang mampu menyebabkan bahaya yang banyak, di antaranya: seorang bisa terbunuh karena sihir, sakit, bercerai dengan istrinya, dan bahaya-bahaya lainnya yang tentu saja hanya terjadi atas kehendak Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 103)

Ibadallah,

Seseorang tidak akan menjadi penyihir atau tidak akan mampu menguasai ilmu sihir kecuali jika mereka kufur kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, menentang Alquran al-karim, menyelisihi syariat al-hakim, mendekatkan diri kepada setan dan jin, sebagaimana difirmankan Allah dalam kitab-Nya,

وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (101) وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ ﴾ [البقرة:101-102

“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia…” (QS. Al-baqarah: 101-102)

Ibadallah,

Tukang sihir hukumnya adalah kafir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Allah berfirman,

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (QS. Al-Baqarah: 102)

Seorang tukang sihir tidak akan beruntung selama-lamanya, di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى

“Tidak akan beruntung penyihir-penyihir itu dari mana pun mereka datang.” ()QS. Thaha: 69)

Ibadallah,

Penyihir termasuk orang yang memiliki andil terbesar dalam melakukan pengerusakan di muka bumi ini. Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ

Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan. (QS. Yunus: 81)

Sihir itu mampu menghancurkan “rumah” yang telah dibangun, menanamkan keraguan terhadap masyarakat yang terpercaya, melepaskan keimanan, menghancurkan generasi, dan tidak akan pernah mendatangkan kebaikan selama-lamanya bahkan ia menghadirkan kejelekan yang besar dan berbahaya, baik untuk perorangan ataupun masyarakat.

Penyihir sangat layak bahkan wajib dieksekusi mati agar manusia selamat dari keburukannya. Kita tahu, tidak hanya satu kisah yang menceritakan bahwa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeksekusi mati para tukang sihir. Oleh karena itu, wajib bagi seseorang yang mengetahui adanya person-person tertentu yang mempraktikkan dan dekat dengan ilmu sihir agar melaporkannya kepada pihak yang berwenang, agar orang lain bisa selamat dari bahaya yang ia timbulkan.

Ibadallah,

Tukang sihir itu memiliki ciri-ciri tertentu yang harus kita ketahui agar kita bisa waspada kepada orang yang memiliki ciri-ciri demikian. Di antara ciri-ciri tukang sihir adalah sebagai berikut:

Pertama, biasanya tukang sihir akan bertanya kepada orang yang mendatangi mereka tentang namanya dan nama ibunya (si pengunjung ini). Kadang juga, ia menebak nama pengunjung, nama ibunya, daerah asalnya, dan masalah yang sedang ia hadapi sebelum si pengunjung itu memberitahukannya.

Kedua, ia sering melafalkan kalimat yang tidak dipahami dan lafazd-lafadz yang asing (jampi-jampi) atau juga menulis jimat dan mantra yang samar.

Ketiga, terkadang penyihir mensyaratkan orang yang datang mengunjunginya untuk mengenakan pakaian tertentu atau membawa bagian tubuh orang yang hendak disihir (rambut misalnya pen.).

Inilah di antara ciri seorang penyihir, walaupun sebenarnya ciri mereka lebih banyak dan bervariasi. Namun biasanya mereka memiliki kebiasaan demikian. Terkadang mereka hembuskan sihir mereka di benda-benda tertentu sehingga benda tersebut memiliki daya magis yang berbahaya bagi orang banyak.

Ibadallah,

Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan beriman kepada hari akhir untuk mendatangi tukang sihir walaupun kedatangannya itu dimaksudkan untuk menghilangkan sihir yang ia dapatkan. Menolak atau menghilangkan sihir dengan sihir juga adalah sesuatu yang diharamkan syariat. Tidak boleh mendatangi tukang sihir, apapun alasannya. Orang yang mendatangi tukang sihir, hakikatnya dia telah menjual agamanya.

Penyihir atau dukun akan mendekatkan orang yang mengunjungi mereka kepada setan melalui perantara apapun. Bisa dengan perantara persembahan ayam atau tikus dll. lalu sembelihan atau persembahan tadi disembelih tanpa menyebut nama Allah. Terkadang juga dia mengkhususkan agar disembelih di tempat tertentu atau melumurkan darahnya di tempat tertentu di rumah dll. Hal ini semua adalah bentuk kesyirikan. Agama kita melarang keras hal ini dan memerintahkan untuk mejauhinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan…”

Di antaranya beliau sebutkan adalah sihir.

Ibadallah,

Dalam keadaan lemah atau tertimpa suatu masalah sebagian orang sangat mudah terjerumus ke dalam penyakit ini, mereka mulai mencari orang-orang yang disebut orang pintar agar menerawang permasalahan yang mereka hadapi. Mereka serahkan diri mereka dengan mengatakan, aku sedang menghadapi permasalahan besar, aku ingin jalan keluar dari permasalahan ini bagaimanapun caranya. Padahal orang ini seorang muslim.

Hal ini bukanlah solusi menyelesaikan masalah, ini hakikatnya menjual agama, keimanan, dan akidah. Perbuatan ini adalah musibah yang sangat besar. Bagaimana bisa seorang muslim mencari solusi dengan cara menjual agamanya?! Dengan alasan agar keluar dari masalah yang ia hadapi atau agar penyakit yang ia derita menjadi sembuh. Demi Allah, hal ini bukanlah sebuah solusi!

Ibadallah,

Hendaknya kita senantiasa bertakwa kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya tatkala datang permasalahan. Dan hendaknya kita ketahui! Bahwa syariat kita, syariat Islam mengharamkan sihir. Alasannya karena sihir memiliki bahaya yang besar dan mengandung kerusakan yang sangat berbahaya karena sihir itu menghancurkan agama dan akidah.

وَنَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يَحْفَظَ المُسْلِمِيْنَ بِحِفْظِهِ وَأَنْ يُخَلِّصَهُمْ مِنْ شُرُوْرِ الأَشْرَارِ وَكَيْدِ الفُجَّارِ إِنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى سَمِيْعُ الدُّعَاءِ وَهُوَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى

Ibadallah,

Ketauhilah! Segala sesuatu yang Allah syariatkan untuk para hambanya telah mencukupkan mereka. Allah Tabaraka wa Ta’ala juga telah mengganti solusi-solusi yang batil dan sesat itu dengan cara berdoa dan meminta hanya kepada-Nya. Bagi seseorang yang tertimpa suatu musibah atau permasalahan baik itu penyakit atau terkena sihir hendaknya mereka berdoa kepada Allah dengan merendahkan diri kepada-Nya. Karena Allah Jalla wa ‘Ala telah berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Ibadallah,

Hendaknya orang-orang yang tertimpa atau terkena sihir ini memiliki perhatian dalam membaca Alquran terlebih lagi membaca surat Al-Baqrah. Ada sebuah hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ ؛ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

“Bacalah surat Al-Baqarah! Karena sesungguhnya membacanya adalah berkah, meninggalkannya akan kerugian, dan tukang sihir tidak bisa mengalahkannya.”

Dalam hadits yang lain beliau bersabda,

أَنَّ الشَيْطَانَ لَا يَدْخُلُ بَيْتاً تَقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ البَقَرَةِ

“Sesungguhnya setan tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah.”

Dan ayat Alquran yang paling agung berkaitan dengan permasalahan ini adalah ayat kursi, dan lebih utama lagi dibaca di pagi dan sore hari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا إِذَا أَصْبَحَ أُجِيْرُ مِنَ الشَّيَاطِيْنَ حَتَّى يُمْسِي ، وَإِذَا قَرَأَهَا إِذَا أَمْسَى أُجِيْرُ مِنَ الشَّيَاطِيْنَ حَتَّى يُصْبِحُ

“Barangsiapa yang membacanya (ayat kursi) di pagi hari, ia akan dilindungi dari setan sampai sore hari. Dan barangsiapa yang membacanya di sore hari, ia akan dilindungi dari setan hingga pagi hari.”

Demikian juga membacanya sebelum tidur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ لَمْ يَزَلْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُهُ شَيْطَانُ

“Barangsiapa yang membacanya saat berada di atas tempat tidurnya, maka ia senantiasa dalam perlindungan Allah. Setan tidak akan mendekat kepadanya.”

Demikian juga membaca dua ayat terakhir dari sura Al-Baqarah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan keutamaan dua ayat ini dalam sabdanya,

مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah di malam hari, ia akan dipalingkan” (HR. Bukhari)

Maksudnya dipalingkan dari segala keburukan dan musibah.

Ayat lainnya yang harus diperhatikan juga dalam membacanya adalah tiga surat terakhir dalam Alquran; Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Dibaca di pagi hari masing-masing tiga kali dan di sore hari juga dibaca masing-masing tiga kali. Atau ketiganya dibaca sekaligus dalam shalat demikian juga membaca ayat kursi dalam shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الكُرْسِيِّ دَبَرَ كُلَّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُوْلِ الجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوْتَ

“Barangsiapa yang membaca ayat kursi dalam setiap selesai shalat fardu, maka tidak ada yang menghalanginya untuk masuk ke surga kecuali kematian.”

Hal lainnya juga yang harus diperhatikan agar terhindar dari sihir adalah membaca dzikir pagi dan petang, membaca dzikir sebelum tidur, dan dzikir setelah shalat.

Kita juga harus menjaga hal-hal yang Allah wajibkan dan menjaga shalat lima waktu, terkhusus menjaga shalat subuh secara berjamaah di masjid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ

“Barangsiapa yang menunaikan shalat subuh, maka ia dalam perlindungan Allah.” (HR. Muslim)

Bersamaan dengan itu tidak lupa kita menjauhi perbuatan kemasiatan dan kemunkaran. Ini semua merupakan sebab keselamatan dan mendapatkan perlindungan biidznillah.

Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menjaga kita semua dalam ketaan kepada-Nya dan agar Dia senantiasa melindungi kita. Karena kita tidak meminta perlindungan kecuali hanya kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Tabaraka wa Ta’ala Maha Mendengar, Maha mengabulkan doa, dan Maha Dekat.

عبَادَ الله : صلّوا وسلِّموا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدْ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ شَرْعِكَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلْ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَالمَوْتُ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْنَا وَبِكَ آمَنَّا وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ آنَبْنَا وَبِكَ خَاصَمْنَا، نَعُوْذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تَضِلَّنَا فَأَنْتَ الحَيُّ اَلَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوْتُوْنَ ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَوْقَاتِنَا ، وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.

اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى المُسْلِمِيْنَ، وَارْحَمْ مَوْتَانَا مَوْتَى المُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّ المَهْمُوْمِيْنَ مِنَ المُسْلِمِيْنَ ، وَنَفِّسْ كَرْبَ المَكْرُوْبِيْنَ ، وَاقْضِ الدَّيْنِ عَنِ المَدِنِيْنَ. اَللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الغَلَاءَ وَالِمحَنَ وَالزَلَازِلَ وَالفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email