Mengupas Tentang Hati

Dalam khutbah Jumat ini, dijelaskan tentang pentingnya memperbaiki qalbu, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat bentuk dan postur tubuh serta paras wajah seseorang, tetapi yang dilihat tidak lain adalah qalbu dan amalannya. Karena, qalbu yang sehat, akan membuahkan amalan yang baik pula. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Ketahuilah, bahwasanya pada setiap tubuh seseorang ada segumpal daging. Jika dia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun, apabila dia rusak, maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah, bahwasanya segumpal daging tadi adalah qalbu.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim). Semoga nasihat dalam khutbah ini bermanfaat. [Redaksi KhutbahJumat.com]

***

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَفَضَّلَهُ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ بِالْإِنْعَامِ وَالتَّكْرِيْمِ، فَإِنِ اسْتَقَامَ عَلى طَاعَةِ اللهِ اسْتَمَرَّ لَهُ هذَا التَّفْضِيْلُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَإِلاَّ رُدَّ فِي الْهَوَانِ وَالْعَذَابِ الْأَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَهُوَ الْخَلاَّقُ الْعَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَهِدَ لَهُ رَبُّهُ بِقَوْلِهِ: {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمِ} صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ سَارُوْا عَلَى النَّهْجِ القَوِيْمِ وَالصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّ بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالىَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَإِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia dalam sebaik-sebaik bentuk dan melebihkannya dengan berbagai keutamaan dari makhluk lainnya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya,para sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berjalan di atas petunjuknya.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa memperbaiki qalbu kita masing-masing. Ketahuilah rahimakumullah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat bentuk dan postur tubuh serta paras wajah seseorang, tetapi yang dilihat tidak lain adalah qalbu dan amalannya. Oleh karena itu, sebagaimana seseorang senantiasa membersihkan badan dan pakaiannya dari kotoran yang mengenainya, seharusnya dia juga memperbaiki amalan dan membersihkan qalbu-nya.

Bahkan, memerhatikan qalbu harus lebih diutamakan, karena rusaknya qalbu lebih berbahaya daripada rusaknya anggota badan. Rusaknya qalbu akan dirasakan akibatnya oleh si pemiliknya, baik ketika di dunia, apalagi saat di akhirat nanti. Akan tetapi, rusaknya anggota badan hanya dirasakan saat di dunia dan akan berakhir dengan datangnya kematian. Begitu pula baik dan tidaknya amalan anggota badan, sangat dipengaruhi oleh keadaan qalbu seseorang. Hal ini sebagaimana sabda Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, bahwasanya pada setiap tubuh seseorang ada segumpal daging. Jika dia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun, apabila dia rusak, maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah, bahwasanya segumpal daging tadi adalah qalbu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pada hadits tersebut kita memahami bahwa perbuatan anggota badan dipengaruhi oleh keadaan qalbu seseorang. Apabila qalbu-nya dipenuhi dengan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, anggota badannya juga akan digunakan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Sebaliknya, apabila qalbu-nya dipenuhi oleh cinta kepada syahwat dan mengikuti hawa nafsu, anggota badannya pun akan tunduk mengikuti keinginan syahwat dan hawa nafsunya. Oleh karena itu, kedudukan qalbu terhadap anggota badan lainnya adalah ibarat seorang raja terhadap para bawahannya yang selalu siap mengikuti perintahnya dan tidak menyelisihinya. Karena itu, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada anggota badan apabila qalbu-nya itu baik, dan sebaliknya, apa yang akan terjadi apabila qalbu-nya itu rusak.

Jamaah jum’ah rahimakumullah,

Dengan demikian, qalbu adalah bagian yang paling mulia pada diri manusia. Di sanalah tempat ma’rifatullah, yaitu ilmu seseorang tentang Rabb-Nya. Di sana pula tempatnya cinta, rasa takut, harapan, dan tawakkal-nya seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta amalan qalbu lainnya. Bahkan, di sanalah tempatnya niat yang menjadi timbangan sah atau tidaknya dan diterima atau ditolaknya amal ibadah seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Bahwa amalan itu tergantung dengan niat, dan seseorang mendapatkan apa yang dia niatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jika demikian, tidak cukup bagi seseorang untuk hanya memperbaiki amalan yang lahiriah saja tanpa memerhatikan keadaan qalbu-nya. Akan tetapi, memerhatikan dan memperbaiki qalbu seharusnya lebih didahulukan daripada memerhatikan amalan lahiriah. Bahkan, amalan anggota badan yang nampak, tidak akan sah atau diterima apabila tidak ada amalan qalbu yang disebut ikhlas. Oleh karen itu, setiap orang harus memiliki amalan qalbu yang disebut ikhlas ini, untuk seluruh amalan ibadah yang dilakukan oleh anggota badannya.

Hadirin rahimakumullah,

Sesungguhnya, qalbu ada yang bisa mengeras seperti kerasnya batu atau bahkan lebih keras dari batu. Qalbu yang paling keras adalah yang paling jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dari ketaatan kepada-Nya. Qalbu jenis ini tidak mau menerima nasihat dan tidak berkeinginan untuk mencari petunjuk serta kebenaran, sehingga pemiliknya tidak memperoleh manfaat kebaikan dari qalbu-nya, bahkan tidak ada yang keluar dari qalbu-nya kecuali kejelekan.

Di sisi lain, ada pula qalbu yang lembut dan baik, yaitu qalbu yang selalu tunduk dan patuh kepada Penciptanya. Qalbu jenis ini adalah qalbu yang siap menerima kebenaran dari nasihat yang datang kepadanya.

Lembut dan kerasnya qalbu seseorang dipengaruhi oleh beberapa sebab yang dilakukan oleh pemiliknya. Hal-hal yang bisa menjadi sebab baik dan lembutnya qalbu di antaranya adalah membaca dan mendengarkan Alquran. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللهِ وَتِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kalau sekiranya Kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan ketakutannya kepada Allah dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (Al-Hasyr: 21)

Hadirin rahimakumullah,

Kalau gunung yang begitu keras saja bisa hancur, tentunya qalbu yang keras pun akan menjadi lembut apabila si pemiliknya senantiasa memperbaikinya dengan membaca dan mendengarkan, serta mempelajari Alquran. Di dalam ayat lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَانَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَيَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk qalbu mereka mengingat Allah dan tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya yang telah diturunkan kepada mereka Al-Kitab, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu qalbu mereka menjadi keras dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16)

Karena itu, kaum muslimin wajib senantiasa membaca dan mempelajari kandungan Alquran, agar tidak seperti ahlul kitab yang menjadi keras qalbu-nya karena berpaling dari kitab Taurat dan Injil.

Hadirin rahimakumullah,

Di antara perkara yang juga akan membuat lembutnya qalbu adalah mengingat kematian, serta mengingat bahwa dunia ini adalah kehidupan yang sesaat, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya adalah di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Hadirin rahimakumullah,

Di antara perkara yang menjadi sebab lembutnya qalbu adalah memperbanyak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala atau berzikir dengan zikir-zikir yang ditetapkan oleh syariat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ

Sesungguhnya, orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah qalbu mereka.” (Al-Anfal: 2)

Dalam ayat lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang qalbu-nya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan dia dalam keadaan melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Selanjutnya, di antara hal yang akan melembutkan qalbu adalah menerima apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkan ilmu yang telah sampai kepadanya. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Alquran tentang keadaan orang-orang musyrikin yang menjadi keras qalbu-nya akibat perbuatan mereka berupa menolak dakwah atau ajakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam firman-Nya,

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan qalbu dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Alquran) sejak awal pertama datang dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al-An’am: 110)

Demikianlah keadaan orang-orang musyrikin yang menjadi keras qalbu mereka sehingga tetap di atas kekafirannya akibat tidak menerima ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula halnya dengan memerhatikan keadaan orang-orang yang sakit, fakir miskin, dan orang-orang yang tertimpa musibah, termasuk sebab lembutnya qalbu. Dengan memerhatikan keadaan mereka, seseorang akan mengetahui betapa banyak dan besarnya nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya sehingga menjadi lembut qalbu-nya. Hal ini berbeda dengan orang yang justru selalu melihat keadaan orang-orang yang kaya apalagi yang bermewah-mewah, maka dia akan jauh dari bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadi keras qalbu-nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam agar bersabar untuk berkumpul, serta tidak meninggalkan orang-orang yang miskin dan orang-orang yang lemah dari kalangan kaum muslimin karena ingin bersama orang-orang yang mendapatkan kemewahan dunia yang membuat mereka lalai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلاَتَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.” (Al-Kahfi: 28)

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلهِ مُقَلِّبِ القُلُوْبِ وَعَلاَّمِ الغُيُوْبِ، وَقَابِلِ التَّوْبَةِ مِمَّنْ يَتُوْبُ، شَدِيْدِ الْعِقَابِ عِنْدَ قَسْوَةِ القُلُوْبِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ سَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّ بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketahuilah, bahwa hal-hal yang akan menyebabkan keras dan rusaknya qalbu sangat banyak di masa kita sekarang ini. Oleh karena itu, kita semuanya harus senantiasa waspada dan berhati-hati agar tidak terjatuh pada hal-hal yang mengeraskan qalbu tersebut.

Di antaranya adalah tersibukkan dan tertipu dengan gemerlapnya dunia serta kurang berhubungan dengan masjid, sehingga menjadikan sebagian besar waktunya hanyalah untuk urusan dunia. Kedua hal ini menyebabkan kerasnya qalbu, karena akan melupakan seseorang dari akhirat dan mengingat Yang Mahakuasa. Berbeda dengan seseorang yang banyak berhubungan dengan masjid yang merupakan sebaik-baik tempat di muka bumi ini, maka dia pun akan senantiasa mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadirin rahimakumullah,

Termasuk sebab yang membuat kerasnya qalbu adalah tidak menundukkan pandangan dari melihat hal-hal yang diharamkan. Baik secara langsung, maupun melalui layar televisi, internet, majalah, dan VCD, yang menampilkan gambar-gambar yang terlarang dan sebagainya. Begitu pula mendengarkan lagu-lagu dan musik dengan berbagai jenisnya. Kedua hal ini juga akan mengeraskan qalbu, karena akan menjauhkan seseorang dari perkara yang bisa melembutkan qalbu yaitu berzikir dan membaca Alquran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, dengan mengingat Allah-lah qalbu menjadi tenang.” (Ar-Ra’d: 28)

Jamaah jum’ah rahimakumullah,

Termasuk perkara yang akan membuat kerasnya qalbu adalah mengonsumsi makanan dan minuman yang haram. Makanan dan minuman yang haram akan sangat berpengaruh terhadap akhlak dan ibadah orang yang mengonsumsinya, sehingga akan membuat orang tersebut menjadi rusak akhlaknya dan malas dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu pula seluruh jenis kemaksiatan, adalah sebab kerasnya qalbu seseorang. Sebagaimana hal ini tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّاكَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), bahkan sebenarnya apa yang mereka lakukan (dari perbuatan kemaksiatan) itu menutupi qalbu mereka.” (Al-Muthaffifin:14)

Oleh karena itu, seseorang harus menjauhi segala jenis kemaksiatan apabila dirinya menginginkan hati yang lembut.

Akhirnya, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita semua.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وبارك عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآإِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآإِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ    لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَقِمِ الصَّلاَةَ

Download Naskah Materi Khutbah Jumat

Khutbah Jumat Tentang Hati dan Kewajiban Seseorang Terhadapnya (1692)

Info Naskah Khutbah Jumat

Penulis: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.
Disalin dari kumpulan Khutbah Jumat Majalah Asy-Syariah Edisi 60 disertai penyuntingan bahasa dan penambahan teks ayat oleh Tim Redaksi KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ 7 = nine

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>