Khutbah Pertama:
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Jika seorang mukmin mendapatkan perintah dari Allah dan Rasul-Nya, tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali menyatakan sami’na wa atha’na. Kami mendengar dan kami taat. Dan itu menjadi kewajiban bagi siapapun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Quran An-Nur: 51].
Mengapa kita wajib menaati? Apakah ini untuk kepentingan Allah? Tidak. Ini demi kepentingan kita. Seorang anak kecil diberikan pandangan oleh orang tuanya jalan menuju kesuksesan. Ada hal-hal yang harus ia kerjakan. Dan ada hal-hal yang harus ia tinggalkan. Tapi, bisa jadi anak tersebut tidak menyadari dan tidak menerimanya. Karena keterbatasan sudut pandang dan pengetahuannya.
Seperti itulah gambaran manusia. Ia diberikan oleh Allah jalan menuju kebahagiaan dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat. Namun ia tidak mengerti. Hanya saja bedanya, pengetahuan Allah berbeda dengan pengetahuan orang tua. Kebijaksanaan Allah berbeda dengan kebijaksanaan orang tua. Rasa sayang Allah jauh lebih hebat dari kasih sayang orang tua. Sehingga sewajarnya kita menaati Allah dengan segala sifat-sifat-Nya yang sempurna.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dengan sifat-sifat Allah yang sempurna dan kasih sayang-Nya yang begitu besar, sayangnya manusia tidak mau taat kepada Allah. salah satu faktor yang menghalangi manusia untuk taat kepada Allah adalah faktor budaya. Mengapa bisa kita punya Kesimpulan budaya menjadi penghalang manusia untuk taat kepada Allah? Karena kita mempelajari bagaimana Alquran menceritakan interaksi para nabi dengan umatnya.
Umat-umat terdahulu menolak ajaran para nabi dengan alasan, “Kami sudah punya budaya.” Sehingga para nabi dianggap sebagai musuh budaya. Para nabi dianggap orang-orang yang menentang tradisi. Dan mereka menganggap bahwa ajaran leluhur yang merupakan budaya mereka adalah sesuatu yang lebih baik dari ajaran para nabi. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَآ أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْـًٔا وَلَا يَهْتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” Mereka menjawab: “(Tidak), kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) leluhur kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. [Quran Al-Baqarah: 170]
Apakah leluhur mereka seorang nabi? Apakah leluhur mereka mendapatkan wahyu sehingga mengenyampingkan bimbingan para nabi?
Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti leluhur mereka walaupun leluhur mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? [Quran Al-Maidah: 104].
Di dalam ayat Allah Ta’ala menjelaskan bahwa hal ini sudah menjadi tradisi para penentang rasul:
وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ
Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu ajaran dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. [Quran Az-Zukhruf: 23].
Di sinilah kita bisa melihat, tatkala budaya dijadikan agama, maka seseorang tidak akan mau mengganti budaya tersebut dengan ajaran para nabi. Meskipun ajaran tersebut adalah wahyu yang turun dari langit.
Oleh karena itu, salah satu yang berbahaya bagi seseorang adalah saat ia fanatik dengan budaya tertentu. Sampai pada satu titik ia berani menolak kebenaran. Padahal yang membawa kebenaran ini bukan manusia biasa. Para nabi adalah manusia pilihan yang membawa wahyu. Dan kita jangan sampai punya mindset dan pola pikir seperti ini.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Agama kita tidak melarang kita memegang budaya kita. Selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan syariat. Agama kita bukanlah agama yang tertutup dari yang selain di luarnya. Tapi agama kita memfilter, mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang manfaat dan mana yang mudhorat.
Yang tidak boleh adalah menjadi budaya sebagai agama. Di antara indikatornya adalah:
Pertama: budaya dijadikan sebagai saingan atau tandingan agama.
Bentuknya seperti saat seseorang melihat adanya wahyu baik dari Alquran maupun hadits. Ternyata ini bertentangan dengan budayanya. Ia tolak wahyu tersebut dan lebih mengedepankan dan berpihak budaya. Ini seperti beberapa ayat yang tadi kita singgung.
حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ
“Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya.”
Kedua: budaya dijadikan alat untuk membela kesalahan.
Sebagian Masyarakat mengetahui apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang salah. Sesuatu yang berdosa secara syariat. Tapi mereka melakukan pembelaan dengan mengatakan, “Ini sudah menjadi tradisi dan budaya leluhur kami.”
Masyarakat jahiliyah dulu, mereka thawaf mengelilingi Ka’bah dalam kondisi telanjang. Alasannya, mereka meyakini tidak boleh mengelilingi Ka’bah dengan pakaian yang pernah digunakan untuk maksiat. Setiap pakaian yang dikenakan, pasti pernah digunakan untuk maksiat. Kecuali pakaian baru. Kalau mereka tidak memiliki pakaian baru, mereka harus telanjang saat mengerjakan thawaf.
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan,
كانتِ المرأةُ تطوفُ بالبيتِ وهي عريانةٌ ، تقولُ : اليومَ يبدو بعضُهُ أو كلُّه * وما بدا منه فلا أحلُّه
“Dulu para wanita (di masa jahiliyah) thawaf mengelilingi Ka’bah dalam kondisi telanjang. Mereka berkata, ‘Pada hari ini tampak sebagian atau seluruhnya. Dan apa yang tampak, tidak kami halalkan untuk melihatnya’.” (Riwayat An-Nasai 2956).
Mereka tahu ini salah secara norma, perbuatan yang tidak pantas, dan mereka pun malu melakukannya. Sampai sebagian wanita saat thawaf, mereka thawaf di malam hari. Mereka tutupi kemaluan mereka dengan tangan-tangan mereka. Tapi, ketika diingatkan mereka akan mengatakan ‘Inilah warisa budaya leluhur’. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا ۗ قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ
Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya”. Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji”. [Quran Al-A’raf: 28].
Maksud dari perbuata keji dalam ayat ini adalah telanjang saat thawaf di Masjidil Haram. Tapi, inilah budaya dan tradisi, sangat sulit untuk ditinggalkan dan diubah. Karena sudah turun-temurun dilakukan. Sehingga ia menjadi nilai dan norma. Meskipun ini adalah nilai dan norma yang salah. Tatkala datang sesuatu untuk meluruskan, walaupun dengan berita sekelas berita wahyu, mereka pun tetap menolaknya.
Ketiga: Budaya menjadi agama.
Kapan budaya menjadi agama? Saat seseorang menjadikan budaya sebagai sesuatu yang mewarnai keyakinannya. Sehingga seseorang meyakini mitos tertentu. Tahayul tertentu. Seperti meyakini ada yang namanya bulan sial atau hari sial. Mereka tetapkan bulan tertentu dan tanggal tertentu dengan spesifik. Sehingga mereka tidak melakukan aktivitas di hari tersbut. Atau tidak melakukan aktivitas besar di hari tersebut.
Dari mana mereka dapatkan ini? Kata bapak saya. Kata simbah saya. Kata nenek saya. Kata orang dulu, dst. Dia memiliki keyakinan berdasarkan apa kata leluhurnya. Padahal keyakinan pada seorang hamba tidak boleh kecuali berdasarkan wahyu. Karena yang namanya keyakinan, harus bersumber dari wahyu.
Kita tidak tahu yang gaib. Kita tidak mengetahui sesuatu yang tidak bisa kita Indera. Sehingga untuk mengatakan hal-hal seperti ini seseorang hanya bisa mengandalkan berita dari wahyu. Baik Alquran maupun hadits Rasulullah. Allah Ta’ala berfirman,
اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” [Quran Al-A’raf: 3].
Keyakinan, namanya saja yakin. Koq sumbernya “katanya”. Sumbernya koq tidak kuat. Sumbernya koq sesuatu yang mengesankan keraguan “katanya”. Kata orang. Kata nenek saya. Kata leluhur kita. koq bisa seseorang membangun sesuatu yang ia yakini dari sumber yang ragu. Tentu kita tidak mau bernasib seperti ini.
Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberantas keyakinan-keyakinan jahiliyah yang berangkat dari kata nenek moyang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا عَدوى ، ولا طيَرةَ ، ولا صفرَ ، ولا هامَّة
“Tidak ada keyakinan bahwa penyakit itu menular atas kehendak penyakit itu. tidak ada yang namanya sial. Tidak ada keyakinan bulan safar bulan sial. Tidak hewan pembawa sial.” (HR. Abu Dawud, 3911).
Hal ini diingkar oleh Rasulullah karena keyakinan seperti ini berkembang di tengah masyarakat saat itu. dulu masyarakat jahiliyah punya keyakinan bahwa Bulan Syawal adalah bulan sial untuk menikah. Lalu Rasulullah menikahi beberapa orang istrinya bertepatan di Bulan Syawal untuk menghilangkan budaya keyakinan ini. Kalau di masyarakat kita saat ini Bulan Suro atau bulan Muharam dianggap sial untuk menikah.
Mari kita hilangkan budaya-budaya seperti ini. Dan saat kita wafat, kita tidak lagi memiliki keyakinan-keyakinan yang demikian.
Demikian sebagai khutbah yang pertama, semoga bermanfaat.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا..
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى:
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Islam tidak memusuhi budaya. Walaupun sebagian orang yang kepentingan mereka terganggu akan menuduh bahwa agama Islam anti budaya. Banyak budaya-budaya yang baik yang dilestarikan Islam bahkan dimotivasi oleh agama ini.
Seperti budaya memuliakan tamu. Budaya bertetangga. Sampai-sampai dikaitkan dengan keimanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جارَهُ، ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Muslim).
Budaya berbuat baik dan memuliakan orang tua. Berbuat baik kepada kerabat dll. terlalu banyak ayat dan hadits yang memotivasi hal tersebut. Dan menyalahkan orang-orang yang melanggarnya.
Budaya dan peradaban terbaik adalah sesuatu yang diajarkan oleh manusia paling beradab. Yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dia bersumber dari wahyu. Manusia adalah makhluk yang tidak sempurna. Kita semua sepakat akan hal itu. Sementara budaya adalah produk manusia. Koq bisa sesuatu yang tidak sempurna melahirkan produk yang sempurna.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi orang-orang yang mudah menerima kebenaran. Mudah dalam mengamalkan kebenaran. Dan mengumpulkan kita di akhirat bersama orang-orang yang berada di atas kebenaran.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .
اَللَّهُمَّ أَعِزَ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابِكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنَ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِّدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَالِحَةَ النَاصِحَةَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالمَوْتَ رَاحَةً لَنَا فِي كُلِّ شَرٍّ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أّصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَباَرِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّاتِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الغَلَا وَمِنَ البَلاَ وَمِنَ الفِتَنِ وَمِنَ المِحَنِ كُلَّهَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِناَ هَذَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ وَالأَهْوَاءِ وَالأَدْوَاءِ، اَللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ. اَللَّهُمَّ اهْدِنَا وَسَدِدْنَا، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكُ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعِفَّةَ وَالغِنَى.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيٍءٍ قَدِيْرٍ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
