Khutbah Pertama:
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Khotib mewasiatkan kepada diri khotib peribadi dan jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Bertakwa dalam bentuk mengikhlaskan niat kita saat beribadah kepada Allah murni hanya untuk Allah, karena dengan itulah ibadah kita diterima. Bertakwa dengan berpegang teguh dengan sunnah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan itulah kita benar-benar berislam dengan petunjuk. Bertakwa dengan mengerjakan amal shaleh, inilah perniagaan yang sangat menguntungkan. Dan bertakwa kepada Allah dengan cara menjauhi kemaksiatan, dengan inilah kita bisa selamat di akhirat.
Allah Ta’ala berfirman,
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Dan jagalah diri kalian dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” [Quran Al-Baqarah: 281]
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Pada bulan Ramadhan tahun 2 H, terjadi sebuah peristiwa besar. Terjadi Perang Badr. Perang yang mengandung banyak pelajaran. Di antaranya Pelajaran akidah dan keyakinan. Saat Rasulullah membawa tiga ratus belasan sahabatnya yang tidak bersiap untuk perang. Artinya, mereka membawa materi senjata yang tidak lengkap. Pakaian yang bukan pakaian perang. Lalu Allah uji dengan menghadapi musuh yang jumlahnya tiga kali lipat, 1000 orang, dengan senjata lengkap bersiap untuk peperangan. Dan baju perang perang sebagai bentuk pertahanan.
Secara logika peluang Rasulullah dan para sahabatnya, jangankan untuk menang, untuk selamat saja sulit. Namun ternyata Allah turunkan pertolongan dari langit dengan menurunkan 5000 Malaikat untuk menolong kaum muslimin.
Bagaimana pertolongan itu bisa datang? Jawabnya dengan doa yang penuh keyakinan kemudian berusaha. Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu bercerita,
لمَّا كان يومُ بَدْرٍ قاتَلْتُ شيئًا مِن قِتالٍ ثمَّ جِئْتُ مُسْرِعًا لأنظُرَ ما فعَل رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فجِئْتُ فإذا هو ساجدٌ يقولُ يا حيُّ يا قيُّومُ يا حيُّ يا قيُّومُ لا يَزيدُ عليهما ثمَّ رجَعْتُ إلى القِتالِ ثمَّ جِئْتُ وهو ساجدٌ يقولُ ذلك ثمَّ ذهَبْتُ إلى القتالِ ثمَّ رجَعْتُ وهو يقولُ ذلك ففتَح اللهُ عليه
“Saat Perang Badr berkecamuk. Aku turun ke medan perang beberapa saat. Kemudian bersegera kembali ke tenda Rasulullah untuk melihat apa yang terjadi pada beliau. Ketika aku melihat Rasulullah, ternyata beliau sedang bersujud sambil mengulang-ulang ucapan, ‘Ya Hayyu ya Qayyum.. Ya Hayyu ya Qayyum..’ Beliau tidak menambah sedikit pun doanya kecuali hanya menyebut dua nama Allah itu.
Kemudian Aku kembali berperang lagi. Setelah itu melihat keadaan Rasulullah lagi. Ternyata beliau masih sujud sambil mengucapkan dua nama Allah itu. Kemudian aku kembali ke medan perang. Setelah itu kembali melihat keadaan Rasulullah. Ternyata beliau masih sujud sambil mengucapkan dua nama Allah itu. Hingga akhirnya Allah berikan kemenangan untutk beliau.” (HR. Al-Bazzar dalam al-Bahr al-Zukhar, 662).
Sehebat itu pengaruh doa dengan menyebut nama Allah, al-Hayyu dan al-Qayyum. Apa makna nama ini? Dan bagaimana kedudukannya? Sehingga kita bisa berdoa dengan menyebut dua nama ini benar-benar penuh dengan penghayatan.
Jamaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Pengenalan seorang muslim terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah pengetahuan terbaik dan ilmu yang memberikan manfaat luar biasa. Tentu maksud dari pengetahuan ini bukan sekadar tahu nama saja, tapi tahu makna dan keagungannya juga. Mengapa ilmu ini mulia? Karena dalam ilmu pengetahuan, nilai sebuah ilmu itu tergantung dari objek yang dipelajari.
Semakin bernilai objek kajiannya, semakin tinggi nilai ilmu tersebut. Dan tidak ada sesuatu apapun yang lebih mulia dibanding Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, pembahasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah ilmu yang paling berharga. Hanya saja kita yang memiliki sudut pandang matrealistis menilai ilmu ini tidak begitu penting. Padahal sebenarnya ilmu ini sangat penting.
Semakin seseorang mengenal nama dan sifat Allah, ia semakin mengenal Allah. Semakin takut pada-Nya. Semakin berharap kepada-Nya. Semakin banyak doa-doanya. Dan semakin dekat dengan Allah Sang Penguasa alam semesta.
Di antara nama Allah adalah al-Hayyu (Yang Maha Hidup) dan al-Qayyum (Yang Mengurusi). Dua nama ini adalah di antara nama Allah yang palin agung. Karena dari dua nama ini, nama-nama yang lain akan menjadi sempurna. Bagaimana Allah akan mendengar kalau Dia tidak hidup. Bagaimana Allah akan memberi rezeki, kalau Dia tidak mengurusi. Karena itu, para ulama menyebut dua nama ini sebagai nama Allah yang paling agung.
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bercerita,
كنتُ مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم جالِسًا في الحلْقةِ، ورجُلٌ قائمٌ يُصَلِّي،
“Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dalam sebuah halaqoh. Sementara itu ada seseorang yang berdiri mengerjakan sholat.
فلمَّا ركَعَ وسجَدَ فتشَهَّدَ، ثمَّ قال في دُعائِه:
Lalu orang itu rukuk, sujud, dan tasyahhud. Setelah itu ia berucap dalam doanya,
اللَّهمَّ إنِّي أسألُك بأنَّ لك الحمدَ، لا إلهَ إلَّا أنت المَنَّانُ، يا بديعَ السمواتِ والأرضِ، يا ذا الجَلالِ والإكرامِ، يا حَيُّ يا قَيُّومُ، إنِّي أَسألُك،
‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu. Karena milikmulah segala puja-puji. Tidak ada Tuhan yang benar kecuali Engkau. Engkaulah al-Mannan (Sang Pemberi anugerah). Engkaulah pencipta seluruh lapisan langit dan bumi. Wahai Engaku pemiliki kemuliaan dan keagungan. Wahai Engkau al-Hayyu (Yang Maha Hidup) dan al-Qayyum (yang mengurusi). Sungguh aku memohon kepadamu’.
فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم:
Mendengar doa orang tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabat,
أتَدْرونَ بما دَعا اللهَ؟
‘Tahukah engkau, barusan engkau berdoa kepada Allah dengan apa’?
Para sahabat menjawab,
قال: فقالوا: اللهُ ورسولُه أعلَمُ،
Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengerti.
Rasulullah mengatakan,
قال: والذي نفْسي بيَدِه، لقد دَعا اللهَ باسمِه الأعظَمِ، الذي إذا دُعيَ به أجابَ، وإذا سُئل به أَعْطى.
Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh engkau telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung. Apabila seseorang berdoa dengan nama itu akan di-ijabah. Dan apabila ia meminta akan diberi.” (HR. Ahmad No: 13570).
Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اسْمُ اللهِ الأعْظَمُ الذي إذا دُعِيَ بهِ أجابَ ؛ في ثلاثِ سُوَرٍ من القُرآنِ : في ( البَقرةِ ) و ( آلِ عِمْرانَ ) ، و ( طه )
“Nama Allah yang paling agung, yang kalau digunakan untuk berdoa akan dikabulkan terdapat dalam tiga surat Alquran. Dalam Surat Al-Baqarah, Ali Imran, dan Thaha.” (HR. Ath-Thabrani, 8/282).
Dalam surat Al-Baqarah terdapat dalam ayat kursi:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Dalam Surat Ali Imran ayat 2:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Dalam Surat Thaha:
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ
Ibadallah,
Nama Allah al-Hayyu menunjukkan kehidupan yang sempurna dan kekal. Kehidupan yang tidak didahului ketiadaan sebelumnya. Kehidupan yang tidak diakhiri kematian, fana, dan hilang. Kehidupan yang tidak mengenal sakit dan lelah. Kehidupan abadi yang sempurna. Sehingga kehidupan sempurna ini menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat-Nya yang lain. Sempurna Maha Mendengar-Nya. Maha Melihat-Nya. Maha Kuat-Nya. Maha tahu dan Maha kuasa-Nya. Maha Pemaaf dan Pengasih-Nya. Dan semua sifat lainnya yang sempurna.
Dengan kesempurnaan seperti ini, pantaslah Allah dijadikan satu-satunya yang disembah. Satu-satunya yang dipersembahkan pada-Nya rukuk, sujud, dan semua bentuk peribadatan. Karena kesempurnaan inilah Allah Ta’ala menyatakan,
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ
“Dan sandarkanlah diri kalian kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati.” [Quran Al-Furqan: 58].
Siapapun dan apapun yang disembah selain Allah mengalami kematian. Memiliki sifat fana. Mengalami fase tidak ada dan berujung pada ketiadaan. Karena itu selain Allah tidak pantas untuk disembah.
Dengan mengenal nama Allah al-Hayyu inilah Abu Bakar ash-Shiddiq tegar dan mampu meyakinkan para sahabat saat menghadapi berita duka yang sangat besar, yaitu berita wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Umar bin al-Khattab dan semua sahabat merasakan betapa beratnya berita ini. Berat bagi mereka menerimanya. Hingga Umar mengatakan,
واللهِ ما ماتَ رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم… واللهِ ما كان يَقَعُ في نَفسي إلَّا ذاكَ
“Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum meninggal… Demi Allah, tidak ada keyakinan dalam hatiku kecuali seperti itu.”
Saat Rasulullah wafat, Abu Bakar berada di kebunnya. Lalu menuju rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
فجاءَ أبو بَكرٍ فكَشَفَ عن رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فقَبَّلَه، قال: بأبي أنتَ وأُمِّي، طِبتَ حَيًّا ومَيِّتًا، والذي نَفسي بيَدِه، لا يُذيقُكَ اللهُ المَوتَتَينِ أبَدًا
Abu Bakar datang dan membuka kain yang menutupi wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu mencium kening beliau. Setelah itu Abu Bakar berkata, ‘Demi ayah dan ibuku, engkau harum saat hidup maupun setelah wafat, wahai Rasulullah. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah tidak akan mencicipkan kepadamu dua kali kematian’.
ثُمَّ خَرَجَ فقال: أيُّها الحالِفُ، على رِسلِكَ، فلَمَّا تَكَلَّمَ أبو بَكرٍ جَلَسَ عُمَرُ، فحَمِدَ اللهَ أبو بَكرٍ وأثنى عليه،
Kemudian Abu Bakar keluar dari rumah Rasulullah dan berkata, ‘Tenanglah engkau hai orang yang bersumpah (maksudnya Umar). Saat Abu Bakar mulai berbicara, Umar pun duduk menyimak. Abu Bakar membuka ucapannya dengan memuji dan menyanjung Allah.
وقال: ألا مَن كان يَعبُدُ مُحَمَّدًا صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فإنَّ مُحَمَّدًا قد ماتَ، ومَن كان يَعبُدُ اللهَ فإنَّ اللهَ حَيٌّ لا يَموتُ
Abu Bakar berkata, “Siapa yang menyembah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh Muhammad telah wafat. Dan siapa yang menyembah Allah, sungguh Allah senantiasa hidup dan tidak wafat.
Abu Bakar membaca firman Allah,
: {إنَّكَ مَيِّتٌ وإنَّهم مَيِّتونَ} [الزمر: 30]،
“Sesungguhnya kamu Muhammad akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” [Quran Az-Zumar: 30].
Ia juga membaca firman Allah,
{وما مُحَمَّدٌ إلَّا رَسولٌ قد خَلَتْ مِن قَبلِه الرُّسُلُ أفَإن ماتَ أو قُتِلَ انقَلَبتُم على أعقابِكُم ومَن يَنقَلِب على عَقِبَيه فلَن يَضُرَّ اللهَ شَيئًا وسَيَجزي اللهُ الشَّاكِرينَ} [آل عمران: 144]،
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [Quran Ali Imran: 144] (HR. Al-Bukhari No: 3667).
Inilah nama Allah al-Hayyu. Nama yang agung. Memiliki makna kehidupan yang sempurna.
Demikian sebagai khutbah yang pertama, semoga bermanfaat.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا..
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى:
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Adapun nama Allah al-Qayyum yaitu Yang Maha Mengurusi. Artinya Allah mengurusi dirinya sendiri. Sama sekali tidak butuh kepada siapapun. Dan Dialah Yang Maha mengurusi ciptaan-Nya. Semua makhluknya yang justru butuh kepada-Nya.
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menceritakan,
كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذا قامَ مِنَ اللَّيلِ يَتَهَجَّدُ قال: اللهُمَّ لكَ الحَمدُ أنتَ قَيِّمُ السَّمَواتِ والأرضِ ومَن فيهنَّ
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat tahajjud di malam hari, beliau berdoa, ‘Ya Allah segala puji bagi-Mu. Engkaulah Yang Maha mengurusi langit dan bumi beserta segala isinya.” (HR. Al-Bukhari 1120).
Mengurusi langit dan bumi beserta isinya yaitu para malaikat, benda-benda langit, manusia, jin, hewan-hewan, dan semuanya baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَن تَزُولَا ۚ وَلَئِن زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِّن بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” [Quran Fatir: 41].
Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَن تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ۚ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِّنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنتُمْ تَخْرُجُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah ter-urusnya langit dan bumi sesuai kehendak-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).” [Quran Ar-Rum: 25].
Allah mengurusi semua makhluknya. Allah mengurusi manusia satu per satu. Seorang pemimpin, atasan, atau panglima, ia tidak mampu mengurusi anak buahnya satu per satu. Ia memiliki bawahan yang mewakilinya mengurusi satu grup, kelompok, atau regu. Tapi Allah, Dia mengurusi makhluk-makhluknya satu per satu dengan kasih sayang-Nya dan kebijak-sanaan-Nya.
Allah membukakan rezeki bagi seseorang dan menutupnya dari yang lain. Allah melapangkan dan menyempitkan. Memuliakan atau mengangkat orang yang Dia kehendaki. Demikian juga menghinakan dan menjatuhkan orang yang Dia kehendaki. Allah memberi petunjuk kepada seseorang. Melapangkan dada seseorang. Mengangkat kemudharatan. Menjawab mereka yang berdoa. Menyembuhkan yang sakit. mengembalikan mereka yang hilang. Menolong orang yang disia-siakan. Memberi makan mereka yang kelaparan. Mengangkat musibah. Menutupi aib orang-orang yang bermaksiat. Membalas mereka yang berbuat kebaikan. Menerima mereka yang bertaubat. Memberi rasa aman bagi mereka yang takut. Menolong mereka yang dizalimi. Menghukum mereka yang zalim.
Oleh karena itu di Surat ar-Rahman disebutkan:
يَسْـَٔلُهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْنٍ
“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” [Quran Ar-Rahman: 29]
Allah mengetahui dan menyaksikan semua yang dilakukan oleh manusia. Dan di hari kiamat nanti, Dia akan membalasnya sesuai dengan apa yang mereka perbuat. Dalam ayat kursi yang sering kita baca, Allah menyatakan,
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui semua yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sedikit pun dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara langit dan bumi, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Quran Al-Baqarah: 255].
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dari dua sifat ini kita menyadari bahwa segala yang Allah berikan kepada kita. Atau yang Allah halangi sehingga kita tidak mendapatkannya, semuanya adalah atas kasih sayang dan kebijak-sanaan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan kesayangan Allah juga sering mendapatkan kesulitan hidup. Tapi beliau tidak berburuk sangka kepada Allah, justru beliau memuji dan terus meminta kepada Allah dengan menyebut nama-Nya al-Hayyu dan al-Qayyum. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan,
كانَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ إذا كربَهُ أمرٌ قالَ: يا حيُّ يا قيُّومُ برَحمتِكَ أستغيثُ
“Merupakan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau mendapat masalah yang berat, beliau mengucapkan dzikir: Yaa hayyu yaa Qayyum birahmatika astaghits. Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Mengurusi dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.” (HR. At-Turmudzi, No: 3524).
Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan putrinya, Fatimah, radhiallahu ‘anhu memulai dan memulai malam dengan membaca dzikir ini.
ما يَمنَعُكِ أنْ تَسْمَعي ما أُوصيكِ به: أنْ تَقولي إذا أصبَحْتِ وإذا أمسَيْتِ: يا حَيُّ، يا قَيُّومُ، بكَ أستَغيثُ، فأصلِحْ لي شَأْني، ولا تَكِلْني إلى نَفْسي طَرفةَ عَينٍ
“Apa yang menghalangimu untuk mendengarkan apa yang akan kuwasiatkan kepadamu. Hendaknya engkau membaca ini di saat pagi dan sore hari, ‘Yaa Hayyu yaa Qayyum. Bika astaghitsu. Ash-lih li sya’ni. Wa laa takilnii ilaa nafsi tharfata ‘ain’. Wahai Yang Maha Hidup dan Yang Maha Mengurusi. Jangan Engkau serahkan diriku pada diriku sendiri (Engkau tidak mengurusiku) walaupun sekejap mata.” (HR. Al-Hakim No: 2000).
Di hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من قال: أَسْتَغْفِرُ الله الذي لا إله إلا هو الحَيَّ القيَّومَ وأتوب إليه، غُفرت ذنوبه، وإن كان قد فَرَّ من الزَّحْف
“Siapa yang mengatakan ‘Astaghfirullah alladzi laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaihi (Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada Tuhan yang benar kecuali Dia. Yang Maha Hidup dan Maha Mengurusi) akan diampuni dosa-dosanya. Walaupun ia melakukan dosa lari dari medan perang.” (HR. Abu Dawud dan At-Turmudzi).
Oleh karena itu jamaah yang dimuliakan Allah,
Pahami nama Allah ini. Renungkan penjelasan-penjelasan yang telah khotib sampaikan. Sehingga tatkala kita mengucapkan dzikir ini, ucapan tersebut berangkat dari dalam hati kita. Bukan ucapan lisan yang kosong. Tapi benar-benar ucapan yang berbobot berangkat dari keyakinan yang besar. Demikian juga pelajarilah nama-nama dan sifat-sifat Allah yang lain. Pelajari makna dan penjelasan-penjelasannya. Bukan hanya sekadar berucap namun hampa dari memaknai.
Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita untuk mempelajari agama yang mulia ini. Mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah. Kita berhenti menjadi muslim yang tidak peduli dengan agamanya sendiri. Berhenti menjadi muslim yang merasa Tuhannya tidak begitu penting. Sehingga Allah pun menganggap kita tidak penting.
Allah berfirman menyebutkan sifat orang-orang munafik yang tidak boleh kita tiru:
نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Mereka telah lupa kepada Allah, Allah pun melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” [Quran At-Taubah: 67].
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .
اَللَّهُمَّ أَعِزَ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابِكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنَ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِّدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَالِحَةَ النَاصِحَةَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالمَوْتَ رَاحَةً لَنَا فِي كُلِّ شَرٍّ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أّصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَباَرِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّاتِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الغَلَا وَمِنَ البَلاَ وَمِنَ الفِتَنِ وَمِنَ المِحَنِ كُلَّهَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِناَ هَذَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ وَالأَهْوَاءِ وَالأَدْوَاءِ، اَللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ. اَللَّهُمَّ اهْدِنَا وَسَدِدْنَا، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكُ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعِفَّةَ وَالغِنَى.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيٍءٍ قَدِيْرٍ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
