Khutbah Pertama:
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Allah Ta’ala menyifati jiwa kita dengan berbagai karakter. Ada jiwa yang disebut oleh Allah dengan jiwa yang tenang. Seperti dalam firman-Nya,
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً (28)
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” [Quran Al-Fajr: 27-28]
Inilah sifat jiwa yang terpuji. Tenang dalam keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tenang terhadap janji-janji Allah untuk orang yang beriman. Tenang bahwasanya segala yang terjadi di dunia ini tidak ada yang sia-sia, semua ada balasannya di akhirat. Tenang dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan berat saat akan melakukan kemaksiatan.
Inilah jiwa yang terpuji. Karena dia ridha dengan aturan-aturan Allah. Ridha terhadap semua ketetapan Allah. Dan dia diridhai oleh Allah. Inilah jiwa yang terpuji dan akan masuk ke dalam surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemudian yang kedua, ada jiwa yang Allah sebut dengan ammaratun bis suu’. Yaitu jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan. Allah Ta’ala menyebutkannya dalam firman-Nya,
إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ
“Karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” [Quran Yusuf: 53].
Inilah jiwa yang nafsunya ingin selalu dipenuhi. Karena jiwa kit aini memiliki banyak syahwat dan keinginan. Ada syahwat kemaluannya. Ada syahwat pandangannya. Ada syahwat pendengannya. Syahwat terhadap harta, makanan, dan kepemimpinan. Syahwat popularitas dan ingin dilihat, dll. Banyak sekali keinginan jiwa kita ini. Yang kalau kita tidak memiliki kendali berupan iman dan takwa, pasti kita celaka.
Memperturutkan syahwat adalah jalan menempuh neraka. Atau bahasa mudahnya, kalau kita mencari alamat neraka, maka jawabnya alamat neraka adalah syahwat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
حُفَّتِ الجنَّةُ بالمكارِهِ وحُفَّتِ النَّارُ بالشَّهواتِ
“Jalan menuju surga diliputi dengan hal-hal yang tidak disukai. Sementara jalan menuju neraka diliputi oleh syahwat (hal-hal yang disenangi jiwa).” (HR. Muslim 2822).
Kemudian jiwa yang ketiga adalaha nafsun lawwamah yaitu jiwa yang mencela. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ (1) وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (2)
“Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan nafsun lawwamah.” [Quran Al-Qiyamah: 1-2].
Ada dua pendapat para ulama tentang definisi nafsun lawwamah ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa nafsun lawwamah (jiwa yang mencela) bukanlah jenis jiwa yang ketiga. Akan tetapi dia adalah bagian dari jiwa yang pertama dan yang kedua. Ia adalah bagian dari nafsun muthmainnah atau bagian dari nafsun ammaratun bis suu’.
Kapan dia menjadi bagian dari nafsun muth-mainnah? Yaitu tatkala ia mencela kemaksiatan. Jiwa ini akan mencela, “Mengapa engkau melakukan kemaksiatan? Mengapa engkau perturutkan jiwa burukmu? Mengapa engkau taat pada setan?” Dll. Dalam kondisi ini, jiwa yang ketiga yaitu nafsun lawwamah ini bersifat positif. Karena ia mencela kemaksiatan.
Demikian juga jenis nafsun lawwamah (jiwa yang mencela) ini juga akan mengkritik diri seseorang yang sedikit melakukan ketaatan. “Mengapa engkau sedikit sedekah? Mengapa shalat malam dan membaca Alquran hanya sebentar?” Nafsun lawwamah dalam kondisi seperti ini menjadi motivasi dan kontrol diri.
Di sisi lain, nafsun lawwamah bisa menjadi bagian jiwa ammaratun bis suu’. Dia mencela seseorang tatkala melakukan kebaikan. “Mengapa ikut-ikut pengajian? Mengapa banyak sedekah nanti miskin? Mengapa taat nanti sempit pergaulan? Mengapa kau tinggalkan kesempatan bermaksiat?” Dll. Ini pendapat pertama para ulama tentang nafsun lawwamah (jiwa yang mencela).
Pendapat kedua, nafsun lawwamah adalah jiwa tersednri. Bukan bagian dari jenis pertama maupun kedua. Jiwa ini berfungsi mencela seseorang takala berbuat maksiat agar berhenti. Dan mencela saat seseorang sedikit melakukan taat. Artinya jiwa yang ketiga, yaitu nafsun lawwamah adalah jiwa yang positif.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kondisi kita anak Adam berganti-ganti. Kadang jiwa kita didominasi oleh nafsun muth-mainnah (jiwa yang tenang). Di kesempatan yang lain, jiwa kita didominasi oleh nafsun ammaratun bis suu’. Oleh karena itu, seseorang harus berjuang melawan dirinya. Membina jiwanya. Dan mengontrol hawa nafsunya. Jangan sampai ia terus memiliki jiwa ammaratun bis suu’. Jiwa yang selalu memperturutkan hawa nafsu.
Karena kalau ia membiasakan jiwanya dalam kondisi seperti ini. Membiarkannya dan melepaskannya begitu saja. Tentu memperturutkan hawa nafsu akan menjadi bagian dari dirinya. Dan kita takut kalau dalam kondisi didominasi oleh jiwa ammaratun bis suu’ kemudian Allah Ta’ala mewafatkan kita.
Kita latih dan biasakan diri kita untuk senantiasa berada dalam kondisi jiwa nafsun muth-mainnah. Kita berjuang untuk teguh di atasnya hingga kita wafat. Sehingga kita masuk dalam firman Allah Ta’ala,
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” [Quran Al-Fajr: 27-30].
Demikian sebagai khutbah yang pertama, semoga bermanfaat.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا..
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى:
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
والمجاهدُ من جاهدَ نفسَهُ في طاعةِ اللَّهِ
“Mujahid adalah seseorang yang memerangi jiwanya untuk taat kepada Allah.” (HR. Ahmad 24013).
Perjuangan dan jihad bukan hanya melawan musuh dalam bentuk fisik. Justru perjuangan itu dimulai dari seseorang melawan dirinya sendiri. Melawan karakter jiwanya yang mendorong untuk senantiasa memperturutkan hawa nafsu. Berjuang melawan keinginan dipuji. Berjuang melawan pandangan yang haram. Berjuang melawan pendengaran yang haram. Harta yang haram. Dll. ini juga termasuk jihad.
Para ulama, di antaranya al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
مَنْ لَمْ يُجَاهِدْ نَفْسَهُ أَوَّلاً لِتَفْعَلَ مَا أُمِرَتْ بِهِ, وَتَتْرُكُ مَا نُهِيَتْ عَنْهُ, وَيُحَارِبُهَا فِي اللهِ, لَمْ يُمْكِنْهُ جِهَادٌ عَدُوَّهُ فِي الخَارِجِِِ
“Siapa yang belum berjihad melawan jiwanya agar melakukan ketaatan yang diperintahkan kepadanya dan meninggalkan larangan untuknya -ia berjihad dalam hal tersebut karena Allah-, tidak mungkin ia mampu berjihad menghadapi dari luar dirinya.”
Tatkala datang dorongan dari jiwa yang buruk untuk mengajaknya menonton apa yang Allah haramkan, dia lawan jiwa tersebut dan berusaha untuk mengalahkannya. Tatkala datang dorongan dari jiwanya untuk mengomentari seseorang, dia lawan jiwa tersebut hingga bisa mengalahkannya. Tatkala datang dorongan keinginan dipuji karena amal shaleh tertentu, ia lawan. Tatkala datang dorongan untuk korupsi, baik korupsi uang atau korupsi waktu dalam bekerja, ia lawan. Dst.
Apabila ia berhasil mengalahkan jiwa yang buruk, ia akan masuk surga. Namun kalau ia terus mengikuti dan kalah, kekalahannya akan membuatnya terjerembab ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman,
فَأَمَّا مَن طَغَىٰ (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ (39) وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ (41)
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” [Quran An-Naziat: 37-41].
Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita. Dalam perjalanan dan perjuangan ini, kita tidak bisa mengandalkan diri kita. kita butuh pertolongan Allah Ta’ala. Kalau kita lepas dari pertolongan Allah sekejap saja, maka kita akan tergelincir. Oleh Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa yang kita baca pada dzikir setiap pagi dan sore hari yaitu:
يا حيُّ يا قيومُ برحمتك أستغيثُ ، و أَصلِحْ لي شأني كلَّه ، و لا تَكِلْني إلى نفسي طرفَةَ عَينٍ أبدًا
“Wahai Yang Maha Hidup dan senantiasa mengurusi makhluknya, dengan rahma-Mu akan memohon pertolongan. Perbaikilah semua kondisiku. Jangan Engkau tinggalkan aku walaupun hanya sekejap mata.”
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .
اَللَّهُمَّ أَعِزَ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابِكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنَ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِّدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَالِحَةَ النَاصِحَةَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالمَوْتَ رَاحَةً لَنَا فِي كُلِّ شَرٍّ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أّصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَباَرِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّاتِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الغَلَا وَمِنَ البَلاَ وَمِنَ الفِتَنِ وَمِنَ المِحَنِ كُلَّهَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِناَ هَذَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ وَالأَهْوَاءِ وَالأَدْوَاءِ، اَللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ. اَللَّهُمَّ اهْدِنَا وَسَدِدْنَا، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكُ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعِفَّةَ وَالغِنَى.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيٍءٍ قَدِيْرٍ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
