Khutbah Jumat Singkat Terbaru

Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Fikih

Bulan Mulia Muharram

Khutbah Pertama:

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

أَمَّا بَعْدُ:

أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala,

Beberapa hari yang lalu kita berpisah dengan tahun hijriyah yang lama. Dan kita menyambut kedatangan tahun yang baru. Kita berpisah dengan tahun lalu dan kejadian-kejadian yang ada di dalamnya. Baik kesedihan maupun kebahagiaan. Kemudian kita menyambut tahun yang baru, yang kita bersangka baik kepada Allah memberikan banyak kebaikan dan keberkahan untuk kita.

Demikianlah hari-hari berganti dan berlalu begitu cepat. Hari-hari yang bernilai hanyalah hari-hari yang diisi dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sementara hari-hari yang dilalui dengan kesia-siaan adalah penyesalan. Dan hari-hari yang dilalui dengan perbuatan dosa adalah musibah.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Hari-hari yang kita lewati adalah rangkaian perjalanan kita menuju negeri akhirat. Detik pertama kelahiran kita di dunia, itulah start awal perjalanan. Semakin hari berlalu, perjalanan tersebut semakin membuat kita jauh dari titik permulaan. Dan semakin mengantarkan kita pada tujuan. Yaitu kematian yang menjadi titik perjalanan awal berikutnya di alam yang berbeda. Yaitu alam akhirat.

Seorang penyair mengatakan,

إِنَّا لَنَفْرَحُ بِالْأَيَّامِ نَقْطَعُهَا … وَكُلُّ يَوْمٍ مَضَى يُدْنِي مِنَ الْأَجَلِ

Sungguh kita bahagia melalui hari-hari yang kita lewati. Padahal setiap hari yang berlalu mengantarkan kita menuju mati.

Perhatikan kondisi kita saat ini. Kalau banyak yang kurang, kita benahi ketertinggalan. Kalau di atas ketaatan, berusahalah istiqomah dan tingkatkan. Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan,

اُنْظُرْ إِلَى حَالِكَ الَّذِيْ أَنْتَ عَلَيْهِ، إِنْ كَانَ يَصْلُحُ لِلْمَوْتِ وَالْقَبْرِ، فَاسْتَمِرْ عَلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ لَا يَصْلُحُ لِهَذَيْنِ، فَتُبْ إِلَى اللهِ مِنْهَا، وَارْجِعْ إِلَى مَا يَصْلُحُ

“Cek kondisimu saat ini! Kalau menurutmu layak engkau mati dan berada di kubur dalam kondisi seperti ini, lanjutkan! Tapi kalau kondisimu saat ini tidak layak untuk mati dan kubur, bertaubatlah kepada Allah. Dan kembalilah menuju kondisi yang baik.”

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kita sekarang berada di bulan Allah yang mulia, Bulan Muharram. Bulan yang merupakan salah satu dari empat bulan haram. Abu Bakrah, Nafi’ bin al-Harits radhiallahu ‘anhu menyampaikan,

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم خَطَب في حجَّتِه، فقال: إنَّ الزَّمانَ قد استدار كهيئتِه يومَ خَلَق اللهُ السَّمواتِ والأرضَ، السَّنةُ اثنا عَشَرَ شَهرًا، منها أربعةٌ حُرُمٌ، ثلاثٌ متوالياتٌ: ذو القَعْدةِ، وذو الحِجَّةِ، والمحَرَّمُ، ورَجَبُ مُضَرَ الذي بين جُمادى وشَعبانَ

“Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di Haji Wada’, beliau menyampaikan, ‘Sesungguhnya waktu berjalan sebagaima ketentuannya sejak hari pertama Allah ciptakan langit dan bumi. Sejak dulu, satu tahun terdiri dari dua belas bulan. Dari dua belas bulan tersebut terdapat empat bulan haram. Tiga berurutan; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram. Kemudian Bulan Rajab antara bulan Jumada dan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhari 3197).

Empat bulan haram ini diagungkan sejak zaman jahiliyah dan terlebih lagi di zaman Islam. Allah ‘Azza wa Jallam menekankan larangan berbuat dosa di bulan-bulan ini. Sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu berbuat dosa dalam bulan yang empat itu.” [Quran At-Taubah: 36].

Melakukan perbuatan dosa terlarang di waktu apapun. Dan di bulan apapun. Tapi di bulan-bulan haram ini larangan tersebut lebih ditekankan lagi. Melakukan perbuatan dosa meliputi dua hal. Bisa berupa meninggalkan kewajiban. Bisa juga melakukan sesuatu yang diharamkan.

Tatkala seseorang melakukan yang sebaliknya, yaitu mengerjakan ketaatan dan menjauhi larangan, terutama di bulan-bulan haram ini, maka itulah bentuk mengangunggkan syiar-syiar Allah dan bentuk ketakwaan.

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Quran Al-Hajj: 32].

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Bulan-bulan haram ini memiliki beberapa keutamaan.

Pertama: dilipat-gandakan pahala demikian juga dengan dosa.

Pada prinsipnya, pahala dari satu amal shaleh akan dilipat-gandakan di waktu atau tempat utama. Demikian juga dosa akan lebih besar ketika dilakukan di waktu atau tempat mulia. Banyak dalil yang menjelaskan hal tersebut. Di antaranya firman Allah Ta’ala,

يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلشَّهْرِ ٱلْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar.” [Quran Al-Baqarah: 217]

Demikian juga firman Allah Ta’ala tentang Kota Mekah. Orang yang baru berniat saja untuk melakukan keburukan di Mekah sudah dihitung perbuatan dosa besar. Sementara di tempat lain, berniat buruk belum dihitung dosa. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍۭ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya (di Mekah) melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” [Quran Al-Hajj: 25].

Kedua: Diharamkan memulai berperang di bulan-bulan haram. Berbeda halnya dengan orang-orang yang membela diri.

Ketiga: di bulan haram terdapat rangkaian ibadah haji.

Keempat: di bulan haram ini terdapat hari Arafah dan hari Asyura.

Kelima: khusus bulan Muharram, Allah sebut bulan ini dengan bulan Allah. Allah nisbatkan waktu dan hari-hari ini dengan dirinya. Sebagaimana dalam sebuah hadits:

وأفضَلُ الصِّيامِ بَعدَ شَهرِ رَمَضانَ صيامُ شَهرِ اللهِ المُحَرَّمِ

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah berpuasa di bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim 1163).

Segala sesuatu yang dinisbatkan kepada Allah menunjukkan kemuliaan sesuatu tersebut. Dan hari terbaik di bulan Muharram ini untuk menunaikan ibadah puasa adalah hari Asyura. Atau 10 Muharram. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan,

ما عَلِمْتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صامَ يومًا يَتحرَّى صيامَهُ ، فضلَهُ علَى الأيَّامِ إلَّا هذا اليومَ يَعني يومَ عاشوراءَ

“Aku tidak mengetahui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam begitu bersemangat mencari keutamaan berpuasa di satu hari melebih hari ini. Yaitu hari Asyura.” (Muttafaqun ‘alaih).

Hari Asyura memiliki kedudukan yang Istimewa. bukan hanya di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi juga di zaman rasul-rasul sebelum beliau.

Ada beberapa fase dalam syariat puasa Asyura ini. Pertama, sejak dulu Rasulullah mengerjakan puasa Asyura di Mekah. Tapi beliau tidak mengajak kaum muslimin yang lain untuk mengerjakannya. Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha menyampaikan,

كانَت قُرَيشٌ تَصومُ عاشوراءَ في الجاهِليَّةِ، وكان رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَصومُه

“Orang-orang Quraisy sejak masa jahiliyah berpuasa di hari Asyura. Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan puasa tersebut.”

Fase kedua, masih dalam hadits yang sama. Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha melanjutkan,

، فلَمَّا هاجَرَ إلى المَدينةِ صامَه وأمَرَ بصيامِه

“Saat hijrah ke Madinah, beliau tetap berpuasa Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk mengerjakannya juga.”

Para sahabat begitu semangat mengerjakan puasa ini. Sampai-sampai mereka mengajak anak-anak mereka untuk turut mengerjakannya. Dan saat itu orang-orang Yahudi juga mengerjakan puasa Asyura. Sebagai wujud Syukur mereka atas diselamatkannya Nabi Musa ‘alaihissalam dan kaumnya dari kejaran Firaun.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menceritakan,

أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قدِمَ المَدينةَ فوجَدَ اليَهودَ صيامًا يَومَ عاشوراءَ، فقال لهم رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: ما هذا اليَومُ الذي تَصومونَه؟ فقالوا: هذا يَومٌ عَظيمٌ، أنجى اللهُ فيه موسى وقَومَه، وغَرَّقَ فِرعَونَ وقَومَه، فصامَه موسى شُكرًا، فنَحنُ نَصومُه، فقال رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: فنَحنُ أحَقُّ وأولى بموسى مِنكُم، فصامَه رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، وأمَرَ بصيامِه

“Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Hari apa ini? (Mengapa) kalian berpuasa di hari ini’?

Orang-orang Yahudi menjawab, ‘Ini adalah hari yang agung. Hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Kemudian menenggelamkan Firaun dan pengikutnya. Lalu Musa berpuasa di hari ini sebagai wujud syukur. Kami pun ikut mengerjakannya’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, ‘Kami lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa’.” (HR. Muslim 1130).

Kemudian Rasulullah mengirim utusan ke perkampungan orang-orang Anshar di pagi hari. Utusan tersebut mengumumkan siapa yang belum makan dan minum lanjutkan berpuasa hingga maghrib. Siapa yang sudah makan dan minum, tahan diri di sisa hari untuk tidak makan dan minum hingga maghrib.

Fase ketiga, Ibunda Aisyah melanjutkan,

فلَمَّا فُرِضَ شَهرُ رَمَضانَ قال: مَن شاءَ صامَه، ومَن شاءَ تَرَكَه

“Saat diwajibkan puasa Ramadhan. Rasulullah bersabda, ‘Siapa yang ingin berpuasa asyura silahkan. Siapa yang tidak mau, silahkan tidak berpuasa’.” (Muttafaqun ‘alaih).

Fase keempat, Rasulullah bertekad kuat untuk tidak hanya berpuasa di hari Asyura saja. Beliau ingin menyertainya dengan puasa sehari sebelumnya atau setelahnya. Agar berbeda dengan orang-orang Yahudi.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menceritakan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah,

يا رسولَ اللَّهِ إنَّهُ يومٌ تعظِّمُهُ اليَهودُ والنَّصارى فقالَ : إذا كانَ العامُ القابَلُ صُمنا يومَ التَّاسعِ إن شاءَ اللَّهُ . قالَ : فَلَم يأتِ العامُ المقبلُ حتَّى توُفِّيَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّم

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani.” Beliau menanggapi, “Kalau kita berjumpa dengan tahun depan, kita akan berpuasa di hari yang kesembilannya insyaallah.” Namun sebelum tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. (HR. Muslim 1134).

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan tentang keutamaan puasa Asyura ini. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وصِيامُ يومِ عاشُوراءَ، إِنِّي أحْتَسِبُ على اللهِ أنْ يُكَفِّرَ السنَةَ التِي قَبْلَهُ

“Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosa setahun yang lalu.” (HR. Ibnu Hibban 3632).

Demikian sebagai khutbah yang pertama, semoga bermanfaat.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا..

أَمَّا بَعْدُ:

أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى:

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Terdapat perbedaan keutamaan antara puasa Arofah dan Asyura. Puasa arofah menghapuskan dosa setahun sebelum dan setelahnya. Sementara Asyura menghapus setahun sebelumnya saja.

Para ulama menjelaskan faidahnya. Di antaranya adalah Puasa Arofah diapit oleh dua bulan haram. Sebelum dan setelahnya. Sementara puasa Asyura sebelumnya bulan haram. Adapun setelahnya bukan bulan haram.

Faidah yang lain, puasa Arofah adalah murni syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementar puasa Asyura tidak. Karena keberkahan Rasulullah, keberkahan syariat yang ia bawa pun semakin besar. Karena itu, kita bersyukur kepada Allah termasuk umat dari seorang rasul yang sangat besar keberkahannya. Dan kita semakin semangat untuk mempelajari ajarannya dan mengamalkannya karena besarnya keberkahan tersebut.

Kemudian tingkatan puasa Asyura. Yang pertama berpuasa di tanggal 9,10, dan 11 Muharram. Ini lebih sempurna dalam melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ditambah lagi termasuk dalam hadits berpuasa tiga hari dalam satu bulan.

Tingkatan kedua, berpuasa di tanggal 9 dan 10 Muharram seperti dalam hadits di atas. Tingkatan yang ketiga, berpuasa di tanggal 10 dan 11 Muharram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صُوموا يومَ عاشوراءَ وخالِفوا فيه اليهودَ صوموا قبلَهُ يومًا وبعده يومًا

“Berpuasalah di hari Asyura. Dan berbedalah dengan orang-orang Yahudi dengan cara berpuasa sehari sebelum Asyura atau setelahnya.” (HR. Ahmad 2154).

Dan tingkatan keempat adalah hanya berpuasa di tanggal 10 Muharram saja. Ini sah dan sama sekali tidak ada unsur makruh.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk mengamalkan apa yang sudah kita ketahui. Kemudian menerima amal tersebut di sisi-Nya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابِكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنَ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِّدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَالِحَةَ النَاصِحَةَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالمَوْتَ رَاحَةً لَنَا فِي كُلِّ شَرٍّ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أّصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَباَرِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّاتِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الغَلَا وَمِنَ البَلاَ وَمِنَ الفِتَنِ وَمِنَ المِحَنِ كُلَّهَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِناَ هَذَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ وَالأَهْوَاءِ وَالأَدْوَاءِ، اَللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ. اَللَّهُمَّ اهْدِنَا وَسَدِدْنَا، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكُ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعِفَّةَ وَالغِنَى.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيٍءٍ قَدِيْرٍ.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28