Oleh:
Dr. Aiman Manshur Ayyub Ali Baifari
الحمد لله الذي أنعَم علينا بالأجواء الإيمانية التي تقرِّبنا إليه، الحمد لله الذي جعل من القُرب منه حلاوةً وسعادة، الحمد لله المتفضل علينا بالأجور العظيمة لمن يَستثمر وقته في هذه الأيام الفضيلة، والصلاة والسلام على نبينا وإمامنا وقدوتنا محمدٍ صلى الله عليه وسلم، بشَّرنا بمبشِّرات تحفِّزنا للعمل الصالح، فقال صلى الله عليه وسلم: ((من قام ليلة القدر إيمانًا واحتسابًا، غُفر له ما تقدَّم من ذنبه، ومن صام رمضان إيمانًا واحتسابًا، غُفر له ما تقدَّم من ذنبه))، ((من قام رمضان إيمانًا واحتسابًا، غُفر له ما تقدم من ذنبه))، فنصوم النهار ونقوم الليل إيمانًا وتصديقًا بفرضية صومه واستحباب قيامه، ونَحتسب في ذلك الثواب من الله تعالى رغبةً وعزيمةً وإخلاصًا بلا رياءٍ.
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberi kenikmatan kepada kita berupa atmosfer keimanan yang mendekatkan kita kepada-Nya. Segala puji bagi-Nya yang telah menjadikan kedekatan dengan-Nya terasa manis dan membahagiakan. Segala puji bagi-Nya yang melimpahkan banyak pahala agung bagi orang yang memanfaatkan waktunya di hari-hari yang utama ini.
Salawat dan salam bagi Nabi dan panutan kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang telah menyampaikan kepada kita kabar gembira yang mendorong kita untuk beramal saleh. Beliau bersabda: “Siapa yang salat malam pada malam lailatul qadar karena keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang puasa karena keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” “Siapa yang salat malam selama Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” Sehingga kita pun berpuasa pada siang hari dan salat pada malam hari karena mengimani kewajiban berpuasa dan kesunnahan salat malam, dan dengannya kita mengharap pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan penuh antusias, kesungguhan, dan keikhlasan, tanpa riya.
Wahai kaum Mukminin! Saya berwasiat untuk kita semua agar bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar kita dapat berubah ke dalam keadaan yang diridhai-Nya. Ramadhan yang kita jalani setiap siang dan malamnya ini telah mengubah setiap keadaan kita, aktifitas harian kita berubah, waktu makan dan tidur berubah, melakukan ketaatan jadi lebih mudah, puasa berjam-jam, salat berrakaat-rakaat, kita lantunkan Al-Qur’an hingga khatam berkali-kali, sedekah dengan harta yang mampu kita sedekahkan, turut memberi makanan takjil, menjaga hubungan dengan orang lain karena khawatir mencederai puasa. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به، فليسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وشَرَابَهُ
“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dosa maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” Para ulama menafsirkan kalimat (قَوْلَ الزُّورِ) yakni dusta, melenceng dari kebenaran, dan berbuat batil.
Semua orang merasakan perubahan ini. Bahkan tanpa dilebih-lebihkan, perubahan juga terjadi pada seluruh alam, pada hari-hari ini surga dibuka pintu-pintunya, neraka ditutup pintu-pintunya, setan dibelenggu sehingga tidak leluasa mengganggu kaum Muslimin layaknya hari-hari yang lain. Bahkan para malaikat termasuk Jibril turun pada lailatul qadar untuk mengatur segala urusan dengan izin Tuhan mereka.
Wahai kaum Mukminin! Perubahan pada tingkat alam semesta dan pribadi ini, apakah tidak mendorong kita untuk menjadi lebih baik dalam menjalin hubungan dengan Tuhan kita, dengan para kerabat kita, terlebih kedua orang tua, istri, anak, saudara, keluarga dekat, dan tetangga? Mengapa pada bulan ini saya mampu? Mengapa saya bisa melakukan berbagai ketaatan di Ramadhan, tapi tidak bisa meningkatkannya setelah Ramadhan dengan amalan-amalan sunah? Mengapa saya mampu menahan lisan dari menyakiti orang lain di Ramadhan, tapi setelah Ramadhan saya beralasan mudah terpancing emosi?
Wahai orang-orang yang berpuasa! Ramadhan mengajarkan kita bahwa kita bisa berubah, bisa menjadi sesuatu yang lain. Rasulullah saja yang hanya merasakan sembilan kali Ramadhan selama hidup, sedangkan mayoritas kita mengalami lebih banyak dari itu, mengapa kita tidak menjadikan Ramadhan setiap tahun sebagai lompatan perubahan menuju surga-surga tertinggi?
Saya tidak akan memberi contoh, untuk memberi kesempatan kepada setiap orang untuk merenung dengan dirinya, karena setiap orang lebih tahu keadaannya. Marilah kita berintrospeksi diri terhadap salat fardhu dan sunah kita, zakat wajib dan sedekah, Al-Qur’an Al-Karim yang tidak hanya tentang membacanya, tapi juga menghafal, merenungi, mengerti maknanya, dan mengamalkannya, tingkat kebaktianmu kepada kedua orang tua dengan menaati, melayani, dan menghormati mereka.
Seorang istri diperintah untuk menaati suaminya, tapi bagaimana keadaanmu dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah: 228). Juga sabda Nabi: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dengan keluarganya.” Di dalam rumah, segala rahasia akan tersingkap, akan tampak watak asli seseorang.
Mengapa kita tidak menjadikan Ramadhan sebagai kesempatan untuk berinteraksi yang baik, mendekat kepada istri dan anak-anak dengan penuh kasih sayang, belas kasih, ketulusan, tuntunan, dan tolong-menolong dalam kebaikan? Mengapa tidak ada suara tegas di dalam rumah untuk perintah, larangan, dan peringatan, sehingga rumah menjadi kacau, rusuh, goyah, dan penuh perselisihan, alih-alih damai, tenang, dan penuh kasih sayang?
Hadirin yang mulia! Ramadhan adalah bulan kesabaran, maka mari jadikan puasa, lapar, dan dahaga sebagai sarana untuk berinteraksi dengan baik, bukan sebaliknya menjadi pendorong untuk marah dan menyakiti orang lain. Ini sebagai pengamalan wasiat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam:
وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Dan apabila pada hari salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan janganlah ia berteriak-teriak. Kemudian jika ada orang lain yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia mengatakan: ‘Aku sedang berpuasa.’” Dengan demikian, ia dapat meraih akhlak yang baik.
Apa yang ditunggu orang yang suka menyakiti orang lain dengan celaan, hinaan, atau perampasan hak-hak, bahkan juga ghibah? Apa yang dinanti orang yang enggan meminta maaf dari orang-orang yang ia zalimi? Apa yang diharapkan orang yang menolak mengembalikan hak-hak kepada pemiliknya? Apa yang ditunggu orang yang menyombongkan diri, sehingga ia menolak kebaikan atau menghalangi orang lain dari kebaikan akibat hawa nafsunya, dan yang terpenting baginya adalah meraih keinginannya meski harus melanggar aturan dan undang-undang?
Wahai orang yang berpuasa! Puasa merupakan penyehat badan. Betapa bagusnya jika orang memutuskan untuk tidak makan sebelum lapar, dan tidak makan hingga kenyang, karena tidak ada wadah yang diisi manusia yang lebih buruk dari perutnya. Maka ini tantangan bagi setiap orang yang berpuasa untuk tidak membebani diri dengan perut kekenyangan setelah rasa lapar yang panjang. Orang kuat adalah yang berhenti makan meski hanya dengan beberapa suapan makanan yang cukup untuk menegakkan punggungnya, maka hendaklah ini menjadi pola makannya sepanjang tahun.
Wahai orang yang berpuasa! Betapa agungnya jika seseorang meninggalkan hal yang melenyapkan waktunya, sibuk dengan hal-hal yang melalaikan, banyak tidur, banyak makan, banyak nongkrong dengan teman-teman, banyak membuka medsos. Orang agung adalah orang yang memanfaatkan waktunya untuk hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya, bukan orang yang banyak membuang waktu, karena manusia akan dimintai pertanggungjawaban, bagaimana ia menghabiskan waktunya!
Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk kita semua, sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah Kedua
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، الحمد لله كما يحب ربنا ويرضى، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين؛ أما بعد:
فاعلَموا عباد الله أن الصيام سببٌ لتقوى الله، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴾ [البقرة: 183]، فاتقوا الله يا عباد الله حقَّ التقوى، واجعلوا من الصيام سببًا للرحمة وبُعدًا عن المعصية.
Segala puji yang melimpah, penuh kebaikan dan keberkahan hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Segala puji dengan pujian yang dicintai dan diridhai-Nya. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, juga keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du:
Wahai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Ketahuilah bahwa puasa merupakan sebab ketakwaan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya, dan jadikan puasa sebagai sebab untuk meraih rahmat dan menjauhi maksiat.
Wahai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Ketahuilah bahwa terdapat empat jenis manusia:
- Manusia yang memandang dirinya lalai dalam menjalankan ibadah sunah. Dan ini solusinya adalah dengan menambah kebaikan dan amal saleh.
- Manusia yang mengerjakan amal saleh, tapi tidak mendapatkan ruh keimanan di dalamnya, seperti ikhlas, rasa cinta, kekhusyukan, rasa takut, ketenangan, keyakinan, kesabaran, dan harapan.
- Manusia yang lalai dalam menjalankan ibadah-ibadah wajib, atau hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan manusia. Kamu melihatnya lalai melaksanakan salat pada waktunya, atau lisannya pedas terhadap orang lain. Orang seperti ini tidak merasakan nuansa keimanan karena hatinya telah tertutup noda.
- Manusia yang dapat merasakan manisnya kedekatan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merasakan keagungan penghambaan kepada-Nya, bergegas melakukan kebaikan, bersegera mengejar ampunan Tuhannya dan surga yang seluas langit dan bumi. Ia melaksanakan setiap kewajiban, menimba pahala dari mata air ibadah-ibadah sunah, dan ketika berbuat maksiat segera insaf kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan memohon ampunan-Nya. Jenis inilah yang paling bahagia, sejahtera, damai, dan tenteram. Tidak ada yang merasakan indahnya hidup di dunia dan akhirat kecuali mereka, dan keindahannya adalah dengan mendekat kepada Tuhan mereka, karena hati mereka terpaut dengan-Nya. Mereka takut kepada-Nya seolah-olah mereka melihat-Nya, dan menyertakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam setiap urusan mereka. Momen terindah mereka saat tunduk kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sambil rukuk dan sujud penuh keinsafan dan kepatuhan. Waktu terindah mereka ketika berkontribusi dalam kebaikan dari setiap jalan dan pintunya, sehingga derajat mereka naik di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tujuan terbesar mereka adalah keridhaan-Nya, cita-cita tertinggi mereka adalah surga-surga tertinggi yang penuh kenikmatan. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadi golongan mereka.
Di sini setiap insan harus bertanya kepada dirinya sendiri, ada di golongan mana dia? Lalu memulai lembaran baru dengan taubat dan kembali kepada Sang Pencipta.
Wahai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Salah satu hal teragung yang harus diperhatikan pada bulan Ramadhan adalah munajat dan doanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala memohon kebaikan dunia dan akhirat, serta kenikmatan keduanya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika menjelaskan dalam Kitab-Nya hukum-hukum puasa di siang hari bulan Ramadhan, sebelum menyebutkan hukum-hukum pada malam harinya, Dia berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186).
Seakan-akan ini menjadi isyarat bahwa doa orang yang berpuasa sebelum berbuka ketika matahari terbenam adalah doa mustajab, dan menegaskan sabda Nabi yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:
ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ، وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ
“Ada tiga golongan yang doa mereka tidak akan ditolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang dizalimi. Allah Subhanahu Wa Ta’alamengangkat doa tersebut ke atas awan dan pintu-pintu langit dibukakan untuknya, kemudian Tuhan Subhanahu Wa Ta’alaa berfirman: ‘Demi kemuliaan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu meski setelah beberapa waktu.’” (HR. At-Tirmidzi).
Betapa bahagianya orang yang memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tunduk kepada-Nya, terus berdoa dan bermunajat kepada-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, sebelum maghrib, saat sujud, di setiap akhir salat, di waktu sahur. Merayu, memohon, mengharap, dan mendamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
ضَاقَتْ بِنَا الْأَحْوَالُ فَاجْبُرْ كَسْرَنَا جَلَّ الْبَلَاءُ بِنَا وَطَالَ الدَّاءُ
Keadaan terasa sempit bagi kami, maka topanglah keterpurukan kami, ujian terasa begitu berat menimpa kami dan penyakit pun terasa lama.
أَنْتَ النَّصِيرُ وَأَنْتَ كَاشِفُ كُرَبِنَا فَسَحَابُ جُودِكَ نُصْرَةٌ وَجَلَاءٌ
Engkaulah Sang Penolong dan Engkaulah penyingkap segala kesusahan kami, Maka awan kemurahan-Mu adalah penolong dan menyingkap itu semua.
يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةً فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ
Wahai Tuhanku, jika dosa-dosaku teramat banyak, maka sungguh aku mengetahui ampunan-Mu jauh lebih besar.
إِنْ كَانَ لَا يَرْجُوكَ إِلَّا مُحْسِنٌ فَبِمَنْ يَلُوذُ وَيَسْتَجِيرُ الْمُجْرِمُ
Sekiranya tidak ada yang berharap kepada-Mu kecuali orang baik saja, lalu kepada siapa pendosa akan berlindung dan mencari keselamatan?
أَدْعُوكَ رَبِّي كَمَا أَمَرْتَ تَضَرُّعًا فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِي فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ
Aku berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku dengan tunduk seperti yang Engkau perintahkan. Maka jika Engkau menolak tanganku, lalu siapa lagi yang akan mengasihi?
مَا لِي إِلَيْكَ وَسِيلَةٌ إِلَّا الرَّجَا وَجَمِيلُ عَفْوِكَ ثُمَّ إِنِّي مُسْلِمٌ.
Aku tidak punya wasilah kepada-Mu selain rasa harap, juga indahnya ampunanmu serta aku yang seorang muslim.
Sumber:

