Oleh:
Syaikh Abdurrahman bin Saad asy-Syatsri
الحمدُ لله الْمُسْتَحمَدِ إلى خَلْقِهِ بلَطيفِ صُنْعِهِ، مَوْئلِ المؤمِنْين ومَوْلاهُمْ، الذي أمرَ بالدُّعاءِ، وجَعَلَهُ وَسِيلَةَ الرجَاءِ، فقال: ﴿ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴾، وقال: ﴿ وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا ﴾، وأشهدُ أن لا إله إلاَّ اللهُ، وأشهدُ أن محمداً رسولُ اللهِ، نسألُه أنْ يُصلِّيَ على نبيِّهِ محمدٍ، دليلِ العِبادِ إلى سبيلِ الرَّشادِ، وعلى آلهِ الطيِّبينَ وأصحابهِ الْمُنتَخَبينَ، وأنْ يُسلِّمَ عليهِ وعليهِم تسليماً.
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang selalu dipuji oleh makhluk-Nya karena kehalusan dan kelembutan ciptaan-Nya, Dialah tempat kembali orang-orang beriman dan Pelindung mereka, yang memerintahkan berdoa dan menjadikannya sebagai sarana untuk berharap. Dia berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian.” (QS. Ghafir: 60). Juga berfirman, “Dan milik Allah nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.” (QS. Al-A’raf: 180).
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita memohon kepada-Nya agar senantiasa melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam – pemberi petunjuk bagi para hamba menuju jalan yang benar – dan kepada keluarganya yang mulia dan para sahabatnya yang terpilih.
أما بعد:
فيا أيها الناسُ اتقوا اللهَ تعالى: ﴿ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ ﴾ [الأعراف: 29].
Amma ba’du:
Wahai segenap manusia! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan berdoalah kepada-Nya dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya, sebagaimana Dia menciptakan kalian pertama kali, demikianlah kalian akan kembali.” (QS. Al-A’raf: 29).
Wahai kaum Muslimin!
Di antara tujuan paling agung adalah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan meraih keridhaan-Nya, sehingga hendaknya kamu mengetahui kapan waktu-waktu dibukanya pintu-pintu langit, agar kamu dapat memanfaatkannya untuk beramal saleh, sehingga kamu dapat semakin dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Pintu-pintu langit dibuka secara hakiki. Al-Muzhiri berkata: “Pintu-pintu langit dibuka, yakni apabila waktu yang mulia datang, dibukalah pintu-pintu langit dan pintu-pintu surga, agar rahmat turun kepada orang yang mengagungkan waktu yang mulia itu, juga agar ketaatan orang yang mengagungkan waktu itu dengan amal saleh dan menjauhi kemaksiatan dapat sampai ke tempat kemuliaan.”
Wahai para hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Di antara waktu dibukanya pintu-pintu langit ada waktu-waktu yang berkaitan dengan ucapan, perbuatan, dan ruhmu, dan ini ada enam waktu:
Pertama: ketika kamu mengucapkan kalimat “Laa ilaha illallah”. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
مَا قالَ عَبْدٌ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَطُّ مُخْلِصًا، إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، حَتَّى تُفْضِيَ إِلَى الْعَرْشِ، مَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ.
“Tidaklah seorang hamba mengucapkan ‘Laa ilaha illallah’ dengan benar-benar ikhlas, melainkan akan terbukalah baginya pintu-pintu langit, hingga kalimat itu sampai ke ‘Arsy, selama ia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata “hadis ini hasan gharib dari redaksi ini.” Dihasankan oleh Al-Albani).
Kedua: ketika kamu mengucapkan kalimat:
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
“Allah Maha Besar dengan sebenar-benarnya kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang.”
Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Ketika kami sedang salat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tiba-tiba ada orang yang mengucapkan: ‘ALLAHU AKBAR KABIRAN WALHAMDULILLAHI KATSIRAN WA SUBHANALLAHI BUKRATAN WA ASHILAN’ Lalu (setelah salat) Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ‘Siapa tadi yang mengucapkan kalimat ini dan itu?’ Orang itu lalu berkata, ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Aku takjub dengan kalimat itu, dibukakan baginya pintu-pintu langit.’” Ibnu Umar menambahkan, “Aku pun tidak pernah meninggalkan pengucapan kalimat itu sejak aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda demikian.” (HR. Muslim).
Ketiga: ketika kamu mengucapkan kalimat:
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
“Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah.”
Diriwayatkan dari Abdul Jabbar bin Wail dari ayahnya, ia berkata: “Aku pernah salat bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu ada seseorang yang mengucapkan: ‘ALHAMDULILLAHI HAMDAN KASTIRAN THAYYIBAN MUBARAKAN FIHI’ Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam salat, beliau bersabda, ‘Siapa tadi yang mengucapkan ini?’ Orang itu berkata, ‘Saya, dan saya tidak menghendaki kecuali kebaikan.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu bersabda, ‘Dibukakan pintu-pintu langit baginya, sehingga tidak ada sesuatu apapun yang menghalanginya sebelum mencapai ‘arsy.’” (HR. Ibnu Majah. Syuaib Al-Arnauth berkata, “Hadis shahih li-ghairih”).
Keempat: ketika kamu menunggu pelaksanaan salat.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, ia berkata: “Kami pernah salat bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada suatu malam. Lalu dari kami ada yang duduk menunggu salat Isya dan ada yang pulang. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun datang sebelum orang-orang kembali berkumpul untuk salat Isya. beliau datang dalam keadaan terengah-engah nafasnya, mengangkat jarinya seperti ini, dan beliau menggenggamkan jari membuat isyarat dua puluh sembilan (menggenggam seluruh jari kecuali telunjuk), dan menunjuk dengan jari telunjuknya ke langit, seraya bersabda:
أَبْشِرُوا معْشَرَ المسلمينَ، هذا ربُّكُمْ عزَّ وجَلَّ قدْ فَتَحَ باباً مِنْ أبوابِ السَّمَاءِ، يُباهي بكُمُ الملائكةَ، يقولُ: يا مَلائكَتي انظُرُوا إلى عِبادِي، أَدَّوْا فريضةً، وهُمْ يَنْتظِرُونَ أُخْرَى
‘Bergembiralah wahai kaum Muslimin! Ini Rabb kalian, ‘Azza wa Jalla, sungguh telah membuka satu dari pintu-pintu langit, Dia membanggakan kalian di hadapan para Malaikat, seraya berfirman: ‘Wahai malaikat-Ku, lihatlah hamba-hamba-Ku, mereka telah menunaikan satu kewajiban dan mereka sedang menunggu kewajiban yang lain.’” (HR. Imam Ahmad, dan dishahihkan Al-Haitsami dan Ahmad Syakir).
Kelima: apabila kamu berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam keadaan dizalimi orang lain.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالْإِمَامُ العَادِلُ، وَدَعْوَةُ المَظْلُومِ، يَرْفَعُهَا اللهُ فَوْقَ الغَمَامِ، وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ، وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ.
“Tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak: (1) orang yang berpuasa hingga ia berbuka, (2) pemimpin yang adil, dan (3) doa orang yang terzalimi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengangkat doa orang yang terzalimi itu di atas awan, membukakan baginya pintu-pintu langit, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu.’” (HR. At-Tirmidz, dan beliau berkata hadis ini hasan).
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga bersabda:
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ
“Takutlah (waspadalah) terhadap doa orang yang dizalimi, karena antara doanya dan Allah tidak ada penghalang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Keenam: ketika ruh orang beriman keluar dari jasadnya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي إِقْبَالٍ مِنَ الآخِرَةِ، وَانْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا، تَنَزَّلَتْ إِلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ كَأَنَّ عَلَى وُجُوهِهِمُ الشَّمْسُ، مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ كَفَنٌ وَحَنُوطٌ، فَجَلَسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ، حَتَّى إِذَا خَرَجَتْ رُوحُهُ صَلَّى عَلَيْهِ كُلُّ مَلَكٍ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَكُلُّ مَلَكٍ فِي السَّمَاءِ، وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، لَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَابٍ إِلَّا وَهُمْ يَدْعُونَ اللهَ أَنْ يُعْرَجَ بِرُوحِهِ مِنْ قِبَلِهِمْ.
“Sesungguhnya seorang mukmin, apabila berada di saat menyongsong akhirat dan meninggalkan dunia, maka turunlah kepadanya para malaikat, seakan-akan wajah mereka bercahaya seperti matahari. Setiap malaikat membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Mereka duduk sejauh mata memandang. Ketika ruhnya keluar, setiap malaikat antara langit dan bumi serta setiap malaikat di langit berselawat untuknya, dan dibukakan baginya pintu-pintu langit. Tidaklah para penjaga setiap pintu itu melainkan mereka memohon kepada Allah agar ruhnya diangkat melalui pintu mereka.” (HR. Imam Ahmad, dan dishahihkan Al-Albani).
نسألُ اللهَ اللطيفَ من فضلهِ العظيم.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Lembut karunia-Nya yang agung.
Khutbah Kedua
إنَّ الحمدَ للهِ، نَحمَدُه ونستعينُه، مَن يَهدِه اللهُ فلا مُضِلَّ له، ومن يُضلل فلا هاديَ له، وأشهدُ أن لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأنَّ محمداً صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ عبدُهُ ورسولُهُ.
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita memuji dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya. Siapa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang Dia sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya.
Amma ba’du:
فإنَّ خَيْرَ الحَدِيثِ كِتابُ اللهِ، وَخَيرُ الْهُدَى هُدَى مُحمَّدٍ، وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثاتُها، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ
“Sebaik-baik ucapan adalah Kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad, dan seburuk-buruk urusan adalah urusan yang dibuat-buat dalam agama, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”
لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ
“Tidak ada (kesempurnaan) iman bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada (kesempurnaan) agama bagi orang yang tidak menepati janji.”
Adapun waktu-waktu dibukanya pintu-pintu langit yang hanya berhubungan dengan waktu itu sendiri, tanpa ada keterkaitan dengan perbuatan seorang hamba adalah:
Pertama: saat seruan azan dikumandangkan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ، فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَاسْتُجِيبَ الدُّعَاءُ
“Apabila panggilan salat (azan) dikumandangkan, maka pintu-pintu langit dibuka, dan doa pun dikabulkan.” (HR. Abu Dawud Ath-Thayalisi, dan dishahihkan Al-Albani).
Kedua: saat iqamah dikumandangkan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِذا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ، فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَاسْتُجِيبَ الدُّعَاءُ
“Apabila iqamah salat dikumandangkan, maka pintu-pintu langit dibuka, dan doa pun dikabulkan.” (HR. Imam Ahmad, dan Al-Albani mengatakan, “Hadis shahih li-ghairih”).
Ketiga: pada sepertiga malam terakhir.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِذَا كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ البَاقِي، يَهْبِطُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَّ تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يَبْسُطُ يَدَهُ فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى سُؤْلَهُ؟ فَلَا يَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يَطْلُعَ الفَجْرُ.
“Apabila tersisa sepertiga malam terakhir, Allah Subhanahu Wa Ta’ala turun ke langit dunia, kemudian pintu-pintu langit dibuka, lalu Dia membentangkan tangan-Nya dan berfirman: ‘Adakah orang yang meminta sehingga ia diberi apa yang dimintanya?’ Dan keadaan itu terus berlangsung hingga terbit fajar.” (HR. Imam Ahmad, dan Al-Haitsami berkata, “Para perawinya adalah para perawi Ash-Shahih’”, dishahihkan oleh Ahmad Syakir dan Al-Albani).
Keempat: ketika datang waktu pelaksanaan salat dan berbaris di barisan perang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Diriwayatkan dari Sahal bin Saad As-Saidi, ia berkata:
سَاعَتانِ تُفْتَحُ فيهما أبوابُ السَّمَاءِ، وقَلَّ دَاعٍ تُرَدُّ عليهِ دَعْوَتُهُ، حَضْرَةُ النِّدَاءِ بالصلاةِ، والصَّفُّ في سبيلِ اللهِ
“Ada dua waktu ketika pintu-pintu langit dibuka, dan sangat sedikit doa yang ditolak: saat hadirnya panggilan salat (waktu azan), dan saat orang-orang berada di barisan untuk (berjuang) di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” (HR. Imam Malik. Ibnu Abdil Barr berkata, “Ucapan seperti ini tidak berasal dari pendapatnya semata (pasti dari Rasulullah), dishahihkan oleh Al-Albani).
Kelima: waktu salat empat rakaat sebelum shalat Zuhur.
Diriwayatkan dari Abdullah bin As-Saib bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam senantiasa mendirikan salat empat rakaat setelah matahari tergelincir ke barat sebelum shalat zuhur. Beliau bersabda:
إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيْهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَأُحِبُّ أنْ يَصْعَدَ لِي فِيْهَا عَمَلٌ صالحٌ
“Ini merupakan waktu dibukanya pintu-pintu langit, dan saya suka amal salehku diangkat pada waktu ini.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata “Hadis ini hasan gharib” dan dishahihkan Al-Albani).
Keenam: hari senin dan kamis.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَخَمِيسٍ، فَيُغْفَرُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا امْرَأً كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Pintu-pintu langit dibuka setiap hari senin dan kamis. Maka pada hari itu diampuni setiap hamba yang tidak mempersekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sesuatu apapun, kecuali seseorang yang di antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Maka dikatakan: ‘Tangguhkanlah (ampunan bagi) dua orang ini sampai mereka berdamai.’” (HR. Imam Ahmad, dishahihkan oleh para penahqiq kitab Al-Musnad).
Ketujuh: pada bulan Ramadhan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila bulan Ramadhan telah masuk, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu Jahannam ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Al-Bukhari).
Wahai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Bersungguh-sungguhlah dalam memanfaatkan waktu-waktu mulia ketika pintu-pintu langit dibuka ini, dengan berdoa dan berbagai ibadah yang disyariatkan. Semoga Allah memberi karunia-Nya kepada kita, orang tua kita, keluarga kita, dan kaum Muslimin dan Muslimat. Amin.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/0/141049/الساعات-والأوقات-التي-تفتح-فيها-أبواب-السماوات-خطبة/

