Oleh:
Abdullah bin Ibrahim al- Hadraiti
Khutbah Pertama
الحمد لله الذي أنزل الكتاب هدايةً ونورًا، وجعل تلاوته قربةً وأجرًا، نحمده سبحانه ونشكره، ونسأله أن يجعل القرآن ربيع قلوبنا، ونور صدورنا، وجلاء أحزاننا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه، وسلم تسليمًا كثيرًا؛ أما بعد:
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan cahaya, dan menjadikan tilawahnya ibadah dan pahala. Kita mengucap puji dan syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan memohon kepada-Nya agar menjadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kita, cahaya dada kita, dan pengusir kesedihan kita. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga salawat dan salam selalu terlimpah kepada beliau, serta keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba’du:
فأوصيكم ونفسي المقصِّرة بتقوى الله، فهي وصية الله للأولين والآخرين؛ قال تعالى: ﴿ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ﴾ [النساء: 131].
Saya berwasiat kepada diri saya dan hadirin sekalian untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena inilah wasiat orang-orang generasi awal dan akhir. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
“Sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu (umat Islam) agar bertakwa kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 131).
Wahai para hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Ada satu pertanyaan yang akan menyingkap kondisi hatimu tanpa tabir dan mengungkap niat-niatmu saat menentukan pilihan, apakah tanganmu tertarik tanpa sadar untuk memuaskan kebiasaan, atau untuk menyirami jiwa dan menerangi jalanmu?
Berapa kali kamu membuka ponselmu tanpa alasan? Dan betapa kali kamu membuka mushaf Al-Quran tanpa diminta? Yang pertama merupakan pembuai yang menenggelamkanmu ke dalam kebisingan hidup, dan yang kedua merupakan cahaya yang memungutmu dari kelalaian hidup. Apabila kamu ingin mengetahui di mana hatimu berada, maka lihatlah ke mana tanganmu terjulur terlebih dahulu.
Sebuah pertanyaan yang membuat kita terdiam begitu dalam, menyingkap kepada kita arah langkah hati, ke mana ia pergi. Apabila jemari bergegas menggapai layar ponsel sebelum membuka halaman Al-Qur’an, maka ada sesuatu dalam diri kita yang harus diperbaiki.
Mushaf Al-Qur’an tidak mengirim notifikasi, halamannya tidak bercahaya untuk mengingatkanmu, dan tidak berbunyi saat kamu lalai darinya. Namun, ia menunggumu dalam diam, ia mengetahui bahwa keadaanmu saat selesai membacanya tidak akan sama dengan saat kamu baru mulai membacanya, ia memahami bahwa setiap tatapan kepadanya merupakan pelampung keselamatan dari tenggelam oleh dunia. Oleh sebab itu, pilihlah di mana akan meletakkan tanganmu, karena ini akan menjadi petunjukmu ke mana hatimu akan menuntunmu.
Wahai para hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Pembahasan kita hari ini tentang satu pertanyaan yang sederhana kalimatnya, tapi mendalam maknanya dan berpengaruh besar pada hidup kita, mana yang lebih mudah, membuka mushaf Al-Qur’an atau membuka ponsel?
Kalau kita mencermati kondisi kita saat ini, pasti kita menemukan bahwa banyak orang yang ponsel sudah menjadi teman yang selalu membersamainya, mereka membukanya saat bangun tidur, sebelum tidur, waktu-waktu senggang, bahkan ketika sedang bekerja dan beribadah. Sedangkan mushaf Al-Qur’an tetap berada di rak berdebu atau aplikasi yang terabaikan, jarang sekali dibuka halaman-halamannya, kecuali pada bulan Ramadhan atau musibah menimpa.
Lalu mengapa membuka ponsel menjadi lebih mudah bagi kita daripada membuka mushaf Al-Qur’an? Bukankah ini menjadi bukti, bahwa hati kita sibuk dengan dunia dan lalai dari akhirat? Bukankah para sahabat dan salafus shalih mengisi hidup mereka bersama Al-Qur’an, dengan membaca, menghayati, dan mengamalkannya?
فِي الْآيَاتِ مِفْتَاحُ الْبَرَايَا وَفِي الْأَحْزَانِ دَمْعٌ لَا يُقَالُ
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an terdapat kunci bagi seluruh makhluk. Dan dalam kesedihan terdapat air mata yang tidak terucap.
وَفِي «طٰهٰ» وَ«يٰسٓ» كُلُّ حُزْنٍ يَزُولُ كَالسَّحَابِ بِلَا جِدَالٍ
Sedangkan setiap kesedihan, dengan surat Thaha dan Yasin. Akan lenyap seperti awan, dan ini tidak terbantahkan.
فَأَقْبِلْ وَلَا تُبَدِّلْهَا بِوَهْمٍ يَبِيعُ الْعُمْرَ فِي خَطْبٍ مُحَالٍ
Maka datanglah dan jangan menggantinya dengan angan kosong. Yang menghabiskan umur dalam urusan yang mustahil.
فَلَيْسَ الْمَالُ يُسْعِفُ كُلَّ حَيٍّ إِذَا الْمَوْتُ اجْتَثَّهُ مِنَ الظِّلَالِ
Harta tidak lagi dapat menolong setiap orang yang hidup. Apabila maut telah mencabutnya dari naungan.
فَكَمْ مِنْ مُنْشَغِلٍ بِالْهَاتِفِ يَبْكِي يَوْمَ الْحَشْرِ مِنْ هَوْلِ السُّؤَالِ
Betapa banyak orang yang sibuk dengan ponsel lalu menangis. Pada hari kebangkitan karena kengerian pertanyaan
وَكَمْ مِنْ هَاجَرَ كِتَابَ رَبِّهِ يَتَمَنَّى لَوْ تَعُودُ لَهُ اللَّيَالِي
Betapa banyak orang yang mengabaikan Kitab Tuhannya. Berharap seandainya malam-malam itu bisa kembali
فَلَا تُؤَجِّلَنَّ الْوَعْدَ يَوْمًا فَإِنَّ الْمَوْتَ يَأْتِي بِاغْتِيَالٍ
Maka jangan engkau tunda lagi janji barang sehari. Karena maut akan tiba-tiba menghampiri
وَفُزْ بِالْقُرْآنِ صُحْبًا وَوُدَادًا فَفِي آيَاتِهِ رُوحُ الْوِصَالِ
Beruntunglah dengan menjadikan Al-Qur’an sahabat dan kekasih. Karena dalam ayat-ayatnya ada ruh pertalian
Wahai para hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Al-Qur’an merupakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, cahaya dalam kegelapan, penyembuh bagi hati, dan sebab ketenteraman dan kebahagiaan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Mari kita cermati bersama, berapa jam kita habiskan waktu setiap hari untuk ponsel? Lalu berapa menit kita luangkan waktu untuk Kitabullah? Apabila jasad kita mendapat nutrisi dari makanan, maka jiwa kita tidak mendapat nutrisi kecuali dari Al-Qur’an.
خُذْ مِنَ الْآيَاتِ زَادًا يَهْدِيكَ وَدَعِ الْهَوَى إِنْ كَانَ يُلْهِيكَ
Ambilah ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bekal yang akan menuntunmu. Dan tinggalkan hawa nafsu ketika ia melalaikanmu.
فَمَا سَيَبْقَى غَيْرُ مَا تَتْلُوهُ وَغَيْرُ نُورٍ فِي الدُّجَى يَحْمِيكَ
Tidak ada yang akan tersisa kecuali apa yang kamu baca. Dan tidak ada lagi selainnya cahaya yang melindungimu dalam gelap gulita.
Saudara-saudaraku tercinta, mulai hari ini marilah kita mulai lembaran baru bersama Al-Qur’an:
- Tetapkanlah wirid harian membaca Al-Qur’an meski hanya beberapa ayat.
- Ubahlah sebagian waktu bermain ponsel sebagai waktu bersama Al-Qur’an.
- Renungilah makna-makna Al-Qur’an dan amalkanlah dalam hidupmu.
- Ajarkanlah anak-anak dan pasanganmu rasa cinta kepada Al-Qur’an.
Ketahuilah bahwa kebahagiaan hakiki bukan pada ponsel yang justru mengikatmu dengan dunia, tapi pada mushaf Al-Qur’an yang mengantarmu menuju akhirat.
Kita mohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kita, cahaya sanubari kita, dan pengusir kesedihan kita, mengaruniakan kepada kita tilawah Al-Qur’an pada waktu-waktu malam dan ujung-ujung siang dengan bentuk yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridhai.
Demikian yang dapat saya sampaikan, dan saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi kita semua, maka mohonlah ampun kepada-Nya juga, karena Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah Kedua
الحمد لله الذي جعل القرآن هدًى ونورًا، وفتح به للقلوب أبواب الرحمة، وجعله شفاءً لما في الصدور، نحمده سبحانه ونشكره، ونعوذ به من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه، وسلم تسليمًا كثيرًا؛ أما بعد عباد الله:
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan cahaya, membukakan dengannya pintu-pintu rahmat bagi hati, dan menjadikannya sebagai penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada. Kita memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kita dan dari keburukan amal perbuatan kita. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga salawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga dan para sahabatnya, dengan salam yang sebanyak-banyaknya. Amma ba‘du, wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
Pembahasan kita pada khutbah pertama adalah tentang perbandingan antara membuka mushaf Al-Qur’an dan membuka ponsel. Bagaimana banyak orang pada hari ini merasa sangat mudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menelusuri ponsel mereka, tapi justru merasa berat untuk meluangkan beberapa menit saja bersama Al-Qur’an Al-Karim.
Setelah kita mengetahui masalahnya, sekarang waktunya untuk membahas solusi-solusi praktis untuk mengembalikan kedudukan Al-Qur’an dalam hidup kita. Bagaimana kita menjadikan membuka mushaf Al-Qur’an sebagai kebiasaan harian sebagaimana kita terbiasa membuka ponsel? Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat kita tempuh:
- Menyisihkan waktu khusus setiap hari secara paten untuk membaca Al-Qur’an, persis seperti kita mengatur waktu-waktu penggunaan ponsel. Jadi, kita harus mengkhususkan waktu tertentu setiap hari untuk membaca Al-Qur’an, dan alangkah baiknya jika itu setelah subuh, sebelum tidur, atau setiap selesai salat. Intinya waktu itu paten tidak boleh kita gunakan untuk kegiatan yang lain.
- Mengganti sebagian waktu pemakaian ponsel dengan Al-Qur’an. Daripada menghabiskan waktu panjang untuk men-scroll berita-berita dan media-media sosial, hendaklah kita menyisihkan sebagian waktu itu untuk membaca Al-Qur’an atau mendengar tilawah, terlebih lagi pada waktu-waktu menunggu atau senggang.
- Membawa mushaf Al-Qur’an ke mana pun, seperti halnya kita membawa ponsel ke mana saja. Kita bisa membawa mushaf kecil atau juga memakai aplikasi-aplikasi mushaf elektronik, lalu menetapkan target bacaan –meski hanya beberapa ayat– setiap hari.
- Menadaburi Al-Qur’an, tidak hanya sekadar membacanya. Kita harus mulai berusaha memahami makna-makna Al-Qur’an dan menghayati ayat-ayatnya, karena Al-Qur’an diturunkan tidak hanya untuk kita baca saja, tapi untuk kita amalkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29).
- Mendorong pasangan dan anak-anak untuk mencintai Al-Qur’an. Hendaklah kita menjadi teladan di rumah kita dengan membaca Al-Qur’an di depan pandangan pasangan dan anak-anak kita, dan mendorong mereka untuk senantiasa membaca dan menghafalnya. Sebaik-baik hal yang kita wariskan kepada mereka adalah kecintaan kepada firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Wahai para hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberi kita kemudahan dalam membaca Al-Qur’an dan menjanjikan kepada kita pahala yang besar, barang siapa yang membaca satu hurufnya akan mendapat sepuluh kebaikan. Oleh sebab itu, bayangkan bagaimana dengan orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai teman hidupnya? Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
اِقْرَؤُوا الْقُرْآنَ؛ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim).
Marilah kita mulai dari sekarang. Kita letakkan mushaf Al-Qur’an di puncak prioritas kita, sebelum ponsel, berita-berita, dan media-media sosial.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita Ahlul Qur’an yang merupakan orang-orang terdekat dan teristimewa-Nya, mengaruniakan kepada kita tilawah, tadabur, dan pengamalan Al-Qur’an, serta menjadikannya sebagai syafaat kita pada hari perjumpaan dengan-Nya.
فَعُدْ لِلْكِتَابِ فِيهِ شِفَاءٌ وَنُورُ عُمْرٍ بِهِ الْوَجْدُ بَاقٍ
Kembalilah kepada Al-Qur’an karena di dalamnya terdapat kesembuhan. Cahaya kehidupan yang dengannya kejernihan hati tetap abadi.
وَدَعْ سَرَابَ الْوَهْمِ إِنَّ طَرِيقًا بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ دَرْبُ شِقَاقٍ
Tinggalkanlah fatamorgana kelalaian, karena jalan (menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Tanpa mengingat-Nya adalah jalan kesesatan.
Marilah kita dirikan salat, karena sesungguhnya salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan sungguh mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala amat besar keutamaannya. Dia Maha Mengetahui apa yang kalian perbuat.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/0/177055/أيهما-أسهل-فتح-المصحف-أم-فتح-الهاتف؟-خطبة/

