Tanda Kiamat: Tidak Ada Haji di Akhir Zaman

Khutbah Pertama:

إِنَّ الحَمدَ للهِ، نَحمَدُهُ ونَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعوذُ باللهِ مِنْ شُرُورِ أَنفُسِنا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَه، وَمَنْ يُضلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وصَحْبِهِ وسَلَمَ تسلِيماً كَثِيراً. أمَّا بَعدُ:

Ibadallah,

Khotib mewasiatkan kepada diri khotib pribadi dan jamaah sekalian agar kita semua senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [Quran Al-A’raf: 35]

Ibadallah,

Allah Ta’ala berfirman,

جَعَلَ ٱللَّهُ ٱلْكَعْبَةَ ٱلْبَيْتَ ٱلْحَرَامَ قِيَٰمًا لِّلنَّاسِ وَٱلشَّهْرَ ٱلْحَرَامَ وَٱلْهَدْىَ وَٱلْقَلَٰٓئِدَ 

“Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid.” [Quran Al-Maidah: 97]

Demikian juga dengan firman-Nya,

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [Quran Al-Baqarah: 127]

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di hari penaklukkan Kota Mekah:

إِنَّ هَذَا البَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

“Sungguh negeri ini telah Allah haramkan sejak penciptaan langit dan bumi. Dia menjadi tanah haram atas kemuliaan dari Allah hingga hari kiamat nanti.”

Pengharaman ini artinya adalah kedudukan yang mulia untuk tanah Mekah. Dalam hadits lainnya yang juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Abduullah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لَهَا، وَحَرَّمْتُ المَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ، وَدَعَوْتُ لَهَا فِي مُدِّهَا وَصَاعِهَا مِثْلَ مَا دَعَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ لِمَكَّةَ

“Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Mekah dan mendoakan kebaikan untuknya. Sementara aku menjadikan Madinah sebagai tanah haram sebagaimana Ibrahim menjadikan Mekah sebagai tanah haram. Aku mendoakan kebaikan untuk Madinah dalam takaran mudnya, sha’nya sebagaimana doa Ibrahim ‘alaihissalam untuk Mekah.”

Hadits ini menjelaskan tentang keabsahan kemuliaan Mekah dan Madinah secara syariat. 

Ibadallah,

Namun di akhir zaman nanti, manusia tak lagi mengindahkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang kemuliaan Mekah dan Ka’bah. Pengagungan itu mulai hilang di hati. Hingga di akhir zaman ada seseorang yang merobohkan Ka’bah. Dengan robohnya Ka’bah tersebut berhentilah ibadah haji. Dan ini di antara tanda kiamat. Kondisi demikian telah diisyaratkan oleh firman Allah Ta’ala,

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir…” [Quran Al-Baqarah: 177]

Dan kiamat pasti akan datang:

إِنَّ السَّاعَةَ لَآَتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا

“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya.” [Quran Ghafir: 59]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ ‏‏سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ ‏‏أَنَّ ‏‏أَبَا هُرَيْرَةَ ‏‏رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ‏‏قَالَ ‏: ‏قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :‏ ‏يُخَرِّبُ ‏ ‏الْكَعْبَةَ ‏ ‏ذُو السُّوَيْقَتَيْنِ(لَهُ سَاقَانِ دَقِيقَانِ) ‏ ‏مِنْ ‏ ‏الْحَبَشَةِ .

Dari Said bin al-Musayyab, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ka’bah akan dihancurkan oleh Dzul Suwaiqataini (orang yang betisnya kurus). Ia berasal dari Habasyah.” [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Dalam hadits yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لا يُحَجَّ البَيْتُ

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga tidak ada lagi orang yang berhaji ke Baitullah.” [HR. al-Hakim dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Albani].

يُبايعُ للرجلِ بين الركنِ والمقامِ ، ولن يستحلَّ هذا البيتَ إلا أهلُهُ ، فإذا استحلُّوهُ فلا تسألْ عن هلكةِ العربِ ، ثم تجيءُ الحبشةُ فيخربونَهُ خرابًا لا يُعمَّرُ بعدَهُ أبدًا ، و هم الذين يَستخرجونَ كنزَهُ

“Seorang laki-laki akan dibaiat di antara rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Ibrahim). Tidak ada yang dapat menghalalkan Ka’bah kecuali penduduk di sekitarnya. Apabila mereka telah menghalalkannya, jangan ditanya lagi akan kehancuran orang-orang Arab. Kemudian orang-orang Habasyah akan datang untuk merobohkannya hingga benar-benar roboh, dan tidak akan ada lagi yang dibangun setelah itu untuk selama-lamanya. Merekalah yang mengeluarkan perbendaharaan Ka’bah.” [Sahih Ibnu Hibban, no: 6827].

Hadits lainnya yang menjelaskan tentang kondisi akhir zaman ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ أَسْوَدَ أَفْحَجَ يَنْقُضُهَا حَجَرًا حَجَرًا

“Seakan-akan aku melihatnya hitam dan terpisah-pisah, ia merusaknya batu demi batu. Maksudnya adalah Ka’bah.” [HR. Ahmad dalam Musnadnya 1906].

Dalam Riwayat lain disebutkan bahwasanya para perusak Ka’bah ini mencongkel batunya satu demi satu. Hingga akhirnya mereka lemparkan batu-batu itu ke laut. 

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsamini rahimahullah mengatakan, “Ia membawa pasukan yang mencongkel batu Ka’bah satu demi satu. Masing-masing dari mereka menyerahkan batu-batu itu kepada orang setelahnya hingga akhirnya mereka lemparkan ke laut. Dengan demikian, mereka terdiri dari sejumlah pasukan yang besar jumlahnya yang bersambung dari Mekah hingga ke Jedah.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan, dari Abdullah bin Amr, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتْرُكُوا الْحَبَشَةَ مَا تَرَكُوكُمْ فَإِنَّهُ لَا يَسْتَخْرِجُ كَنْزَ الْكَعْبَةِ إِلَّا ذُو السُّوَيْقَتَيْنِ مِنْ الْحَبَشَةِ

“Biarkanlah orang-orang Habasyah sebagaimana mereka membiarkan kalian. Sebab tidaklah harta simpanan Ka’bah itu dikeluarkan kecuali oleh Dzu al-Suwaiqataini (seorang yang berjuluk pemilik dua betis) dari negeri Habasyah.”

Diriwayatkanoleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Amr:

يُخَرِّبُ الْكَعْبَةَ ذُو السُّوَيْقَتَيْنِ مِنَ الْحَبَشَةِ، وَيَسْلُبُهَا حِلْيَتَهَا، وَيُجَرِّدُهَا مِنْ كُسْوَتِهَا، وَلَكَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَيْهِ أُصَيْلِعَ أُفَيْدِعَ يَضْرِبُ عَلَيْهَا بِمِسْحَاتِهِ وَمِعْوَلِهِ. 

“Ka’bah dihancurkan oleh Dzu as-Suwaiqatain dari Habasyah (Ethiopia), perhiasannya dirampas, dan kain penutupnya dilepas. Seakan-akan aku melihat kepalanya yang botak dan tulang-tulang persendiannya yang bengkok. Ia menghantam Ka’bah dengan cangkul dan sekopnya.”

Ia adalah seorang berkulit hitam, berkepala botak, dan bentuk kaki cekung seperti huruf O.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Awal kemunculan dari Dzu al-Suwaiqataini adalah di masa-masa turunnya Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalam. Tepatnya setelah Ya’juj dan Ma’juj binasa.”

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Peristiwa ini terjadi di akhir zaman saat kiamat benar-benar sudah dekat. Yaitu di saat di bumi ini tidak ada lagi seorang pun yang menyebut “Allah. Allah.” sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits di Sahih Muslim:

لَا تَقُوم السَّاعَة حَتَّى لَا يُقَال فِي الْأَرْض اللَّهُ اللَّهُ

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga tidak ada lagi orang di dunia ini yang menyebut ‘Allah. Allah’.”

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تقوم الساعة إلا على شرار الخلق

“Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali yang ada hanyalah seburuk-buruk manusia.”

Sehingga di masa itu manusia kembali menyembah berhala-berhala. Mereka kembali menyembah Latta dan Uzza.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kondisi tersebut dalam sabdanya,

فَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ فِي خِفَّةِ الطَّيْرِ وَأَحْلَامِ السِّبَاعِ لَا يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا فَيَتَمَثَّلُ لَهُمْ الشَّيْطَانُ فَيَقُولُ أَلَا تَسْتَجِيبُونَ فَيَقُولُونَ فَمَا تَأْمُرُنَا فَيَأْمُرُهُمْ بِعِبَادَةِ الْأَوْثَانِ

“Yang tersisa hanya orang-orang buruk seperti ringannya burung (cepat melakukan keburukan). Keinginan binatang buas (perilaku mereka seperti binatang buas dalam melakukan kezaliman terhadap sesama). Mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak memungkiri kemungkaran. Setan menggambarkan untuk mereka lalu berkata, ‘Apa kalian tidak merespon’? Mereka bertanya, ‘Apa yang kau perintahkan pada kami’? Setan menyuruh mereka menyembah patung, mereka melakukannya.” [HR. Muslim].

Dari Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً، فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ، وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

“Saat mereka seperti itu, tiba-tiba Allah mengirim angin sepoi-sepoi lalu mencabut nyawa setiap orang mu`min dan muslim dibawah ketiak mereka, dan orang-orang yang tersisa adalah manusia-manusia buruk, mereka melakukan hubungan badan secara tenang-terangan seperti keledai kawin. Maka orang-orang seperti itulah kiamat terjadi.” [HR. Muslim].

Manusia saat kiamat terjadi adalah manusia yang paling buruk. Mereka memiliki akhlak yang hina dan rendah. Sampai-sampai mereka berzina terang-terangan di hadapan banyak orang. Persis seperti yang dilakukan oleh binatang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kepada kita kondisi tersebut dengan sabda beliau,

لا تقوم الساعة حتى يتسافدوا في الطريق تسافد الحمير”، قلت: إن ذلك لكائن؟ قال: “نعم، ليكونن

“Tidak akan datang hari kiamat hingga mereka melakukan zina di jalan seperti keledai. Aku bertanya: apakah ini sungguh akan terjadi? Rasulullah menjawab: iya, sungguh ini akan terjadi.” [HR.  Ibn Hibban, al-Bazzar, dan al-Tabarani, hadith sahih]

Seperti itulah kondisi akhir zaman. Para ulama telah wafat sehingga yang menjadi pengambil keputusan adalah orang-orang yang tidak mengerti agama. Tidak lagi tersisa di antara mereka orang-orang baik dan shaleh. Dan yang terburuk di antara mereka adalah orang-orang Habasyah. Hingga mereka berani merobohkan Ka’bah.

Ibadallah,

Ini adalah berita-berita tentang kondisi akhir zaman. Tanda di antara tanda-tanda kiamat. Berita ini darang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang benar ucapannya dan dibenarkan oleh Allah. Dan keyakinan tentang berita-berita ini termasuk dari bentuk keimanan kepada hari akhir.

Di antara hikmah mengapa Allah menjadikan tanda-tanda hari kiamat adalah supaya orang-orang yang lalai tersadar bahwa kiamat itu ada dan pasti terjadi. Buktinya, tanda-tanda yang menunjukkan keberadaannya terjadi. Sehingga orang-orang yang lalai bertaubat kepada Allah dan kembali kepada-Nya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بادروا بالأعمال فتناً كقطع الليل المظلم

“Segeralah melakukan amalan taat sebelum datang fitnah yang gelap seperti kepingan-kepingan malam.” [HR. Muslim].

Semoga Allah menyadarkan kelalaian kita dengan ayat-ayat dan hadits-hadits yang sudah kita dengan tadi. Kemudian allah anugerahkan kita untuk bertaubat dan kembali meniti jalan-Nya.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مِنَ الأَعْمَالِ أَخْلَصَهَا وَأَزْكَاهَا، وَمِنَ الأَخْلاَقِ أَحْسَنَهَا وَأَكْمَلَهَا يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا..

أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ:

Ibadallah,

Sesungguhnya di antara bentuk nikmat Allah yang sangat besar kepada kita adalah Dia menyariatkan ibadah shalat Jumat ini dalam sepekan sekali. Dengan adanya Jumatan ini kaum muslimin bertemu, berkumpul di satu tempat untuk melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala. Di dalam ritual Jumat ini terdapat khotbah sebagai nasihat pekanan. Artinya, sepekan sekali kita ikut pengajian.

Para khotib hendaknya Amanah. Sampaikan nasihat yang bersumber dari Alquran dan hadits-hadits Nabi. Ingatkan umat akan akhirat. Ingatkan bahwasanya ada kehidupan lagi setelah kehidupan yang kita jalan saat ini. Bukan diisi dengan motivasi duniawi. Atau khotbah yang kosong dari ilmu. Khotbah untuk kepentingan politik pihak tertentu, dll. Demikian juga dengan jamaah, hendaknya mendengarkan dengan baik.

Ketika dua sisi; khotib dan jamaah menjaga adab-adab ini, maka akan terwujudlah maksud ibadah Jumat sebagaiman yang semestinya. Menjadi nasihat dan pengingat dari kelalaian.

هَذَا، وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى نَبِيِّكُم كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ رَبُّكُمْ، فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56]، وَقَالَ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا» [رَوَاهُ مُسْلِم].

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم ، وَاجْعَلْهُمْ رَأْفَةً عَلَى عِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Oleh Nurfitri Hadi

Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email

Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28