Khutbah Pertama:

إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ ونَسْتَعِينُهُ ونَسْتَغْفِرُهُ، ونَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا ومِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، ومَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وأَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [آل عمران:102]،

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [النساء:1]،

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [الأحزاب:70-71].

أَمَّا بَعْدُ:

Kaum muslimin,

Khotib berwasiat kepada diri khotib pribadi dan jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena hanya orang bertakwalah yang akan sukses dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Ibadallah,

Dari akhir Ramadhan kemarin, kita menyaksikan kondisi saudara-saudara kita di Palestina yang tengah dijajah oleh bangsa Yahudi Israel. Kekejaman yang dipertontonkan di jalur GAZA terhadap Palestina memberi kesan mendalam bahwa sikap moderat dan toleran adalah omong kosong. Toleran itu untuk keuntungan mereka dan HAM untuk kepentingan mereka.

Kemudian beragam respon kita lihat yang dilakukan kaum muslimin dan orang-orang secara umum. Kaum muslimin meresponnya dengan bersegera membantu saudara-saudara mereka dengan apa yang mereka mampu. Termasuk dengan doa-doa mereka. Sementara ada juga kelompok yang mencemooh bantuan. Mereka membenturkan perbuatan sosial kemanusiaan di sana dengan realita kemiskinan di sini. Padahal amal sosial tak perlu dibenturkan. Yang membantu di sana belum tentu mereka tak membantu di sini. Yang jelas kita ambil peranan masing-masing dalam kebaikan. Bukan malah membenturkan kebaikan.

Ibadallah,

Dalam masalah Palestina, sudut pandang yang kita gunakan sebagai umat Islam, sebagai masyarakat awam, sebagai manusia, adalah sudut pandang keimanan dan kemanusiaan. Tak perlu kita menimbang sudut pandang politik Timur Tengah yang njelimet. Sudut pandang kemanusiaan lihat saja foto-foto anak-anak korban perang di sana. Tentu hati kita akan menjadi lembut dan iba. Dan pada kesempatan kali ini, khotib akan menggugah sudut pandang keimanan saja. Itupun hanya dari satu bagian dari bagian-bagian yang bisa diangkat dari sudut pandang keimanan pada khotbah yang singkat ini.

Ibadallah,
Sesungguhnya umat Islam Allah anugerahkan keistimewaan berupa wibawa. Allah jadikan umat ini umat yang paling utama dibanding umat-umat selainnya. Buktinya, Allah turunkan untuk umat ini kitab yang terbaik. Diutus kepada mereka Rasul yang paling utama. Dan Allah jadikan agama ini agama yang sempurna. Risalahnya penutup risalah-risalah sebelumnya. Allah turunkan agama ini di bagian bumi yang paling mulia.

Di antara tempat yang mulia yang Allah peruntukkan untuk umat ini adalah tanah al-Quds yang di dalamnya terdapat Masjid al-Aqsha. Tempat yang Allah berkahi. Di tempat ini, banyak nabi dan rasul yang Allah utus. Tempat para wali-wali Allah. Dan tempat hijrahnya bapak para nabi, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Masjid al-Aqsha memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama kita. Dan juga begitu berarti di hati. Masjid al-Aqsha adalah salah satu dari tiga masjid yang paling utama dalam agama kita. Ia adalah tempat mi’raj Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sanalah Nabi naik ke langit. Di sanalah beliau shalat mengimami para nabi. Dan al-Aqsha juga pernah menjadi kiblat bagi umat Islam. Jadi wajar hati-hati kaum muslimin, hati-hati orang yang beriman menaruh perhatian yang besar padanya.

Di antara hal yang menunjukkan agung dan utamanya Masjid al-Aqsha adalah pahala shalat di sana dilipat-gandakan dibanding masjid-masjid lainnya. Masjid ini adalah masjid kedua yang dibangun dalam sejarah peradaban umat Islam.

؛ فَعَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الأَرْضِ أَوَّلُ؟ قَالَ: «الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ» قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الْمَسْجِدُ الأَقْصَى». قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: «أَرْبَعُونَ سَنَةً» [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ].

Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, masjid apa yang pertama kali dibangun di muka bumi ini’? Beliau menjawab, ‘Masjid al-Haram’. Aku kembali bertanya, ‘Kemudian masjid apa setelahnya’? Beliau menjawab, ‘Masjid al-Aqsha’. ‘Berapa tahun jarak keduanya’? tanyaku lagi. Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun’.” [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Masjid ini adalah masjid yang menempati urutan ketiga dalam keutamaan.

فَعَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَذَاكَرْنَا وَنَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ: مَسْجِدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: »صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيهِ، وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى، وَلَيُوشِكَنَّ أَنْ لَا يَكُونَ لِلرَّجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ الْأَرْضِ حَيْثُ يَرَى مِنْهُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا – أَوْ قَالَ: خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا» [رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ في الأَوْسَطِ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الشُّعَبِ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ، وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ].

Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami membahas manakah yang lebih utama antara Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Masjid Nabawi) atau Masjid al-Aqsha. Lalu Rasulullah menanggapi, ‘Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dibanding empat kali shalat di Masjid al-Aqsha. Masjid al-Aqsha adalah sebaik-baik tempat shalat. Akan ada suatu masa, seseorang tidak memiliki sedikitpun tanah, namun dia melihat bahwa Baitul Maqdis lebih baik baginya dibanding dunia dan seisinya.” [HR. ath-Thabrani, al-Baihaqi, dan al-Hakim. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi].

Keutamaannya yang lain juga diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ دَاوُدَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَنَى بَيْتَ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خِلَالًا ثَلَاثَةً: سَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ فَأُوتِيَهُ، وَسَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ فَأُوتِيَهُ، وَسَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حِينَ فَرَغَ مِنْ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ أَنْ لَا يَأْتِيَهُ أَحَدٌ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فِيهِ أَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ» [رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وصَحَّحَهُ النَّوَوِيُّ].

“Saat Sulaiman bin Dawud ‘alaihimassalam membangun Baitul Maqdis, ia meminta kepada Allah Azza wa Jalla tentang tiga hal: Ia meminta agar ketika memutuskan sesuatu sesuai dengan hukum Allah Azza wa Jalla. Permintaannya dikabulkan. Lalu ia meminta kepada Allah Azza wa Jalla suatu kerajaan yang tidak ada yang dimiliki oleh orang setelahnya. Permintaannya dikabulkan. Kemudian ia meminta kepada Allah Azza wa Jalla ketika selesai dari pembangunan masjid apabila ada orang yang datang ke masjid ini, motivasinya satu yaitu shalat, agar semua kesalahannya dihapuskan hingga ia seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya.” [HR. An-Nasai dan dishahihkan an-Nawawi].

Ibadallah,

Keutamaan lainnya adalah Masjid al-Aqsha merupakan tempat isra’ nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu ini menunjukkan keutamaan dan keagungannya. Kalau Allah mau, Allah pilih masjid yang lain sebagai tempat isra’ nabi kita. Allah Ta’ala berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الإسراء:1].

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Quran Al-Isra: 1]

Masjid ini juga pernah menjadi kiblat kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat pernah shalat menghadap ke arah masjid ini sebelum kemudian diganti oleh Allah menghadap ke Ka’bah di Kota Mekah. Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ [البقرة:144].

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” [Quran Al-Baqarah: 144]

Masjid al-Aqsha juga merupakan salah satu masjid yang tidak bisa dimasuki oleh Dajjal nanti. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا يَأْتِي أَرْبَعَةَ مَسَاجِدَ: الْكَعْبَةَ، وَمَسْجِدَ الرَّسُولِ، وَالْمَسْجِدَ الْأَقْصَى، وَالطُّورَ« [رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَقَالَ الْهَيْثَمِيُّ: رَوَاهُ أَحْمَدُ وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ].

“Dia (Dajjal) tidak mampu memasuki empat masjid: Ka’bah, Masjid Rasul, Masjid al-Aqsha, dan ath-Thur.” [HR. Ahmad].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Hadits ini membawa informasi bahwasanya kekuasaan kenabiaan di Syam akan tetap eksis (hingga kiamat) dan kebaikan akan dikumpulkan di Syam. Penciptaan dan urusan akan kembali menuju Baitul Maqdis dan sekitarnya. Di sana manusia akan dikumpulkan. Dan Islam di akhir zaman akan jaya di negeri Syam.”

Masjid al-Aqsha adalah salah satu dari tiga masjid yang kitab oleh berlelah-letih berusaha untuk bersafar ke sana. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

:«لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى» [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ].

“Tidak boleh bersungguh-sunggu mengadakan perjalanan kecuali menuju ke tiga masjid: Masjid al-Haram, Masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjid al-Aqsha. [HR. al-Bukhari dan Muslim].

أَعَزَّ اللهُ الْقُدْسَ والْمَسْجِدَ الأَقْصَى وَسَائِرَ مَسَاجِدِ الْمُسْلِمِينَ، وَحَرَّرَهُمَا مِنْ دَنَسِ الْيَهُودِ الْمُغْتَصِبِينَ. أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ابتع هداه أما بعد:

Ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kita. Jadikanlah apa yang Dia rezekikan kepada kita sebagai penolong kita untuk semakin taat kepada-Nya. Tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan berpegang teguhlah dengan tali yang kuat, yaitu Islam.

Ibadallah,

Wajib bagi kita untuk mengetahui bahwa Yahudi adalah orang-orang tercela. Di surat Al-Fatihah Allah sebut mereka al-magdhub yang dimurkai. Mereka adalah orang-orang yang rendah dan lemah. Realitanya kini mereka menguasai kaum muslimin di Palestina sebabnya adalah karena dosa dan maksiat yang umat Islam lakukan. Kaum muslimin banyak berpaling dari agama mereka. Inilah sebab utama kemenangan mereka dan kedudukan mereka di dunia menjadi tinggi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [Quran Asy-Syura: 30].

Karena ini adalah masalah utamanya, maka solusinya adalah kita kembali kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Memperbaiki keimanan kita. Kembali menaati Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Menjauhi perbuatan fasik dan maksiat. Sehingga kaum muslimin bisa kembali mencapai kemuliaan, mendapat pertolongan, dan kemenangan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [Quran Muhammad: 7].

Ibadallah,

Benar sekali, seseorang tidak akan mendapatkan kemuliaan dan kemenangan hingga mereka kembali kepada agama Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ اَلْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمْ اَلْجِهَادَ، سَلَّطَ اَللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika engkau sekalian berjual-beli dengan ‘inah (hanya sekedar mengejar keuntungan materi belaka), selalu membuntuti ekor-ekor sapi, hanya puas menunggui tanaman, dan meninggalkan jihad maka Allah akan meliputi dirimu dengan suatu kehinaan yang tidak akan dicabut sebelum kamu kembali kepada agamamu.” [HR. Ahmad].

Bagaimana kita bisa berharap menjadi umat yang unggul dan menang sementara kesyirikan begitu banyak tersebar dan dilakukan terang-terangan di tengah masyarakat kita. Orang-orang minta pada kuburan. Makam-makam dikultuskan dan disucikan. Dukun-dukun tampil di televisi, mereka terang-terangan iklankan kesyirikan mereka dan mengajak masyarakat untuk turt serta. Kita tinggalkan tuntunan Nabi kita dan mengambil tuntunan yang lainnya.

Kita menginginkan kemenangan dan kejayaan, sementara anak-anak kaum muslimin mulai berpikir ateis. Atau yang sekarang ini perkembang di negeri kita yaitu relativisme agama. Yaitu semua agama itu benar. Paha mini mengajarkan Tuhan itu satu namanya berbeda-beda, persepsi orang tentang Tuhan berbeda-beda, cara mendekatkan diri kepada Tuhan juga berbeda-beda, agama resmi berbeda-beda, tapi semuanya sama menuju Tuhan yang satu, dan semua akan masuk surga. Paham ini tengah berkembang di negara kita. Ada orang yang di-ustadzkan, di-kiyaikan, dan diguskan ceramah di gereja mengampanyekan ini. Dan sekarang dia punya acara di televisi untuk semakin menyebarkan kesesatannya di tengah masyarakat awam.

Kita menginginkan kemenangan dan kejayaan, sementara pemikiran Khawarij juga disenangi sebagian kecil anak-anak muda kita. Mereka merusak tempat ibadah, membunuh polisi, dan semakin membuat umat Islam lemah.

Banyak orang yang berbicara masalah Palestina dan Masjid al-Aqsha, mereka malah sibuk mencela para ulama yang tidak sejalan dengan mereka. Mereka lupa mengoreksi diri mereka. Bagaimana ketaatan mereka kepada Allah Ta’ala. Bagaimana penjagaan mereka terhadap penunaian shalat berjamaah.

Sebagian yang lainnya, berbicara tentang Masjid al-Aqsha tapi mereka gandrung dengan maksiat. Menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. karena kemenangan dan pertolongan hakiki adalah menegakkan agama ini mulai dari diri dan lingkungan terdekat kita. Menjauhi kesyirikan, kemaksiatan dan amalan-amalan yang tidak disunnahkan. Mungkin ini terkesan klise dan tidak langsung menyentuh masalah. Tapi demi Allah, inilah solusi yang dituntunkan sebagaimana sabda Rasulullah tadi,

سَلَّطَ اَللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Allah akan meliputi dirimu dengan suatu kehinaan yang tidak akan dicabut sebelum kamu kembali kepada agamamu.” [HR. Ahmad].

Inilah cara yang bisa kita tempuh. Kita secara pribadi tidak bisa menempuh cara militer dan lobi politik. Karena itu bukan ranah kita sebagai masyarakat biasa. Itu ranah para pemimpin. Karena itu lakukanlah apa yang kita mampu lakukan dalam kapasitas sebagai rakyat. Allah Ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ * وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” [Quran Nur: 55-56].

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَرْضِ الشَامِ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا،

اَللَّهُمَّ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ. اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عباد الله، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ* وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ) [النحل:90-91]، فاذكروا اللهَ يذكرْكم، واشكُروه على نعمِه يزِدْكم، ولذِكْرُ اللهِ أكبرُ، واللهُ يعلمُ ما تصنعون.

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email