Khutbah Pertama:

﴿ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ (1) يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ الرَّحِيمُ الْغَفُورُ ﴾ [سبأ: 1–٢] ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَلْحَلِيْمُ الشَّكُوْرُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا .

أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى،

Ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Karena hanya orang bertakwa yang beruntung di dunia dan akhirat.

Ibadallah,

Al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan sumber petunjuk yang sempurna, bagi orang yang mau merenungkannya dan berniat mengikuti kebenaran. Oleh karenanya semua beritanya haq dan tidak ada kontradiksi. Allah Azza wa Jalla telah memberitakan kepada kita, bahwa Dia berada di atas ‘arsy-Nya dan bahwa Dia juga bersama manusia. Itu semua adalah benar.

Jadi Allah Azza wa Jalla memiliki sifat ma’iyyah (bersama) makhluk-Nya Dan lafazh ma’iyyatullah di dalam al-Qur’an ada dua macam: ma’iyyatul ‘ammah (kebersamaan Allah yang bersifat umum) dan ma’iyyatul khashash (kebersamaan Allah yang bersifat khusus).

Ma’iyyatul ‘Ammah (Kebersamaan Allah Azza wa Jalla yang bersifat umum) Yaitu Allah Azza wa Jalla bersama semua makhluk-Nya dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. Ini adalah sifat kebersamaan Allah Azza wa Jalla secara umum, ketika tidak dikhususkan pada pribadi tertentu, atau pada sifat tertentu. Allah Azza wa Jalla berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya, dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadid/57: 4]

Ayat ini dimulai dengan berita bahwa Allah Azza wa Jalla yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu memberitakan tentang keberadaan Allah Azza wa Jalla di atas ‘arsy. Ini menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla berada di atas seluruh makhluk-Nya. Lalu Allah Azza wa Jalla memberitakan bahwa Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya.

Ini menunjukkan ilmu Allah Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, dan ini adalah kebersamaan Allah yang umum dengan seluruh makhluk-Nya. Kemudian Allah Azza wa Jalla berfirman “Dia bersama kamu di mana saja kamu berada”, ini juga memberitakan kebersamaan Allah Azza wa Jalla yang umum dengan seluruh makhluk-Nya dengan ilmu-Nya (bahwa (ilmu) Allah senantiasa bersama semua makhluk-Nya).

Lalu firman Allah Azza wa Jalla “Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”, ini juga memberitakan kebersamaan Allah Azza wa Jalla yang umum dengan seluruh makhluk-Nya dengan penglihatan-Nya. (bahwa (penglihatan) Allah tidak pernah lepas dari semua makhluk-Nya) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ketika Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya” sampai “dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada”, zahir pembicaraan ini menunjukkan bahwa hukum dan konsekuensi kebersamaan Allah Azza wa Jalla adalah bahwa Dia mengawasi kamu, menyaksikan kamu, menjaga dan mengetahui kamu. Inilah makna perkataan Salaf: bahwa Allah Azza wa Jalla bersama manusia dengan ilmu-Nya, inilah zahir dan hakekat pembicaraan Allah Azza wa Jalla ”.

Demikian juga firman Allah Azza wa Jalla :

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. [Al-Mujadilah/58: 7]

Dan ini merupakan pendapat Salaf, bahwa Allah Azza wa Jalla berada di atas langit, dan ilmu-Nya bersama seluruh makhluk-Nya. Imam Adh-Dhahhak rahimahullah berkata:

هُوَ عَلَى عَرْشِهِ وَعِلْمُهُ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوْا

Allah berada di atas ‘arsy–Nya dan ilmu–Nya bersama mereka (manusia; makhluk) di mana saja mereka berada. [Riwayat Abu Ahmad Al-‘Assal; Ibnu Baththah; Ibnu ‘Abdil Barr; Al-Lalikai]

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:

اللهُ فِي السَّمَاءِ وَعِلْمُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ لَا يَخْلُو مِنْهُ شَيْءٌ

“Allah berada di atas langit dan ilmu-Nya di seluruh tempat, tidak ada sesuatu yang kosong dari ilmu-Nya“. [Riwayat Abdullah bin Imam Ahmad di dalam kitab as-Sunnah; dan lain-lain; dengan sanad shahih.]

Ma’iyyatullah al-Khashshash (Kebersamaan Allah Azza wa Jalla yang bersifat khusus) Yaitu Allah Azza wa Jalla bersama sebagian hamba-Nya dengan pertolongan-Nya, pembelaan-Nya, dan bimbingan-Nya. Ini adalah sifat kebersamaan Allah Azza wa Jalla secara khusus, ketika dikhususkan pada pribadi tertentu, atau pada sifat tertentu.

1. Ma’iyyatullah al-Khashshash Dengan Pribadi Tertentu.

a. Nabi Musa Alaihissallam dan Harun Alaihissallam Contoh sifat bersama yang dikhususkan pada pribadi tertentu ialah firman Allah Azza wa Jalla kepada Nabi Musa Alaihissallam dan Harun Alaihissallam:

قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat [Thaha/20: 46]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Demikian juga firman Allah Azza wa Jalla kepada Musa dan Harun “Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”.

Ma’iyah (bersama) di sini sesuai dengan zahirnya, dan ketetapan kebersamaan di sini adalah pertolongan dan dukungan. Terkadang ada seseorang yang menakut-nakuti anak kecil, lalu dia menangis. Kemudian ayahnya mengawasinya dari atas loteng lalu berkata, “Jangan takut, aku bersamamu” atau “Aku di sini” atau “Aku datang” atau semacamnya. Ayahnya mengingatkan anaknya dengan kebersamaan yang menyebabkan penolakan sesuatu yang tidak disukai dengan sebab keadaan itu”.

b. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu anhu Allah Azza wa Jalla berfirman tentang Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Diwaktu dia (Muhmmad) berkata kepada sahabatnya: “Janganlah berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita [At-Taubah/9: 40]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Firman Allah Azza wa Jalla “Janganlah berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita”, jika yang dimaksud adalah Allah Azza wa Jalla bersama dengan dzat-Nya dengan segala sesuatu, maka pernyataan umum itu bertentangan dengan pengkhususan. Karena telah diketahui bahwa Firman Allah Azza wa Jalla “Janganlah berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita”, bahwa yang dimaksud adalah pengkhususan kepada Abu Bakar, tanpa musuh-musuh mereka dari kalangan orang-orang kafir”.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ

Khutbah Kedua:

اَلحَمْدُ لِلّهِ الوَاحِدِ القَهَّارِ، الرَحِيْمِ الغَفَّارِ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى عَلَى فَضْلِهِ المِدْرَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الغِزَارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ العَزِيْزُ الجَبَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المُصْطَفَى المُخْتَار، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الطَيِّبِيْنَ الأَطْهَار، وَإِخْوَنِهِ الأَبْرَارِ، وَأَصْحَابُهُ الأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تُعَاقِبُ اللَيْلَ وَالنَّهَار

Ibadallah,

Kebersamaan yang kedua adalah:

2. al-Ma’iyatul Khashsah Dengan Sifat Tertentu

a. Muttaqun dan Muhsinun Adapun contoh sifat bersama yang dikhususkan pada suatu sifat tertentu ialah firman Allah Azza wa Jalla:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. [An-Nahl/16: 128]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Demikian juga firman Allah “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”, Allah mengkhususkan mereka dengan itu (pertolongan dan dukungan), tanpa orang-orang zalim dan durhaka”.

b. Shabirun (orang-orang yang sabar) Contoh lain sifat bersama yang dikhususkan pada suatu sifat tertentu ialah firman Allah Azza wa Jalla:

وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. [Al-Anfal/8: 46]

Yaitu bahwa pertolongan Allah Azza wa Jalla bersama orang-orang yang sabar, dan tidak bersama orang-orang yang tidak memiliki kesabaran. Kesesatan Faham Ittihadiyah dan Hululiyah Sifat bersamanya Allah Azza wa Jalla dengan makhluk ini, tidak berarti Dzat Allah bercampur dengan seluruh makhluk, sehingga dzat Allah Azza wa Jalla berada di mana-mana. Juga tidak berarti Allah Azza wa Jalla menyatu dengan sebagian makhluk-Nya. Karena lafazh ma’iyah (bersama) tidak berarti bercampur atau menyatu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kata ‘ma’a (bersama)’ di dalam bahasa, jika disebut mutlak, maknanya adalah mengiringi secara mutlak, tidak mesti berarti saling bersentuhan atau berdampingan di kanan atau di kiri. Jika ditentukan dengan suatu makna, hal itu menunjukkan mengiringi dalam makna tersebut. Dikatakan di dalam bahasa Arab, “Kita selalu berjalan dan bulan bersama kita”, “atau bintang bersama kita”. Atau dikatakan “Barang ini bersamaku”, karena berkumpul denganmu, walaupun berada di atas kepalamu. Maka Allah bersama makhluk-Nya dengan sebenarnya, dan Dia berada di atas arsy-Nya juga sebenarnya”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata, “Demikian juga lafazh ma’iyah (bersama) di dalam bahasa Arab dan di dalam al-Qur’an tidak dimaksudkan bercampurnya satu dzat dengan dzat lain. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya [Al-Fath/48: 29]

Dan firman Allah Azza wa Jalla:

فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman. [An-Nisa/4: 146]

Dan firman Allah Azza wa Jalla:

اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. [At-Taubah/9: 119]

Dan firman Allah Azza wa Jalla:

وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ

Serta berjihad bersamamu. [Al-Anfal/8:75]

Dan semisal ini banyak. Maka firman Allah Azza wa Jalla “dan Dia bersama kamu” mustahil menunjukkan bahwa dzat Allah Azza wa Jalla bercampur dengan semua dzat makhluk”. [Majmu’ Fatawa, 5/497]

Dengan keterangan ini menjadi jelas bahwa pendapat ittihadiyah, yang menyatakan Allah Azza wa Jalla berada di mana-mana, menyatu dengan semua makhluk-Nya, demikian juga pendapat hululiyah, yang menyatakan Allah menyatu dengan sebagian makhluk-Nya, adalah pendapat yang bertentangan dengan al-Qur’an, al-Hadits, dan ijma’ Salaf. Dan pendapat tersebut sangat buruk, karena termasuk di mana-mana adalah di tempat-tempat kotor dan najis! Maha suci Allah Azza wa Jalla dari perkataan mereka!! Semoga Allah Azza wa Jalla selalu membimbing kita di dalam aqidah yang benar.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا

أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

[Diadaptasi dari tulisan Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari di majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XXI/1438H/2017M].

Print Friendly, PDF & Email