Khutbah Pertama:
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
Jamaah yang dimulikan Allah Ta’ala,
Khotib mewasiatkan kepada diri khotib pribadi dan jamaah sekalian agar kita semua senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena takwa adalah sebaik-baik aktivitas yang dilakukan oleh seseorang di dunia untuk perbekalan kehidupan setelah kematiannya.
Takwa yang artinya melaksanakan perintah Allah semaksimal kemampuan dan menjauhi semua yang Dia larang tanpa terkecuali ini, banyak diremehkan manusia semasa hidupnya. Mengapa? Karena kurangnya keyakinan bahwa kita ini setelah meninggal akan hidup di alam lain yang namanya alam barzakh. Allah Ta’ala berfirman,
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)
Hingga apabila kondisi menjelang kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” [Quran Al-Mukminun: 99-100].
Al- Imam Ibnu katsir rahimahullah mengatakan,
يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ حَالِ المُحْتَضَرِ عِنْدَ المَوْتِ، مِنَ الكَافِرِيْنَ أَوْ المُفْرِطِيْنَ فِي أَمْرِ اللهِ تَعَالَى ، وَقِيْلَهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ ، وَسُؤَالُهُمْ الرَجْعَةَ إِلَى الدُنْيَا ، لِيُصْلِحَ مَا كَانَ أَفْسَدُهُ فِي مُدَّةِ حَيَاتِهِ
Allah Ta’ala mengabarkan tentang kondisi orang-orang yang tengah menghadapi kematian. Baik dari kalangan orang-orang kafir atau orang-orang yang menyepelekan perintah Allah. Allah mengingatkan tentang ucapan mereka. Mereka minta diberi tenggat waktu lagi hidup di dunia untuk memperbaiki apa yang telah mereka rusak sepanjang hidup mereka.
Di ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman tentang kondisi mereka saat dibangkitkan di hari kiamat,
وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلْمُجْرِمُونَ نَاكِسُوا۟ رُءُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ رَبَّنَآ أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَٱرْجِعْنَا نَعْمَلْ صَٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”. [Quran As-Sajdah: 12]
Ayat ini bercerita tentang penyesalan orang-orang saat di Padang Mahsyar. Yaitu mereka yang dulu saat di dunia menyia-nyiakan perintah Allah, menerabas apa yang dilarang, memakan yang haram, berbuat kezaliman, dll. Mereka tertunduk penuh penyesalan dan malu di hadapan Allah.
Masih banyak ayat-ayat yang menyatakan penyesalan orang-orang yang menyia-nyiakan perintah dan menerabas larangan lainnya. Penyesalan mereka saat di kuburan, saat hari kebangkitan, saat melihat neraka, dll. Artinya penyesalan tersebut terjadi berulang-ulang. Yang jadi pertanyaan, apakah Allah berbohong tatkala menyampaikan yang demikian seakan ini tidak akan terjadi?
Atau, apakah Allah zalim ketika menghukum mereka yang lalai saat di dunia. Padahal sudah diingatkan berulang-ulang tapi tidak yakin dan masih nekad terus-menerus lalai dan menerabas yang dilarang?
Oleh karena itu, kembali khotib mengingatkan diri khotib pribadi dan jamaah sekalian agar kita menjadikan ketakwaan sebagai bekal terbaik kita untuk kehidupan yang kedua.
Jamaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Lima belas abad yang lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami hari terbaik dalam kehidupan beliau. Beliau diperjalankan Allah Ta’ala dalam satu perjalanan mukjizat yang tidak bisa ditangkap oleh akal. Perjalanan yang agung yang hanya dibenarkan oleh orang-orang yang beriman. Yaitu perjalanan isra dan mikraj. Allah Ta’ala berfirman,
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Quran Al-Isra: 1]
Isra adalah perjalanan di malam hari dari Kota Mekah menuju Baitul Maqdis di Jerusalem. Sementara mikraj adalah perjalanan dari Jerusalem menembus lapisan-lapisan langit hingga ke Sidratul Muntaha.
Jarak Mekah ke Baitul Maqdis kurang lebih 1.500 Km. Kalau ditempuh dengan mobil sekarang selama kurang lebih 15 jam. Sementara Rasulullah menempuhnya tidak sampai satu malam. Padahal kendaraan tercepat di zaman Rasulullah adalah kuda. Sehingga orang-orang kafir Quraisy menganggap beliau berdusta.
Mereka menemui Abu Bakar ash-Shiddiq yang belum mendengar bahwa Rasulullah melakukan perjalanan isra mikraj. Dan Abu Bakar tahu persis jarak Baitul Maqdis karena ia pernah berdagang ke wilayah tersebut. Mereka berkata kepada Abu Bakar.
هل لك في صاحبك، يزعم أنّه أُسْريَ به الليلة إِلى بيت المقدس! قال: أوَ قال ذلك؟ قالوا: نعم، قال: لئن قال ذلك لقد صدق، قالوا: وتصدِّقه! قال: نعم، إِني لأصدِّقه بما هو أبعد من ذلك، أصدِّقه بخبر السماء في غدوة أو روحة. فلذلك سُمِّي الصدِّيق) رواه الحاكم
“Temanmu itu mengklaim bahwa ia menempuh perjalanan dalam waktu semalam saja ke Baitl Maqdis.” Abu Bakar bertanya, “Benar ia berkata demikian”? “Iya”, jawab mereka. Abu Bakar menanggapi, “Kalau benar ia mengatakan demikian, sungguh ia mengucapkan kebenaran.”
Kafir Quraisy yang heran kembali bertanya, “Jadi kau membenarkannya”? “Tentu”, jawab Abu Bakar. Ia melanjutkan, “Sungguh aku membenarkannya dalam hal yang lebih hebat lagi dari itu. Aku membenarkan bahwa dia mendapatkan berita (wahyu) dari langit di pagi dan sore hari.” Sejak saat itulah Abu Bakar digelari ash-Shiddiq. (HR. Hakim).
Perjalanan ini adalah mukjizat dan keajaiban. Sejak dari mulai hingga puncaknya mendapatkan wahyu shalat. Dan rangkaian peristiwa ini semua menunjukkan betapa agungnya shalat.
Peristiwa perjalanan ini dimulai dengan dibersihkannya hati Rasulullah oleh Jibril. Kemudian beliau menaiki kendaraan Buraq. Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُتَيْتُ بِالبُرَاقِ ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيْلٌ ، فَوْقَ الحِمَارِ ، وَدُوْنَ البَغْلِ ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ ، فَرَكِبْتُهُ ، حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ المَقْدِسِ ، فَرَبَطْتُهُ بِالحِلْقَةِ الَّتِي تَرْبِطُ بِهَا الأَنْبِيَاءُ ، ثُمَّ دَخَلْتُ المَسْجِدَ ، فَصَلَيْتُ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ خَرَجْتُ
“Didatangkan kepadaku Buraq. Ia adalah hewan tunggangan berwarna putih. Lebih tinggi dari keledai. Lebih pendek dari Bighal (persilangan kuda dan keledai). Satu langkahnya adalah sejauh pandangannya. Hingga sampailah aku di Baitul Maqdis. Kuikatkan tungganganku itu di tempat para nabi mengikat tunggangan mereka. Lalu aku masuk masjid dan shalat dua rakaat di dalamnya. Kemudian aku keluar.” (HR. Muslim 162).
Dan selama perjalanan dari Mekah menuju Baitul Maqdis, Rasulullah melihat berbagai kejadian. Setidaknya beliau melihat tiga belas kejadian dalam perjalanan. Di antaranya beliau menceritakan,
ثُمَّ أَتَى عَلَى جُحْرٍ صَغِيْرٍ يَخْرُجُ مِنْهُ ثَوْرُ عَظِيْمٌ ، فَيُرِيْدُ الثَوْرُ أَنْ يَدْخُلَ مِنْ حَيْثُ خَرَجَ فَلَا يَسْتَطِيْعُ ، فَقَالَ : مَا هَذَا يَا جِبْرِيْلُ ؟ قَالَ : هَذَا الرَجُلُ يَتَكَلَّمُ بِالْكَلَمِةِ العَظِيْمَةِ فَيَنْدَمُ عَلَيْهَا، فَيُرِيْدُ أَنْ يَرُدَّهَا فَلَا يَسْتَطِيْعُ
“Kemudian aku menuju ke lubang kecil, namun keluar kerbau besar dari lubang kecil itu. Lalu kerbau besar itu ingin kembali masuk lagi ke lubang tersebut tapi tidak bisa. Aku bertanya, ‘Apa itu Jibril’? Jibril mengatakan, ‘Itu adalah seseorang yang berbicara dengan kalimat yang memiliki dampak besar, lalu ia menyesal. Ia ingin mengembalikan kalimat tersebut, namun tidak mampu’.” (HR. Al-Bazzar).
Di zaman sekarang, terutama era sosial media seperti ini. Banyak kita saksikan atau kita sendiri pelakunya, orang-orang berbicara dan berkomentar tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Akhirnya ucapan mereka membawa dampak kerusuhan, kemarahan, perpecahan, pertumpahan darah, dll. Ia lakukan klarifikasi berkali-kali tapi dampak dari ucapannya tak bisa ditarik kembali.
Atau seseorang yang mengucapkan hal tertentu hingga menyebabkan nyawa melayang, rusaknya rumah tangga, rusaknya naman baik seseorang, dll. Ia meminta maaf dan menyesal, namun dakmpaknya sudah terlanjur buruk.
Tiba di Baitul Maqdis, Rasulullah bertemu para rasul. Kemudian beliau naik menuju langit. Lapisan demi lapisan dan kejadian demi kejadian beliau saksikan. Di setiap langit beliau disambut oleh para malaikat penjaga pintu langit. Malaikat itu mengizinkan beliau masuk dengan mengatakan,
وَنِعْمَ المَجِيْءُ جَاءَ
“Sebaik-baik yang pernah datang ke sini telah tiba.”
Artinya, kebaikan Rasulullah itu tidak hanya dikenal oleh penduduk bumi dari generasi dulu hingga sekarang. Kebaikan beliau juga dikenal oleh tujuh lapis penghuni langit. Oleh karena itu, kita bersyukur Allah jadikan sebagai umat beliau. Sebagai bentuk terima kasih, penghormatan, dan balas budi kita kepada beliau di antaranya kita ucapkan sholawat kepada beliau.
Walaupun ada tokoh sebesar Rasulullah di tengah-tengah kita, namun sayangnya, banyak di antara kita umatnya ini tidak mengenal beliau. Tidak membaca bahkan tidak tertarik mengenal dan membaca biografi beliau. Sebagiannya lebih tertarik membaca biografi-biografi selain beliau. Kalau mengenal saja tidak tertarik, bagaimana bisa hadir spirit meneladani?
Selanjutnya, di langit ketujuh Rasulullah bertemu ayahnya, bapak para nabi, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau juga melihat Baitul Ma’mur, Ka’bahnya para penghuni langit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِذَا أَنَا بِإِبْرَاهِيْمَ مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إِلَى البَيْتِ المَعْمُوْرِ ، وَإِذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ ، لَا يَعُوْدُوْنَ إِلَيْهِ
“Aku berjumpa dengan Ibrahim yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur. Tempat itu dimasuki oleh 70.000 malaikat setiap harinya. Dan ketika sudah ke sana, mereka tidak kembali lagi.” (HR. Muslim 162).
Menujukkan betapa banyaknya jumlah malaikat. Setiap hari sejak alam semesta ini diciptakan 70.000 dari mereka masuk ke sana dan tidak mengulanginya lagi. Itu terjadi hingga kiamat nanti. Mereka semua taat kepada Allah dan tidak pernah sedikit pun membangkang perintahnya. Artinya, Allah tidak butuh ketaatan manusia. Dan tidak rugi kalau manusia membangkang perintahnya. Justru kitalah yang rugi. Dan kitalah yang mencelakakan diri kita sendiri kalau kita tidak menaati Allah.
Lalalu Rasulullah naik lagi menuju Sidratul Muntaha. Sidr artinya adalah pohon bidara. Sedangkan Muntaha adalah tempat terakhir yang bisa dijangkau oleh makhluk. Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan,
سُمِّيَتْ سِدْرَةَ الْمُنْتَهَى لأَنَّ عِلْمَ الْمَلاَئِكَةِ يَنْتَهِي إِلَيْهَا، وَلَمْ يُجَاوِزْهَا أَحَدٌ إِلاَّ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم
“Dinamakan Sidratul Muntaha karena pengetahuan malaikat (tentang jarak perjalanan) berakhir padanya. Tidak ada satu makhluk pun yang pernah melewatinya kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (an-Nawawi, al-Minhaj 2/214).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ثُمَّ رُفِعَتْ إِلَيَّ سِدْرَةُ المُنْتَهَى، فَإِذَا نَبْقُهَا مِثْلُ قِلاَلِ هَجَرَ، وَإِذَا وَرَقُهَا مِثْلُ آذَانِ الفِيَلَةِ، قَالَ: هَذِهِ سِدْرَةُ المُنْتَهَى
“Kemudian ditunjukkan padaku Sidratul Muntaha. Kulihat buahnya seperti guci-guci orang Hajar (nama tempat di Yaman) dan daunnya seperti telinga gajah. Jibril berkata, “Ini adalah Sidratul Muntaha.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah, 3674).
Di sini juga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat wujud asli Jibril ‘alaihissalam yang sangat tampan dan indah. Seperti yang termaktub dalam Alquran di Surat an-Najm. Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
رَأَيْتُ جِبْرِيلَ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، عَلَيْهِ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ، يُنْتَثَرُ مِنْ رِيشِهِ التَّهَاوِيلُ: الدُّرُّ وَالْيَاقُوتُ
“Aku melihat Jibril di sisi Sidratul Muntaha. Ia memiliki 600 sayap. Dari bulu sayapnya bertaburan permata dan batu-batu mulia.” (HR. Ahmad 3915 dan selainnya).
Dari Ibnu Mas’ud radhialahu ‘anhu,
رَأَى مُحَمَّدٌ ﷺ جِبْرِيْلَ لَهُ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ قَدْ سَدَّ الأُفُق
“Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Jibril (dalam wujud aslinya pen.). Ia memiliki 600 sayap yang menutupi langit.” (HR. An-Nasa-i).
Sebagian orang mengagung-agungkan akal mereka. Mereka anggap akal mereka bisa menjangkau semuanya. Membayangkan Jibril dengan 600 sayapnya yang membuat langit tertutup, manusia tidak mampu. Bahkan sesuatu yang senantiasa bersama kita, seperti apa ruh? Manusia tidak bisa menjelaskan bentuknya, karakteristiknya, dll.
Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang disaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menggambarkan agungnya perjalanan ini dan kehebatan serta kebesaran penciptaan Allah, Allah sendiri menggambarkan perjalanan ini dengan berfirman:
لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى}
“Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” [Quran An-Najm: 18].
Sehebat dan sebanyak itu tanda kebesaran yang Rasulullah saksikan, tapi Allah sebut itu hanya sebagian saja. Semoga apa yang khotib sampaikan di khutbah pertama ini dapat menambah keimanan kita semua. Dan menyadarkan kita betapa kecilnya kita di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sang Maha Penguasa.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا..
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى:
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Keajaiban-keajaiban yang disaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan isra kemudian mikraj tadi hanyalah pengantar. Kemudian Rasulullah seorang diri tanpa ditemani lagi oleh Jibril melanjutkan perjalanan berikutnya. Dari Sidratul Muntaha untuk menerima keajaiban yang paling puncaknya. Apa itu? Itulah perintah shalat.
Perintah yang besar. Yang Allah sampai menyuruh Rasulullah datang langsung untuk mendapatkannya. Sementara perintah-perintah lainnya beliau terima lewat perantara Malaikat Jibril.
Perintah yang besar, yang hari ini sebagian kaum muslimin bertanya ‘apa sih manfaat dan urgensi sholat’? Karena tidak mengerti atau bisa jadi menganggap sepele. Padahal Allah mengistimewakannya. Perintah yang manusia anggap hanyalah bersifat ibadah pribadi dan tidak memiliki dampak sosial. Tapi bagi Allah dan Rasul-Nya ibadah ini membuat manusia senantiasa terhubung dengan Tuhannya.
Sebuah ibadah yang dianggap ritual, tidak memiliki dampak sosial menurut mereka. Padahal kita di syariatkan shalat berjamaah agar bisa saling bersosial.
Kalau manusia merasa perlu menjalin hubungan atau relasi yang strategis. Berhubungan dengan para pejabat, orang kaya, orang tua, tetangga, dll. apakah dia berpikir tidak perlu menjalin hubungan dengan Allah? Yang Maha Kuasa yang maha segalanya. Itulah shalat yang menjadi penghubung antara manusia dengan Rabbnya.
Kalau manusia mengira dia mampu bersedekah. Padahal inti sedekah itu bukan hanya nominalnya. Karena nominalnya tidak naik ke sisi Allah, keikhlasannya lah yang dinilai Allah. Ini bukan memotivasi sedekah sedikit. Ini memotivasi sedekah Ikhlas, banyak atau sedikit, yang terpenting adalah keikhlasannya. Seseorang tidak mampu beribadah kepada Allah dengan berkualitas tatkala dia menyia-nyiakan shalat. Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu pernah menulis surat kepada gubernur-gubernur di wilayah kekuasaannya dengan mengatakan,
إنَّ أَهَمَّ أمورِكُم عندي الصَّلاةُ مَن حفظَها وحافظَ عليها حفِظَ دينَهُ، ومن ضيَّعَها فَهوَ لما سِواها أضيَعُ.
“Sesungguhnya urusan kalian yang terpenting di sisiku adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat dan terus berusaha menjaganya, maka ia telah menjaga agamanya. Barangsiapa menyia-nyiakan shalat, maka dalam urusan lain dia akan lebih menyia-nyiakannya.”
Umar bin al-Khattab menjadikan shalat adalah kunci. Tatkala amanah shalat saja sudah disia-siakan, apalagi amanah yang lain. Tatkala amanah sebesar ini saja dianggap remeh, apalagi amanah yang lain.
Terlalu panjang untuk menjelaskan keutamaan dan keagungan shalat dalam momen khotbah ini. Tapi cukuplah momen rangkaian perjalanan isra mikraj yang khotib sampaikan tadi membuat kita sadar betapa agungnya shalat.
Cukuplah bagi kita pelajaran bahwa Allah di awalnya mensyariatkan 50 waktu shalat sehari semalam menunjukkan betapa cintanya Allah dengan shalat. Dan betapa cintanya Allah melihat kondisi hamba sedang shalat.
Dari 50 waktu itu kemudian Allah jadikan 5 waktu saja. Artinya manusia mampu secara fisik mengerjakan 50x shalat dalam sehari tapi Allah ringankan dengan kasih sayangnya. Manusia akan sangat suka, tatkala dia mampu bekerja 8 jam sehari. Kemudian dikurangi menjadi 1 jam dalam sehari. Dan tetap mendapatkan gaji seperti bekerja 8 jam tadi. Seperti itulah shalat 5 waktu, pahalanya seperti 50 waktu.
Karena itu jamaah yang dimuliakan Allah, jagalah shalat. Ini adalah amanah dari Allah dan Rasul-Nya. Hingga menjelang wafat, Rasulullah tetap mengingatkan,
الصَّلاةَ وما ملَكَت أيمانُكم، الصَّلاةَ وما مَلَكت أيمانُكم.
“Aku ingatkan kalian tentang shalat dan hamba sahaya yang kalian miliki. Aku ingatkan kalian tentang shalat dan hamba sahaya yang kalian miliki.” (HR. Ath-Thabrani 13812).
Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita untuk senantiasa menjaga shalat kita. mengingatkan anak-anak dan keluarga kita agar senantiasa menjaga shalat.
﴿إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56]، وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا» [رَوَاهُ مُسْلِم].
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم ، وَاجْعَلْهُمْ رَأْفَةً عَلَى عِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ
اللَّهمَّ نَسألُكَ حُبَّكَ ، وحَبَّ مَن يُحِبُّكَ ، وحُبًّا يُبَلِّغُني حُبَّكَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا ، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيمَانِ ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ
عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، ) وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ ( .

