Khutbah Pertama:

إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مُضل له، ومن يُضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: 102]، أما بعد:

فإن أحسن الكلام كلام الله، وخير الهدي هدي محمد -صلى الله عليه وسلم- وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة.

Ibadallah,

Setiap orang yang melepaskan satu kata dari mulutnya, satu kata itu pasti akan dihisab. Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [Quran Qaf: 18]

Ucapan yang baik dan lurus akan mengangkat derajat pengucapnya ke tingkatan yang tinggi. Sedangkan ucapan yang buruk dan tercela akan menjatuhkan pengucapnya ke tingkatan yang rendah. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya waspada dan memerhatikan lisannya. Mengoreksinya. Dan merenungkan keadaannya hasil dari ucapannya.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وإن العبد ليتكلم بالكلمة لا يُلقي لها بالًا تهوي به سبعينًا خريفًا في النار

“Sesungguhnya ada seseorang yang berkata dengan suatu perkataan yang dia anggap remeh, namun akibatnya dilemparkan ke neraka sedalam 70 tahun.”

Pada kesempatan yang singkat ini, khotib menasihatkan pada diri khotib pribadi dan jamaah sekalian tentang beberapa ucapan keliru yang bersinggungan dengan akidah.

Pertama: Mencela Allah Rabbul ‘alamin Subhanahu wa Ta’ala. Atau merendahkan-Nya. Atau merendahkan agama Islam.

Ucapan seperti ini tersebar di tengah kaum muslimin. Saat ia marah dengan kemarahan yang bukan berasal dari seseorang, lalu ia mencela Allah Ta’ala. Atau dia melaknat agama Islam. Atau ucapan-ucapan lainnya. Kemudian ia berkata, “Saya kafir sekarang.” Ia ulangi ucapannya dua atau tiga kali. Seakan ia mengatakan suatu ucapan yang ringan. Bukan ucapan yang membinasakan.

Tidakkah ia tahu, orang ini dengan ucapannya itu telah membuat seluruh amalannya terhapus. Dan dia sendiri menjebeloskan dirinya ke neraka. Sebuah tempat yang tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang celaka. Ia halangi dirinya sendiri dari surga. Padahal surga itu luasnya seluas langit dan bumi. Ia telah kufur padahal sebelum seorang muslim. Murtad setelah sebelumnya beriman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [Quran At-Taubah: 65-66].

Orang-orang seperti ini mengucapkan kalimat ejekan dan hinaan karena bergurau saja. karena ia mengatakan, “Kami hanya main-main saja.” Dan Allah tidak membantah ucapan mereka bahwa mereka hanya bergurau. Namun Allah menjelaskan walaupun mereka mencela Allah, syariat-Nya, dan Rasul-Nya dalam keadaan bergurau, mereka telah murtad keluar dari agama. Mereka telah kufur setelah beriman.

Karena itu, bertakwalah kepada Allah dalam setiap kata yang keluar dari lisan kita. Dan ia didik dirinya dan anak-anaknya agar dapat mengontro lisan kita. Betapa cepat tersebarnya kebatilan. Terutama di era sosial media saat ini. Melalui youtube, whatsap, twitter, dan lain-lain.

Kedua: Mengucapkan kata Dan antara Allah dan hamba-Nya dalam permasalahan takdir.

Tidak dibenarkan seseorang mengatakan, “Saya berharap kepadamu dan kepada Allah.” Atau “Karena Allah dan karena si Fulan.” Dan kalimat-kalimat yang lain. Karena kata Dan dalam kalimat-kalimat seperti ini berarti penyetaraan antara Allah dan makhluknya. Dan dalam bahasa Indonesia, kita mengenal ada kalimat setara dan ada kalimat bertingkat. Sampai dalam ucapan pun kita tidak boleh menyetarakan antara Allah dan makhluknya.

Diriwayatkan oleh an-Nasai dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu.

أن رجلًا قال للنبي -صلى الله عليه وسلم-: ما شاء الله وشئت. فقال -صلى الله عليه وسلم-: «أجعلتني لله ندًا؟ قلت ما شاء الله وحده

“Bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam : “Atas kehendak Allah dan kehendakmu. Maka ketika itu bersabdalah beliau: Apakah kamu menjadikan diriku sebagai sekutu bagi Allah ? Hanya atas kehendak Allah saja. [HR. An-Nasai]

Hukum ucapan seperti ini adalah syirik kecil.

Ketiga: bersumpa dengan menyebut selain Allah.

Di antara yang sering diucapkan seseorang adalah bersumpah dengan nama bapaknya, “demi bapak saya.” Atau menyebut nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “demi Rasulullah”. Atau dengan menyebut “Demi Ka’bah.” Dll. ucapan sumpah seperti ini termasuk syirik kecil. Dan syirik kecil adalah dosa besar.

Sumpah itu tidak boleh diucapkan kecuali dengan menyebut nama Allah. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang bersumpah dengan menyebut nama ayahnya. Kemudian beliau merespon,

أَلاَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

“Ingatlah bahwa sesungguhnya Allah l melarang kalian bersumpah atas nama ayah-ayah kalian, maka barangsiapa bersumpah hendaklah dia bersumpah atas nama Allah atau hendaklah dia diam.” [HR. Muslim].

Dalam hadits riwayat at-Turmudzi, Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa bersumpah atas nama selain Allah, maka sungguh dia telah mempersekutukan Allah.” [HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim]

Keempat: seseorang mengatakan, “Aku minta kepada Allah agar berbuat zalim kepadamu sebagaimana engkau telah zalim kepadaku.” Atau “Sebagaimana engkau mengkhianatiku. Semoga Allah mengkhianatimu.” Ini adalah kesalahan besar. Karena Allah mengharamkan atas dirinya sendiri perbuatan zalim. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَداً

“Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” [Quran Al-Kahfi: 49]

Kelima: mencela waktu, cuaca, keadaan (miskin, kaya, musibah, dll), musim, dan sejenisnya.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Anak Adam telah menyakiti-Ku (karena) dia suka mencela waktu (masa). Padahal Aku-lah pencipta (pengatur) masa. Aku-lah yang menggilir antara siang dan malam”.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Betapa banyak saat ini orang-orang mencela masa seperti ini. Terlebih para penyair dan pembuat lagu. Dan orang-orang semisal mereka.

Keenam: ucapan insyaallah saat berdoa.

Sebagian orang berkata, “Aku meohon kepada Allah agar mengampuni kita insyaallah (jikalau Allah mengehendaki). Atau menerima taubat kita insyaallah. Ucapan ini haram hukumnya. Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Abdil Bar rahimahullah ketika menyebut hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

لا يقل أحدكم: اللهم اغفر لي إن شئت، اللهم ارحمني إن شئت، وليعزم المسألة، وليُعظم الرغبة، فإن الله لا يتعاظمه شيء أعطاه».

Janganlah kalian berdoa dengan mengatakan: ” Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki, atau berdoa ” Ya Allah limpahkanlah rahmat-Mu jika Engkau menghendaki ” tetapi hendaklah berkeinginan kuat dalam permohonannya itu, karena sesungguhnya Allah tiada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.

Ucapan insyaallah itu diucapkan pada sesuatu yang akan dilakukan di masa mendatang. Seperti seorang mengatakan, “Saya akan datang ke rumahmu insyaallah.” Atau “Saya akan melakukan ini insyaallah.” Seperti firman Allah Ta’ala,

وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَداً * إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. [Quran Al-Kahfi: 23-24]

Adapun doa, maka tidak tepat disertakan ucapan insyaallah. Bahkan wajib bagi kita tatkala berdoa, mengucapkannya penuh dengan keyakinan dan harapan besar. Karena tidak ada yang memaksa Allah untuk memberikan sesuatu kepada kita.

Saudara-saudaraku seiman,

Sebenarnya masih banyak ucapan-ucapan yang haram seperti ini, yang tersebar di tengah masyarakat. Namun yang khotib sebutkan ini adalah beberapa di antaranya.

اللهم يا من لا إله إلا أنت، اعصم ألسنتنا وأعمالنا وأفعالنا عما يُسخطك يا رب العالمين.

اللهم أحينا على التوحيد والسنة، وأمتنا على ذلك، واجعلنا نلقاك راضيًا عنا.

Khutbah Kedua:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد:

Ibadallah,

Lafadz-lafadz yang menyelisihi syariat dan menyelisihi tauhid sangatlah banyak. Dan tersebar di tengah kaum muslimin. Obatnya tidak ada melainkan seorang muslim harus mempelajari agamanya. Sebenarnya waktu yang kita miliki ini banyak. Hanya saja tidak ada keinginan dan prioritas. Jamaah sekalian bisa melihat sendiri betapa banyak orang-orang yang sempat mengikuti berita perkembangan politik. Ada pula yang membuang-buang waktunya dengan facebook, youtube, dan Instagram tanpa tujuan yang jelas. Namun kalau diajak untuk mengaji agama mereka, mereka berkata sibuk. Mereka tidak peduli dengan agama mereka. Tidak peduli kalau tidak mengerti tuntunan hidup mereka.

Ini merupakan kesalahan besar. Wajib bagi kita untuk mempelajari agama kita ini. Dengan mempelajari agama ini kita tidak terjatuh pada ucapan dan perbuatan yang dilarang tanpa kita sadari.

Ketauhilah! Mempelajari ilmu agama ini lebih utama daripada melakukan ketataan lainnya. Karena mempelajari agama itu sendiri adalah ibadah yang agung. Yang menjadi sebab kita selamat dari apa yang Allah haramkan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga” [HR. At Tirmidzi dan Abu Daud]

Ibadallah,

Wajib bagi kita untuk saling menasihati dan menampakkan syiar syariat kita ini. Wajib bagi kita beramar makruf dan nahi mungkar.

Ketujuh: termasuk juga kesalahan yang tersebar di masyarakat adalah apabila ada seseorang yang menegurnya karena suatu perbuatan, ia jawab, “Yang paling penting adalah hati. Jangan kau nilai saya dari ucapanku. Tapi hatiku.”

Tentu saja, hati adalah perkara utama. Anggota badan dan lisan itu mengikuti hati. Namun kita ini juga dihisab dengan apa yang kita ucapkan dan yang kita perbuat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وإن العبد ليتكلم بالكلمة لا يُلقي لها بالًا تهوي به سبعينًا خريفًا في النار

“Sesungguhnya ada seseorang yang berkata dengan suatu perkataan yang dia anggap remeh, namun akibatnya dilemparkan ke neraka sedalam 70 tahun.”

Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وأعمالكم

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada tubuh kalian dan juga tidak melihat pada wajah kalian, tetapi Dia melihat pada hati kalian dan amal kalian.” [HR Muslim]

Artinya, kita juga mendapat hukuman akibat dari perbuatan dan ucapan kita. Tidak benar seseorang berargumen atas kesalahan perbuatan dan ucapannya, tapi hatinya bersih dan tulus. Tidak benar kalau hati saja yang dimintai pertanggung-jawaban. Kalau hatinya tulus dan bersih, pastilah lisan dan perbuatannya tidak salah. Tidak jatuh pada apa yang Allah haramkan. Artinya, saat ucapan dan perbuatan Anda salah, ada kesalahan juga pada hati Anda. Karena kalau hati seseorang baik, akan baik pula anggota badannya.

اللهم يا من لا إله إلا أنت، يا رحمن يا رحيم، يا ذا الجلال والإكرام، اللهم أحينا على التوحيد والسنة، اللهم علمنا ما ينفعنا، اللهم انفعنا بما علمتنا، اللهم احفظ علينا ديننا وأمننا يا رب العالمين.

اللهم أعز الإسلام والمسلمين، اللهم عليك بالكفرة والرافضة يا قوي يا عزيز، اللهم كن لجنودنا جنود التوحيد نصيرًا ومُعينًا يا أرحم الراحمين، اللهم تقبل شهداءهم وأعظم أجر جرحاهم، يا أرحم الراحمين، واجبر مصابهم ومصاب أهليهم ومصاب أهل السنة فيهم يا رب العالمين.

اللهم وفق ملكنا وولي عهده أن يعزوا دينك، وأن يُعلوا كلمتك، وأن يكونوا رحمة على المسلمين يا رب العالمين، وجميع حكام المسلمين يا حي يا قيوم.

وقوموا إلى صلاتكم يرحمكم الله.

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Dr. Abdul Aziz ar-Rays hafizhahullah

Oleh tim khotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email