Print Friendly, PDF & Email

Khutbah Pertama:

إنّ الحمد لله ؛ نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا , من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إلـٰه إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أنّ محمّدًا عبده ورسوله وصفيه وخليله وأمينه على وحيه ومُبلِّغ الناس شرعَه ؛ فصلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وصحبه أجمعين .

أمّا بعد معاشرَ المؤمنين عبَادَ الله :

Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan menjaganya dan menunjukinya pada perkara terbaik dalam urusan dunia dan akhiratnya. Takwa kepada Allah adalah mengerjakan amalan ketaatan berdasarkan apa yang Allah perintahkan dengan berharap pahala dari-Nya. Dan meninggalkan perbuatan dosa berdasarkan keterangan dari Allah dengan perasaan takut akan adzab-Nya.

Ma’asyiral mukminin,

Bukan rahasia bagi seorang muslim bahwa iman itu memiliki kedudukan yang tinggi dan derajat yang agung. Iman merupakan puncak pencapaian, semulia-mulianya tujuan, dan cita-cita yang luhur. Dengan keimanan, seseorang akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ia tidak akan merasakan derita yang abadi. Dengan keimanan, seseorang mendapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia tidak akan murka kepada orang-orang yang beriman. Dengan keimanan, seseorang mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Di dalam surga itu terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telingan, dan tidak mampu logika manusia menghayalkan keindahannya. Dengan keimanan, seseorang akan mendapatk kenikmatan yang agung. Seorang mukmin akan mendapat nikmat terbesar di surga, yaitu memandang wajah Allah ﷻ. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ untuk orang-orang yang beriman:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ

“Kalian akan melihat Rabb kalian, sebagaimana kalian meliha rembulan ini. Kalian tidak merasa kesulitan saat melihatnya.”

Dengan keimanan, seorang hamba terbebas dari neraka dan murka Allah al-Jabbar. Buah keimanan itu tidak terhitung jumlahnya.

Ma’asyiral mukminin,

Iman adalah pohon yang penuh berkah. Buah kebaikan yang banyak. Iman memiliki pokok yang kokoh dan cabang-cabang yang banyak.

﴿ أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَـيِّـبَـةً كَشَجَرةٍ طَـيِّـبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّـهَا وَيَضْرِبُ اللهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ﴾

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS:Ibrahim | Ayat: 24-25).

Ibadallah,

Iman itu tidak ada wujudnya kecuali ditegakkan dengan pokok-pokok dan rukun-rukunnya. Apabila rukunnya hilang, maka keimanan tidak akan ada. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

﴿وَمَن يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴾

“Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.” (QS:Al-Maidah | Ayat: 5).

Allah Ta’ala juga menjelaskan rukun-rukun iman yang agung yang menjadi sebab adanya keimanan:

﴿ لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْـيَـوْمِ الآخِـرِ وَالْمَـلَآئِـكَـةِ وَالْـكِـتَـابِ وَالـنَّبِـيِّـينَ ﴾

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 177).

Allah ﷻ berfirman,

﴿ يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ ءَامِنُواْ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِيَ أَنزَلَ مِن قَـبْـلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 136).

Dan firman Allah ﷻ,

﴿ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلَآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ ﴾

“(Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 285).

Ibadallah,

Iman itu diwujudkan dalam amalan shaleh dan ketaatan yang mendekatkan diri seseorang kepada Rabbul ardhi wa as-samawat. Dan amal yang paling agung kedudukannya dalam Islam adalah sebagaimana yang disebutkan Nabi ﷺ. Ada amalan yang disebut sebagai bangunan Islam.

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Islam itu dibangun di atas lima perkara: bersyahat bahwa tidak sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Menegakkan shalat. Menunaikan zakat. Berpuasa di bulan Ramadhan. Dan haji ke Baitullah.”

Ibadallah,

Iman itu meliputi amalan hati, amalan anggota badan, dan ucapan lisan. Nabi ﷺ bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، أَعْلاهَا شَهَادَةُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu terdiri dari tujuh puluh sekian cabang. Cabang paling tinggi adalah syahadat laa ilaaha illallaah. Dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Rasa malu juga merupakan cabang keimanan.”

Bentuk keimanan juga adalah mencintai Rasulullah ﷺ dengan kecintaan yang jujur. Yaitu kecintaan yang melahirkan sikap mengikuti beliau. Mengambil petunjuk beliau ﷺ. Beliau ﷺ bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak beriman dengan sempurna salah seorang di antara kalian sampai aku menjadi orang yang paling ia cintai. Lebih dari cinta kepada orang tua, anak, dan seluruh manusia.”

Nabi ﷺ juga bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ : أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

““Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu : Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, dia mencintai saudaranya, tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia benci kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api.”

Di antara bentuk keimanan adalah dengan hati. Yaitu orang-orang yang beriman saling mencintai dan berkasih sayang.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.”

Nabi ﷺ bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan.”

Di antara wujud keimanan dengan hati adalah seseorang menjaga amanah. Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda,

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ

“Tidak ada iman bagi mereka yang tak memiliki amanah.”

Amalan lisan adalah ucapan yang baik yang dilafadzkan oleh lisan. Seperti: membaca Alquran, berdzikir mengingat Allah ﷻ, amar makruf nahi mungkar, berdakwah, semua ini disebut keimanan.

Ibadallah,

Keimanan itu, selain berbentuk mengerjakan amal ketaatan yang mendekatkan diri kepada Allah, iman juga berbentuk meninggalkan yang diharamkan. Seperti: perbuatan-perbuatan yang haram, berdosa, dan membinasakan. Nabi ﷺ bersabda,

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ أَبْصَارَهُمْ فِيهَا حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah berzina seorang pezina, ketika berzina ia dalam keadaan beriman, tidaklah seorang pencuri, ketika ia mencuri dalam beriman, tidaklah seorang peminum khamr, ketika ia meminumnya ia dalam keadaan beriman, tidaklah seorang yang menjarah suatu jarahan yang berharga yang disaksikan oleh manusia, ketika ia menjarahnya dalam keadaan beriman.”

Ibadallah,

Dan keimanan harus dijaga keistiqomahannya dalam menaati Allah. Dan menjauhkan diri dari hal-hala yang memalingkan dan menghalangi seseorang dari keimanan. Nabi ﷺ pernah ditanya oleh Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi

قُلْ لِيْ فِيْ اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً , لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًاغَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ , ثُمَّ اسْتَقِمْ . رواه مسلم

“Wahai Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqamahlah.’”

Ibadallah,

Siapa yang Allah muliakan dengan keimanan ini kemudian istiqomah di atasnya hingga wafat, maka ia adalah seorang yang sukses dengan kesuksesan besar. Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّـنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَـتَنَـزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِـيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (QS:Fushshilat | Ayat: 30-31)

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذِّكر الحكيم . أقول هـٰذا القول ، وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كلِّ ذنب فاستغفروه يغفر لكم إنّه هو الغفور الرّحيم .

Khutbah Kedua:

الحمد لله عظيم الإحسان واسع الفضل والجود والامتنان ، وأشهد أن لا إلـٰه إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه أجمعين .

أمّا بعد عباد الله : اتقوا الله تعالى ،

Ibadallah,

Ketauhilah bahwa keimanan ini butuh diperhatikan dan dijaga. Dengan perhatian dan penjagaan yang terus-menerus. Karena keimanan ini pasti berhadapan dengan hal-hal yang merusaknya dan memalingkannya. Sehingga membuat imannya lemah bahkan hilang dari hatinya. Ada sebuah riwayat dalam al-Mustadrak karya al-Hakim, Mu’jam ath-Thabrani, dll, hadits dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْب ، فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدُ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ

“Sesungguhnya iman yang ada dalam hati salah seorang kalian bisa rusak sebagaimana baju bisa rusak, maka mohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman dalam kalbu kalian.”

Maksud dari sabda beliau “iman yang ada dalam hati salah seorang kalian bisa rusak” adalah iman itu bisa melemah dan rusak. Karena saat hidup, manusia menghadapi ujian dan fitnah yang bermacam-macam. Manusia menemui hal-hal yang dapat memalingkan mereka dari agama Allah dan mengamalkannya.

Oleh karena itu, hendaknya kita terus membenahi keimanan kita dengan memohon pertolongan Rabb kita. Kita memohon kepada Allah ﷻ agar senantiasa memperbarui iman di hati kita. Agar Dia memperindah keimanan kita. Dalam sebuah doa, Nabi ﷺ mengucapkan,

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ

“Ya Allah hiasilah kami dengan perhiasan iman.”

Dan Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ(7) فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴾

“Tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS:Al-Hujuraat | Ayat: 7-8).

عباد الله : يقول الله جلّ وعلا : ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، ويقول عَلَيْه الصَّلاةُ وَالسَّلامُ : (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) . اللهم صلِّ على محمد وعلى آل محمد كما صلّيت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنّك حميد مجيد ، وبارك على محمد وعلى آل محمد، كما باركت على إبراهيم وآل إبراهيم إنّك حميد مجيد . وارض اللّٰهم عن الخلفاء الراشدين الأئمة المهديين ؛ أبي بكر الصديق ، وعمر الفاروق ، وعثمان ذي النُّورين ، وأبي الحسنين عليّ ، وارض اللّٰهم عن الصَّحابة أجمعين وعن التَّابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدِّين وعنّا معهم بمَنِّك وكرمك وإحسانك يا أكرم الأكرمين.

اللّٰهم أعزّ الإسلام والمسلمين ، وأذل الشرك والمشركين ، ودمِّر أعداء الدين ، واحم حوزة الدين يا رب العالمين. اللّٰهم آمنا في أوطاننا وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا , اللّٰهم من أرادنا أو أراد بلادنا أو أراد مقدّساتنا أو أراد ولاة أمرنا وعلماءنا بسوء فأشغله في نفسه ، ورُدَّ كيده في نحره يا ذا الجلال والإكرام . اللّٰهم وفِّق وليَّ أمرنا لهُداك ، واجعل عمله في رضاك ، وأعنه على طاعتك يا حي يا قيوم.

اللّٰهم آت نفوسنا تقواها ، زكِّها أنت خير من زكاها ، أنت وليها ومولاها ، اللّٰهم زيِّنا بزينة الإيمان واجعلنا هداةً مهتدين. اللّٰهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا ، وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشُنا ، وأصلح لنا آخرتنا التي فيها معادنا ، واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير ، والموت راحة لنا من كل شر. اللّٰهم أصلح ذات بيننا ، وألِّف بين قلوبنا ، واهدنا سُبل السلام ، وأخرجنا من الظلمات إلى النور ، وبارك لنا في أسماعنا وأبصارنا وأزواجنا وذرّيّاتنا وأموالنا وأوقاتنا واجعلنا مباركين أينما كنا. اللّٰهم اغفر لنا ولوالدينا ولمشايخنا وللمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات ، ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار .

عباد الله : اذكروا الله يذكركم ، واشكروه على نعمه يزدكم ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr
Judul asli: Washful Iman wa Bayanu Haqiqatihi
Penerjemah: Tim KhotbahJumat.com

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published.