Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: 102].

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾ [النساء: 1].

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾ [الأحزاب: 70، 71].

أَمَّا بَعْدُ:

فَأُوْصِيْكُمْ – أَيُّهَا النَّاسُ – بِالتَقْوَى؛ فَهِيَ السَعَادَةُ فِي الدُّنْيَا، وَالنَّجَاةُ فِي الأُخْرَى، ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ﴾ [الأنفال: 29].

Ibadallah,

Sesungguhnya Allah telah memilih Nabi kita Muhammad ﷺ dari semua manusia dan semua makhluk-Nya. Dia mengutus beliau sebagai rahmat bagi sekalian alam. Penutup para nabi dan rasul. Sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Menyeru kepada Allah atas izin-Nya. Dan sebagai lentera yang menerangi hamba-hamba-Na.

Allah ﷻ memilih-Nya dengan segala kemuliaannya. Dengan segala keutamannya dalam kurun waktu dan tempat. Allah ﷻ mensucikannya dengan sifat dan akhlak yang paling utama. Allah ﷻ melebihkannya disbanding semua makhluk-Nya. Allah ﷻ melapangkan dadanya. Memujinya, mensucikannya dari segala dosa, dan memilihnya dibanding segala apa yang ada.

Allah memilihnya dari sisi pemikirannya yang lurus. Allah ﷻ berfirman,

﴿مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى﴾

“kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.” (QS:An-Najm | Ayat: 2).

Allah ﷻ memilihnya karena kemuliaan akhlaknya. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ﴾

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS:Al-Qalam | Ayat: 4).

Allah ﷻ memilihnya karena kelembutannya. Allah ﷻ berfirman,

﴿بِالمؤمِنينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ﴾

“amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS:At-Taubah | Ayat: 128).

Allah ﷻ memilihnya karena ilmunya. Allah ﷻ berfirman,

﴿عَلَّمَهُ شَديدٌ القُوىَ﴾

“yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (QS:An-Najm | Ayat: 5).

Allah ﷻ memilihnya karena kejujurannya. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَا يَنطِقُ عَن الهوىَ﴾

“dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.” (QS:An-Najm | Ayat: 3).

Allah memilihnya karena kelapangan dadanya. Allah ﷻ berfirman,

﴿أَلم نَشْرح لَكَ صَدْرَكَ﴾

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS:Alam Nasyrah | Ayat: 1).

Allah ﷻ memilihnya karena kesucian hatinya. Allah ﷻ berfirman,

﴿مَا كَذَبَ الفُؤادُ مَا رَأىَ﴾

“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (QS:An-Najm | Ayat: 11).

Allah ﷻ memilihnya karena kemuliaannya. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَرَفعنَا لَكَ ذكْرَكَ﴾

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS:Alam Nasyrah | Ayat: 4).

Allah ﷻ memilihnya karena keridhaannya. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى﴾

“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.” (QS:Adh-Dhuhaa | Ayat: 5).

Allah ﷻ menyandingkan ketaatan kepada beliau ﷺ dengan ketaatan kepada-Nya. Mencintai Nabi itu adalah mencintainya. Tidak boleh beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya kecuali dengan apa yang disyariatkan melalui lisan Nabi Muhammad ﷺ. Tidak ada jalan menuju surga kecuali jalan yang ditempuhnya. Nabi Muhammad ﷺ adalah sebab atau wasilah hidayah manusia dan keberhasilan mereka. Beliau ﷺ adalah pemilik syafaat al-kubra. Yaitu pada hari seseorang lari dari saudaranya, ibunya, ayahnya, teman-teman, dan anak-anaknya.

Dalam fitrah pikiran yang bersih dan akal yang lurus, pasti akan mencintai sifat-sifat dan akhlak-akhlak beliau ﷺ yang telah khotib sebutkan tadi. Nabi ﷺ menghimpun semua kebaikan. Mencintainya adalah suatu kewajiban. Mencintainya adalah syarat keimanan. Allah ﷻ berfirman,

﴿قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ﴾

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS:Ali Imran | Ayat: 31).

Dan firman-Nya,

﴿قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ﴾

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS:At-Taubah | Ayat: 24).

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah mengatakan, “Cukuplah keutamaan, peringatan, dan petunjuk ini sebagai dalil wajibnya mencintai Nabi ﷺ, seriusnya permasalahan ini, dan itu merupakan hak beliau ﷺ. Allah ﷻ menetapkan ancaman bagi orang yang lebih mencintai hartanya, istrinya, dan anaknya, daripada Allah dan Rasul-Nya. Allah ﷻ sebutkan dalam firman-Nya,

﴿فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ﴾

“maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS:At-Taubah | Ayat: 24).

Kemudian Allah ﷻ memvonis fasiq orang-orang yang demikian. Dia menutup ayat tersebut dengan kalimat,

﴿وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ﴾

“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS:At-Taubah | Ayat: 24).

Dalam Shahih al-Bukhari, dari Abdullah bin Hisyam radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ – صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! لَأَنْتَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِيْ، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ؛ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ يَا عُمَرُ»، فَبَادَرَ عُمَرُ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – فَقَالَ: فَإِنَّهُ الآنَ وَاللهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ، فَقَالَ النَبِيُّ – صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «اَلْآنَ يَا عُمَرُ»

“Kami pernah bersama Nabi ﷺ yang saat itu sedang memegang tangan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Umar berkata kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, sungguh Anda lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Kemudian Nabi ﷺ menanggapi, “Tidak, demi Dzat yang jiwaku ini berada di tangan-Nya, sampai engkau menjadikan aku orang yang paling engkau cintai melebihi dirimu sendiri wahai Umar.” Umar radhiallahu ‘anhu segera mengatakan, “Sesungguhnya sekarang, demi Allah, Anda adalah orang yang paling aku cintai melebihi dari diriku sendiri.” Nabi ﷺ menjawab, “Sekarang (telah sempurna keimanan) wahai Umar.”

Dari Anas radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ»؛ رواه البخاري

“Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari).

Ini adalah dalil bahwasanya mencintai Nabi adalah pokok keimanan dan kewajiban syariat. Sebaliknya, membenci beliau ﷺ adalah pembatal keimanan dan rusaknya akidah. Sempurnanya rasa cinta kepada beliau adalah kesempurnaan keimanan. Kekurangan dalam cinta terhadap beliau adalah tidak sempurnanya keimanan.

Ibadallah,

Sesungguhnya mencintai Rasulullah ﷺ adalah amal ketaatan yang mendekatkan seseorang kepada Allah. Membuat seseorang terikat dengan syariat. Cinta tulus dan sejati kepada Nabi ﷺ memiliki tanda-tanda yang tampak. Tanda-tandanya adalah:

Pertama: mengikuti Sunnah beliau ﷺ dan berpegang teguh dengan petunjuknya. Karena konsekuensi dari rasa cinta adalah mengikuti dan sesuai dengan yang dicintai. Allah ﷻ berfirman,

﴿قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS:Ali Imran | Ayat: 31).

Kedua: membela dan menyampaikan sunnahnya.

Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (8) لِّتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS:Al-Fat-h | Ayat: 8-9).

Mengagungkan sunnahnya dengan cara membelanya dan meninggikannya. Menghormatinya dengan cara memuliakan beliau ﷺ.

Para sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum, telah memberikan teladan yang luar biasa dalam permasalahan mencintai nabi dan memuliakan beliau. Rasa cinta dan pengagungan terhadap Nabi ﷺ, memenuhi hati mereka. Rasa cinta kepada Nabi merajai hati mereka. Mencintai beliau ﷺ adalah syiar mereka. Mereka membuktikan rasa cinta itu dengan perkataan dan perbuatan mereka. Mereka dahulukan beliau dari dorongan jiwa mereka.

Lihatlah Abu Thalhah al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Dalam Perang Uhud, ia berdiri menjadi benteng Rasulullah ﷺ. Ia berkata, “Wajahku ini jadi perisai bagi wajah Anda”. Kemudian Rasulullah mengintip, mengangkat kepalanya melihat dari gundukan tanah. Beliau ingin melihat apa yang terjadi. Abu Thalhah mengatakan, “Wahai Nabi Allah, ibu dan ayahku tebusannya, jangan engkau melihat. Panah-panah mereka akan menghujammu. Leherku ini jadi pelindung bagi lehermu.”

Kemudian Abu Dujanah radahillahu ‘anhu, menyerahkan perisainya kepada Rasulullah ﷺ, hingga anak panah menancapi punggunya, hingga pungguhnya penuh dengan panah.

Zaid bin ad-Datsinah dianggat untuk disalib pada sebuah kayu. Orang-orang musyrik berkata kepadanya, “Kami bersumpah atas nama Allah wahai Zaid, apakah kau suka sekiranya Muhammad berada di tangan kami dan dalam posisimu saat ini untuk kami penggal lehernya. Dan kau berada dalam keadaan aman?” Zaid menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku tidak suka jika Muhammad yang sekarang berada di tempatnya, ia ditusuk oleh sebiji duri, sementara aku sedang duduk-duduk bersama keluargaku.”

Semoga shalawa, salam, dan keberkahan dari Allah kepada Nabi kita Muhammad. Dan ridha Allah atas para sahabatnya.

Ibadallah:

Teladan-teladan dari para generasi awal Islam begitu banyak. Kita berharap pembelaan seperti yang mereka lakukan juga terjadi pada umat kita pada hari ini. Hendaknya setiap muslim mengambil pelajaran dari teladan mereka.

Ketiga: memperbanyak shalawat dan salam kepada Nabi ﷺ.

Allah telah memerintahkan yang demikian,

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS:Al-Ahzab | Ayat: 56).

Orang yang paling berhak mendapatkan syafaat Nabi ﷺ pada hari kiamat adalah mereka yang paling banyak shalawat kepada beliau.

Keempat: bercita-cita berjumpa dengan beliau.

Di antara tanda mencintai Nabi ﷺ adalah seseorang rindun ingin berjumpa dengan beliau ﷺ. Berdoa kepada Allah agar berjumpa dengan beliau di atas keimanan. Meminta kepada Allah agar Dia mengumpulkan dirinya bersama Nabi-Nya ﷺ dalam naungan rahmat Allah.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ

“Di antara umatku yang paling mencintaiku adalah orang-orang yang hidup setelahku. Salah seorang dari mereka sangat ingin melihatku, walaupun menebus dengan keluarga dan hartanya.”

Kelima: tidak ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap Nabi ﷺ.

Karena sikap ghuluw bertentangan dengan merindukan dan mengagungkannya. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS:Al-Hasyr | Ayat: 7).

Dari Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah, ‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya)’.” (HR. al-Bukhari).

Keenam: membaca biografinya dan berusaha mengenalnya.

Rasa cinta itu berkonsekuensi seseorang ingin mengenal orang yang ia cintai. Jika ia mengenal, maka ia akan tahu bagaimana perjalanan kehidupannya, sifat, dan akhlaknya. Dengan itu ia bisa mencontohnya. Rasa cinta tidak akan datang tanpa pengenalan. Rasa cinta juga tidak akan datang tanpa membela sunnahnya. Ia tidak akan datang kepada orang yang tidak mengetahui ajaran dan haknya.

Sampai-sampai hewan dan benda-benda pun mengenal Nabi ﷺ. Hal ini tentu menjadi teguran bagi kita yang mengaku cinta kepada beliau tapi tidak mengenalnya. Di masa Nabi ﷺ potongan pohon kurma pernah menangis merindukan beliau. Batu mengucapkan salam kepada beliau. Gunung bergetar karena perasaan cinta dan mengagungkan beliau. Onta-onta berebut ingin yang paling dulu disembelih oleh beliau. Beliau pernah menunjuk bulan, kemudian bulan pun terbelah. Awan berjalan menaungi beliau dari panas. Hal ini semua menunjukkan hewan dan benda-benda itu mengenal beliau. Dan yang demikian terjadi atas izin Allah ﷻ.

Ya Allah, jadikanlah Nabi ﷺ adalah sesuatu yang membuat kami bahagia ketika mengingatnya. Suburkanlah rasa cinta terhadap beliau di hati-hati kami. Jadikanlah rasa cinta kepada beliau lebih besar dari rasa cinta kepada diri kami sendiri dan keluarga kami. Kemudian berilah kami petunjuk untuk mengamalkan perbuatan-perbuatan yang menjadi konsekuensi dari rasa cinta tersebut.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

Ma’asyiral muslimin,

Ketujuh: Di antara bukti kejujuran cinta kepada Nabi ﷺ adalah mencintai apa yang beliau cintai.

Kesamaan dan keserasian dengan yang diidolakan dan dicintai adalah sebagai bukti bahwa ia benar sebagai idola dan cinta kepadanya. Mencintai istri-istri Nabi ﷺ, para sahabatnya, dan keluarganya, adalah kewajiban syariat dan konsekuensi dari cinta kepada Nabi ﷺ. Cara mencintai mereka di antaranya dengan mengamalkan sabda Nabi ﷺ:

لَا تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ

“Jangan kalian cela sahabat-sahabatku.”

Ma’asyira muslimin,

Cinta kepada Rasulullah ﷺ berkaitan dengan cinta kepada Allah dan juga yang datang kepada beliau berupa wahyu dan syariat. Allah ﷻ telah memuliakan Kota Mekah, memilihnya, dan bersumpah atas namanya. Allah ﷻ berfirman,

﴿لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ﴾

“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah).” (QS:Al-Balad | Ayat: 1).

Allah ﷻ memuliakan kota ini. Menjadikan tempat diturunkannya wahyu. Menjadikannya sebagai kiblat kaum muslimin. Dan menjadikan hati-hati umat Islam cinta kepada Kota Mekah. Rasulullah ﷺ mencintai kota Mekah. Beliau tidak mampu menyembunyikan rasa cinta itu sehingga beliau ungkapkan dengan tegas kecintannya. Bahkan beliau ungkapkan dengan kata sumpah. Tidak cukup dengan sumpah, beliau pun menangis ketika bersabda,

والله إنكِّ لأحبُّ البقاع إلَيَّ، ولولا أنِّي أُخرجتُ منكِ ما خرجت

“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bagian bumi yang paling aku cintai. Jika saja aku tidak dikeluarkan darimu, aku tidak akan keluar darimu.”

Wajib bagi kaum muslimin secara umum, untuk mengetahui kedudukan dan kemuliaan Kota Mekah. Bersatu melawan orang-orang yang hendak mengganggunya. Dan bagi rumah itu (Ka’bah) ada pemiliknya yang akan menjaganya.

Wajib bagi umat ini untuk bangikit dan mengambil sikap. Berdiri pada satu barisan. Apabila ada orang-orang yang berusaha merusak keamanannya dan mengganggu kemuliannya dengan memusuhinya.

Kaum muslimin,

Sesungguhnya Mekah telah Allah haramkan dan muliakannya. Besar sekali kejahatan orang-orang yang memusuhinya. Hal ini ditegaskan dalam Alquran. Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS:Al-Hajj | Ayat: 25).

Inilah keistimewaan kemuliaan Kota Mekah. Seseorang dihukum lantara memiliki keinginan yang jahat pada Kota Mekah jika dia berkeinginan kuat, walaupun belum melakukannya.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, “Seseorang yang berkeinginan melakukan keburukan tidak dicatat atasnya. Kecuali seseorang yang jelas-jelas memiliki keinginan membunuh seseorang di sisi rumah ini (Ka’bah), maka Allah akan menimpakan kepadanya adzab yang pedih.”

Kejahatan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah semua kejahatan, bagi orang yang ingin melakukannya, yang melenceng dari kebenaran dan berbuat zhalim.

Oleh karena itu, ketika pasukan gajah berkeinginan menghancurkan Ka’bah, Allah mengirim utnuk mereka burung yang banyak. Burung-burung itu melempari mereka dengan batu dari api. Sehingga mereka seolah-olah menjadi daun-daun yang dimakani ulat.

Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, terdapat sebuah hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ

“Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang, mereka semuanya dibenamkan ke dalam perut bumi dari orang yang pertama hingga orang yang terakhir.”

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, pada tahun pembebasan Kota Mekah, orang-orang Khuza’ah membunuh seorang dari Bani Laits karena peperangan mereka di masa jahiliyah. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ  الفِيلَ، وَسَلَّطَ عَلَيْهِمْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالمُؤْمِنِينَ ألا وإنها لم تحلَّ لأحدٍ قبلي، ولا تحلُّ لأحدٍ بعدي، ألا وإنها أُحِلَّت لي ساعةً من نهارٍ، ألا وإنها ساعتي هذه حرامٌ، لا يُخْتَلَى شَوكُها، ولا يُعَضَدُ شجرُها، ولا يَلْتَقِطُ ساقطتَها إلا مُنْشِدٌ

“Sesungguhnya Allah melindungi Mekah dari serangan gajah dan Dia jadikan Rasul-Nya dan orang mukmin menguasainya. Ketahuilah sedungguhnya tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku juga bagi seorang pun setelahku. Ketauhilah hal ini hanya dibolehkan kepadaku pada sesaat dalam waktu siang. Ketahuilah sesungguhnya setelah waktuku ini adalah haram. Tidak boleh mematahkan duri yang tumbuh. Tidak boleh menebang pohonnya. Tidak boleh mengambil barang temuan di dalamnya kecuali bagi orang yang mengumumkannya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Ibadallah,

Jauhilah.. jauhilah segala upaya merusak, menyerang, dan memusuhi Ummul Qura, Mekah al-Mukarramah. Kota yang paling dicintai oleh Rasulullah ﷺ. Semoga Allah menjaga Mekah dari setiap orang-orang yang memusuhinya. Dari setiap setan yang terkutuk. Yang mereka ingin menimbulkan kekacauan di tanah kaum muslimin. Allah akan mengembalikan tipu daya mereka kepada mereka sendiri. Allah akan memutus dan menggagalkan usaha mereka.

Ya Allah jagalah Kota Mekah dengan penjagaan-Mu. Ya Allah jagalah Kota Mekah dengan penjagaan-Mu. Peliharalah dengan pemeliharaan-Mu. Ya Allah bagi siapa yang menginginkan keburukan untuk Mekah, sibukkanlah ia dengan dirinya sendiri. Kembalikan keburukannya pada diri mereka sendiri. Jadikan adzab untuk mereka sebagai pelajaran. Wahai Dzat Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

اَللَّهُمَّ احْفَظْ جُنُوْدَنَا المُرَابِطِيْنَ عَلَى الحُدُوْدِ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَاكْلَأَهُمْ بِرِعَايَتِكَ، اَللَّهُمَّ سَدِّدْ رَمْيَهُمْ، وَقَوِّ عَزَائِمَهُمْ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى القَوْمِ الظَّالِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا بِتَوْفِقِيْكَ، وَأَيِّدْهُ بِتَأْيِيْدِكَ، وَأَعِزِّ بِهِ دِيْنَكَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُ وَنَائِبَيْهِ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُ العِبَادِ وَالبِلَادِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ الغَنِيُّ وَنَحْنُ الفُقَرَاءُ، أَنْتَ الغَنِيُّ وَنَحْنُ الفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِيْنِ، اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ القَانِطِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ القَانِطِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْئًا مُرِيْعًا، سَحًّا غَدَقًا طَبَقًا مُجَلِّلاً، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ تُحْيِي بِهِ البِلَادَ، وَتَجْعَلُهُ بَلَاغًا لِلْحَاضِرِ وَالْبَادِ، اَللَّهُمَّ تُحْيِي بِهِ البِلَادَ، وَتَجْعَلُهُ بَلَاغًا لِلْحَاضِرِ وَالبَادِ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا.

اَللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبِهَائِمَكَ، اَللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبِهَائِمَكَ، وَاْنشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأُحْيِي بَلَدَكَ المَيِّتِ، بِرَحٍمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ:

صَلُّوْا وَسَلِّمُوا عَلَى مَنْ أَمَرَكُمُ اللهُ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَيْهِ، فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِيْ بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bu’ayjan (imam dan khotib Masjid an-Nabawi)
Judul asli: Mahabbatun Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.
Tanggal: 4 Shafar 1438 H
Diterjemahkan oleh tim KhotbahJumat.com

Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.