Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى فَضْلِهِ الدَائِمِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ العِظَائِمِ.

لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا نَسْتَلَذُّ بِهِ ذِكْرًا   وَإِنَّهُ لَا نُحْصِي ثَنَاءً وَلَا شُكْرًا

لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا سَرْمَدِيًّا مُبَارَكًا   يَقِلُّ مِدَادُ البَحْرِ عَنْ كُنهِهِ حَصْرًا

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَرَعَ أَرْكَانَ الإِسْلَامِ عَلَى أَثْبَتِ الدَعَائِمَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ رَفَعَ اللهُ بِهِ مَنَارَ الحَقِّ وَنَكَّسَ أَعْلَامَ ذَوِيْ الجَرَائِمِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَئِمَةِ الهُدَى لِكُلِّ مُرِيْدٍ رَائِمٍ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ فِي بَدِيْعِ الشَمَائِلِ وَأَسْمَى الكَرَائِمِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا دَائِمًا دِيَمَ الغَمَائِمِ.

أَمَّا بَعْدُ:

Ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah. Bersegeralah menyibukkan diri dengan kebaikan di musim-musim kebaikan.

﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى﴾

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 197).

Pada bulan ini, bulan Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah, terkumpul banyak kebaikan. Kerjakanlah dengan sungguh-sungguh. Bertakwalah kepada Allah dalam keadaan menyendiri atau di tengah keramaian. Hal itu akan menyebabkan seseorang dimasukkan ke surga yang kekal. Sebagai balasan dari Allah Yang Maha Mulia.

Bersungguh-sungguhlah kaum muslimin untuk mengangungkan syiar dan syariat Allah.

﴿ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ﴾

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi´ar-syi´ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS:Al-Hajj | Ayat: 32).

Ma’asyiral muslimin,

Di antara syariat Allah itu adalah ibadah haji. Sebagai bunga yang cahayanya telah menerangi langit. Malam-malamnya berkilau dan telah terbit cahaya siangnya. Buah dan dampaknya telah memberikan kebaikan dan keberkahan. Keutamaannya begitu membekas di hati para haji. Saat ini telah datang tamu-tamu Allah di Baitullah al-Haram. Kendaraan-kendaaran mereka telah menepi di negeri ini.

Selamat datang kepada para jamaah haji, tamu-tamu ar-Rahman. Kalian datang sebagai tamu mulia dan agung di Mekah al-Mukarramah. Tempat paling suci di bumi. Kalian bertalbiah antara lembah-lembah. Selamat datang kepada saudara-saudara kami dari manapun di bagian bumi yang tersentuh cahaya matahari.

Kalian –jamaah haji di Baitullah al-Haram- di Mekah negeri haram. Tahukah saudara-saudara yang dimaksud Mekah negeri yang haram? Di sinilah Ka’bah tegak dengan agung. Di sinilah Kiblat yang menjadi pemersatu. Di sinilah hidayah Islam itu terbit. Di sinilah kebenaran itu muncul dan tegak. Negeri iman dan aman. Negeri terdapat Baitullah al-Haram. Negeri yang selalu dirindukan oleh jiwa-jiwa yang baik

Wahai sekalian jamaah haji,

Bersyukurlah kepada Allah karena Dia telah memberikan keselamatan hingga tiba di sini. Sampai kepada apa yang dicita-citakan. Bisa hadir di tempat paling mulia. Tempat paling suci. Anda sekalian sedang berada di sisi rumah yang tua (Ka’bah). Di sinilah doa-doa dikabulkan. Dosa-dosa dihapuskan. Pahala-pahala jadi berat di timbangan. Maka sibukkanlah diri Anda dengan dzikir. Ucapkan kalimat talbiyah. Senantiasa mengisi waktu dengan ibadah, kekhusyuan, pengharapan, takut kepada Allah, berdoa, menyeru-Nya, merendahkan diri, dan menitikkan air mata penuh harap. Mohonlah ampun atas dosa-dosa. Berharaplah pemaafan dari Yang Maha Memaafkan lagi Maha Mulia dalam memberi balasan.

Ma’asyiral mukminin,

Negeri ini adalah negeri yang penuh berkah. Allah telah memberinya keistimewaan disbanding negeri-negeri lainnya. Dia beri keutamaan dan keagungan. Di antaranya adalah disebut dengan menisbahkan kepada diri-Nya Yang Maha Tinggi.

﴿وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ﴾

“dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku´ dan sujud.” (QS:Al-Hajj | Ayat: 26).

Dia bersumpah dalam beberapa ayat dalam Alquran dengan menyebut negeri ini. Negeri yang penuh berkah ini juga memiliki beberapa nama. Yang semuanya menunjukkan kemuliaannya. Banyaknya nama dan gelaran yang baik menunjukkan mulianya yang dinamakan itu. Nabi ﷺ bersabda,

«والله إنِّكِ لخيرُ أرضِ اللهِ، وأحبُّ أرضِ اللهِ إلى اللهِ»

“Demi Allah, sungguh engkau (Mekah) sebaik-baik bagian buminya Allah. Dan engkau bagian bumi yang paling Allah cintai.” (HR. at-Turmudzi).

Kaum mukminin,

Negeri yang penuh berkah ini, Allah namakan dengan negeri yang aman dan haram. Ia adalah sebuah daerah aman dan haram hingga hari kiamat. Allah ﷻ berfirman,

﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ﴾

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok.” (QS:Al-‘Ankabuut | Ayat: 67).

Dan firman-Nya,

﴿أَوَلَمْ نُمَكِّن لَّهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ﴾

“Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan).” (QS:Al-Qashash | Ayat: 57).

Dan juga firman-Nya,

﴿وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا﴾

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 125).

Di negeri ini, orang-orang yang bingung dan gelisah menjadi tenang. Orang-orang yang dilanda perpecahan dan perselisihan menjadi aman. Nabi ﷺ bersabda,

«إنَّ هذا البلَدَ حرَّمَهُ اللهُ يومَ خلق السماواتِ والأرضِ، فهو حرامٌ بحُرمَةِ الله إلى يومِ القيامةِ»

“Negeri ini telah Allah haramkan sejak hari ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Maka dia haram (mulia) dengan kemuliaan dari Allah hingga hari kiamat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Inilah tempat yang paling aman. Kemanan yang senantiasa stabil. Mereka yang merusak keamanannya dengan tipu daya diancam dengan adzab yang keras.

﴿وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ﴾

“dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS:Al-Hajj | Ayat: 25).

Ini ancaman bagi mereka yang memiliki keinginan, bagaimana pula bagi mereka yang melakukan aksi nyata?! Tentu lebih mengerikan dan lebih berbahaya.

Ingatlah doa kekasih Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

﴿وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ﴾

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS:Ibrahim | Ayat: 35).

Inilah Mekah al-Mukarramah. Mekah, negeri Islam dan iman. Negeri bersejarah dan agung. Mekah, negeri tauhid, iman, dan aman. Inilah ibunya para ngeri. Dan sebaik-baik tempat di muka bumi.

Kaum muslimin,

Haji adalah ibadah yang agung. Ia memiliki tujuan dan manfaat. Ada adab dan hikmah yang harus dipenuhi oleh jamaah agar mereka mendapatkan haji yang diterima. Agar mereka kembali ke negeri-negeri mereka dengan membawa dampak positif.

Tujuan terpenting dari ibadah ini adalah hendaknya ibadah haji bertujuan merealisasikan tauhid yang murni kepada Allah.

﴿وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا﴾

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun…” (QS:Al-Hajj | Ayat: 26).

Menjauhi segala sesuatu yang menyelisihi Alquran dan Sunnah. Dan menyelisihi segala keyakinan yang tidak ada pada generasi pertama umat ini.

Sungguh telah datang kepada kita suatu pertemuan Islami yang agung. Pertemuan yang penuh pelajaran tentang persatuan dan kesatuan. Pertemuan yang mengajarkan kita agar jauh dari perselisihan dan fanatik, berkelompok-kelompok, menyebarkan isu, dan menghalangi manusia dari jalan kebenaran dengan cara yang dusta.

Hendaknya umat Islam berhati-hati dari isu-isu yang beradar di media masa sekarang. berhati-hati dari fitnah-fitnah dan isu-isu yang butuh penelitian yang mendalam. Butuh kroscek akan kebenarannya. Dan tetap bersatu menghadapinya.

Jadilah Anda orang yang perhatian terhadap apa yang diderita umat ini. Berupa kelemahan dan berpecah. Saling berselisih dan berkelopok. Dari tempat yang penuh berkah ini, dari tempat turunnya wahyu, dan tempat munculnya risalah Islam, lihatlah. Terutama permasalahan akidah dan keimanan. Permasalahan Palestina dan Masjid al-Aqsha yang dijajah. Saat orang-orang Yahudi mengangkat senjata mereka menodai kehormatan Masjid al-Aqsha. Mereka berulang kali melakukan percobaan merusak kehormatannya.

Demikian juga dengan negeri Syam yang penuh kesabaran. Semoga Allah mempercepat kemenagannya. Kemudia bagaimana perhatian kita terhadap muslim Myanmar? Saudara-saudara kita di Irak dan Yaman?

Bukankah tempat-tempat ini memiliki hak juga yang harus ditunaikan oleh umat Islam secara umum? Sekarang kita berada di waktu dan tempat untuk menunaikah kewajiban haji. Jadikanlah ibadah ini titik tolak pemersatu di atas tauhid. Karena syiar Isla itu bersatu bukan berpecah belah. Saling menyayangi bukan saling memusuhi.

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS:Ali Imran | Ayat: 103).

Jamaah haji sekalian,

Betapa bahagianya perasaan jamaah haji dan peziarah Ka’bah ini. peziarah tempat suci yang penuh berkah ini. tempat yang dikelilingi oleh pemuliaan dan penghormatan. Maka, janganlah Anda menumpahkan darah di sini. Jangan menebang pohon-pohonnya. Jangan membuat hewan-hewan lari terburu. Jangan mengambil barang temuan kecuali untuk mengumumkannya. Tidak boleh berbuat sesuatu yang bertentangan dengan tujuan syariat dan manhaj Islam di tempat ini. janganlah berseru kecuali hanya kepada Allah semata. Tidak boleh mengangkat syiar kecuali syiar mentauhidkan Allah dan talbiyah: labbaik Allahumma labbaik, labbaik laa syarika labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarikalak.

Dalam Shahih Muslim terdapat sebuah hadits dari Jabir radhiallahu ‘anhu tentang tata cara haji Nabi ﷺ. Jabir berkata, “Rasulullah ﷺ berihram dengan tauhid.”

Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyakiti atau mengganggu seorang muslim pun saat menunaikan haji. Atau memalingkan tata cara ibadah haji dari yang telah dituntunkan sayyidil mursalin, Rasulullah ﷺ. Haji adalah kewajiban dan ibadah yang suci. Bukan untuk tujuan-tujuan tertentu. Bukan untuk kampanye politik. Bukan untuk mengadakan unjuk rasa dan demonstrasi. Atau untuk mengadakan perdebatan.

﴿الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ﴾

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 197).

Bukan untuk syiar-syiar tertentu selain dari tauhid. Tidak boleh menodai kehormatan dua tanah haram. Tidak boleh melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan syariat. Tidak boleh mengadakan kekacauan dan merusak keamanannya. Atau melakukan bentuk apapun yang dapat menyebabkan kekacauan. Atau sesuatu yang menyelisihi aturan syariat.

Haji adalah kewajiban yang agung. Ia bukanlah syiar politik. Bukan pula seruan dan ajakan kepada kelompok tertentu. Ini adalah perjalanan keimanan. Tujuannya agung. Nilai kandungannya luhur. Ini adalah kesempatan untuk bertaubat kepada Allah dan kembali kepada-Nya. Kesempatan teguh di jalan Allah yang lurus. Jauh dari pemikiran dan keyakinan yang menyimpang. Pemikiran yang menyelisihi manhaj islami.

Manfaatkanlah waktu-waktu ini. jangan kalian sia-siakan untuk berdebat dan mengadakan dokumentasi. Mungkin sebagian Anda tidak memiliki kesempatan untuk mengulang ibadah ini, maka jangan sampai menyesal di saat kemudian.

Ya Allah tambahkanlah keagungan, kemuliaan, dan wibawa pada Rumah-Mu ini. tambahkanlah bagi mereka yang mengangungkan dan memuliakannya dari kalangan jamaah haji dan umrah, kemuliaan, keagungan, dan wibawa pula.

أعوذُ بالله من الشيطان الرجيم: ﴿إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ (96) فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ﴾ [آل عمران: 96، 97].

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS:Ali Imran | Ayat: 96-97).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ وَالسُنَّةِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِمَا مِنَ الآيَاتِ وَالحِكْمَةِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الذُنُوْبِ وَالخَطِيْئَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا رَحِيْمًا.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا لَمْ يَزَلْ فَيَّاحًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَشْرَقَ نُوْرُهَا وَضَّاحًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، أَخْلَصَ الدِيْنَ لِلَّهِ دَعْوَةً وَإِصْلَاحًا، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ مَا تَعَاقَبَتْ الأَزْمَانُ مَسَاءً وَصَبَاحًا، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى اليَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ:

فَاتَّقُوا الله – عِبَادَ اللهِ -، وَأَدُّوْا مَنَاسِكَكُمْ عَلَى وَفْقِ سُنَّةِ المُصْطَفَى – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – القَائِلِ: «خُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ».

Saudaraku kaum muslimin,

Sesungguhnya tujuan agung dan hikmah yang mulia dari disyariatkannya ibadah haji adalah membuat jiwa dan anggota badan tenang. Menghapuskan dosa dan kesalahan. Menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik. Hal inilah yang disabdakan oleh Nabi ﷺ,

« مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»

“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Ketauhilah merupakan fadhilah dari Allah dan besarnya nikmat-Nya adalah stabilnya keadaan dua tanah haram. Sehingga orang-orang yang datang ke sana bisa merasakan suasana keimanan, keamanan, stabil, dan nyaman. Tentu saja hal ini juga –setelah nikmat dari Allah- merupakan jasa dari pemerintah negeri ini yang menetapkan aturan-aturan dan memberikan khidmat yang sungguh-sungguh. Agar supaya tercapai tujuan yang agung ini.

Wahai sekalian jamaah haji,

Jadilah kalian penolong para petugas keamanan. Taatilah peraturan. Cegahlah terjadinya kepadatan dan desak-desakan. Doakanlah mereka yang menjaga perbatasan negeri tanah haram ini.

Saling tolong-menolonglah dengan petugas-petugas di dua tanah suci. Bagi petugas administrasi maupun petugas keamanan. Karena mereka telah bekerja dengan tekun dan kesungguhan. Betapa banyak usaha mereka, upaya mereka untuk mengatur dan menata semuanya untuk berkhidmat kepada kalian jamaah haji. Mereka berlelah-letih untuk kenyamanan kalian. Mereka dermakan diri mereka demi keselamatan kalian.

Jika kalian merasakan suatu kebingungan dalam permasalahan agama dan manasik haji kalian, maka jangan ragu untuk bertanya dan meminta bimbingan pada petugas. Dengan karunia Allah, mereka tersebar di berbagai sudut.

Ibadallah, jamaah haji sekalian,

Jadikanlah akhlak mulia kalian sebagai penolong kalian. Tolonglah yang lemah dan membutuhkan. Beri pengarahan dan bimbingan dengan lemah lembut. Hendaknya kalian bersikap tenang, lemah-lembut, dan kasih sayang. Jauhilah hal-hal yang dapat mengganggu dan berdesak-desakan. Saling tolong-menolonglah. Bersyukurlah kepada Allah Rabb kalian yang telah menyampaikan kalian di Baitullah al-Haram dalam keadaan iman, aman, mudah, dan penuh keselamatan.

Haji adalah ibadah prilaku. Ia merupakan syariat yang menjamin keamanan dan keselamatan. Syiar cinta dan kasih sayang. Syiar persaudaraan dan penjagaan. Bukan perselisihan dan perpecahan.

Semoga Allah menjaga para jamaah haji peziarah Baitullah al-Haram. Melanggengkan keimanan dan rasa aman mereka. Rasa tenang dan nyaman mereka. Menyempurnakan manasik haji mereka dengan mudah. Dan mencatat pahala yang besar. Menjadikan haji mereka haji yang mabrur. Usaha yang diterima. Dosa yang diampuni. Dan mengembalikan mereka kepada keluarga di negeri mereka dalam keadaan selamat dan bahagia. Dalam keadaan mendapat pahala. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Dermawan lagi Mulia.

هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَكُمُ اللهُ – عَلَى النَّبِيِّ المُصْطَفَى، وَالحَبِيْبِ المُجْتَبَى، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ رَبُّكُمْ – جَلَّ وَعَلَا -، فَقَالَ تَعَالَى قَوْلاً كَرِيْمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56]، وَقَالَ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا».

يَا رَبِّ صَلِّ وَسَلِّم كُلَّمَا لَمَعَتْ   كَوَاكِبٌ فِي ظِلَامِ اللَيْلِ وَالسَّحَرِ

وآلِهِ وَجَمِيْعِ الصَحْبِ قَاطِبَةً       الحَائِزِيْنَ بِفَضْلٍ أَحْسَنَ السِّيَرِ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الأَئِمَّةِ الخُلَفَاءِ، اَلْأَرْبَعَةِ الخُلَفَاءِ الحُنَفَاءِ، ذَوِيْ الشَرِفِ الجَلِيِّ، وَالقَدْرِ العَلِيِّ: أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَسَلِّمْ الحُجَّاجَ وَالمُعْتَمِرِيْنَ، وَسَلِّم الحُجَّاجَ وَالمُعْتَمِرِيْنَ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ، وَاجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِنًا مًطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا، وَأَدِمِ الأَمْنَ وَالاِسْتِقْرَارَ فِي رُبُوْعِنَا، وَوَفِّقْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَأَيِّدْ بِالحَقِّ إِمَامَنَا وَوَلِيَّ أَمْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَاصِيَتِهِ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَهَيِّئْ لَهُ البِطَانَةَ الصَّالِحَةَ وَاجْزِهِ خَيْرَ الجَزَاءِ عَلَى مَا قَدَّمَ لِلْحَرَمَيْنِ الشَرِيْفَيْنِ، وَلِلْحُجَّاجِ وَالمُعْتَمِرِيْنَ، وَلِقَضَايَا الإِسْلَامِ وَالمُسْلِمِيْنَ فيِ كُلِّ مَكَانٍ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ رِجَالَ أَمْنِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَاحْفَظْ رِجَالَ أَمْنِنَا، اَللَّهُمَّ اجْزِهِمْ خَيْرًا عَلَى مَا يُقَدِّمُوْنَ لِحِفْظِ أَمْنِ البِلَادِ وَالعِبَادِ، يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا وَجُنُوْدِنَا المُرَابِطِيْنَ عَلَى ثُغُوْرِ حُدُوْدِنَا وَبِلَادِنَا، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ، اَللَّهُمَّ سَدِّدْ رَأْيَهُمْ وَرَمْيَهُمْ، اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَعَافِ جَرْحَاهُمْ، وَارْبِطْ عَلَى قُلُوْبِهِمْ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، يَا ذَا الطَّوْلِ وَالإِنْعَامِ، وَأَتْمِمْ بِالنَّصْرِ وَالتَّمْكِيْنِ، وَاخْلُفْهُمْ فِي أَهْلِيْهِمْ، وَأَمْوَالِهِمْ، وَأَوْلَادِهِمْ بِخَيْرٍ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، وَرُدَّهُمْ سَالِمِيْنَ غَانِمِيْنَ.

اَللَّهُمَ أَنْقِذِ المَسْجِدَ الأَقْصَى، اَللَّهُمَّ أَنْقِذِ المَسْجِدَ الأَقْصَى، اَللَّهُمَّ أَنْقِذِ المَسْجِدَ الأَقْصَى مِنَ الصَهَايِنَةِ المُعْتَدِيْنَ المُحْتَلِّيْنَ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ شَامِخًا عَزِيْزًا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ عَجِّلْ بِالنَّصْرِ وَالتَّمْكِيْنِ لِإِخْوَانِنَا فِي سُوْرِيَا وَفِي بِلَادِ الشَّامِ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ حَالَ إِخْوَانِنَا فِي العِرَاقِ، وَفِي اليَمَنِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَام، وَفِي أَرَاكَانَ، وَفِي بُوْرْمَا، وَغَيْرِهَا يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَوَالِدِيْهِمْ وَجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ.

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾ [البقرة: 201].

﴿سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ (180) وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ (181) وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ [الصافات:180- 182].

Diterjemahkan secara bebas dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais (Imam dan Khotib Masjid al-Haram).
Judul asli: Maqashid al-Hajji
Tanggal: 16 Dzul Qa’dah 1437 H
Diterjemahkan oleh tim KhotbahJumat.com

Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.