Khutbah Pertama:
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Kondisi zaman terus berganti. Kita mengalami zaman lapang dan kemudahan. Dan kita juga mengalami zaman sempit dan susah. Bahkan kita pernah melewati zaman yang sangat susah ketika tersebarnya covid 19. Kematian terasa begitu dekat. Perekonomian hancur. Orang-orang kehilangan lebih dari satu anggota keluarga mereka dalam waktu bersamaan. Ada yang kehilangan pekerjaan. Bahkan banyak orang yang bingung besok akan makan apa.
Alhamdulillah kondisi tersebut kita lewati. Perekonomian bertumbuh. Bahkan kita merasakan banyak kemudahan akibat dampak dari isolasi. Pertemuan-pertemuan bisa dilakukan dengan lebih mudah. Dulu pertemuan, rapat, kursus, bahkan kuliah harus dilakukan secara empat mata. Pasca covid, semua itu bisa dilakukan secara online dan memangkas biaya. Dan kemudahan-kemudahan lainnya.
Saat ini, kita mengalami masa sulit kembali. Orang menyebutnya dengan istilah santai “In Thin Economy”. Tapi kita semua tahu istilah ini artinya kondisi ekonomi sekarang sedang tidak baik-baik saja. inilah sunnatullah. Dialah yang mengganti kondisi manusia. Membuat manusia tidak hanya mengalami satu keadaan dalam kehidupan. Allah Ta’ala berfirman,
وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَآءَ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. [Quran Ali Imran: 140]
Kadang, saat orang mendapat kelapangan, kesehatan, harta yang banyak, dia terkesan seperti orang yang sangat shaleh. Sangat taat. Sangat santun lisannya. Lalu Allah uji ia dengan kesempitan. Apakah ia juga masih shaleh dan taat. Masih meyakini Allah Maha Penyayang, dll. kondisi manusia seperti ini, Allah kisahkan dalam firman-Nya.
فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16)
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu menyempitkan rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. [Quran Al-Fajr: 15-16].
Jamaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Di masa ekonomi sulit saat ini, banyak orang yang overthinking tentang masalah rezeki. Banyak hal pula yang melatar-belakangi overthinking tersebut. Di antaranya terlalu banyak mengonsumsi informasi tentang kondisi ekonomi. Melihat kehidupan mewah di sosial media sehingga takut kalau tidak mendapatkan validasi yang sama. Dan tidak paham konsep rezeki yang Allah tetapkan.
Allah Ta’ala.
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). [Quran Hud: 6]
Mengapa Allah menyebutkan hewan melata bukan manusia? Hewan melata tidak memiliki akal. Mereka juga tidak mendapatkan beban syariat. Apalagi manusia yang memiliki akal. Apalagi manusia yang butuh harta untuk menjalankan perintah dan larangan Allah. Pasti lebih Allah jamin lagi rezekinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan janji Allah Ta’ala tentang rezeki:
إنَّ رُوحَ القُدُسِ نفثَ في رُوعِي ، أنَّ نفسًا لَن تموتَ حتَّى تستكمِلَ أجلَها ، وتستوعِبَ رزقَها ، فاتَّقوا اللهَ ، وأجمِلُوا في الطَّلَبِ ، ولا يَحمِلَنَّ أحدَكم استبطاءُ الرِّزقِ أن يطلُبَه بمَعصيةِ اللهِ ، فإنَّ اللهَ تعالى لا يُنالُ ما عندَه إلَّا بِطاعَتِهِ
“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) mewahyukan pada diriku, manusia tidak akan wafat hingga sempurna jatah usianya dan habis jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah! Perbaguslah cara kalian menjempur rezeki.
Jangan sampai lambatnya datang rezeki membuat kalian menjemputnya dengan cara maksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan didapatkan kecuali dengan ketaatan.” (HR. Ath-Thabrani 8/166).
Di hadits ini, Rasulullah menyamakan rezeki dengan ajal. Selama manusia hidup ia senantiasa beredar di area jatah rezekinya. Terkadang ia dapat kucuran rezeki yang banyak. Terkadang dapat kucuran yang sedikit. Yang jelas, selama jatah rezekinya ada, ia akan tetap hidup. Saat jatah rezekinya habis barulah ia wafat.
Keyakinan seperti inilah yang membuat orang-orang shaleh bisa tegar dalam berbagai kondisi. Bahkan mereka mampu menularkan ketegaran ini pada orang lain. Mereka tularkan sisi positif dari keyakinan yang kuat ini. Mereka mampu menenangkan orang-orang yang berada dalam kebimbangan di masa ketidak-pastian. Karena saat hati tenang, pikiran bisa lebih kreatif dan bekerja lebih baik.
Saat orang-orang curhat kepada Abu Hazim rahimahullah,
وَقِيْلَ لِأَبِيْ حَازِمٍ: قَدْ غَلَا السَعْرُ. قَالَ: وَمَا يَغُمُّكُمْ مِنْ ذَلِكَ؟ إِنَّ الَّذِيْ يَرْزُقُنَا فِي الرُخَصِ يَرْزُقُنَا فِي الغَلَاءِ.
“Harga-harga sanga tinggi saat ini.” Kata mereka. Abu Hazim menjawab, “Mengapa engkau menjadi galau karena hal itu. Sesungguhnya Tuhan yang memberi rezeki kepadamu saat barang-barang murah adalah Tuhan yang sama yang memberi rezeki kepadamu saat barang-barang mahal.”
Jamaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Setelah janji Allah dan Rasul-Nya tersebut, lalu apa yang membuat manusia takut dan khawatir dengan rezekinya? Yang membuat mereka khawatir adalah mereka mempercayai janji si pendusta. Manusia lebih percaya dengan janji setan. Allah Ta’ala berfirman,
ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. [Quran Al-Baqarah: 268]
Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,
قَرَأْتُ فِي تِسْعِيْنَ مَوْضِعًا مِنَ القُرْآنِ أَنَّ اللهَ قَدَّرَ الأَرْزَاقَ وَ ضَمَنَهَا لِخَلْقِهِ ، وَ قَرَأْتُ فِي مَوْضِعٍ وَاحِدٍ : اَلشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الفَقْرَ … فَشَكَكْنَا فِي قَوْلِ الصَّادِقِ فِي تِسْعِيْنَ مَوْضِعاً وَ صَدَقْنَا قَوْلَ الكَاذِبِ فِي مَوْضِعٍ وَاحِدٍ .
“Aku membaca ada 90 ayat di dalam Alquran yang merupakan janji jaminan Allah tentang rezeki makhluk-makhluknya. Di sisi lain, aku hanya dapati satu ayat janji jaminan setan tentang kemiskinan. Namun kita meragukan janji yang Maha Jujur di 90 ayat tersebut. Lalu membenarkan janji setan yang hanya satu ayat.”
Setan menakuti manusia dengan resiko kehidupan bukan resiko akhirat. Selain itu kita memiliki keyakinan setan itu memusuhi kita manusia. Dia sendiri yang memproklamirkan permusuhan tersebut sejak awal munculnya manusia pertama. Setan menyatakan,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya.” [Quran Shad: 82].
Kemudian karakter aslinya adalah pembohong dan pendusta. Seandainya dia teman, namun pembohong, ini saja janjinya sudah tidak kita terima. Ini sudah pembohong plus memusuhi. Tapi manusia lebih percaya dengan janji setan dibanding dengan janji Allah Yang Maha Penyayang.
Catatan berikutnya, seandainya ada dua orang yang berjanji. Yang satu mengulang-ulang janjinya 90x. Yang satu lagi hanya sekali saja menyatakan janjinya. Kira-kira janji mana yang lebih meyakinkan? Yang 90x berjanji atau yang 1 kali berjanji? Tentu yang 90x berjanji. Apalagi yang 90x berjanji ini Yang Maha Benar. Sementara yang sekali berjanji adalah pendusta. Namun sangat sulit meyakinkan seseorang yang terlalu overthinking dengan rezekinya. Logika mereka tertutup walaupun dipaparkan alasan yang sangat logis. Mereka terlalu takut menjalani hidupnya.
Pertanyaannya, mengapa setan menakut-nakuti manusia? Karena saat manusia dalam keadaan takut, setan akan sangat mudah menjerumuskannya. Kalau manusia sudah takut miskin, ia akan mudah digoda untuk korupsi, untuk menipu, untuk transaksi riba, untuk menzalimi dan mengambil hak orang lain, untuk meninggalkan sholat dan terus bekerja, untuk melupakan bakti kepada orang tua dengan alasan sibuk, untuk melanggar hak pasangan dan melalaikan mendidik anak di rumah, dll.
Artinya, saat manusia overthinking masalah rezeki dan melupakan janji Allah tentang rezeki. Melupakan bahwa rezeki sudah Allah atur dengan detil. Tidak peduli dengan konsep rezeki. Siap-siaplah menjadi korban setan.
Demikian sebagai khotbah yang pertama.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا..
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى:
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kondisi ekonomi sulit itu bisa menimpa siapapun. Orang shaleh dan orang ahli maksiat. Demikian juga dengan kekayaan. Kekayaan itu bukan hanya milik pendosa. Orang shaleh tak mungkin bisa kaya. Banyak juga orang-orang taat yang kaya.
Namun kadang orang berpikir biner dan hitam putih. Kalau tidak hitam berarti putih. Cuma dua opsi itu saja. Kalau kita tawakkal berarti kita ga berusaha. Kalau kita sabar berarti malas tidak bekerja. Kalau kita taat berarti hidup susah. Gaya berpikir sempit seperti ini banyak diadopsi masyarakat kita.
Padahal kan bisa, tawakkal tetap berusaha keras. Sabar sekaligus bekerja giat. Shaleh sekaligus kaya raya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak hanya duduk nganggur untuk menyebarkan agama ini. Beliau berusaha. Walaupun disakiti tidak menyerah. Beliau berjihad dengan mengenakan baju besi dua lapis. Beliau berdagang dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Bahkan sebagian sahabat beliau yang paling taat adalah orang-orang kaya. Seperti Utsman bin Affan yang saat wafat meninggalkan uang liquid sebanyak 2, 53 T dan 1000 ekor onta. Zubair bin al-Awwam warisannya 3,54 T, plus aset berupa tanah di Ghabah, 11 rumah di Madinah, 2 rumah di Bashrah, serta masing-masing 1 rumah di Kufah dan Mesir. Abdurrahman bin Auf saat wafat meninggalkan harta 6,21 T, serta ribuan ekor ternak seperti 1.000 unta, 100 kuda, dan 3.000 kambing. Ini baru hitungan kasar dari peninggalan mereka. Ditambah lagi gaya sedekah mereka yang milyar-milyaran sekali sedekah.
Mengapa orang berpikir sempit, kalau menjadi taat tidak bisa kaya. Menjadi tawakkal dan sabar berarti tidak berdaya. Kalau pun ada orang Islam yang kelihatan shaleh dan malas-malasan, itu adalah orang-orang yang menutupi kemalasannya dengan dalil agama.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita menuju jalan yang benar. Berpikir yang benar. Termasuk orang yang bersyukur saat mendapat nikmat. Dan orang yang bersabar saat mendapat ujian.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .
اَللَّهُمَّ أَعِزَ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابِكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنَ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِّدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَالِحَةَ النَاصِحَةَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالمَوْتَ رَاحَةً لَنَا فِي كُلِّ شَرٍّ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أّصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَباَرِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّاتِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الغَلَا وَمِنَ البَلاَ وَمِنَ الفِتَنِ وَمِنَ المِحَنِ كُلَّهَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِناَ هَذَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ وَالأَهْوَاءِ وَالأَدْوَاءِ، اَللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ. اَللَّهُمَّ اهْدِنَا وَسَدِدْنَا، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكُ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعِفَّةَ وَالغِنَى.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيٍءٍ قَدِيْرٍ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
