Khutbah Jumat Singkat Terbaru

Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Nasehat

Peringatan terhadap Kefasikan

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيلُهُ، وَأَمِينُهُ عَلَى وَحْيِهِ، وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, meminta ampun kepada-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami dan kejelekan amal-amal kami.

Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, hanya Dia, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya, pilihan dan kekasih-Nya, yang amanah terhadap wahyu-Nya, dan penyampai syariat-Nya kepada manusia. Semoga selawat dan salam Allah tercurah kepada beliau, kepada keluarga, dan seluruh sahabat beliau.

Adapun selanjutnya, wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah, Tuhan kalian, dan hadirkan murāqabah (merasa diawasi oleh Allah) dengan murāqabah-nya orang yang mengetahui bahwa Tuhannya mendengar dan melihatnya. Takwa kepada Allah Jalla wa ‘Alā adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu) dari Allah dengan mengharap pahala dari Allah, serta meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu) dari Allah karena takut akan azab Allah.

Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah, ada suatu kejahatan yang sangat berbahaya dan dosa yang sangat besar, yang Allah Tabāraka wa Ta‘ālā telah memperingatkan hamba-hamba-Nya darinya, melarang mereka melakukannya, serta menjelaskan beratnya hukuman dan parahnya dampak buruknya bagi pelakunya di dunia maupun di akhirat. Dosa itu adalah kefasikan (al-fisq). Betapa banyak ayat dalam Al-Qur’an yang memperingatkan kefasikan, menjelaskan buruknya akibat yang akan diterima oleh orang-orang fasik, serta besarnya azab yang menanti mereka di sisi Allah, juga kerugian yang akan mereka tanggung di dunia dan di akhirat. Allah Jalla wa ‘Alā telah mengabarkan dalam Al-Qur’an bahwa Dia tidak meridai orang-orang yang demikian keadaannya. Allah Ta‘ālā berfirman, 

فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak meridai kaum yang fasik.” (QS. At-Taubah: 96)

Allah juga mengabarkan bahwa kefasikan menjadi sebab kehinaan dan kebinasaan pelakunya di dunia dan di akhirat. Allah Ta‘ālā berfirman,

وَلِيُخْزِيَ الْفَاسِقِينَ

“… dan agar Dia menghinakan orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Ḥasyr: 5)

Selain itu, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengabarkan dalam lebih dari satu ayat dalam Al-Qur’an bahwa Dia tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang demikian keadaannya. Allah Ta‘ālā berfirman,

وَاللَّهُ لَا يهدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”

Hal itu, wahai hamba-hamba Allah, apabila kefasikan telah menguasai seseorang dan menjadi sifat yang melekat pada dirinya sehingga ia tidak menginginkan perubahan selain kefasikan dan tidak pula ingin meninggalkannya. Maka orang yang keadaannya seperti itu, wahai hamba-hamba Allah, ia tidak akan diberi taufik oleh Allah untuk memperoleh hidayah. Bahkan, kefasikannya itu sendiri menjadi sebab terhalangnya ia dari petunjuk.

Adapun kefasikan, wahai kaum mukminin, merupakan sebab kehancuran suatu negeri dan datangnya kebinasaan. Allah Ta‘ālā berfirman,

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya (untuk berbuat kebaikan) tetapi mereka (malah) berbuat fasik di negeri itu. Maka pantaslah berlaku terhadapnya ketetapan azab Kami, lalu Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isrā’: 16)

Wahai hamba-hamba Allah, tidaklah sama seorang mukmin yang taat kepada Allah dengan seorang fasik yang melalaikan batasan-batasan Allah. Allah Ta‘ālā berfirman,

أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لَا يَسْتَوُونَ

“Apakah orang yang beriman itu sama dengan orang yang fasik? Mereka tidaklah sama.” (QS. As-Sajdah: 18)

Bagaimana mungkin sama, wahai hamba-hamba Allah, antara orang yang merelakan dirinya menyandang sifat yang hina dan akhlak yang tercela ini dengan orang yang beriman dan taat kepada Allah Tabāraka wa Ta‘ālā? Padahal Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ

“Seburuk-buruk nama adalah kefasikan setelah beriman.” (QS. Al-Ḥujurāt: 11)

Benar, demi Allah! Sungguh buruk orang yang memilih untuk dirinya sendiri sifat yang tercela ini sebagai pengganti sifat iman yang mulia dan luhur. Wahai hamba-hamba Allah, seorang fasik mempunyai dan memiliki unsur keserupaan sesuai dengan kadar kefasikannya dengan setan, pemimpin dan teladan bagi orang-orang fasik. Allah Ta‘ālā berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia berasal dari golongan jin, lalu ia durhaka (fasik) terhadap perintah Tuhannya. Maka apakah kalian akan menjadikannya dan keturunannya sebagai pelindung selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian? Sungguh itulah seburuk-buruk pengganti bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Kahf: 50)

Sungguh, itulah seburuk-buruk pengganti (pilihan) bagi orang yang zalim, wahai hamba-hamba Allah, yang rela menghinakan dirinya dengan memiliki sifat-sifat dan karakter yang menyerupai setan. Semoga Allah melindungi kita darinya.

Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah, kefasikan itu memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan kefasikan yang paling parah, paling buruk, dan paling besar mudaratnya adalah syirik dan kufur kepada Allah Tabāraka wa Ta‘ālā. Allah Ta‘ālā berfirman tentang golongan ini,

وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

“Adapun orang-orang yang fasik, maka tempat tinggal mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya, dan dikatakan kepada mereka, ‘Rasakanlah azab neraka yang dahulu kalian dustakan!’” (QS. As-Sajdah: 20)

Di bawah tingkatan itu terdapat bentuk-bentuk kefasikan lainnya, yaitu seluruh dosa, baik berupa ucapan maupun perbuatan, dengan melakukan sesuatu yang diharamkan atau meninggalkan sesuatu yang diwajibkan Allah Tabāraka wa Ta‘ālā kepada hamba-hamba-Nya. Allah Ta‘ālā berfirman,

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Akan tetapi Allah menjadikan kalian mencintai iman, menghiasinya dalam hati kalian, serta menjadikan kalian membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ḥujurāt: 7)

Dalam ayat ini, Allah menjadikan kefasikan berada pada tingkatan di bawah kekufuran kepada-Nya. Di antara bentuk kefasikan juga adalah kezaliman terhadap sesama manusia, seperti merampas harta mereka, menjarah, membunuh, dan melakukan berbagai bentuk permusuhan. Ini merupakan salah satu bentuk kefasikan yang sangat berbahaya karena dapat mengubah seseorang menjadi penjahat dan perusak yang melanggar hak-hak manusia, baik terhadap harta maupun jiwa mereka yang membuatnya tidak akan merasa jera terhadap perbuatan keji dan tidak takut terhadap hukuman. Kita memohon perlindungan kepada Allah Tabāraka wa Ta‘ālā dari hal itu.

Wahai hamba-hamba Allah, pada zaman kita sekarang ini telah banyak sarana dan jalan yang menyeret manusia kepada berbagai bentuk kefasikan, baik berupa kekufuran maupun dosa-dosa yang berada di bawahnya, juga berbagai bentuk kezaliman, pelanggaran, dan permusuhan. Terlebih lagi melalui saluran-saluran media yang merusak dan penuh dosa, yang menjadi salah satu upaya untuk menjerumuskan manusia ke dalam kefasikan dan menjungkalkan mereka dalam berbagai bentuk kehancuran dan kebinasaannya, melalui program-program yang diatur dengan sangat terstruktur dan berbagai cara yang disusun secara matang sehingga mampu merasuk ke dalam akal manusia, terutama para pemuda dan pemudi.

Wahai hamba-hamba Allah, betapa banyak “pendidikan” buatan para pendosa tersebut meluluskan para laki-laki dan perempuan yang fasik lagi keji, yang menjadikan kita semua, wahai hamba-hamba Allah, wajib mengambil langkah-langkah pencegahan, menjauhkan diri dari sebab-sebab kebinasaan dan wasilah-wasilah menuju penyimpangan, serta bersungguh-sungguh dalam menjaga anak-anak kita. Sungguh, persoalan ini sangatlah serius, wahai hamba-hamba Allah!

Wahai kaum mukminin, telah ada riwayat sahih dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan dalam Al-Mustadrak karya Al-Ḥākim dan kitab-kitab lainnya, bahwa beliau berlindung kepada Allah Tabāraka wa Ta‘ālā dari kefasikan. Oleh karena itu, kita memohon perlindungan kepada Allah Yang Mahaagung dari kefasikan, kemunafikan, perpecahan, dan buruknya akhlak. Kita juga memohon kepada Allah Tabāraka wa Ta‘ālā agar menjaga diri dan keluarga kita, memperbaiki seluruh urusan kita, serta tidak menyerahkan kita kepada diri kita sendiri walaupun hanya sekejap mata. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa, kepada-Nya harapan ditujukan, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.

Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan sebagaimana yang dicintai dan diridai oleh Tuhan kita. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada beliau, kepada keluarga beliau, dan kepada seluruh sahabat beliau.

Adapun berikutnya, wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah Ta‘ālā. Sesungguhnya siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan melindunginya dan membimbingnya kepada segala kebaikan dalam urusan agama maupun dunianya.

Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah, telah diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim dari Ummul Mukminin ‘Āisyah raḍiyallāhu ‘anhā, bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ : الْفَأْرَةُ ، والعَقْرَبُ ، وَالْغُرَابُ ، وَالْحُدَيَّا ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ

“Ada lima jenis hewan fasik yang boleh dibunuh, baik di tanah halal maupun di tanah haram, yaitu tikus, kalajengking, burung gagak, burung pemangsa (ḥudayyā), dan anjing yang buas.”

Wahai hamba-hamba Allah, dalam hadis ini kata fasik disebutkan untuk hewan-hewan tersebut karena mereka membahayakan manusia dengan gangguan, kerusakan, dan serangannya. Oleh sebab itu, syariat membolehkan membunuhnya karena sifat fasiknya, yaitu dengan membahayakan, mengganggu, dan berbuat kerusakan terhadap manusia.

Wahai kaum mukminin, di antara dosa-dosa manusia ada yang oleh para ulama disebut adz-dzunūb as-sabu‘iyyah (dosa-dosa kebuasan), yaitu dosa-dosa yang menyebabkan seseorang menyerupai binatang buas dalam perilaku, kezaliman, permusuhan, keganasan, sikap melampaui batas, dan tindakan aniaya. Akibatnya, ada manusia yang keadaannya menjadi seperti itu, bahkan—na‘ūdzu billāh—lebih buruk daripada binatang-binatang buas dan hewan-hewan pemangsa yang mematikan.

Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah, mari kita memohon perlindungan kepada Allah Tabāraka wa Ta‘ālā dari segala bentuk kefasikan, dalam seluruh ragam dan macamnya. Mari kita berlindung kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā agar Dia menjaga diri dan keluarga kita serta memberi kita petunjuk menuju jalan-Nya yang lurus.

Haturkanlah selawat dan salam kalian, semoga Allah menjaga kalian, Muhammad bin ‘Abdillah sebagaimana Allah memerintahkan hal tersebut kepada kalian dalam Kitab-Nya. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

“Barang siapa berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْأَئِمَّةِ الْمَهْدِيِّينَ؛ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، وَعُمَرَ الْفَارُوقِ، وَعُثْمَانَ ذِي النُّورَيْنِ، وَأَبِي الْحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِينَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِينَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَرْضِ الشَّامِ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِينًا وَحَافِظًا وَمُؤَيِّدًا، اللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ، اللَّهُمَّ آمِنْ رَوْعَاتِهِمْ وَاسْتُرْ عَوْرَاتِهِمْ وَاحْقِنْ دِمَاءَهُمْ

اللَّهُمَّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ نَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَصِفَاتِكَ الْعُلْيَا وَبِأَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ أَنْ تَنْصُرَهُمْ يَا رَبَّنَا نَصْرًا مُؤَزَّرًا. اللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّينِ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُونَكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ وَنَعُوذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُورِهِمْ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ مِنْ سَدِيدِ الْأَقْوَالِ وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَهُ شَأْنَهُ كُلَّهُ، اللَّهُمَّ وَأَصْلِحْ لَهُ بِطَانَتَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ سَدِّدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَآرَائِهِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

وَهَذِهِ دَعْوَةٌ خَاصَّةٌ لِأَمِيرِ الْمَدِينَةِ الْجَدِيدِ؛ نَسْأَلُ اللَّهَ جَلَّ فِي عُلَاهُ أَنْ يَجْعَلَ مَجِيئَهُ لِهَذَا الْبَلَدِ مَجِيءَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ، وَأَنْ يَجْعَلَهُ نَاصِيَةً مُبَارَكَةً عَلَى هَذَا الْبَلَدِ الْمُبَارَكِ، إِنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى سَمِيعُ الدُّعَاءِ. اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ. رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ اذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، {وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ}

Terjemahan Doa:

Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia, dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Ridailah pula, ya Allah, para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk; Abu Bakar ash-Shiddiq, ‘Umar al-Faruq, ‘Utsman Dzun Nurain, dan Abul Hasanain ‘Ali, dan ridailah ya Allah, seluruh sahabat, para tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat, serta ridailah kami bersama mereka dengan karunia, kemuliaan, dan kebaikan-Mu, wahai Zat Yang paling dermawan di antara para dermawan.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, tolonglah orang yang menolong agama-Mu, Kitab-Mu, dan Sunah Nabi-Mu Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Ya Allah, tolonglah orang yang menolong agama-Mu, Kitab-Mu, dan Sunah Nabi-Mu Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami, kaum muslimin yang tertindas di mana pun mereka berada. Ya Allah, tolonglah mereka yang berada di negeri Syam dan di seluruh penjuru dunia. Ya Allah, jadilah Engkau Penolong, Pembantu, Pelindung, dan Penyokong bagi mereka. Ya Allah, lindungilah mereka sebagaimana Engkau melindungi hamba-hamba-Mu yang saleh. Ya Allah, berilah keamanan dalam rasa takut mereka, tutupilah aurat dan kehormatan mereka, serta lindungilah darah mereka dari pertumpahan. 

Ya Allah, wahai Tuhan semesta alam, kami memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah, sifat-sifat-Mu yang luhur, dan karena Engkau adalah Allah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa, agar Engkau memberi mereka pertolongan yang nyata dan penuh kemenangan. Ya Allah, kami serahkan kepada-Mu musuh-musuh agama, karena mereka tidak akan mampu melemahkan-Mu. Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan-Mu pelindung dari mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.

Ya Allah, berilah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami, perbaikilah para pemimpin dan penguasa kami, dan serahkanlah wilayah kami kepada orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridaan-Mu, wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami kepada ucapan yang benar dan amal yang saleh yang Engkau cintai dan Engkau ridai. Ya Allah, perbaikilah segala urusannya, dan perbaikilah kaki tangannya, wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah, luruskan perkataan dan pemikirannya, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, wahai Tuhan semesta alam. 

Ini adalah doa khusus untuk Amir Madinah yang baru, kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Alā agar menjadikan kedatangannya ke negeri ini sebagai kedatangan yang membawa kebaikan dan keberkahan, serta menjadikannya pemimpin yang diberkahi bagi negeri yang penuh berkah ini. Sesungguhnya Dia Tabāraka wa Ta‘ālā Maha Mendengar doa.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwa-jiwa kami ketakwaannya, sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik Zat yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Penguasanya. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan. Ya Allah, perbaikilah seluruh urusan kami dan janganlah Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walaupun hanya sekejap mata.

Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.

Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat itu kepada kalian. “Sungguh, mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya), dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabūt: 45)

***

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr

Sumber:

https://www.al-badr.net/detail/b1xJGsZwQA

PDF Sumber Artikel

Audio Sumber Artikel

Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28