التّوكل على الله عزّ وجلّ
خطبة جمعة بتاريخ / 20-5-1430 هـ
Bertawakal kepada Allah ʿAzza wa Jalla
Khotbah Jumat Tanggal 20/5/1430 H
إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله وصفيه وخليله وأمينه على وحيه ومبلِّغ الناس شرعه ، ما ترك خيراً إلا دلّ الأمة عليه ولا شراً إلا حذّرها منه ؛ فصلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وصحبه أجمعين . أما بعد معاشر المؤمنين عباد الله : اتقوا الله تعالى وراقبوه مراقبة من يعلم أن ربَّه يسمعه ويراه. عباد الله : إنّ من الطّاعات العظيمة وفرائض الإسلام الجليلة التّوكلَ على الله تبارك وتعالى في جلب المنافع ودفع المضار وتحصيل المصالح الدنيوية والأخرويّة مع الاعتقاد التام أن الله تبارك وتعالى هو وحده المولى ونعم الوكيل ، فلا وكيل إلا الله ولا يجوز للعبد أن يتخذ وكيلاً غير الله قال الله تعالى: { رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلاً}[المزمل:9] ، وقال جلّ وعلا : { أَلاَّ تَتَّخِذُواْ مِن دُونِي وَكِيلاً} [الإسراء:2] ؛ فأمر جلّ وعلا عباده بأن يتّخذوه وكيلاً ونهاهم جلّ و علا أن يتخذوا من دونه وكيلا ، والوكيل اسمٌ لله جلّ وعلا ؛ ومعنى ذلك : أي الذي يُتوكّل عليه ويُعتمد عليه وتفوَّض الأمورُ كلُّها إليه وتكون الثقة به جلّ وعلا وحده ويكون إليه المفزع والملجأ .
Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, meminta ampunan, dan bertobat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami.
Barang siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri petunjuk, niscaya tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sesatkan, niscaya tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.
Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, makhluk-Nya yang suci dan kekasih-Nya, orang yang amanah dengan wahyu-Nya, dan penyampai syariat-Nya, yang tiada kebaikan kecuali beliau telah menjelaskannya kepada umat dan tiada keburukan kecuali beliau telah memperingatkan umat terhadapnya, semoga salawat dan salam penghormatan Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpahkan kepada beliau dan keluarga serta seluruh sahabat beliau.
Adapun berikutnya, wahai segenap kaum Mukminin, hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadirkanlah rasa Murāqabah (merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) dengan Murāqabah-nya seorang hamba mengetahui bahwa Tuhannya Mendengar dan Melihatnya.
Wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antara amal saleh yang agung dan kewajiban Islam yang luhur adalah tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mencari manfaat, menolak bahaya, dan meraih kemaslahatan dunia dan akhirat, yang diiringi dengan keyakinan penuh bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala semata Yang Maha Mengatur dan sebaik-baik penolong. Tiada penolong kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak halal bagi seorang hamba untuk menjadikan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penolong.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tuhan Timur dan Barat, Yang tiada tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai penolong.” (QS. Al-Muzzammil: 9).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kalian menjadikan selain Aku sebagai penolong.” (QS. Al-Isra’: 2).
“Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjadikan-Nya sebagai penolong dan melarang mereka untuk menjadikan selain-Nya sebagai penolong. Al-Wakīl (Yang Maha Penolong/Yang Maha Diserahi Segala Urusan) adalah salah satu nama-Nya, yang artinya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tempat bertawakal, bersandar, dan diserahi segala urusan, yang diyakini dan menjadi tempat kembali dan berlindung.
والله جلّ وعلا ذكر التّوكل في كتابه في مواضع كثيرة من القرآن ، وذكره جلّ وعلا شريعةً لجميع الأنبياء ونهجاً لجميع المرسلين ؛ قال الله تعالى عن نبيه نوح عليه السلام : { يَا قَوْمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُم مَّقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللّهِ فَعَلَى اللّهِ تَوَكَّلْتُ } [يونس: 71]، وقال عن نبيِّه موسى عليه السلام: {وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ}[يونس:84] ، وقال جلّ وعلا عن نبيِّه شعيب عليه السلام: { إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ}[هود:88] ، وقال عن نبيه هود عليه السلام: {إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلاَّ هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ} [هود:56] ، وقال عن نبيِّه يعقوب عليه السلام : { يَا بَنِيَّ لاَ تَدْخُلُواْ مِن بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُواْ مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللّهِ مِن شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ}[يوسف:56] ، وقال عن نبيِّه وخليله إبراهيم عليه السلام : { إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن شَيْءٍ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ} [الممتحنة:4] ، وقال وعن نبيِّه محمّد عليه الصّلاة والسّلام سيِّد المتوكِّلين صلى الله عليه وسلم : { لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128) فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ } [التوبة:128-129] ، وقال جلّ وعلا: { كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهَا أُمَمٌ لِّتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِيَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَـنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ} [الرّعد:30].
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang tawakal dalam Kitab-Nya dalam banyak tempat dalam Al-Quran dan mengabarkan bahwa tawakal adalah syariat untuk semua nabi dan jalan seluruh rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang sabda Nabi-Nya, Nuh Alaihis salām (yang artinya), “Wahai kaumku, jika terasa berat bagi kalian keberadaanku dan peringatanku tentang ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala aku bertawakal.” (QS. Yunus: 71).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang sabda Nabi-Nya, Musa Alaihis salām (yang artinya), “Wahai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika memang kalian benar-benar orang yang berserah diri.” (QS. Yunus: 84).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang sabda Nabi-Nya, Syuaib Alaihis salām (yang artinya), “Aku tidak bermaksud kecuali perbaikan selama aku masih berkesanggupan, dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali.” (QS. Hud: 88).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang sabda Nabi-Nya, Hud Alaihis salām (yang artinya), “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada satu pun binatang melata melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (urusannya). Sesungguhnya Tuhanku berada di jalan yang lurus.” (QS. Hud: 55).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang sabda Nabi-Nya, Yakub Alaihis salām (yang artinya), “Wahai anak-anakku, janganlah kalian (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain, namun demikian aku tiada dapat melepaskan kalian barang sedikit pun dari (takdir) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketetapan hanyalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada-Nyalah aku bertawakal dan seharusnya hanya kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.” (QS. Yusuf: 76).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang sabda Nabi dan kekasih-Nya, Ibrahim Alaihis salām (yang artinya), “Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagimu dan aku tiada dapat menolak sedikit pun dari (siksaan) Allah Subhanahu wa Ta’ala bagimu. Wahai Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, hanya kepada Engkaulah kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.’” (QS. Al-Mumtahanah: 4).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang sabda Nabi dan kekasih-Nya, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, penghulu orang-orang yang bertawakal (yang artinya), “Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: ‘Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala bagiku, tidak ada Tuhan yang benar selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan Pemilik Arasy yang agung.’” (QS. At-Taubah: 12-129).
Allah Subḥānahu wa Taʿālā berfirman (yang artinya), “Demikianlah, Kami telah mengutusmu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya engkau membacakan kepada mereka (Al-Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah, ‘Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.’” (QS. Ar-Ra’d: 30).
والآيات في بيان توكّله على الله واعتماده عليه سبحانه كثيرة جدّاً ، بل إنّ الله عزّ وجلّ سماه في التوراة المتوكِّل كما ثبت في ذلك الحديث عن عبد الله بن عمرو بن العاص وقد خرجّه البخاريُّ في كتابه الصّحيح ؛ فهو عليه الصلاة والسلام متوكلٌ على الله ملتجأٌ إليه جل وعلا ، فهو متوكلٌ وليس وكيلا قال الله تعالى: { وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِوَكِيلٍ} [الأنعام:107] ، الوكيل هو الله وحده سبحانه . عباد الله : وقد ذكر الله التوكل نعتاً لعباده المؤمنين وصفةً لأوليائه المقربين قال الله تعالى: {إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا} [الأنفال:2ـ 4] ، والآيات في هذا المعنى كثيرة.
Banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang bagaimana beliau bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersandar kepada-Nya, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menamai beliau ‘Al-Mutawakkil (Orang yang bertawakal)’ dalam Taurat, sebagaimana tersebut dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, yang dicantumkan oleh Bukhari dalam kitab Shahih beliau. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berserah kepada-Nya.
Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Al-Mutawakkil (yang menyerahkan urusan), bukan Al-Wakīl (yang diserahi urusan). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Engkau bukanlah Al-Wakīl (yang diserahi urusan) atas mereka.” (QS. Al-An’am: 107).
Al-Wakīl adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebut tawakal sebagai karakter hamba-hamba-Nya yang beriman dan sifat wali-wali-Nya yang dekat dengannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 2-4).
عباد الله : والتوكل عبادةٌ قلبية مكانها القلب ، وهي تقوم على أصلين عظيمين لابد من قيامهما بالقلب ليكون العبد متوكِّلاً على الله حقّاً وصدقا : الأمر الأول : علمُ العبد بالله وأنه سبحانه الوكيلُ ولا وكيلَ سواه ، وأنّه الرّب العظيم المدبِّر المسخِّر الذي بيده أزمّة الأمور فما شاء كان وما لم يشأ لم يكن ، عليمٌ بالعباد سميعٌ لأصواتهم بصيرٌ بأعمالهم مطلِّعٌ عليهم لا تخفى عليه منهم خافية ، قال الله تعالى: { وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (217) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (218) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (219) إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ } [الشعراء:217-220] ، وقال جلّ وعلا: { وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ وَكَفَى بِاللّهِ وَكِيلاً} [النساء:81] ، وقال جلّ وعلا : { وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيراً} [الفرقان:58] .
Wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, tawakal adalah ibadah hati, yang tempatnya di hati, yang dibangun di atas dua prinsip agung yang harus tertanam di hati agar seorang hamba menjadi orang yang tawakal sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya.
- Pertama, pengetahuan seorang hamba tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahwa Dia adalah Al-Wakīl, tidak ada Al-Wakīl selain Dia, dan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Agung, Sang Pengatur dan Penakluk, yang di tangan-Nya kendali segala urusan, maka apa pun yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa pun yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi, Yang Maha Mengetahui hamba-hamba-Nya, Maha Mendengar suara-suara mereka, Maha Melihat perbuatan mereka, dan Maha Mengawasi mereka, tanpa ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bertawakallah kepada (Allah Subhanahu wa Ta’ala) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk salat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Asy-Syuara: 217-220).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bertawakallah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penolong. (QS. An-Nisa’: 81).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan bertawakallah kepada Yang Maha Hidup, Yang tidak akan mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya, dan cukuplah Dia Yang Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Furqan: 58).
والأصل الثاني عباد الله : عمل القلب ؛ وهو اعتماده على الله وحُسن التجاءه إليه وحُسن تفويضه الأمور إلى الله جلّ وعلا اعتماداً والتجاءً وتفويضاً ، فلا يكون في القلب التفاتٌ إلى الأسباب ولا اعتماد عليها ، وإنما يكون القلب معتمداً على الله جلّ وعلا مفوِّضاً الأمور كلّها إليه في جميع مصالح العبد الدينيّة والدنيويّة. والتّوكل – عباد الله – عبادةٌ تصاحب المسلم في كل شؤونه وجميع أموره الدينية والدنيوية ؛ فهو يتوكل على الله في جلب مصالحه الدنيوية من طلبٍ للرزق وتحصيلٍ للمعاش وغير ذلك من المصالح الدنيوية ، ويتوكل على الله في تحصيل مصالحه الدينية ؛ فهو في كل ذلك محتاج إلى الله لا غنى له عن ربِّه طرفة عين ، فهو يلتجأ إليه ليقوم بالعبادات والطّاعات ، ويلتجأ إليه سبحانه ليحصِّل المنافع والمصالح وجميع الحاجات .
- Asas kedua, wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah amalan hati, yaitu bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berserah kepada-Nya dengan baik, dan menyerahkan urusan-urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan baik, bersandar, pasrah, dan berserah, sehingga dalam hatinya tidak berpaling kepada sebab-sebab lain atau bersandar kepada sebab-sebab itu, melainkan hanya bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sembari menyerahkan segala urusan kepada-Nya dalam segala urusan agama maupun duniawi seorang hamba.
Tawakal, wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah ibadah yang seharusnya menyertai seorang Muslim dalam segala urusannya dan semua urusan agama maupun duniawinya. Jadi, dia bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mewujudkan kemaslahatan urusan-urusan dunianya, seperti dalam menjemput rezeki, mencari nafkah, dan urusan duniawi lainnya.
Ia juga bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menggapai maslahat agamanya, karena dalam semua itu, ia membutuhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak bisa terlepas dari Tuhannya walau hanya sekejap mata. Ia harusnya berserah kepada-Nya dalam melakukan ibadah dan ketaatan serta kembali kepada-Nya untuk meraih manfaat, maslahat, dan semua hajat.
عباد الله : والتوكل على الله جلّ وعلا لا يتنافى مع فعل الأسباب بل فعلها من تمام التوكل ، ولهذا كان سيِّد المتوكلين عليه الصلاة والسلام يباشر الأسباب ويأمر بفعلها ومباشرتها قال صلى الله عليه وسلم: ((احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزن)) ، وقال عليه الصّلاة والسّلام للرجل الذي سأله عن ناقته قال (( أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ ؟ قَال: اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ )) ؛ فأرشده إلى فعل الأسباب . وجاء في الترمذي من حديث عمر بن الخطاب عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ((لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا )) ؛ فذكر فعلها للأسباب وهو غدوّها في الصباح الباكر لطلب العيش والبحث عن الرزق ، ولهذا جاء عن عمر رضي الله عنه أنه سمع بنفر خرجوا من ديارهم بلا قوت ولا زاد وقالوا نحن المتوكِّلون قال: (( بل أنتم المتواكلون ، إنما المتوكل على الله الذي يُلقي حبه في الأرض – أي يضع البذر- ويتوكل على الله ” ؛ وبهذا يُعلم – عباد الله – أنّ التوكل على الله لابد معه من فعل الأسباب التي يحصِّل بها العبد مصالحه الدينية والدنيوية ولا يكون قلبه ملتفتاً للأسباب ولا معتمداً عليها ولا واثقاً بها بل تكون ثقته بالله وحده وتوكّله عليه وحده وتفويضه لأمره إلى الله وحده . اللّهمّ مُنَّ علينا أجمعين بأن نكون من المتوكِّلين عليك حقّاً وصدقاً وأعنَّا يا ذا الجلال والإكرام ووفقنا لما تحبُّه وترضاه إنّك سميع الدّعاء وأنت أهل الرجاء وأنت حسبنا ونعم الوكيل.
Wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah meniadakan usaha melakukan sebab-sebabnya, bahkan mengerjakannya merupakan bagian dari tawakal yang sempurna. Karena itulah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, penghulu orang-orang yang tawakal mengusahakan sebab dan memerintahkan dilakukan dan dijalankan.
Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Bersungguh-sungguhlah dalam perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan janganlah engkau lemah!” Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda kepada orang yang bertanya tentang unta yang dimilikinya, “Aku mengikatnya lalu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atau melepaskannya lalu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ikatlah dan bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Beliau membimbingnya untuk melakukan sebab yang memungkinkan. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari hadis Umar bin Khattab dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana seekor burung diberi rezeki, di mana ia keluar di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dengan kenyang.” Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa ia melakukan sebabnya, yaitu keluar di waktu pagi hari untuk mencari penghidupan dan menjemput rezeki.
Inilah mengapa disebutkan dalam riwayat Umar Radhiyallāhu ʿanhu bahwasanya dia mendengar tentang sekelompok orang yang berangkat meninggalkan rumah mereka (untuk) tanpa makanan atau perbekalan, lalu mereka berkata, “Kami orang-orang yang bertawakal.” Umar Radhiyallāhu ʿanhu berkata, “Kalian cuma orang yang menyerah, karena tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah orang yang menabur benih di tanah —yakni menanam benih— lalu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Dengan ini bisa diketahui, wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus disertai dengan mengusahakan sebab-sebab yang dengannya seorang hamba dapat mencapai maslahat agama dan dunianya, sedangkan hatinya tidak berpaling kepada sebab-sebab tersebut, tidak bersandar kepadanya, melainkan yakin hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, pasrah kepada-Nya, dan menyerahkan urusannya hanya kepada-Nya.
Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala, anugerahkanlah kepada kami semua agar kami menjadi orang-orang yang tawakal kepada-Mu dengan sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya, tolonglah kami, wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, dan berilah kami taufik kepada perkara yang Engkau cintai dan ridai, karena sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa, Engkaulah tempat menaruh harap, dan cukuplah Engkau bagi kami, dan Engkaulah sebaik-baik Penolong.
الخطبة الثانية :
الحمد لله على إحسانه ، والشُّكر له على منِّه وجوده وامتنانه ، وأشهد أن لا إله إلا الله تعظيماً لشأنه ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه ؛ صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وأعوانه . أما بعد عباد الله : اتقوا الله تعالى . عباد الله : التّوكل عبادةٌ عظيمة وفريضةٌ جليلة لا يجوز صرفها إلا إلى الله جل وعلا الحي الذي لا يموت ، وتأمّلوا قول الله تعالى: { وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ } ؛ فالتوكل لا يكون إلا على من هذا شأنه الحي الذي لا يموت وهو الله تبارك وتعالى ، أما مَنْ سوى الله فهو إمّا حيٌّ سيموت ، أو حيٌّ قد مات ، أو جمادٌ لا حياة له ، وكلُّ هؤلاء لا يُتوكل عليهم وإنما يُتوكل على الحي الذي لا يموت سبحانه وتعالى ، ولهذا كان نبيُّنا كما في الصحيحين يقول في دعائه: ((اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ )).
Khotbah Kedua:
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas kebaikan-Nya dan segala syukur bagi-Nya atas karunia, kemurahan, dan kedermawanan-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dengan mengagungkan kedudukan-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah hamba dan Rasul-Nya, sang penyeru kepada keridaan-Nya. Semoga salawat dan salam penghormatan Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpahkan kepada beliau, keluarga, sahabat, dan para penolong beliau.
Adapun berikutnya, wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala! Wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, tawakal adalah ibadah yang agung dan kewajiban yang luhur yang tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Yang Maha Hidup, Yang tidak akan mati.
Renungkanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya), “Dan bertawakallah kepada Yang Maha Hidup, Yang tidak akan mati.” (QS. Al-Furqan: 58).
Tawakal tidaklah bisa ditujukan kepada selain yang seperti ini keadaannya, Yang Maha Hidup, Yang tidak akan mati, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia bisa jadi hidup lalu akan mati, hidup dan telah mati, atau benda mati yang tidak punya hidup sama sekali.
Semua itu bukanlah zat yang kepadanya seseorang bertawakal, melainkan bertawakal hanyalah kepada Yang Maha Hidup, Yang tidak akan mati, Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Inilah mengapa, Nabi kita Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahihain, biasa mengatakan dalam doa beliau:
“Allāhumma laka aslamtu wa bika āmantu wa ʿalaika tawakaltu wa ilaika anabtu wa bika khashamtu. Allāhumma innī aʾūdzubi ʿizzatika lā ilāha illa anta an tudhillanī. Antal ḥayyulladzī lā yamūtu wal jinnu wal insu yamūtūn.
Artinya: Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakal, hanya kepada-Mu aku bertobat, dan karena-Mu aku bermusuhan. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkanku, Engkaulah Yang Maha Hidup yang tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”
عباد الله : وصلوا وسلِّموا على محمّد بن عبد الله كما أمركم الله بذلك في كتابه فقال: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) . اللّهمّ صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد ، وبارك على محمّد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد . وارضَ اللّهمَّ عن الخلفاء الراشدين الأئمة المهديين أبي بكر وعمر وعثمان وعلي ، وارضَ اللّهمّ عن الصّحابة أجمعين ، وعن التابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين ، وعنَّا معهم بمنِّك وكرمك وإحسانك يا أكرم الأكرمين.
Wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, haturkan selawat kalian —semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memelihara kalian— kepada Muhammad putra Abdullah sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kalian dalam kitab-Nya dalam firman-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi.
Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Nabi Shallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga bersabda, “Barang siapa bersalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan bersalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim).
Ya Allah, limpahkanlah selawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah limpahkan salawat untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sungguh, Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia, dan limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah limpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sungguh, Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Ya Allah, ridailah para khalifah yang terbimbing dan para imam yang mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta ridailah juga para sahabat seluruhnya, para tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat, demikian juga kami beserta mereka semua dengan karunia, kedermawanan, dan kebaikan-Mu, wahai Zat Yang paling dermawan.
اللّهمّ أعزّ الإسلام والمسلمين، وأذلّ الشرك والمشركين ، ودمِّر أعداء الدّين ، اللّهمّ احمِ حوزة الدين يا ربَّ العالمين. اللّهمّ آمنا في أوطاننا وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا ، واجعل ولايتنا فيمن خافك واتقاك واتبع رضاك يا ربّ العالمين. اللّهمّ وفِّق ولي أمرنا لهداك واجعل عمله في رضاك وأعنه على طاعتك وارزقه البطانة الصالحة الناصحة يا ربّ العالمين .
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin, hinakanlah kesyirikan dan kaum Musyrikin, binasakan musuh-musuh Islam, dan jagalah wilayah Islam, wahai Tuhan semesta alam! Ya Allah, berilah kami keamanan di tanah air kami, perbaikilah para pemimpin kami dan para pemegang kekuasaan kami, dan serahkan negeri kami kepada orang yang takut dan bertakwa kepada-Mu serta mengikuti rida-Mu, wahai Tuhan semesta alam.
Ya Allah, berilah taufik untuk pemimpin kami kepada petunjuk-Mu dan jadikan tindakannya selalu dalam rida-Mu, dan bantulah ia melakukan ketaatan kepada-Mu, serta berilah ia kaki tangan yang saleh yang bisa menasihati, wahai Tuhan semesta alam.
اللّهمّ أعنّا ولا تُعِن علينا ، وانصرنا ولا تنصر علينا ، وامكر لنا ولا تمكر علينا ، واهدنا ويسِّر الهدى لنا وانصرنا على من بغى علينا . اللّهمّ اجعلنا لك ذاكرين لك شاكرين إليك أوّاهين منيبين لك مخبتين لك مطيعين. اللّهمّ تقبل توبتنا واغسل حوبتنا وأجب دعوتنا وثبِّت حجّتنا وسدد ألسنتنا واهد قلوبنا واسلل سخيمة صدورنا. اللّهم وفقنا لما تحبه وترضاه . اللّهم أصلح لنا شأننا كلَّه يا ذا الجلال والإكرام.اللّهم اغفر ذنوب المذنبين من المسلمين ، اللّهم وتب على التائبين ، اللهم وارحم موتانا وموتى المسلمين ، اللّهم واشف مرضانا ومرضى المسلمين ، اللّهم فرج هم المهمومين من المسلمين وفرِّج كرب المكروبين ، واقضِ الدَّيْن عن المدينين. اللّهمّ ويسِّر لنا أمورنا أجمعين ، ولا تكلنا إلى أنفسنا طرفة عين يا ذا الجلال والإكرام يا حي يا قيوم أنت حسبنا ونعم الوكيل . { رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ }.{ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ }. عباد الله : اذكروا الله يذكركم ، واشكروه على نعمه يزدكم ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ .
Ya Allah, bantu kami dalam kebaikan dan jangan bantu kami dalam keburukan, tolong kami dalam kebaikan dan jangan tolong kami dalam keburukan, buatlah makar untuk kebaikan kami dan jangan membuat makar untuk keburukan kami, beri kami hidayah dan mudahkan hidayah bagi kami.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang senantiasa berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, kembali dan bertobat kepada-Mu, dan tunduk kepada-Mu. Ya Allah, terimalah tobat kami, sucikan dosa-dosa kami, kabulkan doa-doa kami, kuatkan hujah kami, luruskan lisan kami, bimbinglah hati kami, dan hilangkan penyakit dalam hati kami. Ya Allah, berilah kami taufik kepada perkara yang Engkau cintai dan ridai.
Ya Allah, perbaikilah bagi kami segala urusan kami, wahai Zat Pemilik keagungan dan kemuliaan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa para pendosa di tengah kaum Muslimin dan terimalah tobat orang-orang yang bertobat di tengah kaum Muslimin! Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang telah wafat di tengah kami dan di tengah kaum Muslimin! Ya Allah, sembuhkanlah orang-orang yang sakit di tengah kami dan di tengah kaum Muslimin! Ampunilah dosa-dosa para pendosa di tengah kaum Muslimin dan terimalah tobat orang-orang yang bertobat di tengah kaum Muslimin!
Ya Allah, obatilah keresahan orang-orang yang sedang dirundung resah dan angkatlah kesulitan orang-orang yang sedang tertimpa kesulitan, wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Mandiri, dan lunasilah hutang orang-orang yang sedang terlilit hutang di tengah kaum Muslimin. Ya Allah, mudahkanlah segala urusan kami dan jangan Engkau serahkan kami pada diri kami sendiri walau hanya sekejap mata, wahai Zat Pemilik keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Maha Hidup dan Maha Mandiri, Engkau cukup bagi kami dan Engkaulah sebaik-baik penolong.
Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak Mengampuni kami dan Memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungi kami dari siksa neraka.
Wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, ingatlah Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengingat kalian dan syukuri nikmat-Nya niscaya Dia menambah bagi kalian. Sesungguhnya mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala (dalam salat) adalah lebih besar (keutamaannya), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Sumber: