Khutbah Pertama:

الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلن تجد له وليًّا مرشدًا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبد الله ورسوله المختار، صلى الله عليه وعلى آله ومن اتبع سنته بإحسان إلى يوم الدين ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ﴾، ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾، ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

أما بعد، فيا عباد الله!

Tabiat manusia adalah hidup bersosial. Demikianlah fitrah manusia yang diberikan Allah Ta’ala. Tidak mungkin manusia mampu hidup memisahkan diri dari orang lain. Ia butuh orang lain yang hidup bersamanya. Manusia biasa tinggal bersama orang-orang sebangsanya.

Namun kebersamaan manusia itu juga memunculkan gesekan. Semakin sering seseorang bersama, maka akan muncul juga masalah. Karena manusia itu punya karakter yang berbeda-beda. Punya sifat dan cara pandang kehidupan yang tidak sama. Walaupun kebersamaan itu dalam status yang kuat. Seperti hubungan pernikahan, persaudaraan, kerabat, tetangga, sahabat, rekan kerja, dll. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَنهُمْ

“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” [Quran Shad: 24]

Tidak sedikit hubungan di tengah manusia; baik hubungan suami istri, keluarga, saudara, tetangga, teman, rekan kerja dan bisni, terjadi kezaliman di tengah mereka. Terjadilah permusuhan. Hal itu terjadi karena lalainya mereka memperhatikan hak antar sesama. Dan ini sesuatu yang tidak mengherankan. Kalau seandainya ada orang yang selamat dari kezaliman, pastilah mereka para nabi. Karena bagusnya interaksi para nabi dengan manusia. Tapi bersamaan dengan itu, mereka pun tidak selamat dari disakiti manusia. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” [Quran Al-Furqan: 31].

Ibadallah,

Karena tak ada seorang pun yang selamat dari gangguan manusia. Artinya, kita tak bisa menuntut dari sisi luar. Tapi diri kitalah yang kita latih untuk pandai menyikapinya. Dan sabar dalah sikap terbaik dalam hal ini. Seseorang harus memiliki sifat sabar Ketika dizalimi dan diperlakukan buruk baik dalam urusan dirinya, hartanya, dan kehormatannya.

Sabar dengan gangguan orang lain adalah amal shaleh yang mulia. Orang yang mengamalkannya menempati kedudukan yang tinggi dalam kebaikan, keutamaan, dan derajat keimanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ.

Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” [HR. At Tirmidzi].

Ayyuhal mukminun,

Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah terhadap apa yang Anda tidak sukai dalam interaksi dengan manusia. Baik itu datang dari anak, orang tua, suami atau istri, tetangga baik yang dekat maupun jauh, dll. siapa yang melatih diri untuk bersabar, maka akan Allah anugerahi sifat sabar.

Di antara hal yang dapat membantu seseorang untuk bersabar adalah:

Pertama: Meneladani orang-orang shaleh.

Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kita keteladanan. Beliau banyak sekali disakiti dan beliau bersabar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى قَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

“Semoga Allah merahmati Musa. Sungguh dia disakiti lebih banyak lagi, tapi dia bersabar.” [HR. al-Bukhari].

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menceritakan tentang nabi-nabi sebelum beliau yang dipukuli oleh kaumnya sendiri. Namun mereka tetap mendoakan kebaikan untuk kaumnya,

اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون

“Ya Allah, ampunilah kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Diriwayatkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dilempari batu oleh kaumnya. Dan beliau mendoakan kebaikan untuk mereka.

اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون

“Ya Allah, ampunilah kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” [HR. al-Bukhari].

Ayyuhal mukmin,

Kedua: mengingat dosa-dosa kita sebagai sebab musuh mengalahkan kita.

Bisa jadi, ujian dari orang lain itu datang dari diri kita sendiri. Karena dosa-dosa yang kita lakukan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [Quran Asy-Syura: 30]

Di antara contohnya adalah peristiwa Perang Uhud. Para sahabat berhasil dikalahkan oleh orang-orang musyrik Quraisy karena dosa mereka sendiri. Mereka tidak menaati perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Quran Ali Imran: 165]

Seseorang dikalahkan musuhnya karena dosanya. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Janganlah seseorang takut kecuali pada dosanya.”

Dengan demikian, tatkala Anda dikalahkan atau dikuasai, atau diganggu dan disakiti oleh orang lain, bersegeralah taubat dan memperbanyak istighfar. Karena dengan hal tersebut Allah akan menolak dan membela Anda. Dengan cara apapun. Bahkan yang tidak kita pikirkan. Intinya, musibah itu datang karena dosa. Dan tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.

Ayyuhal mukminun,

Ketiga: Kesabaran akan mendatangkan pertolongan Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Quran Al-Anfal: 46]

Siapa yang dibersamai oleh Allah Ta’ala pastilah ia akan mendapatkan pertolongan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam muslim dalam Shahihnya dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ada seseorang yang berkata kepada Rasulullah,

: يا رسولَ اللهِ! إنَّ لي قرابةً أَصِلُهُمْ ويقطعونِ، وأُحْسِنُ إليهم ويُسيئونَ إليَّ، ويجهلونَ عليَّ وأحلمُ عنهم، قال: لئن كان كما تقولُ كأنما تُسِفُّهُمْ المَلَّ

“Wahai Rasulullah, aku memiliki seorang kerabat. Aku sambung kekerabatan dengannya, lalu dia putuskan. Aku berbuat baik pada mereka, mereka berlaku buruk padaku. Mereka bersikap kasar padaku, namun aku memaafkan mereka.” Beliau menanggapi, “Kalau seperti yang kau katakana, maka seakan engkau memberi mereka makan debu yang panas.”

Ini menunjukkan mereka mendapatkan dosa atas perbuatan mereka sendiri. Merekalah yang sebenarnya menderita. Seakan memakan debu yang panas. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

ولا يزالُ معك من اللهِ ظهيرٌ عليهم ما دُمْتَ على ذلك

“Selama engkau berbuat demikian, pertolongan Allah senantiasa bersamamu.” [HR. Muslim].

Siapa yang bersabar dengan gangguan orang lain, Allah lah yang akan melindunginya dari kezaliman orang lain. Allah akan menolongnya. Tentu sangat beda sekali pertolongan Allah dengan pembelaan yang dilakukan oleh diri sendiri.

Ayyuhal mukminun,

Keempat: Kesabaran akan mendatangkan kecintaan Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.” [Quran Ali Imran: 146]

Demikian juga dengan firman-Nya,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” [Quran Ali Imran: 148].

Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menempatkan hamba tersebut di kedudukan yang tinggi. Dalam Shahih al-Bukhari terdapat sebuah hadits qudsi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا أَحْبَبتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ

“Apabila Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk memegang dan Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepada–Ku pasti Aku memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepada–Ku pasti Aku akan melindunginya.” [HR. al-Bukhari].

Kebersamaan Allah ini bisa berwujud taufik, pertolongan, ilham, diberi kekuatan, dan diberi ilmu.

Ayyuhal mukminun,

Kelima: Kesabaran akan membukakan pintu-pintu kemuliaan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” [Quran Ali Imran: 133]

Siapa mereka? Jawabnya ada pada ayat berikutnya:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [Quran Ali Imran: 134]

Selama Anda bersabar dengan gangguan dari orang lain, selama itu pula kebaikan Anda senantiasa bertambah. Bahkan bisa jadi hal ini menjadi sebab kebahagiaan dan keberhasilan Anda di akhirat. Siapa yang tidak bersabar dan membalas, hilang semua keutamaan ini.

اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك، أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Kedua:

الحمد لله رب العالمين، أحمده حق حمده، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبد الله ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن اتبع سنته بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد.

Ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Karena kesabaran akan mendatangkan akhir yang indah. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [Quran Az-Zumar: 10]

Kunci sukses dalam pergaulan adalah bersabar dalam berinteraksi dengan orang lain. Seorang mukmin yang tinggal bersama masyarakat dan bersabar dengan gangguan mereka, itu lebih baik dibanding seorang mukmin yang tidak mampu bersabar sehingga dia hidup menyendiri.

Ayyuhal mukminun,

Kesabaran akan diperoleh dengan melatih diri untuk bersabar. Sebagaimana ilmu itu akan diperoleh dengan belajar. Siapa yang meminta tolong kepada Allah untuk bersabar, pasti Allah akan menolongnya. Karena itu, bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah.

Keenam: hal yang dapat membantu seseorang untuk bersabar adalah pengetahuannya bahwa kesabaran dapat mengantarkannya pada kedudukan yang tinggi. Allah Ta’ala berfirman,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ * وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” [Quran Fussilat: 34-35]

Apabila seseorang menolak gangguan orang lain dengan malah membalasnya dengan kebaikan, maka orang tersebut adalah seorang yang bersabar. Kondisi permusuhan itu akan berubah menjadi teman akrab. Kebencian akan berubah menjadi cinta. Dan Allah Ta’ala tidak akan menyelisihi janji-Nya,

فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” [Quran Fussilat: 34].

Ayyuhal mukminun,

Ayyuhal mukminun,

Ketujuh: Menyadari bahwa orang yang tidak sabar berpotensi jatuh pada perbuatan menzalimi orang lain.

Biasanya, tatkala seseorang tidak bersabar dan mencoba membalas, balasan yang mereka lakukan lebih keras lagi atau tidak setimpal dengan kesalahan orang lain. Sehingga perbuatan membalas ini menjatuhkan seseorang pada sesuatu yang dimurkai Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala menyebutkan tentang macam-macam orang dalam menghadapi gangguan orang lain. Ada tiga macam. Yang pertama, terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

وجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” [Quran Asy-Syura: 40].

Orang ini membalas keburukan dengan keburukan yang semisal. Kemudian yang kedua:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” [Quran Asy-Syura: 40].

Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan adanya kesabaran.

Yang ketiga:

إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِين

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” [Quran Asy-Syura: 40].

Bentuk ketiga ini, inilah yang sering terjadi pada orang-orang yang membalas. Balasan mereka malah jatuh pada menzalimi orang lain. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَمَنِ انتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُوْلَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ * إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” [Quran Asy-Syura: 41-42].

Dan dianjurkan kepada kita untuk bersabar,

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الأُمُور

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” [Quran Asy-Syura: 43].

Ayyuhal mukminun,

Kedelapan: Berharap pahala kepada Allah ketika disakiti oleh orang lain.

Ketika orang berharap demikian, maka tidak hanya pahala yang Allah siapkan. Tapi Allah pun memberikan ampunan dan penghapusan dosa untuknya. Meninggikan kedudukannya. Berbeda dengan orang yang membalas. Ia tidak mendapatkan keutamaan yang demikian.

Ayyuhal mukminun,

Kesembilan: Kesabaran akan mendatang pertolongan Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

من عادى لي وليًّا فقد آذنته بالحرب

“Siapa yang menyakiti kekasihku (wali-waliku), maka aku umumkan peperangan kepada mereka.” [HR. al-Bukhari].

Dan masing-masing muslim memiliki kadar kecintaan dan kedekatan dengan Allah yang berbeda-beda. Tergantung bagaimana mereka menunaikan hak Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” [Quran Ali Imran: 200].

اللهم انصرنا ولا تنصر علينا، اللهم انصرنا على من بغى علينا، اللهم آثرنا ولا تؤثر علينا، اللهم اهدنا ويسر الهدى لنا، اللهم اجعلنا لك، ذاكرين، شاكرين، راغبين، راهبين، أوَّاهين منيبين، اللهم تقبل توبتنا، وثبت حجتَنا، واغفر ذلَّتنا، وأقِل عثرَتَنا، ولا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا، وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب، اللهم آمنا في أوطاننا، وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا، واجعل ولايتنا فيمن خافك واتقاك واتبع رضاك يا رب العالمين، اللهم وفق خادم الحرمين وولي عهده إلى ما تحب وترضى، خذ بنواصيهم إلى البر والتقوى، سددهم في الأقوال والأعمال يا ذا الجلال والإكرام، اللهم ادفع عنا وعن المسلمين وعن بلادنا وعن بلاد المسلمين كل سوء وشر، ارفع عنا الوباء، وأنزل علينا كل رحمة وبر وخير ورخاء، واجعلنا من عبادك الشاكرين يا ذا الجلال والإكرام.

صلوا على نبيكم محمد –صلى الله عليه وسلم-، اللهم صلِّ على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email