Khutbah Pertama:

إن الحمد لله, نحمده ونستعينه ونستغفره, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدًا عبد الله ورسوله, صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن اتبع سنته بإحسان إلى يوم الدين, أما بعد:

Ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah. Ketauhilah, ketakwaan tidak akan semputna kecuali dengan menjauhi sifat pelit. Karena pelit merupakan sumber keburukan. Tempat tumbuhnya kerusakan dan hal-hal yang buruk di dalam hati, ucapan, dan perbuatan. Gara-gara pelit, maka hak seseorang disepelekan. Gara-gara pelit, tidak tertunaikan banyak kewajiban. Gara-gara pelit, bisa terjadi pertumpahan darah. Gara-gara pelit, harta orang lain dimakan dengan cara yang tidak benar. Gara-gara pelit, seseorang bisa menodai kehormatan orang lain. Gara-gara pelit bisa putus hubungan kekerabatan dan muncul kedurhakaan. Gara-gara pelit, ditinggalkanlah sekian banyak keutamaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتقوا الشحَّ فإنَّ الشحَّ أهلكَ من كانَ قَبْلَكم حملَهُم على أنْ سَفكُوا دِمائَهم ، واستَحَلُّوا مَحارِمَهم

“Jauhilah sifat pelit (syuh), karena pelit telah membinasakan orang sebelum kalian. Sifat tersebut membawa mereka menumpahkan darah dan menghalalkan apa yang diharamkan pada mereka.” [HR. Muslim 2578].

Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إيَّاكم والشُّحَّ؛ فإنَّه أهلَكَ مَن كان قَبلَكم، أمَرَهم بالبُخلِ فبَخِلوا، وأمَرَهم بالفُجورِ ففَجَروا

“Jauhilah Syuhh (kikir yang sangat), sesungguhnya syuhh membinasakan orang-orang sebelum kalian. Syuhh menyuruh mereka untuk bakhil, mereka pun jadi bakhil. Menyuruh mereka untuk berbuat kejahatan, merekapun melakukannya.” (Sunan Abu Dawud 1698).

Tidak mengherankan! Karena pelit itu artinya seseorang memiliki ketamakan yang besar terhadap dunia. Memperbanyak pundi-pundinya. Ada ketamakan yang bersemayam pada jiwanya. Sangat ketakutan akan kondisi kekurangan dan kemisikinan.

Ayyuhal mukminun,

Jauhilah sifat pelit! Karena pelit akan merusak hati. Akan membawa hati memiliki sifat sombong, zalim, hasad, dan membenci orang lain mendapatkan kebaikan. Berharap kebaikan yang Allah berikan pada orang lain terhenti. Kemudian menelantarkan kewajiban yang Allah perintahkan pada-Nya. Oleh karena itu, tersebarnya sifat pelit merupakan di antara tanda hari kiamat. Saat itu muncullah dan tersebar kerusakan di muka bumi. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتَقارَبُ الزَّمانُ، ويَنْقُصُ العَمَلُ، ويُلْقَى الشُّحُّ، ويَكْثُرُ الهَرْجُ قالوا: وما الهَرْجُ؟ قالَ: القَتْلُ القَتْلُ

“Waktu terasa singkat. Amal kebaikan berkurang. Tersebarnya sifat pelit. Saat itu banyak terjadi al-haraj.” Sahabat bertanya, “Pembunuhan. Pembunuhan.” [HR. al-Bukhari 6037 dan Muslim 2215].

Maksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ويُلْقَى الشُّحُّ

“Tersebarnya sifat pelit.”

Allah turunkan sifat pelit dan memasukkannya ke hati-hati manusia. Sehingga sifat tersebut menghalangi mereka untuk melakukan kebaikan dan malah melakukan permusuhan.

Ayyuhal mukminun,

Jauhilah sifat pelit! Karena sifat ini akan menumbuhkan kemunafikan di hati. Seperti tempatnya yang lembab menumbuhkan jamur. Dan di antara karakteristik orang munafik yang Allah sebutkan. Mereka adalah orang yang pelit terhadap kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,

أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُوْلَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

“Mereka pelit terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka pelit untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Quran Al-Ahzab: 19]

Orang-orang munafik itu memiliki sifat pelit terhadap orang-orang yang beriman. Pelit dalam setiap kebaikan dan karunia. Mereka tidak senang kalau Allah Ta’ala memberikan orang-orang yang beriman kebaikan dalam urusan dunia dan agamanya.

أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Kedua:

الحمد لله رب العالمين, له الحمد في الأولى والآخرة وله الحكم وإليه ترجعون، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن اتبع سنته بإحسان إلى يوم الدين, أما بعد:

فاتقوا الله عباد الله،

Hindarilah sifat pelit. Karena kalau kita mau koreksi diri, sungguh pada diri kit aini ada sifat pelit. Ini sudah menjadi tabiat manusia. Allah Ta’ala berfirman tentang karakter manusia,

وَأُحْضِرَتِ الأَنفُسُ الشُّحَّ

“walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir.” [Quran An-Nisa: 128].

Dan orang yang sukses dan berhasil adalah mereka yang mampu mengendalikan sifat pelit tersebut. Mereka dijaga dari sifat tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” [Quran Al-Hasyr: 9]

Mengapa beruntung? Karena seseorang yang selamat dari sifat ini akan tumbuh pada dirinya semua kebaikan dan keutamaan. Dan dia selamat dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Ibadallah,

Tidak ada jalan keselamatan untuk Anda terbebas dari sifat pelit kecuali dengan berjuang melawannya. Kalahkan hawa nafsu Anda dengan kiat-kiat yang tepat. Di antara kiat atau tips agar mampu mengalahkan sifat pelit adalah:

Pertama: Memenuhi hati dengan iman, cinta, dan pengagungan kepada Allah. Terutama iman kepada hari akhir.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يجتمع الشحُّ والإيمانُ في قلب عبدٍ أبدًا

“Tidak akan berkumpul antara sifat pelit dan iman pada hati seseorang.” [Sunan an-Nasai 3110].

Allah Ta’ala berfirman,

وَأُحْضِرَتِ الأَنفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul secara baik dan memelihara dirimu, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Quran An-Nisa: 128]

Orang yang berbuat baik adalah mereka yang meninggalkan apa yang Allah larang. Walaupun larangan itu dicintai oleh jiwanya. Ia tunaikan hak harta, walaupun di awalnya terasa berat baginya. Kemudian ridha dengan pembagian Allah kepadanya. Menjauhi sifat hasad dan iri. Bahkan ia suka orang lain mendapatkan kebaikan. Sebagaimana ia suka kalau kebaikan tersebut ia dapatkan.

Ibadallah,

Kedua: Melakukan kebaikan dengan lisan dan perbuatan. Baik dalam kondisi sepi maupun di tengah keramaian.

وَأُحْضِرَتِ الأَنفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul secara baik dan memelihara dirimu, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Quran An-Nisa: 128]

Ketiga: mengutamakan orang lain dalam masalah dunia.

Dan inilah sifat yang dimiliki oleh sahabat-sahabat anshar. Yang dipuji oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” [Quran Al-Hasyr: 9]

Keempat: Berdoa kepada Allah.

Seorang sahabat Nabi yang dikenal sangat dermawan, Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu, pernah berdoa,

اللهم قني شح نفسي

“Ya Allah lindungilah aku dari sifat pelit yang ada pada diriku.”

Kelima: Melatih diri.

Sebagaimana kebodohan itu diobati dengan belajar. Sifat tenang itu dilatih untuk dibiasakan. Demikian juga dengan sifat dermawan yang merupakan lawan dari pelit. Inipun harus dipelajari, dilatih, dan dibiasakan. Apalagi sedekah di waktu sehat dan muncul rasa pelit, itu akan melipatgandakan pahala. Rasulullah pernah ditanya tentang sedekah yang utama, beliau bersabda,

« أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ : لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ » .

“Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan mengharap kaya. Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan, “(andai) Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian. (Andai itu) telah menjadi milik si fulan..” (HR. Bukhari 1419 dan Muslim 1032).

اللهم آتِ نفوسنا تقواها, وزكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها، اللهم آمنا في أوطاننا وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا, واجعل ولايتنا فيمن خافك واتقاك واتبع رضاك يا رب العالمين، اللهم وفق ولي أمرنا إلى ما تحب وترضى, خذ بنواصيهم إلى ما فيه خير العباد والبلاد، أعنهم وسددهم في الأقوال والأعمال، واكتب مثل ذلك لسائر ولاة أهل الإسلام يا ذا الجلال والإكرام، ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار، اللهم اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان، ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين أمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم.

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email