Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ:

اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ فِي السِرِّ وَالعَلَانِيَةِ وَالغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ .

Saudara-saudara sekalian,

Dengan terbenamnya matahari pada mala mini, kita memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Artinya, malam ini adalah malam ke dua puluh satu, malam pertama dari sepuluh hari terakhir. Di dua puluh hari yang pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan malam-malamnya antara shalat dan tidur. Adapun di sepuluh hari terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Saat sepuluh hari terakhir, beliau memutus kontak beliau dengan dunia dan manusia, lalu beliau habiskan untuk beribadah. Yaitu beliau isi dengan iktikaf di masjid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada sepuluh hari terakhit Ramadhan ini terdapat lailatul qadr. Sebuah malam yang disebutkan di dalam Alquran pada dua tempat. Pertama di ayat dalam Surat Ad-Dukhan:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” [Quran Ad-Dukhan: 3-4]

Allah Jalla wa ‘Ala sifati malam ini dengan malam penuh keberkahan dan kebaikan. Karena begitu banyaknya kedua hal tersebut di malam itu. Dan di malam tersebut di tetapkan dan dirinci takdir yang ada di lauhul mahfuzh ke catatan para malaikat. Ditetapkanlah apa yang akan terjadi pada tahun depan. Berupa pembagian rezeki, ajal, perbuatan hamba, dll.

Tempat kedua yaitu pada satu surat secara utuh. Yaitu surat Al-Qadr.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” [Quran Al-Qadr: 1-5].

Surat ini menjelaskan bahwa Alquran itu diturunkan pada malam lailatul qadr ke langit dunia, ke Baitul Izzah. Kemudian diturunkan secara bertahap selama 23 tahun. Turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama diturunkan adalah lima ayat pertama Surat Al-Alaq. Dan yang terakhir adalah

وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” [Quran Al-Baqarah: 281].

Dari 355 hari dalam tahun hijriyah, Allah pilih satu hari. Yaitu lailatul qadar untuk turunnya Alquran. Ini menunjukkan kemuliaan malam tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2)

“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”

Pertanyaan ini bukan bermaksud meminta jawaban, tapi bermaksud at-tafkhim, memuliakan malam tersebut.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Pada malam tersebut amalan shaleh dilipat-gandakan seperti beramal lebih baik dari 1000 bulan. 1000 bulan setara dengan 83 tahun dan empat bulan menurut perhitungan hijriyah. Subhanallah! Luar biasa.. amal hanya dikerjakan beberapa saat tapi hasilnya lebih baik dari beramal 1000 bulan.

Umat-umat sebelum kita memiliki umur yang panjang. tapi amalan mereka tidak dilipatgandakan seperti umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, umat ini umurnya pendek akan tetapi amalan mereka berlipat ganda besar. Ini menunjukkan keberkahan mala mini.

Bentuk keberkahan lainnya adalah berbondong-bondongnya malaikat turun memadati bumi. Tidak hanya malaikat biasa, tapi pemimpin para malaikat, yaitu Jibril ‘alaihissalam pun turun.

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ (4)

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Para malaikat turun ke bumi. Melihat keadaan orang-orang yang beriman. Mereka mengucapkan salam kepada mereka yang berdiri mengerjakan shalat. mereka turun ke bumi atas perintah Allah agar melihat bagaimana ibadah hamba-hamba-Nya. Karena sebelumnya malaikat berkata kepada Allah,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. [Quran Al-Baqarah: 30]

Para malaikat awalnya menilai manusia demikian. Namun Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Di malam ini, Allah hendak menunjukkan kepada para malaikat hamba-hamba-Nya tersebut. Dia banggakan di hadapan para malaikat penduduk langit. Para malaikat pun mendoakan mereka. Keadaan ini berlangsung hingga terbit fajar.

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Dan malam lailatul qadar ada di sepuluh hari terakhi Ramadhan dan lebih besar kemungkinannya pada hari-hari ganjil. Lalu, amalan apa yang paling utama untuk mengisi lailatul qadar? Amalan yang paling utama adalah shalat. sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memenuhi waktu malam-malam ini dengan shalat. boleh seseorang shalat di awal malam. Kemudian melanjutkan kembali di akhir malam. Dan boleh shalat setelah witir. Namun jangan kerjakan dua kali witir dalam satu malam.

Kaum muslimin,

Amalan lainnya yang hendaknya kita semangat melakukannya di malam ini adalah memperbanyak doa. Karena doa di bulan Ramadhan memiliki peluang besar untuk dikabulkan. Terlebih lagi di sepuluh malam terakhir. Ayat tentang doa, Allah sebutkan beriringan dengan ayat-ayat puasa.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [Quran Al-Baqarah: 186]

Ayat-ayat sebelumnya membahas tentang puasa.

Bulan Ramadhan saja sudah waktu mustajab. Bagaimana sekiranya kita gabungkan banyak kesempatan mustajab. Seperti saat sujud, di sepertiga malam terakhir

Amal lainnya yang utama untuk kita lakukan di sepuluh hari terakhir adalah umroh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

“Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Amalan lainnya adalah memperbanyak membaca Alquran. Allah menyebutkan amalan-amalan agung dan utama. Dan secara khusus, Allah sebutkan membaca Alquran di antara amalan-amalan tersebut.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَٰرَةً لَّن تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” [Quran Fatir: 29]

Tidak layak bagi seorang muslim yang menemui Ramadhan, dan Ramadhan usia ia dalam keadaan tidak mengkhatamkan Alquran.

Amalan lainnya adalah memperbanyak dzikir. Di antaranya tasbih, uapan subhanallah. Allah pilih ibadah ini sebagai ibadah seluruh makhluk. Sebgaimana firman-Nya,

وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” [Quran Al-Isra: 44].

Demikian juga firman-Nya,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلطَّيْرُ صَٰٓفَّٰتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسْبِيحَهُۥ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” [Quran An-Nur: 41].

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلطَّيْرُ صَٰٓفَّٰتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسْبِيحَهُۥ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” [Quran An-Nur: 41].

Allah Ta’ala pilih dzikir ini untuk semua makhluk-Nya menunjukkan keutamaannya. Namun kita juga hendaknya memperbanyak dzikir-dzikir yang lain. Tahmid, tahlil, hauqolah (laa haula walaa quwwata illaa billaah), memperbanyak shalawat,

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa yang mengucapkan sholawat kepadaku satu kali, maka Allah mengucapkan sholawat kepadanya 10 kali.” [HR. Muslim].

Apa makna Allah bershalawat kepada orang tersebut dengan 10 kali shalawat? Maknanya, Allah memujinya dengan 10 kali pujian di hadapan para malaikat di langit. Dalam hadits lain,

قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا ؟ قَالَ : إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

Saya berkata: “Akan saya tujukan shalawatku kepadamu pada semua waktu”. Beliau menjawab: “Kalau begitu, maka akan dicukupkan semua keinginanmu, dan dosamu akan diampuni.” [at-Turmudzi mengatakan hadits ini hasan]

Artinya, shalawat bisa memenuhi keinginan dan mengampuni dosa-dosa. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sehari semalam sebanyak 100.000 kali. Karena beliau tahu sekali keutamaan shalawat ini.

Dan masih banyak amalan shaleh yang lain yang bisa kita lakukan di waktu-waktu ini. Kesempatan ini adalah kesempatan emas. Kesempatan kita untuk berniaga kepada Allah Ta’ala. Perniagaan yang tidak akan rugi. Oleh karena itu, mari kita lipat gandakan semangat kita untuk memanfaatkan kesempatan ini. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Diringkas dari ceramah Syaikh Saad bin Turki al-Khatslan dengan judul al-‘Asyru al-Awakhir min Ramadhan.

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email