Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ:

اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ فِي السِرِّ وَالعَلَانِيَةِ وَالغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ .

Kaum muslimin,

Di antara amalan agung yang jangan sampai terlewatkan di bulan Ramadhan ini adalah shalat malam. Di bulan Ramadhan ini kita kenal dengan nama shalat tarawih. Tentu kita sering mendengar hadits-hadits tentang keutamaan shalat malam di bulan Ramadhan. Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Shalat malam secara umum, memiliki keutamaan tersendiri. Seandainya seseorang mengetahui keutamaannya kemudian merenungkannya, tentu ia akan sangat berat untuk tidak mengerjakannya. Di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عن بِلالٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قال: «عليكُمْ بِقيامِ اللَّـيْـلِ؛ فإِنَّـهُ دَأبُ الصَّالِحينَ قَبلكُم، وإِنَّ قِيامَ اللَّيلِ قُربَـةٌ إلى اللهِ، ومَنْهاةٌ عنِ الإِثْمِ، وتكفِيرٌ للسَّيِّـئاتِ، ومَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عنِ الجَسَدِ». رواه الترمذي وغيره

Dari Bilal radhiyaAllahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kerjakanlah shalat malam oleh kalian, karena sesungguhnya ia merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian. Sesungguhnya shalat malam dapat mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari perbuatan dosa, menggugurkan keburukan-keburukan, dan mengusir penyakit dari tubuh manusia.” [HR.Tirmidzi]

Perhatikan sabda beliau,

دَأبُ الصَّالِحينَ قَبلكُم

“ia merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian.”

Demikianlah kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum, dan orang-orang yang mengikuti mereka. Mereka tidak meninggalkan shalat malam. Mereka tak luput dari mengerjakannya.

Tentu kita sangat suka apabila termasuk orang-orang yang dipilih oleh Rab kita. Sebagai orang-orang yang diberi taufik oleh Allah, berdiri di tengah kegelapan malam, di antara jasad manusia lainnya yang tengah tertidur. Kita suka menjadi hamba pilihan Allah ini. Dia beri kita taufik untuk berdiri. Dia kokohkan kita. Kemudian dari lisan kita mengeluarkan sesuatu yang paling dicintai oleh Allah, yaitu membaca firman-Nya. Inilah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kita. Mereka mendapatkan kelezatan dalam shalat malam. Kebiasaan ini meliputi ulama dan orang awam di tengah mereka.

Shafwan bin Sulaim rahimahullah -salah seorang guru Imam Malik bin Anas rahimahullah- hampir-hampir tidak tidur di malam hari. Kalau musim dingin, ia shalat malam di luar rumahnya. Di atap rumahnya. Agar dinginnya malam tidak membuatnya ngantuk. Kalau musim panas, ia shalat di bagian dalam rumahnya. Agar pengapnya udarah menghilangkan ngantuknya. Saat pagi tiba, ia berkata, “Ya Allah, ini kesungguhan yang dilakukan Shafwan. Dan Engkau lebih tahu tentang hakikatnya (ikhlas atau tidak).”

Demikian juga keadaan orang-orang shaleh, para ulama dan fuqoha. Syaikh Said al-Kamali menceritakan, “Di antara mereka yang memasuki masjid pada pukul dua malam. Kemudian membaca 5 hizb dalam satu rakaat (1 hizb kurang lebih setengah juz). Demikian keadaan mereka sepanjang malam, hingga adzan subuh. Sementara sebagian kita bagaikan dinding yang roboh. Atau atap yang jatuh.”

Kebanyakan kita, kalau sudah tertidur, tidak bangun di malam hari. Bahkan hampir luput dari shalat wajib. Seakan kalau tidur tak bangun lagi. Lihatlah perbedaan kita dengan mereka. Kita tidak sedang membahas para sahabat. Yang kita bahas adalah orang-orang shaleh yang sezaman dengan kita. Mereka yang kita jumpai hidup di zaman yang sama dengan kita.

Renungkanlah kembali sabda beliau ini,

دَأبُ الصَّالِحينَ قَبلكُم

“ia merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian.”

Sebagian pemuda sekarang, menunggu nanti mereka menikah, atau sudah tua, baru mau shalat malam. Mereka menyatakan menunggu sampai rambut putih bersinar di kepala mereka. Di saat seperti inilah nanti kami akan rajin shalat malam, kata mereka. Apakah mereka lupa, bahwa kebiasaan mereka ini akan terwarisi juga oleh anak-anak mereka.

Abul Ala’ al-Ma’arri bersyair:

وَيَنْشَأُ نَاشِىءُ الفِتْيَانِ، مِنَّا
عَلَى مَا كَانَ عَوِّدَهُ أَبُوْهُ

وَمَا دَانَ الفَتَى بِحِجًا، وَلَكِنْ
يُعَلِّمُهُ التَدَيُّنُ أَقْرَبُوْهُ

وَطِفْلُ الفَارِسِي لَهُ وُلَاةٌ،
بِأَفْعَالِ التَمَجُّسِ دَرَّبُوْهُ

Seseorang remaja di tengah-tengah kita tumbuh
dengan kebiasaan yang diajarkan ayahnya

Seorang remaja tidak melahirkan pemikiran, tapi
orang-orang dekatnya yang mengajarkan gaya hidup untuknya

Anak-anak Persia memiliki teladan
dari praktik amalan majusi yang mengajarinya

Kaum muslimin,

Kalau Anda tidak membiasakan sesuatu di masa muda sekarang, maka hal itu juga tidak akan menjadi kebiasaan Anda di saat tua. Seorang yang mulia itu karena memiliki adab yang mulia juga. Karena itu, di usia muda sekarang hendaknya Anda membiasakan suatu kebiasaan yang utama.

Tentu kita akan sangat bergembira tatkala melihat pemuda-pemuda kita sibuk dengan sesuatu yang mulia. Sejak muda mereka terbiasa membaca dan menghafal Alquran. Kemudian mereka membawanya dengan shalat malam. Shalat malam akan membersihkan jiwanya. Menghilangkan penyakit badannya. Sehingga ia menjadi seorang yang sehat secara jasmani dan rohani. Kemudian ia berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya dengan kebaikan. Dan kita berharap hal itu membuat lingkungannya terpengaruh dengannya. Pemuda-pemuda seperti ini membuat kita optimis dengan keadaan umat. Dengan keadaan bangsa dan negara.

Adapun pemuda-pemuda yang sibuk menghafal sesuatu yang tak berarti untuk kebaikan jiwanya dan fisiknya. Menyia-nyiakan waktu. Mereka adalah orang yang kosong jiwanya. Tidak bermanfaat bagi sekitarnya. Kalau mereka pintar, mereka akan berbuat curang. Kalau mereka bodoh, mereka akan mengancam orang-orang di sekitarnya.

Karena itu kaum muslimin,

Jangan tunda-tunda untuk melakukan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” [Quran Ali Imran: 133].

Dalam urusan akhirat, Allah perintahkan kita untuk bersegera. Untuk berlari menggapainya. Sementara dalam urusan dunia, Allah Ta’ala berfirman,

فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ

“Berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.” [Quran Al-Mulk: 15]

Kemudian firman-Nya,

قُلْ سِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ بَدَأَ ٱلْخَلْقَ ثُمَّ ٱللَّهُ يُنشِئُ ٱلنَّشْأَةَ ٱلْءَاخِرَةَ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Quran Al-Ankabut: 20]

Dan banyak ayat semisalnya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita taufik dalam kebaikan dan dimudahkan untuk melakukan ketaatan. Khususnya di bulan Ramadhan ini. Mudah-mudah kita termasuk orang yang mendapatkan ampunan dengan mengerjakan shalat malam.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Print Friendly, PDF & Email