Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin yang dirahmati Allah,

Segala puji bagi Allah yang mempertemukan kita di tempat yang mulia ini dalam rangka menaati-Nya. Melakukan ibadah kemudian diikuti ibadah lainnya. Tentu ini adalah suatu keutamaan. Ditambah lagi dilakukan di bulan yang utama pula. Mudah-mudahan Allah Ta’ala menerima amalan kita dalam Ramadhan yang kita tempuh ini.

Kemudian kita juga bersyukur kepada Allah yang memberi taufik kepada kita untuk mengisi shaf-shaf masjid di setengah bulan Ramadhan ini. Karena kita lihat banyak orang mulai meninggalkan masjid. Mereka memenuhi jalan, kafe, mall, dan lain-lain. Mulai melupakan keutamaan bulan Ramadhan yang kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya siapa saja yang shalat (fardhu yaitu Isya’ dan Shubuh, pen.) bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi).

Kita tidak tahu, bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita. Sehingga tahun depan kita tidak berkesempatan mendapatkan pahala-pahala yang begitu dihamburkan ini. Atau bahkan bisa jadi kita tidak sampai menyelesaikan bulan Ramadhan ini. Sebagaimana kita ketahui, putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fatimah radhiallahu ‘anha, beliau wafat pada tanggal 4 Ramadhan. Artinya, beliau tidak menyelesaikan Ramadhan. Demikian juga dengan Ali bin Abu Thalib, beliau wafat tanggal 17 Ramadhan. Tanpa menderita sakit sebelumnya. Artinya kita tidak tahu kapan ajal itu tiba. Karena itu, marilah kita manfaatkan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya untuk bekal akhirat kita.

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

Malam ini saya diberi amanah oleh panitia Ramadhan untuk mengisi kultum dengan judul Menumbuhkan Sifat Qanaah Dalam Kehidupan. Qanaah adalah sifat merasa cukup. Diberi banyak cukup dan diberi sedikit cukup. Karena masalah harta ini tidak adalah istilah cukup atau klimaksnya. Salah seseorang kalau meyangka dia akan merasa cukup kalau Allah beri harta yang banyak. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih).

Salah pula seseorang yang mengatakan seorang yang berpenghasilan pas-pasan tidak bisa qanaah. Karena Allah yang memenuhi kebutuhan seorang hamba. Hanya gaya hiduplah yang tidak membuatnya cukup.

Qanaah adalah sumber kebahagiaan. Oleh karena itu, Imam asy-Syafi’i rahimahullah tentang qanaah:

إِذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوْعٍ ….. فَأَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَوَاءُ

Jika engkau memiliki hati yang selalu qona’ah …

maka sesungguhnya engkau sama seperti raja dunia

Lalu bagaimana caranya mewujudkan sifat qanaah tersebut. Setidaknya ada tiga hal yang bisa membuat kita qanaah. Pertama: Mengimani takdir Allah yang Dia tetapkan kepada kita. Rezeki kita telah diatur oleh Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رُوْحَ الْقُدْسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْساً لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ

“Sesungguhnya Ruhulqudus (Jibril) membisikkan di hatiku, bahwasanya sebuah jiwa tidak akan mati kecuali setelah disempurnakan rizkinya dan ajalnya. Dan bertakwalah kepada Allah dan baiklah dalam berdo’a. (HR Ibnu Hibban dan Hakim).

Yakinlah! Selama seseorang masih hidup, pasti rezeki dari Allah akan mendatanginya. Walaupun semua orang menghalanginya. Itulah yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita:

وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ،

“Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu.” (HR. At-Turmudzi).

Ibnu Batthool berkata

وَغِنَى النَّفْسِ هُوَ بَابُ الرِّضَا بِقَضَاءِ اللهِ تَعَالىَ وَالتَّسْلِيْم لأَمْرِهِ، عَلِمَ أَنَّ مَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ للأَبْرَارِ، وَفِى قَضَائِهِ لأوْلِيَائِهِ الأَخْيَارِ

“Dan kaya jiwa (qona’ah) merupakan pintu keridhoan atas keputusan Allah dan menerima (pasrah) terhadap ketetapanNya, ia mengetahui bahwasanya apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang baik, dan pada ketetapan Allah lebih baik bagi wali-wali Allah yang baik”

Kedua: Berbaik sangka kepada Allah.

Orang yang qanaah adalah mereka yang senantiasa bersangka baik kepada Allah. Ia yakin, kadar rezeki yang Allah tetapkan untuknya saat ini, itulah yang terbaik untuknya. Ia berserah diri kepada Allah sambil berusaha. Ia lebih percaya dengan janji Allah daripada keadaan dunia yang ia saksikan. Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata,

إِنَّ مِنْ ضَعْفِ يَقِيْنِكَ أَنْ تَكُوْنَ بِمَا فِي يَدِكَ أَوْثَقُ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِ اللهِ

“Sesungguhnya di antara lemahnya imanmu engkau lebih percaya kepada harta yang ada di tanganmu dari pada apa yang ada di sisi Allah.”

Ketiga: Bersyukur atas semua nikmat Allah.

Seorang hamba hendaknya bersyukur dengan semua karunia yang Allah berikan kepadanya. Di antara cara yang dapat membantu seseorang untuk bersyukur kepadanya adalah dengan melihat kondisi orang-orang di bawahnya. Terkadang saat kita berkendara, kita melihat orang-orang duduk di pinggir jalan menunggu orang-orang yang menawar dagangan mereka. Kita lihat kondisi mereka di terik panas. Atau terkantuk-kantuk di malam hari. Kemudian kita sadar Allah memberi kita sesuatu yang lebih darinya. Aisyah radhiallahu ‘anhaa,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ فَقُلْتُ يَا خَالَةُ مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ قَالَتْ الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنْ الْأَنْصَارِ كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ فَيَسْقِينَا

Aisyah berkata kepada ‘Urwah, “Wahai putra saudariku, sungguh kita dahulu melihat hilal kemudian kita melihat hilal (berikutnya) hingga tiga hilal selama dua bulan, akan tetapi sama sekali tidak dinyalakan api di rumah-rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Maka aku (Urwah) berkata, “Wahai bibiku, apakah makanan kalian?”, Aisyah berkata, “Kurma dan air”, hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki tetangga dari kaum Anshoor, mereka memiliki onta-onta (atau kambing-kambing) betina yang mereka pinjamkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diperah susunya, maka Rasulullahpun memberi susu kepada kami dari onta-onta tersebut” (HR Al-Bukhari no 2567 dan Muslim no 2972)

Sa’iid bin Al-Musayyib berkata pada hari dimana rumah-rumah istri-istri Rasulullah dileburkan dengan Masjid Nabawi,

واللهِ لَوَدِدْتُ أَنَّهُمْ تَرَكُوْهَا عَلَى حَالِهَا يَنْشَأُ نَاشِيءٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ وَيَقْدُمُ الْقَادِمُ مِنَ الأُفُقِ فَيَرَى مَا اكْتَفَى بِهِ رَسُوْلُ اللهِ فِي حَيَاتِهِ فَيَكُوْنُ ذَلِكَ مِمَّا يُزَهِّدُ النَّاسَ فِي التَّكَاثُرِ وَالتَّفَاخُرِ

“Sungguh demi Allah aku sangat berharap mereka membiarkan rumah-rumah Rasulullah sebagaimana kondisinya, agar jika muncul generasi baru dari penduduk Madinah dan jika datang orang-orang dari jauh ke kota Madinah maka mereka akan melihat bagaimana kehidupan Rasulullah. Hal ini akan menjadikan orang-orang mengurangi sikap saling berlomba-lomba dalam mengumpulkan harta dan sikap saling bangga-banggaan” (Ath-Thabaqat Al-Kubra li Ibn Sa’ad 1/499)

Rumah Rasulullah itu kecil. Bahkan al-Hasan al-Bashri menceritakan sewaktu ia kecil, ia bisa menyentuh langit-langit rumah Rasulullah. Ada yang mengatakan ukuran rumah beliau hanya 3,5m x 5m.

Terakhir, saya ingin menyampaikan sebuah hadits dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu yang menceritakan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepadanya,

يَا أَبَا ذَر، أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هُوَ الْغِنَى؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ : أَفَتَرَى قِلَّةِ الْمَالِ هُوَ الْفَقْرُ؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قال : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ

“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang banyaknya harta merupakan kekayaan?”. Aku (Abu Dzar) berkata : “Iya Rasulullah”. Rasulullah berkata : “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta merupakan kemiskinan?”, Aku (Abu Dzar ) berkata, “Benar Rasulullah”. Rasulullahpun berkata : “Sesungguhnya kekayaan (yang hakiki-pen) adalah kayanya hati, dan kemisikinan (yang hakiki-pen) adalah miskinnya hati” (HR Ibnu Hibbaan dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam shahih At-Targiib wa At-Tarhiib no 827)

Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ini bisa bermanfaat untuk diri saya pribadi dan jamaah sekalian.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.