Khutbah Pertama:

الحمدُ للهِ رب العالمين، الرحمن الرحيم، مالِكِ يوم الدين، تفضَّل على العباد بأنواع الأرزاقِ والدلالة على أفضل الأخلاق، فتعالَى اللهُ الملِكُ الحقُّ لا إله إلا هو ربُّ العرش الكريم، واعلَمُوا أنَّ الله يعلَمُ ما في أنفُسِكم فاحذَرُوه، واعلَمُوا أنَّ الله غفورٌ حليم، وأشهدُ أن لا إله إلا اللهُ الخلَّاقُ العليم، وأشهدُ أن نبيَّنا محمدًا عبدُه ورسولُه وصَفَه ربُّه فقال: ﴿وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ﴾ [القلم: 4]، صلَّى الله عليه وعلى آلِه وأصحابهِ وأتباعِه الذين سارُوا على طريقتِه في التعامُل الحسَن والخُلُق الكريم.

أما بعدُ .. فيا أيها المُؤمنون:

Bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya. Gantungkanlah hati kepada-Nya dengan perasaan cinta, takut, dan harap. Karena sesungguhnya siapa yang bertakwa, dia akan menang dan sukses di dunia dan akhirat. Siapa yang bertakwa kepada Allah, ia akan ditunjuki ke jalan yang benar. Allah Ta’ala berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Quran Al-Hadid: 28]

Allah Ta’ala berfirman,

﴿وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” [Quran Al-Baqarah: 189].

Dalam firman-Nya yang lain,

﴿الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ﴾

“(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” [Quran Ali Imran: 172].

Dan firman-Nya,

اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

“Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” [Quran Al-Ankabut: 16].

Di antara bentuk ketakwaan seorang hamba kepada Rabbnya adalah hamba tersebut mentauhidkan Allah Jalla wa ‘Ala dalam beribadah kepada-Nya. Tidak boleh memalingkan ibadah kepada selain-Nya sedikit pun.

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” [Quran Al-Baqarah: 22].

Dalam firman-Nya yang lain,

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [Quran Adz-Dzariyat: 56].

Demikian juga firman-Nya,

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴾

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” [Quran Al-Bayyinah: 5].

Dan firman-Nya,

﴿إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي﴾

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Quran Thaha: 14].

Seluruh nabi dan rasul diutus dengan risalah tauhid. Dan yang terdepan di antara mereka adalah para ulul azmi: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ‘alaihimush shalatu was salam. Semua nabi berkata kepada kaumnya,

﴿يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” [Quran Al-A’raf: 65].

Allah menjadikan buah yang baik bagi mereka yang bertauhid dan mengikuti para rasul. Dan menghukum mereka yang menyelisihi jalan para rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ﴾

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” [Quran An-Nahl: 36].

Tauhid yang murni adalah ajaran yang diserukan oleh para nabi. Yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Dan inilah makna dari syahadat laa ilaaha illallah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

﴿وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ﴾

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [Quran Al-Baqarah: 163].

Firman-Nya juga,

﴿قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ﴾

Katakanlah: “Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat”. [Quran Ar-Ra’du: 30].

Dan firman-Nya,

﴿وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ (51) وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَتَّقُونَ (52) وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ (53) ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ (54) لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ فَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ﴾ [

“Allah berfirman: “Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut”. Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah? Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain), Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).” [Quran An-Nahl: 51-55].

Ibadallah,

Kemenangan dan keberhasilan adalah dua hal yang terwujud dengan merealisasikan syahadat ini dan syahadat anna Muhammadan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu menaati perintah sang nabi, membenarkan semua ucapannya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan. Meyakini bahwa beliau diutus untuk semua manusia. Dengan tujuan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Dari kesesatan menuju petunjuk. Allah Ta’ala berfirman,

﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا﴾

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.” [Quran Saba: 28].

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (45) وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا (46) وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلًا كَبِيرًا﴾

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” [Quran Al-Ahzab: 47].

Ayyuhal mukminun,

Allah Jalla wa ‘Ala memberi kabar gembira kepada Anda sekalian dengan karuia yang besar. Dia berfirman,

﴿وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ﴾

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” [Quran Al-Baqarah: 25].

Kemudian firman-Nya,

﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ﴾

“Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” [Quran Al-Baqarah: 82].

Sesungguhnya keimanan itu dibandung dengan rukun-rukun yang telah ditafsirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

أن تُؤمِنَ بالله، وملائكتِه، وكُتبِه، ورُسُلِه، واليومِ الآخِرِ، والقَدَر خيرِه وشرِّه

“Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, keapda kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhirat, kepada takdir yang baik dan yang buruk.”

Beliau juga menjelaskan tentang rukun Islam dengan sabdanya,

لإسلامُ: أن تشهَدَ أن لا إله إلا الله، وأنَّ مُحمدًا رسولُ الله، وتُقيمَ الصلاةَ، وتُؤتِي الزَّكاة، وتصُومَ رمضان، وتحُجَّ البيتَ إن استَطعتَ إليه سبيلًا

“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Engkau menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika mampu menempuh perjalanannya.”

Shalat adalah rukun Islam yang terpenting setelah syahadat. Shalat adalah amalan yang menunjukkan seseorang kepada Islam. Shalat merupakan tali penghubung seorang hamba dengan Rabnya. Di dalam shalat, seorang hamba bermunajat kepada Rabnya yang menciptakannya. Allah Ta’ala berfirman,

﴿وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴾

“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Quran Al-Ankabut: 45].

Dalam firman-Nya yang lain,

﴿أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا﴾

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” [Quran Al-Isra: 78].

Dan firman-Nya,

﴿وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ﴾

“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.” [Quran Al-A’raf: 170].

Adapun zakat, ia adalah perbuatan mengeluarkan sebagian harta untuk diserahkan kepada orang-orang miskin dan mereka yang berhak mendapatkannya. Hal itu dilakukan dalam rangka mendapatkan ridha Allah. Allah Ta’ala berfirman,

﴿وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” [Quran Al-Baqarah: 110].

Dan firman-Nya,

﴿وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾

“Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” [Quran Nur: 56].

Rukun yang lainnya adalah puasa di bulan Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [Quran Al-Baqarah: 183].

Dan rukun yang kelima adalah haji ke Baitullah al-Haram bagi siapa yang mampu menempuh perjalanannya. Allah Jalla wa Ala berfirman,

﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا﴾

“mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” [Quran Ali Imran: 97].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

﴿الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ﴾

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” [Quran Al-Baqarah: 197].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji, dan ia tidak berkata kotor, dan tidak melakukan kefasikan, maka ia akan kembali suci sebagaimana bayi yang baru dilahirkan ibunya.”

Ayyuhal mukminun,

Kita diperintahkan untuk meneladani Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam manasik haji. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لتأخُذوا عنِّي مناسِكَكم

“Hendaknya kalian mengambil dariku tata cara manasik haji kalian.”

Lebih dari itu, kita diperintahkan untuk meneladani beliau dan menempuh jalan petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh ibadah kita. Hal ini Allah masukkan sebagai standar benar atau tidak cinta seseorang kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ﴾

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Quran Ali Imran: 31].

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا﴾

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Quran Al-Ahzab: 21].

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang paling sempurna dan paling utama akhlaknya. Demikianlah Allah Jalla wa ‘Ala menyifati beliau dengan firman-Nya,

﴿وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ﴾

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” [Quran Al-Qalam: 4].

Dan firman-Nya,

﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ﴾

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.” [Quran Ali Imran:159].

Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha menyifati beliau dengan ucapannya, “Akhlak beliau adalah Alquran.”

Islam yang hakiki meliputi semua akhlak yang mulia, interaksi sosial yang baik. Betapa butuhnya manusia di zaman sekarang dengan akhlak yang mulia dan muamalah tentang harta dengan adab islami. Betapa butuhnya hokum dan undang-undang ekonomi dan politik disusun dengan adab islami. Demikian juga dengan undang-undang tenaga kerja. Dan hal-hal lainnya. Manusia tak akan mampu membentuk masyarakat yang baik kecuali dengan menanamkan akhlak mulia di hati-hati mereka. Akhlak itu menjaga hak-hak. Masyarakat dan lingkungan social yang sempurna akan tumbuh dengan akhlak. Betapa besarnya kebutuhan dunia keapda akhlak dalam setiap sisi kehidupan.

Dan khotbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Arafah menegaskan tentang pondasi akhlak. Dalam khutbah tersebut beliau melarang memusuhi orang lain. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas sesama kalian.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

“Dan janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, sehingga kalian satu sama lai saling membunuh.” (HR. Al Bukhari).

Ayyuhal mukminun,

Akhlak ini adalah salah satu kebaikan yang ada pada agama Islam. Agama yang memotivasi pemeluknya untuk berakhlak dengan akhlak yang utama. Dalam Shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً.

“Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling bagus akhlaknya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Di antara bukti nyata keutamaan agama Islam dan kesempurnaan syariatnya adalah agama ini bertujuan menjaga kemaslahatan dan menepis kemudharatan. Agama ini menyeru kepada kebangkitan, kemanfaatan, dan persaudaraan sesama kaum muslimin. Agama ini menebarkan kasih saying dan rasa cinta. Mendorong pemeluknya untuk menyebarkan kebaikan, memberi, tidak berbuat zalim terhadap manusia, dan menghilangkan permusuhan.

Umat Islam adalah umat yang satu. Mereka bersatu di atas petunjuk yang bersumber dari Alquran dan sunnah. Jauh dari hawa nafsu dan kebid’ahan. Agama ini jauh dari keburukan dan kebencian. Mereka semua menghadapkan diri kea rah yang sama ketika shalat. Yaitu arah Ka’bah. Mereka berhaji ke tempat yang sama, menunaikannya secara bersama-sama. Mereka saling tolong-menolong dengan keadilan, kasih saying, dan saling melindungi.

Agama ini sangat menekankan akhlak mulia. Berbicara dengan kata-kata yang baik dan tutur yang sopan. Allah Ta’ala berfirman,

﴿وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ﴾

“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” [Quran Al-Isra: 53].

Dalam firman-Nya yang lain,

﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾

“Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” [Quran Al-Baqarah: 83].

Allah juga memotivasi kaum muslimin untuk jujur dalam perkataan dan perbuatan. Allah Ta’ala berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [Quran At-Taubah: 119].

Syariat ini juga memerintahkan untuk memenuhi janji dan komitmen terhadap apa yang telah diucapkan. Allah Ta’ala berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” [Quran Al-Maidah: 1].
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

﴿وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا﴾

“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” [Quran Al-Isra: 34]

Allah Ta’ala memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, dan tetangga. Sebagaimana firman-Nya,

﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا﴾

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” [Quran An-Nisa: 36].

Tentang hak kedua orang tua, Allah berfirman,

﴿فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا﴾

“Sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” [Quran Al-Isra: 24].

Allah Ta’ala juga memerintahkan agar pasangan suami istri saling berinteraksi dengan baik. Sebagaimana firman-Nya,

﴿وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا﴾

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [Quran An-Nisa: 19].

Dan di antara isi khutbah Nabi di Arafah adalah sabda beliau,

أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Hendaknya kalian berwasiat yang baik untuk para wanita.”

Bahkan syariat mengajarkan untuk berbuat baik dan berlaku adil keapda seluruh makhluk. Allah Jalla wa Ala berfirman,

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [Quran An-Nahl: 90]

Allah Ta’ala berfirman,

﴿إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ﴾

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” [Quran Al-A’raf: 56].

Allah Azza wa Jalla melarang kita berlaku curang dan menipu. Dia berfirman,

﴿وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ﴾

“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” [Quran Al-An’am: 152]

Allah juga memerintahkan kita untuk menjaga amanah dan menunaikannya kepada ahlinya. Sebagaimana firman-Nya,

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ﴾

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” [Quran An-Nisa: 58].

Allah memuji orang-orang yang beriman yang memiliki sifat amanah. Sebagaimana firman-Nya,

﴿وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ﴾

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” [Quran Al-Mukminun: 8]

Allah juga memuji orang-orang yang mengutamakan orang lain.

﴿وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” [Quran Al-Hasyr: 9].

Ayyuhal muslimun,

Dengarlah contoh-contoh yang disampaikan dalam Alquran tentang pahala bagi mereka yang berakhlak dengan akhlak mulia. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

﴿وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [Quran Ali Imran: 133-134].

Ayyuhal muslimun,

Allah membuka pintu taubat untuk para hamba-Nya agar para hamba memanfaat kesempatan ini berlepas diri dari dosa yang telah mereka lakukan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

﴿إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا﴾

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Quran Al-Furqan: 70].

Allah Azza wa Jalla berfirman,

﴿وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى﴾

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” [Quran Thaha:82].

Ayyuhal muslimun,

Hari ini adalah saat terbaik dalam bertaubat. Dan Anda pun berada di tempat yang baik. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمِ الْمَلَائِكَةَ

“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba-Nya dari neraka, kecuali pada hari Arafah, sungguh Dia (Allah) mendekat (dengan rahmat-Nya), lalu Dia membanggakan mereka di hadapan para malaikat.”

Bagaimana tidak? Hari Arafah ini adalah hari yang agung. Hari dimana Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Quran Al-Maidah: 3].

Di hari inilah akhlak itu disempurnakan. Syariat menjadi paripurna.

Ayyuhal muslimun,

Terdapat pelajaran yang sangat baik dalam surat Al-Hujurat, dimana Allah melarang bermudah-mudah membenarkan berita yang beredar. Allah memerintahkan kita untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa. Dan mengembalikan orang-orang yang menyimpang pada kebenaran. Allah melarang mencela sesame manusia. Memanggil dengan panggilan yang buruk. Berburuk sangka. Memata-matai. Ghibah. Dan takabur.

Dunia Islam sepakat menyerukan agar kaum muslimin membaca Alquran, agar mereka mencapai derajat akhlak yang tertinggi. Allah Ta’ala berfirman,

﴿إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ﴾

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” [Quran Al-Isra: 9].

Dan di antara khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah:

وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ. كِتَابُ اللهِ

“Aku telah meninggal-kan di tengah-tengah kalian sesuatu yang apabila kalian ber-pegang teguh kepadanya kalian tidak akan tersesat; Kitabullah.”

Di antara hal yang diserukan Kitabullah adalah persatuan umat. Mengingatkan seseorang yang curang, menipu, dan berkhianat. Serta mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu yang menipu dan zhalim. Membiasakan diri menjaga prinsip-prinsip akhlak Islam dalam muamaah harta seperti dalam bisnis dan berdagang. Dengan mempraktikkan ahklak islami saat berdagang dan berbisni, kita akan mendapatkan kepercayaan. Dan pada hari ini pula Allah tetapkan syariat yang melarang berbuat curang, riba, memakan harta orang lain dengan cara yang batil, zalim dalam berdagang, perjudian, dan Allah perintahkan untuk memenuhi hak-hak orang lain.

Hal lainnya yang diperintahkan syariat yang juga berhubungan dengan akhlak adalah mengatur permasalahan kepentingan publik. Allah Ta’ala berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” [Quran An-Nisa: 59]

Oleh karena itu, hendaknya umat ini berpegang teguh menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersatu di bawah bendera pemimpin mereka dan kepemimpinannya. Jauh dari sifat-sifat memisahkan diri. Menunaikan kewajiban mereka terhadap para pemimpin dan tidak membentuk kelompok yang berbeda. Hendaknya umat ini menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Dengan inilah kebaikan umat dicapai dan inilah sebaik-baik umat untuk manusia. Dengan ini pula mereka akan menggapai yang dijanjikan Allah berupa kejayaan, rezeki, kebaikan, dan persatuan. Serta mereka dijauhkan dari perpecahan dan orang-orang yang menyerunya betapapun mereka berusaha mempengaruhi.

Ibadallah,

Menjaga akhlak yang baik itu diperintahkan dimanapun Anda berada. Dan di tempat suci ini, lebih ditekankan lagi. Bukanlah termasuk akhlak yang mulia di musim haji ini dan di tempat yang mulia ini, seseorang melakukan aksi, seruan-seruan kepada kelompok dan harokah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan dalam khutbah Arafahnya bahwa seluruh perkara jahiliyah telah terpendam dan terkbur di bawah kaki beliau.

Sesungguhnya berpegang dengan akhlak yang mulia akan menciptakan jalan yang baik dan mulia bagi kehidupan.

Wahai para pemimpin, para ulama, orang-orang yang memangku jabatan, para orang tua, para wartawan,

Kami menyeru kepada Anda sekalian untuk menempatkan tema akhlak pada proporsi dan urgensi yang selayaknya. Wajib bagi kita mendidik jiwa kita di atas akhlak tersebut. Dengan akhlak inilah jiwa kita akan merasakan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Terikat dengan Alquran dan sunnah. Dan akan mendapatkan hasil yang baik di dunia dan akhirat.

Para jamaah haji Baitullah al-Haram,

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di Arafah, beliau memerintahkan Bilal untuk iqomah. Kemudian beliau shalat zuhur dengan di-qashar. Setelah itu, beliau melaksanakan shalat ashar juga dengan di-qashar. Kemudian beliau wukuf di Arafah di atas onta beliau sambal berdzikir mengingat Allah Jalla wa ‘Ala. Beliau memanjatkan doa sampai matahari terbenam. Kemudian beliau beranjak ke Muzdalifah. Beliau berwasiat kepada sahabatnya,

أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ والوقار ، فَإِنَّ الْبِرَّ لَيْسَ باِلْإيِضَاعِ

“Wahai sekalian umat manusia, wajib atas kalian untuk tenang karena kebaikan itu bukan dengan tergesa-gesa.”

Ketika beliau sampai di Muzdalifah, beliau shalat maghrib tiga rakaat dan isya dua rakaat secara jamak dan qashar. Dan beliau bermalam di sana. Di waktu subuh, beliau melaksanakan shalat subuh di awal waktu. Kemudian berdoa kepada Allah hingga matahari terbit. Setelah itu, beliau pun beranjak menuju Mina dan melakukan jumrah aqabah dengan tujuh batu setelah matahari terbit. Beliau sembelih hewannya dan mencukur rambutnya. Setelah itu, beliau tawaf dengan tawaf ifadhah. Dan beliau berdiam di Mina selama hari-hari tasyrik untuk mengingat Allah Azza wa Jalla. Kemudian melakukan jumrah tiga kali setelah matahari tergelincir dari tengah-tengah. Dan berdoa saat shughra dan wustha. Beliau memberi udzur bagi mereka yang tidak mabit di Mina.

Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk menetap di Mina hingga hari ketiga belas. Dan inilah yang afdhal. Tapi, beliau juga membolehkan kalua seseorang hanya sampai hari kedua belas. Setelah selesai berhaji, dan hendak kembali ke Madinah, beliau tawaf terlebih dahulu di Ka’bah.

Jamaah haji Baitullah al-Haram,

Sesungguhnya Anda sekarang ini berada di tempat yang mulia dan waktu yang istimewa. Yang diharapkan pada saat ini dapat mengampuni segala kesalahan Anda serta diijabahnya doa-doa Anda. Oleh karena itu, Nabi tidak berpuasa di hari-hari ini agar bisa focus berdzikir dan berdoa.

Perbanyaklah doa kepada Rab kalian. Doa untuk kalian, orang-orang yang kalian cintai, dan orang-orang yang memiliki hak terhadap kalian. Serta jangan lupa pula doakan kaum muslimin secara umum. Mudah-mudahan Allah memperbaiki keadaan mereka. Menyatukan mereka di atas kebenaran. Doakan pula orang-orang yang telah berbuat baik kepada kalian. Sebagaimana di dalam hadits:

مَن صنَعَ إليكم معروفًا فكافِئُوه، فإن لم تجِدُوا فادعُوا له

“Siapa saja yang berbuat baik kepada kalian, balaslah. Jika kalian tidak mendapati (cara/sesuatu) untuk membalas, doakan kebaikan untuknya.”

Sesungguhnya di antara orang yang sangat baik terhadap kaum muslimin adalah orang yang mengkhidmatkan diri melayani dua tanah suci. Ia bergadang demi kenyamanan tamu-tamu Allah. Di antara orang yang paling berperan dalam hal ini adalah pelayan dua tanah suci (Raja Salman) dan wakilnya. Doakanlah kebaikan untuk mereka.

اللهم يا حيُّ يا قيُّوم، يا ذا الجلال والإكرام نسألُك أن تُوفِّقَ خادمَ الحرمَين الشريفَين الملِكَ سلمان بن عبد العزيز، اللهم كُن معه مُؤيِّدًا وناصِرًا ومُعينًا على كل خيرٍ، اللهم جازِه خيرَ الجزاء على ما يُقدِّمُه مِن الخير والإحسان، اللهم بارِك في وليِّ عهدِه الأمير مُحمد بن سَلمان، اللهم شُدَّ عضُدَه به، واجعَله سببَ خيرٍ للأمة كلِّها.

اللهم تقبَّل مِن الحَجيج حجَّهم، اللهم تقبَّل مِن الحَجيج حجَّهم، ويسِّر لهم أمورَهم، واكفِهم شرَّ مَن أرادَ بهم سُوءً، اللهم أعِدهم لبُلدانهم سالِمين غانِمين قد غُفِرَت ذنوبُهم، وقُضِيَت حوائِجُهم.

اللهم اغفِر للمُسلمين والمُسلمات، والمُؤمنين والمُؤمنات، وألِّف ذاتَ بينهم، وأصلِح قلوبَهم، وتولَّ شأنَهم، وآمِنهم في أوطانِهم، واهدِهم لأحسن الأخلاق والأقوال والأعمال يا ذا الجلال والإكرام.

سُبحان ربِّك ربِّ العزَّة عما يصِفُون، وسلامٌ على المُرسَلين، والحمدُ لله ربِّ العالمين.

Diterjemahkan dari Khotbah Arafah Syaikh Husein bin Abdul Aziz alu asy-Syaikh
Penerjemah Tim KhotbahJumat.com

Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.