Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ و كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Ibadallah,

Manusia merupakan makhluk Allah Azza wa Jalla yang mempunyai keinginan. Karena keinginan itulah, pasti ia akan berbuat sesuatu untuk menggapai apa yang ia inginkan dan menghindari apa yang tidak ia inginkan.

Karenanya, manusia memerlukan pedoman agar apa yang ia perbuat tidak justeru menjerumuskannya kedalam bahaya atau menyebabkan hilangnya apa yang bermanfaat bagi dirinya sedangkan ia tidak menyadari.

Ketetapan syariat Allah –atau disebut juga asy-Syar’u al-Ilahi- adalah pedoman terpercaya yang pasti maslahat untuk mengatur langkah-langkah, perbuatan-perbuatan dan keputusan-keputusannya. Sehingga dengan ketetapan syariat Ilahi ini seseorang akan dapat membedakan antara yang manfaat dan yang madharat, antara yang baik dan yang buruk, sekalipun akal sehat bisa juga membedakan hal itu, tetapi hanya secara garis besar. Mengapa demikian? Ya, sebab ketetapan itu datangnya dari Allah Azza wa Jalla . Dan Dia Maha mengetahui apa yang maslahat bagi para hamba-Nya. Dia juga Maha kasih sayang hingga tak mungkin dengan ketetapan-Nya akan menjerumuskan hamba-Nya kedalam kesengsaraan. Diapun Maha bijaksana hingga ketetapan-Nya pasti adalah yang terbaik bagi para hambaNya.

Demikianlah, betapa penting kedudukan asy-Syar’u al-Ilahi ini bagi manusia. Maka Allah Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. [Al-Hajj/22:30]

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah menukil beberapa pendapat Ulama tentang pengertian hurumatullah, garis besarnya sebagai berikut:

Sekelompok Ulama ahli tafsir mengatakan bahwa hurumatullah di sini maksudnya hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah Azza wa Jalla dan apa saja yang dilarang-Nya. Sedangkan ma’na “mengagungkan hurumatullah” artinya tidak melakukan hal-hal yang dimurkai Allah dan dilarang-Nya serta tidak menyentuhnya.

Sebagian lain mengatakan bahwa hurumatullah adalah perkara yang tidak halal untuk dilanggar.

Yang lain lagi mengatakan bahwa hurumatullah adalah perintah dan larangan (Allah).

Sementara ulama lain lagi mengatakan bahwa al-hurmah (kata tunggal dari hurumat) ialah sesuatu yang wajib ditegakkan dan haram diabaikan.

Dan ada pula yang mengatakan bahwa hurumatullah di sini ialah manasik (tata cara) ibadah haji dan masya’ir (tempat-tempat pelaksanaan ibadah) haji, baik menyangkut waktu atau tempat.

Dan menurut Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah, yang benar di antara pendapat-pendapat itu ialah, bahwa pengertian hurumatullah, umum meliputi semua pengertian di atas. Hurumat merupakan bentuk jama’ (plural) dari kata hurmah (atau hurumah), yaitu segala yang wajib dihormati dan dijaga, baik menyangkut hak, manusia, waktu maupun tempat. Sedangkan mengagungkannya adalah menunaikan hak dari perkara-perkara tersebut sesuai dengan yang semestinya serta menjaganya hingga tidak terabaikan.

Dengan kata lain,hurumatullah adalah segala ketetapan syariat Allah Azza wa Jalla atau dalam bahasa Arab bisa disebut syar’un Ilahi.

Apabila seseorang terdidik untuk mengagungkan serta menghormati setiap ketetapan syariat Allah Azza wa Jalla , maka setiap ketetapan syariat sekecil apapun akan ia hormati dan ia agungkannya. Sehingga betapapun kecilnya perintah Allah Azza wa Jalla , meskipun secara hukum tidak wajib, ia tidak akan meremehkannya. Betapapun kecilnya larangan Allah, sekalipun secara hukum tidak haram, iapun tidak akan meremehkannya dan akan selalu berusaha meninggalkannya. Apalagi terhadap ketetapan-ketetapan Allah yang pokok. Dengan hati dan jiwa bersih orang itu akan selalu memperhatikan setiap ketentuan syariat Ilahi.

Pemahaman dan kebersihan hatinya itulah yang menghantarkannya menuju sikap hormat serta mengagungkan setiap ketentuan syariat Allah Azza wa Jalla. Ia paham bahwa syariat itu pasti maslahat bagi dunia akhirat siapapun yang mematuhinya. Ia tahu bahwa ketetapan syariat Allah ini merupakan pedoman hidup yang akan meluruskan langkah-langkahnya hingga mendapat ridha Allah. Inilah sikap seorang yang memahami dinullah sedangkan hatinyapun bersih dari noda.

Munculnya sikap demikian itu, jelas merupakan hidayah dan taufiq Allah Subhanhu wa Ta’ala. Namun hidayah tersebut memerlukan upaya-upaya konkrit. Salah satu di antara upaya tersebut adalah pendidikan yang tepat.

Maka diperlukan langkah pendidikan semenjak dini. Semenjak anak-anak mulai bisa berbicara, bahkan semenjak jauh sebelum itu, ketika anak-anak masih dalam kandungan, bahkan ketika calon ayah dan calon ibu belum menikah, mereka sudah harus mempersiapkan diri dengan ketakwaan dan keshalehan.

Sementara itu, jika anak-anak telah lahir, maka di saat mereka mulai bisa berbicara, sejak itulah segera harus mulai di talqin, didoktrin, dilatih dan dipahamkan secara lembut dan bertahap tentang arti penting dari kalimat la Ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah. Agar semenjak itu tumbuh pemahaman yang benar tentang Pencipta dan Yang diibadahi, sekaligus memahami bagaimana menghormati-Nya, menghormati nabi-Nya dan menghormati ketetapan-ketetapan syariat-Nya. Sehingga mereka akan menjadi orang-orang yang shaleh dan shalihah. Orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla dengan taufiqNya.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ

Khutbah Kedua:

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Ibadallah,

Adalah tepat apa yang dikatakan oleh Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah, tentang tahapan-tahapan pendidikan anak. Beliau rahimahullah menegaskan:

Pada saat anak-anak mulai bisa berbicara, hendaknya talqin (doktrinkan)lah kalimat la Ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah. Hendaklah hal pertama yang merasuki pendengaran mereka adalah pemahaman tentang Allah Subhanhu wa Ta’ala, tentang mentauhidkan-Nya, tentang Allah ada di atas ‘Arsy, tentang Dia yang selalu melihat gerak gerik mereka, selalu mendengar perkataan mereka dan selalu menyertai mereka dengan pengawasanNya di manapun mereka berada.

Demikianlah, hendaknya para orang tua memperhatikan pendidikan anak-anaknya, pendidikan yang dapat menghantarkan anak-anaknya menjadi anak yang shaleh atau shalehah, bertaqwa dan menghormati segala ketatapan syariat Allah, mulai dari yang paling pokok sampai syrai’at yang sekecil-kecilnya.

Nas’alullaha at-Taufiq.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا

أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

[Diadaptasi dari tulisan Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin di majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XX/1437H/2016M].

Leave a Reply

Your email address will not be published.