Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، مَنْ أَطَاعَهُ سَعُدَ وَلَمْ يَشُقَّ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، بِيَدِهِ مَقَالِيْدُ الأَرْضِ وَالسَّمَاءِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِيُّ المُصْطَفَى، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الأَصْفِيَاءِ الأَتْقِيَاءِ.

أَمَّا بَعْدُ .. فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ:

أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ – جَلَّ وَعَلَا -؛ فَمَنِ اتَّقَى أَفْلَحَ وَزَكَى.

Ayyuhal muslimun,

Di zaman sekarang ini fitnah bertebaran, musibah berbagai macam, ancaman-ancaman berbahaya, dan konspirasi-konspirasi tersebar. Sungguh umat Islam, baik pemerintah maupun masyarakatnya mencari-cari apa yang dapat memperbaiki kehidupan umat dan membuat mereka bahagia. Terwujudnya kebahagiaan dan kesenangan. Dan jauh dari kesulitan dan bahaya.

Sesungguhnya kemenangan dan kesuksesan umat ini dengan mendapat apa yang mereka harapkan, berhasilnya mereka dari segala yang mereka takutkan, dan selamatnya mereka dari segala rencana jahat, tidak akan terwujud kecuali dengan berpegangnya mereka dengan ajaran Islam yang murni. Yang mencakup benarnya tauhid, bersihnya akidah, berserah diri secara sempurna kepada satu-satunya sesembahan (Allah) dalam setiap sisi kehidupan mereka. Allah ﷻ berfirman,

﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ﴾

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (QS:Al-Mu’minuun | Ayat: 1).

Dan Nabi ﷺ bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qanaah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Muslim).

Kemakmuran, ketenangan, hidup yang nyaman tidak akan terwujud, aman, dan iman masyarakat muslim tidak akan terwujud sampai mereka menyerakan urusan mereka kepada Allah ﷻ. Sampai mereka menerapkan syariat dan menaati petunjuk Rasulullah ﷺ.

﴿إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS:An-Nuur | Ayat: 51).

Umat Islam,

Penderitaan dengan berbagai bentuknya tidak akan hilang walaupun di sekitar kita terdapat berbagai jalan keluar dan solusi, selama kita bertaubat nasuha dari segala dosa yang telah kita lakukan. Termasuk menyelisihi manhaj Rabb kita dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Realita umat saat ini, merasakan berbagai derita dan musibah dengan berbagai bentuknya. Mengajarkan kita agar kita tunduk kepada Rabb kita. Agar kita bertaubat kepada-Nya dengan memperbaiki keadaan sesuai dengan yang Dia ridhai.

﴿أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ﴾

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka.” (QS:Al-Hadiid | Ayat: 16).

﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS:An-Nuur | Ayat: 31).

Jika kita tidak melakukan hal itu, keadaan kita masih saja menempuh jalan-jalan maksiat dan terus dalam perbuatan dosa, ketauhilah jalan kemenangan dan jalan perbaikan menjauh dari kita.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS:Al-Maidah | Ayat: 90).

Inilah keadaan umat ini –sebagai contoh nyata- hidup dalam kelompok-kelompok, berselisih dan bertentangan, dan saling bantah-membantah. Kemudian hasil dari perselisihan itu pertumpahan darah. Rusaknya kehormatan. Sehingga di antara mereka saling menimpakan kejelekan. Terjadilah apa yang Allah ﷻ firmankan pada mereka,

﴿وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ﴾

“Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (QS:Al-Anfaal | Ayat: 46).

Rasulullah ﷺ bersabda,

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ

“Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Alloh, dan memilih-milih sebagian apa yang Alloh turunkan, kecuali Alloh menjadikan permusuhan yang keras di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah dan selainnya, dishahihkan oleh banyak ahli hadits).

Demikianlah keadaan umat pada hari ini, mereka terpuruk dalam permasalahan ekonomi. Solusinya adalah kembali kepada bimbingan agama, manhaj ilahi yang diridhai. Ketika umat ini menyimpang dari bimbingan ilahi, maka mereka akan terjadtuh pada musibah dan balak.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS:Ali Imran | Ayat: 130).

Dalam hadits:

وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

“Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezholiman pemerintah.”

Maknanya adalah mereka tidak melakukan muamalah dengan muamalah yang telah Allah bombingkan. Mereka akan ditimpa kekeringan, harga-harga jadi melambung tinggi, sempitnya kehidupan dan harta, dan Allah ﷻ beri mereka musibah dengan pemimpin-pemimpin yang zhalim.

Ayyuhal muslimun,

Mewujudkan kesuksesan dan kemengan adalah tujuan yang besar, akan tetapi hal itu harus diwujudkan dengan perbuatan umat yang sungguh-sungguh dan tulus. Dengan menempuh jalan yang telah diperintahkan. Menempuhnya dengan baik dan mencegah dari kemungkaran. Saling menasihati dalam urusan yang memajukan dan dalam kebenaran. Hal ini dilakukan dengan metode yang benar, cara yang bijak, dan tujuan yang mulia.

﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS:Ali Imran | Ayat: 104).

Sebagian orang menyangka, bahwa mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah tugas sebagian orang saja. Bukan! Ini adalah tugas bersama. Semua harus mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Ketika kaum muslimin melenceng dari jalan ini, mereka akan terjatuh pada kerugian dan terjatuh pada kebinasaan. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS:Al-‘Ashr | Ayat: 1-3).

Saudaraku kaum muslimin,

Sesungguhnya kemenangan itu didapat dengan pemahaman Islam yang murni. Pemahaman yang bersumber dari Muhammad ﷺ. Agama yang moderat. Jauh dari berlebih-lebihan dank eras. Jauh dari meremehkan apa yang telah dicatatkan dalam Alquran dan Sunnah. Betapa banyak orang-orang yang berlebihan atau meremehkan. Betapa banyak terjadi pada kaum muslimin kerusakan yang besar dan kejelekan yang tak terhitung, karena mereka menyelisihi apa yang diinginkan Allah ﷻ dan menyelisihi Sunnah Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا﴾

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 143).

Ma’syiral muslimin,

Sesungguhnya kemenangan duniawi yang dipahami dalam bentuk kemajuan suatu bangsa, kemakmuran masyarakat, kenikmatan yang merata, dan keberkahan yang langgeng, tidak terwujud hanya dengan bersungguh-sungguh menempuh usaha-usaha ragawi saja. Kemajuan duniawi itu juga diperoleh dengan istiqomah di atas Sunnah dan teguh memegang syariat dalam setiap urusan.

﴿وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS:Ath-Thalaaq | Ayat: 2-3).

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ﴾

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS:Al-A’raf | Ayat: 96).

Wahai umat Islam,

Banyak kaum muslimin telah mencoba, setelah mereka merdeka dari penjajahan, mereka mencoba menempuh cara-cara dan pemikiran impor (bukan dari Islam) agar menjadi bangsa yang maju. Mereka mengikuti langkah-langkah yang bukan dari Islam itu kurang lebih selama 200 tahun. Akan tetapi tidak didapati hasil kecuali pemikiran yang rusak saja. Umat ini semakin lemah secara militernya. Ekonominya terpuruk. Akhlaknya rusak. Dan masyarakatnya gamang. Dunia mereka tidak menjadi lebih baik. Sedangkan akhirat mereka lebih rusak lagi keadaannya.

Telah kita saksikan realita yang menyedihkan ini. mulai dari zaman. Kita berharap untuk kembali lagi kepada Alquran dan Sunnah, dua cahaya yang memberi petunjuk. Keadaan sekarang kelemahan dan kerusakan tersebar di kota maupun desa. Keadaan sekarang penuh dengan dusta, kebatilan, dan pernik zhahir materi saja. Dan kebaikan pribadi meredup. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam.

Sesungguhnya apa yang mereka jadikan undang-undang sekarang mereka sangka sesuatu yang terbaik. Namun praktiknya, hal itu menjadikan bangunan keislaman pada diri mereka hancur. Rusak stabilitas mereka. Menjadi penghalang yang langgeng antara kebaikan dengan negeri mereka. Asas perundangan yang mereka pilih telah menyimpang dari perbaikan rabbaniyah dan petunjuk nabawi. Apa yang mereka pilih itu semata-mata merusak, diri dan orang lain. Baik dari sisi agama, akhlak, adab, dan kemanusiaan.

﴿وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ﴾

“dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS:Al-Maidah | Ayat: 50).

Apa yang terjadi di negara-negara umat Islam yang terjadi kekacauan pada hari ini merupakan bukti nyata dari apa yang telah khotib sebutkan.

Bertakwalah kepada Allah wahai kaum muslimin. Kembalilah kepada agama kalian. Perbaikilah keadaan kalian.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ.

أَمَّا بَعْدُ:

Ayyuhal muslimun,

Sesungguhnya umat Islam memiliki cara dan kiat untuk menjadi mulia dan menang. Hal ini tidak dimiliki oleh umat-umat yang lain. Umat ini memiliki keistimewaan dalam cara memperoleh kebaikan dan kebahagiaan yang tidak ada pada umat lainnya. Merenungi napak tilas generasi pertama umat ini kita akan menemukan bukti yang nyata. Kejayaan ini adapat terwujud apabila terpenuhi syarat-syaratnya. Apabila ditebus gadainya.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ﴾

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS:Muhammad | Ayat: 7).

Semoga Allah menjaga umat ini. umat yang memiliki syarat kejayaan dengan berpegang teguh dengan syariat Allah, menaati-Nya ﷻ, dan menjauhi larangan-Nya.

﴿إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا﴾

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (QS:Al-Hajj | Ayat: 38).

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah ﷺ bersabda,

اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah batas-batas Allah, pasti Allah akan menjagamu.”

Keamanan umat dan ketenangan negara syaratnya adalah menjalankan konsekuensi iman dan berpegang teguh dengannya. Menegakkan Islam dan hak-haknya bukan hanya sekadar perkataan, tapi keyakinan, ucapan, dan amalan harus serasi.

﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ﴾

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS:Al-An’am | Ayat: 82).

Umat Muhammad tinggi kedudukannya dan merekalah yang menang. Ketinggian dan kemenangan yang berbanding lurus dengan sejauh mana keimanan mereka dan bagaimana mereka menjalankan kewajiban. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS:Ali Imran | Ayat: 139).

﴿وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ﴾

“Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (QS:Ash-Shaaffat | Ayat: 173).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS:At-Taubah | Ayat: 123).

Beliau mengucapkan suatu kalimat yang kuat sekali maknanya, “Setiap berdiri kerajaan dari kerajaan-kerajaan Islam yang menaati perintah Allah, bertakwal kepada-Nya, maka Allah akan bukakan untu mereka kemenangan atas negeri yang lainnya. Dan Allah akan mengembalikannya kepada musuh tergantung dengan kedekatan mereka kepada Allah ﷻ.”

Ibadallah,

Sesungguhnya Allah memerintahkan kita dengan sebuah perintah agung. Yaitu mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi yang mulia, Muhammad ﷺ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنِ الآلِ وَالصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَمَّنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ أَنْ تُصْلِحَ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ المُسْلِمِيْنَ بِالإِسْلَامِ، اَللَّهُمَّ أَسْعِدْ حَيَاتَنَا بِالإِسْلَامِ، اَللَّهُمَّ أَسْعِدْ حَيَاةَ أُمَّتَنَا بِعَقِيْدَةِ التَوْحِيْدِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ اكْتُبْ لَهَا العِزَّ وَالنَّصْرَ وَالتَّمْكِيْنَ، اَللَّهُمَّ رُدَّهَا إِلَيْكَ رُدًّا جَمِيْلاً، اَللَّهُمَّ رُدَّهَا إِلَيْكَ رُدًّا جَمِيْلاً.

اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الإِسْلَامِ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الإِسْلَامِ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِهِمْ، اَللَّهُمَّ أَرْسِلْ عَلَيْهِمْ جُنْدَكَ الَّتِي لَا تُهْزَمُ، اَللَّهُمَّ أَرْسِلْ عَلَيْهِمْ جُنْدَكَ الَّتِيْ لَا تُهْزَمُ، يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَمِنْ جَمِيْعِ سَخَطِكَ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ جُهْدِ البَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَقَاءِ، وَسُوْءِ القَضَاءِ، وَشِمَاتَةِ الأَعْدَاءِ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَاهُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُ وَجَمِيْعَ حُكَّامِ المُسْلِمِيْنَ لِمَا فِيْهِ خِدْمَةُ رِعَايَاهُمْ فِي دِيْنِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ.

اَللَّهُمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيْدُ، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ اسْقِ دِيَارَنَا وَدِيَارَ الإِسْلَامِ، اَللَّهُمَّ اسْقِنَا وَاسْقِ دِيَارَنَا وَدِيَارَ الإِسْلَامِ، اَللَّهُمَّ اسْقِنَا وَاسْقِ وَدِيَارَ المُسْلِمِيْنَ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيْدُ، يَا ذَا الجْلَالِ وَالإِكْرَامِ.

عِبَادَ اللهِ:

اُذْكُرُوْا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا، وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Husein bin Abdul Aziz alu asy-Syaikh (Imam dan Khotib Masjid Nabawi)
Judul asli: Asbab al-Falah al-Ummati al-Muhammadiyah
Tanggal Khotbah: 25 Shafar 1438 H
Penerjemah: Tim KhotbahJumat.com

Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email