Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْداً، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَاراً بِهِ وَتَوْحِيْداً، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً مَزِيْداً

أَمَّا بَعْدُ:

أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى

Ibadallah,

Imam Ibnu Majah meriwayatkan dalam Sunan-nya dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ,

حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي الأرْضِ خَيْرٌ لأَهْلِ الأرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا

“Dilaksanakannya suatu hukum had di muka bumi, lebih baik bagi penduduknya dari pada turunnya hujan selama 40 hari.”

Allah ﷻ telah mensyariatkan qisas, hudud, dan ta’zir untuk keadilan yang sempurna dan kebaikan yang besar. Penerapan hukum Allah tersebut merupakan bentuk kasih sayang Allah ﷻ terhadap hamba-hamba-Nya. Hal itu juga merupakan bentuk kelemah-lembutan Allah terhadap mereka. karena penerapan hukum itu dapat menjaga agama, jiwa, akal, kehormatan, dan harta.

Ketika hukum Allah ditegakkan, maka keamanan di masyarakat terwujud. Inilah tujuannya. Terwujudnya keamanan di masyarakat yang merupakan kepentingan utama umat manusia. Orang rela membayar penjaga, ronda, dan sistem keamanan yang canggih dengan harga yang mahal demi terwujudnya keamanan. Semua itu bisa diwujudkan ketika qisas ditegakkan. Hudud dan ta’zir diterapkan.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ bahwasanya pengakan hukum ini lebih baik untuk manusia, daripada hujan yang merata selama 40 tahun. betapa manfaatnya hujan yang merata selama 40 tahun bagi manusia, namun penerapan hukum Allah ﷻ jauh lebih bermanfaat dan lebih banyak menebarkan faidah dari hujan tersebut.

Ibadallah,

Allah ﷻ telah mensyariatkan had untuk peminum khamr dan zat-zat yang memabukkan untuk menjaga akal manusia. Dia mensyariatkan qisas untuk menjaga jiwa. Menghukum pelaku zina untuk menjaga keturunan dan kehormatan. Menghukum pencuri untuk menjaga harta. Dan untuk para pemberontak dan pemecah belah persatuan umat juga diterapkan hukumannya.

Apabila hukum-hukum ini diterapkan, maka kemanfaatan secara individu, masyarakat, dan negara dapat terwujud. Karena penerapannya merupakan bentuk melaksanakan apa yang Allah ﷻ perintahkan. Allah ﷻ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh…” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 178).

Karena hukum ini dapat memberi efek jera dan rasa takut untuk melakukan pelanggaran. Niat untuk melakukan kejahatan dan criminal pun mengecil. Keburukan pun menyempit dan tidak tersebar. Oleh karena itu Allah ﷻ berfirman,

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 179).

Orang-orang yang ingin atau berniat membunuh, kemudian mengetahui bahwa ia juga akan dibunuh sebagai konsekuensinya, timbul rasa takut pada dirinya. Dengan cara ini, hukum Islam melindungi darah dan nyawa manusia. Demikianlah konsekuensi dari seluruh hukum Islam.

Dalam penerapan hukum Islam, pergolakan keamanan hilang. Dan keamanan dapat diwujudkan. Allah ﷻ berfirman menyebutkan tentang anak Adam,

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS:Al-Maidah | Ayat: 32).

Ayat ini merupakan bentuk penegasan ancaman bagi pembunuh, walaupun hanya membunuh satu jiwa. Allah ﷻ menggambarkan membunuh satu jiwa sama dengan membunuh semua manusia. Selain bentuk kerasanya ancaman, ayat ini juga mengajarkan agar manusia perhatian terhadap jiwa seseorang. Karena menghidupkan satu jiwa bagaimakan menghidupkan semua manusia. Kita perhatikan masyarakat yang menerapkan hukum Allah terlihat lebih aman dan sedikit pergolakan. Ini merupakan karunia dari Allah. Sungguh Allah ﷻ memiliki karunia yang besar.

Ibadallah,

Hal yang paling utama dalam terwujudnya keamanan adalah ditegakkannya tauhid. Apabila tauhid ditegakka di suatu daerah atau negara, maka tempat tersebut akan menjadi tempat yang aman. Allah ﷻ berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS:Al-An’am | Ayat: 82).

Dan bentuk penerapan tauhid adalah dengan menerapkan hokum-hukum Allah. Menerapkan syariat di tengah masyarakat. Orang yang membunuh, maka ia divonis membunuh. Coba Anda perhatikan, ketika ada seorang yang hendak membunuh Anda atau salah seorang dari anggota keluarga yang Anda sayangi; ayah, ibu, istri, anak, atau saudara-saudara Anda. Anda akan sekuat tenaga melindungi mereka dari sang pembunuh. Anda akan korbankan diri demi menyelamatkan mereka. Bahkan Andak akan membunuh mereka. Dan nyawa itu bukanlah perkara remeh. Nyawa bukanlah sesuatu yang murah. Seseorang menghilangkan nyawa manusia, maka dia telah melakukan kezhaliman yang besar. Maka layak ia mendapatkan hukuman demikian.

Demikian juga dengan pencuri, orang yang berzina, dll. layak bagi mereka untuk mendapatkan hukuman yang telah Allah ﷻ tetapkan. Tentu saja ditegakkan dengan bijak dan hikmah bukan puas-puasan dan melampiaskan emosi. Yang perlu diperhatikan, hokum ini bukan sekadar hukuman kepada pelaku, tapi juga menimbulkan efek kepada orang-orang yang baru berniat untuk melakukan kejahatan.

Kita memohon kepada Allah ﷻ agar menunjuki para pemimpin kita untuk menegakkan hukum dengan adil. Menghukum yang salah dan tidak menzhalimi yang tidak bersalah. Semoga Allah menambah kemuliaan para hamb-Nya yang mengikuti syariatnya. Menganugerahkan mereka taufik untuk meniti kebanaran. Dan menjauhkan mereka dari segala keburukan. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang cinta akan keimanan dan menghiasinya di hati-hati kita. Dan membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.

Ibadallah,

Seorang muslim adalah mereka yang tidak mendahulukan hawa nafsunya dari wahyu Allah. Mereka bersyukur dengan kebaikan para pemimpin. Mendoakan mereka dengan doa kebaikan dan teguh meniti kebenaran. Mereka memilihkan waktu yang terbaik untuk memanjatkan doa tersebut.

Saudaraku kaum muslimin,

Seorang muslim hendaknya bergembira ketika mendengar hukum Allah diterapkan. Bergembira dengan firman Allah ﷻ.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS:Yunus | Ayat: 58).

Penerapan hokum Allah ﷻ adalah anugerah yang sangat besar. Dan itu juga merupakan kasih sayang yang besar dari Allah. tidak akan mengetahui betapa besar kedudukan tersebut kecuali oleh orang yang cerdas dan mengetahui.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ البَيَانِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً،

أَمَّا بَعْدُ :

عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى،

Ibadallah,

Ada sebagian orang di masyarakat kita, mereka berbicara tentang permasalahan besar, padahal itu bukanlah keahlian mereka. Permasalahan negara, permasalahan bangsa, permasalahan agama, dll. mereka berbicara tentang syariat, padahal mereka tidak akrab mengkaji ilmu agama. mereka berkata, “Hukum ini kejam, tidak tepat, zhalim. Tidak boleh mencambuk, tidak boleh ini dan itu. dll.”

Inilah kenyataan di masyarakat kita. Kaum muslimin, berbicara tentang Islam berdasarkan pengalaman. Yakni pengalaman mereka telah berislam selama belasan atau puluhan tahun. Karena telah lama menjadi seorang muslim, lantas mereka mengatakan ini boleh dan ini tidak boleh. Bukan, bukan seperti itu cara beragama. Permasalahan boleh atau tidak boleh, halal atau haram, itu ditentukan dengan belajar. Bukan dengan perasaan dan pengalaman.

Seseorang merasa berilmu, padahal ia tidak mengkaji agamanya. Kalau dalam bidang keilmuan dunia saja, seorang yang tidak belajar ilmu kedokteran dilarang berbicara tentang kajian ilmu kedokteran, apalagi permasalahan akhirat? Mengapa kita menganggap remeh permasalahan akhirat? Berbicara tanpa ilmu dalam agama akan membawa penyesalan yang sangat besar di akhirat. Dan hal itu juga mendatangkan murka Allah ﷻ. Dia tidak ridha ada seseorang berbicara tentang agama-Nya hanya dengan perasaan dan pengalaman. Jika kita tidak tahu, kita diam. Jangan kedepankan perasaan apalagi pengalaman.

Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari sifat yang demikian.

ثُمَّ اعْلَمُوْا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ أَنَّ خَيْرَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ، فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النّارِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) [الأحزاب:56] .

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِّيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنّاً وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ بِسُوْءٍ فَأَشْغِلْهُ بِنَفْسِهِ، وَارْدُدْ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ، وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُ فِي تَدْبِيْرِهِ، وَاكْشِفْ نَوَايَاهُ وَخُطَطَهُ وَاجْعَلْهَا سَبَبَ لِلْقَضَاءِ عَلَيْهِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ اكْفِنَا شُرُوْرَهُمْ، اَللَّهُمَّ رُدَّ كَيْدَهُمْ فِي نُحُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ سَلِّطْ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ، وَاشْغِلْهُمْ بِأَنْفُسِهِمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لَا يَرُدُّ عَنِ القَوْمِ المُجْرِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ، غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلَا مُضِلِّيْنَ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ بِطَانَتَهُمْ، وَأَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالمُفْسِدِيْنَ، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ، اَللَّهُمَّ أَيِّدْهُمْ بِالْحَقِّ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ بِالْحَقِّ وَانْصُرِ الحَقَّ بِهِمْ، اَللَّهُمَّ احْمِ بِهِمْ عِبَادَكَ وَبِلَادَكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ .

عِبَادَ اللهِ، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ* وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ) [النحل:90-91]، فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ .

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

Print Friendly, PDF & Email