Sikap Seorang Muslim Terhadap Ahli Maksiat

Bukanlah termasuk seorang mukmin yang baik, apabila ia melihat saudaranya terkena rayuan setan dan berbuat maksiat, diliputi amarah keburukan yang membawanya terjatuh pada sesuatu yang haram. Bukanlah seorang mukmin apabila dia melihat saudaranya berada pada keadaan tersebut kemudian dia tidak menasihati dan menolongnya. Bukankah jikalau kamu melihat saudaramu celaka yang menyebabkan kematian; kemudian jiwamu tersentuh dan berusaha menolongnya? Mengapa kamu tidak berusaha menolongnya jika ia terjatuh ke dalam perbuatan yang menyebabkannya kematian hati nuraninya? [Redaksi Khotbahjumat.com]

***

Sikap Seorang Muslim Terhadap Ahli Maksiat

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعْيِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا , مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدُّ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَللَّهُمَّ صَـلِّ وَسَـلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى بَعْدَ أَنْ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً ,  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
. أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ  وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Ayyuhal muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa rahimakum

 

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah menjadikan kaum mukminin saling bersaudara, saling menguatkan satu dengan lainnya seperti sebuah bangunan; yang telah mewajibkan tolong menolong  bagi kaum muslimin dalam hal kebaikan, menolak dosa dan maksiat serta permusuhan. Aku bersaksi bahwa tiada ilâh yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tiada sekutu bagi-Nya; Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya, yang diutus dengan membawa petunjuk , rahmat dan al-furqân (pembeda antara kebaikan dan kebatilan)

Amma ba`du,

Ayyuhal muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa rahimakum

Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada pada diri kalian dengan agama yang telah menghimpun persatuan dan kesatuan urusan kalian, serta  memperbaiki hubungan di antara kalian. Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di bawa oleh sebaik-baik manusia; agama yang menyuruh kalian agar bersikap lemah lembut dan kasih sayang serta melarang kalian dari sikap murka dan permusuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada kalian agar bersatu dalam agama-Nya, tidak berpecah belah menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok merasa bangga dengan kelompoknya sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kalian agar memerangi keburukan dan kerusakan. Mencegah perpecahan dan perselisihan. Jadilah kalian wahai kaum mukminin, sebagaimana yang Allah wajibkan atas kalian, sebagaimana yang di kehendaki oleh iman kalian. Janganlah kalian berpecah belah dan bermusuhan, janganlah kalian saling mengacuhkan/ meng-hajr,. Jadilah seperti bangunan yang saling menguatkan.

Ayyuhal muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa rahimakum

Sesungguhnya pada manusia ada permusuhan dan keinginan tertentu. Akan tetapi, iman mewajibkan menyelesaikan pertikaian, saling menyesuaikan dalam naungan agama Islam. Sesungguhnya sebagian manusia ada yang senang dengan keburukan dan jatuh ke dalam dosa. Di antara mereka ada yang mendahulukan kemaksiatan dari pada ketaatan, kecurangan daripada keadilan, kezaliman daripada menahan diri, dan pada setiap bangsa pasti ada yang seperti itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan keinginan makluk sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bentuk dan rupa-rupa mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi akhlak mereka sebagaimana juga telah membagi rezeki mereka. Akan tetapi, agama Islam mewajibkan bagi manusia dengan kadar kemampuannya agar menjadi umat yang satu, yang berusaha mengerjakan satu tujuan yaitu memperbaiki akhlak dan istiqamah dalam agama.

Ayyuhal muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa rahimakum

Sesungguhnya kebanyakan manusia dihadapkan pada keburukan pelakunya seperti orang yang bingung, bersikap menyerah atau meremehkan. Engkau tidak mendapati mereka berusaha untuk berbuat baik. Di antara mereka ada orang yang lebih dari itu, ia pun melemahkan semangat orang-orang yang bangkit menghendaki kebaikan. Hati mereka diliputi rasa putus asa dan jauh dari cita-cita serta mengatakan, “Janganlah memperbaiki manusia, karena mereka sudah baik.”

Pada kenyataannya, orang yang pesismis ini memberi madharat kepada dirinya dan kepada lainnya. Ia berusaha menghilangkan semua upaya perbaikan dan bersikap membatu terhadap karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

وَاللَّهِ َلأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاًوَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

“Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala , sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala  memberi hidayah kepada seseorang melalui tanganmu lebih baik bagimu dari pada memperoleh unta merah.”

Ayyuhal muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa rahimakum

Bukanlah termasuk seorang mukmin yang baik, apabila ia melihat saudaranya terkena rayuan setan, diliputi amarah keburukan yang membawanya terjatuh pada sesuatu yang haram. Bukanlah seorang mukmin apabila dia melihat saudaranya berada pada keadaan tersebut kemudian dia tidak menasihati dan menolongnya. Bukankah jikalau kamu melihat saudaramu celaka yang menyebabkan kematian; kemudian jiwamu tersentuh dan berusaha menolongnya? Mengapa kamu tidak berusaha menolongnya jika ia terjatuh ke dalam perbuatan yang menyebabkannya kematian hati nuraninya?

Ayyuhal muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa rahimakum

Sesungguhnya di antara kewajiban terhadap saudara-saudara kita yang bermaksiat adalah mencurahkan nasehat dan bimbingan kepadanya sebagai bentuk permintaan maaf kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mereka bertakwa. Kita nasihati dengan hikmah, dengan cara yang baik, kita jelaskan kepada mereka pada kebaikan serta membujuknya agar melaksanakannya, kita jelaskan kepada mereka bahwa tidak ada wasîlah/ perantara kepada ketenangan hati, kelapangan dada kecuali dengan iman dan amal shalih, kita jelaskan kepada mereka kebaikan-kebaikan taubat dari dosa dan kebaikan-kebaikan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa taubat menghapuskan dosa-dosa yang telah lewat. Demikian pula kita jelaskan kepada mereka tentang keburukan serta memberi peringatah kepada mereka. Kita jelaskan kepada mereka bahwa kemaksiatan dan kemungkaran merupakan sejelek-jelek perbuatan. Perbuatan maksiat akan menambah jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, jauh dari makhluknya, menyesakkankan dada, dan membebani hati. Maka, orang yang berbuat maksiat walaupun ia merasakan nikmat maksiatnya, akan berakhir pada penyesalan dan kerugian.

أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ

KHUTBAH KEDUA

Ayyuhal muslimûn a’azzaniyallâhu wa iyyâkum ma rahimani wa rahimakum

Bukanlah hak kita dan agama kita, jika kita berdiri di hadapan saudara kita yang jatuh dalam perbuatan dosa, lalu kita membiarkan mereka. Akhirnya kita menjadikan mereka sebagai bahan pembicaraan suatu majelis. Yang benar adalah kita berusaha memperbaiki mereka dan menasehati mereka semuanya. video kajian nikmatJika tidak, manusia akan celaka. Sesungguhnya kaum muslimin itu ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota badannya sakit, maka seluruh tubuhnya juga akan merasa sakit. Untuk itu, bantulah saudara-saudara kalian dan perhatikan orang yang kondisinya berada bawah kalian. Tegakkanlah perbaikan semampumu dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya hanya orang kafirlah yang berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Q.s. Ali Imrân/3: 104-105)

Sekian, mudah-mudahan khutbah yang sangat singkat ini bermanfaat bagi pembicara dan semuanya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْأِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, وَأَقِمِ الصَّلاَةَ

Download Naskah Khutbah Jumat

Download Ebook Khutbah Jumat Sikap Muslim Terhadap Ahli Maksiat (1503)

Info Naskah Khutbah Jumat

Disadur dari kitab Adh-Dhiyâul Lâmi` Minal Khuththabil Jawâmi` karya Syaikh Muhammad Bin Shâlih al-Utsaimîn hal. 379-382. Disalin dari kumpulan naskah Khutbah Jumat Majalah As-Sunnah dengan beberapa penyesuain oleh redaksi www.khotbahjumat.com
Artikel www.khotbahjumat.com

Artikel terkait:

Kata kunci: maksiat, dosa, ahli maksiat, khutbah jum’at, materi khutbah.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 − seven =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>