إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
أَمَّا بَعْدُ:
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللّٰهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib)nya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim no. 2699)
Arti kata (السَّتْرُ) secara bahasa adalah menutup sesuatu. (Lihat: Kitab Tahdzib al-Lughah karya al-Azhari, jilid 12 hlm. 256). Sedangkan secara istilah adalah menutup aib dan tidak menampakkannya. Siapa yang dikenal sebagai orang yang baik, lalu terjerumus dalam kemaksiatan, hendaklah ia diberi nasihat dan ditutupi aibnya. (Lihat: Kitab at-Targhib wa at-Tarhib karya al-Mundziri jilid 3 hlm. 237; dan Fath al-Bari karya Ibnu Hajar, jilid 5 hlm. 117).
Allah Ta’ala telah memberi dorongan dan anjuran untuk menutupi aib orang lain, melalui firman-Nya,
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang suka agar perbuatan keji itu tersebar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19).
Yakni orang-orang yang memilih untuk mengucapkan secara terang-terangan tentang keburukan orang-orang beriman. (Lihat: Kitab Tafsir Ibn Katsir jilid 6 hlm. 29).
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَلَا تَجَسَّسُوا
“…dan janganlah kalian saling memata-matai…” (QS. Al-Hujurat: 12).
Yakni nilailah orang lain dari apa yang tampak bagimu dan tinggalkanlah apa yang telah Allah tutupi. (Lihat: Kitab Tafsir ath-Thabari jilid 21 hlm. 375).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi kabar gembira kepada orang-orang yang menutupi aib saudara-saudaranya bahwa mereka akan ditutupi aibnya di dunia dan akhirat. Beliau bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا؛ سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).
Dan dalam riwayat lain disebutkan:
لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا؛ إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seorang hamba menutupi (aib) hamba yang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupinya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim).
Imam an-Nawawi berkata dalam penjelasan hadis ini,
“Adapun yang dimaksud dengan menutup aib yang dianjurkan di sini adalah menutup aib orang-orang yang memiliki kehormatan dan yang semisalnya, yaitu mereka yang tidak dikenal suka menyakiti orang lain ataupun berbuat kerusakan.
Sedangkan orang yang dikenal suka menyakiti orang lain atau berbuat kerusakan, maka dianjurkan untuk tidak ditutupi aibnya dan justru harus dilaporkan keburukannya kepada pemangku kebijakan jika tidak dikhawatirkan akan menimbulkan mudharat. Menutup aib orang yang seperti ini sama saja dengan terus membiarkannya melakukan kezaliman, kerusakan, dan melanggar hal-hal yang diharamkan, serta menginisiasi orang lain untuk melakukan seperti yang ia lakukan.
Adapun mengungkap aib/kekurangan para perawi, saksi, atau pengurus sedekah, wakaf, anak-anak yatim, dan lain sebagainya, maka wajib untuk dilakukan jika dibutuhkan. Tidak boleh menutup aib mereka jika seseorang melihat mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mencederai kompetensi mereka. Ini bukan termasuk gibah yang diharamkan, tapi merupakan nasihat yang wajib disampaikan.” (Kitab Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim jilid 16 hlm. 135).
Berikut beberapa perkataan para Salafus Saleh tentang dorongan untuk menutupi aib orang lain:
- Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika aku menangkap seorang peminum khamr, sungguh aku berharap kalaulah Allah menutupi aibnya. Ketika aku menangkap pencuri, sungguh aku berharap kalaulah Allah menutupi aibnya.” (Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat al-Kubra jilid 5 hlm. 9 secara ringkas).
- Abu asy-Sya’tsa menceritakan bahwa Syurahbil bin as-Simth pernah menjadi panglima pasukan. Kemudian dia berkata kepada pasukannya, “Kalian sedang singgah di negeri yang banyak perempuan dan minuman kerasnya. Maka, siapa saja dari kalian yang melakukan perbuatan yang berkonsekuensi hukuman had, silakan datang kepada kami agar kami membersihkan dirinya (dari dosa itu dengan ditegakkan hukuman terhadapnya).” Lalu datanglah beberapa orang menyerahkan diri kepadanya.
Kejadian ini sampai ke telinga Umar bin Khattab sehingga beliau menulis surat kepadanya, “Celakalah kamu! Apakah kamu yang menyuruh orang-orang untuk menyingkap sendiri tabir Allah yang menutupi aib-aib mereka?!” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf jilid 5 hlm. 197; dan al-Hannad dalam az-Zuhd jilid 2 hlm. 646).
- Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Siapa saja yang punya penutup aib antara dirinya dengan saudaranya, maka hendaklah ia tidak menyingkapnya.” (Diriwayatkan oleh al-Kharaithi dalam kitab Makarim al-Akhlaq hlm. 149).
Orang yang merahasiakan kemaksiatan adalah orang yang masih ditutup dengan tabir dari Allah sehingga ia tidak boleh membongkar aibnya sendiri. Tidak layak baginya untuk menceritakan kesalahan-kesalahannya di hadapan manusia, meskipun mereka adalah teman-teman dekatnya, kecuali untuk tujuan bertanya atau meminta fatwa.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingkari orang yang membeberkan aib dirinya sendiri dan menyingkap tabir Allah atas aib-aibnya. Beliau bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ؛ فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
“Seluruh umatku akan diberi keselamatan (ampunan), kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat dosa). Dan termasuk sikap terang-terangan itu adalah seseorang melakukan suatu perbuatan (dosa) di malam hari, kemudian di pagi harinya, padahal Allah telah menutupinya. Ia berkata, ‘Wahai fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.’ Ia bermalam dalam keadaan ditutupi aibnya oleh Tuhannya, lalu di pagi hari ia membuka sendiri tabir Allah atas dirinya.” (HR. al-Bukhari).
Tidak ada kontradiksi antara pengingkaran terhadap pelaku kemaksiatan dengan merahasiakan aibnya. Apabila pelaku maksiat telah diberi nasihat dan diingkari perbuatannya, tetapi ia tidak kunjung berhenti dari perbuatan buruknya, bahkan kemudian melakukannya dengan terang-terangan, maka boleh mempersaksikan bahwa ia telah melakukan dosa itu. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan an-Nawawi dan Ibnu Hajar rahimahumallah:
“Dan yang benar adalah menutup aib itu terhadap maksiat yang telah lalu (dan tidak diulangi lagi). Adapun pengingkaran itu terhadap kemaksiatan yang masih dilakukan, sehingga wajib untuk diingkari; atau jika tidak, maka harus dilaporkan kepada penguasa. Ini bukan termasuk gibah yang diharamkan, tapi merupakan nasihat yang wajib dijalankan.” (Kitab Fath al-Bari, jilid 5 hlm. 97 dan Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim jilid 16 hlm. 135).
Orang yang malu dan sungkan dengan kemaksiatannya, lalu ia merahasiakannya dan bertobat darinya, maka Allah Ta’ala akan mengaruniakannya berupa ditutupinya kemaksiatan itu di dunia dan ampunan di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا؛ وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ
“Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Dia meletakkan tabir padanya dan menutupinya. Kemudian Dia berfirman, ‘Apakah engkau mengetahui dosa ini? Apakah engkau mengetahui dosa itu?’, ia menjawab, ‘Ya, wahai Tuhanku.’ Hingga ketika ia telah mengakui dosa-dosanya dan ia mengira bahwa dirinya telah binasa, Allah berfirman: ‘Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya untukmu.’ Lalu ia pun diberikan catatan amal kebaikannya.” (HR. al-Bukhari).
(Makna kata كَنَفَهُ yakni tabir-Nya. Lihat: Kitab Masyariq al-Anwar karya al-Qadhi Iyadh, jilid 1 hlm. 343).
Di antara karunia Allah Ta’ala yang diberikan kepada seorang muslim adalah Dia akan membelanya dan menuntut balas kepada orang yang berbuat buruk terhadapnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ؛ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ؛ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
“Wahai orang yang baru beriman dengan lisannya sementara iman belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian menggunjing kaum muslimin dan jangan mencari-cari aib mereka. Karena siapa yang mencari-cari aib mereka, Allah akan mencari-cari aibnya; dan siapa yang Allah cari-cari aibnya, niscaya Dia akan membukanya (mempermalukannya) meskipun di dalam rumahnya sendiri.” (Hadis sahih, diriwayatkan Abu Dawud).
Balasannya serupa dengan amalannya; Allah akan menyingkap aib-aibnya dan mempermalukannya, meskipun ia berada di tempat yang tersembunyi, yaitu di dalam rumahnya.
Orang yang jiwanya berpenyakit, akan sangat tertarik untuk mendengar aib-aib orang lain, mencari-cari kekeliruan mereka, dan ingin selalu tampil di majelis-majelis untuk membeberkan aib orang-orang terhormat. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain; dan Allah Ta’ala menyukai sifat malu dan menutupi aib. (Hadis sahih, diriwayatkan Abu Dawud).
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ أَمَّا بَعْدُ
Wahai kaum muslimin!
Di antara tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau selalu mengutamakan untuk menutupi aib, bahkan terhadap pelaku dosa besar. Oleh sebab itu, beliau bersabda:
تَعَافَوُا الْحُدُودَ فِيمَا بَيْنَكُمْ فَمَا بَلَغَنِي مِنْ حَدٍّ؛ فَقَدْ وَجَبَ
“Saling memaafkanlah kalian dalam perkara hukum had (yakni sebelum dilaporkan kepadaku), karena apabila perkara hukum had sampai kepadaku, maka ia wajib untuk ditegakkan.” (Hadis hasan, diriwayatkan Abu Dawud).
Yakni wajib bagiku untuk menegakkan hukuman had itu terhadap kalian. Ini menunjukkan bahwa pemimpin tidak boleh memaafkan hukuman had apabila perkaranya telah dilaporkan kepadanya. (Lihat: Kitab Syarh al-Mashabih karya Ibnu al-Malak, jilid 4 hlm. 199).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berusaha menjaga kehormatan seorang muslim dan menutupi aibnya. Suatu ketika ada seorang lelaki yang datang dan berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan perbuatan yang berkonsekuensi hukuman had, maka tegakkanlah hukuman itu terhadapku!”
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan tentang sikap Rasulullah, “Tetapi Rasulullah tidak bertanya lebih lanjut kepadanya.”
Kemudian setelah salat, lelaki tersebut kembali mengulangi ucapannya itu, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَيْسَ قَدْ صَلَّيْتَ مَعَنَا
“Bukankah kamu telah mendirikan salat bersama kami?”
Lelaki itu menjawab, “Benar.”
Beliau lalu bersabda,
فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ ذَنْبَكَ
“Kalau begitu, sungguh Allah telah mengampuni dosamu.” (HR. al-Bukhari).
Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,
“Rasulullah tidak bertanya kepadanya lebih lanjut, entah itu karena hal tersebut bisa menjadi sikap mencari-cari kesalahan yang dilarang agama, atau karena beliau lebih mengutamakan penutupan aibnya. Dan saya berpandangan bahwa sikap laki-laki itu yang menawarkan diri agar ditegakkan hukuman had terhadapnya sudah merupakan bentuk penyesalan dan pertobatan.” (Kitab Fath al-Bari jilid 12 hlm. 134).
Berikut adalah beberapa faedah menutup aib orang lain:
- Menebar rasa cinta kasih di antara kaum Muslimin
- Membantu pelaku maksiat dalam mengintrospeksi diri dan bertaubat kepada Allah Ta’ala
- Membeberkan aib orang lain –terlebih lagi orang-orang terhormat yang terjerumus ke dalam kesalahan atau kekeliruan– dapat membuat banyak orang awam lebih berani melakukan kemaksiatan
- Jiwa orang yang menutupi aib orang lain akan menjadi bersih, mendapat keridhaan Allah, dan Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. (Kitab Mausu’ah al-Akhlaq jilid 1 hlm. 122).
Berikut adalah beberapa sarana terpenting agar memiliki sikap menutupi aib orang lain:
- Mengetahui keutamaan menutupi aib orang lain, yaitu bahwa siapa yang menutupi aib saudara muslimnya, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat
- Mencintai saudara muslimnya sebagaimana mencintai diri sendiri dan anak sendiri; maka posisikanlah dirimu pada posisi saudaramu yang telah berbuat salah atau keliru; apakah ketika itu kamu ingin agar dibeberkan kesalahanmu atau justru ditutupi?
- Menghayati makna persaudaraan dalam keimanan
- Menyibukkan diri dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan diri sendiri, dan mengalihkan fokus dari aib-aib orang lain. (Kitab Mausu’ah al-Akhlaq jilid 1 hlm. 123).
وَمَنْ لَمْ يُقِمْ سِتْرًا عَلَى غَيْرِهِ يَعِشْ مُسْتَبَاحَ الْعِرْضِ مُنْهَتِكَ السِّتْرِ
Siapa yang tidak menutup aib orang lain
Ia akan hidup dengan kehormatan yang terhinakan dan aib yang dibeberkan
(Kitab Diwan Ahmad Syauqi hlm. 262).
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْأَئِمَّةِ الْمَهْدِيِّينَ؛ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، وَعُمَرَ الْفَارُوقِ، وَعُثْمَانَ ذِي النُّورَيْنِ، وَأَبِي الْحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِينَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِينَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَرْضِ الشَّامِ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِينًا وَحَافِظًا وَمُؤَيِّدًا، اللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ، اللَّهُمَّ آمِنْ رَوْعَاتِهِمْ وَاسْتُرْ عَوْرَاتِهِمْ وَاحْقِنْ دِمَاءَهُمْ
اللَّهُمَّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ نَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَصِفَاتِكَ الْعُلْيَا وَبِأَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ أَنْ تَنْصُرَهُمْ يَا رَبَّنَا نَصْرًا مُؤَزَّرًا. اللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّينِ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُونَكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ وَنَعُوذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُورِهِمْ.
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ مِنْ سَدِيدِ الْأَقْوَالِ وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَهُ شَأْنَهُ كُلَّهُ، اللَّهُمَّ وَأَصْلِحْ لَهُ بِطَانَتَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ سَدِّدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَآرَائِهِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ. رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ اذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، {وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ}
Terjemahan Doa:
Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan kepada keluarga beliau sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan kepada keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia, dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga beliau sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Ridailah pula, ya Allah, para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk; Abu Bakar ash-Shiddiq, ‘Umar al-Faruq, ‘Utsman Dzun Nurain, dan Abul Hasanain ‘Ali, dan ridailah ya Allah, seluruh sahabat, para tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat, serta ridailah kami bersama mereka dengan karunia, kemuliaan, dan kebaikan-Mu, wahai Zat Yang paling dermawan di antara para dermawan.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, tolonglah orang yang menolong agama-Mu, Kitab-Mu, dan Sunah Nabi-Mu Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Ya Allah, tolonglah orang yang menolong agama-Mu, Kitab-Mu, dan Sunah Nabi-Mu Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami, kaum muslimin yang tertindas di mana pun mereka berada. Ya Allah, tolonglah mereka yang berada di negeri Syam dan di seluruh penjuru dunia. Ya Allah, jadilah Engkau Penolong, Pembantu, Pelindung, dan Penyokong bagi mereka. Ya Allah, lindungilah mereka sebagaimana Engkau melindungi hamba-hamba-Mu yang saleh. Ya Allah, berilah keamanan dalam rasa takut mereka, tutupilah aurat dan kehormatan mereka, serta lindungilah darah mereka dari pertumpahan.
Ya Allah, wahai Tuhan semesta alam, kami memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah, sifat-sifat-Mu yang luhur, dan karena Engkau adalah Allah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa, agar Engkau memberi mereka pertolongan yang nyata dan penuh kemenangan. Ya Allah, kami serahkan kepada-Mu musuh-musuh agama, karena mereka tidak akan mampu melemahkan-Mu. Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan-Mu pelindung dari mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.
Ya Allah, berilah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami, perbaikilah para pemimpin dan penguasa kami, dan serahkanlah wilayah kami kepada orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridaan-Mu, wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami kepada ucapan yang benar dan amal yang saleh yang Engkau cintai dan Engkau ridai. Ya Allah, perbaikilah segala urusannya, dan perbaikilah kaki tangannya, wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah, luruskan perkataan dan pemikirannya, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, wahai Tuhan semesta alam.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwa-jiwa kami ketakwaannya, sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik Zat yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Penguasanya. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan. Ya Allah, perbaikilah seluruh urusan kami dan janganlah Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walaupun hanya sekejap mata.
Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.
Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat itu kepada kalian. “Sungguh, mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya), dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabūt: 45)
***
Dr. Mahmud bin Ahmad ad-Dosari
Sumber:
