الحمد لله حمد الشاكرين ، وأثني عليه ثناء الذاكرين ، أحمده بمحامده التي هو لها أهل ، وأثني عليه الخير كله لا أحصي ثناءً عليه هو كما أثنى على نفسه ، أحمده جلَّ في علاه على نعمه المتوالية وعطاياه المتتالية وأفضاله التي لا تُعد ولا تحصى ، أحمده سبحانه على كل نعمة أنعم بها علينا في قديمٍ أو حديث ، أو سرٍ أو علانية ، أو خاصةٍ أو عامة ، أحمده جلَّ وعلا على نعمة الإيمان ونعمة الإسلام ونعمة القرآن ونعمة المعافاة في النفس والأهل ؛ حمدًا كثيرا طيبا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ؛ صلى الله وسلَّم عليه وعلى آله وصحبه أجمعين .
Segala puji bagi Allah dengan pujian orang-orang yang bersyukur dan aku memuji-Nya dengan pujian orang-orang yang berzikir. Aku memuji-Nya Tabāraka wa Taʿālā dengan puja-puja yang memang layak bagi-Nya dan menyanjung-Nya dengan segala kebaikan, aku tidak bisa menghitung banyaknya puja-puji bagi-Nya, dan Dia adalah sebagaimana Dia Memuji diri-Nya sendiri.
Aku memuji-Nya Jalla fī ‘ulāh atas nikmat-nikmat-Nya yang terus menerus, karunia-karunia-Nya yang silih berganti, dan keutamaan-keutamaan-Nya yang tidak terhitung dan tidak terbilang. Aku memuji-Nya Subḥānahu wa Taʿālā atas setiap nikmat yang Dia anugerahkan kepada kami, yang lama dan yang baru, yang tersembunyi maupun yang tampak, dan yang pribadi dan yang umum.
Aku memuji-Nya Jalla wa ‘Alā atas nikmat iman, nikmat Islam, nikmat Al-Qur’an, dan nikmat kesehatan dalam diri dan keluarga dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan, sebagaimana yang dicintai oleh Tuhan kami dan diridai-Nya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya —semoga selawat Allah dan salam penghormatan-Nya terlimpah untuk beliau dan keluarganya serta seluruh sahabat beliau.
Adapun berikutnya, wahai kaum Mukminin, bertakwalah kepada Allah Subḥānahu wa Taʿālā dalam segala amalan Anda dan hadirkanlah rasa murāqabah (merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala) dalam segala gerak-gerik Anda dengan murāqabah-nya seorang hamba mengetahui bahwa Tuhannya mendengar dan melihatnya. Takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cahaya (ilmu) dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena mengharap pahala-Nya dan meninggalkan kemaksiatan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dengan cahaya (ilmu) dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena takut terhadap azab-Nya.
Wahai kaum Mukminin, sudah hampir datang menghampiri Anda sebuah bulan yang penuh keberkahan, sebuah musim yang agung, dan sebuah kesempatan yang mulia, di mana kebaikan semakin melimpah, keberkahan semakin besar, serta nikmat dan karunia semakin bertambah, itulah —wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala— bulan Ramadan yang penuh berkah, bulan kebaikan, keberkahan, karunia, anugerah, ampunan, dan rahmat.
Maka bersyukurlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya, bersyukurlah kepada-Nya atas keutamaan dan karunia-Nya, serta mohonlah kepada-Nya agar Dia menyampaikan Anda kepada bulan Ramadan tersebut dan menjadikan Anda termasuk ahli Ramadan yang sebenar-benar dan sejujur-jujurnya.
Wahai kaum Mukminin, sesungguhnya ia adalah bulan yang membawa kebaikan yang sangat besar, keberkahan yang amat agung, dan karunia yang tidak terhitung, karena kemuliaan yang Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berikan kepada bulan ini dan kekhususan serta keberkahan yang Dia tetapkan padanya, yang sudah dimulai sejak malam pertamanya.
Imam Tirmidzī meriwayatkan dalam Kitab Jāmi‘-nya dan selain beliau dari hadis Abū Hurairah Raḍiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ ، وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
“Apabila datang malam pertama bulan Ramadan, setan-setan dan para jin jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup sehingga tidak satu pun dari pintunya dibuka, pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak satu pun pintunya ditutup. Lalu ada penyeru yang berseru, ‘Wahai pencari kebaikan, bersungguh-sungguhlah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!’ Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki orang-orang yang dibebaskan dari api neraka, dan hal itu terjadi setiap malam.”
Maka perhatikanlah —semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memelihara Anda— keberkahan yang agung dan kebaikan yang melimpah yang dikhususkan untuk bulan yang mulia ini.
Sungguh telah banyak hadis dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang menjelaskan besarnya keutamaan bulan ini, tingginya kedudukannya, kemuliaan derajatnya, serta melimpahnya kebaikan dan keberkahannya.
Namun —wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala— bagaimanakah cara kita meraih keuntungan dari bulan Ramadan? Bagaimanakah kita memperoleh kebaikan-kebaikan yang besar itu?
Bagaimanakah kita bangkit untuk memanfaatkan musim ini, musim ampunan dan keridaan ini?
Bagaimanakah kita menyiapkan diri untuk Ramadan dan bagaimana kita bersiap menyambutnya?
Bagaimanakah kita menyongsongnya dengan jiwa kita agar dapat meraih kebaikan dan keberkahannya? Sesungguhnya —wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala— tidak pantas bagi seorang mukmin dan tidak tepat bagi seorang Muslim yang mendapati keutamaan-keutamaan yang agung dan kebaikan-kebaikan yang banyak ini, lalu ia tidak menyiapkan dirinya untuk meraihnya dan tidak menata waktunya untuk berusaha mendapatkannya serta memenangkannya.
Oleh karena itu, pertanyaan yang patut diajukan saat kita berada di ambang penyambutan Ramadan adalah: “Bagaimanakah kita memanfaatkan bulan Ramadan?”
Mudah-mudahan —wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala— saya bisa mengingatkan beberapa perkara tertentu dan sebab-sebab yang membantu orang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala beri taufik untuk bisa merenungkan dan mengamalkannya, karena dalam pembahasan ini terdapat pertolongan untuk meraih keberuntungan di bulan Ramadan dan memanfaatkan musim yang agung lagi penuh berkah ini.
Yang paling pertama dari semua itu, wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala, adalah bersungguh-sungguh menghadap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan doa, karena doa adalah kunci setiap kebaikan di dunia dan akhirat, karena seluruh kebaikan berada di tangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia Yang Maha Memberi dan Maha Menahan, Yang Maha Menyempitkan dan Yang Maha Melapangkan, Yang Maha Memuliakan dan Yang Maha Merendahkan, di tangan-Nya kendali seluruh urusan. Maka tidak ada kebaikan dan kebajikan kecuali dengan keutamaan, karunia, dan pemberian-Nya.
Oleh karena itu, hendaklah setiap hamba yang tulus terhadap dirinya sendiri menghadap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan doa agar Dia menjadikannya orang yang bisa memperoleh keuntungan di bulan Ramadan dan memberinya taufik untuk bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Hendaklah terus mengemis dalam doanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengecewakan hamba yang berdoa kepada-Nya dan tidak akan menolak seorang mukmin yang bermunajat kepada-Nya, karena Dialah Jalla fī ‘ulāh Yang berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Tuhan kalian berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian!’ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk ke dalam Jahanam dalam keadaan hina.” (QS. Ghāfir: 60).
Wahai kaum Mukminin, di antara perkara yang membantu adalah dengan setiap hamba menyiapkan dirinya untuk bisa berpuasa dengan baik, karena sesungguhnya
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhārī dan Muslim).
Oleh karena itu, puasa itu sendiri membutuhkan penjagaan, perhatian, dan pemeliharaan. Orang yang paling besar pahalanya dalam berpuasa adalah yang paling banyak mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalamnya. Sebagaimana seorang hamba dituntut untuk menyempurnakan puasanya dengan zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, doa, bermunajat, dan membaca Al-Qur’an, maka pada saat yang sama ia juga wajib menjaga puasanya dari hal-hal yang merusak dan mengurangi kesempurnaannya.
Karena —wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala— tidak setiap puasa mengangkat derajat dan mendatangkan keutamaan serta kebaikan. Telah diriwayatkan dalam Shahih Bukhārī dari hadis Abū Hurairah Raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhārī).
Ada riwayat sahih dari beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, bahwa beliau bersabda:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ ، وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
“Betapa banyak orang yang puasa, tetapi dia tidak mendapatkan bagian dari puasanya selain rasa lapar, dan betapa banyak orang yang mendirikan salat malam, tetapi dia tidak mendapatkan bagian dari salatnya selain begadang (kantuk).” (HR. Ibnu Mājah dan Aḥmad).
Oleh karena itu, diperlukan kesiapan diri agar seseorang dapat menyempurnakan puasanya dan menjaganya agar bisa meraih kebaikan-kebaikan yang besar dan memperoleh ampunan.
Wahai kaum Mukminin, di antara perkara yang membantu adalah dengan seorang hamba menyadari bahwa musim Ramadan adalah musim pengampunan dosa, musim pembebasan dari neraka. Ya, wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Sesungguhnya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā pada setiap malam dari malam-malam Ramadan memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka. Ya, wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Ada hamba-hamba yang ‘leher-leher’ mereka akan dibebaskan dari neraka pada setiap malam di malam-malam bulan Ramadan.
Maka, wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sudah seharusnya jiwa-jiwa kita merindukan hal itu dan hati kita berhasrat untuk meraihnya, agar kita termasuk golongan orang-orang yang dibebaskan dari neraka, dengan menyiapkan sebab-sebabnya dan mempersiapkan perbekalannya. Nabi kita Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Celakalah seseorang kedatangan Ramadan, kemudian Ramadan berlalu sebelum ia diampuni.” (HR. Tirmidzī).
Ini merupakan musibah yang sangat besar dan bencana yang amat berat, yaitu ketika seseorang memasuki bulan yang agung ini dengan segala kebaikan, keberkahan, serta rida dan ampunan yang terkandung di dalamnya, kemudian keluar darinya tanpa meraih kebaikan yang besar dan keutamaan yang melimpah tersebut.
Wahai kaum Mukminin, di antara perkara penting dalam bab ini adalah seorang hamba melatih dirinya pada bulan Ramadan untuk melaksanakan salat malam dengan baik pada malam-malamnya yang penuh berkah secara berjemaah bersama kaum Muslimin di masjid, lalu ia berdiri bersama imamnya hingga imam selesai. Nabi kita Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa melaksanakan salat malam Ramadan karena keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhārī dan Muslim).
Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga bersabda:
مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Barang siapa melaksanakan salat malam bersama imam hingga imam selesai, maka dicatat baginya pahala salat malam satu malam penuh.” (HR. Tirmidzī).
Wahai kaum Mukminin, hendaklah seorang hamba yang tulus terhadap dirinya, yang bersemangat meraih kebahagiaan dan kemenangan, berhati-hati terhadap para ‘begal’ dan ‘perampok’ di perjalanan ini.
Sesungguhnya musuh-musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan para pengusung kerusakan bekerja keras untuk menggagalkan manusia untuk mendapatkan kebaikan dan keberkahan Ramadan, terutama melalui program-program yang telah disiapkan sebelumnya berupa film-film amoral, sinetron-sinetron tidak senonoh, dan berbagai hal lainnya yang mereka gunakan untuk menjadi sandungan di jalan bagi orang-orang yang berpuasa, serta penghalang yang menghalangi banyak manusia dari keberkahan puasa dan kebaikan-kebaikannya yang agung, bahkan sebagian dari mereka mengajak kepada program-program buruk tersebut di waktu berbuka puasa, sehingga orang yang mengikuti dan menyimak apa yang mereka siarkan bisa berbuka dengan dosa-dosa ini.
Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā melindungi kita semua dari hal itu, menjaga kita dan keturunan kita, serta memelihara puasa dan salat malam kita.
أيها المؤمنون : ومن الأمور العظيمة في هذا الباب ؛ العناية في رمضان بالقرآن ، فإن لرمضان خصوصية عظمى بذلك ، بل إنه الشهر الذي أنزل فيه القرآن ﴿ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ ﴾ [البقرة:١٨٥] ؛ ولهذا أيها العباد ينبغي للمؤمن أن يرتب لنفسه وظيفةً مستمرة في أيام رمضان مع كتاب الله عز وجل قراءةً وتدبرًا ومجاهدةً للنفس على تحقيق هدايات القرآن ، قال الله تبارك وتعالى: { إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ }[الإسراء:9] وقال تعالى: {كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ}[ص:29] .
أيها العباد : وليُعنَ العبد المؤمن في رمضان بالبذل والنفقة والصدقة والجود والسخاء تأسيًا بالنبي الكريم عليه الصلاة والسلام ، ففي الصحيح من حديث ابن عباس رضي الله عنهما قال : «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ» .
أيها المؤمنون : وكما أن المرء يعنى بنفسه في رمضان فليُعنَ في الوقت نفسه بأهله وولده حثًا وتشجيعا وتحفيزًا على الخيرات لتكون بيوتاتنا بيوتات إيمان وطاعة ونيل لرضوان الله سبحانه .
Wahai kaum Mukminin, di antara perkara yang sangat agung dalam masalah ini adalah perhatian terhadap Al-Qur’an pada bulan Ramadan, karena Ramadan memiliki kekhususan yang besar dengannya, bahkan ia adalah bulan di mana Al-Qur’an diturunkan:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Oleh karena itu, wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seorang mukmin sepatutnya mengagendakan bagi dirinya amalan yang berkesinambungan pada hari-hari Ramadan bersama Kitab Allah Subhanahu Wa Ta’ala, baik dengan membaca, menadaburi, serta bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu untuk mengejawantahkan petunjuk-petunjuk dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isrā’: 9).
Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“(Ini adalah) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, yang penuh berkah, agar mereka menadaburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS.Shād: 29).
Wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seorang mukmin pada bulan Ramadan hendaknya juga memberi perhatian besar terhadap kedermawanan, berinfak, bersedekah, bermurah hati, dan berbagi dalam rangka meneladani Nabi Mulia Shallallahu Alaihi Wa Sallam.
Dalam hadis sahih dari Ibnu ‘Abbās Raḍiyallāhu ‘anhumā disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau paling tampak pada bulan Ramadan. (HR. Bukhārī dan Muslim).
Wahai kaum Mukminin, sebagaimana seseorang memberi perhatian terhadap dirinya sendiri di bulan Ramadan, hendaklah pada saat yang sama ia juga memberi perhatian terhadap keluarga dan anak-anaknya, dengan memberi motivasi, ajakan, dan motivasi untuk melakukan kebaikan, agar rumah-rumah kita menjadi rumah-rumah keimanan dan ketaatan serta tempat meraih rida Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Ya Allah, wahai Tuhan seluruh alam, wahai Yang Maha Hidup, Yang Maha Mandiri, wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, sampaikanlah umur kami semua kepada bulan Ramadan dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk memperoleh kebaikan serta keberkahannya, wahai Yang Maha Pemberi Karunia. Ya Allah, perbaikilah bagi kami seluruh urusan kami dan jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata.
Saya cukupkan perkataan saya ini dan saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk diri saya sendiri, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum Muslimin dari setiap dosa, maka mohonlah ampun kepada-Nya, niscaya Dia mengampuni kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
الحمد لله كثيرا ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله ؛ صلى الله وسلَّم عليه وعلى آله وصحبه أجمعين .
Khutbah Kedua:
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan pujian yang banyak, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga selawat dan salam tercurah kepada beliau, kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau.
Adapun berikutnya, wahai orang-orang beriman, wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan melindunginya dan membimbingnya kepada kebaikan urusan agama dan dunianya. Wahai kaum Mukminin, apabila jiwa-jiwa tidak tergerak pada musim-musim yang utama ini kepada ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta memohon ampunan dan keridaan-Nya, maka kapan lagi ia akan tergerak?
Oleh karena itu, wahai hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala, marilah kita bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu diri kita dengan kesungguhan yang dengannya seorang hamba mengharapkan keridaan dan ampunan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabūt: 69).
Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengintrospeksi dirinya sendiri dan beramal untuk apa yang akan dia hadapi setelah kematian. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan banyak berangan-angan terhadap Allah. Semoga Allah memperbaiki bagi kita semua niat, ucapan, dan perbuatan kita.
وصلُّوا وسلِّموا -رعاكم الله- على محمد بن عبد الله كما أمركم الله بذلك في كتابه فقال : ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .اللهم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، وبارك على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنَّك حميدٌ مجيد . اللهمَّ وارضَ عن الخلفاء الراشدين الأئمة المهديين؛ أبى بكرٍ الصدِّيق ، وعمرَ الفاروق ، وعثمانَ ذي النورين ، وأبي الحسنين علي ، وارض اللهمَّ عن الصحابة أجمعين ، وعن التابعين ومن تبعهم بإحسانٍ إلى يوم الدين ، وعنَّا معهم بمنِّك وكرمك وإحسانك يا أكرم الأكرمين .
Haturkan selawat dan salam kalian —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Memelihara kalian— kepada Muhammad putra Abdullah, sebagaimana Allah Subḥānahu wa Taʿālā memerintahkan hal tersebut kepada kalian dalam kitab-Nya,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim).
Ya Allah, limpahkanlah selawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah limpahkan selawat untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sungguh, Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia, dan limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah limpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sungguh, Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, ridailah para khalifah yang terbimbing dan para imam petunjuk, Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq, Umar al-Fārūq, Utsman Dzun Nuraini, dan Ali Abul Hasanain. Ya Allah, ridailah juga para sahabat seluruhnya, para Tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat, serta kami dan mereka semua dengan karunia, kedermawanan, dan kebaikan-Mu, wahai Zat Yang paling dermawan.
اللهم انصر من نصر دينك وكتابك وسنَّة نبيك محمدٍ صلى الله عليه وسلم ، اللهم انصر إخواننا المسلمين المستضعفين في كل مكان ، اللهم كن لهم ناصرًا ومُعِينا ، وحافظًا ومؤيِّدا ، اللهم وعليك بأعداء الدين فإنهم لا يعجزونك ، اللهم إنَّا نجعلك في نحورهم ، ونعوذ بك اللهم من شرورهم . اللهم آمِنَّا في أوطاننا ، وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا ، واجعل ولايتنا فيمن خافك واتقاك واتبع رضاك يا رب العالمين. اللهم آت نفوسنا تقواها ، زكها أنت خير من زكاها ، أنت وليُّها ومولاها . اللهم إنا نسألك الهدى والتقى والعفة والغنى . اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا ، وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا ، وأصلح لنا آخرتنا التي فيها معادنا ، واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير ، والموت راحة لنا كل شر . اللهم اغفر لنا ذنبنا كله ؛ دقَّه وجلَّه ، أوله وآخره ، علانيته وسره ، اللهم اغفر لنا ولوالدينا ووالديهم وذرياتنا وللمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات . ربنا إنَّا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكوننَّ من الخاسرين . ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار . وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين .
Ya Allah, tolonglah orang yang menolong agama-Mu, kitab-Mu, dan sunah Nabi-Mu Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami umat Islam yang tertindas di mana pun mereka berada.
Ya Allah, jadilah penolong, penyokong, penjaga, dan pembela mereka! Ya Allah, kami serahkan kepada-Mu musuh-musuh agama ini, sesungguhnya mereka tidak mampu melemahkan-Mu!
Ya Allah, jadikanlah Engkau Pelindung kami dari mereka, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan mereka.
Ya Allah, berilah kami keamanan di tanah air kami, perbaikilah para pemimpin kami dan para pemegang kekuasaan kami, dan serahkan negeri kami kepada orang yang takut dan bertakwa kepada-Mu serta mengikuti rida-Mu, wahai Tuhan semesta alam.
Ya Allah, berikanlah kepada jiwa-jiwa kami ketakwaan, dan sucikanlah ia karena Engkaulah sebaik-baik Zat Yang menyucikannya, Engkaulah Penjaganya dan Pelindungnya. Ya Allah, kami mohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian, dan kekayaan.
Ya Allah, perbaikilah untuk kami agama kami yang merupakan benteng semua urusan kami, perbaikilah untuk kami dunia kami yang menjadi tempat penghidupan kami, dan perbaikilah untuk kami akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami, serta jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan dalam setiap kebaikan dan jadikanlah kematian sebagai peristirahatan dari segala keburukan.
Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosa kami, baik yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, dan yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.
Ya Allah, ampunilah kami, orang tua kami, orang tua mereka, anak keturunan mereka, dan seluruh kaum Muslimin yang laki-laki dan perempuan, serta kaum Mukminin yang laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal di antara mereka. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak Mengampuni kami dan Memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.
Ya Tuhan kami, Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan Lindungi kami dari siksa neraka, dan kami akhiri doa kami dengan pujian kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad Al-Badr.
Sumber:

