Menghindari Penggunaan Hadis Dhaif dan Maudhu’ Sebagai Dalil

Mengamati fenomena yang terjadi di masyarakat dewasa ini, banyak juru dakwah atau khatib melakukan kekeliruan dalam mengutip hadis tanpa meneliti dan mengecek terlebih dahulu kesahihannya. Akibatnya, banyak hadis-hadis dhaif (lemah) dan maudhu’ (palsu) banyak terdapat dalam khutbah-khutbahnya yang di kemudian hari semakin menyebar di masyarakat. Selain itu, ekses dari hadis-hadis lemah dan paslsu juga memicu merebaknya bid’ah dan khurafat.[Redaksi KhotbahJumat.com]

***

Menghindari Penggunaan Hadis Dhaif dan Maudhu’ Sebagai Dalil

 

Mengamati fenomena yang terjadi di masyarakat dewasa ini, banyak juru dakwah atau khatib melakukan kekeliruan dalam mengutip hadis tanpa meneliti dan mengecek terlebih dahulu kesahihannya. Akibatnya, banyak hadis-hadis dhaif (lemah) dan maudhu’ (palsu) banyak terdapat dalam khutbah-khutbahnya yang di kemudian hari semakin menyebar di masyarakat. Selain itu, ekses dari hadis-hadis maudhu’ / lemah dan paslsu juga memicu merebaknya bid’ah dan khurafat.

Dalam kasus seperti ini, mereka meyakini bahwa bid’ah yang mereka propagandakan merupakan bagian dari sunnah. Sebaliknya, sunah mereka anggap sebagai bid’ah. Selain itu, fenomena tersebarnya berbagai macam kebatilan dan kesesatan di kalangan masyarakat malah dianggap baik bahkan dijadikan sebuah pedoman. Akibatnya, banyak hal-hal yang mudharat dan negatif ketimbang yang bernilai positif dan bermanfaat. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengecam tindakan seperti ini, beliau bersabda,

Barangsiapa menyampaikan hadis dariku yang diketahui bahwa hadis tersebut adalah dusta, maka ia termasuk salah satu pembohong itu.”

Dalam hadis yang lain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Hendaknya kalian tidak berlebih-lebihan meriwayatkan hadis dariku. Barangsiapa bertutur atas namaku, maka wajib baginya untuk tidak menyampaikan kecuali yang benar. Maka, barangsiapa menyampaikan hadis yang belum pernah aku katakan, maka hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka.”

Mengetahui kedudukan hadis, apakah termasuk hadis sahih atau dhaif merupakan pengetahuan dasar yang harus dikuasai oleh seorang khatib atau dai. Kecerdasan inilah yang ditunjukkan Hudzaifah ketika bertanya kepada Rasulullah, “Orang-orang selalu bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan dan saya bertanya kepadanya tentang keburukan karena takut menimpaku, lalu saya terjerembab ke dalamnya…

Dalam sebuah syair diungkapkan:

Aku mencari tahu keburukan bukan untuk melakukannya

Tapi, untuk menjaga diri darinya

Barangsiapa tidak membedakan keburukan dari kebaikan

Sangatlah mungkin ia terjerembab ke dalamnya.

Berkenaan dengan hal ini, penulis pernah membaca penjelasan Ibnu Hajar Al-Haitami dalam bukunya Al-Fatawa Al-Hadisiyyah (Fatwa-fatwa Kontemporer), ketika pertama kali penulis menekuni ilmu ini. Penjelasannya layak dikemukakan di sini, karena selaras dengan topik pembahasan buku ini.

“Penyebutan hadis dalam khutbah tanpa menyertakan penyebutan periwayatnya atau dari jalur sahabat mana hadis tersebut, hukumnya dibolehkan. Dengan syarat, pelakunya termasuk orang yang paham dan mengerti tentang hadis atau bisa juga ia menukilnya dari sebuah buku yang dikarang oleh seorang penulis hadis, semisal Imam Bukhari, Muslim, dll. atau seorang penulis yang mumpuni dalam bidang hadis. Adapun menyebutkan hadis hanya karena membacanya dari buku karya seorang penulis yang bukan termasuk ahli hadis atau dalam buku khutbah yang penulisnya bukan ahli hadis, maka penukilan tersebut tidak diperbolehkan. Pelakunya layak dijatuhi hukuman berat. Inilah kondisi yang sering menimpa juru dakwah atau khatib dewasa ini. Dalam praktiknya, para khatib hanya dengan mengandalkan contoh khutbah yang memuat beberapa hadis. Mereka menghafalnya dan menggunakannya sebagai dalil dalam khutbahnya tanpa meneliti lagi apakah hadis tersebut sahih atau dhaif. Karena itu, merupakan kewajiban pemerintah dalam setiap negara untuk meluruskan khatib atau dai yang melakukan hal itu,” papar Al-Haitami.

Sangat disayangkan, sikap hati-hati dan pembuktian tentang kebenaran hadis sangat kurang diperhatikan oleh sebagian kalangan terpelajar dan masyarakat umum. Jika kita mengabaikan hal itu, tentunya kita telah mengingkari kebenaran. Sebab hal itu sangat tidak patut dilakukan oleh orang yang menyandang ilmu pengetahuan.

Merupakan kewajiban dan tugas kalangan terpelajar terutama juru dakwah, untuk memperingatkan umat mengenai dampak negatif dari sikap meremehkan permasalahan hadis yang dinisbatkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mengecek validitasnya terlebih dahulu. Mereka perlu diingatkan tentang dosa besar ketika lisan mereka berulang-ulang melafalkan hadis palsu yang dinisbatkan pada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun makna yang terkandung dalam suatu hadis maudhu’ terkadang dapat dibenarkan, namun jangan sampai hal itu membuat kita menggampangkan periwayatan hadis tersebut. Masih banyak hadis sahih yang nilai kebenarannya lebih bisa dipercaya daripada hadis maudhu’.

Dengan demikian, mengutip dan menggunakan hadis maudhu’ meskipun memiliki makna yang dapat diterima dan benar, namun tetap saja hal itu merupakan sikap pengabaian terhadap hadis yang terbukti sahih, baik secara sanad maupun matan. Selain itu, sikap ini juga berarti meletakkan makna hadis itu dalam pengertian negatif.

Akhirnya, saya ingin tegaskan kembali, sikap ceroboh dan meremehkan permasalahan ini akan berujung pada petaka besar dan dampak negatif dalam kehidupan dan agama kaum Muslim. Sebab hal ini dapat menjauhkan umat dari sunah dan pola hidup islami yang benar, lalu berpaling pada bid’ah dan pola hidup yang dibangun di atas dasar khurafat dan kebatilan. Selain itu, sikap seperti ini juga dapat menimbulkan gambaran dan kesan buruk tentang Islam. Orang-orang yang melakukan hal ini sering tidak sadar, sehingga menyangka bahwa mereka melakukan perbuatan baik.

Sumber: 33 Kesalahan Khotib Jumat, Su’ud bin Malluh bin Sulthan Al-’Unazi, Pustaka at-Tazkia, 2006 dengan perubahan bahasa seperlunya oleh timyufid.

Kata kunci: Hadits maudhu’.