Membaca Sebagian Al-Quran Dalam Khutbah Jum’at

Dalam pembahasan ini ada tiga persoalan yang akan kami ketengahkan:

1. Hukum membaca sebagian Al-Quran dalam khutbah.

2.Kadar minimal Al-Qur’an yang dibaca dalam khutbah.

3. Hukum membaca surat Al-Qur’an yang terdapat sujud tilawah dalam khutbah dan hukum sujud tilawah.

Pertama: Hukum Membaca Sebagian Al-quran Dalam Khutbah

Semua ulama madzhab sepakat tentang disyariatkannya membaca sebagian ayat Al-qur’an dalam khutbah, hal ini berdasarkan zhahir perkataan mereka.

Imam Nawawi berkata, “Disyariatkan membaca sebagian Al-quran dalam khutbah tanpa ada perbedaan pendapat dikalangan ulama.” (Syarhu An Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 6:160). Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang apakah membaca sebagian Al-Quran tersebut menjadi syarat khutbah atau bukan.

Dalam hal ini ada dua pendapat:

Pendapat pertama: membaca sebagian Al-Quran dalam khutbah hukumnya dianjurkan atau sunah.

Ulama yang berpendapat demikian adalah ulama dari madzhab Hanafi, Maliki, sebagian ulama madzhab Syafi’i, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Inilah pendapat yang dipilih oleh sebagian ulama madzhab Hanbali di antaranya Syaikh As Sa’di.

Pendapat kedua: membaca sebagian Al-quran dalam khutbah merupakan rukun khutbah, maka jika tidak ada khutbahnya tidak sah.

Ini merupakan pendapat Imam Syafi’i dan pendapat inilah yang masyhur di kalangan ulama madzhab Syafi’i, Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur dari beliau dan inilah pendapat yang benar dan dianut oleh mayoritas ulama madzhab Syafi’i.

Dalil yang digunakan ulama yang memilih pendapat pertama

Mereka berdalil dengan Al-qur’an dan sunah:

Pertama: Dalil Al-Qur’an

1. Firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli.” (QS. Al-Jumu’ah : 09).

Sisi pendalilan: Allah Ta’ala memerintahkan berdzikir secara muthlaq tanpa menyebutkan dzikir dengan membaca Al-qur’an. Maka membaca Al-qur’an tidaklah dijadikan syarat khutbah berdasarkan hadits ahad, padahal hadits ahad yang shahih bisa menghapus hukum Al-qur’an. Namun hal tersebut tidak berlaku dalam masalah ini, yang tepat hanya sebagai penyempurna saja.

2. Firman Allah Ta’ala,

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al A’raf: 204).

Sisi pendalilan: Ayat ini turun berkaitan tentang khutbah. Allah menamakan khutbah dengan Al-qur’an karena di dalamnya terdapat bacaan Al-qur’an. Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan apa yang Allah turunkan kepada beliau (Al-qur’an) kepada para sahabatnya ketika khutbah.

Kedua: Dalil Sunah

Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat Al-qur’an didalam khutbahnya:

وَاتَّقُواْ يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 281).

Riwayat ini jelas menunjukkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi riwayat ini tidak dapat dipastikan keshahihannya karena belum dicek sanadnya.

Dalil yang digunakan ulama yang memilih pendapat kedua

Mereka berdalil dengan sunah, atsar sahabat, dan akal.

Pertama: Dalil sunah

Terdapat riwayat yang menjelaskan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah ini:

1. Riwayat dari Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَ لِلنَّبِيِ خُطْبَتَانِ، يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا، يَقْرَأُ القُرْآنَ، وَيُذَكِّرُ النَاسَ

“Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dua kali, duduk diantara kedua khutbah, membaca Al-qur’an dan mengingatkan manusia.” (HR. Muslim).

Imam Nawawi berkata,

فِيْهِ دَلِيْلٌ لِلشَافِعِي فِي أَنَّهُ يُشْتَرَطُ فِي الخُطْبَةِ الوَعْظَ وَالقُرْآنَ

“Di dalam hadits ini terdapat dalil bagi ulama madzhab Syafi’i tentang disyaratkannya nasehat dan bacaan Al-qur’an didalam khutbah.” (Syarhu An Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 6:150).

2. Ummu Hisyam bintu Haritsah bin Nu’man radhiyallohu ‘anha berkata,

مَا أَخَذْتُ ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ إِلَّا عَنْ لِسَانِ رَسُوْلِ اللهِ

“Tidaklah aku menghafal dan mempelajari [ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ ] kecuali dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Dari ‘Amarah bintu Abdurrahman dari saudara perempuan ‘Amarah, berkata,

أَخَذْتُ ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ من فِي رسول الله يوم الجمعة وهو يقرأ بها على المنبر في كل جمعة

“Aku menghafal melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada haru Jumat. Beliau membaca surat Qaaf setiap Jumat dimimbar.” (HR. Muslim)

[ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ ]

Imam Nawawi berkata,

وَفِيْهِ دَلِيْلٌ لِلْقِرَاءَةِ فِي الخُطْبَةِ

“Di dalam hadits ini terdapat dalil disyariatkanya membaca Al-qur’an dalam khutbah.” (Syarhu An Nawawi ‘alaa Shahih Muslim 6/161).

3. Riwayat dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

قَرَأَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى المِنْبَرِ ص فَلَمَّا بَلَغَ السَجْدَةَ نَزَلَ فَسَجَدَ وَسَجَدَ النَاسُ مَعَهُ فَلَمَّا كَانَ يَوْمَ آخَر قَرَأَهَا فَلَمَّا بَلَغَ السَجْدَةَ تشزن النَاُس لِلسُجُوْدِ فَقَالَ النَّبِيُ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هِيَ تَوْبَةُ نَبِيِ وَلَكِنِّيْ رَأَيْتُكُمْ تشزنتُمْ لِلسُجُوْدِ فَنَزَلَ فَسَجَدَ وَسَجَدُوْا

“Rasulullah membaca Al-qur’an di atas mimbar, ketika sampai ayat sajdah, beliau turun untuk sujud maka para sahabat ikut sujud bersama beliau. Di waktu yang lain beliau membaca Al-qur’an lagi, ketika sampai pada ayat sajdah para sahabat bersiap-siap untuk sujud, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Sesungguhnya sujudku merupakan taubatku, akan tetapi aku melihat kalian bersiap-siap sujud, maka Nabi turun sujud dan para sahabat ikut sujud.” (HR. Abu Dawud, Imam Nawawi di Al Majmuu’ berkata : shahih).

4. Riwayat Shafwan bin Ya’la At Tamimi dari bapaknya:

أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ يَقْرَأُ وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ

“Sesungguhnya dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ‘Mereka berseru: Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja’. Dia menjawab: ‘Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini’).” (HR. Muslim)

Kedua: Dalil atsar sahabat radhiallahu ‘anhum

Riwayat Rabi’ah bin Abdullah bin Al Hudair:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ قَرَأَ يَوْمَ الجُمْعَةِ عَلَى المِنْبَرِ بِسُوْرَةِ النَحْلِ حَتَّى إِذَا جَاءَ السَجْدَةُ نَزَلَ فَسَجَدَ، وَسَجَدَ النَاسُ، حَتَّى إِذَا كَانَتِ الجُمْعَةُ القَابِلَةُ قَرَأَ بِهَا، حَتَّى إِذَا جَاءَ السَجْدَةُ قَالَ: “يَا أَيُّهَا النَاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُجُوْدِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ، وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ”، وَلَمْ يَسْجُدْ عُمَرُ

“Umar bin Al-Khattab membaca surat An Nahl pada satu Jumat di atas mimbar dan ketika ia sampai kepada ayat sajadah ia turun dari mimbar dan bersujud dan orang-orang ikut bersujud. Jumat berikutnya Umar bin Al-Khattab membaca surat yang sama dan ketika ia sampai pada ayat sajadah ia berkata; “Wahai manusia! Di saat kita membaca ayat-ayat sajadah maka siapa yang bersujud maka ia telah melakukan hal yang benar, akan tetapi bagi yang tidak bersujud maka ia tidak berdosa dan Umar tidak melakukan sujud.” (HR. Bukhari).

Ketiga: Dalil akal

Khutbah Jumat hukumnya wajib, maka wajib membaca Al-qur’an dalam khutbah sebagaimana shalat.

Pendapat yang kuat:

Pendapat paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang menyatakan bahwa hukum membaca sebagian Al-qur’an dalam khutbah adalah dianjurkan atau sunah. Karena tidak adanya dalil kuat yang menunjukkan bahwa membaca Al-qur’an termasuk rukun khutbah. Riwayat yang ada hanyalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja menunjukkan hukum sunah.

Kedua: Kadar Minimal Al-qur’an yang Dibaca Dalam Khutbah

Ulama fiqih, baik yang mengatakan bahwa membaca Al-qur’an dalam khutbah hukumnya sunah atau wajib berbeda pendapat tentang kadar minimal Al-qur’an yang dibaca dalam khutbah. Pendapat mereka terbagi menjadi empat :

Pendapat pertama: Khutbah tetap sah, meskipun membaca kurang dari satu ayat, asalkan maknanya sempurna dan tidak sah jika makna ayatnya tidak sempurna walaupun membaca satu ayat penuh.
Ini merupakan pendapat sebagaian ulama madzhab Hanbali.

Pendapat kedua: Minimal membaca satu ayat, sama saja baik ayat yang panjang maupun pendek.
Ini merupakan pendapat ulama madzhab Maliki, pendapat Imam Syafi’i dan ulama madzhab Syafi’i, salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan inilah pendapat yang shahih menurut mayoritas mereka.

Pendapat ketiga: Minimal tiga ayat atau satu ayat yang panjang.
Inilah pendapat yang nampak dikalangan ulama madzhab Hanafi sebagaimana di Al Fataawa Hindiyyah :

وَمِقْدَارُ مَا يَقْرَأُ فِيْهَا [يَعْنِي خُطْبَةُ الجُمْعَةِ ] مِنَ القُرْآنِ ثَلَاثَ آياتٍ قِصَارٍ أَوْ آيَةٍ طَوِيْلَةٍ

“Kadar minimal Al-qur’an yang dibaca dalam khutbah Jumat adalah tiga ayat pendek atau satu ayat panjang.” (Al Fataawa Al Hindiyyah, 1:147).

Pendapat keempat: Khutbah sah meskipun tanpa membaca ayat Al-qur’an sama sekali.
Ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, pendapat ini juga diikuti oleh sebagian ulama madzhab Hanbali.

Dalil pendapat pertama:

Ulama yang memilih pendapat ini melihat terhadap makna ayat Al-qur’an. Oleh karena itu, jika membaca ayat yang tidak memiliki makna sempurna tidak akan terwujud tujuan dari membaca Al-qur’an, tidak ada faidahnya, sehingga hal ini tidak boleh walaupun yang dibaca satu ayat penuh. Sedangkan ayat yang memiliki makna yang sempurna boleh dibaca walaupun tidak satu ayat penuh.

Dalil pendapat kedua:

1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya tidak pernah membaca kurang dari satu ayat.

2. Hukumnya tidak terkait dengan kurang dari satu ayat, berdasarkan dalil terlarangnya orang yang junub membaca Al-qur’an, tanpa disebutkan kurang dari satu ayat.

Dalil pendapat ketiga:

Sesungguhnya bacaan yang diwajibkan dalam shalat adalah membaca tiga ayat yang pendek atau satu ayat panjang, maka sunah membaca di dalam khutbah dengan kadar tersebut lebih layak lagi.

Dalil pendapat keempat:

Sesungguhnya membaca Al-qur’an di dalam khutbah bukan sesuatu yang wajib, maka boleh bagi khatib untuk membaca meskipun bukan ayat Al-qur’an.

Pendapat yang kuat:

Pendapat yang paling kuat dari keempat pendapat di atas adalah pendapat pertama yang mengatakan bahwa kadar minimal bacaan Al-qur’an di dalam khutbah Jumat adalah yang memiliki makna sempurna. Sama saja apakah satu ayat ataupun kurang darinya, karena kuatnya dalil yang mereka gunakan.

Ketiga: Hukum Membaca Surat Al-qur’an yang Terdapat Sujud Tilawah Dalam Khutbah dan Hukum Sujud Tilawah
Terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama fiqih tentang hukum bacaan khatib terhadap ayat Al-qur’an yang di dalamnya terdapat sujud tilawah ketika khutbah Jumat dan hukum sujud ketika itu. Pendapat mereka terbagi menjadi dua:

1. Dibolehkan membaca ayat Al-qur’an yang di dalamnya terdapat sujud tilawah saat khubah, dan boleh sujud ketika itu.
Ini merupakan pendapat ulama madzhab Hanafi, Imam Syafi’I, dan para pengikutnya, madzhab Hanbali, serta Ibnu Hazm.
Dalil-dalil yang mereka gunakan:

Pertama: Dari sunah

Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

قَرَأَ رَسُوْلُ اللهِ وَهُوَ عَلَى المِنْبَرِ (ص) فَلَمَّا بَلَغَ السَجْدَةَ نَزَلَ فَسَجَدَ، وَسَجَدَ النَاسُ مَعَهُ، فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ آخَرِ قَرَأَهَا، فَلَمَّا بَلَغَ السَجْدَةَ تَشَزَّنَ النَاسُ لِلسُجُوْدِ، فَقَالَ النَبِيُّ إِنَّمَا هِيَ تَوْبَةُ نَبِي، وَلَكِنِّي رَأَيْتُكُمْ تَشَزَّنْتُمْ لِلسُجُوْدِ، فَنَزَلَ فَسَجَدَ فَسَجَدُوْا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat shad di atas mimbar, ketika menemui ayat sajdah beliau turun dari mimbar kemudian sujud tilawah, lalu para sahabat ikut sujud bersama beliau. Kemudian di hari Jumat yang lainnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali membaca surat shad, saat sampai ayat sajdah para sahabat menunggu beliau sujud, maka Nabi berkata: sujud ini sesungguhnya hanya taubat Nabi, namun aku melihat kalian menunggu untuk sujud, maka beliau sujud dan para sahabatpun sujud mengikuti beliau.” (HR. Abu Dawud 1410 dan Ad Darimy 1466)

Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini jelas menunjukkan bahwa beliau membaca ayat Al-qur’an yang terdapat sujud tilawahnya, kemudian beliau sujud. Bahkan perbuatan belaiu ini diulang lebih dari satu kali.

Kedua: atsar sahabat radhiallahu ‘anhum

Dari Rabi’ah bin Abdullah bin Hudair dari Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu bahwa dia membaca surat An Nahl saat khutbah pada hari Jumat maka ketika sampai ayat sajdah dia turun dari mimbar untuk sujud, maka sujudlah para sahabat ketika itu. Kemudian pada Jumat berikutnya dia membaca kembali surat An Nahl, saat menemui ayat sajdah, dia berkata kepada para jama’ah Jumat :

يَآأَيُّهَا النَاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُجُوْدِ، فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ، وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ

“Wahai manusia, kita melewati ayat sajdah, barangsiapa yang sujud maka dia telah benar dan barangsiapa yang tidak sujud, tidak ada dosa baginya.”

Dan Umar tidak sujud ketika itu.

Sisi pendalilan: Sahabat Umar radhiallahu ‘anhu membaca ayat sajdah dalam khutbah Jumat lalu dia turun dari mimbar untuk sujud. Padahal ketika itu banyak para sahabat yang melihat perbuatan dia dan tidak ada satu pun sahabat yang mengingkari perbuatan Umar. Maka ini menunjukkan bahwa membaca surat yang terdapat ayat sajdah ketika khutbah Jumat hukumnya boleh.

Ketiga : Dari akal

Sesungguhnya sujud tilawah ketika khutbah Jumat hukumnya sunah jika ada sebabnya, selama tidak lama waktunya sehingga bisa memisahkan khutbah Jumat. Maka sunah melakukan sujud tilawah sebagaimana alhamdulillah jika bersin.

2. Makruh membaca ayat Al-qur’an yang di dalamnya terdapat sujud tilawah saat khutbah dan makruh sujud ketika itu.
Ini merupakan pendapat Imam Malik dan pengikutnya. (lihat Al Muwatha’, 1:206)

Dalil yang mereka gunakan:

1. Sesungguhnya seorang khatib jika dalam khutbahnya membaca ayat yang terdapat sujud tilawah, maka dia ada diantara dua perkara: dia sujud padahal ketika berada dalam khutbah atau tidak melakukan sujud. Jika dia tidak sujud maka terkena ancaman Allah Ta’ala:

وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ

“Dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (Al Insyiqaq : 21)

Oleh karena itu, dimakruhkan membaca ayat sajdah dan sujud tilawah didalam khutbah.

2. Sujud ketika khutbah akan menjadi sebab bingungnya jamaah Jumat, karena mereka mengira bahwa imam telah selesai khutbah dan akan melaksanakan shalat. Oleh karena itu, dimakruhkan melakukannya.

3. Sesungguhnya sujud tilawah seperti shalat sunah, maka tidak selayaknya menyibukkan diri dengannya saat khutbah, seperti shalat dua rakaat.

Pendapat yang kuat:

Pendapat yang nampak lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan bolehnya membaca ayat Al-qur’an yang terdapat sujud tilawah saat khutbah, demikian juga boleh melakukan sujud ketika itu. Karena kuatnya dalil yang mereka gunakan dan tidak adanya dalil bagi ulama yang berpendapat lain.

Namun demikian hendaknya bagi imam untuk memberitahukan kepada para makmumnya bahwa dia akan melakukan sujud tilawah. Dan lebih ditekankan lagi pemberitahuan kepada makmum tentang sujud tilawah imam jika makmum tidak dapat melihat imam karena posisi makmum jauh darinya, sehingga para jama’ah tidak mengalami kebingungan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


eight − = 5

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>