<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
> <channel><title>Khotbah Jumat - Khutbah Jum&#039;at Terbaik</title> <atom:link href="http://khotbahjumat.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://khotbahjumat.com</link> <description>Kumpulan materi khutbah jum&#039;at terbaik sesuai sunnah</description> <lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 04:07:58 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <generator>http://wordpress.org/?v=</generator> <xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" /> <item><title>Perdukunan? No Way!</title><link>http://khotbahjumat.com/perdukunan-no-way/</link> <comments>http://khotbahjumat.com/perdukunan-no-way/#comments</comments> <pubDate>Thu, 17 May 2012 02:45:39 +0000</pubDate> <dc:creator>ridwanyufid</dc:creator> <category><![CDATA[Khutbah Jumat Pilihan]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://khotbahjumat.com/?p=1136</guid> <description><![CDATA[Di antara rambu-rambu ikhtiar yang amat disayangkan masih sering dilanggar, termasuk di negeri kita, larangan Islam untuk memanfaatkan ‘jasa’ dukun, paranormal, tukang sihir, dan yang semisalnya. Banyak di antara anggota masyarakat kita –dengan berbagai strata sosial, beragam latar belakang ideologi, tingkat pendidikan, dan kebutuhan– masih menganggap pergi ke dukun sebagai bentuk ikhtiar yang lazim. Padahal ...<h3>Related Posts</h3> No related posts.
]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p
style="text-align: left;">Di antara rambu-rambu ikhtiar yang amat disayangkan masih sering dilanggar, termasuk di negeri kita, larangan Islam untuk memanfaatkan ‘jasa’ <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com"><strong>dukun</strong></a>, <strong>paranormal</strong>, tukang sihir, dan yang semisalnya.<br
/> Banyak di antara anggota masyarakat kita –dengan berbagai strata sosial, beragam latar belakang ideologi, tingkat pendidikan, dan kebutuhan– masih menganggap pergi ke <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com"><em>dukun</em></a> sebagai bentuk ikhtiar yang lazim. Padahal di KTP mereka tertulis bergama Islam. <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">(Redaksi www.khotbahjumat.com)</a></p><p
style="text-align: center;">***<span
id="more-1136"></span></p><h2 style="text-align: center;">Perdukunan? No Way!</h2><p
class="arab">الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَجَعَلَ لِلْوُصُوْلِ إِلَيْهِ طَرَائِقَ وَاضِحَةً وَسُبُلاً<strong></strong></p><p
class="arab">وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.</p><p
class="arab">“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.</p><p
class="arab">“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.</p><p
class="arab">“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.</p><p
class="arab">أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ</p><h2>KHUTBAH PERTAMA</h2><h3>Jamaah Jumat rahimakumullah</h3><p>Mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br
/> Jamaah Jumat yang semoga dimuliakan Allah<br
/> Di antara potret keindahan ajaran Islam, selain mengajarkan karakter tawakal, agama kita juga memotivasi umatnya agar berikhtiar, berdaya upaya, dan berusaha untuk menggapai keinginan serta cita-citanya.<br
/> Dalam mendulang rezeki misalnya, Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p><p
class="arab">لَأَنْ يَحْتَزِمَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً مِنْ حَطَبٍ، فَيَحْمِلَهَا عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا؛ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا يُعْطِيهِ أَوْ يَمْنَعُهُ</p><p>“Seseorang mencari seikat kayu bakar lalu dipanggul di atas pundaknya dan dijual, lebih mulia dibandingkan dia meminta-minta kepada orang lain, diberi atau tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairaoh radhiallahu ‘anhu dengan redaksi Muslim)<br
/> Orang yang sakit dan menginginkan kesembuhan, diperintahkan Islam untuk berobat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p><p
class="arab">تَدَاوَوْا! فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ؛ الْهَرَمُ</p><p>“Berobatlah! Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menurunkan penyakit melainkan menciptakan obatnya. Kecuali satu penyakit, yaitu penyakit tua.” (HR. Abu Dawud, IV:125 no. 3855, dari Usamah bin Syarik radhiallahu ‘anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy, Hal. 461 no. 2039)<br
/> Namun demikian, dalam hal ikhtiar Islam tidaklah membebaskan umatnya berlaku sekehendaknya tanpa aturan. Justru agama kita membuat rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar yang pada hakikatnya bertujuan untuk kemaslahatan insan dalam perkara duniawi maupun ukhrawi.<br
/> Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati<br
/> Di antara rambu-rambu ikhtiar yang amat disayangkan masih sering dilanggar, termasuk di negeri kita, larangan Islam untuk memanfaatkan ‘jasa’ <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a>, <em>paranormal</em>, tukang sihir, dan yang semisalnya.<br
/> Banyak di antara anggota masyarakat kita –dengan berbagai strata sosial, beragam latar belakang ideologi, tingkat pendidikan, dan kebutuhan– masih menganggap pergi ke <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a> sebagai bentuk ikhtiar yang lazim. Padahal di KTP mereka tertulis bergama Islam.<br
/> Pejabat yang menginginkan kelanggengan kedudukannya<br
/> Bos yang berhasrat disegani dan terlihat berwibawa di depan karyawannya<br
/> Bawahan yang bercita-cita naik pangkat<br
/> Pedagang yang mengharapkan untuk banyak<br
/> Pengusaha yang berkeinginan untuk menjatuhkan saingan bisnisnya<br
/> Remaja yang ingin mengintip masa depan ‘cintanya’<br
/> Bujangan yang mengincar wanita idamannya<br
/> Istri yang berharap suaminya tidak melirik ‘rumput tetangga’<br
/> Rumah tangga yang bermimpi memiliki keturunan<br
/> Bahkan siswa sekolah yang menginginkan kelulusan dalam ujiannya<br
/> Banyak di antara mereka yang tergopoh-gopoh datang mengetuk pintu para <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a>, menghiba (Memohon) bantuannya. Mereka melakukannya, sekali lagi, atas nama “ikhtiar”!<br
/> Padahal sejak empat belas abad lalu, panutan kita Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan dengan tegas,</p><p
class="arab">مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ؛ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً</p><p>“Barang siapa mendatangi <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a> (peramal), lalu ia bertanya tentang sesuatu kepadanya; maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim, 4:1751 no. 2230 dari sebagian istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam)<br
/> Hadis lain memberikan statement yang lebih keras lagi,</p><p
class="arab">مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ سَاحِراً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ؛ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</p><p>“Barang siapa mendatangi <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a> atau tukang sihir lalu mempercayai apa yang dikatakannya; maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Bazzar, 5:315 no. 1931 dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dan sanadnya dinilai shohih oleh Ibnu Katsir).</p><h3>Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah</h3><p>Barangkali ada sebagian kalangan yang bertanya-tanya, mengapa Islam begitu ‘keras’ dalam hal ini? Toh, para <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a> tersebut hanya ingin berbuat baik kepada sesama, dengan memberdayakan ‘daya linuwih’ yang dimiliki. Lantas apa salahnya?<br
/> Sebelum menjawab kebimbangan di atas, satu hal yang seharusnya selalu diingat setiap insan, manakala Islam melarang suatu perbuatan, pasti perbuatan tersebut memuat kerusakan fatal atau mengakibatkan bahaya besar bagi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat walaupun –barangkali – perbuatan itu mengandung beberapa manfaat. Jika dicermati ulang dengan teliti, ternyata manfaat tadi bila dibandingkan dengan keburukan yang ditimbulkan, jelas tidak ada apa-apanya.<br
/> Segala yang berbau <strong>perdukunan</strong> maupun praktik sihir memuat berbagai sisi negatif, di antaranya:<br
/> <strong>Pertama:</strong> Para <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a> melakukan ritual kesyirikan dan praktik kekufuran<br
/> Seringkali para <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a> dan tukang sihir bisa melakukan atraksi-atraksi ajaib yang mencengangkan. Orang yang beriman tidak akan mudah termakan karena ia tahu bahwa sejatinya mereka telah berkolaborasi dengan setan untuk melakukan atraksi tersebut.<br
/> Sementara itu, setan tidak mungkin membantu para tukang sihir dalam hal itu, kecuali setelah mereka melakukan hal yang bertentangan dengan syariat, sebagai bentuk kompensasi bantuan tersebut. Semakin perbuatan yang dipersembahkan kufur atau syirik, maka bantuan yang diberikan setan semakin besar.<br
/> Kenyataan ini bukanlah isapan jempol belaka atau fitnah murahan, namun fenomena tersebut diakui oleh para mantan <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a> yang telah bertaubat. Mereka bersaksi bahwa untuk menggapai ‘kesaktian’ yang dimiliki, mereka diharuskan untuk melakukan kesyirikan dan kekufuran. Ada yang mengatakan bahwa mereka dahulunya memohon bantuan kepada iblis, ada yang tidak menunaikan shalat lima waktu dan berpuasa Ramadhan, ada yang menempelkan lembaran-lembaran mushaf Alquran di tembok WC, dan berbagai tindak kekufuran lainnya.<br
/> Adanya kolaborasi para <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a> dengan setan telah dijelaskan para ulama Islam sejak dahulu kala. Sebagaimana dipaparkan antara lain oleh Imam Syafi’i (w. 204H) 7, Al Baidhowi (w. 685 H) 8 dan Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H).<br
/> <strong>Kedua:</strong> Tukang ramal dan paranormal telah menabrak salah satu prinsip dasar aqidah Islam, yakni keyakinan bahwa dzat yang mengetahui hal gaib hanyalah Allah Ta’ala.<br
/> Terlalu banyak fakta yang membuktikan bahwa para pelaku <em>perdukunan</em> telah mengklaim dirinya mengetahui hal-hal gaib. Salah satu contoh nyatanya, lihatlah apa yang bermunculan di media massa, elektronik maupun cetak, setiap datang penghujung tahun. Para <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a> dan ‘spiritualis’ berlomba meramal kejadian tahun depan! Ini hanyalah satu contoh, dan masih banyak contoh lainnya yang senada. Bahkan ada pula yang berani meramal kapan datangnya hari kiamat!<br
/> Padahal dalam Alquran, begitu gamblang dijelaskan bahwa pengetahuan tentang hal gaib hanyalah dimiliki Allah tabaraka wa Ta’ala, Rabb semesta alam.</p><p
class="arab">قلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّه</p><p>“Katakanlan (wahai Muhammad), “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)<br
/> Dan masih banyak ayat lain serta hadis nabawi yang senada.<br
/> <strong>Ketiga:</strong> Pergi ke <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a> dan paranormal membentuk mentalitas pemalas dalam diri seseorang.<br
/> “Pemikiran yang mistik mencerminkan mentalitas jalan pintas. Orang yang tidak mau kerja keras, tidak mau berencana, dan hanya mengharapkan solusi dengan cara gaib. Mistik membuat orang malas, tidak ulet, dan tidak bermental tangguh.” (Perkataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagaimana dalam buku Harus Bisa – Seni Memimpin ala SBY, karya Dr. Dino Patti Djalal (hal.127))<br
/> Islam menginginkan umatnya ulet, tangguh, rajin bekerja, bersungguh-sungguh dalam berusaha, serta tidak bergantung pada sesuatu yang fiktif dan terbuai dengan angan-angan kosong. Islam juga sangat membanci karakter pemalas. Karena itu, di antara doa yang kerap dipanjatkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:</p><p
class="arab">اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ</p><p>“Ya Allah sungguh aku mohon perlindungan kepada-Mu dari ketidakberdayaan, kemalasan, sifat pengecut, dan lanjut usia (pikun ed.). Aku memohon perlindungan-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian. Serta aku memohon perlindungan-Mu dari adzab kubur.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)<br
/> Pembahasan di atas bukan hanya membidik para <a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a> yang notabene beraliran hitam. Yang biasanya ditandai dengan mengenakan blangkon atau ikat kepala dan pakaian serba hitam. Tidak lupa menyelipkan sebilah keris di pinggang serta menyalakan kemenyan dan dupa di depannya. Namun, peringatan di atas juga terarah kepada mereka yang menamakan diri “<a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a> putih”. Yang kedua ini kerap berbusana bak seorang wali, dengan serban di kepala dan jubah putih, serta tidak lupa bersenjatakan seuntai tasbih yang biji-bijinya terkadang mengalahkan besarnya bola pingpong. Mereka semua sama!<br
/> Seyogyanya seorang muslim bersikap cerdas dalam menilai sesuatu. Hendaknya dia tidak mudah terkecoh dengan tipuan penampilan. Justru dia tetap menjadikan substansi sesuatu sebagai tolok ukur penilaian.</p><p
class="arab">نَفَعَنِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِالقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَبِسُنَّةِ سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ.</p><p
class="arab">أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ…</p><h2>KHUTBAH KEDUA</h2><p
class="arab">اَلحَمْدُ لِلّهِ الوَاحِدِ القَهَّارِ، الرَحِيْمِ الغَفَّارِ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى عَلَى فَضْلِهِ المِدْرَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الغِزَارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ العَزِيْزُ الجَبَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المُصْطَفَى المُخْتَار، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الطَيِّبِيْنَ الأَطْهَار، وَإِخْوَنِهِ الأَبْرَارِ، وَأَصْحَابُهُ الأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تُعَاقِبُ اللَيْلَ وَالنَّهَار</p><h3>Kaum muslimin jamaah Jumat yang kami cintai</h3><p>Kami tutup khutbah sederhana ini dengan fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) pusat berkenaan dengan permasalahatan di atas, yang diputuskan pada Musyawarah Nasional MUI VII:<br
/> Fatwa tentang Per<a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a>an (Kahanah) dan Peramalan (Irafah)<br
/> 1. Segala bentuk praktik per<a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a>an (kahanah) dan peramalan (irafah) hukumnya haram.<br
/> 2. Mempublikasikan praktik per<a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a>an (kahanah) dan peramalan (irafah) dalam bentuk apa pun hukumnya haram.<br
/> 3. Memanfaatkan menggunakan dan/atau mempercayai segala praktik per<a
title="dukun" href="http://khotbahjumat.com">dukun</a>an (kahanah) dan peramalan (irafah) hukumnya haram.<br
/> Ditetapkan di Jakarta, 21 Jumadal Akhir 1426/28 Juli 2005.<br
/> Fatwa telah diputuskan. Tinggalah komitmen kita sebagai umat Islam di negeri ini mematuhi dan menaati keputusan yang dibuat forum tertinggi umat Islam di negeri ini. Jangan sampai keputusan komisi fatwa itu hilang maknanya, lantaran ketidakseriusan kita sendiri sebagai umat Islam untuk menyebarkan dan menerangkannya kepada masyarakat.”</p><p
class="arab">إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا<br
/> اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ<br
/> اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ<br
/> اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ<br
/> ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا<br
/> أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.</p><h2>Download Naskah Materi Khutbah Jum’at</h2> <a
class="downloadlink" href="http://khotbahjumat.com/download107" title=" downloaded 55 times" >Download Ebook Khutbah Jum'at  perdukunan-no-way (55)</a><h3>Keyword/Kata Kunci : Perdukunan</h3><h3>Related Posts</h3><p>No related posts.</p> No tags for this post.]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://khotbahjumat.com/perdukunan-no-way/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Persatuan Umat Islam dari Mimpi Menuju Kenyataan</title><link>http://khotbahjumat.com/persatuan-umat-islam-dari-mimpi-menuju-kenyataan/</link> <comments>http://khotbahjumat.com/persatuan-umat-islam-dari-mimpi-menuju-kenyataan/#comments</comments> <pubDate>Wed, 16 May 2012 03:19:50 +0000</pubDate> <dc:creator>ridwanyufid</dc:creator> <category><![CDATA[Nasehat]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://khotbahjumat.com/?p=1130</guid> <description><![CDATA[Persatuan antara umat Islam dan ukhuwwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabdanya, “Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzhaliminya, menelantarkannya dan menghinanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah adhiallahu anhu). [Redaksi www.KhotbahJumat.com] *** ...<h3>Related Posts</h3> No related posts.
]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com"><strong>Persatuan</strong></a> antara umat Islam dan ukhuwwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabdanya,<br
/> “Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzhaliminya, menelantarkannya dan menghinanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah adhiallahu anhu). [Redaksi <a
href="http://www.KhotbahJumat.com" target="_blank">www.KhotbahJumat.com</a>]</p><p
style="text-align: center;">***<span
id="more-1130"></span></p><h2 style="text-align: center;">Persatuan Umat Islam dari Mimpi Menuju Kenyataan</h2><h3>KHUTBAH PERTAMA</h3><p
class="arab">إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ<br
/> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ<br
/> يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً<br
/> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً<br
/> أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ</p><h3>Jamaah Jumat rahimakumullah</h3><p>Mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br
/> Jamaah Jumat yang semoga dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala<br
/> Tentu banyak di antara kita yang masih ingat, salah satu falsafah hidup yang kerap diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah dahulu, yang juga merupakan warisan turun-temurun nenek moyang kita dari zaman ke zaman. Yaitu perumpamaan tentang sapu lidi. Sebuah perumpamaan yang sederhana namun penuh dengan makna.<br
/> Sebatang lidi tidak akan ada artinya bagi tumpukan sampah yang menggunung. Sebatang lidi tidak akan membersihkan sampah di keliling kita. Bahkan bukan tidak mungkin sebatang lidi akan patah-patah. Tidak demikian bila batangan-batangan lidi itu dikumpulkan menjadi satu lalu diikat di pangkalnya. Tenaga yang kecil dari sebatang lidi akan menjadi kekuatan yang besar bila menyatu dalam satu kesatuan yang terikat kokoh dengan kebersamaan. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, itulah filosofinya.<br
/> Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para muslim yang terikat oleh kesamaan aqidah.<br
/> <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com"><em>Persatuan</em></a> antara umat Islam dan ukhuwwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabdanya,<br
/> “Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzhaliminya, menelantarkannya dan menghinanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)<br
/> <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com">Persatuan</a> akan menghasilkan begitu banyak manfaat. <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com">Persatuan</a> akan membuahkan kekuatan, <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com">persatuan</a> akan menumbuhkan ketenangan batin, persatuan akan memunculkan solidaritas, <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com">persatuan</a> akan membangun kepedulian sosial, dan masih banyak buah manis lain yang akan dihasilkan oleh <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com">persatuan</a>.<br
/> Karenanya, begitu banyak ibadah dalam agama kita yang disyariatkan untuk dilaksanakan secara berJamaah. Dari ibadah yang bersifat harian seperti shalat lima waktu, mingguan semisal shalat Jumat, hingga yang bersifat tahunan seperti Idul Fitri, Idul Adha, serta pelaksanaan ibadah haji.<br
/> Mengapa berjamaah? Antara lain adalah dalam rangka merealisasikan <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com">persatuan</a> dan meretas kebersamaan serta kasih sayang di antara kaum muslimin.<br
/> Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati<br
/> Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah perumpamaan yang sangat indah, tentang bagaimana seharusnya kaum muslimin bersaudara di antara mereka,</p><p
class="arab">مَثَلُ المُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الَجسَدُ الوَاحِدُ إِذَا أَشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الَجسَدِ بِالْحُمِّى وَالسَهَرِ</p><p>“Perumpamaan kaum mukminin dalam ukhuwwah (persaudaraan), kasih sayang dan kepedulian sesama mereka abgaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh bagian tubuh akan ikut merasakan sakit dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu)<br
/> Subhanallah, alangkah indahnya andaikan perumpamaan tersebut benar-benar dibumikan dalam kehidupan kita sehari-hari.<br
/> Niscaya kita tidak akan lagi mendengar jeritan si miskin yang dililit oleh bunga pinjaman para lintah darat, yang ternyata baik si fakir maupun si rentenir sama-sama beragama Islam di KTP-nya! Pinjam-meminjam yang sebenarnya dalam agama kita berdimensi ibadah serta kepedulian sosial, disulap menjadi sarana untuk menghisap harta orang-orang tak berdaya tanpa adanya rasa belas kasihan sedikit pun.<br
/> Andaikan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas benar-benar dipraktikkan, niscaya kita tidak akan lagi mendengar keluhan para orang miskin, yang seharusnya per bulannya ia menerima jatah raskin sebanyak 15 kg, ia harus rela menerimanya hanya 3 kg saja! Mengapa? Karena ternyata orang-orang kaya dan yang sebenarnya berkecukupan, merasa iri dan menuntut untuk diberi jatah pula! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, sudah matikah hati dan perasaan mereka? Bukannya menyisihkan sebagian hartanya untuk diinfaqkan kepada kaum papa, malah menyerobot jatah mereka! Anak SD pun tahu arti raskin; beras untuk orang miskin, bukan beras untuk orang kaya!<br
/> Jika nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi diejawantahkan dalam kehidupan kita, niscaya kita tidak akan lagi membaca berita tentang bayi-bayi yang kekurangan gizi atau anak-anak yang mati karena terserang penyakit busung lapar!<br
/> Andaikan petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dijalankan, andaikan dan andaikan..</p><h3>Jamaah Jumat yang dirahmati Allah</h3><p>Dengan melihat fenomena begitu terkotak-kotak tubuh kaum muslimin, sebagian kalangan merasa pesimis untuk bisa mewujudkan <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com">persatuan</a> tersebut. Mereka memilih menyerah terhadap realita.<br
/> Padahal seharusnya seorang muslim senantiasa menjunjung tinggi optimisme dalam setiap permasalahan yang mereka hadapi. Ia berusaha memadukan antara ikhtiar dan tawakal serta mengombinasikan antara keduanya.<br
/> Terkait dengan jalan apakah yang seharusnya ditempuh kaum muslimin guna mewujudkan mimpi indah <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com">persatuan</a> tersebut, ayat Alquran dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerikan keterangan amat jelas.<br
/> Allah Ta’ala berfirman,</p><p
class="arab">وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا</p><p>“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah. Dan janganlah kalian bercerai-cerai.” (QS. Ali Imran: 103)<br
/> Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p><p
class="arab">إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثاً، وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثاً. فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئاً، وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعاً، وَلَا تَفَرَّقُوْا. وَيَكْرَهُ لَكُمْ، قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةُ السُؤَالِ، وَإِضَاعَةُ المَالِ</p><p>“Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal dan membenci tiga hal atas kalian. Dia ridha jika (1) kalian beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun, (2) kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah dan tidak berpecah belah, (3) menasihati pemerintah kalian. Dan Allah membenci (1) perbincagan yang tidak ada gunanya, (2) banyak bertanya (tentang suatu yang tidak berfaidah) , serta (3) membuang-buang harta.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)<br
/> Ayat dan hadis di atas menjelaskan pada kita apa yang seharusnya dijadikan sebagai landasan persatuan kaum muslimin, yakni tali Allah.<br
/> Menilik keterangan yang disampaikan para ulama Islam, bisa disimpulkan bahwa tali Allah yang dimaksud adalah: ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br
/> <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com">Persatuan</a> antar kaum muslimin tidak akan pernah tercapai selama mereka belum kembali kepada ajaran agamanya yang benar. Dalam akidah, ibadah, akhlak, dan seluruh sisi kehidupan mereka.<br
/> Konsekuensinya, manakala ada ideologi, keyakinan, atau perilaku kaum muslimin yang tidak sejalan dengan ajaran Islam, maka penyimpangan tersebut harus diluruskan. Walaupun telah mengakar, mengurat, dan membudaya ratusan tahun.<br
/> Di sinilah egoisme individu, golongan kelompok, organisasi, partai, suku, atau apapun juga harus dikesampingkan dan dikalahkan.<br
/> Para ulama, ustadz, kyai, mubaligh, dan da’i, dalam tugas pelurusan ini memegang peranan yang amat besar dan signifikan. Mereka adalah salah satu pihak yang paling bertanggung jawab untuk mengemban amanah mulia tersebut.<br
/> Maka andaikan mereka berusaha menjalankan tugas berat tersebut sebaik-baiknya; dengan mengajak umat kembali kepada jalan lurus Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenahi aqidah atau tata cara ibadah mereka yang belum benar, dengan cara yang hikmah dan tutur kata yang santun, janganlah mereka dituduh sebagai biang perpecahan dan perselisihan. Sebab sejatinya mereka para pahlawan pembela <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com">persatuan</a>.<br
/> Adapun faktor yang membuat kaum muslimin berpecah belah adalah ulah sebagian orang yang telah dijelaskan kepadanya dalil dari Alquran, hadis, dan perkataan para ulama Ahlus Sunnah dengan sejelas-jelasnya bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah keliru. Akan tetapi, mereka masih saja bersikeras untuk menjalankan dan membudayakan kegiatan tersebut. Orang-orang seperti inilah sebenarnya yang menimbulkan perpecahan di barisan kaum muslimin, sebagaimana yang disinggung oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam firman-Nya,</p><p
class="arab">وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلاَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ</p><p>“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali-Imran: 105)</p><p
class="arab">أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم</p><h3>KHUTBAH KEDUA</h3><p
class="arab">الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَـمِيْنَ، أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِهِ الْـمُسْتَقِيْمِ وَنَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ سُبُلِ أَصْحَابِ الْـجَحِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْـمَلِكُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ اْلبَلاَغَ الْـمُبِيْنَ وَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ تَلَقَّوْا عَنْهُ الدِّيْنَ وَبَلَّغُوْهُ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:</p><h3>Jamaah Jumat rahimakumullah&#8230;</h3><p>Itulah fondasi <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com">persatuan</a> umat Islam yang direkomendasikan di dalam panduan hidup kita; Alquran dan sunah.<br
/> Adapun upaya untuk mewujudkan <a
title="Persatuan" href="http://khotbahjumat.com">persatuan</a> umat tanpa fondasi tersebut, maka bagaikan menegakkan benang basah. Tidak pernah akan mengantarkan kepada cita-cita mulia itu.<br
/> Selama masing-masing golongan dan kelompok bersikukuh dengan berbagai prinsipnya yang tidak sejalan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun dilakukan pertemuan seratus kali pun, persatuan itu tidak akan terwujud.<br
/> Kebersamaan yang tampak secara lahiriah, hanya merupakan fatamorgana belaka. Jangan sampai kita membuat model persatuan semu seperti persatuan orang Yahudi dan kaum munafiqin, yang Allah sitir dalam firman-Nya,</p><p
class="arab">تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَّيَعْقِلُونَ</p><p>“Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.” (QS. Al-Hasyr: 14)</p><p
class="arab">اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَـهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ الدِّيْنِ<br
/> اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْـمُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمِيْنَ في كُلِّ مَكَانٍ.<br
/> اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْـمُسْلِمَاتِ وَالْـمُؤْمِنِيْنَ وَالْـمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.<br
/> عِبَادَ اللهِ … اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْـجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.</p><h2>Download Naskah Materi Khutbah Jum’at</h2> <a
class="downloadlink" href="http://khotbahjumat.com/download106" title=" downloaded 83 times" >Download Ebook Khutbah Jum'at  persatuan-umat-islam-dari-mimpi-menuju-kenyataan (83)</a><h2>Keyword/Kata Kunci: Persatuan</h2><p>&nbsp;</p><h3>Related Posts</h3><p>No related posts.</p> No tags for this post.]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://khotbahjumat.com/persatuan-umat-islam-dari-mimpi-menuju-kenyataan/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Unjuk Rasa Dalam Kacamata Islam</title><link>http://khotbahjumat.com/unjuk-rasa-dalam-kacamata-islam/</link> <comments>http://khotbahjumat.com/unjuk-rasa-dalam-kacamata-islam/#comments</comments> <pubDate>Fri, 11 May 2012 03:51:02 +0000</pubDate> <dc:creator>ridwanyufid</dc:creator> <category><![CDATA[Artikel Khutbah Jumat]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://khotbahjumat.com/?p=1119</guid> <description><![CDATA[Pada zaman tatkala semua orang boleh menyampaikan aspirasinya, bebas berbicara, bebas menentukan hak pilihnya, dan bebas berekspresi, ternyata kita saksikan fenomena tersebut banyak sekali menerabas dan melanggar undang-undang Islam. Di antara sikap yang menyelisihi norma Islam itu adalah melakukan demonstrasi (unjuk rasa), yaitu sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum.  [Redaksi www.KhotbahJumat.com] *** Unjuk ...<h3>Related Posts</h3> No related posts.
]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p
style="text-align: left;">Pada zaman tatkala semua orang boleh menyampaikan aspirasinya, bebas berbicara, bebas menentukan hak pilihnya, dan bebas berekspresi, ternyata kita saksikan fenomena tersebut banyak sekali menerabas dan melanggar undang-undang Islam. Di antara sikap yang menyelisihi norma Islam itu adalah melakukan <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com"><strong>demonstrasi</strong></a> (unjuk rasa), yaitu sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum.  [Redaksi <a
href="http://www.KhotbahJumat.com" target="_blank">www.KhotbahJumat.com</a>]</p><p
style="text-align: center;">***<span
id="more-1119"></span></p><h2 style="text-align: center;">Unjuk Rasa Dalam Kacamata Islam</h2><p
class="arab">إِنّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ<br
/> اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.<br
/> يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ<br
/> يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا<br
/> يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …<br
/> فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.</p><h3>KHUTBAH PERTAMA</h3><h3>Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah</h3><p>Pada zaman tatkala semua orang boleh menyampaikan aspirasinya, bebas berbicara, bebas menentukan hak pilihnya, dan bebas berekspresi, ternyata kita saksikan fenomena tersebut banyak sekali menerabas dan melanggar undang-undang Islam. Di antara sikap yang menyelisihi norma Islam itu adalah melakukan <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com"><em>demonstrasi</em></a> (unjuk rasa), yaitu sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum.<br
/> <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com">Demostrasi</a> biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau menentang pendapat kelompok tersebut atau menentang kebijakan yang diberlakukan oleh suatu pihak. Unjuk rasa pada umumnya dilakukan oleh kelompok mahasiswa yang menentang kebijakan pemerintah atau para buruh yang tidak puas dengan perlakuan majikannya, atau juga para karyawan dan pegawai yang minta dinaikkan gajinya. Di samping itu, ada juga unjuk rasa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok lain dengan tujuan-tujuan yang lain pula.<br
/> Sebagaimana kita ketahui, <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com">demonstrasi</a> ini telah berkembang dan menjamur di tanah air tercinta. Dan yang lebih parah lagi, unjuk rasa dijadikan sebagai simbol kebebasan berekspresi di Indonesia. Itulah profil <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com">demonstrasi</a> (unjuk rasa), salah satu di antara produk-produk sistem demokrasi yaitu gagasan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara. Semua itu adalah undang-undangnya orang kafir.<br
/> Unjuk rasa terjadi hampir setiap hari di berbagai bagian di negeri kita. Misalnya, ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar -yang berakibat melonjaknya harga bahan pokok dan lainnya- maka sebagian masyarakat dan para aktivis pelajar tidak menerima keputusan pemerintahan tersebut. Mereka pun menyikapinya dengan mengerahkan massa dan menggalang persatuan dalam rangka mengadakan demostrasi dan mengungkap kejelekan-kejelekan pemerintah di atas mimbar. Ujung-ujungnya terjadilah tindakan anarkis, kekerasan, dan pengrusakan. Itulah sekelumit fenomena yang dapat kita rekam di tengah-tengah masyarakat.<br
/> Ketahuilah, wahai saudaraku, tindakan-tindakan itu semua tidaklah menyelesaikan perkara tetapi justru memperparah dan memperumit masalah. Sikap ini termasuk penyakit jiwa. Apbila melihat seuatu yang tidak selaras dengan kehendaknya dan tidak disepakati oleh hawa nafusnya, maka muncullah di dalam jiwanya keluh kelas.<br
/> Sebagaimana Allah berfirman,</p><p
class="arab">إِنَّ اْلإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا {19} إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا {20} وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا {21}</p><p>“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh keash lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan maka ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan maka ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)<br
/> Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,<br
/> <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com">Demonstrasi</a> dan unjuk rasa bukanlah jalan dakwah sebagaimana yang diutarakan oleh sebagian orang. Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya untuk mengetahui terlebih dahulu apakah aktivitas semacam ini dibenarkan secara syar’i ataukah tidak. Mungkinkah kita memperjuangkan Islam, menasihati pemerintah melalui demonstrasi dan unjuk rasa di pinggir-pinggir jalan dan di gedung-gedung parlemen? Adakah hal ini semua dipraktikkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan tabi’in, yang mana mereka merupakan generasi terbaik umat ini. Tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperjuangkan Islam dengan cara ini, bahkan hal ini akan menimbulkan banyak madharat (kerugian) yang lebih besar.<br
/> Tidak ada kebaikan sedikit pun yang kita peroleh kecuali kalau kita mencontoh suri teladan umat ini yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam para sahabatnya, dan para tabi’in yang sudah mapan ilmunya dalam berdakwah. Cukuplah mereka kita jadikan panutan dalam bersikap dan bertindak untuk meraih kembali kejayaan Islam yang kini telah terlepas dari kaum muslimin. Hendaklah kita mengingat perkataan Imam Malik</p><p
class="arab">لَا يُصْلِحُ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا</p><p>“Tidak akan baik penghujung umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya.” (Lihat Hal al-Muslimu Mudzaman Bittiba’i Madzhab Mu’ayyan oleh Muhammad Sulthon al-Ma’shumi al-Khunjadi: 100)<br
/> Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah<br
/> Tidak tersembunyi lagi bahwa mafsadat (kerusakan) yang diakibatkan <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com">demonstrasi</a> amatlah besar. Demonstrasi bukanlah jalan keluar dari masalah yang dihadapi oleh pemerintah. Jika memang tujuannya untuk menasihati pemerintah bukanlah seperti itu caranya melainkan dengan menasihati mereka (pemerintah) dengan cara yang syar’i dan ittiba (ikut) kepada salaf sholih. Nasihatilah mereka dengan cara sembunyi-sembunyi, bukan dengan <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com">demonstrasi</a>, bukan dengan mengerahkan massa sambil membawa spanduk bertuliskan kritikan (baca: hujatan) kepada pemerintah. Wal’iyadzu billah.<br
/> Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi renungan kita dalam masalah ini. Beliau bersabda,</p><p
class="arab">مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ</p><p>“Barang siapa yang hendak menasihati penguasa pada suatu masalah, maka janganlah dia tampakkan dengan terang-terangan. Akan tetapi, hendaklah ia pegang tangannya dan menyendiri dengannya. Kalau dia menerima (nasihat itu) maka itu bagus, namun jika tidak maka dia telah menunaikan kewajibannya untuk memberikan nasihat.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya-nya: 3:403 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Zhilal al-Jannah:1096)<br
/> Sebab itu, kita harus memahami bahwa nasihat bagi pemerintah adalah dengan menaati mereka dalam perkara yang ma’ruf, mendoakan mereka, dan menunjuki mereka ke jalan yang benar serta menjelaskan kekeliruan yang mereka lakukan supaya dapat dihindari. Dan hendaknya nasihat itu diberikan secara rahasia (empat mata) antara si pemberi nasihat dan penguasa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,</p><p
class="arab">مَنْ رَأَىْ مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيْرِّهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ</p><p>“Barang siapa melihat sebuah kemungkaran hendaklah ia ubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka bencilah kemungkaran itu dalam hatinya.” (HR. Muslim: 49)<br
/> Di antara para ulama yang menyebutkan dampak buruk <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com">demonstrasi</a> adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Beliau berkata, “Sesungguhnya <a
title="demonstrasi" href="http://khhotbahjumat.com" rel="nofollow" target="_blank">demonstrasi</a> adalah perkara baru yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula pada zaman Khulafaur Rasyidin dan para sahabat lainnya. Kemudian pada <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com">demonstrasi</a> juga terdapat kericuhan dan kekacau-balauan, keributan, dan gangguan keamanan, sehingga menyebabkan hal ini dilarang. Pada <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com">demonstrasi</a> juga sering terdapat pengrusakan; pemecahan kaca, pintu, dan selainnya (tindakan anarkis), begitu pula ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita) serta mengakibatkan kerusakan kemungkaran dan yang semisalnya.” (Lihat Al-Jawab al-Abhar, Hal.75)<br
/> Syaikh Al-Alamah Ahmad bin Yahya Muhammad an-Najmi, tatkala mengomentari kelompok Ikhwanul Muslimin beliau berkata, “Tanzhim berupa gerakan pengerahan massa dan <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com">demonstrasi</a>, Islam tidak mengenal tindakan semacam ini dan tidak pula mengakuinya. Ini merupakan perkara yang baru (ada akhir-akhir ini). Bahkan <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com">demonstrasi</a> adalah perbuatan orang-orang kafir yang telah ditiru oleh kebanyakan kaum kita (umat Islam). Lantas apakah setiap kali orang-orang kafir melakukan suatu perbuatan mengharuskan kita menyetujui perbuatan mereka? Sesungguhnya Islam ini tidak akan menang apabila diraih dengan cara pengerahan dan unjuk rasa. Namun, Islam akan menang dengan jihad yang dibangun di atas aqidah yang shahih dan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya para rasul dan pengikutnya telah mendapatkan berbagai macam cobaan tetapi mereka tidak diperintah selain untuk bersabar.” (Al-Maurid al-Adzbuz Zulal, Hal.225)</p><p
class="arab">أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.</p><h3>KHOTBAH KEDUA</h3><p
class="arab">إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا</p><h3>Kaum muslimin yang dirahmati Allah</h3><p>Barangkali timbul tanda tanya di benak kita: “Bila memang pemerintah mempunyai sikap yang tak selaras dengan kita, tidak sesuai dengan buah pikiran dan ide kita, pemerintah tidak berhukum dengan hukum Allah atau mungkin telah berbuat kezhaliman, dan lain-lainnya yang kontradiktif dengan apa yang kita inginkan, lantas bagaimana kita harus bersikap terhadap pemimpin yang seperti itu? Bolehkah kita memberontak atau mengerahkan massa untuk <a
title="demonstrasi" href="http://khotbahjumat.com">demonstrasi</a> beramai-ramai memprotesnya?”<br
/> Tidak boleh begitu! Sikap yang terbaik bagi kita adalah sabar dan tabah. Sekali lagi, bersikaplah sabar dan tabah! Janganlah kita terbawa oleh arus emosi sehingga bersikap gegabah yang kerapkali menjadikan pelakunya kebablasan tak terkendali. Jangan lalai dari bimbingan cahaya ilahi dan menyimpang dari rel syar’i. Ketahuilah, wahai saudaraku sekalian, Islam memang memerintahkan kepada setiap pemimpin untuk berlaku adil dan bijaksana dalam memimpin dan memakmurkan rakyatnya. Namun, apabila pemimpin gagal melakukannya maka Islam memerintahkan kepada kita untuk tetap mematuhinya selagi pemerintah itu tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Tidak boleh kita memberontak terhadapnya, untuk menghindari timbulnya kerusakan yang lebih besar. Mari kita renungkan bersama pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p><p
class="arab">يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ.</p><p>“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.“ Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847).</p><h3>Kaum muslimin yang dirahmati Allah</h3><p>Kita pasti menginginkan hidup bahagia, aman, tenteram, pemimpin yang ideal yang mampu mengayomi kita sebagai rakyatnya, dan jauh dari huru-hara. Semua orang pasti mendambakannya. Maka untuk menggapainya, tinggalkanlah segala bentuk kezhaliman dan kembalilah ke jalan Allah. Sebagaimana ditandaskan dalam ayat Alquran:<br
/> وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ<br
/> “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)<br
/> Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di berkata, “Apabila hamba banyak melakukan kezhaliman dan dosa-dosa, maka Allah akan menjadikan bagi mereka para pemimpin zhalim yang mengajak kepada kejelekan. Sebaliknya, apabila mereka baik, shalih, dan istiqomah dalam ketaatan, maka niscaya Allah akan mengangkat bagi mereka para pemimpin yang adil dan baik.” (Tafsir Karimi ar-Rohman, Hal.239)<br
/> Jadi, semua yang terjadi di negeri kita tercinta ini merupakan takdir yang sudah ditentukan oleh Allah. Semestinya kita menyikapinya dengan sabar, tenang, dan tawakal kepada Allah. Itulah yang diwajibkan oleh syariat, bukan menyikapinya dengan penuh emosi, sibuk mencaci maki pemerintah, melakukan kudeta, berdemonstrasi, dan melakukan tindakan anarkis yang keluar dari jalur Islam. Namun, ini tidak berarti kita harus bersikap pasrah, pesimis, putus asa, dan mengeluh. Kita harus tetap optimis dan berusaha memperbaiki nasib dan keadaan, asalkan tetap dalam koridor syar’i. Allah berfirman,</p><p
class="arab">إِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَابِأَنفُسِهِمْ</p><p>“&#8230;sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’d: 11)<br
/> Demikianlah yang dapat kami sampaikan. Di penghujung khotbah ini kita memohon semoga Allah menjadikan negeri Indonesia seabgai negeri yang aman sentosa dan menjadikan pemimpin-pemimpinnya berlaku adil kepada rakyatnya menjauhkan mereka dari perbuatan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Marilah kita bahu-membahu membangun negeri tercinta ini dengan perkara-perkara yang baik. Jangan gegabah dalam mengambil sikap yang berkaitan dengan keputusan pemerintah.</p><p
class="arab">اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.<br
/> رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ<br
/> رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ<br
/> رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.</p><h2>Download Naskah Materi Khutbah Jum’at</h2> <a
class="downloadlink" href="http://khotbahjumat.com/download105" title=" downloaded 110 times" >Download Ebook Khutbah Jum'at unjuk-rasa-dalam-kacamata-islam (110)</a><h2>Info Naskah Khutbah Jum’at</h2><p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun ke-8, www.khotbahjumat.com</p><h3> Artikel terkait: Syirik, kufur, khutbah jum&#8217;at, materi khutbah jumat, naskah khotbah jumat, aqidah, tauhid, islam.</h3><h3>Keyword/Kata Kunci : Demonstrasi</h3><h3>Related Posts</h3><p>No related posts.</p> No tags for this post.]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://khotbahjumat.com/unjuk-rasa-dalam-kacamata-islam/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Takwa, Introspeksi Diri Pasca Ramadhan</title><link>http://khotbahjumat.com/takwa-introspeksi-diri-pasca-ramadhan/</link> <comments>http://khotbahjumat.com/takwa-introspeksi-diri-pasca-ramadhan/#comments</comments> <pubDate>Thu, 10 May 2012 06:09:31 +0000</pubDate> <dc:creator>ridwanyufid</dc:creator> <category><![CDATA[Artikel Khutbah Jumat]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://khotbahjumat.com/?p=1107</guid> <description><![CDATA[Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membaguskan amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, karena takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebab baiknya amal perbuatan serta kebaikan kondisi dan stabilitas masyarakat. Ketahuilah bahwa arti takwa adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dengan melaksanakan segala hak-hak-Nya dan hak-hak hamba-Nya. Takwa adalah engkau melaksanakan apa ...<h3>Related Posts</h3> No related posts.
]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p
style="text-align: left;" align="center">Bertakwalah kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> niscaya Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> akan membaguskan amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, karena <a
title="takwa" href="http://khotbahjumat.com"><em>takwa</em></a> kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> adalah sebab baiknya amal perbuatan serta kebaikan kondisi dan stabilitas masyarakat. Ketahuilah bahwa arti takwa adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan Rasul-Nya dengan melaksanakan segala hak-hak-Nya dan hak-hak hamba-Nya. <a
title="takwa" href="http://khotbahjumat.com">Takwa</a> adalah engkau melaksanakan apa yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> larang. [Redaksi <a
href="http://www.KhotbahJumat.com" target="_blank">www.KhotbahJumat.com</a>]</p><p
align="center">***<span
id="more-1107"></span></p><h2 align="center"><strong>Takwa, Introspeksi Diri Pasca Ramadhan</strong></h2><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p
class="arab">إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.</p><p
class="arab">يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ</p><p
class="arab">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا</p><p
class="arab">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا</p><p
class="arab">أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:</p><h3>KHUTBAH PERTAMA</h3><h3>Jama’ah kaum muslimin</h3><p>Ber<a
title="takwa" href="http://khotbahjumat.com">takwa</a>lah kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> niscaya Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> akan membaguskan amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, karena <a
title="takwa" href="http://khotbahjumat.com">takwa</a> kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> adalah sebab baiknya amal perbuatan serta kebaikan kondisi dan stabilitas masyarakat. Ketahuilah bahwa arti takwa adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan Rasul-Nya dengan melaksanakan segala hak-hak-Nya dan hak-hak hamba-Nya. <a
title="takwa" href="http://khotbahjumat.com">Takwa</a> adalah engkau melaksanakan apa yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> larang.</p><p>&nbsp;</p><p>Segala puji bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang telah memberikan taufik-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya untuk selalu memperhatikan dan mengetahui nilai waktu-waktu kebaikan sehingga mereka berusaha untuk mendapatkannya, mereka memahami mahalnya waktu sehingga mereka berusaha untuk bersegera mengisinya; merekalah orang-orang yang bertakwa dan berbuat baik.</p><p>&nbsp;</p><p>Dan demikian pula Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menghinakan siapa saja yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Mereka berpaling dan tidak memiliki perhatian dan mahalnya waktu dan kesempatan. Mata dan hati mereka telah tertutup. Mereka melalaikan dan membiarkan (waktu)nya tanpa guna, mereka tidak mengisinya dengan amalan-amalan kebaikan, bahkan mereka habiskan dengan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan –yang kecil maupun yang besar- kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p><p>&nbsp;</p><p>Ketahuilah –semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> merahmatimu- bahwa hari-hari dan waktu-waktu yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> jadikan kebaikan bagi hamba-Nya pada waktu-waktu dan bulan-bulan tersebut sebagai ladang untuk memperbanyak amal shalih. Tidaklah amalan ibadah berakhir seiring dengan berakhirnya waktu tersebut dan tidaklah lenyap ibadah dengan berlalunya bulan yang agung tersebut. Oleh karena itu, barangsiapa yang pada waktu bulan Ramadhan melakukan amalan-amalan ketaatan, mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, maka hendaklah ia melanjutkan dan menyempurnakannya pada waktu-waktu dan bulan-bulan yang lain pula. Karena ibadah kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> tidaklah akan terputus kecuali apabila telah datang kematian, sebagaimana firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>,</p><p
class="arab">وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ</p><p>“<em>Dan beribadahlah kepada R</em><em>ab</em><em>bmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)</em>.” (QS. Al-Hijr: 99)</p><p>&nbsp;</p><p>Ketahuilah, bahwa tanda diterimanya amal kebaikan (seseorang) adalah kelanggengannya dalam berbuat kebaikan setelahnya. Dan ketahuilah (pula) bahwa tanda tidak diterimanya suatu amal kebaikan ialah apabila perbuatan baik yang telah ia lakukan tersebut selanjutnya diikuti dengan perbuatan jelek. Bukankah kita adalah hamba Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> sepanjang umur kita? Dan bukankah kita akan senantiasa memiliki komitmen dalam melaksanakan perintah-perintah Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> di setiap waktu dan tempat? Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p><p
class="arab">وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَآ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ</p><p>“<em>Dan (ingatlah), ketika R</em><em>a</em><em>bbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami melakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’</em>.” (QS. Al-A’raf: 172)</p><p>&nbsp;</p><p>Maka setiap anak Adam telah memberikan kesaksian bahwa Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> adalah Rabbnya. Maknanya, hendaklah ia senantiasa melaksanakan perintah-perintah-Nya dan melaksanakan hukum-hukum-Nya.</p><p>&nbsp;</p><p>Disebutkan pula dalam Ash-Shahihain dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: “<em>Dikatakan kepada seseorang laki-laki dari penduduk neraka di hari kiamat: ‘Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau memiliki dunia, apakah engkau bersedia untuk engkau jadikan sebagai tebusanmu?’ Dia menjawab: ‘Iya (tentu aku akan jadikan sebagai tebusanku).’ Lalu dikatakan: ‘Sungguh dahulu Aku mengharap darimu sesuatu yang lebih ringan dari hal itu semua, dan Aku telah membuat perjanjian itu tatkala engkau masih berada di dalam sulbi Adam, yaitu agar engkau tidak berbuat syirik kepadaKu, namun engkau tetap berbuat syirik’.</em>” (HR. Bukhari, no.3334, Muslim, no.2805)</p><p>&nbsp;</p><p>Dalam hadis di atas, yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ceritakan tentang laki-laki tersebut tidak hanya khusus pada perihal dosa kesyirikan, melainkan hal itu sekedar permisalan saja. Bila tidak demikian maka seluruh amalan ibadah akan ditanya tentangnya. Dan tidaklah akan berpindah kaki anak Adam di hari kiamat melainkan ia ditanya terlebih dahulu tentang umurnya dalam apa ia habiskan, tentang masa mudanya dalam apakah ia habiskan, tentang hartanya bagaimanakah ia mendapatkan dan kemanakah ia belanjakan, dan tentang amal perbuatannya dalam apa yang ia lakukan.</p><p>&nbsp;</p><p>Maka ber<a
title="takwa" href="http://khotbahjumat.com">takwa</a>lah kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan isilah waktu-waktumu dengan menyibukkan diri di dalam ketaatan kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> baik (berupa) dzikir, shalat, melaksanakan hak dan menunaikan kewajiban, menuntut ilmu yang bermanfaat, dan berakhlak dengan akhlak yang mulia. Kerjakanlah ketaatan-ketaatan itu sebelum jiwa ini mengatakan, “Aduh alangkah merugi aku atas apa yang telah aku lalaikan dari hak-hak Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Duh, alangkah menyesal diriku kerena telah menyia-nyiakan hak Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.”</p><p
class="arab">وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً {27} يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلاَنًا خَلِيلاً {28} لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإِنسَانِ خَذُولاً<br
/> {29}</p><p>“<em>Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia’</em>.” (QS. Al-Furqon: 27-29)</p><p>&nbsp;</p><p
class="arab">أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ</p><p
class="arab">بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><h3>KHUTBAH KEDUA</h3><p
class="arab">الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَـمِيْنَ، أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِهِ الْـمُسْتَقِيْمِ وَنَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ سُبُلِ أَصْحَابِ الْـجَحِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْـمَلِكُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ اْلبَلاَغَ الْـمُبِيْنَ وَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ تَلَقَّوْا عَنْهُ الدِّيْنَ وَبَلَّغُوْهُ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:</p><p><strong> </strong></p><p>Disebutkan dalam sebuah hadis yang shahih bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah naik mimbar lalu mengatakan, “Amin.” Kemudian beliau naik (mimbar) kedua kalinya dan mengatakan, “Amin.” Demikian juga beliau naik mimbar pada kali ketiga dan beliau pun mengucapkan “Amin.” Lalu beliau mengabarkan bahwa baru saja Malaikat Jibril datang kepada beliau seraya mengatakan, “<em>Wahai Muhammad, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan orang-orang yang menjumpai bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan tersebut sedang mereka belum diampuni dari dosa-dosanya.</em>” (Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata:) “<em>Lalu aku menjawab ‘Amin’</em>.” (Malaikat Jibril berkata lagi:) “<em>Dan semoga Allah menjauhkan seorang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup namun dia masuk ke dalam neraka</em>.” Maka Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab: “<em>Amin</em>.” (Kata Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> <img
src='http://cdn.khotbahjumat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> “<em>Dan (Malaikat Jibril mengatakan bahwa) seorang yang apabila namaku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) disebut dia tidak bersholawat kepadaku maka semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan mereka semua. Maka aku pun mengatakan, ‘Amin’</em>.”</p><p>&nbsp;</p><p>Oleh sebab itu, apabila seseorang yang menjumpai Ramadhan tetapi tidak diampuni dosa-dosanya, lantas kapankah lagi dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu; padahal Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p
class="arab">من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه</p><p>“<em>Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala maka akan diampuni dosanya yang telah lalu</em>.” (HR. Bukhari, 1:67 dan Muslim, 4:146)</p><p>&nbsp;</p><p>Padahal Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda</p><p
class="arab">من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه</p><p>“<em>Barang siapa yang menghidupkan (malam) pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharam pahala maka akan diampuni dosanya yang telah lalu</em>.” (HR. Bukhari, 1:65 dan Muslim, 4:144)</p><p>&nbsp;</p><p>Maka seorang yang menjumpai Ramadhan namun tidak diampuni adalah seorang yang melalaikan dan tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dapat menghapuskan segala dosa yang pernah ia perbuat seperti puasa, qiyamul-lail, dan yang lainnya.</p><p>&nbsp;</p><h3>Ketahuilah kaum muslimin,</h3><p>Tidaklah bulan yang paling mulia bagi kaum muslimin melainkan bulan Ramadhan dan tidak ada suatu bulan yang lebih memberatkan hati kaum munafikin melebihi bulan Ramadhan. Maka orang-orang mukmin berlomba-lomba meraih kebaikan di bulan tersebut namun kaum munafikin justru membenci dan melalaikannya.</p><p>&nbsp;</p><p>Akan tetapi –wahai sekalian hamba Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>- sekalipun Ramadhan sekarang telah berlalu, sesungguhnya Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> Rabb kita yang Maha Mulia dan Maha Pemurah turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam yang terakhir, baik di bulan Ramadhan maupun selainnya lalu Dia mengatakan, “<em>Barang siapa yang berdoa kepada</em><em>-</em><em>Ku niscaya akan aku kabulkan, barangsiapa yang memohon kepada</em><em>-</em><em>Ku niscaya akan Aku beri</em><em>,</em><em> dan barang siapa yang memohon ampunan</em><em>-</em><em>Ku niscaya akan Aku </em><em>a</em><em>mpuni</em>,” hingga terbit fajar.</p><p>&nbsp;</p><p>Maka tidaklah ada yang diucapkan oleh seorang yang mukmin tatkala itu melainkan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> akan kabulkan, dan tidaklah ada yang diminta oleh seorang yang muslim tatkala itu melainkan akan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berikan dari semua hal-hal kebaikan, baik (berupa) kebaikan dunia maupun kebaikan untuk di akhirat kelak.</p><p>&nbsp;</p><p>Semua ini –demi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>- adalah puncak dari ke-Maha-Pemurahan-Nya dan ke-Maha-Penyayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, jangan sampai kita melalaikan hal itu. Bersegeralah untuk bertaubat kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang beruntung. Amin.</p><p
class="arab">اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَـهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ الدِّيْنِ</p><p
class="arab">اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْـمُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمِيْنَ في كُلِّ مَكَانٍ.</p><p
class="arab">اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْـمُسْلِمَاتِ وَالْـمُؤْمِنِيْنَ وَالْـمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.</p><p
class="arab">عِبَادَ اللهِ … اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْـجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><h2>Download Naskah Materi Khutbah Jum’at</h2> <a
class="downloadlink" href="http://khotbahjumat.com/download103" title=" downloaded 122 times" >Download Ebook Khutbah Jum'at  takwa-intropeksi-diri-pasca-ramadhan (122)</a><h2>Info Naskah Khutbah Jum’at</h2><h3>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 4 Tahun ke-8</h3><p>Artikel <a
href="www.khotbahjumat.com">www.khotbahjumat.com</a></p><h3>Artikel terkait: Syirik, kufur, khutbah jum&#8217;at, materi khutbah jumat, naskah khotbah jumat, aqidah, tauhid, islam, takwa.</h3><h3>Related Posts</h3><p>No related posts.</p> No tags for this post.]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://khotbahjumat.com/takwa-introspeksi-diri-pasca-ramadhan/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Waspadai Perbuatan Zina dan Sarananya</title><link>http://khotbahjumat.com/waspadai-perbuatan-zina-dan-sarananya/</link> <comments>http://khotbahjumat.com/waspadai-perbuatan-zina-dan-sarananya/#comments</comments> <pubDate>Thu, 03 May 2012 03:54:12 +0000</pubDate> <dc:creator>ridwanyufid</dc:creator> <category><![CDATA[Khutbah Jumat Pilihan]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://khotbahjumat.com/?p=1090</guid> <description><![CDATA[Salah satu kaidah yang sangat agung dalam syariat Islam yang mulia ini adalah bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan rasul-Nya tidak memerintahkan suatu perbuatan, kecuali di dalam perintah itu terdapat kemaslahatan yang besar. Begitu juga tidak melarang suatu perbuatan, kecuali di dalam perbuatan itu terdapat banyak madharat. [Redaksi KhotbahJumat.com] *** Waspadai Perbuatan Zina dan Sarananya &#160; إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, ...<h3>Related Posts</h3> No related posts.
]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p
style="text-align: left;" align="center">Salah satu kaidah yang sangat agung dalam syariat Islam yang mulia ini adalah bahwasanya Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> dan rasul-Nya tidak memerintahkan suatu perbuatan, kecuali di dalam perintah itu terdapat kemaslahatan yang besar. Begitu juga tidak melarang suatu perbuatan, kecuali di dalam perbuatan itu terdapat banyak madharat. [Redaksi <a
href="http://KhotbahJumat.com" target="_blank">KhotbahJumat.com</a>]</p><p
style="text-align: center;" align="center">***<span
id="more-1090"></span></p><h2 align="center"><strong>Waspadai Perbuatan Zina dan Sarananya</strong></h2><p>&nbsp;</p><p
class="arab">إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ</p><p
class="arab">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ</p><p
class="arab">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا</p><p
class="arab">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.</p><p
class="arab">أَمَّا بَعْدُ</p><p
class="arab">فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ</p><h2><strong>KHUTBAH PERTAMA</strong></h2><h3>Sidang Jumat yang berbahagia,</h3><p>Salah satu kaidah yang sangat agung dalam syariat Islam yang mulia ini adalah bahwasanya Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> dan rasul-Nya tidak memerintahkan suatu perbuatan, kecuali di dalam perintah itu terdapat kemaslahatan yang besar. Begitu juga tidak melarang suatu perbuatan, kecuali di dalam perbuatan itu terdapat banyak madharat.</p><p>Satu di antaranya, Allah telah mengharamkan perbuatan <a
title="zina" href="http://khotbahjumat.com">zina</a>. Karena dalam perbuatan <a
title="zina" href="http://khotbahjumat.com">zina</a> ini terdapat banyak madharat serta kerusakan. Allah berfirman,</p><p
class="arab">وَلاَتَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلاً</p><p>“<em>Dan janganlah kamu mendekati <a
title="zina" href="http://khotbahjumat.com">zina</a>; sesungguhnya <a
title="zina" href="http://khotbahjumat.com">zina</a> itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk</em>.” (QS. Al-Isra: 32)</p><p>Di dalam ayat ini, Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> melarang manusia untuk mendekati perbuatan <a
title="zina" href="http://khotbahjumat.com">zina</a> dan semua perantara yang bisa menjerumuskan <a
title="zina" href="http://khotbahjumat.com">zina</a> dan semua perantara yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan tersebut. Demikian ini, karena <a
title="zina" href="http://khotbahjumat.com">zina</a> merupakan perbuatan kotor dan sangat jelek pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menyebutnya dengan kata <em>fakhisyah</em>. Yang berarti, perbuatan yang sangat keji. Perbuatan <a
title="zina" href="http://khotbahjumat.com">zina</a> bertentangan dengan akal sehat. <a
title="zina" href="http://khotbahjumat.com">Zina</a> merupakan jalan yang membawa kepada kehancuran dan kenistaan, merusak masyarakat, menimbulkan penyakit berbahaya, bercampurnya nasab, dan juga menyebabkan permusuhan di antara manusia dan kerusakan lainnya yang sangat berbahaya, sehingga pantas apabila Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memberikan hukuman berat bagi para pelakunya. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p><p
class="arab">الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مَائَةَ جَلْدَةٍ وَلاَتَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ</p><p>“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 2)</p><p>Ayat ini menunjukkan hukuman yang disyariatkan Allah bagi seseorang yang berzina dan belum menikah. Adapun jika pelakunya sudah menikah, maka hukumannya lebih berat dari yang pertama, yaitu dirajam, dilempari dengan batu sampai mati. Sebagaimana disabdakan Rasulullah s<em>hallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika ada seorang sahabat, Ma’iz bin Malik berzina, kemudian ia mengakui perbuatannya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p><em>Pergilah kalian dan rajamlah dia!</em></p><p>Perhatkanlah, wahai jamaah sekalian! Alangkah berat hukuman dunia bagi pelaku zina. Dan sesungguhnya hukuman di akhirat lebih besar, akan tetapi hanya sedikit manusia yang mau berpikir.</p><h3>Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah,</h3><p>Allah Maha Rahman dan Rahim kepada para hamba-Nya. Demikian pula Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sangat kasih sayang kepada umatnya. Oleh karena itu, Allah dan rasul-Nya melarang dan mencegah umatnya dari segala perantara yang bisa membawa seseorang kepada kebinasaan tersebut.</p><p>Di antaranya ialah:</p><p><strong>Pertama</strong>, Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> melarang hamba untuk mengumbar pandangannya dan melihat kepada sesuatu yang haram untuk dilihat, karena akan membangkitkan nafsu seseorang dan menjerumuskannya ke dalam perbuatan keji. Dan sebaliknya, Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memerintahkan para hamba-Nya agar menundukkan pandangan matanya. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p><p
class="arab">قُلْ لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَايَصْنَعُونَ</p><p>“<em>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,” sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat</em>.” (QS. an-Nur: 30)</p><p>Adapun peringatan dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tersebut dalam sabdanya:</p><p>“<em>Wahai Ali, janganlah engkau ikutkan pandangan yang satu dengan yang lainnya, karena sesungguhnya bagimu yang pertama, bukan yang kedua</em>.” (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani).</p><p>Maksudnya, seseorang tidak berdosa dengan pandangan pertama yang tidak disengaja dan akan mendapatkan dosa dalam pandangan yang keduanya ketika sengaja melakukannya. Ini menunjukkan, melihat sesuatu yang haram termasuk perantara terjadinya perbuatan zina.</p><p>Lantas, kalau pandangan yang seperti ini diharamkan, maka bagaimana dengan orang yang melihat gambar-gambar wanita seronok dalam majalah-majalah atau bahkan film-film porno yang akan membangkitkan syahwat? Tentu perbuatan ini lebih diharamkan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Ketahuilah, pandangan merupakan panah beracun dari panah-panah setan.</p><p><strong>Kedua</strong>, Islam melarang khalwat. Yaitu berduaan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, sebagaimana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda,</p><p>“<em>Tidaklah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita, kecuali setanlah yang ketiganya</em>.”</p><p>&nbsp;</p><p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p><p>“<em>Janganlah salah seorang di antara kalian berdua-duaan dengan seorang wanita, kecuali dia disertai dengan mahramnya</em>.”</p><p>Lihatlah, wahai jamaah sekalian! Bagaimanakah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menutup segala pintu yang akan membukakan seseorang kepada perbuatan <a
title="zina" href="http://khotbahjumat.com">zina</a>. Akan tetapi, kita lihat banyak orang tidak memahami hal ini, sehingga banyak yang biasa berdua-duaan, seperti di kantor-kantor, tempat rekreasi, dan yang lainnya. Atau di kalangan para pemuda biasa dikenal dengan istilah pacaran bahkan menjadi kebanggaan. Muncul anggapan keliru, pemuda atau pemudi yang tidak melakukannya dikatakan kuno.</p><p>Subhanallah! Tidakkah kita takut dengan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di atas. Tidakkah kita sadar, bahwa ini merupakan makar setan yang ingin agar manusia menemaninya di neraka nanti?</p><p><strong>Ketiga</strong>, Islam melarang wanita-wanita memperlihatkan auratnya, karena dapat membangkitkan syahwat. Wanita-wanita yang mempertontonkan auratnya, sesungguhnya ia telah menjerumuskan dirinya dan orang lain kepada kehancuran. Bagaimana tidak, seorang wanita yang membuka auratnya, kemudian ia berjalan di hadapan laki-laki, tentu ini akan membangkitkan syahwat para laki-laki itu, kemudian dapat menimbulkan keinginan untuk melakukan perbuatan keji.</p><p>Kita lihat, siapakah yang lebih banyak diganggu? Apakah wanita muslimah yang berpakaian secara baik dan menutup auratnya, ataukah wanita yang mempertontonkan auratnya berpakaian dengan pakaian ketat yang menyifati bentuk tubuhnya?</p><p>Jawabnya, tentulah wanita yang kedua lebih banyak diganggu, dan dialah yang menjadi penyebabnya. Oleh karena itu, Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memerintahkan kepada para wanita muslimah agar mengulurkan jilbabnya, menutup auratnya. Yang karenanya, ia akan lebih suci. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p><p
class="arab">يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا</p><p>“<em>Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em>.” (QS. Al-Ahzab: 59)</p><p>Akan tetapi, banyak para wanita yang tidak mempedulikan perintah Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> dan lebih mengikuti gaya orang-orang kafir, wanita-wanita <em>fajir</em> (pelaku dosa) yang jauh dari petunjuk Allah. Bahkan banyak wanita yang merasa senang dan merasa bangga dengan mempertontonkan auratnya. Benarlah yang dikabarkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, pada akhir zaman nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p>“<em>Dua golongan penduduk neraka yang aku belum melihatnya; orang-orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang dia gunakan untuk memukul manusia, dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang yang berjalan dengan berlenggak-lenggok. Kepala-kepala mereka seperti punuk </em><em>unta yang miring. Mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya</em>.”</p><p>Artinya, mereka memakai pakaian tipis atau pakaian ketat, dan pakaian yang menimbulkan fitnah bagi orang yang melihatnya. Sehingga, sekalipun mereka berpakaian, tetapi hakikatnya telanjang. Islam adalah agama yang penuh dengan kemaslahatan. Semua perintahnya pasti bermanfaat, dan semua larangannya pasti mengandung bahaya. Ketika Islam memerintahkan para wanita untuk berjilbab, tentu karena akan menjaga kehormatan. Ketika Islam melarang mengumbar aurat, tentu karena banyak bahaya dan berakibat jelek yang ditimbulkannya, di antaranya tersebar perbuatan <a
title="zina" href="http://khotbahjumat.com">zina</a>.</p><p
class="arab">بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ</p><h2><strong>KHUTBAH KEDUA</strong><strong></strong></h2><p
class="arab">اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّابَعْد<strong></strong></p><h3>Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,</h3><p><a
title="zina" href="http://khotbahjumat.com">Zina</a> merupakan salah satu dosa besar dan perbuatan yang sangat keji. Perbuatan ini sangat dimurkai Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim menjaga diri dari dosa tersebut, serta menjauhi segala sarana yang bisa membawa dirinya kepada perbuatan nista itu. Dan bertakwalah kepada Allah, karena dengan takwa seseorang akan selalu terjaga dan tidak terjerumus ke dalamnya.</p><p>Marilah kita berdoa kepada Allah, agar terhindar dari perbuatan yang dimurkai. Sesungguhnya kita tidak akan terhindar dari perbuatan yang dimurkai tersebut kecuali dengan pertolongan dari Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>.</p><p
class="arab">اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وبارك عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ</p><p
class="arab">رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p><p
class="arab">رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p><p
class="arab">وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَىمُحَمَّدٍ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا وَ آخِرُ دَعْوَانَا الْحَمْدُِ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ</p><h2>Download Naskah Materi Khutbah Jum’at</h2> <a
class="downloadlink" href="http://khotbahjumat.com/download104" title=" downloaded 234 times" >Download Ebook Khutbah Jum'at  waspadai-perbuatan-zina-dan-sarananya (234)</a><p>Kata kunci: Khutbah Jum&#8217;at, Naskah khutbah Jumat, <span
style="text-decoration: underline;"><a
href="http://khotbahjumat.com/buah-kesabaran/" target="_blank">z</a>ina</span>.</p><h3>Related Posts</h3><p>No related posts.</p> No tags for this post.]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://khotbahjumat.com/waspadai-perbuatan-zina-dan-sarananya/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>9</slash:comments> </item> <item><title>Khotbah yang Menggelisahkan</title><link>http://khotbahjumat.com/khotbah-yang-menggelisahkan/</link> <comments>http://khotbahjumat.com/khotbah-yang-menggelisahkan/#comments</comments> <pubDate>Mon, 30 Apr 2012 06:59:16 +0000</pubDate> <dc:creator>ridwanyufid</dc:creator> <category><![CDATA[Bersih Hati]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://khotbahjumat.com/?p=1078</guid> <description><![CDATA[ Sebuah kenyataan yang sangat merisaukan pada hari-hari ini, banyak para da’i yang seakan-akan mereka di atas ilmu akan tetapi materi dakwah mereka dipenuhi dengan celaan terhadap pemimpin. Dengan mudahnya mereka mengumumkan kesalahan-kesalahan pemimpin dan dengan rasa senang hati mereka menyebarkan aib-aib para pemimpin supaya kaum muslimin mengetahui kejelekan-kejelekan yang dilakukan oleh pemimpinnya. (Redaksi, www.khotbahjumat.com) *** Khotbah Yang ...<h3>Related Posts</h3> No related posts.
]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p
style="text-align: left;" align="center"> Sebuah kenyataan yang sangat merisaukan pada hari-hari ini, banyak para da’i yang seakan-akan mereka di atas ilmu akan tetapi materi dakwah mereka dipenuhi dengan celaan terhadap pemimpin. Dengan mudahnya mereka mengumumkan kesalahan-kesalahan pemimpin dan dengan rasa senang hati mereka menyebarkan aib-aib para pemimpin supaya kaum muslimin mengetahui kejelekan-kejelekan yang dilakukan oleh pemimpinnya. (Redaksi, <a
title="Makna Hijrah" href="http://khotbahjumat.com">www.khotbahjumat.com</a>)</p><p
style="text-align: center;" align="center"><span
id="more-1078"></span></p><p
align="center">***</p><h2 align="center"><strong>Khotbah Yang Menggelisahkan</strong></h2><p
class="arab">إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه<br
/> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ<br
/> يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا<br
/> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا<br
/> يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا<br
/> أَمَّا بَعْدُ</p><h2><strong>KHUTBAH PERTAMA</strong></h2><p>Kaum muslimin sesungguhnya nikmat yang paling agung yang diberikan kepada kita, adalah nikmat iman dan nikmat berjalan di atas sunah Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Karena sesungguhnya dua nikmat ini, hanya diberikan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> kepada hamba-hamba-Nya yang mau bersungguh-sungguh mengikuti sunah Rasul-Nya yaitu dengan menuntut ilmu syar’i yang bersumber dari Alquran dan sunnah dengan pemahaman <em>salaful ummah</em>.</p><p>Mengamati realitas para da’i pada zaman kita sekarang ini, alhamdulillah semangat untuk menyeru kepada Islam sangat banyak sekali, akan tetapi sangat disayangkan –wahai saudaraku– betapa sedikitnya da’i yang berdakwah dengan ilmu dan metode yang dilandasi dengan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, sunnah Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan fatwa-fatwa para ulama baik dari kalangan sahabat nabi maupun ulama-ulama rabbani setelah mereka. Semoga di kemudian hari akan lahir generasi yang menyeru umat agar kembali kepada Islam dengan berlandaskan ilmu dan dengan cara yang penuh hikmah.</p><h3><strong>Kaum muslimin <em>rahimakumullah</em></strong></h3><p>Sebuah kenyataan yang sangat merisaukan pada hari-hari ini, banyak para da’i yang seakan-akan mereka di atas ilmu akan tetapi materi dakwah mereka dipenuhi dengan celaan terhadap pemimpin. Dengan mudahnya mereka mengumumkan kesalahan-kesalahan pemimpin dan dengan rasa senang hati mereka menyebarkan aib-aib para pemimpin supaya kaum muslimin mengetahui kejelekan-kejelekan yang dilakukan oleh pemimpinnya.</p><p>Wahai saudaraku, perhatikanlah sabda Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang berkaitan dengan hak para pemimpin yang wajib ditunaikan oleh para nasihat.</p><p>Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p>“<em>Barangsiapa yang ingin menas</em><em>ihati para pemimpin</em><em>, maka janganlah menampakkan pembicaraan dengan </em><em>di hadapan khalayak, tapi hendaklah ia menggandeng tangann</em><em>ya dan menyendiri dengannya maka jika dia menerimanya (itulah kebaikannya) dan jika tidak maka sungguh dia telah menunaikan kewajibannya dan telah memenuhi hak pemimpinnya</em>.” (HR. Hakim 3:290 dan Ahmad 3:404)</p><p>Hadis yang mulia ini telah dipraktikkan oleh generasi pertama dari umat ini dan para ulama yang berpegang teguh dengan kitab dan sunnah. Lalu di manakah posisi kita di antara barisan mereka? Jangan sampai kita mengambil ilmu agama ini dari orang-orang yang tidak faham terhadap agamanya sendiri.</p><h3><strong>Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah</strong></h3><p>Karena perbuatan da’i-da’i yang tidak bertanggung jawab tadi, maka bermunculanlah dampak-dampak negatif yang tidak diinginkan oleh agama kita yang mulia ini. Di antaranya berupa pembangkangan sebagian kaum muslimin terhadap pemimpin mereka sehingga kaum muslimin terpecah menjadi beberapa kelompok.</p><p>Wahai saudaraku kaum muslimin <em>r</em><em>ahimakumullah</em> dengarkanlah petuah-petuah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang telah beliau sampaikan untuk umatnya pada 14 abad yang silam. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p>“<em>Wajib atas muslim untuk mendengar dan taat kepada hal-hal yang disukai maupun yang dibenci. Selama tidak diperintah dalam hal kemaksiatan dan jika diperintah dalam hal kemaksiatan maka tidak boleh mendengar dan taat</em>.” (HR. Bukhari, no.2955 dan Muslim, no.1839)</p><p>Dan Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p><p>“<em>Barang siapa yang membenci sesuatu yang dilakukan pimpinannya maka hendaklah bersabar, karena sesungguhnya barang siapa yang keluar sejengkal saja dari (ketaatan kepada) pemimpin, maak sungguh matinya seperti matinya orang-orang jahiliyyah</em>.” (HR. Bukhari, no.7054 dan Muslim, no.1849)</p><p>Dan masih banyak sekali hadis-hadis yang memerintahkan kita untuk mentaati pemimpin kita, meskipun mereka adalah pemimpin yang zalim yang selalu membuat kerusakan di muka bumi ini.</p><h3><strong>Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah</strong></h3><p>Ada suatu pelajaran dari kisah yang sangat mengharukan datang dari Imam <em>ahlus </em><em>sunah</em> Imam Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em>. Beliau bersungguh-sungguh untuk mempraktikkan nasihat-nasihat dari nabi yang tertuang dalam hadis-hadis di atas. Beliau dicambuk, dibelenggu dengan rantai dan dipenjara bertahun-tahun lamanya karena mempertahankan aqidah bahwa Alquran <em>kalamullah</em> bukan makhluk. Aqidah <em>ahlus sunah wal jamaah</em>, aqidah yang murni yang diambil dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan bahwa Alquran adalah <em>kalamullah</em> dan bukan makhluk. Namuan demikian Imam Ahmad bin Hanbal bersabar dan selalu taat kepada pemimpinnya dan tidak melakukan perlawanan. Lebih dari itu beliau tetap menasihati kaum muslimin untuk selalu taat kepada pemimpinnya dan sabar atas cobaan yang menimpa mereka dengan mengatakan,</p><p>“Jangan kalian memecah belah ketaatan (terhadap pemimpin kalian) bersabarlah kalian.</p><h3><strong>Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah</strong>.</h3><p>Inilah salah satu contoh adab seorang ulama kepada pemimpinnya, semoga Allah memberikan rahmat yang luas kepada Imam Ahmad bin Hanbal karena beliau telah memberikan suatu tauladan yang sangat baik untuk umat ini.</p><p>Maka dari itu, hednaknya kita meneladani para ulama kita karena ilmu mereka yang luas dan dalam. Mereka lebih mengetahui ilmu agama dan lebih berani dalam melaksanakan amar makruf nahi munkar. Karena kedalaman dan keluasan ilmu dan pandangan mereka, maka mereka memilih bersabar atas cobaan yang menimpa mereka dari pada menyelisihi perintah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p><p>Wahai saudarau, resapilah dan teladanilah sikap Imam Ahmad yang penuh hikmah tadi selanjutnya marilah kita jadikan bahan introspeksi, supaya kita semua berada dalam satu barisan, tidak bercerai-berai. Dan janganlah kita tertipu dengan kelihaian para da’i dan khatib dalam berbicara karena sesungguhnya kita berada pada suatu zaman yang jumlah orang-orang berilmu sedikit, sebaliknya, jumlah da’i dan khotib yang pandai berbicara sangat banyak, sebagai mana yang telah dikatakan oleh sahabat yang mulia Abdulloh bin Mas’ud:</p><p>“<em>Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman yang banyak ulamanya dan sedikit para juru khutbahnya dan sungguh setelah kalian akan ada suatu zaman yang banyak para juru khutbahnya dan sedikit ulamanya</em>.”</p><p
class="arab">وَفَّقَنـِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ لِأَدَاءِ الْأمَانَةِ وَحَمَانَا جَمِيْعًا مِنَ الْإِضَاعَةِ وَالْـخِيَانَةِ وَغَفَرَ لَنَا وَلِوَلِدِيْنَا وَلِـجَمِيْعِ الْـمُسْلِمِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ</p><h2><strong>KHUTBAH KEDUA </strong><strong></strong></h2><p
class="arab">الْـحَمْدُ لِلهِ الَّذِي وَعَدَ مَنْ حَفِظَ الْأمَانَةَ وَرَعَاهَا أَجْرًا جَِزيْلاً، وَتَوَعَّدَ مَنْ أَضَاعَهَا وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا وَبِيْلا، أَحْمَدُهُ عَلَى جَزِيْلِ نِعَمِهِ، أَشْكُرُهُ عَلَى تَتَابُعِ إِحْسَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، حَثَّ عَلَى أَدَاءِ الْأَمَانةِ وَحَذَّرَ مِنْ الْـخِيَانَةِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وعَلَى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وسَلَّمَ تَسْلِيْمًا، أَمّا بَعْدُ:<strong></strong></p><h3><strong><em>Ma’asyir</em><em>al muslimin</em>, sidang shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah</strong></h3><p>Jika kita harus selalu taat dan bersabdar atas perlakuan pemimpin terhadap diri kita, lalu bagaimana cara yang benar untuk menasihati para pemimpin yang terjerumus dalam kesalahan!? Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya Islam adalah agama yang telah sempurna yang tidak didapati di dalamnya kekurangan sedikitpun dna tidak didapati pula di dalamnya suatu permasalahan kecuali Islam telah mambahasnya. Islam mengajarkan adab-adab yang berkenaan dengan masalah yang kita anggap sepele, lalu bagaimana dengan permasalahan yang sangat agung ini, permasalahan yang berkaitan dengan kemaslahatan (kebaikan) umat. Seperti halnya dengan kepemimpinan, tentu saja Islam memberikan perhatian ekstra dan membahasnya secara detail, tidak ada kekurangan di dalamnya.</p><p>Wahai saudara-saudaraku, Islam telah mengajarkan kita cara yang benar dalam menasihati para pemimpin yang terjerumus dalam kesalahan yaitu dengan mendoakan mereka dengan kebaikan dan keistiqomahan dalam agama. Selalu berusaha memperingatkan mereka dari kesalahan-kesalahan dengan cara yang sangat rahasia supaya tidak diketahui oleh khalayak. Ada kalanya dengan mengajak mereka berbicara empat mata atau mengirim surat kepada mereka atau semisalnya dari bentuk nasihat yang rahasia.</p><p>Rasulullah bersabda,</p><p>“<em>Barangsiapa yang ingin menasihati para pemimpin maka janganlah menampakkan pembicaraan dengan di hadapan khalayak, tapi hendaklah ia menggandeng tanganna dan menyendiri dengannya maka jika dia menerimanya (itulah kebaikannya) dan jika tidak maka sungguh dia telah menunaikan kewajibannya dan telah memenuhi hak pemimpinnya</em>.” (HR. Hakim 3:290 dan Ahmad 3:404)</p><p>Dan cara seperti inilah yang telah dipraktikkan oleh para ulama kita. Alangkah indahnya apa yang telah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal,</p><p>“<em>Andai saja kami memiliki suatu doa yang terkabukan, niscaya kami akan berdoa denagnnya untuk kebaikan para pemimpin</em>.”</p><p>Begitulah para pendahulu kita dari kalangan orang-orang shalih, sungguh mereka telah memberikan suri tauladan yang baik bagi kita. Tentunya kewajiban kita sebagai generasi yang datang setelah mereka adalah meneladani mereka dan mengikuti jejak yang telah mereka tempuh karena mereka adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p><p>Semoga Allah merahmati Imam Malik bin Anas, yang telah mengatakan,</p><p>“<em>Tidak akan baik akhir umat ini kecuali sebagaimana apa yang membuat baik pada awalnya</em>.”</p><p>Sungguh betapa benarnya ucapan beliau yang mulia ini. Akhirnya kita memohon kepada Allah supaya memperbaiki para pemimpin kita dan rakyatnya, serta menjadikan antara keduanya saling sayang-menyayangi.</p><p
class="arab">اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ<strong></strong></p><p
class="arab">اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ<strong></strong></p><p
class="arab">رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p><h2>Download Naskah Materi Khutbah Jum’at</h2> <a
class="downloadlink" href="http://khotbahjumat.com/download101" title=" downloaded 114 times" >Download Ebook Khutbah Jum'at:  khutbah yang Menggelisahkan (114)</a><h2>Info Naskah Khutbah Jum’at</h2><p>Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 10 Tahun 6, Jumada Ula 1428 H<br
/> Kata kunci: Kafir, khutbah jum&#8217;at, materi khutbah jumat, naskah khotbah jumat, aqidah, tauhid, islam.</p><h3>Related Posts</h3><p>No related posts.</p> No tags for this post.]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://khotbahjumat.com/khotbah-yang-menggelisahkan/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: basic
Database Caching 19/45 queries in 0.010 seconds using disk: basic
Object Caching 1435/1471 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.khotbahjumat.com

Served from: khotbahjumat.com @ 2012-05-19 09:56:53 -->
