Khotbah Jumat - Khutbah Jum'at Terbaik http://khotbahjumat.com Kumpulan materi khutbah jum'at terbaik sesuai sunnah Thu, 18 Sep 2014 07:19:05 +0000 en hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.9.2 Hikmah dan Pelajaran dari Ibadah Haji http://khotbahjumat.com/hikmah-dan-pelajaran-dari-ibadah-haji/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hikmah-dan-pelajaran-dari-ibadah-haji http://khotbahjumat.com/hikmah-dan-pelajaran-dari-ibadah-haji/#comments Thu, 18 Sep 2014 07:19:05 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2867 Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب:70-71] .

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ :

Saat ini umat Islam dari segala penjuru dunia tengah berbondong-bondong berangkat ke tanah suci untuk menunaikan salah satu ibadah agung dan ketaatan yang mulia. Mereka menunaikan ibadah haji ke Baitullah al-Haram. Dalam rumah Allah tersebut ditegakkan amalan-amalan dan syiar-syiar yang agung dan manasik yang penuh keberkahan.

Para jamaah haji menyambut panggilan Dzat yang telah memuliakan rumah tersebut, Allah Jalla wa ‘Ala. Mereka diajak meresapi dan merenungi kembali amalan-amalan mereka dan makna kehidupan. Mereka diseru pada kebaikan yang amat agung. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (27) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka…” (QS. Al-Hajj: 27-28).

Ibadallah,

Demikianlah, dalam ibadah haji memang banyak teradapat pelajaran dan hikmah yang besar, yang harus diresapi oleh setiap orang yang beriman dengan akal dan nurani mereka. Sehingga bisa diperoleh bisa bermanfaat di dalam kehidupan mereka.

Ibdallah,

Haji adalah madrasah imaniah, pendidikan amal dan akhlak. Namun terkadang orang-orang lalai dari pelajaran dan hikmahnya. Di antara buah pelajaran dari ibadah haji adalah menyambut panggilan Allah Jalla wa ‘Ala, menaati perintah-perintah-Nya, berharap pahala dari menjalankan perintah-Nya dan menjauhi apa yang Dia larang. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197).

Dalam ayat tersebut Allah menyatakan “tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji” dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk menahan dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang. Yang demikian sebagai pendidikan untuk jiwa dan ruh manusia.

Allah juga menyatakan “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya” kalimat ini sebagai motivasi yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya untuk mengamalkan kebajikan dan bersegera dalam melaksanakan ketaatan.

Allah juga mewasiatkan “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. Di sini Allah memberitahukan hendaknya seseorang memiliki persiapan dan bekal untuk hari kiamat dengan bekal ketakwaan. Dengan cara melaksanakan apa yang Dia perintahkan dan meninggalkan apa yang Dia larang.

Di antara amalan yang diperintahkan dilakukan berulang kali saat ibadah haji adalah mengucapkan kalimat talbiyah “labbaik Allahumma labbaik…” pengaugngan terhadap syiar-syiar Allah dan merealisasikan ketaatan kepada-Nya. Demikian juga tatkala para jamaah sudah berada di negeri mereka masing-masing, melanggengkan ibadah dan amalan ketaatan mendapat penekanan yang lebih. Mereka diperintahkan untuk menjaga diri, memperbaiki diri terus-menerus, mengerjakan kewajiban, dan menjauhi larangan karena dengan inilah predikat haji yang mabrur itu digapai. Lebih baik keadaannya dari sebelum mereka menunaikan ibadah haji.

فَعَنْ أَبْي أُمَامَةَ اَلْبَاهِلِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ فِي حَجَّةِ الوَدَاعِ (( اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ، وَصُومُوا شَهْرَكُمْ، وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ، وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ )) ؛

Dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah Rabb kalian. Kerjkanlah shalat yang lima waktu. Berpuasalah di bulan Ramadhan. Tunaikan zakat harta kalian. Taatilah para pemimpin kalian. Niscaya kalian akan masuk ke dalam surge Rabb kalian.”

Ini adalah perkara-perkara perintah yang wajib ditaati dan diamalkan. Adapun hal-hal yang dilarang dan harus dijauhi disebutkan dalam hadits Salamah bin Qais al-Asyja’i radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَخْطُبُ فِي النَّاسِ فِي  حَجَّةِ الوَدَاعِ فَقَالَ : (( أَلاَ إِنَّمَا هُنَّ أَرْبَعٌ : أَنْ لاَ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئاً ، وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَلاَ تَزْنُوا ، وَلاَ تَسْرِقُوا )) ؛

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di haji al-wada’, ‘Empat larangan itu adalah janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, jangan membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, jangan berzina, dan jangan mencuri.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang dari melakukan dosa-dosa besar tersebut.

Dengan demikian diketahui bahwasanya wajib bagi para haji bahkan kaum muslimin secara umum untuk bertakwa kepada Allah Jalla wa ‘Ala, membekali diri mereka untuk hari mereka dikembalikan kepada Allah dengan bekal yang terbaik yaitu takwa kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Bertakwa dalam arti yang sesungguhnya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala yang Dia larang. Allah Ta’ala berfirman menutup rangkaian ayat tentang haji dalam surat Al-Baqarah,

فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 203).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ بِالقُرْآنِ وَالسُنَّةِ وَنَفَعْنَا بِمَا فِيْهُمَا مِنَ الذِّكْرِ وَالْحِكْمَةِ وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ إِنَّ رَبِّي غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ :

Di antara pelajaran agung lainnya dari ibadah haji adalah bahwa ibadah haji itu mengingatkan kita akan hari kita dikembalikan kepada Rabb kita, hari dimana semua manusia berkumpul di hadapan penguasa alam semesta ini. Ya, hari Arafah adalah miniaturnya. Pada hari Arafah orang-orang dari segala penjuru dunia berkumpul di tempat yang satu. Hal ini membawa perasaan kita terbang jauh, membayangkan keadaan seluruh manusia; sejak manusia yang diciptakan pertama kali hingga manusia yang paling akhir. Mereka semua dikumpulkan pada hari kiamat.

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al-Haqqah: 18).

Ibdallah,

Bagi para haji dan orang-orang yang hendak menunaikan ibadah haji haru merenungi kembali pelajaran yang mereka dapatkan saat menunaikan ibadah yang agung itu. Senantiasa terbayang dalam benaknya tentang hisab, tentang balasan di hari Kiamat, dan tentang saat ia berdiri di hadapan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Karena itu Allah tutup ayat tentang haji ini dengan kalimat,

وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 203).

Karena dalam ayat ini terdapat peringatan terhadap apa yang semestinya direnungkan oleh jamaah haji.

Ingatlah, orang yang cerdas adalah mereka yang mampu menundukkan hawa nafsunya agar beribadah untuk persiapan kehidupan setelah kematian. Dan orang yang lemah adalah mereka yang memperturutkan hawa nafsunya dan panjang angan-angannya.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هَدْى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثاَتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنِ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ وَأَعِنْهُ عَلَى طَاعَتِكَ وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ قَوْلٍ سَدِيْدٍ وَعَمَلٍ رَشِيْدٍ .

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ أَعِنَّا وَلَا تُعِنْ عَلَيْنَا ، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا ، وَامْكِرْ لَنَا وَلَا تُمْكِرْ عَلَيْنَا ، وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ الهُدَى لَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغِى عَلَيْنَا ، اَللَّهُمَّ اجْعَلَنَا لَكَ شَاكِرِيْنَ ، لَكَ ذَاكِرِيْنَ ، إِلَيْكَ أَوَّاهِيْنَ مُنِيْبِيْنَ ، إِلَيْكَ مُخْبِتِيْنَ مُطِيْعِيْنَ ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا وَأَجِبْ دَعْوَتَنَا وَاهْدِ قُلُوْبَنَا وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ صُدُوْرِنَا . اَللَّهُمَّ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا . اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَةَ وَالْغِنَى ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ ، اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ .

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ، رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلَنَهُ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ .

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ وَأَنْعَمَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazza bin Abdul Muhsin al-Abbad

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/hikmah-dan-pelajaran-dari-ibadah-haji/feed/ 0
Adab Seorang Mukmin Kepada Sahabat Nabi http://khotbahjumat.com/adab-seorang-mukmin-kepada-sahabat-nabi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=adab-seorang-mukmin-kepada-sahabat-nabi http://khotbahjumat.com/adab-seorang-mukmin-kepada-sahabat-nabi/#comments Tue, 16 Sep 2014 10:13:39 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2864 Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ اخْتَارَ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِصُحْبَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِيْ أَرْسَلَ فِي خَيْرِ القُرُوْنِ وَخَيْرِ النَّاسِ

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} [آل عمران: 102]
أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ خَيْرَ الكَلَامِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ .
إِنَّ اللهَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ {أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ} [التين: 8] ، وَقَالَ {وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ } [الزخرف: 84]

Ibadallah,

Di antara hikmah Allah Ta’ala adalah Dia memilihkan suatu kaum untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka inilah yang dikenal dengan para sahabat yang terdiri dari orang-orang yang mulia. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوا أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ

“Sungguh aku sangat merindukan untuk bertemu dengan saudara-saudara kita,” para sahabatpun bertanya: “Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Beliau menjawab,”Kalian adalah para sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita adalah mereka yang datang kemudian.” (HR. Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa perbedaan para sahabat dengan orang-orang beriman setelah mereka adalah para sahabat yaitu orang yang menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman kepada beliau.

Para sahabat adalah manusia-manusia yang Allah pilih di antara sekian banyak manusia yang ada di dunia ini. Untuk apa? Untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendakwahkan dan menegakkan ajaran Islam. Mereka korbankan harta mereka untuk membela Nabi, mereka rela darah mereka tertumpah, dan segala daya dan upaya mereka kerahkan demi menolong agama Allah. Hingga kita lihat seperti sekarang ini, agama Islam tersebar di penjuru timur dan barat bumi ini. Semoga Allah meridhai mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji-muji mereka dalam banyak ayat Alquran. Di antaranya firman Allah Ta’ala,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al-Fath: 18).

Dan firman-Nya,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku´ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 23).

Dalam ayat lainnya,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100).

Demikian juga dalam ayat,

لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى

“idak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.” (QS. Al-Hadid: 10).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memuji para sahabatnya dalam banyak haditsnya. Di antaranya,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah mereka yang sezaman denganku, kemudia setelah mereka, dan kemudian setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits yang lain,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:” لَا تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ، ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيْفَهُ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian cela sahabatku! Seandainya salah seorang di antara kalian berinfak dengan emas sebesar bukit Uhud, tidak akan sepadan (kualitasnya) dengan infak mereka yang hanya satu mud atau bahkan setengan mud.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabdanya juga,

لنُّجُوْمُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ. فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُوْمُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوْعَدُ. وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِـيْ. فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِـيْ مَا يُوْعَدُوْنَ. وَأَصْحَابِـيْ أَمَنَـةٌ لِأُمَّتِيْ. فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِـيْ أَتَى أُمَّتِـيْ مَا يُوْعَدُوْنَ

“Bintang-bintang itu sebagai penjaga langit, apabila bintang-bintang itu hilang maka datanglah apa yang dijanjikan atas langit itu. Dan aku adalah penjaga bagi para shahabatku, apabila aku telah pergi (meninggal dunia) maka akan datang kepada shahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka. Dan para shahabatku adalah penjaga bagi umatku, apabila shahabatku telah pergi (meninggal dunia) maka akan datang apa yang dijanjikan kepada mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Abdullah bin Mas’ud pernah mengatakan,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى نَظَرَ فِيْ قُلُوْبِ الْعِبَادِ ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ

“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- telah melihat hati para hamba-Nya. Allah mendapati hati Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah sebaik-baik hati hamba.”

Karena pujian dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam atas para sahabat, maka para ulama sepakat menyatakan bahwa para sahabat adalah orang-orang yang terpercaya dan yang jujur dalam meriwayatkan sesuatu.

Di antara prinsip kita, ahlussunnah wal jamaah barangsiapa yang mencela salah seoarang dari sahabat Nabi, maka ia divonis memiliki pemahaman menyimpang.

Seorang tabi’in yang bernama Abu Zur’ah ar-Razi mengatakan, “Jika engkau melihat seseorang yang mengkritik salah seorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia adalah seseorang yang hendak mengadakan kerusakan dalam agama”.

Imam Ahmad mengatakan, “Apabila engkau melihat seseorang yang berkata miring tentang sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka curigailah orang tersebut hendak berbuat jahat terhadap (ajaran) Islam.”

Ayyuhal muslimun,

Tidak boleh bagi siapapun mencela salah seorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah sebaik-baik generasi dan sebaik-baik manusia. Tidak diperkenankan mencela mereka karena perselisihan yang terjadi di antara mereka karena yang demikian sama saja dengan menjelek-jelekkan mereka. Membicarakan perselisihan yang terjadi di antara mereka hanyalah akan mengurangi rasa cinta kita kepada mereka. Ditambah lagi cerita-cerita tentang perselisihan yang terjadi di antara para sahabat banyak riwayat yang tidak shahih.

Perselisihan yang terjadi di antara mereka adalah perselisihan yang terjadi pada level seorang mujtahid. Seorang mujtahid (ulama yang mumpuni) diperbolehkan mengerluarkan pedapat. Jika mereka benar mendapat dua pahala dan jika mereka salah mendapatkan satu pahala. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits,

إِذَا حَكَمَ اَلْحَاكِمُ, فَاجْتَهَدَ, ثُمَّ أَصَابَ, فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ, فَاجْتَهَدَ, ثُمَّ أَخْطَأَ, فَلَهُ أَجْرٌ

“Jika seorang hakim hendak menghukumi, kemudian ia berijtihad lalu ijtihadnya benar, maka ia mendapat dua pahala. Dan jika ia hendak menghukumi, kemudian berijtihad lalu ijtihadnya salah (keliru) maka ia mendapat satu pahala.”

Mereka juga memiliki jasa besar dan kebaikan yang sangat banyak dibanding kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan. Sementara itu Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan dosa-dosa.”

Ketika kita telah mengetahui demikian kedudukan para sahabat dan adab-adab yang digariskan syariat terhadap mereka, maka tidak boleh kita menciderai kehormatan sahabat Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantaran catatan sejarah yang ada pada mereka.

أَسْأَلُ اللهَ اَلَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ أَنْ يَرْحَمَنَا وَأَنْ يَتُوْبَ عَلَيْنَا بِحُبِّنَا لِأَصْحَابِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، اَللَّهُمَّ أَدْخِلْنَا جِنَانَكَ بِحُبِّهِمْ، اَللَّهُمَّ انْجِنَا مِنَ النَّارِ بِحُبِّهِمْ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ اَلْأَبْرَارِ بِحُبِّهِمْ .

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ أَمَّا بَعْدُ:

Ada sekelompok sekte yang menyimpang di dalam Islam yang gemar mencela, merendahkan, bahkan mengkafirkan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kelompok ini kita kenal dengan nama kelompok Syiah. Di antara mereka ada yang mengkafirkan seluruh sahabat Nabi kecuali hanya beberapa orang saja. Mereka menghina istri Nabi, Aisyah radhiallahu ‘anha, dengan menuduhnya sebagai wanita pezina –wal’iyadzubillah-, padahal jelas-jelas Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberla kehormatan Aisyah dengan menurunka 10 ayat dalam surat An-Nur: 10-21.

Penulis-penulis dan kolumnis-kolumnis media Syiah, telah menghina salah seorang sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, padahal Abdullah bin Mas’ud termasuk tokoh di kalangan para sahabat.

Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepada Abdullah bin Mas’ud,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآَنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْ قِرَاءَةَ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

“Barang siapa yang ingin membaca Alquran dengan bacaan yang tepat (indah) seperti saat diturunkan hendaklah ia membaca dengan bacaan Ibnu Ummi Abd.”

Ibnu Ummi Abd adalah Abdullah bin Mas’ud.

Khudzaifah bin al-Yaman pernah ditanya tentang siapakah orang yang paling mirip perangi dan jalan hidupnya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menjawab

مَا أَعْرِفُ أَحَدًا أَقْرَبَ سَمْتًا وَهَدْيًا وَدَلًّا بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

“Aku tak mengetahui ada orang yang lebih mirip kekhusyuannya, perangainya, dan jalan hidupnya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selain Ibnu Ummu ‘Abd.

Umar bin al-Khattab pernah berkata tentang Abdullah bin Mas’ud bahwa ia adalah seseorang yang dipenuhi dengan keilmuan dalam riwayat lain dikatakan keluasan pemahaman.

Subhanallah! Apakah orang-orang yang mencela salah seorang sahabat Rasul ini tidak merasa malu, apalagi sampai berani mencela Abdullah bin Mas’ud. Seandainya orang yang mencela Abdullah bin Mas’ud atau salah seorang sahabat lainnya, diminta untuk membaca Alquran dengan bacaan terbaiknya, apakah ia mampu menandingi kebaikan bacaan Qari’ Rasulullah ini.

Sesungguhnya, mencela dan merendahkan para sahabat hanyalah berangkat dari kadar ilmu yang minim, walaupun ia dikenal sebagai seorang da’i terkenal dan populer.

Ada juga orang yang mencela Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu, padahal Muawiyah adalah penulis wahyu Alquran. Muawilayh juga disebut pamannya orang-orang yang beriman karena saudara perempuannya adalah ibu dari orang-orang yang beriman yakni istri Nabi, Ummu Habibah binti Abi Sufyan radhiallahu ‘anha.

Dari Abu Taubah al-Halabi ia berkata, “Muawiyah adalah pintu gerbang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila pintu gerbang ini dibuka (maksudnya mencela Muawiyah), maka ia akan merembet pada apa yang ada di belakang gerbang itu (yakni mencela sahabat-sahabat yang lain)” (Riwayat Ibnu Asakir).

Ada yang pernah bertanya kepada Abdullah bin Mubarak (salah seorang tabi’ tabiin). “Manakah yang lebih utama, Muawiyah ataukah Umar bin Abdul Aziz?” Abdullah bin Mubarak menjawab, “Sungguhn, debu yang menempel di hidung Muawiyah karena mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih utama dibanding Umar bin Abdul Aziz.”

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa ulama sepakat Muawiyah radhiallahu ‘anhu adalah raja yang paling utama dari seluruh raja-raja Islam.

اَللَّهُمَّ يَا مَنْ تُدَافِعُ عَنْ أَوْلِيَائِكَ دَافِعْ عَنْ صَحَابَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِمَنْ سَبُّهُمْ وَانْتِقَصُهُمْ، اَللَّهُمَّ وَفِّقِ المُسْلِمِيْنَ لِيَعْرِفُوْا قَدْرَ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ مَنَّ عَلَيْنَا بِصَحَبَتِهِمْ فِي الْجِنَانِ مَعَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ .

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَ بَارَكَ وَأَنْعَمَ عَلَى عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

وَقُوْمُوْا إِلَى صَلَاتِكُمْ يَرْحَمُكُمُ اللهُ

]]>
http://khotbahjumat.com/adab-seorang-mukmin-kepada-sahabat-nabi/feed/ 0
Boikot Produk Yahudi http://khotbahjumat.com/boikot-produk-yahudi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=boikot-produk-yahudi http://khotbahjumat.com/boikot-produk-yahudi/#comments Mon, 15 Sep 2014 07:43:45 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2861 Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَى، وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدَى، وَالَّذِيْ أَخْرَجَ المَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى، رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكِهِ وَمُدَبِّرِهِ وَمُصَرِّفِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيْهَ وَلَا نَظِيْرَ وَلَا مَثِيْلَ، وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ بَيْنَ يَدَيَّ السَّاعَةِ بِالْحَقِّ لِيَكُوْنَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَهِدَايَةً لِلْغَاوِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى المُعَانِدِيْنَ، فَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنِ، وَعَلى المُقْتَدِيْنَ بِهِ وَبِهِمْ إِلَى يَوْمِ الجَزَاءِ وَالمَصِيْرِ.
أَمَّا بَعْدُ،:

Kaum muslimin yang dirahmati Allah,

Di antara peristiwa kontempporer yang sering menyeruak ketika terjadi konflik antara umat Islam dan Yahudi adalah memboikot produk Yahudi. Seruan ini kian nyaring gemanya tatkala Yahudi mengagresi saudara-saudara kita di Palestina tanpa belas kasih sama sekali.

Kita sangat menyadari kita tidak bisa mengandalkan orang-orang kafir yang sering menyerukan kemanusiaan untuk membantu saudara-saudara kita di sana. Kita pun telah mengetahui PBB akan menjadi ompong tatkala berhadapan dengan negara-negara pemilik hak veto. Karena itu, di antara saudara-saudara kita menyerukan untuk memboikot produk Yahudi sebagai salah satu solusi.

Ibdallah,

Para ulama telah menjelaskan bahwa asal hukum memboikot produk-produk orang kafir adalah diperbolehkan, dan jika ada maslahat syariat dalam pemboikotan tersebut, maka ia dapat dihukumi sunnah atau bahkan wajib.

Dalil-dalil tentang disyariatkannya pemboikotan antara lain adalah:

Firman Allah Ta’ala:

وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ أَلا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ * فَإِنْ لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلا كَيْلَ لَكُمْ عِنْدِي وَلا تَقْرَبُونِ

“Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang se-ayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu? Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi dari padaku dan jangan kamu mendekatiku.” (QS. Yuusuf: 59-60).

Dalam ayat ini, Nabi Yuusuf ‘alaihissalam menjadikan ditahannya makanan kepada saudara-saudaranya sebagai sarana (wasilah) untuk membawa saudaranya (Bunyamin) kepadanya.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (QS. At-Taubah: 73).

Ayat ini menjelaskan bahwa jalan pemboikotan atau pemutusan hubungan perdagangan (jual-beli) merupakan salah satu jalan melawan orang kafir dan munafik dengan cara memberikan kemudharatan secara ekonomi, sehingga ia termasuk dalam cabang jihad secara umum.

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلا نَصَبٌ وَلا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلا إِلا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ

“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih.” (QS. At-Taubah: 120).

Ayat ini juga menjelaskan bahwa pemboikotan perdagangan merupakan salah satu upaya yang menyebabkan bencana, kesulitan, dan kemudlaratan bagi orang kafir.

Adapun dalil dari hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْلًا قِبَلَ نَجْدٍ فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ، يُقَالُ لَهُ: ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟ ” فَقَالَ: عِنْدِي خَيْرٌ يَا مُحَمَّدُ، إِنْ تَقْتُلْنِي تَقْتُلْ ذَا دَمٍ، وَإِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْمَالَ، فَسَلْ مِنْهُ مَا شِئْتَ، فَتُرِكَ حَتَّى كَانَ الْغَدُ، ثُمَّ قَالَ لَهُ: ” مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟ ” قَالَ: مَا قُلْتُ لَكَ: إِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ، فَتَرَكَهُ حَتَّى كَانَ بَعْدَ الْغَدِ، فَقَالَ: ” مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟ ” فَقَالَ: عِنْدِي مَا قُلْتُ لَكَ، فَقَالَ: ” أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ “، فَانْطَلَقَ إِلَى نَجْلٍ قَرِيبٍ مِنَ الْمَسْجِدِ فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، يَا مُحَمَّدُ وَاللَّهِ مَا كَانَ عَلَى الْأَرْضِ وَجْهٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ وَجْهِكَ، فَقَدْ أَصْبَحَ وَجْهُكَ أَحَبَّ الْوُجُوهِ إِلَيَّ، وَاللَّهِ مَا كَانَ مِنْ دِينٍ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ دِينِكَ، فَأَصْبَحَ دِينُكَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيَّ، وَاللَّهِ مَا كَانَ مِنْ بَلَدٍ أَبْغَضُ إِلَيَّ مِنْ بَلَدِكَ، فَأَصْبَحَ بَلَدُكَ أَحَبَّ الْبِلَادِ إِلَيَّ، وَإِنَّ خَيْلَكَ أَخَذَتْنِي وَأَنَا أُرِيدُ الْعُمْرَةَ، فَمَاذَا تَرَى؟ فَبَشَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَهُ أَنْ يَعْتَمِرَ، فَلَمَّا قَدِمَ مَكَّةَ، قَالَ لَهُ قَائِلٌ: صَبَوْتَ، قَالَ: لَا، وَلَكِنْ أَسْلَمْتُ مَعَ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا وَاللَّهِ لَا يَأْتِيكُمْ مِنْ الْيَمَامَةِ حَبَّةُ حِنْطَةٍ حَتَّى يَأْذَنَ فِيهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim pasukan berkuda menuju Najd. Mereka kembali dengan membawa tawanan seseorang dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Atsal.  Lalu mereka mengikatnya pada salah satu tiang diantara tiang-tiang masjid.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemuinya dan bersabda kepadanya, “Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?”. Ia menjawab, “Aku memiliki yang lebih baik wahai Muhammad. Jika engkau membunuhku, maka engkau telah membunuh orang yang memiliki darah. Jika engkau memberi (kebebasan), maka engkau telah memberi pada orang yang tahu berterima kasih. Jika engkau menginginkan harta, maka mintalah apa yang engkau minta”. Lalu ia pun ditinggalkan hingga keesokan harinya.

Beliau bersabda, “Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?” Ia menjawab, “Apa yang telah aku katakan kepadamu (sebelumnya). Jika engkau berbuat baik, maka engkau telah berbuat baik pada orang yang tahu berterima kasih”. Maka beliau meninggalkannya hingga keesokan harinya. Beliau kembali bersabda, “Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?” Ia menjawab, “Aku memiliki apa yang telah aku katakan kepadamu sebelumnya”. Beliau bersabda, “Bebaskan Tsumamah”.

Lalu ia pergi ke sebuah batang pohon kurma di dekat masjid, dan kemudian mandi. Setelah itu ia masuk masjid dan berkata, “Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah. Wahai Muhammad, dulu tidak ada wajah seorang pun di muka bumi ini yang paling aku benci daripada wajahmu. Namun sekarang, wajahmu adalah wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada agama yang paling aku benci daripada agamamu. Namun sekarang, agamamu adalah agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada negeri yang paling aku benci daripada negerimu ini. Namun sekarang, negerimu adalah negeri yang paling aku cintai. Dan sesungguhnya pasukanmu telah menangkapku, sedangkan aku hendak melaksanakan ‘umrah. Bagaimana pendapatmu ?”.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira dan memerintahkannya untuk melaksanakan umarh. Ketika ia sampai di Mekah, seseorang berkata kepadanya (Tsumamah), “Apakah engkau telah murtad?” Tsumamah menjawab, “Tidak, namun aku telah memeluk agama Islam bersama Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah, engkau tidak akan mendapatkan gandum dari Yamamah hingga diizinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Dari hadits ini kita dapat memetik pelajaran, Tsumamah memberikan ultimatum bahwa orang kafir di Mekah tidak akan mendapatkan pasokan gandum dari wilayahnya hingga diizinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah salah satu bentuk pemboikotan perdagangan yang dilakukan Tsumamah. Perbuatannya sama sekali tidak diingkari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat lainnya.

Akad muamalah maaliyyah (yang berkaitan dengan harta) masuk dalam bab sarana (wasilah), bukan tujuan. Maka, hukum muamalah mengikuti tujuannya. Jika tujuannya adalah untuk jihad di jalan Allah Ta’ala memberikan kemudharatan kepada orang kafir, maka muamalah tersebut disyariatkan.

Hukum pemboikotan ada beberapa keadaan:

  1. Apabila diperintahkan ulil-amri.

Dalam keadaan ini, wajib hukumnya untuk melakukan pemboikotan berdasarkan firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisaa’: 59).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا، وَإِنِ اسْتُعْمِلَ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ

“Dengar dan taatlah, meskipun yang memerintahkan kalian adalah seorang budak Habsyi yang kepalanya seperti kismis.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Ibnu Majah, dan yang lainnya, dari Anas bin Maalik radhiallahu ‘anhu).

Perintah ulil amri didapat melalui pertimbangan adanya kemaslahatan umum dan menolak adanya mafsadat. Dan memang seharusnya begitu, sebagaimana kaedah:

تَصَرُّفُ الْأِمَاِم عَلَى الرَّاعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

“Kebijakan imam terhadap rakyat harus dikaitkan pada kemaslahatan”.

2. Apabila tidak diperintahkan ulil-amri; maka dalam hal ini ada dua keadaan:

a. Ia yakin atau berprasangka kuat bahwa hasil atau keuntungan dari muamalah jual-beli dengan orang-orang kafir dipergunakan untuk memerangi kaum muslimin, melakukan kekufuran, atau keharaman lainnya; maka haram bermuamalah dengan mereka dan wajib untuk memboikotnya.

Misalnya: Menjual senjata kepada orang kafir harbi, atau menjual semen kepada orang yang menggunakannya untuk membuat berhala. Atau bermuamalah dengan orang yang hasil muamalahnya itu diketahui dipergunakan membeli senjata untuk memerangi kaum muslimin, atau mendirikan kuil dan gereja tempat ibadah orang kafir; maka haram hukumnya bermuamalah dengan mereka sehingga wajib memboikot mereka.

An-Nawawi rahimahullah berkata:

وَقَدْ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى جَوَاز مُعَامَلَة أَهْل الذِّمَّة وَغَيْرهمْ مِنْ الْكُفَّار إِذَا لَمْ يَتَحَقَّق تحريم ما مَعَهُ ، لَكِنْ لَا يَجُوز لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَبِيع أَهْل الْحَرْب سِلَاحًا وَآلَة حَرْب ، وَلَا مَا يَسْتَعِينُونَ بِهِ فِي إِقَامَة دِينهمْ ، وَلَا بَيْع مُصْحَف ، وَلَا الْعَبْد الْمُسْلِم لِكَافِرٍ مُطْلَقًا . وَاللَّهُ أَعْلَم .

“Kaum muslimin telah bersepakat tentang bolehnya bermuamalah dengan ahludz-dzimmah (orang kafir yang membayar jizyah) dan selain mereka dari kalangan orang-orang kafir, selama tidak mengandung keharaman. Akan tetatpi tidak diperbolehkan bagi muslim untuk menjual senjata dan peralatan perang pada orang kafir harbi (kafir yang diperangi). Tidak diperbolehkan pula menjual sesuatu yang dapat menolong tegaknya agama mereka, (menjual) mushhaf, dan budak muslim kepada orang kafir secara mutlak, wallahu a’lam.” (Syarh Shahiih Muslim, 11/40).

Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya tentang hukum bermuamalah dengan orang Tataar, ia menjawab:

“Adapun bermuamalah dengan orang Tatar, diperbolehkan padanya apa saja yang diperbolehkan terhadap orang yang semisal mereka. Begitu juga diharamkan padanya apa saja yang diharamkan dalam perkara muamalah terhadap orang yang semisal mereka. Diperbolehkan bagi seseorang membeli hewan ternak, kuda, dan semacamnya (dari orang Tatar) sebagaimana diperbolehkan membeli hewan ternak dan kuda orang Turkmenistan, Arab, dan Kurdi. Dan diperbolehkan pula menjual makanan, pakaian, dan yang semacamnya kepada mereka, sebagaimana diperbolehkan menjualnya kepada orang yang semisal mereka.

Adapun ia menjual kepada mereka dan selain mereka sesuatu yang dapat membantu pada hal-hal yang diharamkan, seperti kuda dan senjata pada orang yang melakukan peperangan yang diharamkan, maka tidak diperbolehkan. Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran’ (QS. Al-Maaidah : 3)”.

Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala – sebagaimana telah disebut oleh Ibnu Taimiyyah,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maaidah: 3).

Kewajiban pemboikotan ini dikecualikan untuk barang komoditas yang bersifat mendesak atau berkaitan dengan hajat hidup kaum muslimin yang tidak ada penggantinya dimana ia hanya diperoleh denga cara membeli dari orang kafir. Contohnya peralatan kedokteran, peralatan/suku cadang alat tempur/perang, dan yang semisalnya. Ini perlu pertimbangan dari para ulama dan para ahli akan maslahat dan mafsadatnya.

b. Ia tidak tahu atau tidak yakin atau mempunyai prasangka yang tidak kuat bahwa hasil atau keuntungan muamalah tersebut dari muamalah jual-beli dengan orang-orang kafir dipergunakan untuk memerangi kaum muslimin, melakukan kekufuran, atau keharaman lainnya; maka muamalah dengan mereka diperbolehkan.

Pembolehan ini merupakan madzhab mayoritas ulama meski diketahui bahwa orang kafir memperoleh keuntungan dalam muamalah jual-beli tersebut. Dalilnya adalah:

قَالَ الْأَعْمَشُ: تَذَاكَرْنَا عِنْدَ إِبْرَاهِيمَ الرَّهْنَ وَالْقَبِيلَ فِي السَّلَفِ، فَقَالَ إِبْرَاهِيمُ: حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا إِلَى أَجَلٍ، وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ ”

Al-A’masy berkata, “Kami pernah mengadakan diskusi di sisi Ibrahim tentang gadai dan pembayaran tunda dalam jual beli. Lalu Ibrahim berkata, Telah menceritakan kepada kami Al-Aswad, dari Aaisyah radhiallahu ‘anha bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan pembayaran tunda, yang beliau gadaikan adalah baju besinya (untuk itu).” (Diriwayatkan Bukhari).

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: ” كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ مُشْرِكٌ مُشْعَانٌّ طَوِيلٌ بِغَنَمٍ يَسُوقُهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَيْعًا أَمْ عَطِيَّةً، أَوْ قَالَ أَمْ هِبَةً، قَالَ: لَا، بَلْ بَيْعٌ فَاشْتَرَى مِنْهُ شَاةً ”

Dari Abdurrahman bin Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian datanglah seorang laki-laki musyrik yang tingginya lebih dari rata sambil menggiring kambingnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kambing itu mau dijual atau diberikan?” – atau beliau bersabda, “atau dihadiahkan?” Laki-laki itu menjawab, “Dijual”. Maka beliau pun membeli darinya seekor kambingnya (Diriwayatkan oleh Bukhari).

Namun, jika seseorang yang melakukan pemboikotan dalam keadaan ini memandang bahwa dalam pemboikotannya tersebut terdapat maslahat dalam melemahkan perekonomian orang kafir, maka pemboikotan tersebut dianjurkan. Dalilnya adalah sebagaimana disebutkan di awal tadi.

Atau ia sekedar berniat melakukan pemboikotan untuk turut andil berjihad membela kaum muslimin dengan melemahkan perekonomian orang kafir, pemboikotan itupun dianjurkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Setiap  perbuatan hanyalah tergantung niatnya.  Dan sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak ada larangan apapun bagi kita untuk tidak membeli produk-produk orang kafir dan pro kafir seandainya kita memang mampu untuk tidak membeli dan mendapatkan pengganti dari produk yang lain. Pemboikotan ini akan berdampak besar jika dilakukan melalui gerakan massal, apalagi diserukan oleh kepala negara. Seandainya dilakukan oleh individu, meski dampaknya lebih kecil – atau katakanlah sangat kecil – maka ia tetap akan diberi pahala sesuai dengan niatnya, insya Allah.

Kaumu muslimin rahimakumullah,

Apakah pemboikotan ini dipersyaratkan harus ada izin dari penguasa? Pendapat yang kuat adalah tidak dipersyaratkan izin dari penguasa, karena Tsumamah ketika memboikot orang kafir Mekah atas inisiatifnya sendiri tanpa ada perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya. Disyariatkannya pemboikotan produk kafir ini telah difatwakan oleh banyak ulama.

Semoga Allah Ta’ala menguatkan barisan kaum muslimin, mempersatukan hati-hati mereka, dan menghancurkan tipu daya musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi berkuasa atas segala sesuatu.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِيْمَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ العَظِيْمِ الجَلِيْلِ، اَلْغَفُوْرِ الرَّحِيْمِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِهِ وَأَفْضَلِهِمْ، وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَتَمَمِ بِالتَّابِعِيْنَ لَهُ بِإِحْسَانٍ.

وَبَعْدُ، أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ:

Ibadallah,

Selain mengupayakan dengan cara membikot produk-produk Yahudi cara yang paling utama namun malah dianggap remeh dan dikesankan bukan bagian dari kontribusi adalah menempuh cara dengan berdoa. Doakan saudara-saudara kita di negeri kita Indonesia, di Palestina, di Suriah, dan tempat-tempat lainnya. Doakan mereka di saat-saat yang mustajab.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain doa.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan doanya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan doa-doa kalian.” (HR. Ahmad).

اِعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ فَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ اَلرَّاشِدِيْنَ،اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِناً مُطْمَئِنّاً وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا فِيْهِ القُوَّةَ وَالاِحْتِسَابَ العَمَلَ الصَالِحَ، اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مِنْ فَضَائِلِهِ وَمَغَانِمِهِ مَا يَسَرْتَهُ لَنَا، اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَحِفْظِ أَيَّامِهِ مِنَ الخَلَلِ وَالضَيَاعِ، (رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ)، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلَا مُضِلِّيْنَ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ بِطَانَتَهُمْ وَأَبْعَدْ عَنْهُمْ بِطَانَةً السُوْءِ وَالمُفْسِدِيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)،(وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)، فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Diadaptasi dari tulisan Ustadz Abul Jauza’ dengan beberapa tambahan dari tim Khotbah Jumat.com

Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/boikot-produk-yahudi/feed/ 0
Nikah Beda Agama http://khotbahjumat.com/nikah-beda-agama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nikah-beda-agama http://khotbahjumat.com/nikah-beda-agama/#comments Mon, 15 Sep 2014 02:04:41 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2858 Khutbah Pertama:

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ

Ibadallah,

Muncul akhir-akhir ini sebuah permasalahan tentang polemik pernikahan beda agama. Isu ini melibatkan salah seorang mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia yang merasa khawatir jika dirinya mendapatkan kasus di saat akan menginjakkan kaki di mahligai rumah tangga kelak. Ia takut undang-undang pernikahan yang sekarang akan menghalangi kebebasannya. Ya, demikianlah isu ini digulirkan dengan alas an menghalangi kebebasan dan mengekang hak asasi.

Lagu lama ini ditampilkan kembali dengan gaya yang lebih baru. Alasan klasik namun dikemas dengan tampilan berbeda, sehingga masyarakat awam menyangkanya ini adalah permasalahan baru yang belum ada solusinya.

Ibdallah,

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah membuat syariat dan ketetapan kecuali hal itu mengandung maslahat secara utuh atau lebih dominan maslahatnya. Syariat larangan nikah beda agama terutama ditujukan untuk melindungi keturunan bahkan sebelum mereka ada di dunia. Syariat ini pula ditujukan untuk melindungi wanita. Allah Ta’ala berfirman,

فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10).

Ada beberapa catatan tentang nikah beda agama:

Pertama, nikah beda agama tidak dilarang secara mutlak. Karena Islam membolehkan seorang lelaki muslim menikah dengan wanita ahli kitab – Yahudi atau Nasrani – yang menjaga kehormatan dan bukan wanita nakal. Allah berfirman,

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ

“Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang yang diberi kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.” (QS. Al-Maidah: 5).

Karena itu, mengatakan bahwa nikah beda agama dilarang dalam Islam secara mutlak tanpa pengecualian, jelas kesalahan dan kedustaan atas nama syariat.

Kedua, bahwa agama tidak hanya status semata. Namun status yang sekaligus menjadi ideologi seseorang. Bagi sebagian orang yang kurang peduli dengan agama, menganggap bahwa agama hanya status. Tidak ada beda antara satu agama dengan lainnya. Karena semuanya agama. Anda bisa katakan, ini prinsip orang ateis atau agnotis, yang tidak memahami hakekat agama. Jelas prinsip yang sangat tidak relevan dengan realita di lapangan.

Setiap manusia memiliki status. Agama, kewarganegaraan, suku, bahasa, daerah, hingga usia. Sebagian dicantumkan di KTP, seperti agama, daerah, dan usia. Dan semua orang bisa membedakan antara status agama dengan status kewarganegaraan atau suku, bahasa, daerah atau usia. Semakin agung statusnya, semakin kuat usaha seseorang untuk membelanya.

Bagi orang yang menilai agama paling agung, pembelaan dia terhadap agama akan lebih besar dibandingkan pembelaan terhadap negara, suku, bahasa atau daerah. Demikian pula, bagi orang yang menilai status kewarganegaraan lebih penting, maka upaya pembelaannya akan banyak tercurah ke sana, dan begitu seterusnya.

Anda akan lebih marah ketika suku Anda dihina dari pada tanggal kelahiran Anda dihina. Karena Anda menganggap, suku lebih mulia dari pada tanggal lahir. Padahal keduanya sama-sama status manusia. Namun status yang satu lebih mulia, dibanding status lainnya.

Sebagai bangsa bernegara, kita diarahkan agar tidak terlalu menonjolkan sentimen kesukuan. Karena ini bisa mengancam persatuan bangsa. Sebagai manusia beragama, Islam juga menyuruh kita untuk tidak menonjolkan sentimen kesukuan, kebangsaan. Karena bisa mengancam persaudaraan sesama muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tindakan membangkan suku dengan seruan jahiliyah. Beliau bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ

“Bukan termasuk golonganku, orang yang menampar pipi, atau merobek baju (ketika keluarganya meninggal), dan orang yang menghidupkan seruan jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di sini kita hanya hendak menggaris-bawahi, bahwa agama bukan semata status. Agama adalah ideologi. Manusia rela melakukan apapun demi ideologinya. Hingga ada orang yang rela memakan kotoran tokoh agamanya, tidak lain karena dorongan ideologi agama. Karena itu, jangan remehkan status agama. Agama tidak hanya status, tapi ideologi.

Ketiga, kita menyadari bahwa beragama bagian dari hak semua manusia. Bahkan ini diatur dalam undang-undang di negara kita. Yang ini menunjukkan bahwa founding fathers bangsa kita menghormati entitas agama bagi masyarakatnya. Bagi orang yang memahami hakekat agama, dia akan berusaha menjaga dan menghormatinya. Tidak menjadikannya bahan permainan apalagi ditukar dengan dunia atau dengan cinta.

Anda bisa menilai, orang yang begitu mudah pindah agama, hanya untuk bisa mendapatkan kepuasan perut, atau keluar dari Islam hanya untuk mendapatkan kepuasan di bawah perut, itu karena dia tidak memahami hakekat agama. Tidak sejalan dengan prinsip yang dibangun para pewaris negeri ini.

Islam selalu mengajarkan kepada umatnya untuk memuliakan agamanya. Memotivasi mereka untuk berusaha menjaganya agar tidak lepas darinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).

Keempat, karena alasan ini semua, Islam memberikan penjagaan kepada umatnya, sehingga mereka tetap bisa mempertahankan agamanya. Atau mengajak orang lain untuk menjadi lebih teratur hidupnya dengan masuk Islam. Di antara aturan itu, Islam melarang wanita muslimah menikah dengan lelaki non muslim. Karena pernikahan ini sangat mengancam keselamatan agamanya. Terlebih di negara yang masih kental dengan pluralisme. Sangat rentan kelompok minoritas menindas mayoritas.

Dan seperti ini realitas yang terjadi. Betapa banyak wanita muslimah yang menjadi korban pemaksaan lelaki kafir untuk pindah agama. Sementara negara tidak menjamin hal ini. Suami bisa bebas mengintimidasi istri untuk keluar dan pindah agama. Terlebih umumnya wanita lemah mental. Dia bisa dengan mudah menyerah dengan keadaan.

Dan sekali lagi, agama adalah ideologi. Bagian dari doktrin ideologi, pemiliknya akan berusaha menyeret orang lain untuk memiliki ideologi yang sama. Tidak mungkin suami yang kafir akan membiarkan istrinya muslimah untuk beribadah dan melakukan ketaatan sesuai ajaran Islam. Kecuali jika si suami termasuk orang yang tidak berideologi.

Allah menyebutkan, orang-orang kafir, akan mengajak orang lain untuk mengikuti kekafirannya,

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ

“Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. al-Baqarah: 221).

Memahami hal ini, mengajukan nikah beda agama tanpa batas, tidak berbeda dengan upaya merusak ideologi agama. Bertentangan dengan tatanan para leluhur bangsa yang menjunjung tinggi agama. Meskipun kehadiran mereka adalah hal yang lumrah. Mengingat mereka bukan orang yang terdidik untuk menghormati agama.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing dan memberi taufik kepada kita untuk meniti jalan yang Dia cintai dan ridhai.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا . أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى .

Ibadallah,

Saat ini kata pluralisme dan hak asasi manusia digunakan tanpa batas. Setiap ada aturan-aturan agama yang dianggap mengikat, maka pluralisme dan HAM dijadikan senjata utama untuk menelanjangi agama, untuk menghilangkan ikatannya, dan konsekuensi hukumnya.

Ketahuilah kaum muslimin,

Saat Anda mengucapkan kalimat asy-hadu an laa ilaaha illallah wa asy-hadu anna Muhammad rasulullah, berarti Anda sudah menyatakan diri Anda terikat dan tunduk kepada aturan-aturan Allah Ta’ala dalam Alquran dan ketentuan-ketentuan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau. Inilah yang disadari oleh orang-orang kafir Quraisy Mekah dahulu. Ketika mereka mengucapkan dua kalimat syahadat berarti mereka akan terikat dengan konsekuensinya. Sebagian mereka menerima dan sebagian yang lain menolak.

Saat ini, terjadi keanehan kalau tidak kita sebut kelucuan. Seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, tapi tidak mau terikat dengan konsekuensi kalimat tersebut. Apakah dia mengira kalau kalimat tersebut hanya kalimat saja yang tidak punya makna, kandungan, dan konsekuensi?! Apakah seseorang sadar ketika dia berislam berarti dia harus menaati aturan-aturan dalam Islam?!

Agama Islam ini adalah suatu yang mengikat manusia dengan aturan-aturannya, yang kesemuanya ditujukan untuk kebaikan manusia sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, ibadallah,

Jangan sampai semboyan-semboyan dan hasutan-hasutan yang mengenakan baju pluralisme dan HAM melucuti nilai-nilai agama yang kita miliki. Jangan sampai seruan-seruan atas nama kebebasan menipu kita dan melencengkan kita dari jalan yang lurus, jalan yang Allah ridhai.

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari hasutan-hasutan yang buruk ini dan semoga Allah senantiasa menuntun kita istiqomah berada pada jalan-Nya hingga kita berjumpa dengan-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَابَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الفَاتِحِيْنَ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/nikah-beda-agama/feed/ 0
Menjaga Shalat Subuh http://khotbahjumat.com/menjaga-shalat-subuh/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menjaga-shalat-subuh http://khotbahjumat.com/menjaga-shalat-subuh/#comments Sun, 14 Sep 2014 18:38:18 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2855 Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا }

أَمَّا بَعْدُ : فإنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَىُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ..

Ibadallah,

Banyak nash-nash syariat dari Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menekankan untuk memperhatikan shalat subuh atau shalat fajar dan melarang dari bermalas-malasan dan meremehkannya. Allah Ta’ala berfirman,

أَقِمِ الصَّلاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Baqarah: 78).

Dalam hadits dijelaskan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ

“Para malaikat malam dan malaikat siang silih berganti mendatangi kalian. Dan mereka berkumpul saat shalat subuh dan ashar. Kemudian malaikat yang menjaga kalian naik ke atas hingga Allah Ta’ala bertanya kepada mereka -dan Allah lebih mengetahui keadaan mereka (para hamba-Nya)-, “Dalam keadaan bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaKu?” Para malaikat menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sedang mendirikan shalat. Begitu juga saat kami mendatangi mereka, mereka sedang mendirikan shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lainnya,

وعن أبي هُرَيْرَةَ قَالَ:سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تَفْضُلُ صَلَاةُ الْجَمِيعِ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ وَحْدَهُ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ{ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Shalat berjama’ah lebih utama dibanding shalatnya salah seorang dari kalian dengan sendirian dengan dua puluh lima bagian. Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” Abu Hurairah kemudian berkata, “Jika mau silakan baca, “Sesungguhnya bacaan (shalat) fajar disaksikan (oleh para malaikat).” (QS. Al Israa: 78). (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Alangkah rugi dan rugi, orang-orang yang terhalang dari disebutkannya perihal mereka di hadapan Allah, Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Ayyuhal muslim,

Waspadalah! Jangan sampai kita disifati dengan sifatnya orang-orang munafik yaitu mereka merasa berat untuk mengerjakan shalat subuh.

فعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ صَلَاةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنْ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat subuh dan shalat isya. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang munafik itu mengerjakan shalat, akan tetapi mereka berat dalam mengerjakannya. Lalu bagaimana keadaan orang-orang yang tidak mengerjakannya?! Wal’iyadzubillah. Bagaimana pula orang-orang yang mengerjakan shalat subuh, namun keluar dari waktunya. Barangsiapa yang dengan sengaja mengerjakan shalat di luar waktunya, maka shalatnya tertolak berdasarkan hadits,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ اَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan dari urusan kami, maka ia tertolak.”

Mengerjakan shalat di luar waktu bukan termasuk dari perkara yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wahai orang-orang yang bangun pagi hanya karena untuk datang ke tempat kerja atau pergi ke sekolah, namun ia meninggalkan shalat subuh, tidakkah Anda takut termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Sesungguhnya perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka dia telah kafir.”

Waspadalah wahai hamba Allah dan bersegeralah untuk bertaubat karena permasalahan ini adalah permasalahan yang serius, permasalahan yang besar bukan permasalahan remeh.

Yang aneh adalah seseorang terkadang memarahi anaknya kalau terlambat pergi ke sekolah atau tidak hadir di sekolah, namun ia tidak memarahi anaknya tatkala sang anak tidak melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid atau bahkan tidak shalat kecuali ketika matahari telah terbit.

Wahai para bapak, Anda khawatir dan takut kalau anak Anda tidak hadir di sekolah namun Anda tidak takut dari adzab Allah. Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla akan meminta pertanggung-jawaban keapdamu tentang shalat anakmu.

فعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ““Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Demikian juga pembantu-pembantu yang Anda pimpin di dalam rumah. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan laksanakanlah kewajiban yang dibebankan pada Anda.

Wahai orang-orang yang menjaga shalat subuh dengan berjamaah di masjid. Berbahagialah dengan kebaikan yang sangat banyak dan berbahagialah dengan terbebas dari neraka.

فعن عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ:سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا يَعْنِي الْفَجْرَ وَالْعَصْرَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ آنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ قَالَ الرَّجُلُ وَأَنَا أَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَتْهُ أُذُنَايَ وَوَعَاهُ قَلْبِي

Dari Umarah bin Ruwaibah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari dan shalat sebelum tenggelamnya matahari’. Yaitu shalat subuh dan shalat ashar”. Lalu ada seorang laki-laki dari penduduk Bashrah bertanya, “Apakah engkau mendengar hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Umarah menjawab, “Iya”. Laki-laki itu berkata, “(Jika demikian) Aku bersaksi bahwa kedua telingaku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hatiku memahaminya”. (Riwayat Muslim).

Wahai orang-orang yang mengerjakan shalat subuh dengan berjamaah di masjid, bergembiralah! Karena amalan yang Anda lakukan adalah di antara sebab terbesar yang menyebabkan Anda memperoleh kenikmatan yang paling utama yaitu melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memandang Allah Ta’ala adalah sebaik-baik kenikmatan yang akan didapatkan oleh penduduk surga. Tidak ada kenikmatan yang sebanding dengan kenikmatan memandang wajah Allah Ta’ala.

فعن جرير بن عبدالله قال كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا يَعْنِي الْعَصْرَ وَالْفَجْرَ ثُمَّ قَرَأَ جَرِيرٌ{ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata, “Kami dulu duduk disamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau memandang bulan purnama. Lalu beliau berkata : “Adapun kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan itu, kalian tidak saling berdesakan saat melihatnya. Jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan dari melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum tenggelamnya maka lakukan.” Yaitu shalat ashar dan subuh, lalu Jarir membaca : “Dan bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu sebelum terbitnya matahari dan sebelum tenggelamnya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Hadits ini adalah dalil bahwa menjaga shalat subuh dan shalat ashar adalah di antara sebab terbesar meraih kenikmatan memandang wajah Allah ‘Azza wa Jalla. Alangkah agung dan mulianya kenikmatan yang diperoleh orang yang menjaga shalat subuh dan shalat ashar ini. Bertemu dan memandang wajah Allah pada hari kiamat di dalam surganya yang penuh kenikmatan”.

Wahai orang-orang yang shalat subuh dengan berjamaah di masjid, berbahagialah dengan penjagaan Allah atas diri Anda.

فعن جُنْدَبَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قال(قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

Dari Jundub bin Abdullah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim).

Sabda beliau “jaminan Allah” maksudnya adalah berada dalam janji Allah berupa keamanan dan perlindungan dari-Nya. Apakah seorang muslim tidak ingin berada dalam perjanjian dengan Allah dan perlindungan dari-Nya?

Wahai orang-orang yang mengerjakan shalat subuh secara berjamaah di masjid, berbahagialah dengan kebaikan dan semangatnya jiwa raga di hari tersebut.

فعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ مَكَانَهَا عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقَدُهُ كُلُّهَا فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

“Setan membuat tiga simpul ikatan di tengkuk salah seorang dari kalian jika dia tidur. Setan menstempel atas setiap simpul ikatan pada tempatnya dengan ucapan, ‘Malammu masih panjang, tidurlah’. Jika dia bangun dan berdzikir kepada Allah c maka satu simpul ikatan tersebut terbuka. Jika dia berwudhu maka satu simpul ikatan tersebut terbuka. Jika dia shalat maka seluruh simpul ikatan tersebut terbuka, sehingga dia di pagi hari menjadi orang yang bersemangat, berjiwa baik. Jika tidak maka dia (di pagi hari) menjadi orang yang memiliki hati buruk dan malas.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Ayyuhal muslimun,

Sesungguhnya dua rakaat shalat sunnah fajar (shalat qabliyah subuh) itu lebih baik dari dunia dan seisinya. Bagaimana pendapat Anda dengan shalat subuhnya yang dikerjakan secara berjamaah?

عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dari Aisyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dua rakaat (shalat sunnah) fajar, lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فِي شَأْنِ الرَّكْعَتَيْنِ عِنْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ لَهُمَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا جَمِيعًا

“Untuk shalat dua rakaat ketika terbit fajar itu, lebih aku sukai daripada dunia seluruhnya.”

اللَّهُمَّ أعِنِّا عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ بِالقُرْآنِ وَالسُنَّةِ وَنَفَعْنَا بِمَا فِيْهُمَا مِنَ الذِّكْرِ وَالْحِكْمَةِ وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ إِنَّ رَبِّي غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الغَنِيُ الْحَمِيْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ:

Ibadallah,

Barangsiapa yang menaruh perhatian dan suka terhadap suatu perkara, maka ia  akan melakukan sebab-sebab agar  apa yang ia inginkan tercapai. Barangsiapa yang memilki perhatian dan keinginan meraih keutamaan shalat subuh, maka ia harus melakukan sebab-sebab yang membantunya untuk mendapatkan apa yang ia cita-citakan itu. Seperti tidur di awal waktu. Terlebih khusus lagi karena malam itu singkat. Ia juga berupaya dengan memasang alaram atau meminta tolong orang lain untuk membangunkannya.

Yang terpenting adalah seseorang berupaya dan melakukan usaha yang membantunya untuk bisa menunaikan shalat subuh secara berjamaah. Dan tidak ada penolong kecuali Allah. Meminta tolonglah kepada Allah, bersabar, dan bersungguh-sungguhlah.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69).

عباد الله{إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً}

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْأَرْبَعَةِ الْخُلَفَاءِ الْأَئِمَّةِ الْحُنَفَاءِ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَنَا بِشَرٍّ وَسُوْءٍ وَفِتْنَةٍ فَأَشْغِلْهُ فِي نَفْسِهِ وَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْرَهُ وَسَلَّطَ عَلَيْهِ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا، وَلِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِناَ، وَأَوْلَادِنَا وَأَزْوَاجِنَا، وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ (سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ*وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ*وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Fayiz Harbi

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/menjaga-shalat-subuh/feed/ 0
Lidah Tak Bertulang http://khotbahjumat.com/lidah-tak-bertulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lidah-tak-bertulang http://khotbahjumat.com/lidah-tak-bertulang/#comments Sat, 13 Sep 2014 07:51:33 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2852 Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ , وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا , مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ فِي السِرِّ وَالعَلَانِيَةِ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.

Ibadallah,

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang demikian besar. Ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk berbicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (al-Ahzab: 70)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim).

Ibadallah,

Lisan (lidah) memang tak bertulang. Sekali kita gerakkan, sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami-istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (HR. al-Bukhari).

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits ini teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik, yaitu pembicaraan yang telah jelas maslahatnya. Ketika dia meragukan maslahatnya, janganlah dia berbicara.”

Al-Imam asy-Syafi’i t mengatakan, “Apabila dia ingin berbicara hendaklah dipikirkan terlebih dahulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah. Jika ragu, janganlah dia berbicara hingga tampak maslahatnya.”

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, al-Imam an-Nawawi mengatakan, “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari segala pembicaraan, kecuali yang telah jelas maslahatnya. Bila berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menyeret pada pembicaraan yang haram atau dibenci. Hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.”

Ibadallah,

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah l yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:

1.    Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu: “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”

2.    Abu ad-Darda’ radhiallahu ‘anhu: “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang: orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”

3.    Al-Fudhail rahimahullah: “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”

4.    Sufyan ats-Tsauri rahimahullah: “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”

5.    Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah: “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”

6.    Abu Hatim rahimahullah: “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu. Jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya membuat dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”

7.    Yahya bin ‘Uqbah rahimahullah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata, ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan daripada lisan’.”

8.    Mu’arrif al-‘Ijli rahimahullah: “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak sepuluh tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu, wahai Abu al-Mu’tamir?” Mu’arrif menjawab, “Diam dari segala hal yang tidak berfaedah bagiku.”

(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhammad bin Hibban al-Busti, hlm. 37—42).

Mudah-mudahan kita semua diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk menjaga lisan kita dan tidak menyerahkan kita kepada diri kita sendiri walaupun hanya sesaat. Sesungguhnya Dialah yang Maha member taufik dan petunjuk.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ :

Ibadallah,

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:

1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah l dan Rasul-Nya.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.

Dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam, baik dengan perkataan maupun perbuatan.

3. Mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya (mulut/lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. al-Bukhari).

Dalam riwayat al-Imam at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya serta kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”

4. Allah Ta’ala akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ تَعَالَى مَا يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah l yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah  l mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. al-Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah ), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya, serta diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut.

هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)), وَقَالَ عَلَيْهِ الصَلَاةُ وَالسَلَامُ : ((رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ)) ، وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنَ البُخْلِ عَدَمُ الصَّلَاةِ وَالسَلَامِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ ذِكْرِهِ صلى الله عليه وسلم .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ .

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Diadaptasi dari tulisan Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah an-Nawawi
www.KhotbahJuma.com

]]>
http://khotbahjumat.com/lidah-tak-bertulang/feed/ 0
Pentingnya Persatuan Kaum Muslimin Di Masa Fitnah dan Ujian http://khotbahjumat.com/pentingnya-persatuan-kaum-muslimin-di-masa-fitnah-dan-ujian/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pentingnya-persatuan-kaum-muslimin-di-masa-fitnah-dan-ujian http://khotbahjumat.com/pentingnya-persatuan-kaum-muslimin-di-masa-fitnah-dan-ujian/#comments Sat, 13 Sep 2014 07:08:50 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2849 Khutbah Pertama :

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَ يَرَاهُ .
ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ :

Ibdallah,

Kaum muslimin diliputi oleh ujian-ujian yang berat, dikepung oleh berbagai macam fitnah, tidak ada yang bisa melindungi dari itu semua kecuali berlindung kepada Allah disertai dengan taubat yang tulus dan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah berfirman

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢)

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Tholaaq: 2).

Maka dengan mewujudkan ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah akan menghilangkan bencana dan petaka dari kaum muslimin, Allah akan menghindarkan kerusakan dan fitnah-fitnah dari mereka. Karenanya telah shahih dalam Shahih Muslim sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَالْهِجْرَةِ إِلَيَّ

“Ibadah di masa fitnah seperti berhijrah kepadaku.”

Saudara-saudaraku, dalam kondisi seperti ini, semakin ditekankan keharusan untuk berpegang teguh kepada pokok Islam yang agung, yaitu kewajiban untuk berkumpul dalam kebenaran, saling bekerja sama dalam kebaikan, dan bersatu dalam segala hal yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS Ali Imron : 103).

Sungguh di setiap masyarakat muslim kita sangat butuh agara menjadi cerminan terhadap bentuk yang diinginkan oleh Islam sebagaimana yang disifatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اثْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, saling lembut di antara mereka, seperti tubuh yang satu, jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh jasad akan ikut merasakan sakit sehingga begadang dan demam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Juga sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar.” (QS At-Taubah: 71).

Dan sesungguhnya termasuk dari bentuk penentangan terhadap maqoshid (tujuan) dan pengarahan Islami adalah terpecah belahnya kaum muslimin dan berselisihnya hati-hati mereka, serta saling menjauh arah mereka dengan perkara-perkara yang memalingkan mereka dari manhaj yang terang yang telah diperintahkan oleh Allah dalam firmanNya:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya.” (QS. Al-An’aam : 153).

Maka perpecahan adalah adzab/penderitaan dan kehancuran, perselisihan adalah kehinaan dan ketercelaan, serta pertikaian adalah kelemahan dan kerugian. Allah berfirman,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfaal: 46).

Maka tidak ada keselamatan bersama perpecahan, tidak ada keselamatan bersama tercerai berainya persatuan, serta tidak ada kejayaan dan ketinggian bersama hilangnya kasih sayang dan persaudaraan keimanan.

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.” (QS. Al-An’aam: 159).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ وَمَنْ أَرَادَ بِحَبْحَةِ الْجَنَّةِ فَعَلَيْهِ بِالْجَماعَةِ

“Hendaknya kalian melazimi jamaah (persatuan), dan berhati-hatilah dari perpecahan, sesungguhnya setan bersama seorang yang sendiri, dan setan lebih jauh dari dua orang. Barang siapa yang ingin pemberian surga maka hendaknya ia melazimi jamaah.” (Dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi)

Wahai para pemuda umat ini…

Kalian adalah tonggak umat ini dan generasi masa depan umat ini, karenanya kalian menjadi pusat perhatian untuk dijadikan target, maka berhati-hatilah terhadap seluruh jalan yang mengantarkan kepada perpecahan barisan, terkoyaknya persatuan, dan hancurnya bangunan. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunnah dan jamaah, jauhilah sikap menyendiri dan perpecahan. As-Syathibi rahimahullah berkata,

إِذَا ابْتَدَعُوْا تَجَادَلُوْا وَتَخَاصَمُوْا وَتَفَرَقُوْا وَكَانُوْا شِيَعًا

“Jika mereka berbuat bid’ah, maka mereka akan berdebat dan bermusuhan serta berpecah, maka merekapun berkelompok-kelompok.”

Syaikhul Islam berkata,

“Semua yang keluar dari seruan Islam dan Alquran baik berupa nasab atau negeri atau suku atau madzhab atau toriqoh maka merupakan seruan jahiliyah.”

Ketahuilah bahwasanya di antara sebab-sebab kesesatan dan faktor tergelincir dalam kesesatan adalah terjerumus dalam sikap terburu-buru dalam perkara yang sangat berbahaya, bencana yang besar, yang telah tergelincir padanya banyak penulis, dan tersesat padanya banyak orang dan karenanya pula terjatuh banyak kaum. Bahaya tersebut adalah bermudah-mudahan dalam mengkafirkan ahlul kiblat (kaum muslimin) dan para pengucap Laa ilaah illallah Muhammad Rasulullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا؛ إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang berkata kepada saudaranya “Wahai si kafir” maka perkataannya itu akan kembali kepada salah satu diantara keduanya, jika  memang saudaranya adalah kafir (maka tidak mengapa), akan tetapi jika ternyata saudaranya tidak kafir maka akan kembali kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Beliau juga bersabda,

مَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ

“Barang siapa yang menuduh seorang mukmin dengan kekafiran maka seperti telah membunuhnya.” (HR. Al-Bukhari).

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan umatnya dengan peringatan yang keras tentang hal ini, yaitu mudah mengkafirkan tanpa ada argument yang lebih terang daripada matahari, serta tanpa terikat dengan kaidah-kaidah Alquran dan As-Sunnah. Karenanya para ulama berkata, “Kesalahan dalam meninggalkan seribu orang kafir sehingga dibiarkan hidup masih lebih ringan daripada kesalahan dalam menumpahkan darah seorang muslim”

Wahai para pemuda Islam…

Sesungguhnya orang yang paling tulus kepadamu, yang paling ingin kebaikan bagimu, serta yang paling cinta kepadamu adalah kedua orang tuamu. Mereka mendahulukan kemaslahatanmu daripada kepentingan mereka berdua, mereka mengorbankan diri mereka demi engkau, maka teruslah berbakti kepada mereka berdua. Berjihadlah dalam menaati mereka, jadilah engkau orang yang lembut terhadap mereka, ta’at terhadap arahan mereka, mengambil faedah dari nasehat mereka. Sungguh mereka adalah orang yang paling tulus dalam menyampaikan nasehat dan pengarahan kepadamu, maka janganlah engkau menjauh dari mereka, dan janganlah engkau menyembunyikan perkaramu –baik yang kecil maupun besar- dari mereka.

Dengarlah nasehat ini yang mengantarkanmu ke surga dan mendatangkan keridoan Ar-Rahman, dan dalil-dalil tentang hal ini terlalu banyak.

Wahai para pemuda Islam…

Kalian adalah tiang umat ini setelah Allah, loloskan lah diri kalian dari keinginan musuh-musuh Islam yang menghendaki keburukan bagi umat ini serta merusak citra agama ini. Maka bentengilah diri kalian dengan ketakwaan kepada Allah. Gunakanlah akal dan hikmah, dan jangan terburu-buru, serta bersikap rahmat, kasih sayang dan kelembutan. Tunjukan kepada dunia ini akan keindahan Islam, berdakwalah kepada Allah dengan menampilkan akhlak Islami yang agung dan tunjukkanlah besarnya kasih sayang Islam serta keindahan-keindahannya yang tiada habisnya.

Kepada para ulama, para dai, dan para cendekiawan…

Wajib bagi kalian untuk mengarahkan para pemuda kepada apa yang bermanfaat bagi mereka di dunia dan di akhirat, dan berhati-hatilah kalian dari seluruh perkara yang bisa menyebabkan mereka (para pemuda) terjerumus kepada perkara yang buruk kesudahannya dan tidak diketahui ujungnya dan tidak sesuai dengan bentuk “Meraih kemaslahatan bagi umat dan menolak kerusakan dari umat”, sesuai dengan kaidah-kaidah syari’at. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ

“Sesungguhnya seorang hamba berkata dengan suatu perkataan yang mendatangkan kemurkaan Allah yang ia tidak memperdulikan perkataan tersebut maka menyebabkan ia jatuh dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari).

Mengamati pendapat-pendapat, perbuatan-perbuatan, serta tindakan-tindakan merupakan kaidah yang besar di sisi para ulama Islam, terutama di masa-masa munculnya fitnah  dan ujian. Betapa banyak fatwa tentang perkara-perkara kontemporer umat ini yang tidak ditelurkan dari hasil pembahasan yang matang, pengamatan terhadap hikmah dan tidak terburu-buru, akhirnya mengakibatkan fitnah yang membuta, menimbulkan beragam mala petaka. Maka dalam berfatwa membutuhkan adanya ketenangan, tidak tergesa-gesa, kecerdasan, ketelitian, dan ketajaman pandangan, terutama jika perasaan telah ikut menyala dan berkobar.

Wahai umat Islam…

Agungkanlah hak-hak persaudaraan Islam, jauhilah dari sikap mengganggu kaum muslimin dengan gangguan apapun, besar maupun kecil, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

يَآيُّهَا النَّاسُ إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Wahai manusia, sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan harga kalian adalah haram untuk kalian langgar, sebagaimana haramnya (terhormatnya) hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan negeri kalian ini.”

Wahai umat Islam…

Bertakwalah kalian kepada Allah dalam menjaga tali persaudaraan Islam, yang di mana pengarahan dan petunjuk Alquran dan nasehat-nasehat Nabi yang penuh rahmat adalah untuk melarang seluruh perkara yang bisa mengotori tali persaudaraan ini, mencegah sebab yang bisa memutuskan talinya. Hingga jadilah menjaga tali persaudaraan (ukhuwwah islamiyah) merupakan perkara yang sangat agung di sisi Nabi dan tujuan Nabi yang paling penting dalam kehidupan ini.

Dan di antara kaidah sunnah adalah :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga ia menghendaki bagi saudaranya apa yang ia suka untuk dirinya.”

Kaum muslimin sekalian…

Dengan hidup aman maka akan terwujudkan kehidupan yang baik, ketenangan pikiran, serta ketenteraman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa di antara kalian yang di pagi hari sehat tubuhnya, aman di rumahnya, dan di sisinya ada makanan untuk hari tersebut maka seakan-akan telah didatangkan baginya dunia.”

Maka wajib bagi anggota masyarakat Islam untuk bersatu dalam menolak bahaya dan kemudhorotan dari komunitas mereka. Hendaknya mereka menjadi satu shaf yang kokoh dalam mewujudkan sebab-sebab yang dengannya Allah menolak keburukan dan bahaya, serta timbulnya keamanan dan ketenteraman, serta mendatangkan kebahagiaan. Allah berfirman

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2).

بَارَكَ اللهُ لِي وَ لَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ . أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ،

Keamanan merupakan kenikmatan yang besar, dan hilangnya keamanan merupakan petaka yang besar. Maka wajib bagi kita seluruhnya untuk menjaga atas nikmat dan anugrah Allah ini. Yaitu dengan istiqomah di atas manhaj yang syar’i, dengan mewujudkan ketakwaan dalam segara urusan dalam kehidupan kita. Maka dengan demikian akan terwujudkanlah keamanan yang menyeluruh dari segala bahaya, dan ketenteraman yang sempurna yang selamat dari segala hal yang dibenci.

Allah berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (٨٢)

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’aam: 82).

Saudaraku sekalian…

Di antara amalan yang terbaik dan tersuci adalah bersholawat dan bersalam kepada Nabi yang termulia, Yaa Allah curahkanlah shalawat dan salamMu kepadanya dan keluarganya serta para sahabatnya.

Ya Allah perbaikilah kondisi kami keadaan kaum muslimin, Ya Allah hilangkanlah kesedihan, angkatlah penderitaan, Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu kaum muslimin dari segala fitnah dan bencana, Ya Allah hancurkanlah musuh-musuh kaum muslimin, sesungguhnya musuh-musuh tersebut tidaklah bisa melemahkanMu, Ya Allah jagalah saudara-saudara kami dimanapun mereka berada, Ya Allah jadilah Engkau Penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat. Ya Allah berilah taufiqMu kepada Khodimul Haramain (Pelayan dua kota suci yang mulia) kepada perkara yang Engkau cintai dan Ridho, Ya Allah tolonglah agama ini dengan sebabnya, tinggikanlah kekuatan kaum muslimin dengan sebabnya.

Ya Allah ampunilah kaum muslimin, kaum muslimat, baik yang hidup maupun yang telah meninggal, Ya Allah anugerahkan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksaan neraka.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنِ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ وَأَعِنْهُ عَلَى طَاعَتِكَ وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ قَوْلٍ سَدِيْدٍ وَعَمَلٍ رَشِيْدٍ .

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَ بَارَكَ وَأَنْعَمَ عَلَى عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Husain bin Abdil Aziz Alu As-Syaikh hafizohulloh (Imam Al-Masjid An-Nabawi dan Hakim di Pengadilan kota Madinah)

Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda

]]>
http://khotbahjumat.com/pentingnya-persatuan-kaum-muslimin-di-masa-fitnah-dan-ujian/feed/ 0
Keutamaan Bulan Dzul Hijjah http://khotbahjumat.com/keutamaan-bulan-dzul-hijjah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=keutamaan-bulan-dzul-hijjah http://khotbahjumat.com/keutamaan-bulan-dzul-hijjah/#comments Thu, 11 Sep 2014 06:43:10 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2846 Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَ يَرَاهُ .
ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ :

Beberapa hari kedepan kita akan menjumpai hari-hari yang keutamaan, 10 hari yang penuh keberkahan dan kebaikan, dan hari-hari yang paling mulia dan agung. Allah menjadikannya mulia dan melebihkan hari-hari tersebut dibanding hari lainnya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi waktu fajar dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2).

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dan selainnya mengatakan yang dimaksud 10 malam itu adalah 10 hari awal di bulan Dzul Hijjah.

Para ulama berbeda pendapat, manakah yang lebih utama? 10 hari awal di bulan Dzul Hijjah atau 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Dan ada pendapat yang menggabungkannya dengan menyatakan bahwa hari (baca: siang) yang terbaik adalah 10 hari awal di bulan Dzul Hijjah dan 10 malam yang terbaik adalah 10 malah di bulan Ramadhan. Dan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan terdapat 1 malam yang paling baik dari malam-malam yang lain, yakni malam lailatul qadr. Adapun pada 10 hari di awal bulan Dzul Hijjah terdapat siang yang paling utama, yakni siang hari Arafah.

Ibadallah,

Sebentar lagi, kita akan berjumpa pada hari-hari yang penuh keberkahan itu. Seorang muslim hendaknya bersemangat, memacu dirinya, untuk melakukan amal shaleh di 10 hari awal bulan Dzul Hijjah. Mengagungkan perintah-perintah Allah dan menjaganya dengan perhatian yang penuh. Jangan sampai ia lewatkan masa-masa utama dan penuh berkah ini berlalu sia-sia begitu saja.

Ibadallah,

Ada sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memotivasi kita untuk giat beramal shaleh di 10 hari awal bulan Dzul Hijjah ini. Dalam hadits tersebut beliau menjelaskan tentang betapa besarnya pahala yang dilakukan di saat-saat tersebut. Dari Abdullah bin Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي الْعَشْرِ الأول من ذي الحجة – قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”. (HR. Bukhari).

Ibadallah,

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tidak ada hari dimana amal shalih” sifatnya umum mencakup seluruh amalan shaleh apa saja. Tidak ada penekanan amalan tertentu. Karena itu, seorang hamba hendaknya perhatian terhadap 10 hari ini mengisinya dengan amalan apa saja yang bisa mensucikan dirinya dan merupakan ketaatan kepada Allah.

Sesuatu yang paling agung yang bisa seorang hamba kerjakan untuk bertaqarub kepada Allah adalah mengerjakan amalan shalat yang wajib. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

مَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun mencintainya. Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya.” (HR. Bukhari).

Di antara keistimewaan 10 hari ini yang lainnya adalah terkumpul padanya segala macam bentuk ibadah yang tidak ada pada hari-hari lainnya. Pada hari itu amalan shalat, zakat, berpuasa, dan haji ke Baitullah al-haram. Tidak mungkin ibadah-ibadah inti ini selain pada 10 hari ini.

Ibdallah,

Juga termasuk amalan utama untuk mengisi 10 hari ini adalah agar Allah melihatnya senantiasa dalam kebaikan. Bersegera dan bersemangat datang ke masjid menjawab panggilan adzan. Datang lebih awal akan membuat langkah menderap dengan tenang dan lebih menyiapkan hati dengan khusyu. Bisa diisi dengan membaca ayat-ayat Alquran dan memperbanyak istighfar. Kemudian sebelum mengerjakan shalat fardhu masih memiliki waktu untuk melaksanakan shalat sunnah. Memperbanyak tahlil, takbir, dan tahmid. Berkaitan amalan yang disunnahkan untuk didawamkan pada 10 hari awal Dzul Hijjah ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

“Perbanyaklah ucapan tahlil (laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar), dan tahmid (alhamdulilla) di hari-hari tersebut.” (HR. Ahamd).

Ibadallah,

Amalan lainnya yang disunnah untuk mengisi hari-hari ini juga dijelaskan oleh hadits dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِى الْجَنَّةَ. قَال: عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ

“Aku bertanya, wahai Rasulullah, ajarkanlah aku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke dalam surga.” Beliau bersabda, “Hendaknya engkau (memperbanyak) puasa, karena tidak ada yang semisal dengannya.” (HR. Ahmad).

Puasa adalah tameng yang mampu melindungi seorang hamba dari adzab Allah. Dan puasa juga mampu melindungi seseorang dari melakukan perbuatan maksiat dan dosa.

Ibadallah,

Islam juga mensyariatkan kepada seorang muslim untuk memperbanyak kebaikan, menyambung silaturahim, berbakti kepada kedua orang tua, dan amalan-amalan lainnya yang bisa diamalkan di hari-hari yang utama ini.

Seorang muslim juga bisa berkurban di hari yang disunnahkan untuk melakukan ibadah kurban. Seperti pada hari kesepuluhnya. Mengerjakan ibadah tersebut sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharap pahala yang ada di sisi-Nya. Jamaah haji beribadah di hari kesepuluh dengan menyerahkan diri mereka dan umat Islam di neger-negeri mereka mendekatkan diri kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan menyembelih hewan-hewan sembelihan.

Ibdallah,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah (masuk tanggal 1 Dzulhijjah) dan kalian ingin berqurban, maka janganlah memotong rambut dan kuku.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain,

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Apabila telah masuk 1 Dzulhijjah, dan salah seorang di antara kalin ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kulitnya sedikit pun juga.”

Ada riwayat yang lafadznya disampaikan dalam bentuk menahan diri, ada juga yang bentuknya larangan memotong rambut dan kuku. Sebuah larangan dapat dipahami maknanya menunjukkan keharaman dan sebuah perintah menunjukkan kewajiban. Karena itu, barangsiapa yang ingin menyembelih hewan kurban, tidak boleh baginya memotong rambut dan kuku ketika sudah masuk bulan Dzul Hijjah hingga hari kesepuluh.

Hukum ini khusus bagi mereka yang hendak berkurban saja. Adapun istri dan anak-anaknya atau orang-orang yang ia tanggung dan dimasukkan dalam kurban, maka tidak terkena kewajiban demikian. Para ulama mengatakan tentang hikmah dari syariat ini. Bagi kaum muslimin yang berhaji maupun yang tidak, tetap dalam keadaan senantiasa mengagungkan syiar-syiar Allah yang direfleksikan melalu ketaatan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Sambil berharap pahala yang ada di sisi-Nya dan takut akan adzab-Nya,

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32).

بَارَكَ اللهُ لِي وَ لَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ . أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ،

Ibdallah, ketahuilah sesungguhnya ibadah haji adalah salah satu dari kewajiban dan rukun di dalam agama Islam. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ ، وَحَجِّ البيت

“Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah.”

Haji hukumnya wajib bagi setiap muslim, seumur hidup sekali. Bagi mereka yang mengerjakannya lebih dari sekali, maka itu adalah sunnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَجُّ مَرَّةٌ فَمَا زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ

“Haji itu (diwajibkan) satu kali. Barangsiapa yang menambahnya, hukumnya sunnah.”

Bagi siapa saja yang belum menunaikan kewajiban ini, hendaknya ia bersegera melakukannya dan bergegas untuk menunaikannya, karena ia tidak tahu kapan ruhnya akan terpisah dari raganya.

Ibdallah,

Ibadah haji akan menghapuskan dosa-dosa dan membebaskan seseorang dari neraka. Allah Jalla wa ‘Ala akan membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka pada hari Arafah, dengan jumlah yang hanya Dia yang mengetahuinya. Dan alangkah banyak orang-orang yang Allah bebaskan dari neraka pada hari itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Tidak ada balasan lain yang lebih layak bagi haji yang mabrur kecuali surga.”

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ من ذنوبه كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yang berhaji lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.”

Ibdallah,

Barangsiapa yang mendapati pada dirinya keinginan untuk menunaikah ibadah haji, akan tetapi ia belum mampu melaksankannya karena ada sesuatu yang menghalanginya, maka mudah-mudahan baginya pahala atas niat kebaikan yang ada padanya.

Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar member taufik kepada kita untuk menaati-Nya dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. Kita juga memohon agar Dia memperbaiki keadaan kita dan menunjuki kita ke jalan yang lurus.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنِ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ وَأَعِنْهُ عَلَى طَاعَتِكَ وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ قَوْلٍ سَدِيْدٍ وَعَمَلٍ رَشِيْدٍ .

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا ، اَللَّهُمَّ اهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوْجَبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَشُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ . اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْباً سَلِيْماً وَلِسَاناً صَادِقاً ، وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَنَسْتَغْفِرُكَ اللَّهُمَّ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوْبِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ .

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَ بَارَكَ وَأَنْعَمَ عَلَى عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/keutamaan-bulan-dzul-hijjah/feed/ 0
Jadilah Muslim Yang Santun Lisannya dan Penuh Kasih Sayang http://khotbahjumat.com/jadilah-muslim-yang-santun-lisannya-dan-penuh-kasih-sayang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jadilah-muslim-yang-santun-lisannya-dan-penuh-kasih-sayang http://khotbahjumat.com/jadilah-muslim-yang-santun-lisannya-dan-penuh-kasih-sayang/#comments Thu, 11 Sep 2014 00:59:26 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2843 Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ , وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا , مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ فِي السِرِّ وَالعَلَانِيَةِ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ .

Ibadallah,

Agama Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kasih sayang. Nilai-nilai kasih sayang selalu dikedepankan Islam dalam perbuatan dan pergaulan di tengah lingkungan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang nabi yang penuh dengan kasih sayang. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

Umat Islam adalah umat yang saling berkasih sayang.

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

“…saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayanglah kalian.” (QS. Al-Balad: 17).

Ibadallah,

Kasih sayang Islam adalah sesuatu yang terpancar dan tanda yang tampak dari seorang muslim. Siapa yang keluar dari nilai-nilai kasih sayang, maka dia tengah merepresentasikan dirinya bukan merepresentasikan nilai-nilai Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi yang penuh dengan kasih sayang. Beliau bersabda,

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, sesungguhnya aku diutus hanya sebagai rahmat.”

Ibadallah,

Tukang laknat adalah mereka yang sering melaknat. Dari lisannya, rentetan kalimat buruk ini mengalir di setiap waktu dan kesempatan. Ini bukanlah sifat seorang muslim. Bukan juga dari nilai-nilai luhur yang didakwahkan Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang golongan yang paling tinggi kedudukannya dari umat ini, yakni golongan shiddiqin.

لَا يَنْبَغِي لِلصَّدِيقِ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak layak bagi seorang mukmin yang baik untuk menjadi tukang laknat.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan tentang seseorang mukmin yang luhur dan terhormat.

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Orang yang beriman itu bukanlah mereka yang suka mencela, suka melaknat, suka berbuat keji, dan yang kotor mulutnya.”

Apabila seseorang memiliki sifat suka mencela dan melaknat, maka pada hari kiamat kelak persaksian mereka tidak diterima dan mereka juga tidak mendapatkan syafaat di sisi Allah Jalla wa ‘Ala. Karena persaksian sebagai seorang yang beriman itu dibangun dengan menyebut orang beriman lainnya dengan sebutan yang baik dan indah. Demikian juga syafaat dibangun dengan adanya doa yang baik kepada sesama. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Orang yang banyak melaknat tidak akan diberi syafaat dan syahadatnya tidak akan diterima pada Hari Kiamat.”

Ibadallah,

Laknat adalah doa agar seseorang jauh dari kasih sayang Allah sedangkan Islam menyerukan untuk saling berkasih sayang, menyambung persaudaraan, saling mendoakan dalam keberkahan dan keselamatan. Syiar seorang muslim ketika mereka berjumpa adalah ‘Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh’. Namun ironis, ada seseorang yang senantiasa mengucapkan salam, tapi bersamaan dengan itu kata-kata laknat juga tidak kalah sering terlontar dari lisannya, na’udzubillah.

Ibadallah,

Laknat itu bukanlah sesuatu yang remeh dan ia juga merupakan sesuatu yang berbahaya. Laknat dan celaan yang paling parah, paling jelek, dan paling jahat adalah ketika seseorang lancang melaknat atau mencela Allahu Rabbul ‘alamin, atau ia melaknat dan mecela agama Islam, atau melaknat dan mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika seorang muslim melakukan yang demikian, maka ia menjadi murtad keluar dari agama Islam. Ia bukan lagi menjadi seorang muslim, bahkan ia menjadi seorang zindiq. Allah tidak akan menerima semua amal yang pernah ia kerjakan, baik yang wajib maupun yang sunnah. Inilah sejelek-jelek dan seburuk-buruknya bentuk kriminal dan kejahatan.

Ibadallah,

Termasuk juga kejahatan adalah seseorang melaknat dan mencela orang-orang mukmin yang terhormat. Seperti mencela tokoh agama, orang-orang shaleh, dan sebaik-baik umat yakni para sahabat Nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tanga-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian berinfak dengan emas sebesar bukit Uhud, tidak akan sama nilainya dengan infak salah seorang di antara mereka yang hanya satu mud (dua telapak tangan yang disatukan) atau hanya setengah mud.”

Kejahatan yang lebih besar lagi, apabila seseorang berani mencela tokoh-tokoh sahabat, seperti: Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar, Utsman, Ali, dan 6 sahabat ahli syura, atau mencela istri-istri Nabi. Banyak ulama yang menjatuhkan vonis bahwa perbuatan yang demikian adalah perbuatan kufur yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Para ulama melandasi pendapat mereka dengan sebuah ayat,

لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

“Allah hendak membuat jengkel hati orang-orang kafir (dengan orang-orang beriman yang bersama Rasul).” (QS. Al-Fath: 29).

Alangkah beraninya orang yang mencela dan melaknat para sahabat Nabi.

Ibadallah,

Seseorang mencela dan melaknat seorang muslim, juga merupakan perbuatan yang sangat berbahaya. Dalam sebuah hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ

“Melaknat seorang mukmin itu sama dengan membunuhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits yang lain beliau bersabda,

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْر

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.”

Ketika seseorang melaknat sesuatu, baik benda mati atau benda hidup, maka hal itu akan kembali kepadanya. Dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا صَعِدَتْ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ دُونَهَا ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الْأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا دُونَهَا ثُمَّ تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِي لُعِنَ فَإِنْ كَانَ لِذَلِكَ أَهْلًا وَإِلَّا رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا

“Sesungguhnya apabila seorang hamba melaknati sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, kemudia pintu-pintu langit ditutup tidak menerimanya. Setelah itu, ia turun kembali ke bumi, lalu pintu-pintu bumi pun ditutup tidak menerimanya. Selanjutnya ia pun menganmbil jalan menuju ke kanan dan ke kiri. Setelah tidak mendapatkan jalan tempuh, laknat itu kembali kepada yang dilaknati. Jika dia memang berhak dilaknati, maka terjadilah. Kalau tidak, maka laknat itu kepada orang yang mengucapkannya.” (HR. Abu Dawud).

Renungkanlah wahai hamba Allah, berapa kalikah kita sudah melaknat dan mencela seseorang. Tidaklah kita sering mencela dan melaknat seseorang kecuali hal itu akan kembali kepada diri kita sendiri.

Ibadallah,

Celaan dan laknat yang paling jelek dalam pergaulan manusia adalah celaan dan laknat mereka terhadap orang tua, baik hal itu dikarenakan masalah yang dipicu oleh orang tua atau celaan itu memang dirinya sendiri yang memulainya. Menjadi penyebab orang tua dicela saja sudah terlarang, apalagi memang terang-terangan mencela orang tua. Misalnya, seseorang mencela orang tua dari orang lain, lalu orang tersebut membalasnya dengan gantian mencela orang tuanya, hal ini sudah dianggap dia mencela orang tuanya sendiri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ

“Allah melaknat orang yang melaknat orang tuanya.”

Ibdallah,

Adapun celaan dan laknat pada suatu sifat yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, maka hal itu memang benar-benar tercela dan terlaknat. Seperti celaan dan laknat bagi mereka yang memakana harta hasil dari riba, baik sebagai wakil dari transaksi riba itu atau menjadi saksi, atau menjadi pencatatnya, atau hal-hal serupa dengan itu. Demikian juga laknat dan celaan kepada khamr dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Juga celaan bagi wanita yang menyambung rambutnya, atau menata giginya, atau mentato tubuhnya. Nabi juga mencela dan melaknat seorang laki-laki yang menyerupai wanita dan demikian juga sebaliknya wanita yang menyerupai laki-laki, dll. Nabi mencela sifat-sifat demikian, bukan person-person tertentu yang melakukan demikian.

Misalnya ada seseorang yang melakukan salah satu dari perbuatan di atas, yang pasti mendapat celaan dan laknat dari Nabi adalah perbuatannya. Adapun orang yang melakukannya belum tentu dia secara khusus mendapat celaan dan laknat dari Nabi. Bisa jadi dia telah bertaubat, atau bisa jadi dia memiliki alasan tertentu yang masih bisa ditoleransi syariat. Ketika seseorang bermudah-mudahan melaknat dan mencela seseorang dalam hal ini, maka bisa jadi hal itu kembali kepada dirinya.

Ulama membedakan melaknat secara umum dengan melaknat secara khusus kepada person tertentu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang-orang yang meminum khamr, yang menuangkannya, yang minta dibelikan dan membelikannya, dst. tapi pratiknya, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melaknat person tertentu yang berulang kali menenggak khamr.

Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati dan bertakwa kepada Allah. Kita takut akan kemarahan Allah dan siksa-Nya lantaran kita bermudah-mudahan mencela dan melaknat.

Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus dan jadikanlah kami orang-orang yang saling menyangi dengan kasih sayang yang telah dituntunkan oleh Islam. Kami memohon agar kami termasuk orang-orang yang meneladani Nabi yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam permasalahan ini. Lindungilah kami dari godaan setan, dan lindungilah kami dari kejelkan diri dan ama perbuatan kami.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ :

Sesungguhnya umat Islam adalah orang-orang yang berada pada agama yang lurus dan penuh berkah. Keadaan kaum muslimin sangat berbeda dengan keadaan orang-orang kafir yang merupakan ahlunnar. Allah menjelaskan tentang keadaan orang-orang kafir di dalam neraka dalam firman-Nya,

كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا

“Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (menyesatkannya).” (QS. Al-A’raf: 38).

Tidaklah demikian keadaan seorang yang beriman. Orang muslim dan mukmin adalah orang-orang yang saling berkasih sayang dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

“…saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayanglah kalian.” (QS. Al-Balad: 17).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal kecintaan, kasih sayang, dan bahu-membahu sesama mereka bak satu tubuh, bila ada anggota tubuh itu yang mendeita, niscaya anggota tubuh lainnya akan sama-sama merasakan susah tidur dan demam.” (Hr. Muslim).

Seorang muslim adalah mereka yang memiliki kasih sayang terhadap saudara muslim lainnya, berbuat baik kepada mereka, mendoakan mereka, dan memohonkan ampunan untuk mereka. Bukan malah mencela dan melaknatnya. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“…dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

Allah Ta’ala juga berfirman tentang orang-orang yang beriman,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Hasyr: 10).

Allah menyediakan pahala yang banyak dan mulia bagi orang-orang yang mudah memohonkan ampunan untuk saudaranya. Renungkanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً

“Barangsiapa yang meminta ampun untuk kaum beriman lelaki dan perempuan, maka niscaya Allah menuliskan baginya dengan setiap lelaki dan perempuan beriman satu kebaikan.” (HR. Thabrani).

Alangkah banyaknya pahala dari amalan demikian. Ketika seseorang berdoa,

اللهمّ اغفر للمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup atau yang telah tiada.”

Kebaikan kalimat ini sama dengan jumlah kaum muslimin sedari zaman Nabi Adam hingga zaman sekarang. Jumlahnya bukan seribu atau seratus ribu, jumlahnya miliyaran. Bayangkan dengan kalimat yang ringan dan ketulusan kita mendapatkan milyaran kebaikan.

Bertakwalah wahai hamba Allah. Kita nasihati diri kita, dan juga menasihati saudara-saudara kita yang lainnya dengan hal yang demikian. Hendaknya kita menjauhkan hati kita dari sifat dengki dan penuh benci. Sibukkanlah lisan kita dengan kalimat yang baik dan doa-doa yang indah. Dan kita memohon kepada Allah agar Dia memberi kita taufik kepada sesuatu yang Dia cintai dan ridhai, menolong kita dalam kebaikan dan ketakwaan. Sesunggunya Dia, Maha Mulia lagi Maha Terpuji.

هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)), وَقَالَ عَلَيْهِ الصَلَاةُ وَالسَلَامُ : ((رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ)) ، وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنَ البُخْلِ عَدَمُ الصَّلَاةِ وَالسَلَامِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ ذِكْرِهِ صلى الله عليه وسلم .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ .

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Oleh tim khotbahjumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/jadilah-muslim-yang-santun-lisannya-dan-penuh-kasih-sayang/feed/ 0
Islam Agama Yang Melindungi Kaum Perempuan http://khotbahjumat.com/islam-agama-yang-melindungi-kaum-perempuan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=islam-agama-yang-melindungi-kaum-perempuan http://khotbahjumat.com/islam-agama-yang-melindungi-kaum-perempuan/#comments Tue, 09 Sep 2014 10:10:34 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2839 Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ , وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا , مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ .

Ibadallah,

Di antara bentuk kesempurnaan dan kemuliaan agama Islam adalah memuliakan kaum perempuan, menjaga mereka, dan menjunjung tinggi kehormatan mereka. Kaum perempuan yang hidup di bawah naungan Islam akan diarahkan kepada adab-adab yang terhormat dan kehidupan yang penuh kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Kaum perempuan akan senantiasa menikmati kehidupan selama mereka memiliki pola hidup yang islami, menjaga syariat, memperhatikan hak-hak Islam dan kewajiban yang ada pada mereka.

Ibadallah,

Aturan-aturan Islam untuk wanita muslimah bukanlah aturan yang membebani mereka atau membuat mereka tidak merdeka, akan tetapi aturan tersebut adalah tata norma dan adab mulia yang menjadikan kaum perempuan terjaga kehormatannya di tengah pergaulan masyarakat. Apabila kaum perempuan meninggalkan adab dan akhlak islami ini, keutamaan dan kemuliaan pun akan pergi meninggalkan mereka. Mereka akan berhadapan dengan perkara-perkara hina dan rendah, dosa-dosa, dan hal-hal yang berbahaya.

Ibdallah,

Alangkah indahnya perempuan yang hidup dalam pemeliharaan Islam. Alangkah indahnya, kaum perempuan yang menjaga adab dan akhlak syariat. Mereka akan merasakan bahagianya hidup dan bahagianya berpegang pada norma-norma yang luhur.

Pada kessempatan kali ini, khotib hendak menyampaikan bagaimana Islam membimbing wanita muslimah:

Pertama: sesuatu yang paling asasi yang harus diperhatikan kaum perempuan adalah perhatian mereka terhadap ibadah kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

“…dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33).

Kedua: hendaknya kaum perempuan memperhatikan pakaian mereka. Mereka wajib untuk berbusana dengan busana seorang muslimah, mengenakan hijab dan menutup seluruh aurat mereka dari pandangan laki-laki. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعاً فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab: 33).

Ketiga: senantiasa berada di rumah jika tidak ada keperluan. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33).

Keempat: kaum perempuan hendaknya menjaga diri untuk tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Perbuatan ini bisa menimbulkan bahaya untuk dirinya, sehingga Allah tidak menghalalkan hal ini untuk mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Tidaklah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Dalam hadits lainnya Nabi menjelaskan ketika seseorang berduaan dengan perempuan, maka akan hadir setan menjadi yang ketiga.

Kelima: hendaknya kaum perempuan menjaga diri dari campur baur dengan laki-laki dalam satu forum atau perkumpulan. Karena campur baur yang demikian terbukti menumbuhkan benih-benih kejelekan. Potensi campur baur di masjid saja mendapat peringatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

خَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf perempuan adalah shaf yang paling akhir dan sejelek-jeleknya adalah shaf yang paling awal.”

Apabila shalat, Nabi memberi waktu bagi kaum perempuan untuk meninggalkan masjid sebelum laki-laki keluar dari masjid. Hal ini Nabi terapkan di masjid, bagaimana kiranya di tempat selain masjid?!

Keenam: hendaknya kaum perempuan tidak bersafar kecuali ditemani oleh mahramnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk safar sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahramnya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Ketujuh: wanita menjaga diri dari menampakkan perhiasannya dan memakai wewangian yang tercium oleh laki-laki asing. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An-Nur: 31).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

“Perempuan mana pun yang menggunakan parfum kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya, maka dia seorang pezina.”( HR. Ahmad).

Kedelapan: perempuan juga hendaknya tidak mendayu-dayukan suaranya ketika berbicara dengan laki-laki. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفاً

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32).

Kesembilan: sebagaimana laki-laki, perempuan juga diperintahkan untuk menundukkan pandangannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…” (QS. An-Nur: 31).

Ma’asyiral mukminin,

Inilah beberapa poin penting yang harus diperhatikan oleh kaum perempuan. Kesemua hal ini bersumber dari Alquran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya kita saling tolong-menolong dalam kebaikan, mendidik generasi perempuan yang utama dan mulia.

Bagi kaum perempuan, hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dalam menjaga diri mereka dan menjaga diri dalam lingkungan masyarakat. Hendaknya mereka memperhatikan perintah-perintah Rabb mereka dan wasiat-wasiat Nabi mereka, karena pada yang demikian itulah terdapat kemuliaan, kesuksesan, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ نِسَاءَنَا وَبَنَاتَنَا ، وَاهْدِنَا جَمِيْعاً إِلَيْكَ صِرَاطاً مُسْتَقِيْماً ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ شَرْعِكَ وَالْاِهْتِدَاءِ بِهَدْيِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، اَللَّهُمَّ حَبِّبْ لِنِسَائِنَا وَبَنَاتِنَا اَلتَّأَسِّيْ بِأُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ وَبِالصَّحَابِيَاتِ اَلْجَلِيْلَاتِ وَبِغَيْرِهِنَّ مِنَ النِّسَاءِ الفَاضِلَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ وَأَنْتَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَأَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ : اِتَّقُوْا اللهَ عِبَادَ اللهِ .

Ibadallah,

Wajib bagi kaum perempuan untuk mematuhi dan menjaga wasiat-wasiat Allah dan Rasul-Nya dengan kesungguhan yang nyata. Hendaklah mereka menyadari dengan penuh kesadaran bahwa mereka dihadapkan pada banyak hal yang bisa membahayakan agama mereka. Banyak orang-orang pembuat propaganda dan pecinta kebatilan yang menargetkan mereka dengan segala tipu daya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (QS. An-Nisa’: 27).

Berhati-hatilah wahai kaum perempuan dari orang-orang yang merayu Anda agar melakukan perbuatan rendahan dan merusak diri Anda. Jagalah adab dan akhlak Islam. Bergaya hiduplah denganya agar Anda mulia dan dihormati.

Perempuan yang cerdas adalah perempuan yang cita-cita kehidupannya adalah menaati Allah Jalla wa ‘Ala dan menghias diri dengan adab dan akhlak islami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Hendaknya kaum perempuan merenungi janji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini agar mereka kian bersemangat melaksakan apa yang telah Allah dan Rasul-Nya gariskan untuk mereka.

Hendaknya yang hadir di sini menjadi suami yang menyampaikan kepada istrinya, menjadi ayah yang menasihati putrinya, menjadi saudara laki-laki yang menyeru saudarinya kepada ketaatan dan akhlak yang mulia.

Semoga Allah Ta’ala meneguhkan kita semua dan juga wanita-wanita muslimah agar terus berpegang teguh dengan Alquran dan sunnah. Semoga Allah melindungi kita dan para wanita muslimah, dari godaan untuk melakukan sesuatu yang tercela dan hina.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ وَأَعِنْهُ عَلَى الْبِرِّ وَالتَقْوَى ، وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ محمد صلى الله عليه وسلم

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَةَ وَالغِنَى . اَللَّهُمّ آمِنْ رَوْعَاتَنَا وَاسْتُرْ عَوْرَاتَنَا، اَللَّهُمّ آمِنْ رَوْعَاتَنَا وَاسْتُرْ عَوْرَاتَنَا ، اَللَّهُمّ آمِنْ رَوْعَاتَنَا وَاسْتُرْ عَوْرَاتَنَا. اَللَّهُمَّ إِنَّ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ وَالأَهْوَاءِ وَالأَدْوَاءِ ، اَللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَّيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ .

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ وَأَنْعَمَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/islam-agama-yang-melindungi-kaum-perempuan/feed/ 0
Tafsir Surat Al-Ashr: Meraih Sukses Dunia dan Akhirat http://khotbahjumat.com/tafsir-surat-al-ashr-meraih-sukses-dunia-dan-akhirat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tafsir-surat-al-ashr-meraih-sukses-dunia-dan-akhirat http://khotbahjumat.com/tafsir-surat-al-ashr-meraih-sukses-dunia-dan-akhirat/#comments Mon, 08 Sep 2014 15:18:26 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2836 Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ ثَنَاءَ الذَّاكِرِيْنَ المُخْبِتِيْنَ ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى أَفْضَالِهِ العَظِيْمَةِ، وَأَشْكُرُهُ جَلَّ وَعَلَا عَلَى نِعَمِهِ الكَرِيْمَةِ ، أَحْمَدُهُ جَلَّ وَعَلَا عَلَى نِعَمِهِ الكُثَارِ وَآلَائِهِ الغِزَارِ وَعَطَائِهِ المِدْرَارِ ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ هُوَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامَ الشَّاكِرِيْنَ وَقُدْوَةِ المُوَحِّدِيْنَ وَأَفْضَلُ مَنْ قَامَ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِالشُّكْرِ وَالذِّكْرِ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنِ اتَّبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ .

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ ؛ فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هِيَ سَبِيْلُ الفَلَاحِ وَالْفَوْزُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَأَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ المُتَّقِيْنَ .

Ibdallah,

Kesuksesan adalah impian bagi setiap orang. Namun setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang kesuksesan. Ada yang mengartikan kesuksesan dengan banyaknya harta, karir yang cemerlang, pendidikan yang tinggi, dll. Perbedaan persepsi itu mengantarkan para pencari kesuksesan pada titian jalan yang berbeda pula untuk menjemputnya. Menariknya, Allah Ta’ala yang telah menciptakan manusia dan pola pikirnya, membuat sebuah pakem tentang arti kesuksesan hakiki, kesuksesan dalam kehidupan dunia dan akhirat, dan kesuksesan yang jauh dari kata rugi dan kegagalan. Jalan kesuksesan itu telah Allah firmankan dalam satu surat di dalam Alquran, yaitu surat al-Ashr.

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3).

Inilah arti sebuah kesuksesan yang hakiki yang diajarkan oleh Allah Ta’ala, yaitu beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Adapun kesuksesan yang dipahami dengan harta, karir, pendidikan, status sosial, atau hal-hal yang sifatnya duniawi lainnya adalah kesuksesan yang fana (temporary). Kesuksesan yang sifatnya bosan dan menjenuhkan. Hari ini orang menganggap itu kesuksesan, besok bisa jadi ia menjadi orang yang membantah keras kalau kesuksesan dimaknai demikian.

Allah Ta’ala mengawali ayat ini dengan sumpah-Nya, “Demi masa.”. Masa atau waktu adalah siang dan malam, tempat bergulirnya kehidupan manusia, dan tempat berturutnya aktifitas dan amalan mereka. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan bahwa manusia memiliki potensi merugi.

Syaikh Nashir as-Sa’di mengatakan, “Kerugian itu memiliki tingkatan: (1) Ada orang yang merugi secara total, yaitu mereka yang merugi di dunia dan akhirat. Tempat yang layak bagi mereka adalah neraka. (2) Ada orang yang merugi secara parsial. Rugi dalam beberapa hal saja dan sukses dalam hal lainnya. Karena itulah Allah generalisirkan bahwa setiap orang itu (berpotensi) mengalami kerugian, kecuali mereka yang beriman dan memahami apa yang mereka imani itu, beramal shaleh, menasihati dalam kebenaran (berdakwah), dan menasihati dalam kesabaran; sabar dalam mengerjakan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi takdir Allah. Dengan menyempurnakan empat hal ini seseorang akan mendapatkan kesuksesan (Tafsir as-Sa’di, Hal: 893).

Memahami Arti Iman

Ibdallah,

Secara bahasa iman artinya membenarkan. Secara istilah syariat iman adalah perkataan di lisan, keyakinan dalam hati, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang. Yang paling tinggi tingkatannya adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).

Selain menjelaskan tentang tingkatan keimanan, hadits ini juga menyiratkan bahwa keimanan itu terdiri dari tiga unsur. Iman itu dengan perkataan, sabda Nabi “perkataan laa ilaaha illallah”. Iman itu diwujudkan dengan perbuatan, sabda Nabi “menyingkirkan gangguan dari jalanan”. Dan iman itu adalah amalan hati, sebagaimana sabda Nabi “malu merupakan bagian dari iman”.

Tidak sempurna atau bahkan tidak sah keimanan seseorang kecuali dengan tiga unsur ini. Ketika keimanan hanya di hati dan anggota badan saja, maka seseorang tidak disebut sebagai orang yang beriman. Sebagaimana paman Nabi, Abu Thalib. Ia beramal menolong dakwah Nabi dan yakin dengan hatinya, tapi lisannya tidak pernah mengucapkan laa ilaaha illallah. Ia tetap mati dalam kekafiran.

Demikian juga ketika iman hanya pada amalan dan lisan saja, tidak juga menjadikan seseorang disebut beriman. Keadaan demikian adalah sifatnya orang-orang munafik. Mereka menunjukkan keimanan dalam perkataan dan perbuatan, tapi hati mereka terdapat kekufuran kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1).

Ibdallah,

Yang harus kita ketahui kemudian waspadai adalah keimanan juga bias batal lantaran seseorang yang beriman tadi melakukan hal-hal yang sangat bertentangan dengan keimanannya. Pembatal-pembatal keimanan itu telah Allah dan Rasul-Nya terangkan, baik dalam Alquran maupun hadits. Di antara pembatal keimanan adalah: Perbuatan syirik, menyekutukan Allah; Membenci sunnah Rasul, walaupun mengamalkannya; mengolok-olok Allah, Rasul-Nya, dan ayat-ayat-Nya; sihir, menolong orang kafir untuk memerangi umat Islam; meyakini bolehnya keluar dari syariat Allah, dll.

Hal-hal ini harus kita jauhi, kita pelajari seperti apa rinciannya. Jangan sampai kita berstatus Islam di hadapan manusia, namun di hadapan Allah kita telah keluar dari batas-batas keislaman, na’udzubillah.

Dengan demikian, keimanan yang bermanfaat adalah keimanan yang didasari dengan ilmu tentang keimanan itu sendiri.

Amal Shaleh

Poin kedua, agar seseorang mendapatkan kesuksesan setelah ia beriman adalah dengan beramal shaleh. Amalan ketaatan atau amal shaleh adalah bukti dari keimanan. Syarat suatu perbuatan dikatakan amal shaleh ialah jika ia dikerjakan ikhlas berharap apa yang ada di sisi Allah dan sesuai dengan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa dua hal ini menjadi syarat suatu perbuatan dikatakan amal shaleh?

Salah satu fungsi utama diutusnya nabi dan rasul adalah agar manusia beribadah kepada Allah sesuai dengan yang diajarkan oleh para nabi dan rasul tersebut. Para nabi dan rasul menjadi penyambung Allah bagi manusia. Allah wahyukan kepada mereka sesuatu yang Dia kehendaki agar para nabi dan rasul memberitahukan bahwa Allah memerintahkan yang demikian dan melarang yang demikian. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Kemudian setelah amalan itu benar sesuai dengan contoh Nabi dan Rasul. Allah hanya menerima amalan yang hanya dikerjakan ikhlas karena-Nya. Bukan berharap pujian dan sanjungan. Bukan berharap kemuliaan dan kedudukan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas (memurnikan) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Berwasiat Akan Kebenaran

Ibdallah,

Manusia terbaik di muka bumi ini adalah para nabi dan rasul serta orang-orang yang mengikuti mereka. Karena mereka adalah manusia yang terbaik, jalan hidup mereka pun adalah jalan hidup yang terbaik. Apa jalan hidup mereka? Jalan hidup mereka adalah mengajak orang pada kebenaran atau kita kenal dengan istilah dakwah. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat: 33).

Dakwah tidak melulu diartikan dengan seseorang harus ceramah di atas mimbar, mengisi majelis pengajian, beratribut surban, dan duduk di masjid, tidak demikian. Setiap orang bisa menjadi agen-agen Islam dengan profesi mereka masing-masing. Berakhlak dengan akhlak islami yang akan membuat orang simpati terhadap Islam bias dilakukan semua orang. Berkeyakinan dengan akidah Islam, pun bisa dilakukan setiap kalangan. Karena hal ini bisa dilakukan setiap orang dengan berbagai profesi dan kalangan, maka Allah katakana orang yang tidak mengerjakan hal ini, mereka adalah orang yang rugi dan tidak sukses.

Mudah-mudahan Allah menjadikan seseorang benar keimanannya, mengamalkan apa yang Dia kerjakan dan menjauhi apa yang Dia larang, serta menjadi penyeru-penyeru dalam kebaikan.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِيَ إِلَى رِضْوِانِهِ ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ .

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى

Berwasiat Akan Kesabaran

Ibdallah,

Setelah seseorang beriman, beramal shaleh, dan berdakwah, maka cobaan pasti akan didapat disela-sela mempraktikkan ketiga hal tersebut. Allah Ta’ala beriman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut: 1).

Mustahil seseorang yang pernah hidup, tapi ia luput dari ujian. Demikian pula halnya seseorang yang beriman, ujian keimanan pasti akan mereka dapatkan. Ketika kita benar-benar menyadari bahwa ujian itu adalah sesuatu yang pasti, baik kita meresponnya dengan kesabaran atau keluhan ujian tetap ada. Karena itu seseorang akan sangat merugi ketika ia mendapatkan ujian, ia tambah dengan keluh kesah dan amarah.

Begitu lengkapnya surat ini mengjarkan kepada kita, tidak heran Imam Syafi’i pernah mengatakan tentang surat ini:

لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلَّا هَذِهِ السُّوْرَةِ لَكَفَتْهُمْ

“Seandainya Allah hanya menurunkan surat ini saja sebagai hujjah buat makhlukNya, tanpa hujjah lain, sungguh telah cukup surat ini sebagai hujjah bagi mereka.”

Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada tentang kesuksesan hakiki. Setelah mengetahuinya, setiap orang bisa memilih dan ambil bagian di dalamnya. Allah bukakan kesempatan bagi manusia tanpa terkecuali. Mudah-mudahan Dia membimbing kita untuk meniti jalan kesuksesan hakiki ini, sukses dunia dan akhirat.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)), وَقَالَ عَلَيْهِ الصَلَاةُ وَالسَلَامُ : ((رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ)) ، وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنَ البُخْلِ عَدَمُ الصَّلَاةِ وَالسَلَامِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ ذِكْرِهِ صلى الله عليه وسلم .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ وَأَعِنْهُ عَلَى الْبِرِّ وَالتَقْوَى ، وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ محمد صلى الله عليه وسلم

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلَنَهُ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ .

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/tafsir-surat-al-ashr-meraih-sukses-dunia-dan-akhirat/feed/ 1
Penggugur-Penggugur Dosa http://khotbahjumat.com/penggugur-penggugur-dosa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penggugur-penggugur-dosa http://khotbahjumat.com/penggugur-penggugur-dosa/#comments Sat, 06 Sep 2014 16:14:20 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2833 Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ ثَنَاءَ الذَّاكِرِيْنَ المُخْبِتِيْنَ ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى أَفْضَالِهِ العَظِيْمَةِ، وَأَشْكُرُهُ جَلَّ وَعَلَا عَلَى نِعَمِهِ الكَرِيْمَةِ ، أَحْمَدُهُ جَلَّ وَعَلَا عَلَى نِعَمِهِ الكُثَارِ وَآلَائِهِ الغِزَارِ وَعَطَائِهِ المِدْرَارِ ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ هُوَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامَ الشَّاكِرِيْنَ وَقُدْوَةِ المُوَحِّدِيْنَ وَأَفْضَلُ مَنْ قَامَ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِالشُّكْرِ وَالذِّكْرِ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنِ اتَّبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ .

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ ؛ فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هِيَ سَبِيْلُ الفَلَاحِ وَالْفَوْزُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَأَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ المُتَّقِيْنَ .

Ibadallah,

Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan taatlah kepadaNya, sungguh ketakwaan adalah sebaik-baik amalan kalian dan sebaik-baik bekal kalian yang dengannya Allah menurunkan keridhoanNya kepada kalian, melindungi kalian dari adzabnya.

Wahai para hamba Allah, arahkanlah wajah-wajah kalian kepada penghapus dan penggugur dosa-dosa dan penutup aib kalian, barang siapa yang bertaqorrub kepada Allah maka Allah mendekat kepadanya, dan barang siapa yang berpaling dari Allah maka Allah akan berpaling darinya, dan dia tidak akan memberikan kemudorotan kecuali hanya kepada dirinya sendiri, ia sama sekali tidak akan memberikan kemudorotan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ ابنِ آدَمَ خَطَّاءُ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam senantiasa melakukan dosa, dan sebaik-baik para pendosa adalah mereka yang senantiasa bertaubat.” (HR, At-Tirmidzi dari hadits Anas radhiallahu ‘anhu).

Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللََّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, kalau seandainya kalian tidak berdosa maka Allah akan membinasakan kalian dan sungguh Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berdosa lalu mereka beristighfar kepada Allah lalu Allah mengampuni mereka,” (HR Muslim),

Allah telah menciptakan anak Adam dengan sifat ini, ia taat dan terkadang ia bermaksiat, ia beristiqomah akan tetapi terkadang tergelincir, ia ingat dan terkadang lupa, ia berbuat adil dan terkadang ia berbuat dzolim, dan tidak ada yang maksum kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada seluruh anak yang lahir dengan menjadikannya di atas fitroh –yaitu Islam-, maka barang siapa yang tetap di atasnya dan menerima apa yang dibawa oleh para rasul dan nabi ‘alaihimus salam maka ia telah mendapatkan hidayah/petunjuk, dan Allah menerima kebaikan-kebaikannya dan memaafkan kesalahan-kesalahannya. Dan barang siapa yang fitrohnya dirubah oleh syaitan manusia dan syaitan jin serta dirubah oleh hawa nafsunya, syahwatnya, bid’ah dan kesyirikan, maka ia telah tersesat dan merugi, dan Allah tidak menerima kebaikan-kebaikannya dan tidak akan menghapus keharaman-keharaman yang dilakukannya.

Dari Iyadh bin Ammar radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dan berkata ;

إِنَّ رَبِّي أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِي يَوْمِي هَذَا كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عَبْدًا حَلاَلٌ، وَإِنِّيْ خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ، فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوْا بِيْ مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا.

“Sesungguhnya Robku ‘Azza wa Jalla telah memerintahku untuk mengajarkan kepada kalian hal-hal yang tidak kalian ketahui dari hal-hal yang telah Allah ajarkan kepadaku pada hari ini, (yaitu) seluruh harta yang yang Aku berikan kepada seorang hamba adalah halal, dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hambaku seluruhnya dalam kondisi hanif (menuju kepada tauhid dan condong menjauh dari kesyirikan), dan sesungguhnya mereka didatangi oleh para syaitan lalu para syaitan menyesatkan mereka dari agama mereka, dan para syaitan mengharamkan apa yang aku halalkan bagi mereka, dan memerintahkan mereka untuk berbuat kesyirikan kepadaKu apa yang tidak aku turunkan dalilnya.” (HR. Muslim).

Maka barang siapa yang merubah fitrohnya yang telah diciptakan oleh Allah dengan kekufuran maka Allah tidak akan menerima kebaikannya dan tidak akan mengampuni kesalahannya jika ia meninggal dalam kondisi kafir. Allah berfirman

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (١٦١)خَالِدِينَ فِيهَا لا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلا هُمْ يُنْظَرُونَ (١٦٢)

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam Keadaan kafir, mereka itu mendapat la’nat Allah, Para Malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam la’nat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” (QS. Al-Baqoroh : 161-152).

Allah juga berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الأرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (٩١)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun Dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. bagi mereka Itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (QS. Ali Imron: 91).

Akan tetapi barang siapa yang menjaga fitrohnya yang Allah telah menciptakan manusia di atas fitroh tersebut, lalu mengikuti para nabi ‘alaihimus salam, dan nabi yang terakhir adalah pemimpin seluruh manusia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dialah yang Allah terima kebaikannya dan menggugurkan keburukan-keburukannya lalu memasukannya ke surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selamanya, dan itulah kemenangan yang besar.

Seorang muslim itulah yang Allah akan meliputinya dengan rahmatNya maka Allah menerima ketaatannya dan dengan taubatnya maka Allah menghapuskan dosa-dosa dan kesalahannya, lalu di akhirat Allah masukan ke dalam surgaNya.

Dan penggugur dosa banyak, dan pintu-pintu kebaikan terbuka, jalan-jalan kebaikan dimudahkan, maka beruntunglah orang yang menempuhnya dan beramal sholeh.

Penggugur dosa yang pertama adalah bertauhid kepada Allah, maka ikhlas dalam ibadah dan menjauhkan diri dari seluruh bentuk kesyirikan maka itu adalah pengumpul seluruh kebaikan di dunia dan di akhirat, serta pelindung dari seluruh keburukan. Dari Ubadah bin As-Shomit radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

“Barang siapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada syarikat bagiNya,  dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan rasulNya, dan Isa adalah hamba Allah dan RasulNya, dan kalimatNya yang Allah lemparkan ke rahim Maryam dan Isa adalah ruh dari ruh-ruh (ciptaan) Allah, dan bahwasanya surga adalah benar adanya dan neraka adalah benar adanya maka Allah akan memasukannya ke dalam surga bagaimanapun amalnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قال لي جبريا بشر أمتك أنه من مات لا يشرك بالله شيئا دخل الجنة

“Berilah kabar gembira bagi umatmu bahwasanya barang siapa yang meninggal dalam kondisi tidak berbuat syirik sama sekali kepada Allah maka ia masuk surge.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dari Ummu Hani’ radhiallahu ‘anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَقَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَا يَتْرُكُ ذَنْبًا، وَلَا يُشْبِهُهَا عَمَلٌ

“Dan perkataan Laa ilaah illallahu tidak membiarkan dosa dan tidak ada amalan yang menyerupainya.” (HR. Al-Haakim).

Dan diantara penggugur dosa adalah bertaubat kepada Allah, barang siapa yang bertaubat dari dosa apapun maka Allah menerima taubatnya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata :

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللّهُ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat maka Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim).

Dan Allah gembira dengan taubatnya seorang hamba dan Allah memperbesar pahalanya, Allah berfirman

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ (٢٥)

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syuroo : 25)

Dan wudhu yang dilakukan dengan ikhlas dan baik termasuk penggugur dosa. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ – أَوِ الْمُؤْمِنُ – فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ

“Jika seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu lalu ia membasuh wajahnya maka keluar dari wajahnya seluruh dosa yang merupakan buah dari pandangan kedua matanya bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir. Jika ia membasuh kedua tangannya maka keluar dari kedua tangannya seluruh dosa yang dilakukan oleh pukulan tangannya bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir. Jika ia membasuh kedua kakinya maka keluarlah seluruh dosa yang dilangkahkan oleh kedua kakinya bersama dengan air atau bersama tetesan air yang terakhir, hingga iapun keluar dalam kondisi bersih dari dosa-dosa.” (HR. Muslim).

Dan sholat merupakan penggugur dosa yang terbesar, dari Utsman radhiallahu ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّى صَلاَةً إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِى تَلِيهَا

“Tidaklah seorang lelaki muslim berwudhu lalu ia baguskan wudhunya lalu ia sholat kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang ada antaranya hingga sholat yang berikutnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إذَا اُجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ

“Sholat-sholat lima waktu, dan sholat jum’at hingga sholat jum’at, ramadhan hingga Ramadhan berikutnya adalah penggugur dosa yang ada diantaranya selam dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim).

Dari Utsman bahwasanya ia berwudhu lalu ia berkata :

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا وَقَالَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudu seperti wudhuku ini, lalu ia berkata : “Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini lalu ia sholat dua raka’at yang ia tidak mengajak jiwanya berbicara pada dua raka’at tersebut maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang yang mencium seorang wanita maka iapun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu iapun menceritakan dosanya tersebut maka turunlah firman Allah

وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (١١٤)

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud : 114).

Maka lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah apakah ayat ini untukku?”, maka Nabi berkata, “Untuk siapa yang mengamalkannya dari umatku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari Anas radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata :

إِنَّ لِلَّهِ مَلَكًا يُنَادِي عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ: يَا بَنِي آدَمَ، قُومُوا إِلَى نِيرَانِكُمْ الَّتِي أَوْقَدْتُمُوهَا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَأَطْفِئُوهَا بِالصَّلَاةِ

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang menyeru setiap kali sholat : “Wahai anak-anak Adam, bangulah kepada api yang kalian nyalakan untuk membakar diri kalian, lalu padamkanlah api tersebut dengan sholat.” (HR. At-Thobroni).

Haji dan Umroh juga menggugurkan dosa. Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا تَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذَّنُوبَ، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ

Teruslah melakukan haji dan umroh, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan karatan/kotoran besi, emas, dan perak.” (HR. An-Nasaai dan At-Tirimidzi dan ia berkata : Hadits Hasan Shahih).

Dan memohon ampunan dari Allah termasuk penggugur dosa, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ

“Seorang hamba melakukan dosa lalu ia berkata : “Ya Allah ampunilah dosaku”, maka Allah berkata : “Hambaku telah melakukan dosa maka ia tahu bahwasanya ia memiliki Rob yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa”, lalu sang hamba kembali lagi melakukan dosa lalu berkata : “Robku ampunilah dosaku”, maka Allah berkata ; “Hambaku melakukan dosa dan ia tahu bahwasanya ia memiliki Rob yang mengampuni dosa dan mengadzab karena dosa, lakukanlah apa yang kau inginkan sungguh Aku telah mengampuni dosa-dosamu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dari Anas radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata :

مَنْ قَالَ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثَلَاثَ مِرَارٍ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barang siapa yang sebelum sholat subuh pada hari jum’at berkata sebanyak tiga kali : “Astaghfirullah alladzi laa ilaah illaa Huwa wa atuubu ilaihi” maka akan diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. At-Thobroni).

Dari Bilal bin Yasaar bin Zaid ia berkata : Ayahku menyampaikan kepadaku dari kakekku bahwasanya ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَ لَهُ، وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ

“Barang siapa yang mengucapkan sebanyak tiga kali أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ, maka akan diampuni dosa-dosanya meskipun ia telah kabur dari medan pertempuran.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Dan seorang muslim yang memohonkan ampunan bagi saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya tersebut maka lebih cepat dikabulkan bagi yang mendoakan dan yang didoakan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ إِبْلِيسُ لِرَبِّهِ: بِعِزَّتِكَ وَجَلَالِكَ لَا أَبْرَحُ أُغْوِي بَنِي آدَمَ مَا دَامَتِ الْأَرْوَاحُ فِيهِمْ، فَقَالَ لَهُ رَبُّهُ: بِعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَبْرَحُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي

“Sesungguhnya Iblis berkata kepada Robnya ‘Azza wa Jalla, “Demi kemuliaanMu aku akan terus menggoda anak-anak Adam selama roh mereka masih bersama mereka. Maka Allah berkata : “Demi kemuliaanKu dan keagunganKu, Aku akan senantiasa mengampuni mereka selama mereka selalu memohon ampunan kepada-Ku.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la Al-Maushili, dan Al-Haakim, dan Al-Haakim berkata : sanadnya shahih)

Diantara penggugur dosa adalah bentuk-bentuk dzikir, diantaranya adalah subhaanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar, walaa haula walaa quwwata illa billah. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barang siapa yang berkata dalam sehari “Subhaanallahu wa bihamdihi” seratus kali maka gugur dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan sedekah termasuk penggugur dosa, dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

“Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. At-Tirimidzi).

Termasuk penggugur dosa adalah berbuat kebaikan kepada istri dan anak-anak putri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya, dan aku adalah yang terbaik bagi istriku.” (HR. At-Tirmidzi dari hadits Aisyah).

Dan dari Aisyah radhiallahu ‘anha ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ ابْتُلِيَ مِنْ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنْ النَّارِ

“Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak wanita, lalu ia berbuat baik kepada mereka maka mereka akan menjadi penghalang api neraka baginya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan yang semisal anak-anak wanita adalah saudari-saudari wanita, dan berbuat baik kepada makhluk Allah memperbesar pahala dan menolak keburukan-keburukan.

Termasuk penggugur dosa adalah memperbanyak kebaikan setelah melakukan keburukan dan berakhlak mulia. Dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu ia berkata ; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اِتَّقِ اللهَ حَيْثمُاَ كُنْتَ وَأَتبِْعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلقٍُ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah kapanpun dan dimanapun engkau berada, dan berbuatlah kebaikan setelah keburukan niscaya kebaikan tersebut akan menghapus keburukan tersebut, dan berakhlak yang mulialah kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi).

Wahai hamba muslim, semangatlah engkau untuk bersegera dalam melakukan kebajikan yang dimudahkan bagimu, dan janganlah engkau meremehkan kebaikan apapun, karena sesungguhnya engkau tidak tahu bisa jadi kebaikan yang sedikit ini dialah yang memasukan engkau ke surga. Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَه

“Tatkala ada seorang lelaki berjalan di suatu jalan ia mendapati ada tangkai pohon berduri di tengah jalan, maka iapun meminggirkannya maka Allahpun membalas jasanya, maka Allahpun mengampuninya.”

Dan juga dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِى كَانَ بَلَغَ مِنِّى. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِىَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ

“Tatkala seorang lelaki berjalan di suatu jalan iapun sangat kehausan, lalu ia mendapati sebuah sumur, maka iapun turun ke sumur tersebut lalu minum dan keluar dari sumur tersebut. Tiba-tiba ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat tanah karena kehausan. Maka sang lelaki berkata : “Sungguh anjing ini telah kehausan sebagaimana tadi aku kehausan”. Maka iapun turun kembali ke sumur lalu ia penuhi sepatunya dengan air, lalu ia memegang sepatu tersebut dengan mulutnya lalu ia memberi minum kepada anjing tersebut, maka Allahpun membalasnya, lalu mengampuni dosanya.”

Maka para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapatkan pahala pada hewan-hewan tersebut?”. Maka Nabi berkata : في كل كبد رطبة أجر  “Pada setiap yang memiliki hati yang basah (masih hidup) ada pahala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Diantara penggugur dosa adalah musibah-musibah yang menimpa seorang muslim jika ia bersabar menghadapinya dan mengharapkan pahala dan tidak marah. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah ada suatu musibahpun yang menimpa seorang muslim, baik keletihan atau sakit atau kesedihan atau kegelisahan atau gangguan atau gundah gulana bahkan duri yang menusuknya kecuali Allah akan menjadikan hal itu sebab untuk menghapus dosa-dosanya” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٨)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim : 8).

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِيَ إِلَى رِضْوِانِهِ ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ .

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى

Ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat. Wahai hamba-hamba Allah sebagaimana penggugur dosa itu banyak, maka dosa-dosa juga merupakan perkara yang besar tidak boleh diremehkan, baik itu dosa kecil maupun dosa besar, sesungguhnya setiap dosa ada pencatatnya dan ada penuntutnya dari Allah. Seorang muslim harus selalu berada diantara khouf (rasa takut) dan rojaa’ (pengharapan), karena merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga) merupakan tanda kehinaan dan kerugian. Allah berfirman :

فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (٩٩)

“Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’roof : 99).

Demikian pula berputus asa dari meraih rahmat Allah adalah kesesatan yang nyata. Allah berfirman ;

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٩٨)

“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya dan bahwa Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah : 98).

Bisa jadi kemaksiatan yang kecil di matamu merupakan sebab terjerumusnya engkau dalam kesengsaraan yang abadi, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhumaa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا، فَلَمْ تُطْعِمْهَا، وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ

“Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang diikatnya, tidak ia beri makan dan tidak pula ia lepas untuk mencari makan sendiri berupa serangga/binatang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhumaa ia berkata :

كان على ثقل النبي صلى الله عليه وسلم رجل يقال له كركرة فمات فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم هو في النار فذهبوا ينظرون إليه فوجدوا عباءة قد غلها

Ada seorang yang bekerja membawa barang-barang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang yang dikenal dengan Karkiroh, lalu orang itupun meninggal, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Ia di neraka”. Maka merekapun pergi dan melihat orang ini, maka mereka mendapati sebuah pakaian yang diambilnya dengan diam-diam (HR. Al-Bukhari).

Dan pada peperangan Khoibar ada beberapa orang dari sahabat melewati seseorang, lalu mereka berkata tentang orang tersebut ; “Si fulan mati syahid”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

كَلَّا إِنِّي رَأَيْتُهُ فِي النَّارِ فِي بُرْدَةٍ غَلَّهَا أَوْ عَبَاءَةٍ

“Tidak benar, aku telah melihatnya di neraka karena mengambil kain atau pakaian dengan curang” (HR Muslim dari hadits Umar radhiallahu ‘anhu)

Dan dalam sebuah hadits Nabi bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan sebuah perkataan yang diridhoi oleh Allah ia tidak menyangka perkataan tersebut mencapai apa yang dicapainya, maka Allah mengangkatnya beberapa derajat dengan sebab perkataan tersebut. Dan sesungguhnya seseorang berbicara dengan sebuah perkataan yang mendatangkan kemurkaan Allah yang ia tidak memperdulikan perkataan tersebut, ternyata ia terjatuh di neraka dengan sebab perkataan tersebut.” (HR. Al-Bukhari).

Dan yang paling berbahaya bagi seseorang adalah perbuatan dzolim dan permusuhan kepada orang lain, atau menghalangi hak-hak mereka. Keburukan yang paling buruk yang ada pada manusia adalah “pelit” untuk memberikan kebaikan dan menyakiti orang lain dengan keburukan-keburukan.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)), وَقَالَ عَلَيْهِ الصَلَاةُ وَالسَلَامُ : ((رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ)) ، وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنَ البُخْلِ عَدَمُ الصَّلَاةِ وَالسَلَامِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ ذِكْرِهِ صلى الله عليه وسلم .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلَنَهُ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ .

Diterjemahkan dari khotbah Syaikh Ali bin Abdirrohman Al-Hudzaifi hafizohulloh (Imam dan Khotib Masjid Nabawi)

Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda

]]>
http://khotbahjumat.com/penggugur-penggugur-dosa/feed/ 0