Khotbah Jumat - Khutbah Jum'at Terbaik http://khotbahjumat.com Kumpulan materi khutbah jum'at terbaik sesuai sunnah Thu, 31 Jul 2014 16:32:36 +0000 en hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.9.1 Melanggengkan Ketaatan Pasca Ramadhan http://khotbahjumat.com/melanggengkan-ketaatan-pasca-ramadhan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=melanggengkan-ketaatan-pasca-ramadhan http://khotbahjumat.com/melanggengkan-ketaatan-pasca-ramadhan/#comments Thu, 31 Jul 2014 16:32:36 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2762 Khutbah Pertama:

إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِوَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا .
أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ : أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ تَعَالَى فَإِنَّ العَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ .

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah sekalian. Takwa adalah wasiat bagi orang-orang yang pertama demikian manusia yang paling akhir kelak di akhir zaman. Takwa adalah sebab seseorang sukses, bahagia, menang, dan memperoleh keuntungan di dunia dan akhirat kelak. Takwa kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah amalan seorang hamba berdsarkan syariat yang ditetapkan Allah dengan berharap pahala dari-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah juga dengan bimbingan syariat-Nya disertai dengan perasaan takut akan siksa dari-Nya.

Ibadallah,

Telah kita lewati bersama sebuah masa yang penuh kemuliaan, suatu waktu dimana kita melihat banyak sekali orang-orang melakukan ketaatan, dan hari dimana orang-orang mengisinya dengan peribadatan. Dialah bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, yang hari-harinya penuh kemuliaan, dan malam-malamnya bertebar keutamaan.

Di bulan Ramadhan, orang-orang yang beriman bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan berlomba-lomba menuju pintu-pintu kebaikan. Sesungguhnya seorang mukmin merasa senang melihat orang-orang melaksanakan ketaatan dan berlomba-lomba di dalam beribadah, menegakkakn kebajikan di bulan yang agung tersebut.

Ibadallah,

Yang perlu diperhatikan seorang muslim adalah bahwasanya ibadah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan serta sesuatu yang Allah ridhai tidak hanya terhenti di bulan Ramadhan saja atau ketaatan tersebut tidak terbatas di waktu-waktu tertentu saja. Walaupun bulan Ramadhan telah usai, namun ibadah kepada Allah tidak mengenal berhenti. Walaupun hari-hari yang penuh keberkahan telah berlalu, amalan kebajikan tidak mengenal masa waktu.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Rabb-mu hingga ajal menjemputmu.” (al-Hijr: 99).

Yang dimaksud denga yakin dalam ayat di atas adalah kematian. Seorang muslim dituntut untuk tetap senantiasa dalam ketaatan dan continu dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga Allah mewafatkannya. Allah Berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).

Yaitu bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan berlomba-lombalah dalam mendapatkan ridha-Nya, hingga kalian wafat dalam keadaan demikian. Kita ketahui bersama, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan akhir perjalanan hidupnya dan kapan ajal datang menjemputnya. Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu bersiap diri untuk kematian yang datanganya tidak diketahui itu. Jadilah orang yang senantiasa menjaga dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan melaksanakan yang Allah Tabaraka wa Ta’ala perintahkan sesuai dengan kemampuan. Dan juga menjauhkan diri dari apa yang Allah larang dan haramkan.

Ibadallah,

Kita dapati sebagian orang ada yang sangat bersemangat beribadah ketika Ramadha, namun ketika Ramadha usai mereka berhenti dari ibadahnya atau mereka bermalas-malasan. Mereka tinggalkan pintu-pintu kebaikan seolah-olah ibadah itu hanya dituntut di bulan Ramadhan saja. Para salaf pernah ditanya tentang orang-orang yang keadaannya demikian, mereka menjawab,

بِئْسَ القَوْمُ لَا يَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلَّا فِي رَمَضَانَ

“Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, (karena) mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan.”

Ibadallah,

Sesungguhnya Rabb dari seluruh bulan adalah Rabb yang satu. Rabb nya bulan Syawal adalah Rabb nya bulan-bulan selainnya. Sebagaimana seseorang diwajibkan menaati Allah dan beribadah kepada-Nya di bulan Ramadhan, mereka juga diwajibkan untuk menjaga ketaatan kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Nya di setiap waktu selain Ramadhan. Di setiap bulan, setiap tahun, hingga Allah Tabaraka wa Ta’ala mewafatkannya dalam keadaan Dia ridha kepada hamba tersebut.

Inilah makna dari firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqomah…”

Yakni mereka istiqomah dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah, mereka terus berada dalam ruang-ruang kebaikan hingga Allah mewafatkan mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keuntungan, kebahagian, dan keberhasilan di dunia dan akhirat. Karena itulah, Allah Tabaraka wa Ta’ala menyebutkan keadaan mereka sebagai orang-orang yang mendapatkan perbendaharaan yang agung dan besar di dunia dan di akhirat.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (Al-Ahqaf: 13).

Allah juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 30-33).

Semua hal itu hanya dipertunkkan bagi mereka yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan senantiasa istiqomah dalam ketaatan kepada-Nya hingga maut menjemputnya. Saat ia wafat, Allah kabarkan bahwa para malaikat turun. Malaikat rahmat membawa kabar yang sangat menggembirakan dan menyambutnya dengan keberkahan dan kebaikan. Para malaikat itu turun kepada mereka sesaat sebelum wafat dengan memberikan kabar gembira tentang kehidupan setelah kematian mereka (alam barzah).

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا

“…maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih…”

Janganlah kalian takut dengan yang akan terjadi setelah kematian ini, karena balasan pahala yang besar telah kalian persiapkan sebelumnya dan ridha Allah telah kalian gapai. Jangan pula kalian bersedih tentang apa yang kalian tinggalkan, baik istri, anak-anak, karena Allah lah yang akan menjaga, melindungi, dan membimbing mereka dengan taufik dari-Nya. Mereka juga mendapat kabar gembira lainnya di saat wafat mereka,

أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ

“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga.”

Di saat wafat, Allah berikan mereka kabar gembira akan surga. Surga yang telah mereka upayakan dalam kehidupan dunia. Yang mereka telah bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya di hari-hari kehidupan dunia dengan beristiqomah dalam ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, saat mereka wafat Allah beri kabar gembira untuk mereka.

Tidak heran, banyak orang-orang yang menjaga ketaatan dan bersungguh-sungguh dalam istiqomah, tersenyum saat ajal menjemput mereka. Tampak di wajah mereka kebahagiaan dan kesenangan. Tampak hasil yang telah mereka upayakan di hari kematian mereka. sebuah kabar yang begitu menggembirakan dan sambutan yang begitu mulia di saat hari pertama mereka memasuki alam akhirat.

Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya agar mencatatkan kita termasuk orang yang akhir hayatnya dalam keadaan terpuji dan lurus. Dan kita memohon kepada-Nya taufik, pertolongan, dan keteguhan agar bisa memperolehnya.

Ibadallah,

Allah Tabaraka wa Ta’ala mewajibkan berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, namun ibadah puasa tidak hanya terdapat di bulan Ramadhan saja. Masih ada puasa-puasa sunnah. Di antara puasa sunnah yang paling agung adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian ia menyertainya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim).

Ibadallah,

Sungguh, puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan yang besar dan manfaat yang banyak. Di antaranya adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas taufik-Nya kita mampu menyelesaikan puasa di bulan Ramadhan. Menysukuri nikmat atas nikmat lain yang ia berikan setelahnya. Mensyukuri taufik dimbimbing menuju ketaatan dan ketaatan setelah Ramadhan tersebut. Oleh karena itu, dalam rangka syukur kepada Allah hendaknya kita bersegera menunaikan puasa enam hari di bulan Syawal.

Di antara hikmah dari puasa Syawal adalah bahwa puasa enam hari di bulan Syawal menetapkan adanya hal-hal sunnah setelah suatu kewajiban. Sebagaimana shalat fardhu yang setelahnya diikuti oleh shalat sunnah sebagai penutup dan penyempurna kekurangan yang ada pada shalat fardhu. Oleh karena itu, puasa enam hari di bulan Syawal merupakan sunnah yang memantapkan amalan kewajiban.

Tidak kita ragukan bahwa kita melakukan sedikit atau banyak hal-hal yang mengurangi puasa Ramadhan, maka hari-hari di bulan Syawal Allah siapkan untuk menyempurnakan dan menambal kekurangan puasa Ramadhan kita.

Di antara hikmah puasa Syawal juga adalah sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Seakan-akan berpuasa satu tahun”. Ketahuilah, pahala kebaikan itu Allah lipat-gandakan 10 kali lipat. Puasa Ramadhan satu bulan penuh senilai dengan puasa 10 bulan. Jika kita menambahnya dengan 6 hari di bulan Syawal, maka ia setara dengan 2 bulan. Jadi, jika digabung dengan puasa Ramadhan menjadi puasa selama 12 bulan atau satu tahun penuh.

Ibdallah,

Termasuk hikmah puasa enam hari di bulan Syawal adalah tanda di antara tanda-tanda diterimanya ketaatan. Karena tanda diterimanya amalan ketaatan kita dimudahkan untuk melakukan ibadah yang lain setelahnya. Kita semua berharap agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menerima amalan puasa dan shalat kita di bulan Ramadhan. Dan tanda diterimanya suatu amalan adalah seseorang menjadi semakin taat setelahnya. Jika kita merasa bahwa diri kita pemalas sebelum Ramadhan, tapi setelah Ramadhan kita semakin taat dan giat beribadah, itulah tanda kebaikan. Jika sebelum Ramadhan kita merasa baik, semestinya setelah Ramadhan menjadi lebih baik lagi. Itulah tanda-tadan diterimanya amalan kita.

Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menerima amalan kita semua; puasa, shalat, dan ibadah lainnya. Serta agar Dia memberikan kita taufik, menolong kita untuk istiqomah dalam ketaatan, menunjuki kita jalan yang lurus, dan melindungi kita dari seluruh hal yang buruk.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا ﴿ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴾

Ibadallah,

Sesungguhnya hari Id adalah hari kebahagian bagi orang-orang yang beriman. Mereka bergembira dengan nikmat Allah Tabaraka wa Ta’ala dengan taufik-Nya untuk menunaikan puasa dan shalat di bulan Ramadhan. Karena itu mereka memohon kepada Rabb mereka, keridhaan dan pengabulan.

Ibadallah,

Syukur kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah dengan pengakuan dan penetapan hati akan nikmat-Nya, lisan yang memuji nikmat tersebut, dan anggota badan yang digunakan untuk menaati-Nya. Pada kesempatan kali ini, khotib memperingatkan jangan jadikan hari-hari syukur tersebut, hari-hari Id kita, malah sebagai hari yang penuh dengan kegiatan menghambur-hamburkan, menyia-nyiakan, dan memubadzirkan harta. Atau menggunakannya bukan pada jalan yang benar dan jalan kebaikan.

Seperti kita lihat kemarin, baru saja tampak hilal Syawal, orang-orang langsung berbuat kerugian dengan menghambur-hamburkan hartanya dengan petasan dan kembang api. Dan para ulama telah menjelaskan tentang keharaman menggunakan harta untuk perbuatan demikian.

Pertama, terdapat perbuatan mubadzir, menyia-nyiakannya, dan menggunakannya bukan pada fungsi semestinya. Logika yang baik menimbang, seandainya seseorang diberikan uang Rp 50.000, lalu ia diperintahkan untuk membakar uang tersebut, pasti ia tidak akan mau melakukannya karena yang demikian bentuk kepandiran. Perbuatan seperti inilah yang hakikatnya digunakan oleh orang-orang yang bermain kembang api dan petasan.

Kita lihat banyak pemuda dan anak-anak menghabiskan uang yang banyak untuk membeli permainan seperti ini yang hanya menimbulkan kebisingan dan kegaduhan tanpa manfaat atau hasil yang jelas. Kita ingatkan mereka dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ – وذكر منها – وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba di hari kiamat kelak, hingga ia ditanya tentang empat hal –di antaranya- tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan.”

Seandainya anak-anak muda ini kita arahkan agar menggunakan harta mereka untuk sesuatu yang bermanfaat. Misalnya, masing-masing mengumpulkan Rp 20.000 dari uang yang mereka miliki tadi untuk membantu orang-orang yang miskin, memberi makan atau bahkan bisa untuk memperbaiki tempat tinggal mereka, atau membangun masjid yang akan digunakan oleh masyarakat suatu kampung shalat berjamaah, memberikan pakaian kepada orang yang papah, atau memberi makan orang-orang yang kelaparan. Tidakkah kita pantas mendermakan harta kita sebagai rasa syukur karena Allah telah memuliakan kita. Jangan malah digunakan untuk sesuatu yang sia-sia dan mubadzir.

Kedua, sebab diharamkannya perbuatan ini adalah karena terdapat bahaya dan mengganggu orang lain, sering kita dengar kembang api dan petasan ini bisa menghilangkan nyawa dan membakar sesuatu, dan keburukan-keburukan lainnya.

Karena itu ibadallah, kita harus memperingatkan anak-anak, kerabat, dan teman-teman kita akan mudharat yang terdapat dalam permainan demikian. Hendaknya kita menjaga harta kita dan menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah Jalla wa ‘Ala.

Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menganugerahkan keberkahan pada harta, umur, anak keturunan, dan semua keadaan kita. Kita juga memohon agar Dia member kita taufik menempuh jalan yang lurus.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ : ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ اَلَّذِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنِ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ . اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ ، اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ , اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ . اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا ، وَاجْعَلْ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَدَادَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَةَ وَالغِنَى ، رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/melanggengkan-ketaatan-pasca-ramadhan/feed/ 1
Hukum Seputar Zakat Fitrah http://khotbahjumat.com/hukum-seputar-zakat-fitrah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hukum-seputar-zakat-fitrah http://khotbahjumat.com/hukum-seputar-zakat-fitrah/#comments Thu, 24 Jul 2014 09:51:56 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2757 Khutbah Pertama:

إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أما بعد عباد الله

Ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah. Hiasilah diri dengan amalan yang dicintai dan diridhai oleh Allah, mudah-mudah kita mendapat rahmat-Nya. Jauhilah perkara yang dimurkai dan dibenci oleh-Nya, mudah-mudahan kita menjadi orang yang bertakwa.

Ibadallah,

Bulan Ramadhan ini telah sampai pada penghujungnya, telah berlalu malam-malam yang penuh fadhilah. Barangsiapa di antara kita yang telah berusaha mengisinya dengan kebaikan, maka hendaknya terus ia sempurnakan kebaikan tersebut. Barangsiapa yang bermalas-malasan di hari sebelumnya, maka hendaknya ia berusah mengakhiri Ramadhannya dengan amalan yang baik.

Ketahuilah wahai hamba Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kepada kita untuk menunaikan zakat fitri atau zakat fitrah sebagai penyempurna Ramadhan ini. Yang demikian ini diwajibkan kepada laki-laki dan perempuan, merdeka maupun budak, serta kepada anak kecil maupun mereka yang dewasa. Takaran zakat fitra adalah satu sha’ (1 sha’ = 4 mud. 1 mud = cakupan dua telapak tangan yang dirampatkan), kurma, kismis, atau gandum (dan makanan pokok lalinnya). Kita diperintahkan membayarkan zakat fitrah sebelum ditegakkannya shalat Id.

Dahulu para sahabat radhiallahu ‘anhum mereka menunaikan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum shalat Id. Karena itu sucikanlah puasa dengan suka rela mengeluarkan zakat fitrah, mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berharap pahala dengan mengamalkannya. Perbagus dan sempurnakan penunaiannya, pilihlah dari harta kita yang paling baik. Allah Ta’ala berfirman,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُوا مِمَّا تُحبُّونَ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92).

Janganlah kita keluarkan dari harta kita yang jelek dan yang masih syubhat. Belanjakanlah bahan-bahan pokok yang terbaik. Bagaimana kita bisa berlapang dada menyedekahkan barang-barang yang tidak kita sukai atau kurang kita sukai untuk dipersembahkan kepada Rabb kita.

Ibadallah,

Barangsiapa yang memahami hikmah disyariatkannya zakat fitrah, manfaat, hikmah-hikmah rahasia yang ada di dalamnya, dan pahala yang Allah janjikan, niscaya seseorang akan berusaha sekuat tenanga melakukan yang terbaik untuk menunaikan zakat fitrahnya. Ia tidak akan pelit dan berat untuk zakat fitrah. Karena Allah telah menetapkan untuknya kemenangan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkannya sebagai sebuah kewajiban yang agung karena keagungan manfaat dan maslahatnya.

Zakat fitrah termasuk salah satu di antara amalan utama yang mampu mendekatkankan seseorang kepada Allah. Zakat fitrah adalah penyuci bagi orang-orang yang berpuasa dari perbuatan ghuluw dan hal-hal yang mengundang syahwat. Ia juga merupakan penyempurna puasa dari hal-hal yang menguranginya.

Zakat fitrah juga bisa diartikan sebagai ekspresi dari rasa syukur akan taufik yang Allah berikan di bulan Ramadhan, penyuci hati dan akhlak. Dengan zakat fitrah, kaum fakir dan duafa jadi terbantu dan turut berbahagia. Sehingga tidak heran zakat fitrah dikatakan sebagai penyelamat agama dan fisik kemanusian.

Ibadallah,

Bagi kaum muslimin yang mampu menunaikan zakat fitrah, hendaknya mereka memuji Allah atas karunia yang Dia berikan kepada mereka. ia patut bersyukur Allah jadikan sebagai seseorang yang tangannya berada di atas.

Ibadallah,

Seseorang diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah untuk orang-orang yang berada dalam tanggungannya; istri, anak, dan pembantu. Mereka yang berada dalam tanggungan ini juga tidak lupa mendoakan sang kepala keluarga. Karena apa? Karena kepala keluarganya telah menanggung kewajiban yang Allah bebankan untuknya, mensucikan badannya, jiwanya, dan akhlaknya serta menyempurnakan puasa dan Islamnya. Hendaknya mereka berterima kasih dan mendoakannya.

Ibadallah,

Hendaknya kita juga berhati-hati agar tidak memberikan zakat kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Barangsiapa yang tahu bahwa orang yang ia beri tersebut adalah orang yang pura-pura tidak mampu, maka ia belumlah menunaikan zakatnya. Karena yang demikian ini tidak diperbolehkan. Wajib juga mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok, bukan dalam bentuk uang.

Barangsiapa yang menunaikan zakat fitrah sebelum waktu shalat Id, maka itulah zakat fitrah yang diterima. Adapun mereka yang membayarkannya setelah shalat Id ditegakkan, maka yang demikian dianggap sebagai sedekah biasa. Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى(15) بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 14-17)

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم .
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا . أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى .
أما بعد عباد الله :

Di akhir atau setelah bulan Ramadhan berakhir Allah Tabaraka wa Ta’ala mensyariatkan kepada hamba-Nya untuk bertakbir, bersyukur atas karunia dan fadhila puasa dan shalat di malam harinya serta berbagai macam amalan ketaatan lainnya yang ia berikan taufik kita untuk mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ibadallah,

Lafadz takbir yang disunnahkan untuk diucapkan oleh kaum muslimin di malam hari raya Id adalah

الله أكبر ، الله أكبر ، لا إله إلا الله ، الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Takbir tersebut diucapkan hingga keesokan paginya, saat pergi dari rumah menuju tempat shalat sampai mulai ditegakkanya shalat Id,

Dalam pengucapannya diajurkan secara per orangan. Adapun diucapkan secara berjamaah baik di masjid atau di tempat lainnya, hal ini tidaklah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Kewajiban kita adalah mengikuti sunnah. Meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibadallah,

Akhirnya kami sampaikan bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang menundukkan keinginan hawa nafsunya agar beramalam untuk kehidupan setelah kematian. Dan orang yang lemah adalah mereka yang mengikuti hawa nafsunya dan tertipu oleh panjanganya angan-angan.

وَاعْلَمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – أَنَّ الْكَيِّسَ مِنْ عِبَادِ اللهِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ ، وَالعَاجِزَ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانِي . وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ : ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ اَلَّذِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنِ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا . اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الُهدَى وَالتُّقَى وَالعَفَةَ وَالغِنَى . اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعْنَا  وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا ، وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا .

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوُهْ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Oleh tim khotbahjumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/hukum-seputar-zakat-fitrah/feed/ 0
Tunaikanlah Zakat Harta Kalian http://khotbahjumat.com/tunaikanlah-zakat-harta-kalian/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tunaikanlah-zakat-harta-kalian http://khotbahjumat.com/tunaikanlah-zakat-harta-kalian/#comments Sun, 20 Jul 2014 14:26:28 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2753 Khutbah Pertama :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَى، وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدَى، وَالَّذِيْ أَخْرَجَ المَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى، رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكِهِ وَمُدَبِّرِهِ وَمُصَرِّفِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيْهَ وَلَا نَظِيْرَ وَلَا مَثِيْلَ، وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ بَيْنَ يَدَيَّ السَّاعَةِ بِالْحَقِّ لِيَكُوْنَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَهِدَايَةً لِلْغَاوِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى المُعَانِدِيْنَ، فَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنِ، وَعَلى المُقْتَدِيْنَ بِهِ وَبِهِمْ إِلَى يَوْمِ الجَزَاءِ وَالمَصِيْرِ.
أَمَّا بَعْدُ،:

Bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan kebaikan-kebaikan, dan meninggalkan dosa-dosa…

Kaum muslimin sekalian…

Ketahuilah bahwa ajaran-ajaran agama Islam yang hanif ini semuanya kembali kepada tiga perkara, yaitu : berbuat baik kepada diri sendiri, berbuat baik kepada orang lain serta menahan gangguan dan kejelekan kepada orang lain, Allah Ta’ala berfirman :

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya : dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (QS.Al-Baqarah : 195).

Allah juga berfirman :

وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Artinya : dan janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(QS.Al-Baqarah : 190).

Allah ‘Aza wa jalla juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.(QS.An-Nahl : 90).

Dan Allah mensifati orang-orang beriman bahwasanya mereka selalu berbuat kebaikan kepada diri mereka sendiri dan kepada orang lain, juga mereka selalu menahan dari gangguan dan dari berbuat jahat kepada orang lain, Allah Ta’ala berfirman :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS.At-Taubat : 71).

Allah Ta’ala juga berfirman :

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya : dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.(QS.Al-Furqan : 63).

Hamba Allah sekalian…

Sesungguhnya zakat adalah ibadah kepada Allah, yang Allah tetapkan pada harta sebagai hak yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim  untuk delapan kelompok yang berhak menerima zakat yang tidak ada pada zakat tersebut rasa minnah pada orang kaya terhadap orang miskin, yang Allah wajibkan untuk saling membantu antara kaum muslimin, dan juga Allah wajibkan  untuk menutup kebutuhan orang fakir dan miskin, padanya terdapat manfaat yang banyak,  dan tujuan-tujuan yang agung, diantaranya : membersihkan hati dari sifat kikir, bakhil, dan sifat2 jelek yang lain, Allah Ta’ala berfirman :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ

Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.(QS.At-Taubah : 103).

Menunaikan zakat dapat membersihkan dari penyakit hasad di hati yang disebabkan oleh berlebih-lebihan dalam hal dunia, dan hasad adalah penyakit yang buruk, yang membawa seseorang kepada perbuatan melampaui batas, permusuhan, perbuatan dzalim, dan saling membenci antara anggota masyarakat, dalam hadits disebutkan : “telah menjangkiti kalian penyakit ummat-ummat sebelum kalian, hasad dan saling membenci, maka jauhilah hasad karena sesungguhnya ia memakan kebaikan seperti api yang memakan kayu bakar”.(HR.Abu Dawud).

Juga menunaikan zakat akan mewariskan sifat saling mengasihi dan menyayangi antara kaum muslimin dan akan menjamin takaful sosial dan rasa cinta antara si kaya dan si miskin, dan zakat merupakan rukun dari rukun-rukun Islam yang selalu berbarengan dengan perintah shalat  di dalam Alquran dan hadits-hadits Rasulullah yang tidak diterima ibadah zakat kecuali dengan mengerjakan ibadah shalat, dan Allah telah memberikan harta yang banyak dan mewajibkan zakat pada harta yang sedikit, Allah Ta’ala berfirman :

وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَى وَأَقْنَى

Artinya : dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.(QS.An-Najm : 48).

Allah Ta’ala juga berfirman :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Artinya : Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).(QS.An-Nahl : 53).

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman :

وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

Artinya : Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepada kalian apa yang kalian ketahui. Dia telah menganugerahkan kepada kalian binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air.(QS.As-Syu’ara : 132-134).

Allah Ta’ala juga berfirman :

وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ

Artinya : dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepada kalian.(QS.An-nur : 33).

Dan diantara bentuk kesyukuran kepada Allah atas nikmat harta adalah dengan mengeluarkan zakatnya, dan zakat akan menambah harta dan tidak menguranginya dan juga akan menjaganya dari kehancuran, Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya : Dan barang apa saja yang kalian nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.(QS.Saba’ : 39).

Dalam hadits juga disebutkan : tidak binasa harta di darat dan di laut kecuali disebabkan karena tidak dikeluarkan zakatnya.

Dari sahabat Ibnu Umar radiallahu ‘anhuma berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam : dan tidaklah suatu kaum enggan menunaikan zakat harta mereka kecuali akan dihalangi dari mereka hujan dari langit, kalau seandainya bukan karena binatang ternak tentulah tidak akan turun hujan untuk mereka.(HR.Ibnu Majah).

Dan orang-orang miskin akan mendebat orang-orang kaya pada hari kiamat jika mereka tidak membayarkan zakat kepada mereka, mereka akan berkata : wahai Tuhan kami…engkau telah memberikan mereka harta, akan tetapi mereka tidak memberikan hak kami, maka  Allah memutuskan diantara mereka dengan keputusannya, dan Allah telah menjanjikan bagi orang yang mengeluarkan zakat pahala yang besar. Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

Artinya : dan orang-orang yang menunaikan zakat.(QS.Al-Mu’minun : 4).

Kemudian Allah menyebutkan bersama zakat amalan-amalan lain dan menjelaskan ganjarannya dengan firmanNya :

أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)

Artinya : Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya(QS.Al-Mu’minun : 10-11).

Allah Ta’ala juga berfirman :

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik, Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.(QS.Adz-Dzariyat 15-19).

juga Allah mengancam orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat dari harta mereka dengan adzab yang pedih, Allah Ta’ala berfirman :

وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ (6) الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ (7)

Artinya : Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.(QS.Fusshilat :6-7).

Allah Ta’ala juga berfirman ;

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35)

Artinya : Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kalian simpan itu”.(QS.At-Taubah 34-35).

Dan dari sahabat Abu Hurairah radiallah ‘anhu berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam : tidak ada pemilik harta simpanan yang tidak ditunaikan zakatnya kecuali akan diwujudkan untuknya pada hari kiamat nanti dalam bentuk  ular jantan yang menggigitnya dengan dua taringnya sembari mengatakan aku adalah harta simpananmu, aku adalah hartamu.(HR.Bukhari dan Muslim).

Dan pemilik onta, sapi, dan kambing yang pemiliknya tidak menunaikan zakatnya, maka akan dilemparkan ke mukanya dan hewan tersebut akan menginjaknya sebagaimana yang tertera dalam hadits di sahih muslim, dan juga wajib dikeluarkan zakat dari emas dan perak dan yang menggantikan kegunaannya dari uang kertas jika keduanya telah sampai batas nishab atau sampai nishab jika keduanya digabung, zakat juga wajib pada onta, sapi dan kambing jika mencapai nishab, zakat juga wajib pada barang tambang dan barang dagangan dengan cara dinilai dan dikeluarkan darinya seperdua puluh atau 2,5 %, dan barang siapa yang mempunyai utang hendaklah ia melunasi utangnya dan sisa dari hartanya ia keluarkan zakatnya, dan jika ia tidak membayar utangnya maka ia mengeluarkan zakat dari apa yang ada di tangannya, dan nishab emas adalah dua puluh dinar, dan nishab perak dua ratus dirham atau yang senilai dengan keduanya dari uang kertas pada waktu itu, dan yang menjadi patokan adalah ia mengeluarkan 2,5 %, maka barang siapa yang mengeluarkan dari seratus dua setengah, dan dari seribu dua puluh lima, dan dari sejuta dua puluh lima ribu berarti ia telah lepas tanggungannya, dan wajib bagi seorang muslim untuk mengerti fiqih zakat dan bertanya kepada ulama tentang perinciannya, agar ia menunaikan hak Allah pada hartanya, dan barang siapa yang menunaikan zakat hartanya yang lalu dan yang akan datang setiap tahun pada bulan Ramadhan misalnya maka hal itu cukup baginya.

Wahai anak adam hartamu adalah yang engkau infakkan dan harta orang lain adalah yang engkau simpan, seandainya semua orang-orang kaya mengeluarkan zakat harta mereka  maka tidak akan tersisa orang miskin dan peminta-minta, maka ambillah pelajaran dari yang telah mendahului kalian dari generasi-generasi yang binasa yang diazab oleh Allah dengan harta mereka, dan ambillah pelajaran dari yang telah sampai kepada kalian kabar mereka, yang mana harta mereka tidak bermanfaat untuk mereka, dan harta akan engkau tinggalkan atau ia yang akan meninggalkanmu, dan Allah telah mensyariatkan selain zakat nafkah-nafkah yang wajib dan dianjurkan, dan Allah juga menganjurkan kita untuk berinfak pada jalan kebaikan, Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian  sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat.

Dan harta yang diinfakkan akan dilipat gandakan pahalanya, terutama pada bulan Ramadhan, dan sedekah yang disembunyikan mempunyai keutamaan, dari sahabat Abu Said al-Khudri  radhiallahu ‘anhu, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam ia bersabda : “sedekah yang disembunyikan akan memadamkan kemarahan Rabb dan silaturrahmi akan menambah umur dan amal kebaikan akan melindungi dari tempat kematian yang jelek”. (hadits ini sahih diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab syu’abul iman), dan hendaklah seseorang berjihad melawan syaithan dalam bersedekah, dari sahabat buraidah radhiallahu ‘anhu berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam : tidaklah seseorang mengeluarkan sesuatu dari sedekah sampai ia melepaskan darinya dagu tujuh puluh syaitan.( hadits ini sahih  diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak), dan bulan Ramadhan adalah bulan bersedekah dan berbuat kebaikan, maka beruntunglah orang yang berlomba kepada kebaikan-kebaikan, dan menjaga dirinya dari kebinasaan, Allah Ta’ala berfirman :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

Artinya : Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِيْمَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ.

Khutbah Kedua :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ العَظِيْمِ الجَلِيْلِ، اَلْغَفُوْرِ الرَّحِيْمِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِهِ وَأَفْضَلِهِمْ، وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَتَمَمِ بِالتَّابِعِيْنَ لَهُ بِإِحْسَانٍ.
وَبَعْدُ، أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ:

Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpegang teguhlah pada agama Islam dengan buhul tali yang kuat.

Wahai hamba Allah sekalian…telah datang kepada kalian bulan yang mulia, dan Allah telah mengaruniakan kepada kalian di dalamnya musim yang agung, agar kalian melakukan amal saleh dan bertaubat dari dosa-dosa, dan dahulu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira dengannya kepada para sahabatnya pada akhir sya’ban, maka mereka semua menyambutnya dengan kebahagiaan dan pengagungan, dan Allah telah menjadikan puasa padanya sebagai penghapus dosa-dosa, dalam hadits disebutkan : “barang siapa yang puasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu.(HR.Bukhari).

Allah juga jadikan qiyam Ramadhan sebagai penghapus dosa-dosa, ia adalah bulan yang diikat syaitan di dalamnya, dan dibuka pintu-pintu syurga serta ditutup pintu-pintu neraka, maka agungkanlah bulan ini, dan dahuluilah sebelumnya dengan bertaubat yang benar, dan jagalah puasa kalian dari hal-hal yang membatalkannya dan ghibah serta maksiat-maksiat yang lain, dan sucikanlah ia dengan dzikir, membaca Alquran dan amal-amal saleh yang lain agar kalian beruntung bersama orang-orang yang beruntung, dan agar kalian bersama dengan orang-orang yang paling dahulu masuk surga.

اِعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ فَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ اَلرَّاشِدِيْنَ،اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِناً مُطْمَئِنّاً وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا فِيْهِ القُوَّةَ وَالاِحْتِسَابَ العَمَلَ الصَالِحَ، اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مِنْ فَضَائِلِهِ وَمَغَانِمِهِ مَا يَسَرْتَهُ لَنَا، اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَحِفْظِ أَيَّامِهِ مِنَ الخَلَلِ وَالضَيَاعِ، (رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ)، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلَا مُضِلِّيْنَ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ بِطَانَتَهُمْ وَأَبْعَدْ عَنْهُمْ بِطَانَةً السُوْءِ وَالمُفْسِدِيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)،(وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)، فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Ali bin Abdurrahman al-Hudzaifi (Imam dan Khotib Masjid Nabawi)

Oleh Ustadz Iqbal Gunawan, Lc

]]>
http://khotbahjumat.com/tunaikanlah-zakat-harta-kalian/feed/ 0
Hukum-Hukum Fikih di Akhir Ramadhan http://khotbahjumat.com/hukum-hukum-fikih-di-akhir-ramadhan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hukum-hukum-fikih-di-akhir-ramadhan http://khotbahjumat.com/hukum-hukum-fikih-di-akhir-ramadhan/#comments Sun, 20 Jul 2014 07:57:12 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2750 Khutbah Pertama:

إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral mukminin, ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah, dekatkanlah diri kepada-Nya sebagaimana orang-orang yang mengetahui bahwa Dia mendengar dan melihat hamba-hamba-Nya.

Ibadallah,

Hari-hari di bulan Ramadhan yang mulia ini disemarakkan dengan puasa, dzikir, membaca Alquran. Sedangkan malam-malamnya diisi dengan menegakkan shalat. Dan telah berlalu sebagian besar hari-hari tersebut layaknya hanya potangan waktu sesaat di siang hari. Kita memohon kepada Allah agar mengganti apa yang telah berlalu dengan keberkahan di masa yang tersisa. Kita juga memohon agar Allah menyempurnakan Ramadhan kita dengan rahmat, ampunan, dan dibebaskan dari neraka. Semoga kita senantiasa berada dalam keselamatan dan keislaman.

وفي الصّحيين أيضاً عن أبي سعيد الخدريّ رضي الله عنه قال : (( كُنَّا نُخْرِجُ فِى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ . وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالأَقِطُ وَالتَّمْرُ )) ، وقال ابن عباس رضي الله عنهما: (( فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ)).

Ibadallah,

Sesungguhnya Allah mensyariatkan di akhir bulan ini suatu ibadah yang menambah keimanan kita, menyempurnakan ibadah kita, dan melengkapi kenikmatan dari Rab kita. amalan tersebut adalah zakat fitri, gema takbir di akhir puasa, dan shalat Idul Fitri.

Ibadallah,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri dengan satu sha’ (satu sha’ itu sama dengan empat mud. Sedangkan satu mud adalah ukuran takaran yang sama dengan satu cakupan dua tangan.) makanan pokok. Di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum masyarakat berangkat shalat Id.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Shahihain juga terdapat hadits dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

كُنَّا نُخْرِجُ فِى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ . وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالأَقِطُ وَالتَّمْرُ

“Dahulu kami mengeluarkan zakat fithri di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Idul Fithri dengan satu sha’ makanan.” Abu Sa’id berkata, “Dahulu yang menjadi makanan kami adalah gandum, anggur, keju dan kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah, sebagai pembersih bari orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat Id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat Id maka hanya menjadi sedekah biasa.” (HR. Abu Daud).

Ibadallah,

Wajib bagi seorang muslim untuk mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang berada dalam tanggungannya, istri dan anak-anaknya serta orang-orang yang berada dalam tanggungannya. Tidak wajib mengeluarkan zakat untuk bayi yang berada dalam kandungan. Namun menzakatinya merupakan sesuatu yang disunnahkan.

Zakat tersebut ditunaikan di daerah dimana kita menyelesaikan Ramadhan. Walaupun seorang yang menanggung fitrah berbeda daerah dengan orang yang ditanggungnya, zakat tersebut tetap ditunaikan di daerah orang yang menanggunya.

Waktu mengeluarkan zakat fitrah dimulai pada saat terbenamnya matahari di malam Id hingga ditegakkannya shalat Id. Boleh juga menunaikannya satu atau dua hari sebelum shalat Id. Atau bahkan di hari ke-28 dan 27 Ramadhan. Adapun sebelum hari itu, maka tidak diperbolehkan. Mengakhirkannya hingga pagi hari Id adalah yang paling utama. Barangsiapa yang membayarkannya menjelang shalat Id, tidak ada dosa baginya. Zakat fitrah tetap wajib dikeluarkan walaupun terlambat dari hari Id dan hal itu menjadi qadha.

Adapun orang-orang yang berhak menerima zakat fitra adalah sama dengan mereka yang berhak menerima zakat mal. Dibayarkan kepada salah seorang dari mereka atau mereka semuanya.

Kadar zakat fitrah untuk satu orang adalah sebanyak satu sha’ gandum atau kurma atau kismis (atau kalau di Indonesia beras pen.). Hal ini tidak bisa diganti dengan uang, karena yang demikian menyelisihi tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyelisihi amalannya para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum. Mengganti zakat fitrah dengan uang seharga barang-barang pokok tersebut tidak dikenal di zaman sahabat, padahal di zaman itu uang juga beredar di masayarakat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada bagiannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Ibadallah,

Mengenai takbir hari raya, amalan ini disyariatkan ketika terbenamnya matahari di malam hari raya Id hingga shalat Id ditegakkan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Disunnahkan menggemakan takbir di masjid, tempat-tempat perbelanjaan, rumah-rumah, sebagai pengagungan kepada Allah, menampakkan ibadah, dan syukur atas karunia dan kenikmatan dari-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu di hari Id keluar dari rumahnya menuju tempat shalat sambil bertakbir hingga tiba di tempat shalat dan sampai shalat ditegakkan. Apabila shalat telah usai dilaksanakan, beliau pun berhenti dari takbirnya.

Lafadz takbir yang diriwayatkan dari para sahabat adalah sebagai berikut:

” الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله ، الله أكبر ولله الحمد”

Hendaknya setiap muslim mengucapkan takbir demikian secara per orangan. Sedangkan takbir berjamaah dengan satu suara bersama, mulainya dan berhentinya secara bersamaan, yang demikian bukan termasuk dari sunnah. Tidak seorang pun pendahulu umat ini yang melakukan demikian. Setiap kebaikan adalah dengan mencontoh dan mengikuti mereka. Adapun bagi perempuan, hendaknya bertakbir secara lirih.

Ibadallah,

Di antara hukum-hukum yang berkaitan dengan hari Id juga adalah seorang muslim disunnahkan mandi untuk Id dan berhias dengan menggunakan pakaiannya yang terbaik. Namun tidak diperbolehkan mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra bagi laki-laki –baik saat Id maupun di luar Id-, tidak juga pakaian yang membentuk (ketat, tipis, dsb) aurat, dan tidak boleh juga mengenakan pakaian yang merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Tidak diperkenankan bagi seorang laki-laki berhias diri –baik saat Id maupun di luar Id- dengan cara mencukur jenggotnya, karena yang demikian telah jelas keharamannya. Penampilan indah yang hakiki adalah dengan mencontoh dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagi perempuan muslimah wajib untuk keluar menuju tempat shalat dengan menutup auratnya, tidak berdandan sehingga menarik perhatian, dan tidak juga mengenakan minyak wangi. Wajib bagi mereka untuk menjaga kehormatan dirinya dan menundukkan jiwanya untuk taat kepada Allah dengan tidak membuka aurat dan berwangi-wangian.

Ibadallah,

Disunnahkan bagi seorang muslim untuk memakan kurma sebelum berangkat menuju tempat shalat, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal itu. Disunnahkan juga untuk menempuh jalan yang berbeda saat pergi dan pulang dari tempat shalat. Perlu diperhatikan juga, bahwa tidak ada shalat sebelum dan sesudah shalat Id. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

أنَّ النبيَّ صلّى الله عليه وسلم صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ ، لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat di hari raya Idul Fitri. Beliau tidak melakukan shalat baik sebelum maupun sesudahnya.”

Namun, apabila shalat Id dilakukan di masjid (tidak di lapangan), maka seorang muslim tetap dianjurkan untuk melakukan shalat tahiyatul masjid.

Hukum shalat Id adalah fardhu ‘ain, wajib per orangan. Inilah pendapat yang paling kuat di antara pendapat para ulama. Wajib bagi setiap muslim untuk bersemangat dalam kebaikan ini dan hendaknya mereka tidak meremehkannya. Bagi siapa yang terluput dari shalat Id secara berjamaah, maka bagi mereka shalat dua rakaat sebagai gantinya.

Shalat Id tidak didahului oleh adzan maupun iqamah. Dari Jabir bin Samrah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ

“Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dua shalat Id (Idul Fitri dan Idul Adha pen.) tidak hanya sekali atau dua kali, tidak ada adzan maupun iqomah (mendahului shalat tersebut).”

Ibnul Qayyim rahimahullah mengakatan, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di tempat shalat (tanah lapang), beliau melaksanakan shalat Id tanpa didahului adzan dan iqomah, tidak juga perkataan ash-shalatu jami’ah. Sunnahnya adalah tidak melafadzkan apapun.”

Tata cara shalat Id adalah seseorang shalat dengan dua rakaat dibuka dengan tujuh kali takbir di rakaat pertama dan lima kali takbir di rakaat kedua. Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُكَبِّرُ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى فِي الأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ ، وَفِى الثَّانِيَةِ خَمْسَ تَكْبِيْرَاتِ

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir tujuh kali di rakaat pertama shalat Idul Adha dan Idul Fitri, sedangkan di rakaat yang kedua beliau bertakbir lima kali.”

Perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian tidak hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja.

Ibadallah,

Takbir dalam shalat Id adalah sunnah bukan wajib, jika tidak dikerjakan maka tidak membatalkan shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan dzikir-dzikir tertentu antara takbir. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan,

بين كل تكبيرتين حمدٌ لله عز وجل وثناءٌ عليه

“Di antara dua takbir hanyalah sanjungan dan pujian kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di hadapan para jamaah. Beliau menasihati umat dan memberikan arahan kepada umatnya. Dan menghadiri khotbah ini hukumnya tidak wajib. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

“Sesungguhnya kami berkhotbah, siapa yang ingin duduk mendengarkan khotbah, maka silahkan dia duduk. Dan bagi mereka yang ingin meninggalkannya, maka ia boleh meninggalkannya.”

Namun yang utama adalah seorang muslim duduk mendengarkan khotbah, mengambil manfaat nasihat kebaikan yang disampaikan khotib.

Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Rabb dari arsy yang agung agar menerima puasa dan shalat kita demikian juga menerima ketaatan dan dzikir kita. Kita memohon agar Dia menjadikan Ramadhan ini sebagai musim yang berulang dan peluang dalam menaatinya dan melakukan yang terbaik untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا . أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى .

Ibadallah,

Hendaknya di sisa hari yang kita hadapi ini kita menambah ketaatan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Bagi mereka yang bermalas-malasan di awal bulan, maka bersungguh-sungguhlah di hari yang tersisa. Agar hari tersisa ini menutupi kemalasannya di awal bulan. Adapun bagi mereka yang bersemangat sejak awal bulan, maka tambahlah lagi semangat ketaatan tersebut. Karena amalan penutup itu sangat menenutkan. Upayakanlah kita menutup bulan ini dengan kesempurnaan amalan.

Ibadallah,

Hal lainnya yang perlu kita perhatikan adalah kita bersungguh-sungguh mencari dan mengisi malam lailatul qadr. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita mencarinya di akhir bulan Ramadhan. Oleh karena itu, kita harus bersemangat di setiap malam yang tersisa untuk mengisi malam lailatul qadr. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang shalat di malam lailatul qadr dengan keimanan dan berharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Inilah malam lailatul qadr, malam yang penuh keberkahan. Malam dimana Alquran diturunkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Ibadallah,

Salah satu yang harus kita perhatikan untuk mengisi malam lailatul qadr adalah mengisinya dengan banyak berdoa. Terutama doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu ‘anha, ia bertanya kepada Rasulullah,

يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ عَلِمْتُ لَيْلَةَ القَدْرِ أَيِّ لَيْلَةٍ هِيَ فَمَاذَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : ((تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي))

“Wahai Rosulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mendapatkan malam lailatul qadr ? Apa doa yang aku panjatkan ketika itu?” Beliau bersabda, “Bacalah (اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي) Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemaaf dan Mencintai Maaf maka ampunilah aku.”

وَاعْلَمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – أَنَّ الْكَيِّسَ مِنْ عِبَادِ اللهِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ ، وَالعَاجِزَ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانِي . وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ : ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ اَلَّذِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنِ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا . اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الُهدَى وَالتُّقَى وَالعَفَةَ وَالغِنَى . اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعْنَا  وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا ، وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا .

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوُهْ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Diterjemahkan oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/hukum-hukum-fikih-di-akhir-ramadhan/feed/ 0
Memanfaatkan Peluang di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan http://khotbahjumat.com/memanfaatkan-peluang-di-sepuluh-hari-terakhir-ramadhan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=memanfaatkan-peluang-di-sepuluh-hari-terakhir-ramadhan http://khotbahjumat.com/memanfaatkan-peluang-di-sepuluh-hari-terakhir-ramadhan/#comments Sat, 19 Jul 2014 11:55:24 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2747 Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ وَفَّقَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ، فَعَرَفُوْا أَقْدَارَ مَوَاسِمِ الْخَيْرَاتِ، وَعَمَرُوْهَا بِالْإِكْثَارِ مِنَ الطَّاعَاتِ، وَخَذَلَ مَنَ شَاءَ بِحِكْمَتِهِ، فَعُمِيَتْ مِنْهُمْ القُلُوْبُ وَالْبَصَائِرُ، وَفَرَطُوْا فِي تِلْكَ المَوَاسِمِ، فَبَاءُوْا بِالْخَسَائِرِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ اللهَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَلْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ اَلْقَاهَّرُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَقْوَمَ النَّاسِ بِطَاعَةِ رَبِّهِ فِي البَوَاطِنِ وَالظَّوَاهِرِ، فَصَلَّى اللهُ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً.
أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا النَّاسُ:

Kaumu muslimin rahimakumullah,

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala, Dialah Yang Maha Pengampun. Allah Jalla wa ‘Ala menjadikan siang dan malam beriringan saling berganti bagi mereka yang mau mengingat dan bersyukur. Di kedua waktu itulah terdapat perbendaharaan beramal dan perjalanan ajal. Manusia mengisinya dengan amalan-amalan mereka di waktu-waktu tersebut. Mereka akan mendapati hasil dari amalan mereka kebaikan atau kejelekan.

يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ

“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 13-15).

Kaum muslimin rahimakumullah,

Kita telah melewati sebagian besar dari hari-hari Ramadhan kita. sekarang kita telah memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa di antara kita yang mampu menunaikan hari-hari tersebut sesuai dengan keagungannya, maka tunaikanlah dengan sempurna. Pujilah Allah karena bertemu dengannya. Mintalah kepada-Nya agar menerima amalan di dalamnya.

Adapun bagi mereka yang menyia-nyiakannya, maka bertaubatlah kepada Allah. Karena pintu taubat itu terbuka. Hindarilah bermalas-malasan dan kemaksiatan sebelum datang dimana betis-betis terhimpit, ruh telah sampai di tenggorokan, dan sebelum jasad berserah menuju kubur. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَار

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..” (QS. At-Tahrim: 8).

Kaum muslimin rahimakumullah,

Kita telah sampai pada 10 hari terakhir Ramadhan. Hari-hari yang begitu baik, penuh keberkahan, dan keutamaan. Isilah dengan ketaatan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Agung. Berpuasalah dengan sebaik-baik puasa di hari-hari tersebut. Binarkan malam-malamnya dengan cahaya shalat. Makmurkan siang dan malamnya dengan membaca Alquran, istighfar, dzikir, dan doa. Betapa banyak orang yang dianugerahi menjumpai 10 hari terakhir, namun mereka tidak mendapati apapun. Tidak ada tambahan amal ketaatan dan taubat, yang ada hanya kesia-siaan dan kemalasan. Dan kita sekaranga telah mendapatkannya dalam keadaan sehat, kuat, dan memiliki kemampuan.

Kaum muslimin rahimakumllah,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memuliakan 10 hari terakhir Ramadhan. Beliau benar-benar member perhatian yang mendalam apabila masa itu tiba dengan bersungguh-sungguh dan memperbanyak ibadah di dalamnya. Beliau khususkan saat-saat tersebut untuk beri’tikaf di masjid, menyendiri beribadah dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau bersemangat mengisi malam lailatul qadr yang sanga agung kedudukannya. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5).

Maknya adalah malam tersebut lebih baik dari pada kurang lebih 30.000 malam. Lebih baik dalam keberkahan, ganjaran pahala, rahmat, ampunan, pengkabulan doa, dan diterimanya amal.

Oleh karena itu, hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam mengisinya, bersemangat di kesepuluh hari tersebut. Hidupkan malamnya dengan shalat, dzikir, dan doa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang shalat di malam lailatul qadr karena keimanan dan berharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Apabila masuk sepuluh hari terakhir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh. Beliau hidupkan malam-malamnya dengan ibadah kepada Rabbnya. Beliau melakukan kesungguhan yang sangat tersebut padahal telah diampuni segala dosa dan kesalahannya yang lalu maupun yang akan datang. Beliau melakukan hal itu, dan beliau lah orang yang paling bertakwa dan takut kepada Allah. Lalu bagaimana keadaannya dengan kita? yang banyak kekurangan dan banyak berdosa.

Karena itu, hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam menjemput malam yang penuh kemuliaan tersebut. Mengisi malam-malam tersebut, menjemput keberkahan dan kebaikannya dengan menjaga shalat-shalat yang diwajibkan, memperbanyak shalat, bersedekah, menjaga puasa dari hal-hal yang mengurangi pahalanya, mengerjakan banyak ketaatan, menjauhi perbuatan dosa, menjauhi permusuhan, saling benci, dan dendam. Karena dendam adalah salah satu sebab seseorang diharamkan dari mendapatkan keutamaan lailatul qadr.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari keluar dari rumahnya untuk mengabarkan kepada sahabatnya tentang lailatul qadr. Lalu ada dua orang laki-laki muslim yang terlibat cekcok dan perselisihan, lalu keberkahan tersebut terangkat (sirna). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ

“Aku keluar untuk mengabarkan kepada kalian (kapan terjadinya) lailatul qadr lalu si Fulan dan Fulan berselisih? Sudah diangkat, dan mudah-mudahan hal itu lebih baik untuk kalian.”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْمَا سَمِعْتُمْ مِنَ الآيَاتِ وَالأَحَادِيْثِ وَالوَعْظِ وَالتَذْكِيْرِ، وَنَفَعْنَا بِهِ، وَأَسْتَغْفِرُهُ تَعَالَى لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ مَوَاسِمَ الْخَيْرَاتِ نَزَلاً لِعِبَادِهِ الأَبْرَارِ، وَهَيَّأَ لَهُمْ مِنْ أَصْنَافِ نِعَمِهِ وَكَرِمِهِ كُلِّ خَيْرٍ غَزِيْرٍ مِدْرَارٍ، وَجَعَلَهَا تَتَكَرَّرَ كُلَّ عَامٍ لِيُوَالِي عَلَى عِبَادِهِ اَلْفَضْلُ وَيُحِطُ عَنْهُمْ اَلذُّنُوْبَ وَالأَوْزَارَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ مُحَمَّدٍ المُصْطَفَى المُخْتَارِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ البَرَرَةِ الأَطْهَارِ.
أَمَّا بَعْدُ،:

Kaum muslimin rahimakumullah,

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).

Amalkanlah apa yang telah diajarkan Allah kepada kita. bersungguh-sungguhlah dalam menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Ketahui dan kajilah jalan-jalan yang bisa melindungi kita dari neraka. Pelajari hal-hal yang bisa mengangkat derajat kita di surga. Bersemangatlah dalam mengisi musim-musim kebaikan ini. Perbanyak amalan ketaatan di dalamnya, terutama di sepuluh terakhir bulan Ramadhan ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan keluarganya agar menghidupkan sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dari Aishyah radhiallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila masuk sepuluh terakhir ramadhan, beliau menghidupkan malamnya dengan ibadah, beliau membangunkan para istrinya, bersungguh-sungguh ibadah dan mengencangkan ikatan sarungnya. (HR. Muslim).

Kaum muslimin rahimakumullah,

Mari kita tekadkan untuk menepikan semua kesibukan di waktu yang penuh berkah ini, terutama di malam-malam ganjil, yang kita harapkan malam itu adalah malam lailatul qadr. Kita sibukkan diri kita dengan menghadapkannya dengan ketaatan kepada Rabb kita Yang Maha Agung. Kita perbanyak doa, istighfar, meminta ampunan dan keridhaan-Nya dengan ikhlas, tertunduk, dan penuh dengan penghayatan. Mudah-mudahan Allah memberkahi waktu kita, memperbaiki keadaan kita, menambah ketaatan kita, menjadikan kita orang yang berbahagia di akhirat, orang yang tidak ada ketakutan dan kesedihan.

هذا وقد ثبت عن أم المؤمنين عائشة – رضي الله عنها – أنها قالت: (( يَا نَبِيَّ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، مَا أَقُولُ؟ قَالَ: تَقُولِينَ: اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ، فَاعْفُ عَنِّي )).

Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiallahu ‘anha, ia bertanya kepada Nabi,

يَا نَبِيَّ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، مَا أَقُولُ؟ قَالَ: تَقُولِينَ: اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ، فَاعْفُ عَنِّي

“Wahai Nabi Allah, doa apakah yang harus aku baca jika aku mendapati lailatul qadr?” Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Engkau mengucapkan,

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul’afwa fa’fu anni.”

“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku”.”

Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami. Ya Allah, berilah kami taufik untuk berdoa kepa-Mu di siang dan malam hari, kemudian karuniakanlah ijabah dari doa-doa tersebut.

Ya Allah, kabulkanlah doa kami dan terimalah ibadah kami. Maafkanlah kekurangan dan kesalahan kami. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan juga kedua orang tua kami, serta seluruh kaum muslimin, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ya Allah, terimalah puasa kami. Jadikanlah puasa tersebut amalan yang penuh keimanan dan berharap pahala dari-Mu sehingga Kami termasuk orang-orang yang Engkau ampuni kesalahan-kesalahan yang telah lalu.

Ya, Allah berkahilah umur kami. Amalan kami, waktu kami, dan keluarga kami.

Ya Allah, angkatlah musibah yang menimpa kaum muslimin, baik berupa bala’, bencana, kemiskinan, terusir dari kampungnya, kelemahan dan kekurangan, membunuh atau terbunuh, serta ketakutan.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Qadir al-Junaid

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/memanfaatkan-peluang-di-sepuluh-hari-terakhir-ramadhan/feed/ 0
Keutamaan Membaca Alquran di Bulan Ramadhan http://khotbahjumat.com/keutamaan-membaca-alquran-di-bulan-ramadhan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=keutamaan-membaca-alquran-di-bulan-ramadhan http://khotbahjumat.com/keutamaan-membaca-alquran-di-bulan-ramadhan/#comments Fri, 18 Jul 2014 13:22:22 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2743 Khutbah Pertama:

﴿ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا * قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا * مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا﴾ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى

Kaum muslimin yang dirahmati Allah,

Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, ketika dalam keadaan sepi maupun di tengah keramaian. Perbanyaklah amalan shaleh yang mendekatkan diri kepada Allah.

Ketahuilah! Sesungguhnya bulan Ramadhan yang mulia adalah bulan puasa dan shalat di malam harinya. Dan bulan ini adalah bulan istimewa yang khusus untuk Alquran. Inilah bulan dimana Alquran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang kekhususan bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya dengan memilihnya menjadi bulan dimana Alquran diturunkan. Bahkan diriwayatkan bahwa Ramadhan menjadi bulan dimana seluruh kitab-kitab para nabi diturunkan kepada mereka. dalam Musnad Imam Ahmad dan al-Mu’jam al-Kabir oleh Imam Thabrani dari hadits Watsilah bin al-Asqa’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَ الإِنْجِيلُ لِثَلاثَ عَشْرَةَ مَضَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الزَّبُورُ لِثَمَانَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لأَرْبَعَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

“Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan. Taurat diturunkan setelah 6 hari bulan Ramadhan. Injil diturunkan setelah 13 hari bulan Ramadhan. Zabur diturunkan setelah 18 hari bulan Ramadhan. Dan Alquran diturunkan setelah 14 hari bulan Ramadhan.”

Hadits ini menunjukkan bahwa bulan Ramadha adalah bulan dimana kitab-kitab ilahiyah diturunkan kepada para rasulu ‘alaihim ash-shalatu wa salam. Bedanya, kitab-kitab selain Alquran diturunkan secara sekaligus kepada para nabi dan rasul. Adapun Alquran diturunkan secara sekaligus ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada lailatul qadr. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3).

Allah Ta’ala juga berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)

Allah berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ketiga ayat ini menunjukkan bahwa Alquran yang mulia diturunkan di malam yang sama, yaitu malam yang disifati dengan malam penuh berkah. Malam itu adalah malam al-qadr (lailatul qadr). Lailatul qadr terdapat pada bulan Ramadan.

Setelah itu, Alquran diturunkan secara bertahap disesuaikan dengan peristiwa yang terjadi. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan,

أُنزل القرآن جملة واحدة إلى سماء الدّنيا ليلة القدر ثم أنزل بعد ذلك في عشرين سنة ثم قرأ : ﴿ وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا﴾ [الفرقان:٣٣] ، ﴿ وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا ﴾ [الإسراء:١٠٦] ))

“Alquran diturunkan secara sekaligus ke langit dunia pada lailatul qadr. Setelah itu (diturunkan kepada Nabi) selama 20-an tahun. Kemudian Ibnu Abbas membaca ayat, “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al-Furqan: 33). Dan ayat “Dan Alquran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Isra: 106).

Ibadallah,

Hikmah dari diturunkannya Alquran di bulan Ramadhan adalah sebagai bentuk pengagungan terhadap Alquran, pengagungan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan risalahnya, pengagungan terhadap bulan Ramadhan, dan pengagungan terhadap malam dimana Alquran diturunkan, yaitu malam lailatul qadr. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5).

Ibadallah,

Kesemua hal di atas menunjukkan betapa agungnya bulan Ramadhan dan ia memiliki sebuah hubungan yang istimewa dengan Alquran. Wahyu Allah Rabbul ‘alamin

Hal-hal di atas menunjukkan betapa agungnya bulan puasa ini dan betapa erat kaitannya dengan Alquran. Betapa tidak, Allah memberikan keutamaan yang besar dengan menurunkan wahnyu firman-Nya yang mengandung hidayah dan cahaya kebahagian di dunia dan akhirat di bulan ini. Allah Ta’ala berfirman,

هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Hidayah untuk tercapainya kebaikan agaman dan dunia. Di dalam Alquran terdapat penjelasan yang sangat jelas tentang kebenaran. Juga terdapat keterangan yang gambling tentang perbedaan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebatilan, dan antara cahaya dan kegelapan.

Ibadallah,

Perhatikanlah keutamaan bulan ini betapa besar karunia Allah di dalamnya. Karena itu hendaknya para hamba mengagungkannya dan menjadikannya musim untuk beribadah dan membekali diri untuk hari kembali.

Ayat ini juga menjelaskan, di bulan ini sangat dianjurkan untuk mengkaji Alquran yang mulia. Bersungguh-sungguh dan menaruh perhatian yang besar padanya. Memperbanyak membacanya. Memurojaah hafalan atau mengulang-ulanginya di hadapan orang yang mampu mengoreksi hafalan.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: ((كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang paling murah hatinya dengan (berbagi-pen) kebaikan, dan beliau lebih bermurah hati ketika di dalam bulan Ramadhan, ketika ditemui oleh Jibril ‘alaihissalam, dan Jibril ‘alaihissalam menemui beliau setiap malam dalam Ramadhan samapi berakhir (bulan), ia menyampaikan Alquran kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jika Jibril ‘alaihissalam menemui beliau maka beliau adalah seorang yang lebih bermurah hati dengan (berbagi) kebaikan daripada angin yang mengalir.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan bacaan Alqurannya pada saat shalat malam di bulan Ramadhan, lebih dari malam-malam di bulan lainnya. Ini adalah sesuatu yang disyariatkan bagi mereka yang ingin memanjangkannya sesuai dengan kehendaknya, maka hendaknya ia shalat sendiri. Dan boleh juga memperpanjang bacaan dalam shalat berjamaah atas persetujuan para jamaah. Selain itu, maka dianjurkan untuk membaca dengan bacaan yang ringan. Imam Ahamd berkata kepada sebagian sahabtnya yang shalat bersamanya di bulan Ramadhan, “Mereka itu orang yang lemah, maka bacalah lima, enam, atau tujuh ayat”. Imam Ahmad rahimahullah memperingatkan agar memperhatikan keadaan para makmum dan jangan membebani mereka.

Para salafush shalih rahimahumullah membaca Alquran di bulan Ramadhan di dalam shalat dan di luar shalat. Mereka menambah perhatian mereka terhadap Alquran yang mulia. Al-Aswad rahimahullah mengkhatamkan Alquran setiap dua hari. An-Nakha-I mengkhatamkannya setiap tiga hari, namun di sepuluh hari terakhir beliau tambah giat lagi. Qatadah mengkhatamkan Alquran di setiap tujuh hari dan di sepuluh hari terakhir beliau menyelesaikannya dalam tiga hari. Apabila bulan Ramadhan tiba, Az-Zuhri mengatakan, “Bulan ini adalah bulan membaca Alquran dan memberi makan”. Imam Malik apabila masuk bulan Ramadhan meninggalkan membaca hadits dan berdiskusi bersama penuntut ilmu lainnya, beliau memfokuskan diri untuk membaca Alquran dari mushafnya. Qatadah fokus mempelajari Alquran di bulan Ramadhan. Sufyan ats-Tauri apabila datang bulan Ramadhan beliau meninggalkan ibadah sunnah dan menyibukkan diri dengan membaca Alquran. Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat tentang perhatian para salaafush shalih terhadap Alquran di bulan Ramadhan.

Semoga Allah mengaruniakan saya dan Anda sekalian untuk mengikuti mereka dalam kebaikan. Kita memohon kepada-Nya dengan nama-Nya yang baik dan sifat-Nya yang sempurna agar menjadikan Alquran sebagai penyejuk hati kita, cahaya di dada-dada kita, penghibur di kala kesedihan, dan mengusir kegalauan yang kita hadapi.

أَقُوْلُ هَذَا الْقَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أما بعد عباد الله :

أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ ؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ.

Saya berwasiat kepada diri saya pribadai dan jamaah sekalian agar bertakwa kepada Allah. Karena barangsiapa yang bertakwa kepada-Nya, Dia akan menjaga mereka serta menunjukki mereka kepada urusan yang terbaik untuk agama dan dunianya.

Ibadallah,

Sesungguhnya perhatian terhadap Alquran dengan berbacagai macam bentuknya: membaca dan menghafalnya, belajar dan mengajarkannya, menadabburi dan memahaminya, serta mengamalkannya adalah tanda kebaikan. Semakin umat Islam berpegang teguh dan perhatian dengan Kitabullah, maka semakin banyak kebaikan dan keutamaan yang ada pada mereka. dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah mereka yang mempelajari Alquran dan mengamalkannya.” (HR. Bukhari).

Kebaikan seorang hamba Allah itu sangat terkait dengan Alquran.

Diriwayatkan dari Abu Abdul Qasim bin Salam di kitabnya Fadha-il Alquran dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma ia berkata, “Wajib bagi kalian berpegang dengan Alquran, mempelajarinya dan mengajarkannya kepada anak-anak kalian. Karena kalian akan ditanya tentangnya. Dengannya juga kalian akan diberi balasan. Dan cukuplah Alquran sebagai nasihat”.

Ibadallah,

Sesungguhnya Alquran itu agung dan kedudukannya tinggi. Alquran merupakan sebab mulianya umat ini dan sumber kebahagiaan mereka. Alquran adalah jalan kesuksesan di dunia dan akhirat. Wajib bagi kita semua untuk mengangungkan dan menaruh perhatian yang besar terhadapnya dan terus menambah kualitas perhatian kita khususnya di bulan Alquran ini, bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Ibadallah,

Di antara bentuk perhatian terhadap Alquran juga adalah membentuk halaqoh-halaqoh Alquran yang dikhususkan untuk mengkaji Alquran. Berinfak dan mendermakan harta untuk hal-hal yang demikian merupakan amalan yang baik. Karena berpartisipasi dalam menegakkan menara-menara syiar Islam. Hal ini sangat dimotivasi oleh Islam. Wajib bagi orang-orang yang memiliki kelapangan harta dan mereka yang dikaruiakan Allah ‘Azza wa Jalla kekayaan untuk bersifat dermawan dalam kebaikan, mendukung wakaf penyebaran Alquran dan membiayai pengkajian, hafalan, dan bacaan Alquran. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا

“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzammil: 20).

Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar member kita taufik untuk berpegang terguh kepada Alquran dan menjaganya. Kemudian menjadikan kita sebagai ahlul Quran yang merupakan ahlullah (keluarga Allah).

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .وَجَاءَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الحَثُّ مِنَ الإِكْثَارِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَيْهِ فِي لَيْلَةِ الجُمْعَةِ وَيَوْمِهَا ؛ فَأَكْثَرُوْا فِي هَذَا اليَوْمِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ. .

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى ، وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَّقْوَى ، وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَاجْعَلْهُمْ رَأْفَةً رَحْمَةً عَلَى عِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ

اَللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْماً كَثِيْرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنَا إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ ، وَأَعِنَّا فِيْهِ عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَوَفِّقْنَا فِيْهِ لِكُلِّ خَيْرٍ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ .

اَللَّهُمَّ هَذِهِ أَيْدِيْنَا إِلَيْكَ مُدَّت وَدَعْوَاتُنَا إِلَيْكَ رُفِعَتْ وَأَنْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ اَلْقَائِلِ فِي كِتَابِكَ : ﴿ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ ﴾ اَللَّهُمَّ دَعْوَنَاكَ فَأَجِبْ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ دُعَاءَنَا وَاغْفِرْ ذُنُوْبَنَا وَتَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا وَأَعْطِنَا وَحَقِّقْ لَنَا رَجَاءَنَا يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .

Diterjemahkan dari khotbah Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/keutamaan-membaca-alquran-di-bulan-ramadhan/feed/ 0
Berlomba-Lombalah Dalam Kebaikan http://khotbahjumat.com/berlomba-lombalah-dalam-kebaikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=berlomba-lombalah-dalam-kebaikan http://khotbahjumat.com/berlomba-lombalah-dalam-kebaikan/#comments Tue, 15 Jul 2014 16:15:07 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2740 Khutbah pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَى، وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدَى، وَالَّذِيْ أَخْرَجَ المَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى، رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكِهِ وَمُدَبِّرِهِ وَمُصَرِّفِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيْهَ وَلَا نَظِيْرَ وَلَا مَثِيْلَ، وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ بَيْنَ يَدَيَّ السَّاعَةِ بِالْحَقِّ لِيَكُوْنَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَهِدَايَةً لِلْغَاوِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى المُعَانِدِيْنَ، فَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنِ، وَعَلى المُقْتَدِيْنَ بِهِ وَبِهِمْ إِلَى يَوْمِ الجَزَاءِ وَالمَصِيْرِ.
أَمَّا بَعْدُ،:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah,,,amma ba’du :

Allah Ta’ala berfirman :

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin :26).

Seorang muslim sejati selalu berlomba-lomba dalam ketaatan, dan selalu bersegera dalam kebaikan, karena umur itu pendek dan ajal itu terbatas, seorang yang pandai dan berakal selalu bersegera sebelum datangnya halangan dan rintangan ; sungguh tidaklah sama antara yang bersegera menuju kebaikan dan yang berlambat-lambat, juga antara yang berlomba-lomba kepada keutamaan dan yang memberatkan diri kepadanya.

Berlomba-lomba yang terpuji memperkaya kehidupan, dan menjadikan seorang muslim berambisi untuk mengangkat dirinya dan menanjak dengan ilmu dan amalnya agar berusaha menuju kesempurnaan.

Mengalir ruh saling berlomba-lomba dalam jiwa orang-orang yang memiliki semangat yang tinggi, dan yang paling tinggi diantara mereka adalah para Nabi shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim, Nabi Musa ‘alaihissalam menangis ketika dilampaui oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena iri, dikatakan kepadanya : apa yang membuatmu menangis? Ia menjawab : (saya menangis karena seorang anak laki-laki diutus setelahku, -akan tetapi- pent. masuk surga dari ummatnya lebih banyak dari ummatku) (HR.Bukhari). Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia pernah bersabda : (saya berharap menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya pada hari kiamat).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membangkitkan semangat saling berlomba-lomba kepada para sahabatnya, agar mereka menaiki tangga yang menyampaikan mereka kepada tujuan, serta menggambarkan kepada mereka tujuan-tujuan yang tinggi dalam hadits-hadits yang tak terhitung jumlahnya ; diantaranya : sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

(Tidak ada saling berlomba diantara kalian kecuali pada dua perkara : Seorang laki-laki yang Allah ‘Azza wa Jalla karuniakan kepadanya hafalan Alquran dan ia membacanya dalam shalat siang dan malam, serta mengikuti isinya, kemudian seorang laki-laki lain berkata : jika Allah mengaruniakan kepadaku seperti apa yang ia karuniakan kepada Fulan, maka aku akan mengerjakan seperti apa yang dikerjakan oleh Fulan, dan seorang laki-laki yang Allah karuniakan kepadanya harta dan ia berinfak dan bersedekah, kemudian berkata laki-laki lain seperti apa yang diucapkan yang tadi.) (HR.Thabrani).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : barangsiapa yang shalat dengan membaca sepuluh ayat maka tidak dicatat kedalam golongan orang-orang yang lalai, dan barangsiapa yang shalat dengan membaca seratus ayat maka akan dicatat termasuk golongan orang-orang yang taat, dan barangsiapa yang shalat dengan membaca seribu ayat maka akan dicatat termasuk dari golongan muqantharin. (HR.Abu dawud) arti muqantharin adalah : mereka yang mendapatkan pahala yang berlimpah-limpah.

Diantara hal yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ; berlomba-lomba menuju shaf pertama ; dalam hadits : seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan masuk kedalam undian, sungguh mereka akan masuk kedalam undian, dan seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala pada bersegera menuju shalat berjama’ah, sungguh mereka akan berlomba-lomba kepadanya, dan seandainya mereka mengetahui besarnya pahala shalat isya dan subuh berjama’ah sungguh mereka akan mendatanginya walaupun dalam keadaan merangkak. (HR.Bukhari dan Muslim).

Adapun dua sahabat yang mulia ; ummat terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakar dan Umar maka sungguh telah melompat jauh semangat mereka dalam medan perlombaan, dan mereka telah mencapai derajat yang tinggi dengan amalan-amalan mereka, dan tidak akan ada seorang pun yang akan mampu mecapai derajat mereka berdua. Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah menyuruh kami bersedekah, dan kebetulan waktu itu aku sedang memilik harta, maka aku mengatakan, hari ini aku akan mendahului Abu Bakar jika aku dapat mendahuluinya sehari saja, ia berkata : maka aku datang dengan separuh hartaku, maka Rasulullah bertanya : apa yang engkau sisakan untuk keluargamu? Aku mengatakan : seperti itu juga, kemudian Abu Bakar datang dengan semua harta miliknya, maka Rasulullah bertanya kepadanya : apa yang engkau sisakan untuk keluargamu? Ia menjawab : aku sisakan untuk mereka Allah dan RasulNya. Saya berkata :  demi Allah saya tidak akan mampu untuk mendahuluinya kepada sesuatu apapun selamanya. (HR.Tirmidzi dan ia mengomentari hadits ini hasan dan sahih).

Berkobar bara semangat saling berlomba dalam kehidupan para sahabat -semoga Allah meridhoi mereka semuanya- ; yang membuat mereka betul-betul memanfaatkan waktu, dan menginvestasikan umur mereka, hingga menjadi tinggi kedudukan  ilmu dan amal mereka, bahkan mereka menjadi pemilik keutamaan dan keterdahuluan; bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : akan masuk ke dalam surga dari ummatku  tujuh puluh ribu orang tanpa hisab, maka berkata seorang sahabat : wahai Rasulullah berdoa’lah kepada Allah agar menjadikan aku diantara mereka. Rasulullah berdo’a : ya Allah jadikanlah ia diantara mereka. Kemudian berdiri seorang laki-laki lain dan berkata : wahai Rasulullah berdoa’lah kepada Allah agar menjadikan aku diantara mereka. Rasulullah menjawab : engkau telah didahului oleh Ukkasyah.(HR.Muslim).

Ketika Perang Uhud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memancing semangat saling berlomba diantara para sahabatnya, beliau berkata : siapa yang ingin mengambil pedang ini dengan haknya? Maka berdiri sahabat Abu Dujanah Simak bin Kharasyah dan berkata : saya yang akan mengambilnya wahai Rasulullah dengan haknya, apakah haknya? Rasulullah menjawab : jangan engkau membunuh seorang muslim dengan pedang ini dan jangan engkau lari dengannya dari orang kafir. Perawi berkata : maka Rasulullah memberikan kepadanya. (dikeluarkan oleh Al-Hakim di dalam mustadrak.) Abu Dujanah adalah seorang sahabat pemberani.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik para sahabatnya untuk selalu bersegera menuju kebaikan dan berlomba-lomba dalam ketaatan dan amal-amal kebaikan ; dari sahabat Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata : datang orang-orang fakir kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : orang-orang kaya telah pergi dengan harta mereka dengan derajat yang tinggi dan nikmat yang abadi, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka memiliki kelebihan harta yang mereka mampu melaksanakan haji, umrah,berjihad dan bersedekah dengannya. Rasulullah berkata : maukah aku beritahukan sesuatu jika kalian melakukannya kalian akan menyusul orang-orang yang mendahului kalian dan tidak akan ada yang meyusul kalian seorangpun dari belakang kalian, dan kalian akan menjadi yang terbaik dari orang-orang yang ada di tengah-tengah kalian, kecuali orang yang beramal sepertinya ; kalian bertasbih, bertahmid dan bertakbir setiap selesai shalat tiga puluh tiga kali.(HR.Bukhari dan Muslim).

Saling berlomba dalam kebaikan akan tampak pengaruhnya di akhirat nanti, dan akan terus sampai ke surga ; para penghafal Alquran akan terus menanjaki derajat-derajat surga sesuai dengan jumlah bacaan dan tartilnya  (dikatakan kepada penghafal Alquran : bacalah dan teruslah naik  dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia, karena sesungguhnya tempatmu adalah pada ayat terakhir yang engkau baca) (HR.Tirmidzi dengan sanad yang hasan dan sahih).

Perlombaan yang terpuji ini akan melahirkan sifat untuk selalu maju, memperkuat ambisi, dan menambah banyak pertumbuhan dan keberhasilan, seorang muslim akan merasakan tawar dengannya sesuatu yang pahit, dan akan membuat mereka menganggap dekat sesuatu yang jauh, dan membuat mereka lupa segala rintangan, dan dengan saling berlomba seseorang akan terangkat  ke derajat yang tinggi ketika dibangun di atas niat yang ikhlas dan benar, serta bersih dari kotoran-kotoran hati yang dapat merusak amalan, dan menjadikannya debu yang beterbangan.

Adapun jika semangat saling berlomba ini mati, maka ia akan menjadikan umat ini menjadi masyarakat yang loyo dan lemah, yang dipenuhi dengan sifat malas dan terbelakang, juga akan melahirkan para pengangguran  serta membuat generasi lemah dan patah semangat.

Disisi lain Agama Islam melarang saling berlomba-lomba pada hal yang tercela, yang sumbernya saling berlomba-lomba dalam hal dunia, dan karena mengikuti hawa nafsu, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : Demi Allah bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah jika dilapangkan kepada kalian dunia sebagaimana telah dilapangkan untuk orang-orang sebelum kalian, hingga kalian saling berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba padanya, dan akan membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka. (HR.Bukhari dan Muslim).

Berlomba-lomba dalam masalah dunia menjadi tercela ketika membuat engkau lalai dari Allah dan kampung akhirat, dan membawamu kepada kejelekan dan kemungkaran, serta menuntunmu untuk meninggalkan kewajiban , mengambil yang haram, atau mengambil hak-hak orang lain ; hal ini akan membuat perkelahian antara sesama saudara dan kerabat dekat, juga sebab terputusnya silaturrahmi dan permusuhan, maka akan semakin banyak percekcokan, dan akan semakin sering terjadi pertengkaran, Al-Hasan rahimahullah berkata : siapa yang menyaingimu dalam masalah agama maka bersainglah dengannya, dan siapa yang menyaingimu dalam masalah dunia maka lemparkanlah dunia itu di lehernya.

Sifat hasad adalah penyebab utama persaingan yang membinasakan, yang dapat merobohkan bangunan persaudaraan dalam islam, dan dapat menghilangkan rasa aman dari kaum muslimin; karena seorang yang hasad ia mengharapkan hilangnya nikmat dari saudaranya, bahkan ia bisa menjadi penyebab hilangnya nikmat tersebut dengan kekuatannya.

Dan termasuk saling berlomba yang tercela; apa yang terjadi antara orang-orang yang setingkat dalam keutamaan dan kedudukan agama dan dunia, terkadang seseorang mencela orang lain dengan menyebutkan kejelekan-kejelekannya, dan menutup mata dari kebaikan-kebaikannya disebabkan adanya permusuhan dan kebencian Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ

“Dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya.” (QS.Al-A’raaf : 85).

Dan kadang-kadang saling berlomba berakhir kepada saling menjauh, menghina, mendzalimi, memusuhi dan melampaui batas kepada orang lain.

Saling berlomba yang tercela juga kadang terjadi dalam hal perdagangan, oleh karena itu islam mengatur persaingan dalam bisnis perdagangan dengan kaidah-kaidah dan hukum-hukum syariat, serta memperkokoh nilai-nilai, norma-norma dan akhlak, islam mengharamkan penimbunan barang -agar terjual mahal- dengan segala bentuknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : (tidak menimbun barang kecuali dia salah)(HR.Muslim).

Islam juga mengharamkan segala bentuk penipuan, kecurangan,dan pemalsuan, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda : barangsiapa yang berbuat curang kepada kami maka bukan dari golongan kami (HR.Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam juga memberikan hak untuk memilih bagi orang yang lemah akalnya sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma bahwasanya ada seorang laki-laki dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaih wasallam karena ia sering ditipu dalam jual beli, maka Rasulullah berkata kepadanya : jika kamu berjual beli maka katakanlah : “tidak ada tipuan” (HR.Bukhari dan Muslim).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِيْمَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ العَظِيْمِ الجَلِيْلِ، اَلْغَفُوْرِ الرَّحِيْمِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِهِ وَأَفْضَلِهِمْ، وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَتَمَمِ بِالتَّابِعِيْنَ لَهُ بِإِحْسَانٍ.
وَبَعْدُ، أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ:

Termasuk saling berlomba yang tercela adalah ; saling berlombanya saluran-saluran televisi dalam menyesatkan manusia dan menggoda mereka dengan hal-hal yang diharamkan, yang mana syaithan membuat indah jeleknya perbuatan mereka, mereka saling berlomba pada hal yang jelas merupakan kerugian yang nyata, pada hal yang merusak akal, mengotori fitrah dan menghancurkan akhlak.

Juga termasuk saling berlomba yang tercela adalah ; boros, angkuh dalam pesta-pesta pernikahan serta tidak menghargai nikmat, juga kemungkaran-kemungkaran dalam pesta-pesta tersebut tanpa ada rasa penjagaan diri dari pengawasan Allah, pengawasan akal dan hikmah, juga tanpa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di berbagai belahan dunia dari kemiskinan, kesulitan dan himpitan keadaan.

Juga termasuk saling berlomba yang tercela adalah ; kegiatan-kegiatan yang tidak benar di lapangan olahraga ; yang menyebabkan saling bertengkar, dan bermusuhan serta saling mengejek dan saling membenci ; sehingga keluar dari tujuan olahraga dan maksudnya.

Allah Ta’ala berfirman :

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS.Al-hadid : 21).

اَللَّهُمَّ اغْننِاَ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَيَسِّرْ لَنَا فِي الأَرْزَاقِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَقْوَاتِنَا وَأَوْقَاتِنَا وَأَعْمَارِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا تَلِهْنَا عَنْ آخِرَتِنَا، وَوَفِّقْنَا لِمَا يَنْفَعُنَا فِي مَعَادِنَا، اَللَّهُمَّ جَنِبْنَا اَلْكَذِبَ وَالْغِشَّ، وَارْزُقْنَا اَلصِّدْقَ وَالنُصْحَ، اَللَّهُمَّ

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَالْهُدَى، وَالرُشْدِ وَالسَّدَادِ، وَالصَّلَاحِ وَالْإِصْلَاحِ، وَالْاِجْتِمَاعِ وَالْاِئْتِلَافِ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ طَاعَاتِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ صَامَ وَقَامَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَسَائِرَ أَهْلِيْنَا، وَالمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ الكَرِيْمِ أَبِي القَاسِمِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَلْهَاشِمِيْ اَلقُرَشِيْ.

Diterjemahkan dari khotbah Syeikh Abdul Bari Al-Tsubaiti  -hafidhzahullah- Imam dan Khatib Masjid Nabawi

Penerjemah: Ust. Iqbal Gunawan, Lc

]]>
http://khotbahjumat.com/berlomba-lombalah-dalam-kebaikan/feed/ 0
Manfaatkan Waktu Anda Sebaik-Baiknya http://khotbahjumat.com/manfaatkan-waktu-anda-sebaik-baiknya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=manfaatkan-waktu-anda-sebaik-baiknya http://khotbahjumat.com/manfaatkan-waktu-anda-sebaik-baiknya/#comments Tue, 15 Jul 2014 07:10:37 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2736 Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَى، وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدَى، وَالَّذِيْ أَخْرَجَ المَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى، رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكِهِ وَمُدَبِّرِهِ وَمُصَرِّفِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيْهَ وَلَا نَظِيْرَ وَلَا مَثِيْلَ، وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ بَيْنَ يَدَيَّ السَّاعَةِ بِالْحَقِّ لِيَكُوْنَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَهِدَايَةً لِلْغَاوِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى المُعَانِدِيْنَ، فَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنِ، وَعَلى المُقْتَدِيْنَ بِهِ وَبِهِمْ إِلَى يَوْمِ الجَزَاءِ وَالمَصِيْرِ.
أَمَّا بَعْدُ،:

Bertakwalah kalian kepada Allah wahai hamba-hamba Allah dengan sebenar-benar takwa, karena takwa kepada Allah adalah jalan menuju petunjuk, sedangkan menyelisihinya adalah jalan kesengsaraan.

Kaum muslimin sekalian :

Waktu adalah kesempatan untuk memakmurkan akhirat dan membangun kebahagiaan, atau sebaliknya waktu dapat digunakan untuk menghancurkan akhirat dan kesengsaraan yang panjang, karena mulianya waktu maka Allah bersumpah dengan bagian-bagiannya, bahkan Allah bersumpah dengan waktu semuanya; malam juga siangnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

(وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى (1) وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى)

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang.” (QS.Al-lail: 1-2).

Dan dengan berlalunya siang dan malam terdapat peringatan dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman :

(وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا)

“Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62).

Nabi kita Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam seluruh hidupnya adalah untuk Allah, Allah berkata kepadanya :

(قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)

Katakanlah wahai Muhammad: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-An’am: 162).

Allah juga memuji para sahabat dengan firman-Nya :

(تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ)

“Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29).

Diantara wasiat Abu bakar kepada Umar -semoga Allah meridhoi keduanya- : sesungguhnya Allah mempunyai amalan siang yang tidak Dia terima pada malam hari, dan amalan malam yang tidak Dia terima  pada siang hari. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata : saya tidak lebih menyesal dari sesuatu melebihi penyesalanku atas satu hari,  tenggelamnya matahari, yang berkurang dengannya ajalku dan tidak bertambah padanya amalanku. Dahulu para salaf radhiallahu ‘anhum sangat memanfaatkan detik-detik umur mereka, mereka memenuhi waktu dengan hal-hal yang membuat Rabb mereka ridho, berkata Hasan al-Basri rahimahullah,  “Saya mendapati kaum yang mereka lebih perhatian menjaga waktu mereka dari pada perhatian kalian menjaga dirham dan dinar kalian”.

Dan tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara, diantaranya : tentang umurnya untuk apa ia habiskan. (HR.Tirmidzi). dan panjangnya umur yang disertai dengan amal yang baik merupakan nikmat Allah yang agung, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : sebaik-baik manusia adalah : yang panjang umurnya dan baik amalannya. (HR.tirmidzi).

Hari-hari sangatlah terbatas, jika telah berlalu satu hari maka berkuranglah umurmu, dan berlalunya sebagian merupakan tanda akan berlalunya semuanya, dan seorang hamba sejak tertancap kakinya di atas muka bumi ini berarti ia sedang berjalan menuju Rabbnya, dan jarak perjalanannya ialah umurnya yang telah ditulis untuknya.

Dan yang beruntung dari hamba-hamba Allah adalah yang memanfaatkan waktunya dengan sesuatu yang bermanfaat, dan yang tertipu adalah yang menyia-nyiakan waktunya, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua nikmat yang orang banyak tertipu pada keduanya –yaitu : lalai pada keduanya-: kesehatan dan waktu luang. (HR.Bukhari). Ibnu Batthol rahimahullah berkata: “Yang diberi taufik untuknya. Yaitu untuk memanfaatkan nikmat kesehatan dan waktu luang sangat sedikit”. Ibnu Qayyim berkata, “Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian; karena menyia-nyiakan waktu memutuskan seseorang dari Allah dan hari akhirat, sedangkan kematian hanyalah memutuskan sesorang dari dunia dan penduduknya”. Dan barang siapa yang menyia-nyiakan waktunya maka ia akan menyesali setiap detik darinya, dan siapa yang berlalu darinya sehari dari umurnya tanpa ada hak yang ia tunaikan, dan kewajiban yang ia laksanakan, atau ilmu yang ia dapatkan berarti ia telah durhaka terhadap harinya dan ia telah menyia-nyiakan umurnya .

Orang yang cerdas adalah orang yang menyibukkan waktunya dengan hal yang diridhoi oleh Rabbnya, dan jika ia telah selesai melakukan suatu amalan ia segera mengerjakan amalan yang lain, Allah Ta’ala berfirman:

(فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ)

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS.As-Syarh : 7).

Ibnu katsir mengatakan, maksudnya : jika kamu telah selesai dari urusan dunia dan kesibukannya dan engkau telah memutuskan segala hal yang berkaitan dengannya, maka bersungguh-sungguhlah menuju ibadah kepada Allah dan berdirilah kepadanya dalam keadaan bersemangat,  dan pikiran yang kosong dari hal dunia dan ikhlaskanlah niat dan harapanmu kepada Tuhanmu.

Dan diantara cara yang paling baik untuk mengisi waktu dan mengangkat derajat seseorang adalah dengan menghafal Alquran, mengulanginya, serta mentadabburinya, karena ia adalah perbendaharaan yang mahal dan perniagaan yang menguntungkan, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أفلا يغدو أحدكم إلى المسجد فيعلم، أو يقرأ آيتين من كتاب الله عز وجل، خير له من ناقتين، وثلاث خير له من ثلاث، وأربع خير له من أربع، ومن أعدادهن من الإبل

“Tidakkah pergi seseorang diantara kalian ke mesjid sehingga ia mempelajari, atau membaca dua ayat dari kitabullah ‘Azza wa Jalla, lebih baik baginya dari dua ekor unta betina, dan tiga ayat lebih baik baginya dari tiga ekor unta, dan empat ayat lebih baik baginya dari empat ekor unta, dan lebih dari empat ayat lebih baik dari jumlahnya dari unta. (HR.Muslim).

Maka barang siapa yang dapat menghafal Alquran maka ia akan mulia, siapa yang membacanya akan terangkat, siapa yang dekat dengannya akan agung kedudukannya , dan kedudukan seorang hamba di surga adalah pada ayat terakhir yang ia baca, dan di zaman fitnah  dan terbukanya pintu syubhat dan syahwat maka berpegang teguh dengan kitabullah menjadi lebih harus dan mendekat dengannya semakin wajib.

Juga membekali diri dengan ilmu syar’i dengan cara menghadiri majlis-majlis dzikir dan hafalan hadit-hadits  Nabi serta matan-matan ilmu syariah merupakan ketinggian derajat bagi seorang muslim Allah Ta’ala berfirman :

(يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara Kalian  dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Imam Malik rahimahullah berkata, “Sebaik-baik amalan sunnah adalah menuntut ilmu dan mengajarkannya”, dan dengan ilmu akan bersinar martabat seseorang sekalipun ia telah meninggal.

Juga mendakwahkan agama adalah jalannya para Rasul dan orang-orang saleh, Allah Ta’ala berfirman:

(قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ)

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik. (QS.Yusuf : 108).

Ia adalah pintu kebaikan dan keberkahan karena “Jika Allah memberi petunjuk disebabkan olehmu seorang laki-laki itu lebih baik dari onta merah” (Muttafaq ‘alaihi).

Juga berbakti kepada kedua orang tua, dan menemaninya merupakan kebahagiaan, serta dekat dengan keduanya merupakan ketenangan dan taufik, Allah berfirman tentang Nabi Isa ‘alaihissalam :

(وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا )

“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32).

Ibnu Katsir berkata, “Siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya berarti ia adalah seorang yang tawadhu dan bahagia”. Anak yang pandai akan bahagia dengan masa liburan dengan menambah bakti kepada kedua orang tuanya, membahagiakan keduanya, dan menemani keduanya, dan diantara yang dapat membuat kedua orang tua bahagia adalah : istiqamahnya seorang anak diatas agamanya, dan termasuk berbakti kepada orang tua adalah : dengan mengunjungi temannya,  dan memuliakannya sepeninggal mereka berdua. Rasulullah sallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakti yang paling baik adalah seseorang menyambung cinta bapaknya.” (HR. Muslim).

Juga bersilaturrahmi akan mendatangkan ridho Sang Rahman, memanjangkan umur, menambah harta, memberkahi waktu, mendekatkan hati, menampakkan akhlak yang mulia, serta memunculkan indahnya perangai, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya ; maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Juga mengunjungi para ulama dan orang-orang saleh akan mendidik jiwa, meninggikan ruh, mengangkat semangat, memperbaiki keadaan, dan mengingatkan akhirat, juga yang mengunjungi mereka akan memperoleh ilmu dan wawasan ; karena mereka adalah pewaris para Nabi, dan penyeru kepada hidayah, serta berlomba-lomba dalam kebaikan dan takwa adalah ciri orang-orang saleh Allah Ta’ala berfirman:

(وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ)

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26).

Hasan Al-Basri mengatakan, “Jika Engkau melihat manusia dalam kebaikan, maka saingilah mereka”.

Juga teman yang baik adalah sebaik-baik penolong dalam amal saleh, dia mengajak kepada kebaikan, menganjurkan kepada keta’atan, dan orang-orang yang saling mencintai karena Allah mereka berada diatas minbar-minbar dari cahaya, para Nabi dan para syuhada iri kepada mereka. Adapun teman yang buruk, ia mengajak kepada kejelekan, dan menghalangi dari kebaikan, berteman dengan mereka akan melahirkan kesedihan dan penyesalan, Allah Ta’ala berfirman :

(وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا)

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku).(QS. Al-Furqan : 27-28).

Ibnu Mas’ud berkata, “Nilailah seseorang dengan siapa dia berteman, karena seseorang tidaklah menemani kecuali yang seperti dengannya”.

Dan melihat-lihat ke tempat-tempat fitnah dan sebab-sebabnya –dari tontonan-tontonan tv dan selainnya- membuat seseorang mengingkari nikmat dan menyebabkan gelapnya hati.

Masa liburan adalah kesempatan bagi seorang ayah untuk dekat dengan anaknya, untuk mengisi kekosongan hati, mendidik akhlak, serta meluruskan kebengkokan mereka, karena kewajiban seorang ayah terhadap anaknya sangatlah besar, juga ibu punya kewajiban terhadap anak-anak perempuannya seperti itu; dengan memperhatikan dan menjaga mereka dengan nasihat dan wejangan, memerintahkan mereka untuk berhijab, menutup aurat dan menjaga diri, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Didiklah anakmu! Karena engkau akan ditanya apa yang engkau didikkan dan apa yang engkau ajarkan kepadanya”. Dan ia sebaliknya akan ditanya tentang baktinya  dan taatnya kepadamu.

Anak-anak akan senang dan terhibur jika mereka ditemani oleh ayah mereka, mereka juga dapat mencontoh akhlak seorang ayah serta mereka mengambil sifat-sifat mulia darinya, berkata Ibnu ‘Aqil –rahimahullah- : “seorang yang berakal akan memberi kepada istri dan dirinya hak keduanya, dan jika ia bersama anak-anak kecilnya dia akan nampak dalam bentuk anak kecil, serta ia menjauhi keseriusan sebagian waktu”. Dan memotivasi anak-anak untuk kebaikan termasuk cara pendidikan yang baik, berkata Ibrahim bin Adham : ayahku berkata kepadaku : “wahai anakku pelajarilah hadits, karena setiap engkau mendengar satu hadits dan engkau menghafalnya maka untukmu satu dirham”, berkata Ibrahim : “saya pun mempelajari hadits disebabkan hal ini”. Adapun sikap acuh tak acuh seorang ayah terhadap anak-anaknya dan jauhnya ia dari mereka merupakan bentuk kelalaian terhadap pendidikan mereka, juga akan memudahkan sampainya orang jahat kepada mereka, yang akan menimbulkan kesedihan dan penyesalan seorang ayah. Juga bepergian yang dibolehkan dengan anak-anak akan mendekatkan antara orang tua dan anak-anak mereka, serta menutup celah diantara mereka.

Umrah adalah perjalanan ibadah yang dapat menghapuskan dosa-dosa, dan mengangkat derajat, juga sholat di masjid Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari seribu sholat di mesjid lain. adapun bepergian yang diharamkan akan membuang-buang harta, juga potensi bagi seseorang untuk terkena fitnah, dan sebab banyaknya syubhat dan syahwat, dan dengannya seorang kembali dari perjalanannya dalam keadaan lebih jelek dari sebelumnya. Juga dalam masa liburan dibangun keluarga-keluarga dengan pernikahan, maka dalam rangka mensyukuri nikmat tersebut : jangan sampai prosesi walimah dicampuri dengan sesuatu yang diharamkan, dari sikap berlebih-lebihan, membuka aurat, nyanyian, atau pemotretan, dan hendaklah pernikahan tersebut tidak ada maksiat di dalamnya.

Allah memberkahi umat ini di pagi hari, menjadikan malam untuk istirahat, siang untuk mencari penghidupan, dan diantara ajaran Nabi sallallahu ‘alahi wasallam, adalah tidur diawal malam, dan sholat diakhirnya, berkata Abu Barzah Al-Aslami -radiyallahu ‘anhu- : “Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum isya dan berbincang-bincang setelahnya”(Muttafaqun ‘alaih). Dan jika begadang menjadi sebab seseorang meninggalkan sholat subuh berjama’ah, maka begadang tersebut menjadi haram.

Seorang muslim hendaklah selalu merasa diawasi oleh Allah di setiap waktu dan keadaannya, dan ia harus yakin bahwa Allah melihat apa yang ia kerjakan dan mendengar semua perkataannya, serta mengetahui apa yang ia sembunyikan di dalam hatinya, Allah Ta’ala berfirman :

(وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ)

Artinya : dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. (QS.Yunus : 61). Dan derajat iman yang paling afdhal adalah engkau mengetahui bahwasanya Allah bersamamu dimanapun engkau berada, dan diantara wasiat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummatnya : “bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada”(HR.Tirmidzi). dan Allah Subhanahu wa Ta’ala cemburu apabila dilampaui batasan-batasannya ketika seorang sedang safar atau tinggal di negrinya, bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam : “sesungguhnya Allah cemburu, dan cemburunya Allah : apabila seseorang mendatangi apa yang Allah haramkan”(Muttafaqun ‘alaih).

Maka jadilah seorang yang menjauh dari dosa-dosa, dan berbekallah dengan amalan-amalan saleh, karena walaupun beramal saleh itu berat sesungguhnya kekosongan itu merusak, dan dirimu jika engkau tidak sibukkan dengan sesuatu yang benar maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan, dan seseorang terus diuji dalam keadaan lapang dan senangnya, dalam keadaan sehat ataupun terkena musibah, juga dalam keadaan diam ataupun bepergian, dan orang yang diberi taufiq adalah yang menjadikan takwa sebagai kendaraannya, dan bersegera menuju surga Tuhannya.

(وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)

Dan katakanlah: “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat amalan kalian, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”.

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Alquranul adzhim…

نَفَعْنِيَ اللهَ وَإِيَّاكُمْ بِمَا سَمِعْتُمْ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ محمد الأَمِيْنِ المَأْمُوْنِ.

Khutbah Kedua :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ العَظِيْمِ الجَلِيْلِ، اَلْغَفُوْرِ الرَّحِيْمِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِهِ وَأَفْضَلِهِمْ، وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَتَمَمِ بِالتَّابِعِيْنَ لَهُ بِإِحْسَانٍ.
وَبَعْدُ، أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ:

Segala puji bagi Allah atas anugrah kebaikanNya, dan rasa syukur terpanjatkan kepadaNya atas taufik dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungan kepadaNya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan RasulNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepada beliau, keluarganya dan para sahabatnya.

Kaum muslimin sekalian :

Dunia ini umurnya pendek, dan kenikmatannya akan hilang, maka janganlah engkau bergantung darinya kecuali dengan apa yang dibutuhkan oleh orang asing di selain negrinya, dan janganlah sibukkan dirimu padanya kecuali seperti sibuknya seorang asing yang mempersiapkan bekal untuk kembali kepada keluarganya, dan orang yang beriman, ia berada diantara dua ketakutan : antara dosa yang telah lalu yang ia tidak tahu apa yang Allah perbuat dengannya, dan ajal yang telah dekat yang ia tidak tahu kemana ia akan kembali, dan bagi seorang yang berakal baik, hendaklah ia tidak menyibukkan dirinya dari empat waktu : pertama : waktu ia bermunajat kepada Tuhannya, kedua : waktu ia menginstrospeksi dirinya, ketiga : waktu ia berkumpul bersama saudara-saudaranya yang menasehatinya dan memberitahukan aib-aibnya, keempat : waktu ia menyendiri antara dirinya dan kelezatan-kelezatannya pada hal yang halal dan terpuji.

Dan ketahuilah bahwasanya Allah memerintahkan kalian bershalawat dan bersalam kepada NabiNya…

اَللَّهُمَّ وَأَعِنَّا عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ وَقِيَامِهِ، وَاجْعَلْنَا فِيْهِ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ الشَّاكِرِيْنَ المُتَقَبَّلَةِ أَعْمَالِهِمْ، وَقِنَا شَرَّ أَنْفُسِنَا وَالشَّيْطَانَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَأَجْدَادِنَا وَسَائِرِ أَهْلِيْنَا وَقَرَابَاتِنَا، اَللَّهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانْ، وَأَعِذْهُمْ مِنَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَجَنِّبْهُمْ القَتْلَ وَالاِقْتَتَالَ، وَأَزِلْ عَنْهُمْ اَلْخَوْفَ وَالْجُوْعَ وَالدِّمَارَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ مَا يُرْضِيْكَ، وَاجْعَلْهُمْ عَامِلِيْنَ بِشَرِيْعَتِكَ، مُعْظِمِيْنَ لَهَا وَمُدَافِعِيْنَ وَنَاصِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ دِيْنَنَا وَبِلَادِنَا وَأَمْنَنَا وَأَمْوَالِنَا بِشَرٍّ وَمَكَرٍ وَضَرَرٍ فَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْراً لَهُ، وَإِضْرَارَهُ سُوْءًا عَلَيْهِ، وَلَا تُمَكِّنْ لَهُ عَلَى أَحَدٍ، يَا سَمِيْعُ الدُّعَاءِ.

وَسُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ

Penerjemah: Ust. Iqbal Gunawan, Lc

]]>
http://khotbahjumat.com/manfaatkan-waktu-anda-sebaik-baiknya/feed/ 0
Semangat Mengisi Ramadhan dengan Ketaatan http://khotbahjumat.com/semangat-mengisi-ramadhan-dengan-ketaatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=semangat-mengisi-ramadhan-dengan-ketaatan http://khotbahjumat.com/semangat-mengisi-ramadhan-dengan-ketaatan/#comments Tue, 01 Jul 2014 04:36:36 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2731 Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَى، وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدَى، وَالَّذِيْ أَخْرَجَ المَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى، رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكِهِ وَمُدَبِّرِهِ وَمُصَرِّفِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيْهَ وَلَا نَظِيْرَ وَلَا مَثِيْلَ، وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ بَيْنَ يَدَيَّ السَّاعَةِ بِالْحَقِّ لِيَكُوْنَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَهِدَايَةً لِلْغَاوِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى المُعَانِدِيْنَ، فَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنِ، وَعَلى المُقْتَدِيْنَ بِهِ وَبِهِمْ إِلَى يَوْمِ الجَزَاءِ وَالمَصِيْرِ.
أَمَّا بَعْدُ،:

Kaum muslimini rahimakumulah,

Nikmat Allah Jalla wa ‘Ala senantiasa kita dapatkan. Kebaikannya yang banyak terus tercurah waktu demi waktu. Setiap hari nikmat tersebut kian bertambah. Nikmat yang satu senantiasa disusul oleh nikmat yang lain. Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang butuh kepada-Nya, butuh terhadap pertolongan, ampunan, dan kenikmatan dari-Nya. Segala puji bagi-Nya.

Dalam rangka menyempurnakan nikmat dan karunia-Nya, Allah Ta’ala mewajibkan kepada kita berpuasa di bulan Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila tiba bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka. Serta setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka berbahagialah dan sambutlah bulan ini. Sambutlah dengan kebahagian dan kesungguhan dalam mengisinya. Tempuhlah jalan menuju surga dan jauhi jalan-jalan yang mengantarkan ke neraka. Kasihan dan sungguh kasihan bagi mereka yang menempuh dan menceburkan dirinya untuk menempuh jalan-jalan kemaksiatan. Mereka menempatkan diri mereka dalam kebinasaan dan murka Rabbnya. Padahal jalan telah dimudahkan. Pintu-pintu surga telah dibukakan. Pintu-pintu neraka ditutupkan. Dan setan-setan sudah dibelenggu.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Kalau seseorang tidak bertaubat di bulan Ramadhan, kapan lagi ia hendak bertaubat? Siapa yang tidak meninggalkan perbuatan dosa di bulan ini, kapan lagi ia akan meninggalakannya? Siapa yang tidak mengasihani jiwanya di bulan ini, kapan lagi ia akan memberikan kasih sayang kepadanya?

Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke mimbar, lalu bersabda,

آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ الْمِنْبَرَ قُلْتَ: آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ، قَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَقَالَ: مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ

“Amin.. amin.. amin..”Kemudian ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, ketika Anda naik ke mimbar, Anda mengatakan, ‘Amin.. amin.. amin..’” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Siapa yang mendapati bulan Ramadhan lalu tidak diampuni baginya, maka akhirnya masuk neraka dan dijauhkan Allah (dari surga), katakanlah: “Amin (Kabulkanlah, Ya Allah)”, maka akupun mengucapkan: “Amin…”

Alangkah rugi dan celakanya orang yang didoakan Jibril demikian kemudian ditambah dengan diaminkan oleh penghulu anak Adam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baginya kecelakaan dan jauh dari rahmat.

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang dirahmati pada bulan Ramadhan, maka dia adalah orang yang mendapatkan kasih sayang. Siapa yang diharamkan dari mendapatkannya maka dia telah terlarang dari hal itu. Dan siapa yang tidak membekali diri dengan perbekalan (amal), maka dia tercela.

Barang siapa yang melalukan dosa di bulan Rajab.

Hingga ia lanjutkan juga di bulan Sya’ban.

Maka setelah itu datang Ramadhan menaungi.

Janganlah engkau teruskan juga menjadi bulan yang penuh dosa.

Wahai orang-orang yang menginginkan kebaikan, sambutlah bulan ini dengan memperbanyak ketaatan. Wahai orang-orang yang berkumbang dalam kejelekan, berhentilah dari perbuatan dosa dan kemaksiatan.

Jika kita ingin mendapatkan ampunan dan dihapuskan kesalahan serta dosa kita, mintalah saat ini di bulan puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan berharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu, shalat Jumat ke Jumat, berpuasa Ramadhan ke Ramadhan lainnya adalah penghapus dosa-dosa diantaranya jika dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim).

Apabila kita menginginkan dilipat-gandakannya kebaikan dan diangkat derajat, maka kita wajib menunaikan puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي

“Seluruh amalan anak Adam dilipatgandakan. Kebaikanal dilipatgandakan 10x lipat hingga 700x lipat. Allah berfirman, ‘Kecuali puasa, karena itu antara Aku dan hamba-Ku. Akulah yang akan membalasnya. Mereka meninggalkan keinginan syahwat dan makanan karena Aku’.” (HR. Muslim).

Apabila kita menginginkan menjadi penduduk surga yang senantiasa diberikan kenikmatan dan kebahagiaan, maka jangan sampai kita melalaikan puasa Ramadhan. Pada saat haji wada’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di hadapan orang-orang. Beliau bersabda,

صَلُّوا خَمْسَكُمْ، وَصُومُوا شَهْرَكُمْ، وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ، وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ

“Kerjakanlah shalat lima waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, tunaikan zakat dari harta kalian, taatilah pemimpin-pemimpin kalian, maka kalian akan masuk ke dalam surge Rabb kalian.”

Apabila kalian menginginkan masuk ke dalam surga dari pintu ar-Rayyan, maka jadilah orang-orang yang berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang namanya pintu ar-Rayyan. Di hari kiamat, orang-orang yang berpuasa masuk (ke surga) melalu pintu itu. Tidak seorang pun yang masuk lewat situ kecuali mereka. dikatakan, ‘Mana orang yang berpuasa?’ Mereka (orang-orang yang berpuasa) berdiri dan tidak masuk melalui pintu itu kecuali mereka saja. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak ada lagi yang masuk dari situ.” (HR Bukhari dan Muslim).

Apabila kita ingin melindungi diri kita dari panasnya api neraka, maka kerjakanlah puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ، كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ

“Puasa itu adalah perisai (yang melindungi) dari api neraka. Sebagaimana perisai (yang melindungi) seseorang dari kematian.”

Apabila kita menginginkan syafaat pada hari manusia dikumpulkan di padang mahsyar. Cara yang paling utama untuk memperoleh syafaat tersebut adalah dengan puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan Alquran adalah pemberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb, aku telah menghalanginya dari makan dan keinginan syahwatnya di siang hari. perkenankan aku memberi syafaat kepadanya’. Alquran berkata, ‘Aku telah menghalanginya untuk tidur di malam hari. Karena itu, perkenankan aku memberi syafaat kepadanya’. Beliau bersabda, “Maka syafaat keduanya diperkenankan.”

Apabila kita menginginkan menjadi orang-orang yang mendapatkan derajat yang tinggi dan mulia, maka perolehlah dengan puasa. Ada seorang laki-laki yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ، وَصَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ، وَأَدَّيْتُ الزَّكَاةَ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَقُمْتُهُ، فَمِمَّنْ أَنَا؟، قَالَ: مِنَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku bersaksi tiada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Anda adalah utusan Allah. Kemudian aku mengerjakan shalat lima waktu, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan shalah di malam harinya. Termasuk golongan yang mana aku ini?” Rasulullah menjawab, “Termasuk golongan shiddiqin dan syuhada”.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Bulan Ramadhan telah datang kepada kita. Bulan dimana Allah wajibkan puasa yang termasuk salah satu dari rukun Islam. Bulan diamana Alquran diturunkan. Bulan dimana setan-setan dibelenggu, pintu surga dibuka, dan pintu neraka ditutup. Bersemangatlah dengan kesungguhan untuk mengisinya. Kuatkan tekad menjalankannya. Agar kita menjadi orang yang benar-benar mewujudkan tujuan dari puasa yaitu menjadi orang yang bertakwa kepada Allah. Menjauhkan kita dari dosa dan kemaksiatan kepada Rabb kita. Menyemangati kita dalam beribadah dan menunaikan ketaatan. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Kaum muslimin rahimakumullah,

Sesungguhnya puasa itu meninggalkan makan, minum, jima’, dan pembatal-pembatal lainnya. Termasuk juga orang yang berpuasa harus berpuasa anggota tubuhnya dari mengerjakan perbuatan dosa. Lisannya tidak boleh berdusta, mengucapkan sesuatu yang kotor, dan mengada-ada. Perutnya menjaga dari makan dan minum. Kemaluannya dari hal-hal yang merangsang. Apabila ia berbicara, ia berbicara dengan apa yang yang tidak merusak puasanya. Apabila ia berbuat sesuatu, ia juga tidak melakukan hal yang bisa merusak puasanya. Jika ia mendengar, tidak mendengar hal-hal yang mengecilkan puasanya. Perkataan yang ia keluarkan bermanfaat dan baik. Amal perbuatannya baik dan diridhai. Apabila makan dan minum itu merusak puasa, demikian juga dosa merusak pahala puasa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak mempunyai sebuah keperluanpun untuk meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Maksud dari az-zur adalah semua perkataan yang diharamkan. Jadi az-zur ini meliputi dusta, persaksian palsu, ghibah, mengadu domba, fitnah, nyanyian, mengejek, menghina, dll.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَر

“Berapa banyak seorang yang bangun (beribadah pada malam hari) bagiannya dari bangun malamnya (hanya) begadang dan berapa banyak seorang yang berpuasa bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah).

Kaum muslimin rahimakumullah,

Berhati-hatilah dengan kehati-hatian yang sangat di bulan Ramadhan ini, jangan sampai kita termasuk orang yang Allah tidak memperhatikan puasa kita. Jangan sampai puasa kita hanya bernilai lapar dan haus. Jauhilah hal-hal yang menyebabkan demikian. Jaga pendengaran, penglihatan, lisan, dan anggota-anggota tubuh lainnya. Jagalah dari yang Allah haramkan di setiap waktu dan tempat.

Diriwayatkan dari Abu Mutawakil an-Naji bahwa Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan sahabat-sahabatnya, apabila berpuasa mereka duduk di masjid dan mengatakan, “Kita sucikan puasa kita”. Karena di masjid mereka sibuk ibadah, jauh dari pandangan, perkataan, dan perbuatan yang haram.

Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata, “Apabila engkau berpuasa, maka puasakan juga pendengaranmu (tidak banyak mendengar), penglihatan, lisan dari dusta dan hal-hal yang haram. Jangan mengganggu tetangga. Jadilah orang yang lemah lembut dan tenang pada saat engkau berpuasa. Janganlah jadikan saat-saat puasamu dan saat-saat tidak puasa menjadi dua hal yang sama.”

Maimun bin Mihran rahimahullah berkata, “Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum.”

نَفَعْنِيَ اللهَ وَإِيَّاكُمْ بِمَا سَمِعْتُمْ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ محمد الأَمِيْنِ المَأْمُوْنِ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ العَظِيْمِ الجَلِيْلِ، اَلْغَفُوْرِ الرَّحِيْمِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِهِ وَأَفْضَلِهِمْ، وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَتَمَمِ بِالتَّابِعِيْنَ لَهُ بِإِحْسَانٍ.
وَبَعْدُ، أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ:

Kaum muslimin rahimakumullah,

Di bulan Ramadhan, para salafasuh shaleh menambah intensitas interaksi mereka dengan Alquran. Mereka menaruh perhatian yang jauh lebih besar dari bulan-bulan lainnya. Mereka membekali diri dengan banyak-banyak membaca Alquran. Imam asy-Syafi’i rahimahullah dua kali mengkhatamkan Alquran hanya dalam satu hari dan satu malam saja. Imam Bukhari rahimahullah mengkhatamkan Alquran dalam satu hari dan satu malam. Ada juga di antara mereka para salafush shaleh yang mengkhatamkannya dalam waktu tiga hari, lima hari, dan satu pecan.

Bagaimana mereka tidak bersemagat? Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran. Bulan diman Jibril ‘alaihissalam mengajarkan Alquran kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bulan ini adalah waktu yang baik dari selainnya. Dan kebaikan di bulan ini dilipatgandakan.

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُكْتَبُ بِكُلِّ حَرْفٍ مِنْهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، وَيُكَفَّرُ بِهِ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ، أَمَا إِنِّي لَا أَقُولُ: { الم } وَلَكِنْ أَقُولُ: أَلِفٌ عَشْرٌ، وَلَامٌ عَشْرٌ، وَمِيمٌ عَشْرٌ

“Pelajarilah Alquran karena dituliskan untuk setiap hurufnya sepuluh kebaikan dan dihapus sepuluh kejelekan (dosa). Aku tidak katakan { الم }alif lam mim, akan tetapi aku katakana, alif itu sepulu, lam itu sepuluh, dan mim itu sepuluh.”

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

مَا يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ إِذَا رَجَعَ مِنْ سُوقِهِ أَوْ مِنْ حَاجَتِهِ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ فَيَكُونَ لَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ

“Apa yang menghalangi salah seorang dari kalian saat ia kembali dari pasar atau selesai menunaikan keperluan dengan keluarganya untuk membaca Alquran? Baginya (yang membaca Alquran) sepuluh kebaikan di setiap hurufnya.”

Oleh karena itu ibadallah, banyak-banyaklah membaca Alquran di bulan yang agung ini. Motivasi orang-orang di keluarga Anda, laki-laki dan perempuan, kecil maupun besar, untuk memperbanyak bacaan Alquran. Jadikan rumah, kendaraan, atau waktu-waktu kita adalah waktu untuk membaca Alquran.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi pada saat bulan Ramadhan dimana beliau berjumpa dengan Jibril. Jibril menjumpai beliau di setiap malam-malam Ramadhan untuk mengajarkan Alquran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang lebih dermawan dalam hal kebaikan dari pada angin yang berhembus.”

Teladanilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadilah orang yang dermawan pada bulan yang penuh kebaikan ini, dan tingkatlah kedermawanan tersebut. Uang dirham dan dinar telah berganti dengan rupiah, kemudian kita menjadi takut ditimpa kemiskinan. Padahal orang yang pelit itu tidak mengungtungkan, dirinya sendirilah yang rugi. Allah Ta’ala berfirman,

هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” (QS. Muhammad: 38).

Berinfaklah jangan kalian tahan harta kalian. Dermawanlah, jangan menjadi orang pelit. Jangan remehkan sedikitnya pemberian. Jangan remehkan sedikitnya nominal sedekah. Jangan sampai gara-gara kita meremehkan yang sedikit ini, hal itu malah menahan kita untuk infak dan sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ حِجَابٌ وَلاَ تَرْجُمَانٌ يُتَرْجِمُ لَهُ، ثُمَّ لَيَقُولَنَّ لَهُ: أَلَمْ أُوتِكَ مَالًا؟ فَلَيَقُولَنَّ: بَلَى، ثُمَّ لَيَقُولَنَّ أَلَمْ أُرْسِلْ إِلَيْكَ رَسُولًا؟ فَلَيَقُولَنَّ: بَلَى، فَيَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ فَلاَ يَرَى إِلَّا النَّارَ، ثُمَّ يَنْظُرُ عَنْ شِمَالِهِ فَلاَ يَرَى إِلَّا النَّارَ، فَلْيَتَّقِيَنَّ أَحَدُكُمُ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Sungguh, kalian (semua) akan berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada hijab antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dirinya, tidak ada pula orang yang menerjemahkan untuknya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepadanya, ‘Bukankah Aku telah memberimu harta?’ Dia berkata, ‘Benar.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Bukankah Aku telah mengutus rasul kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Benar.’ Kemudian dia melihat di sisi kanannya, dia tidak melihat selain neraka. Kemudian dia melihat sebelah kirinya, dia pun tidak melihat selain neraka. Maka dari itu, jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan separuh kurma (yang dia sedekahkan). Jika tidak bisa, dengan tutur kata yang baik.” (HR. al-Bukhari)

Dan di antara bentuk kedermawanan pada bulan Ramadhan ini, kita memberi buka puasa kepada orang-orang dekat, tetangga, teman, orang-orang miskin, para pekerja, dll. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memotivasi untuk memberi buka puasa, beliau menjelaskan keutamaan dan keagungan pahalanya,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang memberi buka puasa kepada orang-orang yang berpuasa, dicatatkan pahal seperti pahala orang yang berpuasa itu. Namun sedikit pun tidak mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.”

Ma’asyiral muslmin,

Bertakwalah kepada Allah Rabb kalian, agungkanlah Dia dengan pengagungan yang memang pantas untuk-Nya, hormatilah perintah-perintah-Nya, jangan kalian membuat hina diri kalian sendiri dengan berbuat maksiat kepada-Nya. Jauhkanlah diri kalia dari apa yang Dia haramkan. Waspadailah setan. Tundukkanlah nafsu syahwat kalian.

اَللَّهُمَّ وَأَعِنَّا عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ وَقِيَامِهِ، وَاجْعَلْنَا فِيْهِ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ الشَّاكِرِيْنَ المُتَقَبَّلَةِ أَعْمَالِهِمْ، وَقِنَا شَرَّ أَنْفُسِنَا وَالشَّيْطَانَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَأَجْدَادِنَا وَسَائِرِ أَهْلِيْنَا وَقَرَابَاتِنَا، اَللَّهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانْ، وَأَعِذْهُمْ مِنَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَجَنِّبْهُمْ القَتْلَ وَالاِقْتَتَالَ، وَأَزِلْ عَنْهُمْ اَلْخَوْفَ وَالْجُوْعَ وَالدِّمَارَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ مَا يُرْضِيْكَ، وَاجْعَلْهُمْ عَامِلِيْنَ بِشَرِيْعَتِكَ، مُعْظِمِيْنَ لَهَا وَمُدَافِعِيْنَ وَنَاصِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ دِيْنَنَا وَبِلَادِنَا وَأَمْنَنَا وَأَمْوَالِنَا بِشَرٍّ وَمَكَرٍ وَضَرَرٍ فَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْراً لَهُ، وَإِضْرَارَهُ سُوْءًا عَلَيْهِ، وَلَا تُمَكِّنْ لَهُ عَلَى أَحَدٍ، يَا سَمِيْعُ الدُّعَاءِ.

وَسُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Qadir al-Junaid

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/semangat-mengisi-ramadhan-dengan-ketaatan/feed/ 1
Sambutlah Ramadhan http://khotbahjumat.com/sambutlah-ramadhan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sambutlah-ramadhan http://khotbahjumat.com/sambutlah-ramadhan/#comments Mon, 30 Jun 2014 14:42:53 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2727 Khutbah Pertama :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَاكِرِيْنَ ، وَأُثْنِيْ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ ثَنَاءَ المُنِيْبِيْنَ اَلذَّاكِرِيْنَ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ  إِلَهَ الْأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ وَقُيُوْمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِيْنَ وَخَالِقِ الخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغِ النَّاسَ شَرْعَهُ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ، اِتَّقُوْا اللهَ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ .

Kaum muslimin sekalian….hilal puasa telah dekat kemunculannya, dan semakin hampir kedatangannya, semua orang menunggunya, dan hari-hari membuatnya semakin dekat.

Betapa  banyak hati yang merindukan, dengan luapan rindu kepada mulianya hari-hari dan malam-malamnya.

Jiwa yang tekun dan bersungguh-sungguh dengan kata dan perbuatan puasa pada siang hari dan malamnya dengan tarawih

Bersiap-siaplah menyambutnya, menghadaplah kepada Allah Ta’ala dan kembalilah kepada-Nya, harapkanlah rahmat,kebaikan, dan karunia-Nya!, minta ampunlah dari kesalahan-kesalahan, merendahlah di hadapan-Nya!, agar Ia mengampuni dosa-dosa kalian.

Betapa banyak Ia hitung dari kalian dosa-dosa dan kesalahan.

Dan jika datang bulan Ramadhan dan engkau terpilih untuknya

Maka lepaslah pakaian hawa nafsu dan berdirilah diatas kaki

Jagalah Ia dari segala yang merusaknya dari keharaman-keharaman

Dan kekanglah jiwa seperti engkau mengekang kuda

Bentengilah puasamu dengan cara diam dari berkata kotor

Tutuplah kedua matamu dengan pelupuknya

Jangan engkau berjalan dengan bermuka dua diantara manusia

Sejelek-jelek manusia adalah yang mempunyai dua wajah

Wahai hamba Allah…wahai yang akan berpuasa dari makan dan minum di siang hari pada bulan ramadhan, berpuasalah dari mendzalimi saudaramu sesama muslim, berhentilah  dari memakan hartanya, menjatuhkan kehormatannya, dan menyia-nyiakan haknya, sebagaimana engkau berpuasa dari makan dan minum.

Wahai yang berpuasa dari makanan

Duhai seandainya engkau juga berpuasa dari berbuat kedzaliman

Apakah bermanfaat puasanya orang yang dzalim

Yang perutnya penuh dengan dosa-dosa

Kaum muslimin sekalian…ingatlah kepada orang-orang miskin dan lemah serta orang-orang yang terkena musibah, kasihanilah mereka! Karena orang-orang yang sering mengasihani orang lain akan dikasihani pula oleh sang maha pengasih.

Kasihanilah mereka! bersedekahlah kepada mereka! Dekati mereka dan dekatkan mereka kepada kalian! Berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim!

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan berbuat kebaikanlah! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. (QS.Al-Baqarah :195).

Wahai para pedagang di pasar-pasar…wahai yang mendatangkan barang dagangan dan memperdagangkannya, jauhilah sifat serakah dan tamak! Jangan kalian mengangkat harga dan bermain-main dengan harga!

Janganlah kalian menjual barang-barang palsu dan makanan yang sudah rusak, janganlah kalian mencurangi kaum muslimin yang menyebabkan kalian tertimpa doa-doa mereka dan terhapus dari golongan mereka.

Jauhilah harta yang haram karena ia adalah kesialan bagi pemiliknya, dan api bagi yang mengambilnya, serta musibah bagi yang mencarinya.

Kaum muslimin sekalian…hindarilah dari berlebih-lebihan dalam membeli belanjaan dan mempersiapkan jamuan-jamuan, karena pemborosan adalah tanda akan dicabutnya nikmat dan datangnya adzab, pujilah Allah  atas apa yang kalian rasakan sekarang dari nikmatnya kehidupan, dan luasnya rezeki dengan menjaga nikmat-Nya dan mensyukurinya.

Kaum muslimin sekalian… dan barangsiapa yang masih mempunyai utang puasa ramadhan dan tidak ada udzur yang menghalanginya dari membayarnya. Maka hendaklah ia bersegera membayar utang puasanya tersebut sebelum masuknya bulan ramadhan.

Dan diharamkan berpuasa pada hari yang diragukan, kecuali seorang yang membayar puasa atau bertepatan dengan hari yang ia biasa berpuasa padanya, dari sahabat Abu Hurairah radiallahu ‘anhu : bahwasanya Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian mendahului ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari kecuali seorang yang mempunyai kebiasaan puasa pada hari tersebut maka hendaklah ia berpuasa”.(Muttafaq ‘alaihi)

Sahabat ‘ammar bin yasir pernah berkata : siapa yang berpuasa pada hari yang diragukan berarti ia telah bermaksiat kepada Abu al-Qasim sallallahu ‘alaihi wa sallam, (HR.Tirmidzi).

أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى .

Kaum muslimin sekalian…di negri haramain ini masalah penglihatan hilal telah diwakilkan kepada bagian hukum dan syariat yang bekerja sesuai dengan kitab dan sunnah, bagian yang terpercaya dan disepakati.

Akan tetapi sebagian orang yang bernisbat kepada ilmu syar’i atau ilmu falak  -setiap tahun- mereka mencoba membuat kacau, dan membuat orang-orang ragu akan masuknya bulan atau belum masuknya, kemudian menyebarkannya melalui sarana informasi dan jaringan sosial masyarakat yang hal tersebut menyebabkan kekacauan dan kebingungan.

Maka jauhilah wahai hamba Allah sekalian cara yang jelek ini yang bertentangan dengan akal, hikmah dan maslahat, dan barangsiapa yang punya pendapat atau ijtihad lain maka hendaklah ia menempuh jalan yang disyariatkan untuk menyampaikannya tanpa memprovokasi atau membuat kekacauan dan keragu-raguan.

Kaum muslimin sekalian…adapun kaum muslimin yang tinggal di luar negri-negri islam dan ia terkumpul di satu negri atau di negri-negri yang berdampingan diantaranya jarak yang tidak berbeda matla’nya hendaklah mereka menyatukan  waktu puasa dan berbuka mereka, dan hendaklah mereka menjauhi saling berpecah dan berselisih yang membuat terjadinya perbedaan waktu puasa dan hari raya mereka, padahal mereka berada di satu negri atau satu kampung.

Hal ini seharusnya dihindari dan dijauhi oleh orang yang mempunyai ilmu dan akal.

نَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمْ خَشِيَتَهُ فِي الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ، وَأَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ المُتَّقِيْنَ وَأَنْ يَهْدِيَنَا جَمِيْعاً سَوَاءَ السَّبِيْلِ ، وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَكُمُ اللهُ – عَلَى  مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ))

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم ، وَاجْعَلْهُمْ رَأْفَةً عَلَى عِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Salah al-Budair (Imam dan Khatib Masjid Nabawi)

Oleh Ustadz Iqbal Gunawan, Lc.

]]>
http://khotbahjumat.com/sambutlah-ramadhan/feed/ 0
Hukum-Hukum Fikih Berkaitan dengan Ramadhan http://khotbahjumat.com/hukum-hukum-fikih-berkaitan-dengan-ramadhan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hukum-hukum-fikih-berkaitan-dengan-ramadhan http://khotbahjumat.com/hukum-hukum-fikih-berkaitan-dengan-ramadhan/#comments Sun, 29 Jun 2014 15:29:59 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2724 Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَى، وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدَى، وَالَّذِيْ أَخْرَجَ المَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى، رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكِهِ وَمُدَبِّرِهِ وَمُصَرِّفِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيْهَ وَلَا نَظِيْرَ وَلَا مَثِيْلَ، وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ بَيْنَ يَدَيَّ السَّاعَةِ بِالْحَقِّ لِيَكُوْنَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَهِدَايَةً لِلْغَاوِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى المُعَانِدِيْنَ، فَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنِ، وَعَلى المُقْتَدِيْنَ بِهِ وَبِهِمْ إِلَى يَوْمِ الجَزَاءِ وَالمَصِيْرِ.
أَمَّا بَعْدُ،:

Kaum muslimiln yang dirahmati Allah,

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.  Perhatikanlah! Apa yang telah kita persiapkan untuk hari akhir. Persiapan berupa amalan dan ibadah. Semoga kita termasuk orang-orang yang dirahmati dan orang-orang yang beruntung.

Ketauhilah bahwa memahami agama, mempelajari hukum-hukumnya, mendalami permasalahan-permasalahan yang ada, menghafal teks-teksnya merupakan sebuah ibadah yang agung. Oleh karena itu, bergembiralah wahai para penuntut ilmu dan orang-orang yang mempelajari ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, maka Dia pahamkan orang tersebut tentang agamanya.”

Hadapkanlah diri kalian kepada ilmu dan berbekallah dengannya. Terlebih lagi tentang hal-hal yang berkaitan dengan puasa karena kita sekarang berada pada waktunya. Dan puasa diwajibkan bagi orang-orang yang beriman.

Dalam khotbah Jumat ini, khatib akan memaparkan beberapa hukum terkait tentang puasa. Mudah-mudahan hal ini dapat bermanfaat bagi jamaah sekalian.

Pertama adalah hukum berpuasa bagi anak-anak kecil.

Dianjurkan bagi seorang ayah atau ibu atau orang-orang yang memiliki tanggungan anak kecil , apabila datang akan datang bulan Ramadhan para orang tua menjelaskan dan mengenalkan tentang bulan Ramadhan. Baik menjelaskan secara utuh atau sebagian agar anak-anak mengenal dan mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Puasa anak-anak kecil sudah dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan zaman para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Dari Rabayyi’ binti Muawwidz radhiallahu ‘anha, ia berkata tentanta hari asyura (10 Muharam).

عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَتْ أَرْسَلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ « مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ » . قَالَتْ فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا ، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ ، حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ .

“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus utusan pada pagi hari Asyura ke pedesaan kaum Anshar, ia berseru: “Barangsiapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaklah ia menyempurnakan sisa harinya (untuk berpuasa) dan barangsiapa yang pada pagi harinya dalam keadaan puasa maka hendaklah ia berpuasa”, maka kami pun setelah itu berpuasa pada harinya, dan mempuasakan anak-anak kami, dan kami buatkan untuk mereka mainan dari ‘ihn (sejenis wol yang sudah diwarnai), jika salah seorang dari mereka menangis karena kelaparan, kami berikan itu kepada mereka, sampai datang waktu berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat yang lain,

وَنَصْنَعُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ، فَنَذْهَبُ بِهِ مَعَنَا، فَإِذَا سَأَلُونَا الطَّعَامَ، أَعْطَيْنَاهُمُ اللُّعْبَةَ تُلْهِيهِمْ حَتَّى يُتِمُّوا صَوْمَهُمْ

“Kami buatkan mainan dari al-‘ihn, kemudian kami ajak jalan-jalan. Jika mereka bertanya tentang makanan, maka kami berikan mereka mainan itu yang membuat mereka lalai (dari makan) sampai sempurna puasa mereka (berbuka).”

Lalu bagimana Anda tidak malu makan di siang Ramadhan, padahal Anda adalah seorang yang bukan anak-anak lagi? Dan puasa diwajibkan atas Anda.

Kedua bagi orang-orang yang hilang kesadarannya.

Orang-orang yang hilang kesadarannya di bulan Ramadhan, maka keluarganya tidak perlu repot-repot mengupayakannya untuk berpuasa. Seandainya kesadarannya ini tetap demikian hingga ia wafat, maka tidak ada tanggungan bagi keluarganya. Tidak mengqadha-kan puasanya dan tidak juga memberi makan yatim sebgai ganti puasanya.

Apabila Allah sembuhkan orang-orang yang keadaannya demikian, maka wajib bagi dia mengqadha puasanya pada waktu kesadarannya hilang. Demikianlah pendapat mayoritas para ulama, bahkan Imam Ibnu Qudamah mengatakan, tidak ada perselisihan di kalangan ulama.

Ketiga adalah orang-orang yang sakit.

Allah Ta’ala membolehkan bagi orang-orang yang sakit untuk tidak berpuasa. Dia berfirman,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“…Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 185).

Namun yang perlu digaris-bawahi, tidak setiap orang yang sakit diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Yang dimaksud sakit dalam ayat ini adalah sakit yang mengganggu puasa seseorang atau jika ia berpuasa maka sakitnya akan bertambah parah atau lambat penyembuhannya atau juga mempengaruhi kondisi fisiknya yang lain jika dia berpuasa.

Dalam berpuasa, ada dua keadaan orang yang sakit:

Pertama, ada orang yang sakitnya dikategorikan sakit yang berat, puasa semakin memperberatnya. Orang yang demikian diperbolehkan tidak berpuasa selama satu bulan penuh. Sebagai gantinya mereka wajib memberi satu orang miskin untuk satu hari puasa yang ia gugurkan. Pendapat ini disepakati oleh para ulama dan termasuk pendapat sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu.

Kedua, seseorang yang ringan penyakitnya. Yang demikian dilihat hingga ia sembuh dan ia wajib mengganti sejumlah hari yang ia tinggalkan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu.”

Apabila seseorang membatalkan puasanya di siang hari karena mengalami sakit, kemudian ia tidak berpuasa di hari-hari selanjutnya dan sakit tersebut membawanya kepada kematian, maka tidak wajib mengqadakan puasanya dan tidak pula memberi makan orang miskin sebagai kafarahnya.

Adapun orang yang ada hutang puasa kemudian ia wafat sebelum menyelesaikan hutang puasanya, maka keluarganya menanggung dengan cara memberi makan orang miskin sesuai dengan jumlah hari puasa yang ia tinggalkan.

Keempat adalah tentang orang-orang yang tidak mampu menunaikan puasa karena sudah tua.

Laki-laki dan perempuan yang sudah tua diperbolehkan untuk tidak berpuasa apabila mereka tidak mampu melaksanakannya. Mereka tidak berdosa karena hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya.”

Namun wajib bagi mereka untuk memberi makan orang-orang miskin sesuai dengan jumlah hari mereka tidak berpuasa. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

الشَّيْخُ الكَبِيرُ وَالمَرْأَةُ الكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا، فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“Orang yang sudah tua, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak mampu untuk berpuasa, maka bagi mereka memberi makan orang-orang miskin.”

Adapun orang-orang tua yang sudah pikun, maka kewajiban puasa gugur bagi mereka. Tidak ada kafarah bagi mereka dan tidak juga perlu bagi anak-anak dan keluarganya untuk menanggung puasanya.

Kelima adalah tentang wanita yang hamil dan menyusui.

Wanita yang hamil dan menyusui tetap berpuasa selama badan mereka kuat dan puasa tidak berpengaruh kepada janin yang mereka kandung atau anak yang mereka susui. Namun apabila mereka khawatir kalau puasa berdampak buruk bagi diri mereka dan anaknya, maka mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلَاةِ، وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil, dan wanita menyusui.” (HR. Ahmad).

Wanita yang hamil dan menyusui memiliki dua keadaan:

Pertama, mereka boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena khawatir akan kesehatan diri mereka. Ketentuan untuk mereka adalah wajib mengqadha tanpa memberi makan orang miskin. Karena keadaan mereka sama dengan keadaan orang yang sakit.

Kedua, mereka boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena khawatir akan anaknya mereka pun wajib qadha saja. Namun Syaikh Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin berpendapat akan lebih baik jika disertai memberi makan orang miskin. Karena menurut mereka berdua ada riwayat dari sebagian sahabat bahwa hal ini disertai dengan memberi makan orang miskin.

Keenam tentang puasanya wanita yang haid dan nifas.

Wanita yang hadi dan nifas diharamkan untuk berpuasa. Wajib bagi mereka mengqadha sesuai dengan jumlah hari mereka tidak berpuasa.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keadaan wanita haid,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“Bukankah jika dia haid, ia tidak shalat dan tidak puasa.”

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata tentang wanita yang haid,

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

“Hal itu terjadi pada kita, maka kita diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.”

Jika mereka suci dari haid atau nifas sesaat sebelum terbit fajar, kemudian mereka berniat puasa, maka puasanya sah. Walaupun mereka belum mandi janabah setelah fajar terbit atau setelah adzan subuh atau bahkan setelah matahari terbit.

Ketujuh, orang yang wajib qadha namun belum menunaikannya sampai masuk Ramadhan berikutnya.

Barangsiapa yang menunda qadha puasanya sehingga masuk bulan puasa yang lain, ada dua kemungkinan:

Pertama, mereka menundanya karena udzur; seperti sakit yang ia derita dari Ramadhan satu ke Ramadhan berikutnya atau bahkan beberapa Ramadhan. Bagi orang-orang yang demikian, tidak ada kafarah bagi mereka. Mereka hanya diwajibkan mengerjakan qadha saja.

Kedua, mereka yang menundanya padahal mereka mampu menunaikannya, lalu masuk Ramadhan berikutnya. Orang yang demikian, wajib baginya qadha dan fidyah atau kafarah. Kafarahya adalah memberi makan orang miskin sesuai dengan jumlah hari ia tidak berpuasa.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِيْمَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ العَظِيْمِ الجَلِيْلِ، اَلْغَفُوْرِ الرَّحِيْمِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِهِ وَأَفْضَلِهِمْ، وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَتَمَمِ بِالتَّابِعِيْنَ لَهُ بِإِحْسَانٍ.
وَبَعْدُ، أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ:

Kaum muslimin rahimakumullah,

Pada khotbah yang kedua ini khotib hendak menyampaikan hal-hal yang membatalkan puasa seseorang apabila ia melakukannya.

1. Makan dan minum termasuk juga suntikan infus.

2. Keluarnya mani, dengan hubungan badan, meraba, onani, banyak memandang syahwat atau hal-hal lain yang menyebabkan kesengajaan mani keluar.

3. Haid dan nifas.

4. Murtad.

5. Muntah dengan sengaja.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ، وَهُوَ صَائِمٌ، فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَإِنْ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

“Siapa yang muntah tidak sengaja dan dia sedang puasa maka tidak perlu dia qadha. Namun barangsiapa yang sengaja muntah maka dia harus mengqadha.” (HR. Abu Daud 2380 dan dishahihkan Al-Albani).

اَللَّهُمَّ اغْننِاَ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَيَسِّرْ لَنَا فِي الأَرْزَاقِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَقْوَاتِنَا وَأَوْقَاتِنَا وَأَعْمَارِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا تَلِهْنَا عَنْ آخِرَتِنَا، وَوَفِّقْنَا لِمَا يَنْفَعُنَا فِي مَعَادِنَا، اَللَّهُمَّ جَنِبْنَا اَلْكَذِبَ وَالْغِشَّ، وَارْزُقْنَا اَلصِّدْقَ وَالنُصْحَ، اَللَّهُمَّ

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَالْهُدَى، وَالرُشْدِ وَالسَّدَادِ، وَالصَّلَاحِ وَالْإِصْلَاحِ، وَالْاِجْتِمَاعِ وَالْاِئْتِلَافِ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ طَاعَاتِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ صَامَ وَقَامَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَسَائِرَ أَهْلِيْنَا، وَالمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ الكَرِيْمِ أَبِي القَاسِمِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَلْهَاشِمِيْ اَلقُرَشِيْ.

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/hukum-hukum-fikih-berkaitan-dengan-ramadhan/feed/ 0
Keutamaan Bulan Ramadhan http://khotbahjumat.com/keutamaan-bulan-ramadhan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=keutamaan-bulan-ramadhan http://khotbahjumat.com/keutamaan-bulan-ramadhan/#comments Fri, 27 Jun 2014 07:52:54 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2721 Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ ذِيْ الفَضْلِ وَالْإِنْعَامِ، فَضَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ عَلَى غَيْرِهِ مِنْ شُهُوْرِ العَامِ، خَصَّهُ بِمَزِيْدِ مِنَ الفَضْلِ وَالكَرَمِ وَالْإِنْعَامِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، فِي رُبُوْبِيَتِهِ وَإِلَهِيَتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ (تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ)، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ البَرَرَةِ الكِرَامِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ:

Kaum muslimin rahimakumullah,

Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, bersyukurlah kepada-Nya karena Ramadhan akan segera tiba. Mohonlah pertolongan kepada-Nya agar menolong kita dalam mengisi bulan Ramadhan dengan kebaikan dan ketaatan. Karena Ramadhan adalah saat-saat yang agung dan hadiah dari Allah dengan keutamaan dari-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمْ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمْ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Bulan ini adalah kebaikan seluruhnya; siang harinya, malam harinya, detik demi detiknya, semuanya adalah kebaikan. Akan tetapi bagaimana dengan keadaan kita, dengan persiapan apa kita menghadapi bulan ini? Dengan apa kita lewati detik demi detiknya yang penuh keberkahan?

Bulan ini adalah bulan yang agung. Masalahnya adalah ada pada diri kita. Karena itu, marilah kita kenali bulan ini dan kitasambut dengan kegembiraan dan suka cita. Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam member kabar gembira kepada sahabat-sahabat beliau dengan kedatangan bulan Ramadhan. Beliau bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya telah menaungi kalian bulan agung yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan puasa di dalamnya dan menganjurkan untuk shalat di malam harinya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan banyak keutamaannya.

Keutamaan Pertama: Allah menurunkan Alquran, lebih tepatnya permulaan turunnya Alquran terjadi pada bulan ini. Yaitu pada malam lailatul qadr. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Alquran) di malam al-qadr.” (QS. Al-Qadr: 1)

Firman-Nya juga,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3)

Alquran pertama kali turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pada bulan Ramadhan. Kemudian turun kepada beliau pada masa-masa berikutnya sesuai dengan keadaan, sampai Allah menyempurnakan syariatnya dengan ayat:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الإِسْلامَ دِيناً

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan bulan ini dengan banyak-banyak membaca Alquran, lebih banyak dari bulan lainnya. Demikian juga para sahabat dan umat Islam setelah mereka sangat banyak membaca Alquran di bulan ini. Bulan ini adalah bulan Alquran. Bulan berpuasa. Allah menjadikan puasa sebagai kewajiban dan termasuk di antara rukun Islam.

مَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan bulan Ramadhan, maka berpuasalah.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang bangunan Islam.

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ البَيْتِ

“Agama Islam dibangun di atas lima hal: Persaksian bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, serta haji ke Baitullah.”

Wajib bagi setiap muslim yang mukim (tidak safar) untuk berpuasa dari awal hingga akhir bulan ini. Adapun orang terhalangi dari melaksanakan puasa seperti orang yang bersafar atau sakit, maka mereka wajib menggantinya di hari yang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mensyariatkan kepada kita untuk melaksanakan shalat di malam hari Ramadhan atau yang kita kenal dengan shalat tarawih. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang beribadah pada malam hari bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka diampuni dosa-dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu beliau bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.”

Terdapat keutamaan yang sangat besar dalam shalat malam di bulan Ramadhan, yaitu Allah hapuskan dosa-dosa. Siapa yang shalat di malam hari Ramadhan dengan keimanan, berharap pahala, dan meyakini keutamaannya, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu. Maksud dosa di sini adalah dosa-dosa kecil. Sedangkan dosa-dosa besar diampuni dengan bertaubat. Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS. An-Nisa: 31).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu, shalat Jumat ke Jumat, berpuasa Ramadhan ke Ramadhan lainnya adalah penghapus dosa-dosa diantaranya jika dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim).

Orang-orang yang pernah melakukan dosa besar, apabila mereka bertaubat kepada Allah dengan taubat yang benar, maka Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka.

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً

“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa, semuanya.”

Di bulan Ramadhan ini, taubat dan istighfar lebih ditekankan lagi. Hendaknya setiap muslim mengoreksi diri mereka dan amalan mereka. Sehingga mereka memasuki bulan ini dengan jiwa yang bersih, hal itu sangat berdampak dengan semangat dalam beribadah.

Keutamaan Kedua: dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka.

Yang demikian semakin memudahkan seseorang untuk beribadah dan melakukan amalan shaleh. Surga itu diperoleh dengan beramala shaleh. Allah Ta’ala bukakan pintu surga agar kita berlomba-lomba menuju surga dengan giat melakukan ketaatan dan amalan shaleh. Dan di bulan ini, hal itu Allah mudahkan bagi orang-orang yang Dia kehendaki.

Di bulan ini juga Allah tutup pintu neraka. Hal ini karena kaum muslimin bertaubat di bulan ini, mereka memohon ampun kepada Allah, meninggalakan perbuatan maksiat dan dosa, yang demikian merupakan sebab selamatnya seseorang dari neraka.

Keutamaan ketiga: Setan-setan dibelenggu.

Di bulan ini, setan-setan dibelenggu sehingga mereka tidak leluasa mengganggu kaum muslimin dan melalaikan mereka dari agamanya sebagaimana yang mereka lakukan di selain bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan, Allah menahan setan dari hamba-hamba-Nya yang beriman, mereka tidak mampu memberikan was-was dan bisikan buruk, mereka tidak mampu membuat orang-orang yang beriman menjadi lalai, dan mereka tidak mampu menghalangi orang-orang yang beriman dari amalan shaleh. Oleh karena itu, kita lihat banyak umat Islam yang begitu bersemangat dalam amalan ketaatan di bulan ini. Mereka memperbanyak intensitas amalan tersebut. Begitu banyaknya orang melaksanakan ketaatan pada bulan ini sebagai bukti bahwa Allah membelenggu pata setan.

Allah Jalla wa ‘Ala menghalangi setan dan bala tentaranya untuk melancarkan ambisi mereka.

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ* إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمْ الْمُخْلَصِينَ

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”. (QS. Shad: 82-83).

Setan tidak akan mampu menggoda hamba Allah yang ikhlas, terlebih lagi di bulan Ramadhan.

وَاسْتَفْزِزْ مَنْ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الأَمْوَالِ وَالأَولادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمْ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُوراً* إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلاً

Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”. (QS. Al-Isra: 64-65).

Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki kejelekan di hatinya menyiapkan berbagai macam sarana untuk menghalangi manusia fokus beribadah di bulan Ramadhan. Mereka buat acara-acara komedi, permainan-permainan yang tidak bermanfaat dan melalaikan, dll. tujuannya adalah menghalangi manusia dari ketaatan dan menyibukkan mereka dengan sesuatu yang sia-sia atau bahkan berdosa. Acara-acara ini mereka sebarkan di berbagai media; radio dan televisi. Dan ini adalah bahaya yang sangat nyata.

Wajib bagi seorang muslim untuk menjaga diri dan keluarganya dari hal-hal yang buruk ini. Karena bahanya dari acara-acara ini sangat besar, bahkan menimpa mereka yang suka pergi ke masjid dan melaksanakan shalat serta membaca Alquran. Terkadang orang-orang yang melakukan ketaatan demikian pun masih turut memperhatikan acara-acara yang demkian, akhirnya mereka pun lalai dari ibadah mereka.

Seorang muslim hendaknya menutup pintu ini rapat-rapat, terlebih khusus di bulan Ramadhan. Ia larang dirinya dan keluarganya dari hal tersebut. Karena pada acara-acara demikian terdapat tipu daya setan.

Walaupun setan-setan terbelenggu, namun bala tentara mereka dari kalangan manusia tetap berusaha keras untuk memalingkan manusia dan membuat mereka sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan melalaikan dari agama.

Dalam bulan yang penuh berkah ini, sebisa mungkin manusia meninggalkan aktivitas duniawi yang bisa ia tinggalkan. Hendaknya mereka fokus dalam ketaatan. Mereka yang mencari nafkah dengan bekerja, semakin meng-efisienkan waktunya. Menggunakannya dengan bijak antara kerja dan ibadah. Waspadailah sesuatu yang meragukan dan tinggalkan yang haram.

Bagi setiap muslim hendaknya berlomba-lomba dalam kebaikan dan bersegera menuju ketaatan. Meninggalkan perkara-perkara yang menyibukkan dirinya atau anak-anaknya atau anggota keluarganya yang lain. Mewaspadai hal-hal yang bisa menyia-nyiakan waktu dan umur. Karena dalam menyia-nyiakan waktu dan umur terdapat kejelekan yang sangat besar.

Betakwalah kepada Allah wahai kaum muslimin,

Bulan Ramadhan ini adalah bulan keagungan, kebaikan, keberkahan, sepenuhnya baik siang ataupun malam. Sibukkan diri dengan dzikir kepada Allah Ta’ala. Seorang muslim mengisi waktunya dengan kewajiban, amalan sunah, dan ketaatan. Mereka jadikan istirahat untuk mengembalika semangat dalam beribadah, mereka tidur dengan kadar yang tidak berlebihan.

Adapun orang yang bergadang hanya untuk ngobrol, makan-makan dan minum (nongkrong), lalu mereka menghabiskan siang hari dengan tidur, lalu mengaku bahwa mereka berpuasa, ini adalah suatu yang mengherankan. Bagaimana bisa seorang yang berpuasa meninggalkan shalat, meninggalkan shalat bersama jamaah. Puasa itu bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum. Puasa yang hakiki adalah menahan dari segala yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan yang paling besar adalah menyia-nyiakan apa yang Allah wajibkan.

Bulan Ramadhan bukanlah bulan kemalasan, bulan makan dan minum. Bulan ini adalah bulan ketaatan. Bersungguh-sungguh dalam perkataan dan perbuatan yang baik. Tidak lalai dari menegakkan shalat berjamaah, ambil bagian dalam kebaikan. Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat untuk fisiknya dan menghidupkan jiwa dan hatinya.

Bulan ini adalah kesempatan, dan yang namanya peluang atau kesempatan itu tidak terus-menerus ada. Mungkin saja bulan Ramadhan tahun ini tidak berulang bagi kita di tahun depan. Bisa jadi bulan Ramadhan ini adalah penutup bagi hayat kita. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ* أَيَّاماً مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 183-184).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ البَيَانِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ، وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:

Kaum muslimin rahimakumullah,

Inilah bulan Ramadhan, maka bagi mereka yang senantiasa berbuat dosa, berhentilah! Bagi mereka yang menginginkan kebaikaan, sambutlah bulan ini. Kita semua menginginkan kebaikan dan setiap keinginan baik itu dibutuhkan pembuktian dengan amal.

وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُوْلَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُوراً

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)

Menginginkan kebaikan tidak cukup hanya dengan niat, tapi juga ada bukti dengan amal.

Kita sekarang berada di zaman dimana orang-orang banyak berangan-angan, namun sadarilah Allah sediakan bulan ini agar kita berlomba-lomba dalam ketaatan dan menafikan perbuatan-perbuatan dosa. Sambutlah hadiah Allah ini dengan melakukat amala shaleh dan berbagai ketaatan yang Dia perintahkan.

Bertakwalah kepada Allah,

Bersegeralah melakukan amalan ketaatan selama itu masih mungkin bagi kita. Ingatlah! Kesempatan itu tidak selamanya ada. Hidup ini akan berlalu dan amal yang kita kerjakan akan kekal, baik amalan taat maupun maksiat.

اِعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ فَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ اَلرَّاشِدِيْنَ،اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِناً مُطْمَئِنّاً وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا فِيْهِ القُوَّةَ وَالاِحْتِسَابَ العَمَلَ الصَالِحَ، اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مِنْ فَضَائِلِهِ وَمَغَانِمِهِ مَا يَسَرْتَهُ لَنَا، اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَحِفْظِ أَيَّامِهِ مِنَ الخَلَلِ وَالضَيَاعِ، (رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ)، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلَا مُضِلِّيْنَ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ بِطَانَتَهُمْ وَأَبْعَدْ عَنْهُمْ بِطَانَةً السُوْءِ وَالمُفْسِدِيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)،(وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)، فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Diterjemahkan dari khutbah Jumat Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah.

Oleh Tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/keutamaan-bulan-ramadhan/feed/ 0