Khotbah Jumat - Khutbah Jum'at Terbaik http://khotbahjumat.com Kumpulan materi khutbah jum'at terbaik sesuai sunnah Tue, 25 Nov 2014 04:13:27 +0000 en hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.9.3 Sikap Muslim Terhadap Hari Raya Orang Kafir http://khotbahjumat.com/sikap-muslim-terhadap-hari-raya-orang-kafir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sikap-muslim-terhadap-hari-raya-orang-kafir http://khotbahjumat.com/sikap-muslim-terhadap-hari-raya-orang-kafir/#comments Tue, 25 Nov 2014 04:13:27 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2998 Khutbah Pertama:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Sidang shalat Jumat rahimakumullah,

Sesungguhnya nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya adalah nikmat Islam dan iman serta istiqomah di atas jalan yang lurus. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memberitahukan bahwa yang dimaksud jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh hamba-hamba-Nya yang telah diberi nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhadaa dan sholihin.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nisaa: 69).

Jika diperhatikan dengan teliti, maka kita dapati bahwa musuh-musuh Islam sangat gigih berusaha memadamkan cahaya Islam, menjauhkan dan menyimpangkan ummat Islam dari jalan yang lurus, sehingga tidak lagi istiqomah.Hal ini diberitahukan sendiri oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya, diantaranya,

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 109).

Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala yang lain,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan”. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran: 99).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta’ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu kebelakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran: 149)

Sidang shalat Jumat rahimakumullah,

Salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agama (jalan yang lurus)yakni dengan menyeru dan mempublikasikan hari-hari besar mereka ke seluruh lapisan masyarakat serta dibuat kesan seolah-oleh hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum dan bisa diperingati oleh siapa saja. Oleh karena itu, Komisi Tetap Urusan Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi telah memberikan fatwa berkenaan dengan sikap yang seharusnya dipegang oleh setiap muslim terhadap hari-hari besar orang kafir.Secara garis besar fatwa yang dimaksud adalah:

Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashara menghubungkan hari-hari besar mereka dengan peristiwa-peritiwa yang terjadi dan menjadikannya sebagai harapan baru yang dapat memberikan keselamatan, dan ini sangat tampak di dalam perayaan milenium baru (tahun 2000 lalu), dan sebagian besar orang sangat sibuk memperingatinya, tak terkecuali sebagian saudara kita -kaum muslimin- yang terjebak di dalamnya. Padahal setiap muslim seharusnya menjauhi hari besar mereka dan tak perlu menghiraukannya.

Perayaan yang mereka adakan tidak lain adalah kebatilan semata yang dikemas sedemikian rupa, sehingga kelihatan menarik. Di dalamnya berisikan pesan ajakan kepada kekufuran, kesesatan dan kemungkaran secara syar’i seperti: Seruan ke arah persatuan agama dan persamaan antara Islam dengan agama lain. Juga tak dapat dihindari adanya simbul-simbul keagamaan mereka, baik berupa benda, ucapan ataupun perbuatan yang tujuannya bisa jadi untuk menampakkan syiar dan syariat Yahudi atau Nasrani yang telah terhapus dengan datangnya Islam atau kalau tidak agar orang menganggap baik terhadap syariat mereka, sehingga biasnya menyeret kepada kekufuran. Ini merupakan salah satu cara dan siasat untuk menjauhkan umat Islam dari tuntunan agamanya, sehingga akhirnya merasa asing dengan agamanya sendiri.

Telah jelas sekali dalil-dalil dari Alquran, Sunnah dan atsar yang shahih tentang larangan meniru sikap dan perilaku orang kafir yang jelas-jelas itu merupakan ciri khas dan kekhususan dari agama mereka, termasuk di dalam hal ini adalah Ied atau hari besar mereka.Ied di sini mencakup segala sesuatu baik hari atau tempat yang diagung-agungkan secara rutin oleh orang kafir, tempat di situ mereka berkumpul untuk mengadakan acara keagamaan, termasuk juga di dalam hal ini adalah amalan-amalan yang mereka lakukan. Keseluruhan waktu dan tempat yang diagungkan oleh orang kafir yang tidak ada tuntunannya di dalam Islam, maka haram bagi setiap muslim untuk ikut mengagungkannya.

Larangan untuk meniru dan memeriahkan hari besar orang kafir selain karena adanya dalil yang jelas juga dikarenakan akan memberi dampak negatif, antara lain:

- Orang-orang kafir itu akan merasa senang dan lega dikarenakan sikap mendukung umat Islam atas kebatilan yang mereka lakukan.

- Dukungan dan peran serta secara lahir akan membawa pengaruh ke dalam batin yakni akan merusak akidah yang bersangkutan secara bertahap tanpa terasa.

- Yang paling berbahaya ialah sikap mendukung dan ikut-ikutan terhadap hari raya mereka akan menumbuhkan rasa cinta dan ikatan batin terhadap orang kafir yang bisa menghapuskan keimanan.Ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Maidah: 51)

Sidang shalat Jumat rahimakumullah,

Dari uraian di atas, maka tidak diperbolehkan bagi setiap muslim yang mengakui Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi dan rasul, untuk ikut merayakan hari besar yang tidak ada asalnya di dalam Islam, tidak boleh menghadiri, bergabung dan membantu terselenggaranya acara tersebut.Karena hal ini termasuk dosa dan melanggar batasan Allah.Dia telah melarang kita untuk tolong-menolong di dalam dosa dan pelanggaran, sebagaimana firman Allah,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu di dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرّحِيْمُ

Khutbah Kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

Sidang shalat Jumat rahimakumullah,

Tidak diperbolehkan kaum muslimin memberikan respon di dalam bentuk apapun yang intinya ada unsur dukungan, membantu atau memeriahkan perayaan orang kafir, seperti : iklan dan himbauan; menulis ucapan pada jam dinding atau fandel; menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud; membuat cinderamata dan kenang-kenangan; membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat; membuat buku tulis;memberi keistimewaan seperti hadiah /diskon khusus di dalam perdagangan, ataupun(yang banyak terjadi) yaitu mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka. Kesemua ini termasuk di dalam rangka membantu syiar mereka.

Kaum muslimin tidak diperbolehkan beranggapan bahwa hari raya orang kafir seperti tahun baru (masehi), atau milenium baru sebagai waktu penuh berkah(hari baik) yang tepat untuk memulai babak baru di dalam langkah hidup dan bekerja, di antaranya adalah seperti melakukan akad nikah,memulai bisnis, pembukaan proyek-proyek baru dan lain-lain. Keyakinan seperti ini adalah batil dan hari tersebut sama sekali tidak memiliki kelebihan dan keistimewaan di atas hari-hari yang lain.

Dilarang bagi umat Islam untuk mengucapkan selamat atas hari raya orang kafir, karena ini menunjukkan sikap rela terhadapnya di samping memberikan rasa gembira di hati mereka.Berkaitan dengan ini Ibnul Qayim rahimahullah pernah berkata, “Mengucapkan selamat terhadap syiar dan simbol khusus orang kafir sudah disepakati kaharamannya seperti memberi ucapan selamat atas hari raya mereka, puasa mereka dengan mengucapkan, “Selamat hari raya (dan yang semisalnya), meskipun pengucapnya tidak terjerumus ke dalam kekufuran, namun ia telah melakukan keharaman yang besar, karena sama saja kedudukannya dengan mengucapkan selamat atas sujudnya mereka kepada salib. Bahkan di hadapan Allah, hal ini lebih besar dosanya daripada orang yang memberi ucapan selamat kapada peminum khamar, pembunuh, pezina dan sebagainya. Dan banyak sekali orang Islam yang tidak memahami ajaran agamanya, akhirnya terjerumus ke dalam hal ini, ia tidak menyadari betapa besar keburukan yang telah ia lakukan. Dengan demikian, barang siapa memberi ucapan selamat atas kemaksiatan, kebid’ahan dan lebih-lebih kekufuran, maka ia akan berhadapan dengan murka Allah”. Demikian ucapan beliau rahimahullah!

Setiap muslim harus merasa bangga dan mulia dengan hari rayanya sendiri termasuk di dalam hal ini adalah kalender dan penanggalan hijriyah yang telah disepakati oleh para shahabat Radhiallaahu anhum, sebisa mungkin kita pertahankan penggunaannya, walau mungkin lingkungan belum mendukung. Kaum muslimin sepeninggal shahabat hingga sekarang selalu menggunakannya dan setiap pergantian tahun baru hijriyah ini, tidak perlu dengan mangadakan perayaan-perayaan tertentu.

Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin, hendaknya ia selalu menasehati dirinya sendiri dan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri dari apa-apa yang menyebabkan kemurkaan Allah dan laknatNya. Hendaknya ia mengambil petunjuk hanya dari Allah dan menjadikan Dia sebagai penolong. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita semuanya, rasa takut hanya kepada-Nya sehingga dengan rasa takut itu dapat membentengi diri kita agar tidak berani berbuat maksiat kepada-Nya.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّهُمّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنًاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنّكَ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبّنََا لاَتًؤَخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلىَ الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تُحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَنَا فَانْصُرْنَا عَلىَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبّنَا آتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ.

www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/sikap-muslim-terhadap-hari-raya-orang-kafir/feed/ 0
6 Prinsip Parenting Islami http://khotbahjumat.com/6-prinsip-parenting-islami/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=6-prinsip-parenting-islami http://khotbahjumat.com/6-prinsip-parenting-islami/#comments Tue, 25 Nov 2014 03:34:16 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2994 Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا؛ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيِ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ، وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ، مَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الأُمَّةَ عَلَيْهِ، وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مَنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ:
اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ وَالْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ .

Ayyuhal mukminun ibadallah,

Sesungguhnya di antara bentuk kewajiban yang diberikan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya adalah kewajiban pendidikan, pengasuhan, dan kepemimpinan. Amanat yang agung yang wajib dipegangi adalah perhatian dalam hal ini. Yakni perhatian terhadap pendidikan anak. Hal ini –ma’asyiral muslimin-, adalah sebuah amanah dan tanggung jawab. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (27) وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 27-28).

Maknanya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan seorang anak kepada para orang tua sebagai cobaan dan ujian. Ujian tersebut dalam bentuk anak memiliki hak-hak yang harus ditunaikan. Apabila orang tua menunaikan hak-hak tersebut sesuai dengan yang Allah perintahkan, maka Allah persiapkan bagi para orang tua pahala yang sangat bersar. Namun jika mereka menyia-nyiakan anak, maka bagi para orang tua hukuman di sisi Allah bergantung dengan sejauh mana penyia-nyiaan mereka.

Oleh karena itu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini merupakan prinsip yang penting dalam pendidikan anak. Para orang tua wajib berpegang dengannya. Dalam shahihain dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ؛ الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا ، وَالخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، أَلا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Pembantu dalam permasalahan harta tuannya adalah pemimpin dan dia akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.”

Makna mas’ul (tanggung jawab) di sini adalah seorang hamba apabila ia berdiri di hadapan Allah Jalla wa ‘Ala, maka Allah akan bertanya kepadanya tentang hal itu. Sebagian ulama menyatakan, sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala pada hari kiamat akan bertanya kepada orang tua tentang anaknya sebelum Allah bertanya kepada anak bagaimana ia berlaku kepada orang tuanya. Allah telah mewatiati agar anak berbuat kebaikan kepada orang tuanya. Dan juga Allah mewasiatkan kepada orang tua untuk mendidik dan mengajari anaknya kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya.” (QS. Al-Ankabut: 8).

Firman-Nya juga

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ

“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.” (QS. An-Nisa: 11).

Dan firman-Nya juga,

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Ma’asyiral muslimin,

Pendidikan anak adalah tanggung jawab dan amanah yang besar. Wajib bagi para orang tua untuk bertakwa kepada Allah dalam urusan anak-anak mereka. Wajib bagi para orang tua untuk memberikan pendidikan dan bimbingan. Menumbuh-kembangkan mereka dalam akidah Islam, amalan-amalan Islam, dan akhlak-akhlak Islam. Para orang tua wajib membangun pondasi ketakwaan dan keshalehan agar anak-anak mengetahui dan mengamalkan apa yang menjadi hak-hak Allah Jalla wa ‘Ala pada diri mereka.

Ibadallah,

Pendidikan anak harus tegak pada prinsip dan asas yang benar. Untuk merealisasikan tujuan yang mulia ini, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Di antara prinsip tersebut adalah:

Pertama: Senantiasa mendoakan anak.

Mendoakan ini bisa dimulai saat sang anak belum lahir, dengan meminta kepada Allah keturunan yang shaleh. Dan setelah mereka terlahir di dunia dengan mendoakan mereka hidayah dan kebaikan. Setelah mereka cenderung kepada hidayah dan kebaikan, para orang tua hendaknya mendoakan mereka agar istiqomah di jalan kebaikan tersebut. Hal ini sebagaimana doa Nabi Ibrahim:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100).

Kemudian beliau berdoa:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35).

Dan doa beliau juga:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim: 40).

Doa Nabi Zakariya:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).

Dan doa ‘ibadurrahman:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 76).

Ketahuilah ma’asyiral mukminin,

Doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang mustajab yang tidak tertolak. Hal itu telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau. Namun para orang tua juga jangan tergesa-gesa dalam doa mereka, terutama saat mereka dalam kondisi marah kepada anak. Jangan mendoakan anak dengan keburukan. Apabila doa tersebut dikabulkan, mereka akan menyesal. Allah Ta’ala berfirman,

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

“Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra: 11).

Ayyuhal mukminun,

Kedua: Adil di antara anak dan menjauhi sikap zhalim dan tidak adil.

Jika orang tua tida bersikap adil di antara anak mereka, maka akan terdapat rasa permusuhan, hasad, dan kebencian antara mereka. Jika mereka berbuat adil, maka keadilan tersebut akan menjadi sebab terbesar saling cinta dan kasih saying di antara mereka. Dan juga menjadi sebab baiknya perangai mereka.

Dalam Shahihain, dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu

عَنْ اَلنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( فَانْطَلَقَ أَبِي إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي. فَقَالَ : أَفَعَلْتَ هَذَا بِوَلَدِكَ كُلِّهِمْ? قَالَ : لَا قَالَ: اِتَّقُوا اَللَّهَ , وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ فَرَجَعَ أَبِي, فَرَدَّ تِلْكَ اَلصَّدَقَةَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ قَالَ : ( فَأَشْهِدْ عَلَى هَذَا غَيْرِي ثُمَّ قَالَ : أَيَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا لَكَ فِي اَلْبِرِّ سَوَاءً? قَالَ : بَلَى قَالَ : فَلَا إِذًا )

Dari Nu’man Ibnu Basyir radhiallahu ‘anhuma, “Ayahku menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menyaksikan pemberiannya kepadaku, lalu beliau bersabda: “Apakah engkau melakukan hal ini terhadap anakmu seluruhnya?”. Ia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: “Takutlah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu.” Lalu ayahku pulang dan menarik kembali pemberian itu. (Muttafaq ‘alaihi).

Dalam riwayat Muslim beliau bersabda: “Carikan saksi lain selain diriku dalam hal ini.” Kemudian beliau bersabda: “Apakah engkau senang jika mereka (anak-anakmu) sama-sama berbakti kepadamu?”. Ia Menjawab: Ya. Beliau bersabda: “kalau begitu, jangan lakukan.”

Ayyuhal mukminun ibadallah,

Ketiga: Lemah lembut, kasih sayang, dan berbuat baik terhadap anak. Jauhi sifat kasar dan kaku.

Jika lemah lembut ada pada suatu hal pasti dia akan menjadikan hal itu indah. Dan tidaklah hilang dari sesuatu pasti hal itu akan menjadi rusak. Lakukan kelemah-lembutan, kasih sayang, dan perhatian terhadap anak sedari mereka kecil. lakukan hal it uterus-menerus.

Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciumi cucunya Hasan bin Ali. Saat itu al-Aqra’ bin Habis duduk di dekat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Aku memiliki 10 orang anak dan aku tidak pernah mencium salah seorang dari mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menatap al-Aqra’, kemudian bersabda,

مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

“Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak disayangi.”

Dalam Shahihhain, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Datang seorang Arab Badui menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, ‘Anda mencium anak-anak? Kami tidak pernah melakukannya’. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ

“Sungguh aku tidak mampu mencegah jika ternyata Allah telah mencabut sifat kasih sayang dari hatimu.”

Kasih sayang dan lemah lembut ini ma’asyiral mukminin, adalah sebab yang membuat anak menjadi dekat dan cinta kepada kedua orang tuanya. Apabila rasa kedekatan ini sudah ada, maka rasa cinta pun akan muncul. Sehingga orang tua bisa memberikan pengarahan, nasihat, dan pendidikan terhadap anak-anaknya. Dan anak-anak pun akan lebih mudah menerima dan memperhatikan apa yang disampaikan kedua orang tuanya.

Ibadallah,

Keempat: Orang tua memiliki semangat untuk mengarahkan anak-anaknya kepada perkara yang mulia.

Hal ini dilakukan dengan cara memberi pengajaran tentang akidah Islamiyah dan kewajiban-kewajiban agama. Kemudian melarang mereka dari yang haram serta memperingatkan mereka dari perbuatan dosa. Dan sebaik-baik nasihat seorang ayah kepada anaknya adalah nasihat Lukman al-hakim kepada anaknya. Sebuah nasihat yang Allah sebutkan di dalam Kitab-Nya di surat Lukman.

Apa yang dilakukan oleh Lukman adalah sebuah teladan yang mulia dan agung. Hendaknya kita mencontoh Lukman dalam mendidik dan mengajar anaknya. Ia mengajarkan tentang keimanan kepada Allah dan beriman pada semua yang diperintahkan-Nya. Ia mengajarkan mentauhidkan Allah Jalla wa ‘Ala dan menyerahkan agama hanya untuk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya´qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al-Baqarah: 132).

Dan wasiat pertama Lukman kepada anaknya,

يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Karena menyekutukan Allah adalah kezhaliman yang besar.” (QS. Lukman: 13).

Setelah menasihati anaknya dengan keimanan, Lukman melanjutkannya dengan nasihat agar menjaga kewajiban-kewajiban, melarang anaknya dari kemungkaran, dan memperingatkannya akan perbuatan dosa. Di antara kewajiban yang paling terdepan untuk dijaga adalah shalat.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).

Dalam Sunan Abu Dawud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat.”

Ayyuhal mukminun,

Kelima: Memperhatikan teman-teman mereka, terutama teman dekat.

Karena teman dekat yang bertemu secara intens akan mempengaruhi satu sama lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan perumpamaan yang sangat menarik mengenaik teman yang baik dan teman yang buruk. Dalam Shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Adapun penjual misik, boleh jadi ia memberimu misik, engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau akan mencium bau harumnya. Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang tidak enak.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Kemudian di zaman ini, ada wujud pertemanan, yang belum ada di zaman sebelumnya. Yaitu pertemanan dengan chanel-chanel televisi, internet, dan alat-alat komunikasi modern lainnya. Hal itu terdapat di dalam rumah-rumah bahkan dalam genggaman. Oleh karena itu, hendaknya para orang tua mengawasi teman-teman anak-anaknya berupa benda-benda tersebut. Karena teman dekat akan memberikan pengaruh yang besar dan bahaya yang fatal terhadap pola pikir, agama, dan akhlak. Berapa banyak pemuda-pemuda menjadi rusak gara-gara benda-benda tersebut.

Ayyuhal mukminun ibadallah,

Keenam: Orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.

Jangan orang tua menjadi seseorang yang memerintahkan anaknya kepada kebaikan, namun dia sendiri tidak melakukannya. Jangan pula melarang mereka dari kejelekan, tapi dia sendiri malah melakukannya. Yang demikian malah menjadikannya sebagai orang tua teladan dalam keburukan untuk anaknya. Yang demikian malah menjadikan seruan dan arahannya bertolak belakang. Antara perkataan dan perbuatannya berada di lembah yang berbeda.

Jika demikian halnya, anak-anak akan tumbuh besar pada didikan seorang ayah yang bertentangan perkataan dan perbuatannya. Yang berbahaya bagi karakter anaknya. Sang anak akan sangat terpengaruh dengan prilaku kedua orang tua tersebut.

Wajib bagi para orang tua yang mendidik dan mengarahkan anak-anaknya untuk merenungi terus firman Allah Tabaraka wa Ta’ala,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab?” (QS. Al-Baqarah: 44).

Dan perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam,

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Hud: 88).

Ayyuhal mukminun,

Bersamaan dengan usaha para orang tua dengan memperhatikan hal-hal di atas, hati mereka wajib tetap bersandar kepada Allah Ta’ala. Bertawakal, menyerahkan urusan, dan beraharap hanya kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Berharap mudah-mudah Allah menjadikan anak-anak mereka anak yang shaleh dan taat. Menjaga mereka sebagaimana Dia menjaga hamba-hamba-Nya yang shaleh.

اَللَّهُمَّ يَا رَبَّنَا نَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ فِي هَذِهِ السَّاعَةِ المُبَارَكَةِ وَفِي هَذِهِ الْلَحْظَاتِ الكَرِيْمَةِ، وَنَسْأَلُكَ يَا رَبَّنَا بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَصِفَاتِكَ العُلْيَا وَبِأَنَّكَ أَنْتَ اللهُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ أَنْ تُصْلِحَ لَنَا أَوْلَادَنَا أَجْمَعِيْنَ، اَللَّهُمَّ مَنَّ عَلَيْهِمْ بِالصَّلَاحِ وَالْهِدَايَةِ وَالاِسْتِقَامَةِ وَالسَّدَادِ، وَجَنِّبْهُمْ يَا رَبَّنَا اَلْفَسَادَ وَالْهَلَاكَ، اَللَّهُمَّ لَا نَرْجُوْ ذَلِكَ إِلَّا مِنْكَ، وَلَا نَتَوَكَلُ فِي ذَلِكَ وَفِي أَيِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُوْرِنَا إِلَّا عَلَيْكَ؛ فَأَنْتَ وَحْدَكَ المُسَتَعَان وَعَلَيْكَ التُكْلَان وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ .

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.

Ayyuhal mukminun,

Yang harus diperhatikan oleh para orang tua dalam mendidik dan mengarahkan anaknya adalah bersabar dalam usaha tersebut. Karena kesabaran akan menghasilkan kebaikan dan hasil pendidikan yang baik dan penuh berkah. Yang hal itu akan berdampak kebaikan di dunia, alam kubur, dan hari saat ia berjumpa dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Orang tua juga harus mengingat, janganlah mereka malas dalam mendidik anak mereka. Apabila orang tua malas dalam melakukan pendidikan terhadap anaknya, maka ia akan mendapatkan balasan yang buruk baik di dunia maupun di akhirat.

Bertakwalah kepada Allah wahai para orang tua, dalam permasalahan anak-anak. Hendaknya kita jadikan pendidikan dan pengarahan kepada anak-anak sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kita sertai usaha kita ini dengan doa memohon kebaikan, hidayah, dan keistiqomahan. Kita juga memohon perlindungan kepada-Nya dari jalan-jalan yang mengantarkan kepada kejelekan. Mohonlah pertolongan kepada Allah dalam permasalahan ini.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)).

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنَ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ النَّصْرَ وَالمَعُوْنَةَ لِإِخْوَانِنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ حَافِظًا وَمُعِيْنًا وَهَادِيًا وَمُسَدِّدًا يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ مِنْ سَدِيْدِ الأَقْوَالِ وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ وَلِّ عَلَى المُسْلِمِيْنَ أَيْنَمَا كَانُوْا خِيَارَهُمْ، وَاصْرِفْ عَنْهُمْ شِرَارَهُمْ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَجَنِبْنَا وَالمُسْلِمِيْنَ الفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ .

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحَيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/6-prinsip-parenting-islami/feed/ 0
Kewajiban Pemerintah dan Rakyat http://khotbahjumat.com/kewajiban-pemerintah-dan-rakyat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kewajiban-pemerintah-dan-rakyat http://khotbahjumat.com/kewajiban-pemerintah-dan-rakyat/#comments Tue, 25 Nov 2014 01:28:44 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2991 Khutbah Pertama:

الْحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ اْلقَهَّارِ اْلقَوِيِّ اْلعَزِيْزِ الْجَبَّارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه ذُوْ الْعَظَمَةِ وَاْلمَجْدِ وَالاِقْتِدَارِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اْلمُخْتَارُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا. أما بعد: أيها الناس اِتَّقُوْا اللهَ وَتَقَرَّبُوْا إِلَى اللهِ بِمَا أَمَرَكُمْ بِهِ مِنْ طَاعَةِ وُلاَةِ الأُمُوْرِ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةِ اللهِ ، وَمِنَ الدُّعَاءِ لَهُمْ ، وَالتَّعَاوُنُ مَعَهُمْ عَلَى البِرِّ وَالتَّقْوَى ، وَالصَّبْرِ عَلَيْهِمْ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesembahan yang Mahaperkasa yang menguasai alam semesta. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada sayyidul-anbiya’i wal mursalin, nabi kita Muhammad dan keluarganya, para sahabatnya, serta seluruh kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuknya.

Hadirin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa mengingat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan kepada hamba-hamba-Nya agama yang mulia dan sempurna. Telah datang di hadapan kita syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berisi aturan yang sempurna dan mengajak kepada kemuliaan. Oleh karena itu, barang siapa yang menginginkan aturan yang sempurna namun tidak mau mengikuti syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidaklah yang dia dapat selain aturan yang penuh kekurangan. Barang siapa menginginkan kemuliaan namun berpaling dari syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidaklah yang dia dapat selain kehinaan.

Hadirin rahimakumullah,

Di antara syariat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan melalui Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia tersebut adalah petunjuk yang mengatur kewajiban rakyat terhadap penguasanya dan kewajiban penguasa terhadap rakyatnya.

Adapun kewajiban rakyat terhadap penguasanya, di antaranya adalah mendengar dan menaatinya. Artinya, wajib bagi masyarakat untuk menjalankan apa yang diperintahkan atau meninggalkan apa yang dilarang oleh penguasa muslim selama tidak bermaksiat terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga, apa saja yang diwajibkan oleh pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah dari berbagai aturan yang mengatur kehidupan bermasyarakat, harus didengar dan ditaati selama tidak bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun jika aturan tersebut melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak ada kewajiban untuk menaatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَي الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan menaati (penguasa), baik dalam perkara yang disukai maupun dibenci kecuali jika diperintah untuk berbuat maksiat. Apabila diperintah untuk berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar dan taat.” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadirin rahimakumullah,

Perlu diketahui bahwa ketaatan kepada penguasa ini meliputi ketaatan pada peraturan-peraturan yang mengatur kemaslahatan masyarakat baik yang berkaitan dengan perizinan, peraturan lalu lintas, maupun kependudukan, dan sebagainya, selama tidak bertentangan dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadirin rahimakumullah,

Termasuk kewajiban masyarakat terhadap penguasa adalah memberikan nasihat kepada penguasa. Yang dimaukan dari nasihat ini adalah demi semakin baiknya keadaan suatu negeri dan bukan untuk menjatuhkan wibawa atau menyebarkan kejelekannya sehingga tersiar dan diketahui oleh semua orang. Jika yang dilakukan justru menjatuhkan dan menyebarkan kejelekan-kejelekannya, maka hal itu bukanlah nasihat. Bahkan itu adalah cercaan yang akan menyulut kebencian rakyat kepada pemerintah dalam seluruh kebijakan dan upaya yang dilakukannya, meskipun hal tersebut (kebijakan atau upaya pemerintah itu) adalah sesuatu yang baik dan benar. Masyarakat tidak lagi percaya, mendengar, dan taat kepada penguasanya yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya kekacauan, pertikaian, bahkan pertumpahan darah di tengah-tengah masyarakat.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Tidaklah dimungkiri bahwa penguasa sebagaimana manusia lainnya tentu tidak akan terlepas dari kesalahan. Begitu pula telah dimaklumi bahwa kesalahan tidaklah boleh didiamkan. Namun, yang mesti dilakukan bagi orang yang ingin memberi nasihat, lebih-lebih kepada penguasa adalah agar melakukannya dengan hikmah. Dia menasihatinya tidak di hadapan khalayak, sebagaimana yang diatur dalam petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ السُّلْطَانَ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ

“Barangsiapa hendak menasihati penguasa dalam suatu perkara, janganlah dia melakukannya di depan khalayak. Akan tetapi, lakukanlah bersendirian dengannya. Jika (nasihat tersebut) diterima, itulah yang diinginkan. Jika tidak, dia telah menjalankan kewajiban terhadapnya.” (HR. Ahmad danyang lainnya. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dengan berbagai jalannya)

Kaum muslimin rahimakumullah,

Menasihati penguasa dengan menyebutkan kekurangan dan aib mereka di depan khalayak dan memprovokasi masyarakat untuk turun ke jalan-jalan dengan membawa spanduk yang bertuliskan hujatan-hujatan kepada penguasa bukanlah cara yang hikmah dan tidak sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan sampai kaum muslimin terpancing oleh orang-orang yang menggunakan cara yang tidak hikmah, yaitu tidak menggunakan aturan yang telah disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta tidak melihat dampak/akibat dari perbuatannya.

Cara seperti itu tidak akan memperbaiki, bahkan terkadang perbuatan tersebut disusupi oleh orang-orang yang memang punya maksud jahat dan tidak menginginkan kebaikan untuk negeri ini sama sekali. Sekali lagi, kaum muslimin harus berhati-hati untuk tidak ikut dan terprovokasi mengikuti cara-cara yang tidak hikmah tersebut.

Hadirin rahimakumullah,

Adapun kewajiban penguasa terhadap rakyatnya, semestinya orang yang dikaruniai kekuasaan memahami bahwa dirinya sedang memikul tugas dan amanat yang besar. Seorang penguasa haruslah meluruskan niatnya dalam mengemban tugasnya. Yaitu, agar semua kebijakan dan aturan yang dibuat adalah demi menegakkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi serta untuk menegakkan keadilan dan menghilangkan kezaliman sekuat kemampuannya.

Wajib bagi penguasa untuk berbuat adil dalam menghukumi rakyatnya. Tidak membeda-bedakan rakyatnya dengan melebihkan atau membela yang berbuat salah, dan yang semisalnya.

Begitu pula wajib bagi penguasa untuk tidak menyakiti rakyatnya, baik yang berkaitan dengan darah, harta, maupun kehormatan mereka.

Tidak boleh pula memanfaatkan kekuasaan untuk meluluskan dan menuruti semua keinginan hawa nafsunya. Bahkan seorang penguasa harus mengingat bahwa kekuasaan yang sedang diembannya bisa saja seketika akan hilang darinya.

Apabila dia semena-mena terhadap rakyatnya, maka sangat mungkin dia pun akan dihinakan oleh masyarakat disaat dirinya tidak lagi berkuasa.

Lebih dari itu, seorang penguasa harus memahami bahwa akan datang saatnya hari di saat dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَهُوَ غَاشٍ لِرَعِيَّتِهِ، إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang hamba, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan padanya kekuasaan untuk memimpin rakyat dan meninggal dunia dalam keadaan meninggalnya berbuat curang terhadap rakyatnya, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan baginya jannah/ surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sudah semestinya bagi masyarakat dan penguasa untuk menunaikan kewajibannya sehingga akan terwujud keadaan yang aman, damai, serta jauh dari kerusuhan dan pertikaian.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيآتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْخَلْقَ لِيَعْبُدُوْهُ، وَأَبَانَ آيَاتِهِ لِيَعْرِفُوْهُ، وَسَهَّلَ لَهُمْ طَرِيْقَ اْلوُصُوْلِ إِلَيْهِ لِيَصِلُوْهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَإِمَامَنَا وَقُدْوَتُنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللهُ بِاْلهُدَى وَدِيْنِ اْلحَقِّ لِيَكُوْنَ لِلْعَالَمِيْنَ نَذِيْرًا، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Telah kita ketahui sebagian kewajiban masyarakat kepada penguasanya dan sebaliknya. Apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang menganggap tidak wajibnya taat kepada penguasa dan boleh keluar dari kewajiban mendengar dan taat, bahkan menganggap bolehnya memberontak kepada penguasa muslim yang sah, adalah kekeliruan besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَد أَطَاعِني، وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي

“Barangsiapa menaatiku maka dia telah menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala, barang siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia telah bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, barangsiapa menaati penguasaku maka dia telah menaati aku, dan barang siapa yang bermaksiat terhadap penguasaku, maka dia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Di antara hal yang juga perlu diketahui, termasuk amal saleh yang dianjurkan untuk dilakukan oleh rakyat terhadap penguasanya adalah mendoakan kebaikan untuk mereka. Yaitu memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan hidayah dan menunjuki mereka kepada jalan yang diridhai-Nya serta istiqamah di atasnya.

Dengan mendoakan kebaikan untuk pemerintah, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepada kaum muslimin sebaik-baik pemimpin sebagaimana disebutkan dalam hadits,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَ يُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَ شِرَا رُ أ ئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُو نَهُمْ وَ يُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونكُمْ

“Sebaik-baik penguasa kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan merekapun mencintai kalian, begitu pula yang mereka mendoakan (kebaikan) untuk kalian dan kalian mendoakan (kebaikan). Sejelek-jelek penguasa kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian serta kalian mencaci-maki mereka dan mereka pun mencaci-maki kalian.” (HR. Muslim).

Sebuah kesalahan yang nyata apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang justru menjadikan kesibukannya untuk menjelek-jelekkan penguasa dan mencaci maki mereka. Sebaliknya, keberuntungan yang besar bagi seorang muslim yang bersabar dengan kejelekan penguasanya dengan menahan lisannya dari mencaci maki mereka. Bahkan dengan kelapangan dadanya, dia justru mendoakan kebaikan untuk penguasanya. Diharapkan dengan sikap itu, dia pun akan mendapatkan kebaikan yang setimpal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُوْلِأَخِيْهِ بِظَهْرِ اْلغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ:آمين وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidaklah seorang hamba muslim yang mendoakan (kebaikan) untuk saudaranya dengan tanpa sepengetahuannya kecuali malaikat akan mengatakan, ‘Amin,’ dan untukmu seperti (yang engkau doakan untuk saudaramu).” (HR. Muslim).

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memperbaiki diri-diri kita dan seluruh kaum muslimin.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ وَارْزُقْهُ البِطَانَةً الصَالِحَةً النَاصِحَةً يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَناَ تَقْوَاهَا ، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالغِنَى ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا . اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَصِفَاتِكَ العُلَى أَنْ تَجْعَلْ قُوَّتَنَا حَلَالًا وَأَنْ تَجَنِّبْنَا الحَرَامَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ .

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبَّ العَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَباَرَكَ وَأَنْعَمَ عَلَى عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Oleh : al Ustadz Saifudin Zuhri, Lc
Artikel asysyariah.com
 

]]>
http://khotbahjumat.com/kewajiban-pemerintah-dan-rakyat/feed/ 0
Nabi Muhammad dan Tanda-Tanda Kerasulannya http://khotbahjumat.com/nabi-muhammad-dan-tanda-tanda-kerasulannya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nabi-muhammad-dan-tanda-tanda-kerasulannya http://khotbahjumat.com/nabi-muhammad-dan-tanda-tanda-kerasulannya/#comments Sun, 23 Nov 2014 16:37:43 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2988 Khutbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْحَقِّ اْلمُبِيْنِ وَأَيَّدَهُ بِاْلآيَاتِ اْلبَيِّنَاتِ لِتَقُوْمَ الْحُجَّةُ عَلَى الْمُعَانِدِيْنَ: {لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ وَإِنَّ اللهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ }وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه إِلَهُ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلأَنْبِيَاءِ وَاْلمُرْسَلِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengutus utusan-Nya dengan membawa kebenaran serta bukti yang sangat nyata. Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak ada tandingan bagi-Nya dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Saya juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad n adalah hamba dan utusan-Nya, penutup para nabi yang tidak ada nabi setelahnya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan kaum muslimin yang mengikuti petunjuknya.

Hadirin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membenarkan semua berita yang sahih yang datang dari Rasul-Nya. Marilah kita senantiasa mengingat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para rasul-Nya sebagai pemberi kabar gembira sekaligus pemberi peringatan bagi para hamba-Nya. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk membela dirinya dari kesalahankesalahan yang dilakukannya setelah diutusnya para rasul. Bahkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menguatkan para rasul-Nya dengan tanda-tanda kenabian yang membenarkan ajaran yang dibawanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan keadilan supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS. al-Hadid: 25)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنَ ا نْألَْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أُعْطِيَ مِنَ ا يْآلَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ

“Tidak ada seorang nabi pun kecuali diberikan (kepadanya) tanda-tanda (bukti kenabian) yang dengan semisal itu manusia beriman.” (HR. Muslim)

Dari ayat dan hadits tersebut, kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menguatkan kebenaran para rasul-Nya dengan tanda-tanda kenabian atau mukjizat sehingga tegaklah hujah bagi orangorang yang menentang ajaran mereka. Di sisi lain, akan membuat orang yang beriman semakin yakin dan menerima kebenaran yang dibawa oleh para rasul.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Di antara bukti nyata yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada para rasul-Nya, bahkan termasuk tanda-tanda kenabian yang paling besar, adalah mukjizat yang diberikan kepada pemimpin sekaligus penutup para nabi, yaitu nabi kita Muhammad n. Tanda-tanda kenabian atau yang disebut dengan mukjizat tersebut ada yang sifatnya kauniyah dan ada pula yang sifatnya syar’iyah. Di antara tanda kenabian yang sifatnya syar’iyah adalah mukjizat yang berupa Alquran. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyatakan kepada orang-orang yang meminta bukti nyata tentang kebenaran Rasul yang paling mulia ini di dalam firman-Nya,

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (Alquran) yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Alquran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-‘Ankabut: 51)

Hadirin rahimakumullah,

Memang benar bahwa Alquran adalah mukjizat terbesar. Sebab, ia diturunkan sebagai pembenar bagi kitabkitab yang sebelumnya dan menjadi hakim yang memutuskan ketetapan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menghapus berlakunya kitab-kitab sebelumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

“Kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. al-Maidah: 48)

Hadirin rahimakumullah,

Demikianlah, Alquran adalah kitab suci yang kandungan ajarannya menyeluruh untuk seluruh manusia hingga akhir zaman serta akan senantiasa tepat dan sesuai, kapan dan di mana pun. Kandungannya berisi berita dan kisah yang penuh dengan hikmah, berisi hukum-hukum yang sempurna dan penuh keadilan, yang sangat dibutuhkan untuk kebaikan individu dan masyarakat. Begitu pula saat dibaca, Alquran memiliki keindahan yang luar biasa dari sisi kalimat atau lafadznya sehingga tidak membosankan pembacanya dan mampu memberikan pengaruh yang besar bagi orang-orang yang bertadabur saat membacanya.

Hadirin rahimakumullah,

Oleh karena itu, kita harus benarbenar memahami bahwa di hadapan kita ada Alquran yang merupakan kitab suci yang sangat agung. Kitab yang berisi petunjuk kepada jalan yang lurus. Kitab yang merupakan kalam Allah yang tidak ada sedikit pun kesalahan di dalamnya. Sudah semestinya kita mempelajari dan mengamalkan kitab yang mulia ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ () لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka (baik) secara diam-diam maupun terangterangan. Mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30)

Demikian keutamaan seseorang yang memiliki sifat sebagaimana tersebut dalam ayat di atas, di antaranya adalah msenantiasa membaca Alquran. Diantelah melakukan perniagaan dengan nkeuntungan yang dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengalami kerugian.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Termasuk mukjizat yang menunjukkan kebenaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syariat Islam yang dibawanya. Sebab, syariat tersebut mencakup seluruh aspek kehidupan, baik yang berkaitan dengan hubungan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun yang mengatur hubungan sesama manusia. Jadi, semua yang dibutuhkan untuk kebaikan manusia, baik yang berkaitan dengan akidah, ibadah, maupun akhlak serta adab, ada dalam syariat yang mulia ini. Oleh karena itu, seandainya seluruh manusia berkumpul untuk membuat syariat yang serupa dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka mereka tidak akan mampu untuk mewujudkannya. Hal ini tentu menunjukkan bukti nyata bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syariat yang benar-benar datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saudara-saudaraku rahimakumullah,

Dengan demikian, di hadapan kita ada syariat yang sempurna dan penuh dengan keadilan. Syariat yang merupakan tanda kenabian dan menunjukkan kebenaran Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. al-Maidah: 50).

Maka dari itu, sudah semestinya kaum muslimin mengikuti syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan aturan yang bertentangan dengan syariat-Nya. Kaum muslimin wajib meyakini bahwa kebenaran dan keadilan hanya ada pada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun aturan yang bertentangan dengannya adalah aturan yang batil dan zalim. Akhirnya, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita untuk istiqamah di atas ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga ajal mendatangi kita.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، أشْهَدُ أَنْ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِه وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كثيراً،

أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Adapun tanda-tanda kenabian yang sifatnya kauniyah, jumlahnya amat banyak. Di antaranya adalah akhlak yang ada pada diri Rasulullah n dan amal ibadah beliau yang luar biasa. Sungguh, kebenaran beliau n sebagai utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala terlihat pada keluhuran akhlak beliau yang dikenal kejujuran, kebaikan, keadilan, dan kesabarannya. Seseorang yang mempelajari sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjumpai bahwa beliau adalah sosok yang senantiasa menepati janji, tidak pernah sekali pun berdusta, berbuat zalim, atau berkata kotor dan berbuat nista. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diketahui sebagai sosok yang tidak memerintahkan satu kebaikan pun kecuali menjadi orang yang pertama kali menjalankannya.

Beliau tidaklah melarang satu kejelekan pun kecuali menjadi orang yang pertama kali meninggalkannya. Begitu pula, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pribadi yang diberi kemenangan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengalahkan musuh-musuh yang menentang ajaran yang dibawanya, namun tidak ada keangkuhan pada diri beliau. Ketinggian akhlak dan ibadah beliau menjadi tanda kenabian yang dengan jelas menunjukkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Masih banyak lagi tanda-tanda kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya apa yang disaksikan oleh orang-orang Quraisy setelah mereka meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanda-tanda yang menunjukkan kebenarannya, yaitu terbelahnya bulan menjadi dua hingga mereka melihat Gua Hira ada di antara keduanya. Begitu pula, termasuk tanda-tanda kenabian adalah peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Isra’ adalah perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dan berkumpulnya para nabi di tempat tersebut lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami mereka.

Mi’raj adalah naiknya beliau ke langit dan bertemu serta saling mengucapkan dan menjawab salam dengan beberapa nabi pada setiap langit, hingga mencapai tempat yang bernama Sidratil Muntaha. Di sanalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun tanpa melihat- Nya, untuk mendapatkan kewajiban shalat lima waktu. Sebelumnya, diwajibkan lima puluh kali dan kemudian mendapatkan keringanan setelah beliau berbolak-balik dari Nabi Musa menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mendapatkan keringanan tersebut. Bahkan, pada peristiwa yang terjadi dalam satu atau sebagian malam tersebut juga diperlihatkan surga dan neraka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menunjukkan kebenaran Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ

“Sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar.” (QS. an-Najm: 18).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Oleh karena itu, marilah kita terima dengan penuh lapang dada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah disampaikan melalui utusan-Nya yang paling mulia, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Marilah kita kedepankan wahyu yang turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada akal kita. Marilah kita tundukkan hawa nafsu kita untuk mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik-Nya kepada kita semua.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56]

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنَّ وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دَوْرِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَارَبَّ العَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ أَهْلَ الإِسْلَامِ بِسُوْءٍ فَجْعَلْ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ وَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْرُهُ يَاسَمِيْعُ الدُّعَاءِ اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَدُعَائَنَا اَللَّهُمَّ لَا تَرُدْنَا خَائِبِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابِ رَبَّنَا اغْفِرْ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Oleh Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.
Artikel www.asysyariah.com

]]>
http://khotbahjumat.com/nabi-muhammad-dan-tanda-tanda-kerasulannya/feed/ 0
Manfaatkan Kesempatan Sebelum Datang Keterlambatan http://khotbahjumat.com/manfaatkan-kesempatan-sebelum-datang-keterlambatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=manfaatkan-kesempatan-sebelum-datang-keterlambatan http://khotbahjumat.com/manfaatkan-kesempatan-sebelum-datang-keterlambatan/#comments Sat, 22 Nov 2014 03:33:31 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2985 Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا وَجَعَلَ فِي العُمْرِ فُسْحَةٍ، وَفِي الْحَيَاةِ مُهْلَةٍ، أَحْمَدُهُ – سُبْحَانَهُ – وَأَشْكُرُهُ عَلَى كُلِّ نِعْمَةٍ وَقُرْبَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ جَمَعَ قُلُوْبَ المُؤْمِنِيْنَ عَلَى الْمَحَبَّةِ وَالأُلْفَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ قُدْوَةٍ وَأُسْوَةٍ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْ كَانَتْ صُحْبَتُهُمْ لِنَبِيِّهِمْ أَجَلَّ صُحْبَةٍ وَأَعْظَمُ فُرْصَةٍ.

أَمَّا بَعْدُ:

فَأُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Kehidupan merupakan kesempatan, dan kehidupan berisi kesempatan-kesempatan yang silih berganti yang tidak terhingga. Allah menjalankan hamba-hambaNya dalam kesempatan-kesempatan tersebut, kesempatan-kesempatan yang bervariasi, selalu hadir dalam segala bidang. Ada kesempatan yang akhirnya merubah arah kehidupan, ada kesempatan yang mendatangkan perubahan kehidupan menjadi lebih baik bagi orang yang menggunakan kesempatan tersebut dan mengembangkannya.

Sebagian kesempatan tidak terulang lagi. Sebagian salaf berkata :

إذا فُتح لأحدكم بابُ فليُسْرعْ إليه، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي مَتَى يُغلَقُ عَنْهُ

“Jika dibukakan bagi seorang dari kalian pintu kebaikan maka bersegeralah menuju kepadanya, karena sesungguhnya ia tidak tahu kapan ditutup pintu tersebut”

Kesempatan terkadang dalam bentuk ketaatan, atau amalan kebajikan untuk membangun negeri atau pengembangan masyarakat, dan terkadang kesempatan berupa kedudukan dan jabatan untuk ia gunakan demi membantu kepada agama dan umat, dan terkadang kesempatan dalam bentuk perdagangan.

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ مَعَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ

“Sebaik-baik harta yang baik adalah bersama hamba yang sholeh” (HR. Ibnu Hibban).

Kesempatan dalam kehidupan seorang mukmin terbuka terus sepanjang hidup, tegak terus hingga saat-saat terakhir dari umurnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan yang diikuti, dengan kesiagaannya selalu, pandangan beliau yang tajam dan terang dalam memanfaatkan kesempatan-kesempatan. Beliau selalu memotivasi dalam ketaatan, memberi dorongan kepada hamba-hamba Allah, memberi pengarahan dan tarbiyah. Suatu hari beliau membonceng Ibnu Abbas –semoga Allah meridoinya- di belakang beliau, maka beliau berkata ;

“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepada engkau beberapa perkataan, jagalah Allah maka niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah maka niscaya engkau akan mendapati Allah di hadapanmu, jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. at-Tirimidzi).

Tatkala beliau melihat tangan Umar bin Abi Salamah berkeliaran di tampan makanan, maka beliau berkata :

يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

“Wahai pemuda, ucaplah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang dekat denganmu” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Adapun Abu Bakar ash-Shiddiq –semoga Allah meridhoinya-, maka beliau telah bersegera dalam memanfaatkan kesempatan, maka beliau telah meraih predikat “pelopor” dalam masuk Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang beliau,

إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ: كَذَبْتَ، وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: صَدَقَ، وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُو لِي صَاحِبِي ” –مرَّتّيْنِ-، قَالَ: فَمَا أُوذِيَ بَعْدَهَا

“Sesungguhnya Allah mengutus aku kepada kalian lalu kalian berkata : “Engkau berdusta”, adapun Abu Bakar beliau berkata, “Muhammad telah benar”, ia telah menolongku dengan jiwa dan hartanya. Maka apakah kalian tidak meninggalkan gangguan terhadap sahabatku (yaitu Abu Bakar) demi aku !! (Rasulullah mengucapkannya dua kali)”. Maka Abu Bakar tidak pernah diganggu lagi setelah itu (HR. al-Bukhari).

Lihatlah Utsman bin ‘Affan –semoga Allah meridhoinya-, beliau menggunakan kesempatan keberadaan para sahabat di kota Madinah, maka beliaupun menjadikan semua orang bersatu dalam satu mushaf pada seorang imam yang disepakati oleh para sahabat, lalu jadilah imam tersebut adalah imam yang disepakati, maka Allah-pun menjaga kaum muslimin dengan sebab imam tersebut dari banyak keburukan dan perselisihan.

Barangsiapa yang bersegera memanfaatkan kesempatan yang terbuka maka ia akan mendahului selainnya beberapa tingkatan. Orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshoor lebih afdol dari pada orang-orang yang datang setelah mereka. Dan diantara mereka ada para peserta perang Badar yang memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Dan parang sahabat yang masuk Islam sebelum Fathu Makkah, berhijrah dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka, memiliki keutamaan yang lebih daripada para sahabat yang melakukan hal tersebut setelah Fathu Makkah. Allah berfirman,

وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (١٠)أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (١١)فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (١٢)ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ (١٣)وَقَلِيلٌ مِنَ الآخِرِينَ (١٤)

“Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, mereka Itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al-Waqi’ah: 10-14).

Kesempatan-kesempatan emas berlalu begitu cepat, karena waktunya sangat terbatas, cepat selesai, coba perhatikan perjalanan seorang yang telah tua, lihatlah begitu cepat perubahan kondisinya dari dahulunya sehat sekarang menjadi sakit, dari kaya menjadi miskin, dari rasa aman menjadi takut, dari waktu kosong kepada kesibukan, dari muda menjadi tua.

Semakin ditekankan untuk memanfaatkan kesempatan di masa-masa fitnah dan musibah serta malapetaka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بالأَعْمَالِ فِتَناً كقِطَع اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِناً وَيُمْسِي كَاَفِراً، وَيُمْسِي مُؤْمناً وَيُصْبِحُ كافِراَ يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegaralah beramal sholeh sebelum datangnya firnah-fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita, seseorang di pagi hari dalam kondisi mukmin dan di sore hari menjadi kafir, seseorang di sore hari masih mukmin dan di pagi hari menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kepentingan dunia.” (HR. Muslim).

Karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan umatnya untuk memanfaatkan kesempatan dan bersegera untuk melakukan kebaikan sebelum terlambat, maka beliau bersabda,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah 5 perkara sebelum 5 perkara, masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kecukupanmu sebelum engkau miskin, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, kehidupanmu sebelum kematianmu.” (HR. an-Nasai).

Manfaatkanlah kesempatan hidupmu, barangsiapa yang mati maka terputuslah amalannya, cita-citanya terluputkan, dan pasti datang kepadanya penyesalan. Manfaatkanlah kesehatanmu, barangsiapa yang sakit maka ia tidak kuat untuk melakukan banyak amal kebajikan, lalu ia berangan-angan seandainya ia di masa sehatnya ia sholat dan puasa. Manfaatkanlah waktu luangmu sebelum engkau dikejutkan dengan berbagai macam kesibukan, kau disibukkan dengan pekerjaan sehari-hari. Manfaatkanlah masa mudamu sebelum engkau tua, maka beratlah tubuhmu, anggota-anggota tubuhmu tidak kuat lagi. Manfaatkanlah masa kayamu, bersedekahlah, berinfahklah, keluarkanlah hartamu, sebelum engkau kehilangan hartamu atau hartamu pergi meninggalkanmu.

Seluruh kesempatan adalah manfaat, bagaimanapun kecilnya kesempatan tersebut dalam pandanganmu, maka itu adalah keuntungan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِقٍ

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun meskipun hanya bertemu dengan saudaramu dengan wajah tersenyum.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمنْ لَمْ يجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Jagalah dirimu dari api neraka meskipun dengan bersedekah sepenggal butir kurma, dan barangsiapa yang tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan maka bersedekahlah dengan ucapan yang baik.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Beliau juga bersabda,

إنَّ العبْدَ لَيَتَكلَّمُ بالكلمةِ مِنْ رِضْوانِ الله، لا يُلْقي لها بالاً، يرْفَعُ الله بِها دَرَجاتٍ

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang diridoi oleh Allah, ia tidak memperdulikan perkataan tersebut, maka Allah mengangkatnya beberapa derajat karena kalimat tersebut.” (HR. al-Bukhari).

Demikianlah kondisi seorang muslim, ia selalu memanfaatkan segala kesempatan untuk memberi bagaimanapun kecilnya, ia berusaha semaksimal mungkin meskipun pemberian tersebut sedikit. Nabi Yusuf ‘alaihissalam menghadapi sulitnya tinggal di negeri asing, kerasnya kezoliman dalam penjara, akan tetapi ia tetap beramal kebajikan demi agama, dan ia memberi pengarahan kepada jalan kebenaran. Ia berkata,

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (٣٩)

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf: 39).

Taubat merupakan kesempatan emas dalam kehidupan, seseorang tidak tahu kapan akan luput kesempatan tersebut dari dirinya. Allah Ta’ala berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133).

Dengan bertaubat maka Allah menganugerahkan kepada para hamba untuk instropeksi diri, untuk merenungkan tentang kondisi mereka, lalu mereka segera kembali kepada Allah sebelum datang kepada mereka kondisi-kondisi lemah dan petaka. Di dalam hadits:

إِنَّ صَاحِبَ الشِّمَالِ لِيَرْفَعُ الْقَلَمَ سِتَّ سَاعَاتٍ عَنِ الْعَبْدِ الْمُسْلِمِ الْمُخْطِئِ أَوِ الْمُسِيءِ، فَإِنْ نَدِمَ وَاسْتَغْفَرَ اللهَ مِنْهَا أَلْقَاهَا، وَإِلَّا كُتِبَتْ وَاحِدَةً

“Sesungguhnya malaikat yang di kiri mengangkat penanya selama enam waktu dari seorang hamba muslim yang bersalah atau berbuat keburukan, jika sang hamba menyesal dan memohon ampunan dari dosa tersebut maka iapun tidak jadi mencatat, namun jika tidak maka dicatat satu dosa.” (HR. at-Thobroni).

Dan musim-musim kebaikan merupakan kesempatan yang datang silih berganti, merupakan anugerah yang besar, yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang cerdas, musim haji mencuci dosa-dosa, umroh menebus kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa, demikian juga dengan bulan Ramadhan bersama siangnya yang agung dan indahnya malam-malamnya.

Menetap tinggal dan dekat dengan tempat-tempat mulia merupakan kesempatan yang berharga, karena kebaikan-kebaikan dilipat gandakan di Mekah dan Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ، وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Sholat di masjidku lebih baik dari seribu sholat di masjid yang lain, kecuali al-masjid al-harom. Dan sholat di al-masjidil haram lebih baik dari seratus ribu sholat di masjid yang lainnya.” (HR. Ibnu Majah).

Bahkan orang-orang yang terkena musibah, maka kesempatan mereka adalah mendapatkan pahala dalam kesabaran serta ridho dengan keputusan dan taqdir Allah.

Seorang muslim yang cerdas, adalah seorang yang memiliki semangat yang tinggi, ia mengembangkan jiwanya yang bersegera, maka ia menciptakan kesempatan-kesempatan dan ia melahirkan amalan-amalan yang terarah untuk mendapatkan pahala, untuk memanfaatkan waktu dan kehidupannya, maka iapun memberi manfaat kepada dirinya, iapun menambah bekalnya, ia berkhidmah kepada negerinya dan umat-nya.

Orang yang bahagia adalah orang yang menjadikan seluruh musim dalam kehidupannya sebagai kesempatan untuk menyucikan dirinya, menjadikan kehidupannya lebih baik, maka iapun bertekad dan serius serta iapun melombai waktu, bersegera menuju ketinggian. Adapun jika hilang sikap bersegera, tersebarlah sikap “berpangku tangan” maka seorang muslim akan kehilangan kesempatan-kesempatan berharga dan keberuntungan yang besar, serta akan tidak berfungsi kekuatannya, bekulah pengaruhnya di negeri dan umatnya. Hal ini menkonsekuensikan agar kita mengarahkan kehidupan kita dengan bimbingan, dengan serius dan memanfaatkan kesempatan-kesempatan, agar kita semakin maju di dunia dan semakin tinggi mulia dalam kehidupan, serta aman tenteram di hari akhirat.

Barangsiapa yang menjadikan tujuan hidupnya rendah, dan nilai dirinya dalam kehidupan ini murahan, maka ia telah meluputkan dirinya dari kesempatan-kesempatan dan hanya menghabiskan kehidupannya untuk bersenang-senang dan berhura-hura, maka hari-harinya pun sirna dalam kesia-siaan, tahun-tahun yang sia-sia itulah umurnya, dan ia akan berkata tatkala di akhirat:

يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي (٢٤)

“Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”. (QS. Al-Fajr: 24).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيآتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الإِسْلَامِ، أَحْمَدُهُ – سُبْحَانَهُ – وَأَشْكُرُهُ عَلَى الدَّوَامِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَلْمُتَفَضِّلُ عَلَى عِبَادِهِ بِالصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ مَنْ صَلَّى وَصَامَ وَقَامَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ صَلَاةً دَائِمَةً عَلَى التَّمَامِ.

أَمَّا بَعْدُ:

فَأُصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهَ، قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Menunda-nunda menyebabkan hilangnya kesempatan, sehingga pekerjaan yang dipikul menumpuk, menjadi lambat dan tertunda, pikiran menjadi bercabang tidak karuan, maka kesempatan-kesempatan yang terbuka dihadapannya tidak terlihat, pekerjaanpun tidak terselesaikan. Umar bin Al-Khottob –semoga Allah meridhoinya- berkata :

مِنَ الْقُوَّةِ أَلاَّ تُؤَخِّرَ عَمَلَ الْيَوْمِ إِلَى الْغَدِ

“Diantara kekuatan adalah engkau tidak menunda pekerjaan hari ini hingga esok”

Kesempatan-kesempatan juga menjadi mati karena sikap keraguan yang menyebabkan terlewatkannya keberhasilan, sehingga seseorang tetap di tempatnya, sementara pengendara terus berjalan maju. Allah berfirman,

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali-Imron: 159).

Allah juga berfirman,

فَإِذَا عَزَمَ الأمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ (٢١)

“Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21).

Barangsiapa yang dilanda kelalaian maka ia telah menyia-nyiakan kesempatan dan telah membuang anugerah, ia telah membunuh waktu dengan sikap nganggur tanpa manfaat. Allah berfirman,

لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (١٧٩)

“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf : 179).

Mereka yang lalai akan menyesal pada hari penyesalan. Allah berfirman,

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الأمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ (٣٩)

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputuskan, sementara mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman.” (QS. Maryam: 39).

Dan penyesalan terbesar adalah milik orang-orang yang celaka, tatkala mereka meminta dan memohon untuk diberikan kesempatan lagi, mereka berkata:

رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ (١٠٦)رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ (١٠٧)

“Ya Tuhan Kami, Kami telah dikuasai oleh kejahatan Kami, dan adalah Kami orang-orang yang sesat. Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami dari neraka (dan kembalikanlah Kami ke dunia), Maka jika Kami kembali (juga kepada kekafiran), Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mukminun: 106-107).

Maka Allah berkata kepada mereka:

اخْسَئُوا فِيهَا وَلا تُكَلِّمُونِ (١٠٨)

“Tinggallah kalian dengan hina di dalam neraka, dan janganlah kalian berbicara dengan aku.” (QS. Al-Mukminun: 108).

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ وَارْزُقْهُ البِطَانَةً الصَالِحَةً النَاصِحَةً يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَناَ تَقْوَاهَا ، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالغِنَى ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا . اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَصِفَاتِكَ العُلَى أَنْ تَجْعَلْ قُوَّتَنَا حَلَالًا وَأَنْ تَجَنِّبْنَا الحَرَامَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ .

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبَّ العَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَباَرَكَ وَأَنْعَمَ عَلَى عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti (Imam dan khotib Masjid Nabawi)

Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda
Artikel www.Firanda.com

]]>
http://khotbahjumat.com/manfaatkan-kesempatan-sebelum-datang-keterlambatan/feed/ 0
Sifat dari Hamba Allah Ar-Rahman http://khotbahjumat.com/sifat-dari-hamba-allah-ar-rahman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sifat-dari-hamba-allah-ar-rahman http://khotbahjumat.com/sifat-dari-hamba-allah-ar-rahman/#comments Fri, 21 Nov 2014 13:11:05 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2981 Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا؛ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ، وَمُبَلِّغِ النَّاسِ شَرْعِهِ، مَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَيْهِ، وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ .

Ayyuhal mukminun ibadallah,

Sesungguhnya Allah Ta’ala memuliakan hamba-hamba-Nya yang baik peribadatannya kepada-Nya. Para hamba tersebut menyempurnakan taqarrub kepada Allah dengan memperbagus amalan ketaatan mereka. Allah Jalla wa ‘Ala pun senantiasa melipat-gandakan kemuliaan untuk mereka, mengangkat kedudukan mereka, kemudian memuji mereka dengan menjelaskan kedudukannya yang dekat di sisi-Nya. Tentang mereka Allah jelaskan dalam sebuah ayat yang agung di akhir surat Al-Furqan. Dia namai para hamba tersebut dengan sebutan “Ibadurrahman (عِبَادُ الرَّحْمَنِ)”. Setelah menyebutkan nama mereka, Allah pun menyebutkan sifat-sifat mereka yang indah dan akhlak mereka yang mulia. Lalu Allah Tabaraka wa Ta’ala janjikan kepada mereka balasan yang agung dan tempat yang terhormat.

Ayyuhal mukminun,

Sifat-sifat mereka disebutkan dalam 8 redaksi dengan redaksi yang penuh keberkahan. Seorang mukmin hendaknya merenungi sifat-sifat yang agung ini dan menjadikannya pembelajaran serta percontohan untuk diri mereka. Apabila setelah membaca sifat-sifat tersebut mereka merasa bahwa diri mereka penuh kekurangan dan suka menyia-nyiakan ketaatan, hendaknya ia bersegera menyempurnakan kekurangan dirinya sebelum datang ajal menjemputnya.

Ayyuhal mukminun ibadallah,

Pertama: Sifat pertama yang Allah Jalla wa ‘Ala sebutkan adalah mereka orang yang tenang dan merendahkan diri kepada Allah, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang mencela ketaatan mereka, dan membantahnya dengan cara yang baik. Allah Ta’ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63).

Kedua: Allah juga menyebutkan di antara sifat mereka adalah menaruh perhatian terhadap shalat malam dan mengerjakannya dengan penuh keikhlasan, ketundukan, dan kekhusyuan. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 64).

Ketiga: Sifat mereka yang lainnya, yang disebutkan oleh Allah Ta’ala adalah mereka sangat takut terhadap neraka, padahal mereka memiliki amalan yang agung dan sifat-sifat yang terpuji. Mereka takut dari adzab Allah Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, mereka berdoa dengan sepenuh pengharapan agar dijauhkan dari neraka dan berusaha menjauhkan diri sebab-sebab yang bisa menghantarkan ke neraka. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (66)

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (QS. Al-Furqan: 65-66).

Keempat: Mereka juga adalah orang yang senantiasa berinfak, baik yang wajib maupun yang Sunnah. Berinfak dengan tidak berlebihan hingga menyusahkan diri mereka, juga tidak pelit karena terlalu sedikit. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67).

Kelima: Setelah itu, Allah mengabarkan bahwa mereka juga adalah orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar. Khususnya dosa syirik, membunuh, dan zina. Karena tiga perbuatan ini adalah dosa yang terbesar dan termasuk hal-hal yang membinasakan. Dengan rasa takut dan rajinnya mereka melakukan ketaatn, mereka juga memiliki sifat bersegera dan senantiasa bertaubat kepada Allah ketika melakukan dosa. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71)

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan: 68-71).

Keenam: Allah Jalla wa ‘Ala menyebutkan mereka adalah orang yang jauh dari majlis-majlis yang mungkar, yang melalaikan, batil, dan sesat. Apabila mereka melewati majlis-majlis demikian, mereka tidak memperdulikannya karena mereka memuliakan diri mereka sendiri. Mereka mensucikan diri mereka dari majlis-majlis yang sia-sia dan jelek. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72).

Ketujuh: Mereka juga adalah orang-orang yang mengagungkan ayat-ayat Allah dan tidak pernah menentang atau membantah ayat-ayat tersebut, bahkan mereka adalah orang yang mengimaninya dengan cara yang baik. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73).

Kedelapan: Mereka adalah orang-orang yang menghadapkan diri kepada Allah dengan cara yang terbaik dan menyempurnakan doa. Mereka memuliakan diri mereka sendiri, keluarga, dan keturunan mereka dengan cara memohonkan kebaikan di dunia dan akhirat untuk mereka semua. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan 74).

Kemudian Allah Jalla wa ‘Ala tutup rangkain sifat-sifat mereka dengan menjanjikan derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia di hari kiamat kelak. Allah Ta’ala berfirman,

أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا}أي الجنة{ تَحِيَّةً وَسَلَامًا

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (QS. Al-Furqan: 75).

Para malaikat menyambut mereka dengan sambutan yang mulia. Tempat mereka di surga yang penuh dengan keselamatan dan kesempurnaan.

Alangkah agungnya dan mulianya sifat-sifat mereka. Hendaknya setiap muslim bersemangat untuk mengoreksi diri mereka dan terus memperbaiki amalan mereka sesuai dengan penjelasan yang telah Allah jelaskan di dalam ayat-ayat surat Al-Furqan.

Koreksilah diri kita dengan koreksi yang penuh ketelitian. Kemudian bersungguh-sungguhlah dalam menjauhi perbuatan jelek dengan meminta tolong kepada Allah. Sesungguhnya taufik berada di tangan-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya.

نَسْأَلُهُ جَلَّ فِيْ عُلَاهُ أَنْ يُوَفِّقَنَا أَجْمَعِيْنَ وَأَنْ يُصْلِحَ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ وَأَنْ لَا يَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، نَسْأَلُهُ جَلَّ وَعَلَا بِمَنِّهِ وَكَرَمِهِ وَجُوْدِهِ وَجَمِيْعِ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا مَنًّا مِنْهُ وَتَكَرَّمًا بِأَنْ يِجْعَلَنَا مِنْ هَؤُلَاءِ عِبَادِ الرَّحْمَنِ؛ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيْعُ الدُّعَاءِ وَهُوَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ .

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ،

أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ فِي السِّرِّ وَالعَلَانِيَةِ وَالغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.

Ayyuhal mukminun ibadallah,

Baru-baru ini, pemerintah, -semoga Allah selalu membimbing mereka di jalan yang Dia ridhai dan cintai-, menaikkan harga BBM. Tentu, kenaikan BBM ini akan berimbas kepada kenaikan harga-harga barang yang lain.

Peristiwa kenaikan harga dan krisis bukan baru-baru ini saja terjadi. Bahkan sejak zaman pemerintah Islam yang penuh dengan keadilan, harga-harga barang pun pernah mengalami kenaikan dan kelangkaan. Yang terpenting bagi kita kaum muslimin adalah menjaga kewajiban-kewajiban yang telah Allah perintahkan kepada kita. Dan Dialah Allah yang akan menanggung rezeki kita. Baik tua maupun muda, laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, anak kecil atau orang dewasa, semua Allah yang tetapkan rezeki untuk mereka.

Jagalah shalat, semahal apapun harga pangan maupun BBM, Allah menjamin rezeki Anda. Allah Ta’ala berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Perintahkahlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menjaga shalat. Aku tidak meminta rezeki darimu, Aku yang akan memberikan rezeki kepadamu. Akibat baik untuk orang yang bertaqwa.” (QS. Thaha: 132).

Di masa silam, terjadi kenaikan harga pangan sangat tinggi. Orang-orang pun mengadukan kondisi ini kepada salah seorang ulama di masa itu. Kita lihat, bagaimana komentar beliau,

وَاللهِ لَا أُبَالِي وَلَوْ أَصْبَحَتْ حَبَّةَ الشَعِيْرِ بِدِيْنَارٍ! عَلَيَّ أَنْ أَعْبُدَهُ كَمَا أَمَرَنِيْ، وَعَلَيْهِ أَنْ يَرْزَقَنِيْ كَمَا وَعَدَنِي

“Demi Allah, saya tidak peduli dengan kenaikan harga ini, sekalipun 1 biji gandum seharga 1 dinar! Kewajibanku adalah beribadah kepada Allah, sebagaimana yang Dia perintahkan kepadaku, dan Dia akan menanggung rizkiku, sebagaimana yang telah Dia janjikan kepadaku.”

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)).

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلَنَهُ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ .

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/sifat-dari-hamba-allah-ar-rahman/feed/ 0
Memperhatikan dan Menasihati Pemuda Untuk Shalat http://khotbahjumat.com/memperhatikan-dan-menasihati-pemuda-untuk-shalat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=memperhatikan-dan-menasihati-pemuda-untuk-shalat http://khotbahjumat.com/memperhatikan-dan-menasihati-pemuda-untuk-shalat/#comments Fri, 21 Nov 2014 03:42:19 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2978 Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصَّلَاةَ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ هَذَا الدِّيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ الَّذِيْ جَعَلَ بَيْنَ الإِسْلَامِ وَالكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا }

أَمَّا بَعْدُ..

فَإِنَّ خَيْرَ الكَلَامِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الهُدَى هَدْيُ رَسُوْلِ اللهِ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Sesungguhnya kewajiban-kewajiban yang menjadi bagian dari syariat Islam, semuanya disyariatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berada di bumi. Kecuali satu kewajiban, yang diwahyukan kepada beliau setelah beliau menembus lapisan-lapisan langit. Kewajiban tersebut adalah kewajiban shalat lima waktu sehari semalam.

Shalat diwahyukan kepada beliau tatkala beliau telah menempuh perjalanan hingga langit ketujuh. Hal ini menunjukkan betapa agung dan pentingnya kedudukan shalat dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (QS. At-Taubah: 11).

Dari ayat ini dapat kita pahami, jika orang-orang sama sekali meninggalkan shalat, maka dia bukan saudara seagama bagi umat Islam lainnya. Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang siapakah yang akan menjadi penghuni Saqar.

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ . قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Mudatstsir: 42-43).

Hal lainnya yang menunjukkan betapa besar dan agung kewajiban shalat ini adalah syariat tidak memberi dispensasi bagi seseorang untuk meninggalkan shalat walaupun mereka sedang berperang melawan orang-orang kafir. Hanya saja mereka mendapatkan keringanan dalam penunaiannya, yaitu dengan melakukan shalat khauf (shalat dalam kondisi mencekam).

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim).

Dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, juga ash-habu-s sunan, dari Buraidah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibnu Majah).

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ

“Barangsiapa yang selalu menjaganya (shalat), maka baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, sedangkan yang tidak menjaganya maka tidak ada baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, dan pada hari kiamat akan bersama Karun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad).

Dari Ali radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ‘Shalat, sahalat, dan bertakwalah kalian kepada Allah dalam permasalahan budak-budak yang kalian miliki”. (HR. Ahmad).

Begitu intens dan ketatnya syariat dalam permasalahan shalat ini, menunjukkan pentingnya shalat dalam syariat ini. Oleh karena itu, para sahabat Nabi sangat tegas dalam perihal terkait ibadah shalat. Sampai-sampai Umar bin al-Khattab mengatakan,

لَا إِسْلَامَ لِمَنْ لَا صَلَاةَ لَهُ

“Tidak ada bagian dari Islam, bagi orang yang tidak mengerjakan shalat.”

Abdullah bin Mas’ud berkata,

لَا دِيْنَ لِمَنْ لَمْ يُصَلِّ

“Tidak ada bagian dari agama, orang yang tidak mengerjakan shalat.”

Abdullah bin Syaqiq al-‘Uqaili radhiallahu ‘anhu berkata, “Sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang, tidak ada amalan yang menyebabkan kekufuran jika ditinggalkan, kecuali shalat.”

Dengan demikian, saudara-saudaraku seiman,

Hendaknya kita memperhatikan shalat kita. Hendaknya kita bersungguh-sungguh memacu diri-diri kita untuk menunaikan rukun Islam yang agung ini. Ia adalah tiang yang menyebabkan berdirinya bangunan agama seseorang.

Semoga Allah memberi kita taufik dalam menjaga shalat-shalat kita.

أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ
أما بعد:

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan bawah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Muslim).

Hadits ini menerangkan tentang mulianya kedudukan shalat dalam Islam. Keagungan shalat juga bisa kita ketahui bahwa lima waktu yang kita kerjakan dinilai 50 kali shalat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setelah kita mengetahui kedudukan shalat dan betapa agungnya shalat dalam Islam. Mari kita saksikan realita, kondisi kaum muslimin dalam mendudukkan shalat pada diri mereka. Banyak di antara saudara-saudara kita umat Islam, tidak shalat berjmaah di masjid bersama kaum muslimin lainnya. Mereka mendengar adzan dikumandangkan, iqomah ditegakkan, bahkan suara bacaan ayat Alquran yang dilantunkan oleh imam, namun mereka tidak shalat bersama kaum muslimin. Mereka disibukkan dengan kegiatan dan aktivitas dunia mereka.

Sayang sekali, umat Islam meninggalkan shalat berjamaah di masjid, padahal pahala yang Allah sediakan untuk mereka sangatlah besar.

Kondisi lainnya, ada sebagian umat Islam yang mengerjakan shalat keluar dari waktunya. Dan ini termasuk dosa besar yang harus dijauhi. Allah Ta’ala berfirman,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59).

Tentang ayat ini, ada yang bertanya kepada sahabat Nabi, Saad bin Waqqash, “Apakah yang dimaksudkan ayat itu adalah orang-orang yang meninggalkan shalat?” Saad menjawab, “Jika mereka meninggalkan shalat (sama sekali pen.), maka mereka keluar dari Islam. (Maksud ayat ini) Mereka yang mengakhirkan waktu, saat mengerjakan shalat”.

Jadi, ayat ini adalah peringatan bagi orang-orang yang mengerjakan shalat, namun mereka melakukan kelalaian dengan mengakhirkan penunaiannya. Adapun al-ghayya pada akhir ayat, maksudnya adalah sebuah lembah di Jahannam. Sebagaimana yang ditafsirkan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud.

Semoga Allah melindungi kita dari keburukan yang demikian.

Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang mengerjakan shalat, hanya saja mereka kerjakan saat keluar dari waktunya. Saudaraku seiman, lalu bagaimana kiranya dengan orang-orang yang tidak mengerjakan shalat selama satu minggu? Atau dua minggu? Satu bulan? Atau dua bulan? Dalam waktu selam itu mereka tidak bersujud kepada Allah. Mereka tidak menunaikan shalat.

Saudaraku seiman,

Masalah ini adalah masalah yang besar, namun sayangnya menyebar di kalangan umat Islam, pemuda-pemuda yang meninggalkan shalat. Tentu saja kita orang yang mengerjakan harus mengoreksi diri. Hal ini mungkin dikarenakan kurangnya ajakan kita kepada anak-anak kita, kurangnya masukan dan nasihat kita kepada para pemuda, dan kurangnya kita dalam menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Saudaraku seiman,

Hendaknya kita bertakwa kepada Allah. Kita ajak saudara-saudara kita sesama muslim untuk mengerjakan shalat. Dan bagi mereka yang tidak mengerjakan shalat, hendaklah takut kepada Allah. Karena kita semua, akan berdiri di hadapan Allah kelak. Demi Allah, saat itulah penyesalan yang mendalam akan hadir. Penyesalan saat kenikmatan dunia sudah lepas dari kita dan ruh kita terlah berpisah dari raga dan keluarga. Saat kita dimakamkan, seorang diri dalam liang kubur. Kemudian Allah akan membangkitkan dan mengumpulkan kita.

Apa yang akan kita katakana kepada Allah? Alasan apa yang akan kita ajukan untuk membela diri karena meninggalkan shalat? Maka sibukkanlah diri dengan amal. Ingatlah lima perkara, sebelum datang lima perkara lainnya. Manfaatkanlah kehidupan, sebelum datang kematian.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)), وَقَالَ عَلَيْهِ الصَلَاةُ وَالسَلَامُ : ((رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ)) ، وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنَ البُخْلِ عَدَمُ الصَّلَاةِ وَالسَلَامِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ ذِكْرِهِ صلى الله عليه وسلم.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ وَفِّقْنَا وَالمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ لِلصَّلَاةِ عَلَى خَيْرٍ حَالٍ .اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَسَابِقِيْنَ فِي الصَّلَاةِ .

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوْبَنَا حَاضِرَةٌ خَاشِعَةٌ عِنْدَ الصَّلَاةِ. اَللَّهُمَّ وَفِّقِ الْمُسْلِمِيْنَ بِأَنْ يُصَلُّوْا لِرَبِّهِمْ، اَللَّهُمَّ مَنْ كَانَ تَارِكًا لِلصَّلَاةِ أَوْ مُقَصِّرًا فِيْهَا فَوَفِّقْهُ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَيْكَ وَ يَتُوْبُ .

وَقُوْمُوْا إِلَى صَلَاتِكُمْ يَرْحَمُكُمُ اللهُ.

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Aziz ar-Rais

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/memperhatikan-dan-menasihati-pemuda-untuk-shalat/feed/ 0
Tafsir Surat Al-Fil: Ketika Gajah pun Enggan Memaksiati Allah http://khotbahjumat.com/tafsir-surat-al-fil-ketika-gajah-pun-enggan-memaksiati-allah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tafsir-surat-al-fil-ketika-gajah-pun-enggan-memaksiati-allah http://khotbahjumat.com/tafsir-surat-al-fil-ketika-gajah-pun-enggan-memaksiati-allah/#comments Thu, 20 Nov 2014 17:19:46 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2975 Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ؛ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ ، وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ ، مَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الأُمَّةَ عَلَيْهِ ، وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ؛ فَإِنَّ فِي تَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا خَلْفًا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَيْسَ مِنْ تَقْوَى اللهِ خَلْفٌ. وَتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا : عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ رَجَاءً ثَوَابِ اللهِ ، وَتَرْكٌ لِمَعْصِيَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ خِيْفَةً عَذَابِ اللهِ .

قَالَ تَعَالَى:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ. أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ. وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ. تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ. فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ.

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al-Fil: 1-5).

Ibadallah,

Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan suatu surat di dalam Alquran yang mengisahkan tentang suatu kejadian di masa lalu. Masa menjelang kelahiran Nabi kita yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Surat ini Allah namakan dengan surat al-Fil yang artinya gajah.

Surat al-Fil adalah surat makiyah, yakni surat yang diturunkan sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Surat al-Fil mengisahkan tentang seorang Gubernur Yaman yang bernama Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah. Saat itu Yaman merupakan bagian dari Kerajaan Habasyah yang beragama Nasrani.

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?” yakni memperhatikan atau melihat dengan mata hatimu wahai Muhammad.

Penyebab Datangnya Pasukan Gajah ke Mekah

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa peristiwa ini bermula dari keinginan Abrahah untuk memalingkan perhatian bangsa Arab dari Mekah dengan Ka’bahnya menuju Yaman. Untuk mewujudkan hal tersebut, Abrahah membangun sebuah gereja yang tinggi, besar, dan mewah agar bangsa Arab beralih perhatiannya dari Ka’bah menuju gereja tersebut. Karena ketinggian bangunan gereja tersebut, orang-orang Arab menyebut gereja tersebut dengan Gereja al-Qullais.

Cita-cita Abrahah ini pun sampai ke telinga penduduk Mekah dan orang-orang Quraisy. Mereka marah dan kesal kepada Abrahah. Lalu mereka bertekad untuk menghinakan bangunan gereja yang dibuat Abrahah. Salah seorang dari mereka pun membuang kotoran di gereja tersebut untuk menghinakannya.

Mengetahui hal ini, Abrahah marah besar. Niat mula yang hanya sekedar menyaingi Ka’bah berganti murka hendak menghancurkan Ka’bah. Ia pun menyiapkan pasukan yang mengendarai gajah untuk merobohkan Ka’bah. Berangkatlah Abrahah bersama pasukannya menuju Mekah.

Perlawanan Bangsa Arab Terhadap Abrahah

Dalam Sirah Ibnu Hisyam dikisahkan bahwa perjalanan Abrahah menuju Mekah tidaklah mulus begitu saja. Ia mendapatkan perlawanan dari kabilah-kabilah Arab yang hendak menghalanginya merobohkan Ka’bah. Namun Abrahah dan pasukannya berhasil mengalahkan mereka dan menjadikan ketua kabilah mereka sebagai tawanan.

Pemimpin Mekah, kakek Nabi Muhammad, Abdul Muthalib, memerintahkan penduduk Mekah untuk segera keluar dari Mekah karena Abrahah sudah membulatkan tekad untuk merobohkan Ka’bah. Jika orang-orang Mekah menghadangnya, mereka tidak akan mampu mengalahkan Abrahah. Dan Ka’bah pun tetap ia hancurkan. Abdul Muthallib hanya memasrahkan Ka’bah kepada Sang Pemiliki Ka’bah, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Gajah Yang Tunduk Kepada Allah dan Kebinasaan Abrahah Beserta Pasukannya

Saat hampir tiba di Mekah, tiba-tiba gajah yang dibawa Abrahah menolak untuk dikendalikan memasuki kota suci tersebut. Ia terduduk enggan untuk melangkahkan kakinya tunduk kepada Rabb semesta alam, Allah Tabaraka wa Ta’ala. Gajah-gajah itu menolak untuk menghancurkan syiar-syiar keimanan. Berbagai usaha dilakukan untuk membuat gajah-gajah tersebut berdiri dan berjalan memasuki Mekah, namun mereka tetap bergeming enggan menuruti perintah kemaksiatan tersebut. Namun ketika diarahkan ke Yaman atau Syam, gajah tersebut berdiri dan bersegera melangkahkan kaki-kaki mereka.

Oleh karena itu, Allah berfirman,

أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ

“Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia?”

Perjalanan mereka dengan jarak yang jauh, persiapan mereka yang banyak, kesulitan dan rintangan yang mereka hadapi dalam perjalanan, semua sia-sia. Tidak sedikit pun mereka memperoleh kebaikan darinya.

وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ. تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ. فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Allah datangkan thairan ababil artinya burung yang banyak. Yang membawa batu-batu dari sijjil, dari tanah yang terbakar. Kemudian mereka pun binasa bagaikan daun-daun yang hancur dimakan ulat.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ سُبْحَانَهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.

Ibadallah,

Betapa besar pelajaran yang terdapat pada surat ini. Betapa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa, Dia bisa melakukan apa saja yang Dia inginkan dengan begitu mudahnya. Dia menghancurkan kaum yang kuat, yang telah mengalahkan kelompok lainnya dengan makhluk yang ringan saja.

Di antara pelajaran yang bisa kita ambil dari surat al-Fil adalah:

  1. Surat ini menegaskan tentang keagungan Kota Mekah.
  2. Allah menghinakan orang-orang yang sombong dan merasa kuat hanya dengan mendatangkan pasukan burung-burung, tidak perlu sepasukan malaikat yang hebat.
  3. Kisah pasukan gajah ini hanya terdapat sekali saja di dalam Alquran, tidak berulang semisal kisah Firaun, Kaum Nabi Nuh, ‘Aad, dan Tsamud. Karena dalam kisah ini tidak terdapat pengingkaran terhadap Rasul yang merupakan dosa besar dan lebih ditekankan kepada umat manusia untuk dijauhi.
  4. Mencegah kemungkaran jangan sampai berdampak munculnya kemungkaran yang lebih besar. Orang-orang Quraisy mengingkari kemungkaran Abrahah yang hendak memalingkan manusia dari Ka’bah, namun apa yang mereka lakukan malah menimbulkan kemungkaran yang lebih besar yakni tekad merobohkan Ka’bah.
  5. Surat ini merupakan irhashat yakni kejadia-kejadian istimewa yang terjadi menjelang kelahiran Nabi Muhammad, atau saat kelahirannya hingga menjelang diutusnya beliau.
  6. Meskipun menyekutukan Allah di kala lapang, tapi ketika ditimpa kesulitan orang-orang Quraisy memurnikan ibadah mereka kepada Allah. Sebagaimana kakek Nabi yang berdoa kepada Allah saja tidak kepada berhala-berhala, memohon agar Allah menjaga Ka’bah. Adapun orang-orang zaman sekarang, ketika ditimpa kesulitan, maka mereka malah semakin menyekutukan Allah dengan meminta tolong kepada dukun, jin, dll.
  7. Gajah saja menolak untuk merusak dan menghinakan simbol-simbol keimanan. Dan seorang yang beriman lebih dari itu sikap mereka. Apabila diperintahkan atau dipinta untuk merusak agama Allah sekecil apapun, wajib bagi orang-orang yang beriman untuk menolaknya. Jangan kita rusak kehormatan agama Islam dengan pena-pena kita, dengan lisan-lisan kita, dengan kekuasaan dan tindakan kita. Sesungguhnya agama ini pasti akan menang.
  8. Jangan sampai seseorang menjadi orang yang memalingkan peribadatan kepada Allah menuju peribadatan kepada selain Allah. Dan jangan pula menjadi penghalang dalam ketaatan.
  9. Allah mengisahkan kisah gajah ini, sebagai pelajaran bagi kita jangan sampai gajah lebih tahu tentang kemuliaan Allah daripada kita manusia.
  10. Gajah tidak mau diperintah memaksiati Allah. Semestinya manusia lebih tidak mau lagi diperintah memaksiati Allah.
  11. Dengan demikian barangsiapa yang merusak kehormatan agama Allah, maka hakikatnya mereka lebih rendah daripada hewan-hewan.

Mudah-mudahan apa yang kita kaji pada kesempatan kali ini semakin menanamkan ketakwaan dan keyakinan kepada Allah. Semakin membuat kita sadar akan ke-Maha Kuasa-an-Nya. Dan semoga apa yang khotib sampaikan menambah pemahaman kita akan kitab Rabb kita, kitab suci kita Alquran.

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)), وَقَالَ عَلَيْهِ الصَلَاةُ وَالسَلَامُ : ((رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ)) ، وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنَ البُخْلِ عَدَمُ الصَّلَاةِ وَالسَلَامِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ ذِكْرِهِ صلى الله عليه وسلم.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلَنَهُ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/tafsir-surat-al-fil-ketika-gajah-pun-enggan-memaksiati-allah/feed/ 0
Tawakal Kepada Allah http://khotbahjumat.com/tawakal-kepada-allah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tawakal-kepada-allah http://khotbahjumat.com/tawakal-kepada-allah/#comments Thu, 20 Nov 2014 16:52:00 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2972 Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ، مَا تَرَكَ خَيْراً إِلَّا دَلَّ الأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلَا شَرّاً إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.

Ibadallah,

Di antara bentuk ketaatan yang agung dan salah satu dari kewajiban dalam ajaran Islam adalah seseorang bertawakal kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam memperoleh kemanfaatan dan menolak bahaya. Juga dalam memperoleh maslahat duniawi dan ukhrawi. Semua hal ini harus diiringi dengan keyakinan yang sempurna bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah satu-satunya yang menjadi pemberi nikmat dan melindungi. Tidak ada yang melindungi kecuali Allah. Dan tidak boleh seorang hamba menjadi sesuatu selain Allah sebagai pelindung, dalam hal-hal yang hanya Allah saja yang mampu.

Allah Ta’ala berfirman,

رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلاً

“(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzammil: 9).

Dia juga berfirman,

أَلاَّ تَتَّخِذُواْ مِن دُونِي وَكِيلاً

“Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.” (QS. Al-Isra: 2).

Allah Jalla wa ‘Ala memerintahkan kepada para hamba-Nya agar tidak menjadikan penolong dan pelindung selain Dia. Al-Wakil, Maha Pelindung, adalah di antara nama Allah Jalla wa ‘Ala. Maknanya adalah yang melindungi, tempat bersandar, mengurusi segala sesuatu. Karennya Dialah yang terpercaya, tempat berharap, dan yang takuti.

Allah Jalla wa ‘Ala menyebut tawakal dalam kitab-Nya di banyak ayat. Dia memberitahukan kepada kita bahwa tawakal adalah syariat dan jalan hidup seluruh Nabi. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi-Nya Nuh ‘alaihissalam,

يَا قَوْمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُم مَّقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللّهِ فَعَلَى اللّهِ تَوَكَّلْتُ

“Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal.” (QS. Yunus: 71).

Alla juga berfirman tentang Nabi Musa shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ

Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri”. (QS. Yunus: 84).

Tentang Nabi-Nya Syu’aib ‘alaihissalam,

إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88).

Tentang Nabi Hud ‘alaihissalam,

إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلاَّ هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud: 56).

Tentang Nabi-Nya Ya’qub ‘alaihissalam,

يَا بَنِيَّ لاَ تَدْخُلُواْ مِن بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُواْ مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللّهِ مِن شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”. (QS. Yusuf: 67).

Tentang Nabi-Nya, al-Khalil, Ibrahim ‘alaihissalam,

إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن شَيْءٍ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”. (QS. Al-Mumtahanah: 4).

Tentang Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128) فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ´Arsy yang agung”. (QS. At-Taubah: 128-129).

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهَا أُمَمٌ لِّتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِيَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَـنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ

Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat”. (QS. Ar-Ra’d: 30).

Ibadallah,

Allah menyebutkan tawakal sebagai sifat dari hambanya yang beriman dan juga para walinya. Sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 2-4).

Ibadallah,

Tawakal itu tempatnya di hati. Amalan ini terdiri dari dua prinsip yang agung yang harus tertanam di hari seorang hamba, agar ia menjadi seseorang yang bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal. Kedua hal itu adalah:

Pertama: pengetahuan seseorang hamba atau seorang hamba mengilmui bahwa tidak ada pelindung dan tempat bertawakal kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada selain-Nya. Dia adalah Rabba yang Maha Agung, yang mengatur segala sesuatu. Jika ia menghendaki sesuatu terjadi, maka pasti terjadi. Namun jika tidak Dia kehendaki, pasti tidak terjadi. Seorang hamba meyakini bahwa Allah mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya, Maha Mendengar apa yang mereka ucapkan, Maha Melihat apa yang mereka lakukan, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (217) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (218) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (219) إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 217-220).

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ وَكَفَى بِاللّهِ وَكِيلاً

“dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.” (QS. An-Nisa: 81).

Dan firman-Nya,

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيراً

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 58).

Kedua: Amalan hati, berupa penyandaran diri kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Jangan sampai hati kita hanya bersandar pada usaha dan bergantung sepenuhnya pada usaha tersebut. Hati tetap harus bersandar kepada Allah Jalla wa ‘Ala sambal melakukan usaha untuk mewujudkan kebaikan urusan agama dan dunia.

Tawakal adalah ibadah yang senantiasa hadir di setiap keadaan seorang muslim. Seorang muslim senantiasa bertawakal kepada Allah dalam memperoleh kebaikan dunia, seperti rezeki, kelancaran mata pencarian, dan kemaslahatan-kemaslahatan dunia lainnya.

Tawakal kepada Allah juga akan memberikan dampak yang baik dalam permasalahan agama seseorang. Karena seseorang hamba butuh kepada Allah dalam setiap urusan agamanya. Kebutuhan tersebut tidak terlewatkan walaupun sekejap mata. Ia butuh kepada Allah untuk menegakkan ibadah dan ketaatan, dll.

Ibadallah,

Tawakal kepada Allah Jalla wa ‘Ala jangan diartikan menafikan usaha. Usaha adalah di antara wujud benar dan sempurnanya tawakal seseorang. Oleh karena itu, orang yang paling bertawakal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, memerintahkan agar seseorang berusaha. Melakukan sesuatu agar apa yang ia inginkan bisa terwujud. Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزن

“Bersungguh-sungguhlah terhadap segala yang bermanfaat bagimu. Kemudian minta tolonglah kepada Allah. Janganlah kalian lemah.”

Beliau juga bersabda kepada seorang laki-laki yang bertanya tentang ontanya.

أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ ؟ قَال: اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

“Apakah aku ikat dia, kemudian bertawakal kepada Allah? Atau aku biarkan dia?” Beliau bersabda, “Ikatlah, dan bertawakallah kepada Allah.”

Beliau mengajarkan orang tersebut untuk berusaha melakukan sesuatu agar ontanya tidak hilang. Dalam hadits riwayat Tirmidzi, dari Umar bin al-Khattab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, pasti Allah akan memberikan rezeki kepada kalian. Sebagaimana seekor burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan kosong perutnya, lalu pulang di sore hari dalam keadaan penuh.”

Usaha burung tersebut adalah berangkatnya ia di waktu pagi, di awal waktu, untuk mencari dan menjemput rezekinya.

Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu pernah mendengar seseorang yang keluar dari rumahnya tanpa usaha dan perbekalan. Lalu mereka mengatakan, “Kami adalah orang-orang yang bertawakal”. Umar menjawab, “Kalian adalah orang-orang yang pura-pura bertawakal. Orang yang bertawakal kepada Allah adalah mereka yang menyemai benih di tanah, kemudian bertawakal kepada Allah”.

Dari sini dapat kita ketahui –ibadallah-, bahwa tawakal kepada Allah harus disertai dengan usaha yang bermanfaat bagi seseorang, usaha yang menghasilkan. Baik menghasilkan dalam urusan agama maupun urusan dunia. Namun seseorang juga tidak boleh bergantung kepada usaha tersebut dan yakin sepenuhnya padanya. Wajib baginya tetap yakin kepada Allah semata, tawakal kepada-Nya saja, dan menyerahkan hasil hanya kepada-Nya.

اَللَّهُمَّ مُنَّ عَلَيْنَا أَجْمَعِيْنَ بِأَنْ نَكُوْنَ مِنَ المُتَوَكِّلِيْنَ عَلَيْكَ حَقّاً وَصِدْقاً وَأَعِنَّا يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ وَوَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ وَأَنْتَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَأَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرِ لَهُ عَلَى مَنِّهِ وَجُوْدِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ تَعْظِيْماً لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى .

Ibadallah,

Tawakal kepada Allah adalah ibadah yang agung dan kewajiban yang mulia. Tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah Jalla wa ‘Ala, Yang Maha Hidup dan tidak mati. Renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut ini,

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati.” (QS. Al-Furqan: 58).

Tawakal itu ditujukan kepada Dia yang kekal, bukan kepada yang mati. Adapun selain-Nya, bisa jadi sekarang dia masih hidup, namun pasti dia akan mati. Atau sesuatu yang pernah hidup, tapi sekarang sudah mati. Atau memang dia adalah benda mati yang tidak hidup. Semua itu tidak pantas diserahkan tawakal kepadanya. Bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kekal dan tidak akan mati. Diriwayatkan dalam Shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

“Ya Allah, aku berserah diri pada-Mu, aku beriman pada-Mu, aku bertawakal pada-Mu, aku bertaubat pada-Mu, dan aku mengadukan urusanku pada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tidak ada ilah selain Engkau yang bisa menyesatkanku. Engkau Maha Hidup (kekal) dan tidak mati sedangkan jin dan manusia mati.”

عِبَادَ اللهِ: وَ صَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَعَاكُمُ اللهُ- عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ. اَللَّهُمَّ احْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ وَأَعِنْهُ عَلَى طَاعَتِكَ وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا وَلَا تُعِنْ عَلَيْنَا، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَاهْدِنَا وَيَسِّرِ الهُدَى لَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ ذَاكِرِيْنَ لَكَ شَاكِرِيْنَ إِلَيْكَ أَوَّاهِيْنَ مُنِيْبِيْنَ لَكَ مُخْبِتِيْنَ لَكَ مُطِيْعِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا وَأَجِبْ دَعْوَتَنَا وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا وَاهْدِ قُلُوْبَنَا وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ صُدُوْرِنَا. اَللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ذُنُوْبَ المُذْنِبِيْنَ مِنَ المُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَتُبْ عَلَى التَّائِبِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى المُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى المُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ فَرِجّْ هُمُ المَهْمُوْمِيْنَ مِنَ المُسْلِمِيْنَ وَفَرِّجْ كَرْبَ المَكْرُوْبِيْنَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ المَدِيْنِيْنَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ أَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ. { رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ }.{ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ }.

عِبَادَ اللهِ: اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/tawakal-kepada-allah/feed/ 0
Membunuh Jiwa Yang Allah Haramkan http://khotbahjumat.com/membunuh-jiwa-yang-allah-haramkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=membunuh-jiwa-yang-allah-haramkan http://khotbahjumat.com/membunuh-jiwa-yang-allah-haramkan/#comments Sat, 15 Nov 2014 03:04:27 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2966 Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ تَقَدَّسَتْ أَسْمَاؤُهُ وَصِفَاتُهُ، تَعَالَى مَجْدُهُ وَعَظَمَتُهُ وَتَمَّتْ كَلِمَاتُهُ، أَحْمَدُ رَبِّيْ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ أَضَاءَتْ بَرَاهِيْنُ وَحْدَانِيَتُهُ وَعَظُمَتْ أَيَاتُهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ تَوَاتَرَتْ مُعْجِزَتُهُ وَكَرُمَتْ أَخْلَاقُهُ وَصِفَاتُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّابَعْدُ..
فَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَتَمَسَّكُوْا مِنَ الإِسْلَامِ بِالعُرْوَةِ الوُثْقَى: فَمَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ الشُّرُوْرَ وَالْمُهْلِكَاتِ، وَمَنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ وَعَصَى رَبَّهُ وَكَفَرَ بِهِ أَدْرَكَهُ الشَقَاءُ وَأَرْدَاهُ فِي الدَّرَكَاتِ.

Hamba-hamba Allah,

Ketahuilah bahwasanya Allah telah menyari’atkan ketaatan-ketaatan dan Allah menjadikannya bertingkat-tingkat derajat kemuliaannya. Dan Allah mengharamkan perkara-perkara yang haram dan yang membinasakan, serta Allah menjelaskan mafsadah, bahaya, dan kemudorotannya, dan Allah menjadikan keharoman bertingkat-tingkat. Maka keharoman yang paling besar dan paling buruk adalah syirik kepada Allah dalam ibadah dan doa, dalam beristighotsah dan bertawakkal, dalam meminta kebaikan dan menolak keburukan. Inilah dosa yang tidak diampuni oleh Allah kecuali dengan taubat. Setelah kesyirikan adalah perbuatan kriminal membunuh nyawa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali kalau ada sebab yang benar. Dosa membunuh adalah kehinaan, kemudhorotan, dan kekekalan di neraka. Allah berfirman,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS An-Nisaa : 93).

Dari Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridoinya- ia berkata : “Aku berkata, Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar?”, Beliau berkata, “Engkau mengambil sekutu bagi Allah padahal Allah yang telah menciptakanmu”. Aku berkata, “Kemudian dosa apa?”, beliau berkata, “Engkau membunuh anakmu karena kawatir ikut makan bersamamu”, aku berkata, “Kemudian dosa apa?”, beliau berkata, “Engkau menzinai istri tetanggamu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Maka Nabi menyebutkan dosa yang paling buruk dari seluruh dosa, hal ini sesuai dengan firman Allah

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨)يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (٦٩)إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٧٠)

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam Keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Furqon : 68-70).

Dari Anas –semoga Allah meridhoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dosa yang paling besar adalah syirik kepada Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa yang diharamkan untuk dibunuh, dan perkataan dusta”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Membunuh jiwa adalah kejahatan dan kezoliman kepada yang terbunuh dan kerusakan besar di atas muka bumi, tersebarnya ketakutan, kerusakan terhadap bangunan, kerugian dalam kehidupan, adzab yang pedih bagi sang pembunuh, pembuangan hak-hak banyak orang yang tadinya terjaga milik kerabat-kerabat yang terbunuh dan yang lainya, pengerusakan terhadap sebab-sebab keamanan dan ketenteraman, ddan penyesalan yang semakin parah dalam jiwa si pembunuh di dunia maupun di akhirat. Pikirannya tidak akan tenang, kehidupannya tidak akan tenteram selamanya, maka sungguh buruk kejahatan ini dan sungguh buruk sang pelaku kejahatan tersebut.

Pembunuhan merusak tetumbuhan dan hewan-hewan ternak, menyebabkan hilangnya keberkahan dari bumi, dan turunnya adzab. Pembunuhan adalah hilangnya agama, dunia, dan akhirat. Dari Ibnu Umar –semoga Allah meridhoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِيْنِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا

“Senantiasa seorang muslim dalam kelapangan dalam agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang haram”. (HR. Al-Bukhari).

Dan dari Abdullah bin ‘Amr bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim”. (HR. At-Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

لَوْ أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ وَأَهْلَ الأَرْضِ اشْتَرَكُوا فِي دَمِ مُؤْمِنٍ لَأَكَبَّهُمُ اللهُ فِي النَّارِ

“Kalau seandainya seluruh penduduk langit dan bumi bersatu padu membunuh seorang muslim, maka Allah akan menjerumuskan mereka semuanya ke neraka”. (HR. At-Tirmidzi).

Dan karena agungnya masalah darah maka yang pertama Allah siding pada hari kiamat adalah masalah darah. Dari Abdullah –semoga Allah meridoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ

“Pertama yang Allah putuskan diantara manusia pada hari kiamat adalah permasalahan pertumpahan darah”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan karena beratnya kejahatan membunuh maka Islam melarang bercanda dengan menggunakan senjata atau mengisyaratkan dengan senjata kepada nyawa yang maksum. Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لاَ يُشِيْرُ أَحَدُكُمْ عَلَى أَخِيْهِ بِالسِّلاَحِ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ

“Janganlah salah seorang dari kalian mengisyaratkan (mengarahkan) dengan senjatanya (pedangnya), karena ia tidak tahu siapa tahu syaitan menarik tangannya maka iapun terjerumus dalam jurang neraka”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dari Abu Hurairah juga ia berkata ; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيْهِ بِحَدِيْدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيْهِ وَأُمِّهِ

“Barangsiapa yang mengarahkan besi tajam kepada saudaranya maka para malaikat akan melaknatnya hingga ia meninggalkan hal tersebut, meskipun saudaranya tersebut adalah saudara seayah dan seibu”. (HR. Muslim dan At-Tirmidzi).

Bahkan seseorang membunuh dirinya sendiri Allah dan RasulNya mengharamkan dengan pengharaman yang keras. Pembunuh diri di neraka meskipun ia seorang muslim, sama saja apakah ia membunuh dirinya sendiri dengan besi tajam atau racun atau dengan gantung diri atau mobil yang terbuka, atau peledakan dan bom bunuh diri. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (٢٩)وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (٣٠)

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan Barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, Maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisaa: 29-30).

Dan dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ في نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيها أَبَدًا، وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ في يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ في نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فيها أَبَدًا، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَديدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ في يَدِهِ يَجَأُ بِها في بَطْنِهِ في نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيها أَبَدًا

“Barangsiapa yang melemparkan dirinya dari gunung lalu ia membunuh dirinya maka ia melemparkan dirinya di neraka jahannam selamanya di neraka. Dan barangsiapa yang mengonsumsi racun lalu ia membunuh dirinya maka racunnya akan berada di tangannya ia konsumsi terus di neraka jahanama selama-lamanya di neraka. Dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi tajam maka besi tersebut di tangannya lalu ia menikamkannya ke perutnya di neraka jahannam selama-lamanya di neraka” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ini adalah adzab yang pedih bagi orang yang membunuh dirinya sendiri, lantas bagaimana jika ia membunuh orang lain. Karena jiwa seseorang bukanlah milik dirinya akan tetapi ia adalah milik Allah, maka seseorang hanya boleh menyikapi jiwanya sesuai dengan syariat yang diturunkan oleh Allah.

Kehidupan yang aman merupakan hak seseorang. Allah menganugerahkan kepadanya kehidupan untuk memakmurkan bumi dan kebaikan bumi. Bahkan kehidupan yang aman merupakan hak hewan-hewan maka tidak boleh dibunuh kecuali demi kemanfaatan anak Adam, dan diharamkan dibunuh sia-sia begitu saja. Dari Ibnu Umar –semoga Allah meridhoinya- bahwasanya beliau melewati para pemuda yang melempari seekor ayam, maka beliaupun melarang mereka dan membuyarkan mereka dan beliau berkata : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menjadikan hewan sebagai target (lemparan)”

Dari ‘Amr bin Asy-Syariid -semoga Allah meridhoinya- ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ;

مَنْ قَتَلَ عُصْفُوراً عَبَثاً، عجَّ إلَى اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ: يَا ربِّ إن فُلاَناً قَتَلَنِي عَبَثاً، وَلَمْ يَقْتُلْنِي مَنْفَعَة

“Barangsiapa yang membunuh seekor burung hanya sia-sia (permainan) maka pada hari kiamat burung tersebut berteriak kepada Allah, (seraya berkata) : Wahai Robku sesungguhnya si fulan telah membunuhku sia-sia dan ia tidak membunuhkan karena manfaat”. (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Karena burung juga punya hak untuk hidup. Dan Allah adalah hakim yang adil tidak akan menzolimi sedikitpun, dan Allah tidak menyukai kezoliman dan pelanggaran.

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridoinya- bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَقْتَصُّ الْخَلْقُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ، حَتَّى الْجَمَّاءُ مِنَ الْقَرْنَاءِ، وَحَتَّى الذَّرَّةُ مِنَ الذَّرَّةِ

“Seluruh makhluk diqisos sebagian dari yang lainnya, sampai kambing yang bertanduk diqisos karena kambing yang tidak bertanduk, dan bahkan semut diqisos karena semut yang lain”. (HR. Ahmad).

Maka aturan manakah yang paling tinggi, paling rahmat, paling adil, paling bijak daripada aturan Islam?.

Dan darah-darah yang terjaga dan diharamkan oleh Allah dan RasulNya – yang telah datang ancaman dan adzab bagi orang yang menumpahkannya- adalah :

Darah seorang muslim, dan darah selain muslim yang dzimmi (yang hidup di negeri Islam dan membayar upeti), atau mu’ahad (kafir dari negara kafir yang punya perjanjian damai dengan Negara muslim), dan musta’min (kafir yang berperang akan tetapi meminta keamanan dan diberi jaminan keamanan karena satu dan lain hal).

Dan dalam kondisi masa sekarang, seperti seseorang non muslim yang menetap (di Negara Islam) atau yang membawa iqomah (kartu surat izin menetap) dari penguasa atau wakilnya, atau ia datang ke Negara Muslim dengan membawa paspor atau dengan tujuan untuk mencari rezeki.

Dan bermu’amalah dengan non muslim dan hukum-hukum yang berlaku terbebankan kepada Imam (penguasa) dan wakilnya, dan bukanlah individu/pribadi bertanggung jawab atas hal ini. Dari Abdullah bin ‘Amr ia berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang membunuh seseorang dari ahli dzimmah (kafir dzimmi) maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal harumnya surga tercium dari jarak 40 tahun” (HR Ahmad dan An-Nasaai)

Dan setiap muslim yang menetap di negeri non muslim dengan menggunakan paspor atau ia datang ke sana untuk mencari rezeki maka tidak boleh secara syariat untuk menumpahkan darah seorangpun di sana, dan tidak boleh ia mencuri sesuatupun dari harta mereka atau merampasnya atau merusak harta milik mereka atau melanggar harga diri dan kehormatan mereka. Karena hal ini merupakan penipuan dan pengkhianatan serta kemaksiatan yang besar. Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ (٥٨)

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al-Anfaal: 58).

Adapun jihad, maka ada aturan hukumnya, serta dalil-dalilnya yang muhkamah (jelas), yang rahmat, adil, penuh berkah, tidak akan berubah dan tidak akan diganti, serta izin kepada kepala Negara untuk berjihad, karena kepala negaralah yang mengemban pertanggung jawaban atas kemaslahatan umat, yaitu yang mampu mengetahui tentang situasi dan kondisi.

Dan pembunuhan bisa jadi diantara dua orang yang saling bersengketa dan bermusuhan, atau dari dua golongan dari kaum muslimin, dan bisa jadi terjadi pembunuhan pada fitnah-fitnah yang tidak jelas perkaranya bagi masyarakat. Dan seringnya terjadi pembunuhan tatkala hilangnya kendali keamanan, dan stabilitas yang goyang, dan tersebarnya kemungkaran, hawa nafsu yang mendominasi, tidak dijalankannya syariat, dan terfitnah dengan dunia.

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ (٦٥)

Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. (QS. Al-An’aam: 65).

Maka bagaimanapun sebab dan kondisi yang ada maka tetap saja darah yang terjaga haram untuk ditumpahkan. Allah berfirman:

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya, dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS Al-Maidah: 32).

Barangsiapa –dari kaum muslimin- yang salah dan berbuat keburukan maka Islam tidak akan menanggung kesalahannya dan tidak boleh dinisbahkan kejahatannya kepada Islam. Islam berlepas diri dari keburukan dan kejahatan. Para ulama lah yang tahu meletakan dalil-dalil pada tempatnya, dan merekalah yang mengetahui tafsirannya.

Apa yang sedang menimpa sebagian negeri kaum muslimin berupa fitnah dan perselisihan sehingga tertumpahkanlah darah-darah yang diharamkan, serta dirampasnya harta-harta, serta dihancurkannya harta benda, rubuhlah rumah-rumah, terlanggarkanlah harga diri, tersebarnya ketakutan dan kelaparan, dan mengungsi penduduknya…maka wajib bagi orang-orang yang cerdas dan pemerbaiki kondisi yang mampu, wajib bagi mereka untuk memperbaiki kondisi-kondisi di sana, untuk menyatukan tercerai berainya orang-orang yang berselisih, hendaknya mereka menjaga kemaslahatan negeri mereka, menjaga agar tidak tertumpahkan darah, menjaga harta benda masyarakat, mengasihi orang-orang yang lemah, dan meminta pertolongan kepada Allah dan kepada siapa saja yang memiliki kemampuan dari orang luar negeri mereka untuk memadamkan api fitnah. Jika peristiwa-peristiwa tidak bisa terkontrol oleh orang-orang yang mampu memperbaiki, maka setiap muslim penanggung jawab dirinya sendiri dengan menahan tangan dan lisannya dari mengganggu kaum muslimin.

Dan hendaknya kaum muslimin dan kaum muslimat untuk bertaubat kepada Allah, dan untuk senantiasa berdoa agar Allah menghilangkan hukuman dan adzab yang diturunkan, dan untuk menghilangkan sebab-sebab hukuman tersebut, sungguh Rob kita maha rahmat, Rob kita suka kondisi orang yang merendahkan dirinya tatkala berdoa, dan mencintai orang-orang yang taubat.

Peristiwa-peristiwa yang kita lihat sekarang adalah termasuk tanda-tanda hari kiamat. Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridoinya- ia berkata : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ

“Tidak akan tegak hari kiamat hingga diangkat ilmu, banyak terjadi gempa, zaman semakin mendekat, muncul fitnah-fitnah, dan banyak terjadi pembunuhan dan pembunuhan”. (HR. Al-Bukhari).

Dan dari hadits Abu Bakroh –semoga Allah meridhoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُوْلُ فِي النَّارِ

“Jika dua orang muslim bertemu dengan saling menghunuskan pedang, maka yang membunuh dan yang terbunuh di neraka”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Barangsiapa yang keluar dari ketaaatan Imam (kepala Negara) di negeri kami dan berpisah dari jama’ah maka wajib bagi pemerintah untuk menahan tangannya dan mencegah keburukannya dari masyarakat sehingga bisa terwujud keamanan dari keburukannya dan kemudhorotan yang ditimbulkannya, bisa menjaga keamanan dan stabilitas dan terpadamkannya api fitnah.

Para anggota pasukan keamanan sesungguhnya sedang berkhidmah kepada agama dan negeri mereka, mereka melaksanakan kewajiban dan diberi pahala atasnya dan diucapkan terima kasih kepada mereka atas tugas yang mereka jalankan semoga Allah menjaga mereka.

Dan kami memperingatkan para pemuda agar tidak mengikuti para da’i yang menyeru kepada fitnah, karena sesungguhnya mereka tidak akan memberikan bahaya kepada kaum muslimin kecuali jika banyak pengikut mereka. Dan jika ada yang kalian rancu dan tidak jelas maka bertanyalah kepada para ulama, maka akan lurus urusan kalian.

Dan wajib bagi kaum muslimin untuk senantiasa berbuat perbaikan sesuai dengan konsekuensi pandangan syariat agar kalian terselamatkan dari tujuan-tujuan keburukan, sehingga tidak menjadi argumen bagi pelaku kebatilan yang mencari dunia. Allah berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٠٤)وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠٥)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali ‘Imron: 104-105).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِهَدْيِ سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ وَقَوْلِهِ القَوِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ مُعِزُّ مَنْ أَطَاعَهُ وَاتَّقَاهُ، وَمُذِلُّ مَنْ خَالَفَ أَمْرَهُ وَعَصَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَا إِلَهَ سِوَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اِصْطَفَاهُ رَبُّهُ وَاجْتَبَاهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ:
فَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Wahai sekalian hamba Allah,

Puncak kebahagiaan dan keberuntungan adalah seorang muslim merealisasikan tauhid, ia menyembah Allah semata dan tidak berbuat syirik sama sekali kepadaNya serta ia selamat dari menumpahkan darah kaum muslimin dan mengganggu harta mereka dan kehormatan mereka. Inilah yang telah tercatat di sisi Allah baginya surga. Dan merupakan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki adalah seseorang terfitnah pada agamanya, maka berkuranglah agamanya atau hilang seluruh agamanya. Bisa jadi seseorang terkena bencana dengan matinya hatinya namun ia tidak sadar, jika ia melihat kebaikan dunianya dan lupa dengan akhiratnya, dan fitnah adalah yang paling berbahaya bagi seseorang di dunia dan akhirat. Allah berfirman :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal: 25).

Yaitu hindarilah sebab-sebab fitnah yang bisa menjerumuskan kepada adzab Allah. Dari Abdullah bin ‘Amr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau menggenggam jari-jarinya dan berkata :

كَيْفَ أنْتَ يَا عَبْدَ الله، إذَا بَقِيْتَ فِي حُثَالَةٍ مِنَ النَّاسِ قَدْ مَرَجَتْ عُهُودُهُمْ وأمانَاتُهُمْ وَاخْتَلَفُوا فَصَاروا هَكَذَا وَشَبَّكَ بَيْنَ أصابِعِهِ قَالَ فَكَيْفَ أفْعَلُ يَا رَسولَ الله قَالَ تأخذُ مَا تَعْرِفُ وَتَدَعُ مَا تُنكِرُ وتُقْبِلُ على خاصِتَّكَ وتَدَعُهُمْ وَعَوَامَّهُمْ

“Bagaimana dengan dirimu wahai Abdullah jika engkau berada pada kumpulan orang-orang rendahan, telah tercampur janji-janji mereka dan amanah mereka dan mereka tidak menunaikannya, dan mereka berselisih sehingga seperti ini?”

Abdullah berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana yang aku lakukan?”, beliau berkata, “Engkau melakukan apa yang ma’ruf dan kau tinggalkan yang mungkar dan engkau sibukan diri dengan urusan pribadimu dan tinggalkan mereka dan urusan mereka”.

أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ، اِعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُوْرَ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ فِي الدِّيْنِ بِدْعَةُ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، فَعَلْيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَهِيَ: اَلْإِجْتِمَاعُ عَلَى دِيْنِكُمْ؛ أَنْ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ، أَنْ تَكُوْنُوْا أُمَّةً وَاحِدَةً، قَلْبٌ وَاحِدٌ وَهَدْفٌ وَاحِدٌ وَعَمَلٌ وَاحِدٌ مَبْنيٌّ عَلَى الإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَالاِتِّبَاعِ لِرَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ؛ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرِ فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾[الأحزاب: 56] .

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مَحَبَّتَهُ وَاتَّبَاعَهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، اَللَّهُمَّ تَوَفَّنَا عَلَى مِلَّتِهِ، اَللَّهُمَ احْشُرْنَا فِي زَمْرَتِهِ، اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا مِنْ حَوْضِهِ، اَللَّهُمَّ أَدْخِلْنَا فِي شَفَاعَتِهِ، اَللَّهُمَّ اجْمَعْنَا بِهِ فِي جَنَّاتِ النَّعِيْمِ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ، وَالصِّدِّيْقِيْنَ، وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ، اَللَّهُمَّ ارْضَ عَنْ خُلَفَائِهِ اَلرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ زَوْجَاتِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ .

اَللَّهُمَّ ارْضَ عنَّا مَعَهُمْ وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا كَمَا أَصْلَحْتَ أَحْوَالَهُمْ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وُلَاةَ أُمُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وُلَاةَ أُمُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وُلَاةَ أُمُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ رَعْيَتَهُمْ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ .

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، يَا مَنَّانُ، يَا بَدِيْعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، نَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ أَنْ تُنَزَّلَ بِالصَّرْبِ الظَّالِمِيْنَ بَأْسَكَ الَّذِيْ لَا يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ المُجْرِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأسَكَ الَّذِيْ لَا يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ المُجْرِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لَا يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ المُجْرِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطَأتكَ عَلَيْهِمْ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِهِمْ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِهِمْ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِهِمْ؛ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَهُمْ عِبْرَةً لِلنَّاسِ فِي الذِلِّ وَالخِزْيِ وَالعَارِ يَا أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، يَا مَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، نَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ أَنْ تَنْصُرَ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى أَعْدَائِهِمْ، اَللَّهُمَّ امْنِحْهُمْ رِقَابَ أَعْدَائِهِمْ وَأَوْرَثَهُمْ دِيَارَهُمْ وَنِسَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَذُرِّيَّاتَهُمْ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ .

اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، ﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاً لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾ [الحشر: 10] .

عباد الله،﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (90) وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ﴾[النحل: 90-91]، واذكروا الله العظيم الجليل يذكركم، واشكروه على نِعَمِهِ يزدكم﴿وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴾[العنكبوت: 45] .

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Ali al-Hudzaifi (Imam dan Khotbib Masjid Nabawi)
Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ تَقَدَّسَتْ أَسْمَاؤُهُ وَصِفَاتُهُ، تَعَالَى مَجْدُهُ وَعَظَمَتُهُ وَتَمَّتْ كَلِمَاتُهُ، أَحْمَدُ رَبِّيْ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ أَضَاءَتْ بَرَاهِيْنُ وَحْدَانِيَتُهُ وَعَظُمَتْ أَيَاتُهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ تَوَاتَرَتْ مُعْجِزَتُهُ وَكَرُمَتْ أَخْلَاقُهُ وَصِفَاتُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّابَعْدُ..

فَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَتَمَسَّكُوْا مِنَ الإِسْلَامِ بِالعُرْوَةِ الوُثْقَى: فَمَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ الشُّرُوْرَ وَالْمُهْلِكَاتِ، وَمَنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ وَعَصَى رَبَّهُ وَكَفَرَ بِهِ أَدْرَكَهُ الشَقَاءُ وَأَرْدَاهُ فِي الدَّرَكَاتِ.

Hamba-hamba Allah,

Ketahuilah bahwasanya Allah telah menyari’atkan ketaatan-ketaatan dan Allah menjadikannya bertingkat-tingkat derajat kemuliaannya. Dan Allah mengharamkan perkara-perkara yang haram dan yang membinasakan, serta Allah menjelaskan mafsadah, bahaya, dan kemudorotannya, dan Allah menjadikan keharoman bertingkat-tingkat. Maka keharoman yang paling besar dan paling buruk adalah syirik kepada Allah dalam ibadah dan doa, dalam beristighotsah dan bertawakkal, dalam meminta kebaikan dan menolak keburukan. Inilah dosa yang tidak diampuni oleh Allah kecuali dengan taubat. Setelah kesyirikan adalah perbuatan kriminal membunuh nyawa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali kalau ada sebab yang benar. Dosa membunuh adalah kehinaan, kemudhorotan, dan kekekalan di neraka. Allah berfirman,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS An-Nisaa : 93).

Dari Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridoinya- ia berkata : “Aku berkata, Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar?”, Beliau berkata, “Engkau mengambil sekutu bagi Allah padahal Allah yang telah menciptakanmu”. Aku berkata, “Kemudian dosa apa?”, beliau berkata, “Engkau membunuh anakmu karena kawatir ikut makan bersamamu”, aku berkata, “Kemudian dosa apa?”, beliau berkata, “Engkau menzinai istri tetanggamu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Maka Nabi menyebutkan dosa yang paling buruk dari seluruh dosa, hal ini sesuai dengan firman Allah

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨)يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (٦٩)إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٧٠)

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam Keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Furqon : 68-70).

Dari Anas –semoga Allah meridhoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dosa yang paling besar adalah syirik kepada Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa yang diharamkan untuk dibunuh, dan perkataan dusta”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Membunuh jiwa adalah kejahatan dan kezoliman kepada yang terbunuh dan kerusakan besar di atas muka bumi, tersebarnya ketakutan, kerusakan terhadap bangunan, kerugian dalam kehidupan, adzab yang pedih bagi sang pembunuh, pembuangan hak-hak banyak orang yang tadinya terjaga milik kerabat-kerabat yang terbunuh dan yang lainya, pengerusakan terhadap sebab-sebab keamanan dan ketenteraman, ddan penyesalan yang semakin parah dalam jiwa si pembunuh di dunia maupun di akhirat. Pikirannya tidak akan tenang, kehidupannya tidak akan tenteram selamanya, maka sungguh buruk kejahatan ini dan sungguh buruk sang pelaku kejahatan tersebut.

Pembunuhan merusak tetumbuhan dan hewan-hewan ternak, menyebabkan hilangnya keberkahan dari bumi, dan turunnya adzab. Pembunuhan adalah hilangnya agama, dunia, dan akhirat. Dari Ibnu Umar –semoga Allah meridhoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِيْنِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا

“Senantiasa seorang muslim dalam kelapangan dalam agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang haram”. (HR. Al-Bukhari).

Dan dari Abdullah bin ‘Amr bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim”. (HR. At-Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

لَوْ أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ وَأَهْلَ الأَرْضِ اشْتَرَكُوا فِي دَمِ مُؤْمِنٍ لَأَكَبَّهُمُ اللهُ فِي النَّارِ

“Kalau seandainya seluruh penduduk langit dan bumi bersatu padu membunuh seorang muslim, maka Allah akan menjerumuskan mereka semuanya ke neraka”. (HR. At-Tirmidzi).

Dan karena agungnya masalah darah maka yang pertama Allah siding pada hari kiamat adalah masalah darah. Dari Abdullah –semoga Allah meridoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ

“Pertama yang Allah putuskan diantara manusia pada hari kiamat adalah permasalahan pertumpahan darah”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan karena beratnya kejahatan membunuh maka Islam melarang bercanda dengan menggunakan senjata atau mengisyaratkan dengan senjata kepada nyawa yang maksum. Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لاَ يُشِيْرُ أَحَدُكُمْ عَلَى أَخِيْهِ بِالسِّلاَحِ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ

“Janganlah salah seorang dari kalian mengisyaratkan (mengarahkan) dengan senjatanya (pedangnya), karena ia tidak tahu siapa tahu syaitan menarik tangannya maka iapun terjerumus dalam jurang neraka”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dari Abu Hurairah juga ia berkata ; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيْهِ بِحَدِيْدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيْهِ وَأُمِّهِ

“Barangsiapa yang mengarahkan besi tajam kepada saudaranya maka para malaikat akan melaknatnya hingga ia meninggalkan hal tersebut, meskipun saudaranya tersebut adalah saudara seayah dan seibu”. (HR. Muslim dan At-Tirmidzi).

Bahkan seseorang membunuh dirinya sendiri Allah dan RasulNya mengharamkan dengan pengharaman yang keras. Pembunuh diri di neraka meskipun ia seorang muslim, sama saja apakah ia membunuh dirinya sendiri dengan besi tajam atau racun atau dengan gantung diri atau mobil yang terbuka, atau peledakan dan bom bunuh diri. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (٢٩)وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (٣٠)

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan Barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, Maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisaa: 29-30).

Dan dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ في نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيها أَبَدًا، وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ في يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ في نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فيها أَبَدًا، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَديدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ في يَدِهِ يَجَأُ بِها في بَطْنِهِ في نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيها أَبَدًا

“Barangsiapa yang melemparkan dirinya dari gunung lalu ia membunuh dirinya maka ia melemparkan dirinya di neraka jahannam selamanya di neraka. Dan barangsiapa yang mengonsumsi racun lalu ia membunuh dirinya maka racunnya akan berada di tangannya ia konsumsi terus di neraka jahanama selama-lamanya di neraka. Dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi tajam maka besi tersebut di tangannya lalu ia menikamkannya ke perutnya di neraka jahannam selama-lamanya di neraka” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ini adalah adzab yang pedih bagi orang yang membunuh dirinya sendiri, lantas bagaimana jika ia membunuh orang lain. Karena jiwa seseorang bukanlah milik dirinya akan tetapi ia adalah milik Allah, maka seseorang hanya boleh menyikapi jiwanya sesuai dengan syariat yang diturunkan oleh Allah.

Kehidupan yang aman merupakan hak seseorang. Allah menganugerahkan kepadanya kehidupan untuk memakmurkan bumi dan kebaikan bumi. Bahkan kehidupan yang aman merupakan hak hewan-hewan maka tidak boleh dibunuh kecuali demi kemanfaatan anak Adam, dan diharamkan dibunuh sia-sia begitu saja. Dari Ibnu Umar –semoga Allah meridhoinya- bahwasanya beliau melewati para pemuda yang melempari seekor ayam, maka beliaupun melarang mereka dan membuyarkan mereka dan beliau berkata : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menjadikan hewan sebagai target (lemparan)”

Dari ‘Amr bin Asy-Syariid -semoga Allah meridhoinya- ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ;

مَنْ قَتَلَ عُصْفُوراً عَبَثاً، عجَّ إلَى اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ: يَا ربِّ إن فُلاَناً قَتَلَنِي عَبَثاً، وَلَمْ يَقْتُلْنِي مَنْفَعَة

“Barangsiapa yang membunuh seekor burung hanya sia-sia (permainan) maka pada hari kiamat burung tersebut berteriak kepada Allah, (seraya berkata) : Wahai Robku sesungguhnya si fulan telah membunuhku sia-sia dan ia tidak membunuhkan karena manfaat”. (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Karena burung juga punya hak untuk hidup. Dan Allah adalah hakim yang adil tidak akan menzolimi sedikitpun, dan Allah tidak menyukai kezoliman dan pelanggaran.

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridoinya- bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَقْتَصُّ الْخَلْقُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ، حَتَّى الْجَمَّاءُ مِنَ الْقَرْنَاءِ، وَحَتَّى الذَّرَّةُ مِنَ الذَّرَّةِ

“Seluruh makhluk diqisos sebagian dari yang lainnya, sampai kambing yang bertanduk diqisos karena kambing yang tidak bertanduk, dan bahkan semut diqisos karena semut yang lain”. (HR. Ahmad).

Maka aturan manakah yang paling tinggi, paling rahmat, paling adil, paling bijak daripada aturan Islam?.

Dan darah-darah yang terjaga dan diharamkan oleh Allah dan RasulNya – yang telah datang ancaman dan adzab bagi orang yang menumpahkannya- adalah :

Darah seorang muslim, dan darah selain muslim yang dzimmi (yang hidup di negeri Islam dan membayar upeti), atau mu’ahad (kafir dari negara kafir yang punya perjanjian damai dengan Negara muslim), dan musta’min (kafir yang berperang akan tetapi meminta keamanan dan diberi jaminan keamanan karena satu dan lain hal).

Dan dalam kondisi masa sekarang, seperti seseorang non muslim yang menetap (di Negara Islam) atau yang membawa iqomah (kartu surat izin menetap) dari penguasa atau wakilnya, atau ia datang ke Negara Muslim dengan membawa paspor atau dengan tujuan untuk mencari rezeki.

Dan bermu’amalah dengan non muslim dan hukum-hukum yang berlaku terbebankan kepada Imam (penguasa) dan wakilnya, dan bukanlah individu/pribadi bertanggung jawab atas hal ini. Dari Abdullah bin ‘Amr ia berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang membunuh seseorang dari ahli dzimmah (kafir dzimmi) maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal harumnya surga tercium dari jarak 40 tahun” (HR Ahmad dan An-Nasaai)

Dan setiap muslim yang menetap di negeri non muslim dengan menggunakan paspor atau ia datang ke sana untuk mencari rezeki maka tidak boleh secara syariat untuk menumpahkan darah seorangpun di sana, dan tidak boleh ia mencuri sesuatupun dari harta mereka atau merampasnya atau merusak harta milik mereka atau melanggar harga diri dan kehormatan mereka. Karena hal ini merupakan penipuan dan pengkhianatan serta kemaksiatan yang besar. Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ (٥٨)

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al-Anfaal: 58).

Adapun jihad, maka ada aturan hukumnya, serta dalil-dalilnya yang muhkamah (jelas), yang rahmat, adil, penuh berkah, tidak akan berubah dan tidak akan diganti, serta izin kepada kepala Negara untuk berjihad, karena kepala negaralah yang mengemban pertanggung jawaban atas kemaslahatan umat, yaitu yang mampu mengetahui tentang situasi dan kondisi.

Dan pembunuhan bisa jadi diantara dua orang yang saling bersengketa dan bermusuhan, atau dari dua golongan dari kaum muslimin, dan bisa jadi terjadi pembunuhan pada fitnah-fitnah yang tidak jelas perkaranya bagi masyarakat. Dan seringnya terjadi pembunuhan tatkala hilangnya kendali keamanan, dan stabilitas yang goyang, dan tersebarnya kemungkaran, hawa nafsu yang mendominasi, tidak dijalankannya syariat, dan terfitnah dengan dunia.

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ (٦٥)

Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. (QS. Al-An’aam: 65).

Maka bagaimanapun sebab dan kondisi yang ada maka tetap saja darah yang terjaga haram untuk ditumpahkan. Allah berfirman:

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya, dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS Al-Maidah: 32).

Barangsiapa –dari kaum muslimin- yang salah dan berbuat keburukan maka Islam tidak akan menanggung kesalahannya dan tidak boleh dinisbahkan kejahatannya kepada Islam. Islam berlepas diri dari keburukan dan kejahatan. Para ulama lah yang tahu meletakan dalil-dalil pada tempatnya, dan merekalah yang mengetahui tafsirannya.

Apa yang sedang menimpa sebagian negeri kaum muslimin berupa fitnah dan perselisihan sehingga tertumpahkanlah darah-darah yang diharamkan, serta dirampasnya harta-harta, serta dihancurkannya harta benda, rubuhlah rumah-rumah, terlanggarkanlah harga diri, tersebarnya ketakutan dan kelaparan, dan mengungsi penduduknya…maka wajib bagi orang-orang yang cerdas dan pemerbaiki kondisi yang mampu, wajib bagi mereka untuk memperbaiki kondisi-kondisi di sana, untuk menyatukan tercerai berainya orang-orang yang berselisih, hendaknya mereka menjaga kemaslahatan negeri mereka, menjaga agar tidak tertumpahkan darah, menjaga harta benda masyarakat, mengasihi orang-orang yang lemah, dan meminta pertolongan kepada Allah dan kepada siapa saja yang memiliki kemampuan dari orang luar negeri mereka untuk memadamkan api fitnah. Jika peristiwa-peristiwa tidak bisa terkontrol oleh orang-orang yang mampu memperbaiki, maka setiap muslim penanggung jawab dirinya sendiri dengan menahan tangan dan lisannya dari mengganggu kaum muslimin.

Dan hendaknya kaum muslimin dan kaum muslimat untuk bertaubat kepada Allah, dan untuk senantiasa berdoa agar Allah menghilangkan hukuman dan adzab yang diturunkan, dan untuk menghilangkan sebab-sebab hukuman tersebut, sungguh Rob kita maha rahmat, Rob kita suka kondisi orang yang merendahkan dirinya tatkala berdoa, dan mencintai orang-orang yang taubat.

Peristiwa-peristiwa yang kita lihat sekarang adalah termasuk tanda-tanda hari kiamat. Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridoinya- ia berkata : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ

“Tidak akan tegak hari kiamat hingga diangkat ilmu, banyak terjadi gempa, zaman semakin mendekat, muncul fitnah-fitnah, dan banyak terjadi pembunuhan dan pembunuhan”. (HR. Al-Bukhari).

Dan dari hadits Abu Bakroh –semoga Allah meridhoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُوْلُ فِي النَّارِ

“Jika dua orang muslim bertemu dengan saling menghunuskan pedang, maka yang membunuh dan yang terbunuh di neraka”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Barangsiapa yang keluar dari ketaaatan Imam (kepala Negara) di negeri kami dan berpisah dari jama’ah maka wajib bagi pemerintah untuk menahan tangannya dan mencegah keburukannya dari masyarakat sehingga bisa terwujud keamanan dari keburukannya dan kemudhorotan yang ditimbulkannya, bisa menjaga keamanan dan stabilitas dan terpadamkannya api fitnah.

Para anggota pasukan keamanan sesungguhnya sedang berkhidmah kepada agama dan negeri mereka, mereka melaksanakan kewajiban dan diberi pahala atasnya dan diucapkan terima kasih kepada mereka atas tugas yang mereka jalankan semoga Allah menjaga mereka.

Dan kami memperingatkan para pemuda agar tidak mengikuti para da’i yang menyeru kepada fitnah, karena sesungguhnya mereka tidak akan memberikan bahaya kepada kaum muslimin kecuali jika banyak pengikut mereka. Dan jika ada yang kalian rancu dan tidak jelas maka bertanyalah kepada para ulama, maka akan lurus urusan kalian.

Dan wajib bagi kaum muslimin untuk senantiasa berbuat perbaikan sesuai dengan konsekuensi pandangan syariat agar kalian terselamatkan dari tujuan-tujuan keburukan, sehingga tidak menjadi argumen bagi pelaku kebatilan yang mencari dunia. Allah berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٠٤)وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠٥)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali ‘Imron: 104-105).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِهَدْيِ سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ وَقَوْلِهِ القَوِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ مُعِزُّ مَنْ أَطَاعَهُ وَاتَّقَاهُ، وَمُذِلُّ مَنْ خَالَفَ أَمْرَهُ وَعَصَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَا إِلَهَ سِوَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اِصْطَفَاهُ رَبُّهُ وَاجْتَبَاهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ:

فَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Wahai sekalian hamba Allah,

Puncak kebahagiaan dan keberuntungan adalah seorang muslim merealisasikan tauhid, ia menyembah Allah semata dan tidak berbuat syirik sama sekali kepadaNya serta ia selamat dari menumpahkan darah kaum muslimin dan mengganggu harta mereka dan kehormatan mereka. Inilah yang telah tercatat di sisi Allah baginya surga. Dan merupakan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki adalah seseorang terfitnah pada agamanya, maka berkuranglah agamanya atau hilang seluruh agamanya. Bisa jadi seseorang terkena bencana dengan matinya hatinya namun ia tidak sadar, jika ia melihat kebaikan dunianya dan lupa dengan akhiratnya, dan fitnah adalah yang paling berbahaya bagi seseorang di dunia dan akhirat. Allah berfirman :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal: 25).

Yaitu hindarilah sebab-sebab fitnah yang bisa menjerumuskan kepada adzab Allah. Dari Abdullah bin ‘Amr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau menggenggam jari-jarinya dan berkata :

كَيْفَ أنْتَ يَا عَبْدَ الله، إذَا بَقِيْتَ فِي حُثَالَةٍ مِنَ النَّاسِ قَدْ مَرَجَتْ عُهُودُهُمْ وأمانَاتُهُمْ وَاخْتَلَفُوا فَصَاروا هَكَذَا وَشَبَّكَ بَيْنَ أصابِعِهِ قَالَ فَكَيْفَ أفْعَلُ يَا رَسولَ الله قَالَ تأخذُ مَا تَعْرِفُ وَتَدَعُ مَا تُنكِرُ وتُقْبِلُ على خاصِتَّكَ وتَدَعُهُمْ وَعَوَامَّهُمْ

“Bagaimana dengan dirimu wahai Abdullah jika engkau berada pada kumpulan orang-orang rendahan, telah tercampur janji-janji mereka dan amanah mereka dan mereka tidak menunaikannya, dan mereka berselisih sehingga seperti ini?”

Abdullah berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana yang aku lakukan?”, beliau berkata, “Engkau melakukan apa yang ma’ruf dan kau tinggalkan yang mungkar dan engkau sibukan diri dengan urusan pribadimu dan tinggalkan mereka dan urusan mereka”.

أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ، اِعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُوْرَ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ فِي الدِّيْنِ بِدْعَةُ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، فَعَلْيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَهِيَ: اَلْإِجْتِمَاعُ عَلَى دِيْنِكُمْ؛ أَنْ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ، أَنْ تَكُوْنُوْا أُمَّةً وَاحِدَةً، قَلْبٌ وَاحِدٌ وَهَدْفٌ وَاحِدٌ وَعَمَلٌ وَاحِدٌ مَبْنيٌّ عَلَى الإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَالاِتِّبَاعِ لِرَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ؛ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرِ فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾[الأحزاب: 56] .

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مَحَبَّتَهُ وَاتَّبَاعَهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، اَللَّهُمَّ تَوَفَّنَا عَلَى مِلَّتِهِ، اَللَّهُمَ احْشُرْنَا فِي زَمْرَتِهِ، اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا مِنْ حَوْضِهِ، اَللَّهُمَّ أَدْخِلْنَا فِي شَفَاعَتِهِ، اَللَّهُمَّ اجْمَعْنَا بِهِ فِي جَنَّاتِ النَّعِيْمِ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ، وَالصِّدِّيْقِيْنَ، وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ، اَللَّهُمَّ ارْضَ عَنْ خُلَفَائِهِ اَلرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ زَوْجَاتِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ .

اَللَّهُمَّ ارْضَ عنَّا مَعَهُمْ وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا كَمَا أَصْلَحْتَ أَحْوَالَهُمْ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وُلَاةَ أُمُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وُلَاةَ أُمُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وُلَاةَ أُمُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ رَعْيَتَهُمْ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ .

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، يَا مَنَّانُ، يَا بَدِيْعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، نَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ أَنْ تُنَزَّلَ بِالصَّرْبِ الظَّالِمِيْنَ بَأْسَكَ الَّذِيْ لَا يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ المُجْرِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأسَكَ الَّذِيْ لَا يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ المُجْرِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لَا يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ المُجْرِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطَأتكَ عَلَيْهِمْ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِهِمْ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِهِمْ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِهِمْ؛ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَهُمْ عِبْرَةً لِلنَّاسِ فِي الذِلِّ وَالخِزْيِ وَالعَارِ يَا أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، يَا مَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، نَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ أَنْ تَنْصُرَ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى أَعْدَائِهِمْ، اَللَّهُمَّ امْنِحْهُمْ رِقَابَ أَعْدَائِهِمْ وَأَوْرَثَهُمْ دِيَارَهُمْ وَنِسَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَذُرِّيَّاتَهُمْ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ .

اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، ﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاً لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾ [الحشر: 10] .

عباد الله،﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (90) وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ﴾[النحل: 90-91]، واذكروا الله العظيم الجليل يذكركم، واشكروه على نِعَمِهِ يزدكم﴿وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴾[العنكبوت: 45] .

Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda

www.firanda.com

]]>
http://khotbahjumat.com/membunuh-jiwa-yang-allah-haramkan/feed/ 0
Penderitaan Pendengki dan Pendendam http://khotbahjumat.com/penderitaan-pendengki-dan-pendendam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penderitaan-pendengki-dan-pendendam http://khotbahjumat.com/penderitaan-pendengki-dan-pendendam/#comments Fri, 14 Nov 2014 13:39:44 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2963 Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

أَمَّا بَعْدُ
أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى

Kaum Muslimin sekalian,

Tidaklah akan diliputi dengan rasa saling mencintai suatu kaum yang berkumpul di atas kedengkian.

Barangsiapa yang memendam permusuhan dan menanti-nanti waktu untuk membalas dendam maka ia akan hidup dengan tersiksa dan menderita…

Jadilah ia terbelenggu oleh kegelisahan…

Tidak ada yang merusak hubungan diantara manusia sebagaimana kerusakan yang dilakukan oleh kebencian yang terpendam…

Dialah dendam kesumat yang tersembunyi…, keburukan yang akan terkuak…perpisahan yang sangat nampak…

Menyebabkan rusaknya negeri…, mengurangi perbendaharaan harta…, menghancur-leburkan kedekatan…memutuskan tali persahabatan…memicu api peperangan…

إِنَّ الضَّغِيْنَةَ تَلْقَاهَا وَإِنْ قَدُمَتْ … كَالْعَرِّ يَكْمُنُ حِيْناً ثُمَّ يَنْتَشِرُ

“Sesungguhnya rasa dendam, meskipun telah lama terpendam….

Engkau mendapatinya seperti penyakit kudisan yang reda sesaat lalu merambat…”

Begitu dekat berkembangnya…begitu cepat matangnya…begitu dekat…begitu cepat tersebar…

Peninggalan yang terburuk adalah dendam yang diteruskan oleh para ahli waris…, dendam kesumat yang memenuhi hati anak-anak…, lalu tertanamkan di dada-dada para cucu…lalu terpelihara selama-lamanya…

Dahulu dikatakan :

أَحْيَا الضَّغَائِنَ آباَءٌ لَنَا سَلَفُوْا … فَلَنْ تَبِيْدَ وَلِلآبَاءِ أَبْنَاءُ

“Dendam kesumat dihidupkan oleh ayah-ayah kita yang telah lalu….

Maka tidak akan sirna dendam tersebut karena para ayah tentu memiliki anak-anak…”

Barangsiapa yang kedengkian adalah benderanya…, membalas dendam adalah tujuannya…, melampiaskan kemarahan adalah tradisinya…maka akan reduplah sinarnya… akan jatuhlah bangunannya… rendahlah derajatnya…serta menyala-nyala dadanya (dengan api dendam dan amarah-pen)…

Barangsiapa yang meninggalkan kedengkian dan dendam kesumat maka ia akan hidup penuh keselamatan…akan menyatukan persahabatan… memperbanyak pendukungnya…, terjauhkan dari gejolak… dan aman dari kerusakan…

Kapan saja kedengkian dan kebencian serta permusuhan telah menguasai hati…, maka akan menyesatkan dan menyakitkan…akan sirnalah bersihnya hati…tumbuhlah kepedihannya…, berkesinambungan penderitaannya…sehingga sulit dan tidak bisa terobati….

Diantara manusia, ada yang jika berselisih langsung menghajr…, jika bersengketa berbuat kefajiran…iapun mencaci maki lawan sengketanya…bertekad untuk membalasnya…iapun langsung menyakiti dan menyenangi permusuhan…

Dan washiat yang bermanfaat dan kata bijak yang mencakup adalah sabda pemimpin seluruh orang bijak shallallahu ‘alaihi wa sallam

فمن أحبَّ أن يُزَحْزَحَ عن النار ، ويُدْخل الجنة ، فلتأته مَنِيَّتُهُ وهو مؤمن بالله واليوم الآخر ، وليأت إلى الناس الذي يحبُّ أن يؤتَى إليه

“Barangsiapa yang ingin untuk selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga, maka hendaknya ajalnya mendatanginya dan ia dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan ia bersikap kepada manusia dengan sikap yang suka diperlakukan kepadanya” (HR Muslim)

Yaitu ia bersikap kepada mereka dengan sikap yang ia suka jika mereka lakukan kepadanya. Dengan demikian maka teraturlah segala perkara…, hilanglah perselisihan dan saling menjauhi…serta hilanglah kedengkian dari dada-dada…

Wahai sang penyimpan dendam dan kedengkian yang terpendam…

Sikapmu ini tidaklah membuatmu menaiki ketinggian…tidaklah engkau membangun kemegahan…tidak pula engkau menempuh jalan yang lurus…serta kebahagiaan pun tidak kau raih…

وَدَعُوا الضَّغِيْنَةَ لاَ تَكُنْ مِنْ شَأْنِكُمْ ** إِنَّ الضَّغَائِنَ لِلْقَرَابَةِ تُوضَعُ

“Tinggalkanlah kedengkian…janganlah kedengkian menjadi kebiasaan kalian…! Sesungguhnya kedengkian terbuang demi kekerabatan…

واعْصُوا الَّذِي يُزْجِي النَّمَائِمُ بَيْنَكُمْ ** مُتْنَصِحاً ، ذَاكَ السِّمَامُ المُنقَعُ

Jangan turuti apa yang dihembuskan oleh para nammam (tukang mengadu domba) yang bergaya seperti pemberi nasehat…

Sesungguhnya dia adalah pembawa racun yang tertimbun…

يُزْجِي عَقَارِبَهُ لِيَبْعَثَ بَيْنَكُمْ ** حَرْباً كَمَا بَعَثَ العُرُوقَ الأَخْدَعُ

Ia melepaskan kalajengking-kalajengkingnya untuk mengobarkan peperangan diantara kalian…

Sebagaimana dua urat leher yang mengalirkan urat-urat ke seluruh tubuh…

أَبُنَيَّ لا تَكُ مَا حَيِيْتَ مُمَارِيًا …. وَدَعِ السَّفَاهَةَ إِنَّهَا لاَ تَنْفَعُ

Wahai putraku, janganlah engkau memenuhi hidupmu dengan pertengkaran…Tinggalkanlah kebodohan sesungguhnya ia tidak membawa manfaat…

لاَ تَحْمِلَنَّ ضَغِيْنَةً لِقَرَابَةٍ … إِنَّ الضَّغِيْنَةَ لِلْقَرَابَةِ تَقْطَعُ

Janganlah engkau memendam kedengkian terhadap kerabat…

Sesungguhnya kedengkian harus diputuskan demi kerabat…

لاَ تَحْسَبَنَّ الْحِلْمَ مِنْكَ مَذَلَّةً … إِنَّ الْحَلِيْمَ هُوَ الأَعَزُّ الأَمْنَعُ

Janganlah engkau mengira bahwa sikap hilm (sabar dan tidak membalas) adalah kerendahan…

Sungguh sifat hilm justru merupakan sifat yang termulia dan terkuat…

Jadilah dirimu selalu meninggalkan permusuhan….dan selalu memaafkan…

Balaslah kesalahan dengan kesabaran dan ketenangan…

Waspadalah…, jangan sampai engkau terpancing dan terprovokasi…dari orang-orang yang ingin agar engkau terjatuh dan tersungkur…

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fushhilat : 34)

Berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, maka akan menjadikannya dekat…, kelembutan kepadanya menjadikannya membelok kepadamu.., dan sikap mudaaroot (lemah lembut) akan menjadikannya bersamamu…

وما قَتلَ السفاهة َ مثلُ حلمٍ … يَعودُ بهِ على الجَهْلِ الحليمُ

Dan tidak ada yang membunuh kebodohan seperti sifat “hilm” (sabar dan tidak membalas)…

Dimana orang yang halim terus bersikap sabar menghadapi kebodohan..

ولا تقطعْ أخاً لكَ عِنْدَ ذَنْبٍ … فإنّ الذنبَ يعفوهُ الكريمُ

Dan janganlah engkau memutuskan hubungan dengan saudaramu karena kesalahannya…

Karena kesalahan itu dimaafkan oleh orang yang mulia (karim)

Maka hendaknya saling lembut bukan saling menjauh…, saling bermuka manis bukan saling bertengkar…, saling mendekati bukan saling bermusuhan…, saling mendukung bukan saling bermusuhan…, saling lembut bukan saling keras-kerasan…

Dan dikatakan bahwa puncak dari adab adalah menyembunyikan kemarahan, dan diantara perkataan alami : al-hilm (sabar dan tidak membalas padahal mampu untuk membalas), dan al-’afwu (memaafkan), dan as-shofh (berlapang dada), dan al-mannu (memberi kebaikan kepada orang lain), dan al-in’aam (menyuguhkan kenikmatan pada orang lain).

Dan tidaklah menahan amarah, memaafkan orang yang berbuat jahat, memaafkan orang yang jahil, dan bersabar memikul hal yang dibenci…kecuali seorang yang mulia lagi terpandang, seorang yang sabar lagi cerdas, seorang alim lagi faqih.

Tidak akan langgeng keserasian jika disertai dengan kebencian dan benturan…, tidak akan tersisa saling menghargai jika disertai dengan kemarahan dan konflik…, tidak akan ada salam jika disertai dengan pembalasan dan dendam…

Barangsiapa yang selalu menuntut pembalasan maka akan habis waktunya…, akan bercerai berai saudara-saudaranya…akan ditinggal oleh para sahabatnya…

Barangsiapa yang selalu bermuka masam…sentuhannya kering…, memakai pakaian permusuhan…, enggan memaafkan…maka ia akan jatuh dan celaka…tersungkur dalam kerugian…

Menyerang…, berkata-kata kasar…, sengaja menyakiti…, merupakan langkah-langkah yang buruk…yang menyebabkan dada-dada menjadi panas…kemarahan bergejolak…menimbulkan kedengkian…dan memutuskan tali hubungan dan cinta kasih…

Maka tinggalkanlah itu semua dan waspadalah…

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (٥٣)

Dan Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Isroo’ : 53)

Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk, semoga Allah menjaga kita dari keburukan syaitan-syaitan dan para pembuat makar (rencana jahat) serta kekejiannya para orang-orang yang hasad dan dengki…

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي مَقَامِنَا هَذَا أَنْ تَوْفِقَنَا لِلْقِيَامِ بِمَا أَوْجَبْتَ عَلَيْنَا وَأَنْ نَكُوْنَ مِنْ عِبَادِكَ المُخْبِتِيْنَ الصَّادِقِيْنَ البَارِيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ إِنَّكَ جَوَادٌ كَرِيْمٌ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ .

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمَيْنَ وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
أَمَّابَعْدُ:

Kaum Muslimin, diantara manusia ada yang jika hendak meraih kedudukan dan ketinggian…, pangkat dan jabatan…, kekuasaan dan kepemimpinan serta ingin tampil…, maka iapun memusuhi rekan-rekannya…, iapun dengki kepada saudara-saudaranya…ia benci jika disebutkan keutamaan dan kebaikan mereka…ia suka jika keburukan dan cela mereka tersebar…jika nampak kesalahan-kesalahan mereka…, jika ia tidak menemukan kesalahan mereka,, tidak menemukan buktinya, maka iapun menuduh mereka dengan tuduhan bohong dan dusta…

Demi Allah…ini adalah perangi yang menjadikan rendah dan hina para lelaki…dengan perangai ini mereka menyerupai orang-orang rendahan…meniru-niru orang-orang yang terhina…, dengan perangai tersebut merekapun terjatuh di lumpur kehinaan, kerendahan, dan kesesatan…

حُبُّ الرِّئَاسَـةِ دَاءٌ يَحْلِقُ الدُّنْيَـا… وَيَجْعَلُ الْحَقَّ حَرْبًا لِلْمُحِبِّيْنَا

Kecintaan terhadap kepemimpinan adalah penyakit yang menggerogoti dunia…

Menjadikan kebenaran adalah memerangi orang-orang yang mencintai kita…

يَفْرِي الْحَلاَقِيْمَ وَالأَرْحَامَ يَقْطَعُهَا…. فَلاَ مُرُوْءَةَ تَبْقَى وَلاَ دِيْنَا

Kerongkongan ia potong dan tali silaturahmi ia putuskan…

Maka tidak ada lagi budi pekerti yang tersisa dan juga agama…

فَتَنَزَّهُوا عَنْ فِعْلِ الْحُسَّادِ وَذَوِي… الْأَحْقَادِ وَانْتَهُوا عَنِ الرَّدَى

Sucikanlah diri kalian dari perbuatan para penghasad dan para pendengki dan berhentilah kalian dari kehinaan…

وَلاَ تُؤْذُوا مِنَ الْخَلْقِ أَحَداً… وَكُفُّوْا عَنِ الشَّرِّ لِسَاناً وَيَداً

Dan janganlah kalian menyakiti seorang pun….

Dan tahanlah lisan dan tangan kalian dari keburukan

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56]

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنَّ وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دَوْرِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَارَبَّ العَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ أَهْلَ الإِسْلَامِ بِسُوْءٍ فَجْعَلْ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ وَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْرُهُ يَاسَمِيْعُ الدُّعَاءِ اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَدُعَائَنَا اَللَّهُمَّ لَا تَرُدْنَا خَائِبِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابِ رَبَّنَا اغْفِرْ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Syaikh Sholah Al-Budair hafizohulloh (Imam dan Khotib Masjid Nabawi)
Oleh Ustadz Firanda Andirja

]]>
http://khotbahjumat.com/penderitaan-pendengki-dan-pendendam/feed/ 0
Mendidik Anak dengan Teladan Shaleh http://khotbahjumat.com/mendidik-anak-dengan-teladan-shaleh/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mendidik-anak-dengan-teladan-shaleh http://khotbahjumat.com/mendidik-anak-dengan-teladan-shaleh/#comments Fri, 31 Oct 2014 23:42:34 +0000 http://khotbahjumat.com/?p=2959 Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

أَمَّا بَعْدُ
أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, bertakwalah kepada-Nya. Bersyukurlah atas nikmat yang telah Dia berikan, di antaranya adalah nikmat anak, baik anak laki-laki maupun anak perempuan.

Ketahuilah bahwa nikmat ini juga sekaligus merupakan ujian bagi seorang hamba. Anak pula merupakan anugerah yang menjadi penyejuk pandangan di dunia dan akhirat. Ia juga bisa membuat hati berbunga-bunga bahagia dan jiwa terasa lapang. Anak bisa menjadi penolong dalam mengarungi kehidupan dunia dan doa ketika memasuki gerbang akhirat. Mereka yang berkumpul dengan anak-anaknya di dunia dalam keadaan taat, maka akan dikumpulkan Allah di akhirat dalam kemuliaan. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21).

Yaitu, apabila salah satu dari mereka berada di derajat yang tinggi dan satu lagi di bawah, maka Allah kumpulkan di derajat yang tinggi. Sehingga mereka bisa berkumpul sebagaimana mereka dahulu di dunia dikumpulkan.

Saudara-saudaraku seiman,

Sesungguhnya anugerah ini adalah anugerah yang agung. Yang bisa diwujudkan apabila orang tua, baik ayah maupun ibu, memiliki rasa tanggung jawab terhadap anak-anaknya. Karena merekalah yang membing sang anak di lingkungan pertama mereka. Mereka bertanggung jawab dalam membimbing anak-anaknya.

Hendaknya orang tua mendidik anak laki-laki dan perempuan dengan apa yang telah diwajibkan atas mereka. Memberikan perhatian, bimbingan, dan arahan yang baik. Sehingga orang tua kelak akan meninggalkan generasi yang baik, yang bermanfaat untuk dirinya dan umat Islam. Ketika seorang hamba memperbaiki antara dirinya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama makhluk.

Tentu saja membimbing anak harus diiringi dengan niat yang baik, memohon pertolongan kepada Allah, memperbanyak doa yang penuh harap kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqon: 74).

Orang-orang yang memohon demikian, mereka tidaklah hanya duduk-duduk saja tanpa melakukan apapun. Syariat dan logika manusia mengatakan bahwa hal ini perlu usaha. Jika kita memohon sesuatu kepada Allah, kita harus mengusahakannya dengan perbuatan kita sebagai bentuk sebab-akibat. Misalnya seseorang meminta kepada Allah rezeki, ia haru berusaha menempuh sebab tergapainya rezeki. Demikian juga orang yang meminta keturunan, ia harus berusaha dengan menikahi seseorang. Orang yang meminta ditambahkan ilmu dan pemahaman, ia harus berusaha dengan belajar. Orang yang meminta surga, maka ia harus menggapai sebabnya dengan mengamalkan amalan shaleh yang bisa mengantarkannya ke surga.

Demikianlah, ketika seseorang meminta keturunan yang shaleh yang bisa menjadi penyejuk hatinya, maka ia harus berusaha dengan kemampuannya. Baru setelah itu ia merasakan bahwa anak yang shaleh adalah karunia yang agung.

Hal lainnya yang harus diperhatikan. Anak itu terkada bisa menjadi ujian dan kejelekan bagi keluarga dan masyarakat. yang demikian lantaran kedua orang tua tidak melakukan apa yang Allah wajibkan atas keduanya. Tidak melakukan pendidikan, perhatian, dan bimbingan secara maksimal. Kita lihat ada terkadang seseorang merasa malas mendidik anaknya. Ia tidak memberikan arahan yang baik terhadap buah hatinya. Akhirnya, ia pun terputus dari kemanfaatan di dunia dan akhirat. Jadilah ia seorang yang merugi dan menyesal. Allah Ta’ala berfirman,

فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ ۗ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Az-Zumar: 15).

Namun ada fenomena yang mengherankan. Ada seseorang yang sibuk dengan menginvestasikan hartanya, menjaga, memperhatikannya, memeliharanya, dan pikiran dan badannya disibukkan dengan hartanya, bahkan istirahat dan tidurnya pun bersama hartanya, bersamaan dengan itumereka lupa dengan istri dan anak-anak mereka.

Tentunya kita bertanya, apa artinya harta itu disbanding dengan istri dan anak-anak? Bukankah akan lebih baik bagi mereka, jika seandainya meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran mereka untuk mendidik istri dan anak-anak? Dengan hal itu mereka akan menjadi orang-orang yang bersyukur dan melaksanakan perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).

Allah Ta’ala meletakkan peranan kita dalam ayat ini. Ia menaruh tanggung jawab dan memerintahkan kita untuk menjagai diri dan keluarga dari api neraka. Dia tidak memerintahkan kita untuk mejagai dari diri kita saja, akan tetapi Dia firmankan untuk mejaga diri kita dan keluarga kita. Oleh karena itu, sangat mengherankan orang-orang yang meremehkan perintah Allah dalam menunaikan hak istri dan anak-anak.

Seandainya, api di dunia ini membakar anak-anak mereka, atau hanya sekedar hamper membakar anak mereka, niscaya mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelematkannya. Dengan segera mereka akan mencarikan dokter untuk mengobati luka bakar yang diderita anaknya. Lalu bagaimana bisa mereka merasa aman dari api akhirat? Mereka tidak berupaya untuk menjauhkan istri dan anak-anak mereka darinya. Kita tidak mengerti, apakah orang yang melakukan demikian ini ragu akan api yang ada di akhirat, ataukah lalai, atau mereka orang-orang yang menyombongkan diri?

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua.

Saudara-saudaraku seiman,

Sesungguhnya wajib bagi kita semua untuk mengawasi anak-anak kita dalam tindak-tanduk yang mereka lakukan. Memperhatikan mereka di kalangan pergaulannya, saat mereka sendiri, sampai-sampai terhadap apa yang mereka lakukan. Beri motivasi dan pujian atas kebaikan yang mereka lakukan. Nasihati dan tegurlah mereka tatkala melakukan kesalahan. Jangan tergesa-gesa memarahi mereka apabila mereka tidak segera menunaikan apa yang kita perintahkan. Terus ulangi ajakan kebaikan itu dengan lemah lembut dan dengan cara yang mereka ridhai berdasarkan bimbingan Alquran, Sunnah, dan pikiran yang bersih. Dan jangan jauhi mereka.

Salah satu bentuk musibah bagi seseorang adalah ketika ia tidak memiliki kedekatan dengan anak-anak mereka dan tidak mendidik mereka dengan didikan yang baik. Orang tua juga hendaknya menginstrospeksi diri, apakah yang sudah dilakukan membuat mereka jauh?, apakah yang sudah dilakukan berdampak baik untuk mereka?.

Jauhkan dari anak-anak kita pemikiran-pemikiran yang jelek, pemikiran yang menyimpang, dan akhlak-akhlak yang merusak. Hal itu akan menumbuhkan generasi yang rusak pula. Generasi yang tidak dibina untuk mengabdi kepada Allah dan memiliki kemanfaatan untuk sesama. Generasi yang gamang dan bombing, tidak mengenal yang ma’ruf sebagai sesuatu yang baik dan tidak mampu membedakan yang mungkar sehingga bisa menjauhinya. Mereka bebas dari segala ikatan, kecuali ikatan setan. Mereka bebas dari segala pengabdian, kecuali mengabdi kepada syahwat dan kecongkakan. Inilah sebuah konsekuensi logis, bagi mereka yang menyia-nyiakan hak Allah di dalam pendidikan istri dan anak-anaknya. Tidak ada yang bisa terlepas dari yang demikian, kecuali bagi mereka yang dikehendaki Allah.

Saudara-saudaraku seiman,

Sebagian orang mengatakan “saya tidak bisa mendidik anak-anak saya karena mereka sudah besar dan telah mandiri”. Kalau kita perhatikan orang-orang demikian, mereka tidak mampu menasihati sang anak tatkala dewasa, entah sang anak membantahnya atau selainnya. Hal ini disebabkan karena orang tua adalah orang yang lalai terhadap perintah-perintah Allah terhadap anak-anaknya, sehingga jatuhlah wibawanya di hadapan sang anak.

Mereka lalai terhadap perintah Allah terhadap anak-anak mereka saat sang anak masih kecil. Mereka berpaling dan meninggalkan anak-anak mereka. Tidak bertanya tentang keadaan mereka. Dan tidak juga terbiasa berkumpul bersama mereka. Tidak berkumpul di saat makan siang, makan malam, dan dalam kegiatan lainnya. Sehingga muncullah jarak antara dirinya dan anak-anak. Anak-anak pun lari menjauh.

Seandainya mereka bertakwa kepada Allah sejak mula. Memperhatikan pendidikan anak sejak mereka masih kecil. pasti Allah akan memperbaiki hubungan mereka di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71).

Ayyuhal muslimun,

Di masa-masa kegiatana belajar mengajar sedang aktif, sekolah mengambil waktu kita dan anak begitu banyak. Adapun di saat libur, kita banyak memiliki waktu luang dengan anak-anak kita, maka manfaatkanlah.

Saat libur waktu senggang, pikiran mereka juga tidak terbebani dengan sekolah, maka orang tua hendaknya memenuhi kekosongan tersebut dan memanfaatkan waktu-waktu tersebut. Mengajarkan kepada anak sesuatu yang bermanfaat, sehingga pikiran dan aktivitas mereka tidak tersisi dengan hal-hal yang sia-sia atau bahkan merugikan mereka.

Saat liburan, kita tunjukkan kesungguhan kita untuk berdekatan bersama mereka. Kita tunjukkan kesungguhan kita dalam pengarahan dan pendidikan. Saat itu pula kita curahkan perhatian kita, jangan sampai anak-anak mengisi kekosongan mereka dengan buku-buku dan majalah-majalah yang berisikan hal-hal yang merusak, pemikiran-pemikiran yang menyimpang, dan akhlak yang rendah. Dan hendaknya kita juga tidak memilih kota-kota atau bahkan negara-negara yang bisa merusak akidah dan akhlak sebagai tempat berlibur dan tujuan wisata.

Tidak kita ragukan lagi, sebagian tempat atau negara tujuan wisata adalah negara yang rusak. Banyak terdapat hal-hal yang mengundang syahwat dan merusak pemikiran. Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal yang dapat merusak agama dan dunia kita.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي مَقَامِنَا هَذَا أَنْ تَوْفِقَنَا لِلْقِيَامِ بِمَا أَوْجَبْتَ عَلَيْنَا وَأَنْ نَكُوْنَ مِنْ عِبَادِكَ المُخْبِتِيْنَ الصَّادِقِيْنَ البَارِيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ إِنَّكَ جَوَادٌ كَرِيْمٌ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ .

Khutbah Kedua:

الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه وأشهد الا اله الا الله وحده لا شريك له شهادة نرجو بها النجاة يوم نلاقيه وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

أما بعد

Kaum muslimin rahimakumullah,

Di antara pendidikan yang sangat baik terhadap anak saat usia dini adalah membacakan kepada mereka perjalanan hidup orang-orang shaleh dari kalangan para nabi, rasul, dan sahabat. Tanamkan kecintaan anak-anak pada mereka. Agar mereka cinta kepada orang shaleh dan amalan shaleh.

Mengajarkan anak-anak dengan cerita kehidupan para sahabat akan menanamkan kepada anak bagaimana mereka memandang dunia. Di antara para sahabat adalah orang-orang yang kaya. Namun mereka tidak pernah menaruh dunia di hati mereka. Di antara para sahabat ada pula orang-orang yang misikin, namun mereka tidak pernah kecewa dengan luputnya dunia dari mereka.

Profil sahabat Nabi akan mengajarkan mereka bagaimana Allah itu diagungkan, bagaimana Nabi Muhammad itu dicintai, dan bagaimana Islam itu diperjuangkan. Para sahabat juga memiliki hikmah yang tinggi dalam lingkungan sosial dan bagaimana mulianya akhlak mereka terhadap orang-orang non-Islam.

Kita masukkan pemikiran ini dari sumber-sumber yang murni. Kita tanamkan ini pada diri-diri mereka sebelum mereka mengenal pemikiran-pemikiran yang mendeskreditkan Nabi dan para sahabatnya. Kita jadikan mereka memegang prinsip ini, sebelum pemikiran-pemikiran yang menyimpang menyambar mereka.

Kaum muslimini rahimakumullah,

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita, istri-istri kita, dan anak-anak kita. Semoga Dia memberikan taufik kepada kita untuk terus meniti jalan-Nya yang lurus, jalan yang Dia ridhai dan cintai.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الُهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثاَتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ فِي الدِّيْنِ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ اِجْتَمِعُوْا وَلَا تَتَفَرَّقُوْا اِجْتَمِعُوْا عَلَى دِيْنِ اللهِ اِجْتَمِعُوْا عَلَى مَا فِيْهِ الصَّلَاحُ فِي دِيْنِكُمْ وَدُنْيَاكُمْ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ، شَذَّ فِي النَّارِ

وَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى النَّبِي مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ مَرَّةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا اَللَّهُمَّ صَلِّي وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مَحَبَّتَهُ وَاتِّبَاعَهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا اَللَّهُمَّ تَوَفَّنَا عَلَى مِلَّتَهُ اَللَّهُمَّ احْشُرْنَا فِي زَمْرَتِهِ اَللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ حَوْضِهِ اَللَّهُمَّ أَدْخِلْنَا فِي شَفَاعَتِهِ اَللَّهُمَّ اجْمَعْنَا بِهِ فِي جَنَّاتٍ النَّعِيْمٍ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ ارْضَى عَنْ خُلَفَائِهِ الرَاشِدِيْنَ وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ عَنِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غَلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ الرَؤُوْفُ الرَحِيْمُ أَمَّا بَعْدُ.

فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا.يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

(إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا(

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

]]>
http://khotbahjumat.com/mendidik-anak-dengan-teladan-shaleh/feed/ 0